Selasa, 31 Desember 2013

PERJUANGAN PONG TIKU



KEVIN REZA – SI3 / A

Hari ini bila kita berkunjung ke Toraja, bila kita berjalan di wilayah tepi sungai Sadan, tepatnya di pusat Kota Rantepao, kita akan melihat Patung Pongtiku yang berdiri tegak sebagai simbol keberanian dan perlawanan orang Toraja atas penjajah yang hendak datang dan merampas kemerdekaan orang Toraja. Namun, alangkah baiknya kita mengenal cerita dan sejarah kepahlawanan Pongtiku agar di hari-hari ke depan, kita akan lebih menghargai kebebasan dan kemerdekaan yang sudah kita miliki di hari ini.
Kisah Pongtiku sendiri adalah sebuah bagian yang berkelanjutan dari beberapa perang besar yang yang terjadi di wilayah selatan Sulawesi akibat Kolonialisme Belanda yang berusaha menguasai sumber-sumber daya dan perdagangan di wilayah timur Hindia Timur (Oost Indie). Oleh karenanya ada baiknya kita mengenal sedikit peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum kelahiran Pongtiku dan sebelum Belanda mulai memasuki dan menguasai wilayah Toraja.
           
PERANG MAKASSAR (1667-1669), AKHIR BAGI GOWA, AWAL BAGI BONE
Hingga akhir abad ke-19, setelah lebih 230 (dua ratus tiga puluh) tahun menancapkan kuku kekuasaan di Sulawesi Selatan dengan mengalahkan Kerajaan Gowa-Tallo, tampaknya Belanda belum menunjukkan ketertarikan untuk menduduki wilayah Toraja yang berada jauh tengah-tengah wilayah Sulawesi. Orang-orang Toraja sendiri di masa itu menikmati hubungan dagang dengan berbagai kerajaan di sekitarnya, termasuk dengan Kerajaan Bone yang menjadi protektorat Pemerintah Hindia Belanda di bagian selatan pulau Sulawesi.
Bila kita melihat sejenak lebih ke belakang, wilayah Toraja pada saat itu berada dalam dua pengaruh kerajaan kuat di selatan Sulawesi, yaitu Kerajaan Sidenreng (Pare-Pare) dan Kerajaan Luwu (Palopo). Kedua kerajaan ini memiliki hubungan pasang-surut dengan Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa-Tallo yang berada lebih ke selatan pulau Sulawesi. Pasca kekalahan Kerajaan Gowa dalam Perang Makassar (1667-1669), Kerajaan Bone menjadi kerajaan yang terkuat dengan dukungan VOC. Walau Kerajaan Bone memiliki keuntungan sebagai pemenang perang bersama-sama dengan Belanda, keadaan ini tidak otomatis membuat Kerajaan Bone menjadi penguasa tunggal di wilayah selatan pulau Sulawesi. Diperlukan waktu bertahun-tahun bagi Kerajaan Bone untuk menaklukkan semua kerajaan dan wilayah di selatan Sulawesi.
Posisi Kerajaan Bone semakin sulit karena sebagai sekutu Belanda, mereka harus bersedia membantu bilamana Belanda mengalami perang di daerah kekuasaannya yang lain. Dalam tata pemerintahan di selatan Sulawesi pun Kerajaan Bone harus banyak dikontrol oleh Belanda sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian Bungaya tahun 1667. Di tahun 1670, Perjanjian Bungaya ini pun tampaknya semakin kuat setelah kalah dan wafatnya Sultan Hasanuddin, penguasa Kerajaan Gowa, kerajaan yang sebelumnya menguasai hampir seantero Sulawesi Selatan.
Setelah bertahun-tahun disibukkan oleh urusan dalam negeri, perlahan tapi pasti, Arung Palakka bersama Karaeng ri Gowa mulai melakukan ekspedisi untuk menaklukkan Sidenreng, sebagian dari Mandar, dan Masenrempulu'. Setelah berhasil menaklukkan hampir semua kerajaan di Sulawesi Selatan, Arung Palakka pun mulai mengincar wilayah Toraja. Di tahun 1683 pasukan Arung Palakka dan Karaeng ri Gowa yang didukung oleh pasukan Sidenreng dan Mandar berhasil menduduki beberapa desa di wilayah Ma'kale-Rantepao. Penguasaan Bone atas beberapa wilayah Toraja tidak selamanya berjalan mulus. Di tahun-tahun selanjutnya pasukan Kerajaan Bone harus terus-menerus menghadapi kenyataan bahwa tidak ada satu orang Toraja pun yang rela ditindas dan dijadikan hamba Kerajaan Bone. Perlawanan orang Toraja terhadap penguasaan Bone dikenal lewat gerakan yang bersemboyan To Pada Tindo To Misa' Pangimpi (Manusia Sama Derajatnya, Manusia Sama Impiannya).
