PEMBERONTAKAN PETA DI BLITAR(1942-1945)


SITI HASANAH/b/SI 4
Ketika jepang berhasil menahlukan Hindia Belanda awal tahun 1942, Jepang mulai membuat penysuaian-penyesuaian. Pemerintah Jepang merencanakan untuk eksspansionisme Dai Nipon karena hanya ada beberapa orang Islam yang di Jepang saat itu. Perioritas kebijakan Jepang adalah menghapus pengaruh Barat dalam kehidupan masyarakat indonesia.[1]  Kebijakan tersebut di terapkan karena adanya persamaan persepsi antara jepang dengan indonesia dalam hal menghapus pengaruh dan dominasi Barat. Dalam hal ini Islam Indonesia mengganggap bahwa Belanda yang sadis dan  kejam sangat identik dengan "kaum kafir" yang harus di lawan, itulah sebabnya tekad perang melawan penjajah Belanda senantiasa bergelora dalam hati mereka. Kebencian rakyat indonesia terhadap pemerintahab belanda tersebut, di manfaatkan oleh jepang untuk  mendekati umat islam di wilayah pedesaan dan para pemimpin ilam sepeti para kiyai, ulama dan pemimpin-pemimpin nasionalisme. Kemudian demi keinginan Jepang untuk menggalang kekuatan anti Barat, mereka juga di manfaatkan untuk memobiliasi massa untuk meningkatkan produksi pertanian bagi keuntungan "para pembela dan pelindung islam" yaitu Jepang tetapi pada tahap selanjutnya mobilisasi itu di gunakan untuk kepentingan yang lebih besar yaitu Perang Asia Timur Raya.
Permulaan tahun 1942 pasukan Jepang mendarat di Pulau Jawa, pemberontakan Belanda tidak ada artinya. Di setiap medan tempur mereka terpukul mundur, lalu tibalah saat menyedihkan bagi pemerintah hindia belanda. Saat itu 8 maret pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Surat penyerahan di tandatangani oleh Letnan JendraL Terpoorten di lapangan udara Kalijati Jawa Barat. Sejak itu berakhirlah kekuasaan Belanda di Indonesia dan merupakan awal pendudukan jepang di Pulau Jawa[2].
Pendudukan jepang di jawa tidak semudah yang di utarakan tetapi melalui prose-proses sebelum benar-benar Jepang menduduki Jawa. Proses pendudukan jepang di awai dengan propaganda bangsa jepang untuk memerdekakan bangsa-bangsa Asia dari penjajahan Barat.
Awal Kedatangan Jepang di Indonesia di sambut dengan penuh antusias bukan hanya masyarakat Blitar, tetapi juga seluruh penduduk Indonesia. Kedatangan Jepang ini semakin di senagi oleh karena itu Jepang sudah membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda. Jepang juga mngatakan bahwa mereka adalah saudara tua. Indonesia adalah saudara muda dan saudara tua wajib melindungi saudra muda. Bangsa Indonesia gembira mendengarnya, karena Bangsa Indonesia boleh mengibarkan bendera merah putih dan lagu indoneisa raya boleh di nyanyikan. Akan tetapi, kebaikalain Jepan tersebut hanya berlangsung sementara. Jepang memang tidak bermaksud untuk memerdekakan indonesia.Kemudian Jepang mulai memperlihatkan tindakan buruk yang terang-terangan dalam bentuk menjajah dan mengeruk kekayaan Indonesia serta memaksa penduduk, terutama pemuda-pemuda untuk kerja paksa(romusa) membangun prasarana, seperti kubu-kubu, jala raya, benteng-benteng. Lapangan udara, dan lain-lain. Prinsipnya mereka disuruh kerja berat, kekayaan di kuran semuanya untuk kepentingan Jepang.
Sebagai akibatnya pakaian sulit di peroleh, kelaparan dimana-mana, dan rakyat terjankit penyakit, namun jepang tidak mau tahu dengan kesengsaraan bangsa indonesia tersebut. Rakyat mulai benci, tetapi perasaan bemnci terpaksa di pendam karena takut pada tentara Jepang yang kasar. Rasa benci semakin lama semakin besar. Rakyat tidak sanggup lagi menahan penderitaan, lama-lama rakyat menjadi berani. Mereka bertekat untuk melawan jepang.
Kemudian timbul rasa kekecwaan tentara peta(Pembela Tanah Air)  di mulai tahun 1944,k yang  yang mempunyai benih-benih, baik yang berasal dari dalam kehidupan daidan(Komaandan Batalion / Mayor) Blitar itu sendiri maupun keadaan masyarakat yang cukup menderita, karena Jepang yang selalu merugikan rakyat indonesia . oleh karena itu terjadi beberapa pemberontakan di antaranya yang terbesar dalam lingkup Peta adalah pemberontakan Peta di Belitar pada tanggal 14 februari 1945. Pemberontakan itudi pimpin oleh  Supriyadi, dengan di ikuti oelh kira-kira separuh dari seluruh anggota daidan, karena tidak tahan melihat penderitaan yang dia alami ke4luarganya maupun rakyat ekitarnya akibat penjajahan jepang. Kemudian pemberontakan terebut di susul dari daerah-daerah seperti pemberontakan di Cilacap pada bulan juni 1945 yang di lakukan oleh seorang Bundancho(komandan Regu/ Sersan), dan oleh Shadancho(komandan Peleton/Letnan) bersama dua orang dan dua orang giyuhei (prajurit sukerela/peta) dalam daidan cimahi kira-kira sebulan sebelum proklamsi kemerdekaan[3].