Perlawanan orang Toraja ternyata belum membuat pasukan Bone jera. Pada tahun 1702 dan 1705 pasukan Bone masih mencoba menguasai wilayah Toraja. Hingga akhirnya pada tahun 1710, di desa Malua', orang-orang Toraja dan Bone membuat sebuah perjanjian perdamaian yang kemudian dikenal sebagai Basse Malua'.
PEMBANGKANGAN KERAJAAN BONE: PERANG BONE I & II
Setelah bertahun-tahun bekerjasama dengan Pemerintah Hindia Belanda, pada tahun 1823, Arumpone ke-30, I-Maneng Paduka Sri Ratu Sultana Salima Rajiat ud-din (Ratu Penguasa Bone) mulai menunjukkan ketidaknyamanan mereka terhadap perjanjian Bungaya yang disepakati bersama oleh Kerajaan Gowa, VOC, dan Kerajaan Bone, pasca kekalahan Sultan Hasanuddin oleh Cornelis Janszoon Speelman dan Arung Palaka. Persekutuan selama beratus-ratus tahun tampaknya mulai berubah menjadi persaingan perebutan kekuasaan di selatan Sulawesi.
Pemerintah Hindia Belanda pada saat itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen, yang juga mantan seorang Komandan Angkatan Perang Belanda/ Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL). Setelah sepuluh tahun memegang jabatan Hindia Belanda, pasca berakhirnya kekuasaan Inggris di Indonesia, Capellen mulai menghadapi pembangkangan dari penguasa-penguasa di selatan Sulawesi dan Maluku. Pada tanggal 8 Maret sampai 21 September 1824 Capellen pun melakukan perundingan dengan penguasa-penguasa di selatan Sulawesi dan Maluku. Setelah selesai melakukan perundingan, Capellen pun kembali ke Batavia dengan pandangan bahwa perundingan yang dilakukan itu tidak membawa keuntungan apa-apa. Capellen yang gusar mengirimkan jawaban atas pembangkangan Bone. Sekitar 500 prajurit pun diberangkatkan dengan membawa 4 meriam, 2 howitzer, beserta 600 prajurit pembantu pribumi, dengan satu tujuan yaitu menghukum Bone dan mengembalikan hegemoni Belanda di Sulawesi Selatan. Ekspedisi penghukuman Bone ini kemudian dikenal sebagai Perang Bone I tahun 1924, yang kemudian dilanjutkan dengan Perang Bone II di tahun 1825.
KELAHIRAN PONGTIKU DI MASA BERKUASANYA BELANDA DI SELATAN SULAWESI PASCA PERANG MAKASSAR (1667-1669) & PERANG BONE I (1824) & II (1825)
Kemerdekaan merupakan hak asasi setiap manusia. Oleh karena itu, kemerdekaan layak diperjuangkan meskipun nyawa menjadi taruhannya. Hidup bukan hanya kesempatan, melainkan juga pilihan. Itulah sebaris kalimat yang menggambarkan keteladanan seorang pejuang asal Sulawesi bernama Pong Tiku alias Ne'baso. Ia memilih hidup merdeka dan bermartabat daripada sekadar menjadi pecundang dengan takluk menyerah kalah terhadap Belanda.
            Pong Tiku', atau sering juga dituliskan Pongtiku, dilahirkan pada tahun 1846 di wilayah sekitar Rantepao, dataran tinggi Sulawesi. Pada saat itu, Sulawesi bagian selatan sedang mengalami booming kopi yang perdagangannya ditentukan oleh banyak panglima perang setempat. Pongtiku adalah anak terakhir dari enam bersaudara. Ia adalah anak dari Karaeng Siambo', seorang panglima perang sekaligus Penguasa Pangala'. Ibu Pongtiku bernama Lebok, ia berasal dari Tondon. Pongtiku muda sendiri adalah seorang anak muda energik yang juga dekat dengan para pedagang kopi yang sering mengunjungi desanya.