Namun tidak bisa di pungkiri inisiatif dan otak pemberontakan ada di tangan Supriyadi. Ia bekeraja sama dengan beberapa reka Shodancho yang sepaham, eperti: Muradi, Suparyono, Sunarto, Sudarno, Halir dan dr. Ismangil.[4]
Pada awalnya pembentukan organisasi peta ini adalah untuk memenuhi kepentingan peperangan Jepang di lautan Pasifik dalam menghadapi sekutu (Inggris dan Amerika), namun dalam perkembangan se3lanjutnya Peta sangat besar manfaatnya bagi bangsa Indonesia untuk meraih kemengan dan perjuangan fiik membela dan mempertahankan Kemerdekaan RI menghadapi sekutu dan NICA(Nederlands Indies Civil Administration) serta jepang sendiri. Kemudian organisasi peta terlalu bersifat Nasionalis  dan di anggap sangat membahayakan kedudukan jepang atas wilayah Indonesia maka pada tahun 1945 Peta di bubarkan.
Pemberontakan Peta di Blitar menumbuhkan efek semangat kepada prajurit-prajurit Peta, bukan semangat untuk menunjukan orang Indonesia menjadi budak Jepang. Tetapi sebaliknya, memberi semangat untuk menjadi patriot-patriot banga Indonesia yang sedang menyongsong kemerdekaan bangsanya. Timbulnya pemberontakan tidak hanya karena ketidakpuasan terhadap perlakuan orang  Jepang kepada bangsa Indonesia, tetaoi sudah di jiwai oleh adanya semngat bahwa Indonesia harus merdeka.
Terjadinya pemberontakan di mana-mana, salah satunya adalah Peta ini, yang di pimpin oleh Supriyadi. Pemberontakan ini terjadi karena keadaan msyarakat yang cukup menderita karena persoalan romusa, kekejaman kempetai, serta tindkan pemerinthan Jepang yang merugikan rakyat. Dalam prose merebut kemerdekaan Repoblik Indonesia dari kekuasaan dan hegemoni penjajah baik Dai Nippon maupub Belanda dan sekutu yang bisa jadi belum tercover secara baik.
Setelah pemberontakan Peta di litar di mulai dengan diawali tembak-tembakan mortir. Tetapi pemberontakan tersebut dengan mudah di padamkan tenara Jepang. Dan para pelaku pemberontakan diadili oleh Jepang. Mereka ada yang mendapat hukuman mati dan hukuman penjara seumur hidup.
Kemudian untuk melakukan pembrontakan, Supriyadi membentuk sebuah rombongan-rombongan untuk mempermudah dalam pengepungan pemerintahan Jepang. Adapun rombonganya adalah: Rombongan Utara di pimpin oleh  Shodancho Sunarjo dan Suppriyadi. Jumlah rombongan ini sebanyak dua peleton. Rombongan timur di pimpin oleh Shodancho Susanto. Rombongan ini bergerak ke jurusan Malang melalui Ngatan. Jumlah peserta rombongan sebanyak dua peton. Rombongan ini bergerak ke arah timur menghadang bala bantuan dari Katagiri Butari Malang, dan rombongan dari Selatan di pimpin oleh Shondache dasrip dan budancho Imam Badri menyerang orang-orang Jepang yang ada di Pantai Selatan dan malam hari.
Kemudian rombongan Barat dipimpin oleh Shondancho S. Djono dan Shudanco Murdi. Rombongan ini bergerak ke arah barat menuju jurusan Pare, kediri dan Nganjuk bersama-sama dengan dengan rombongan di bawah Shodancho Muradi, sehingga rombongan ini bergabung menjadi pasukan. Tetapi bentu-brntuk tersebut tidak berhasil karena kurangnya komunikasi antar ketuab rombongan-rombongan lainya.
Dalam pemberontakan Peta Blitar mengalami kegagalan, tetapi dari kegagalan tersebut mendorong pemuda Blitar khususnya pemuda indonesia pada umunya untuk merdek. Di samping itu, jepang terdesak angkatan perang Asia Timur Raya dan sekutu kemudian di bentuknya BPUPKI(badan penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), ini adalah salah satu dari pengaruh pemberontakan Peta di Blitar dan dapat mempengaruhi kemerdekaan.
Notes:
[1] M.C Riclefs, A History of Indonesia terj, Dharmono Hardjowidjono, Sejarah Indonesia modern (Yogyakarta : Gajah Mada Universitas Press,1998) hlm 300
[2] Imron Amir, Pemberontakan Peta Blitar (Semarang Jaya,1984) hlm 6
[3] Nugroho Notosusanto, Tentara Pada Zaman Pendudukan Jepang di Indonesia,(Jakarta: Gramedia ,1979), hlm 126
[4] Edy Burhan Andin,"Pemberontakan Tentara Peta di Blitar sebuah kesaksian sejarah" dalam purbo S. Suwondu , Peta tentara sukarelawan pembela tanah air di jawa dan sumatra 1942-1945(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,1996) hlm 166
Daftar Pustaka:
Arya Alaska, Mengenal Pahlwan Indonesia, Depok: Kawan Pustaka 2004
Nugroho Notosusanto, Tentara Pada Zaman Pendudukan Jepang di Indonesia,(Jakarta: Gramedia ,1979)
Imron Amir, Pemberontakan Peta Blitar (Semarang Jaya,1984)

No comments:

Post a Comment