            Sebagai anak seorang pemimpin adat yang mempunyai pengaruh besar di Pangala dan daerah sekitarnya, Pong Tiku sering diajak sang ayah untuk menghadiri pertemuan dengan para pemimpin adat lainnya. Maksud pertemuan tersebut adalah untuk membahas segala hal yang berhubungan dengan masalah kemasyarakatan. Karena seringkali mendampingi sang ayah ketika menjalankan perannya sebagai pemimpin adat, kemampuan kepemimpinan Pong Tiku pun semakin terlihat. Saat terjadi konflik bersenjata yang melibatkan Pangala dan daerah Baruppu, ia mengambil alih kepemimpinan pasukan dari ayahnya yang sudah memasuki usia senja.
            Pada tahun 1880, pada saat Pongtiku berusia 34 tahun, terjadi peperangan antar penguasa di Toraja, yakni perang antara Pangala' dan Baruppu'. Kekalahan Baruppu' di perang ini menyebabkan Pongtiku diangkat menjadi penguasa Baruppu'. Pongtiku didaulat untuk menggantikan Pasusu, penguasa Baruppu' yang kalah perang. Ketika ayahnya meninggal, Pongtiku pun diangkat sebagai penguasa Pangala'. Di masa pemerintahannya, Pongtiku pun berusaha meningkatkan perekonomian lewat perdagangan kopi dan membangun persekutuan dengan penguasa-penguasa Bugis di dataran rendah. Keberhasilan Pongtiku dalam membangun perekonomiannya pun ikut menumbuhkan kecemburuan penguasa lain di sekitarnya.
PERANG KOPI, 1887-1889
Pongtiku menyadari keberhasilannya juga telah menimbulkan rasa tidak senang pada penguasa Sidenreng dan Luwu. Ia pun kembali dan memperkuat benteng pertahanannya di tengah-tengah upayanya mensejahterahkan wilayahnya. Di sisi lain ia berusaha membuat perjanjian yang menguntungkan kedua belah pihak. Tawaran Pongtiku tampaknya hanya diterima oleh penguasa Sidenreng dan penguasa Sawito.
Tahun 1897, atas permintaan Datu Luwu', pasukan Bone (songko' borrong) di bawah pimpinan Petta Punggawa memasuki wilayah Toraja untuk memerangi pasukan Sidenreng yang dipimpin Andi Guru. Perang ini timbul akibat konflik Luwu (Palopo) dan Sidenreng (Pare-Pare) yang menginginkan monopoli perdagangan kopi. Perseteruan ini disebut orang Toraja dengan istilah "rarinna kopi batu". Walaupun terjadi perang di wilayah Toraja, pasukan Bone tetap menghormati perjanjian Basse Malua' yang berusia hampir dua abad.
Perang yang terjadi di tahun 1887 ternyata tidak berakhir dengan damai begitu saja. Di tahun 1889, pemimpin pasukan Bone Petta Panggawae dan prajurit Songko' Borrong kembali memasuki wilayah Toraja. Hanya saja kali ini bersama-sama dengan Penguasa Nanggala, Pong Maramba', pasukan Bone masuk ke wilayah Toraja dan menyerang Tondon, yang tidak lain adalah kampung dari ibu Pongtiku. Panggawae bersama-sama dengan Pong Maramba' pun berhasil mengambil alih dan merampok Tondon, yang kala itu menjadi pusat perekonomian Pongtiku. Pongtiku yang kala itu berusia 43 tahun tidak tinggal diam. Ia pun bekerja sama dengan Andi Guru, penguasa Sidenreng, untuk merebut kembali Tondon pada malam hari itu juga.
Setahun kemudian, yakni pada tahun 1890, perang kopi pun berakhir. Belanda pun datang ke wilayah Kerajaan Bone untuk menyelidiki apa yang sedang terjadi di sekitar wilayah kekuasaan mereka. Perang Kopi ini secara tidak langsung menyadarkan satu kekayaan penting Sulawesi Selatan ternyata berada di wilayah Toraja, tetangga dekat Kerajaan Bone, kerajaan yang berada langsung di bawah kontrol Pemerintah Hindia Belanda. Di lain sisi, Kerajaan Luwu di sebelah utara Bone tampaknya harus terlebih dahulu ditaklukkan sehingga Belanda dapat memastikan semua kerajaan di Sulawesi Selatan telah tunduk pada mereka.
EKSPANSI BELANDA KE WILAYAH LAIN SULAWESI SELATAN: PERANG LUWU
Perang yang berkepanjangan antara Belanda dengan Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan membawa orang-orang Toraja sendiri dalam masa ini berada dalam posisi yang tidak menguntungkan, mengingat keadaan damai yang tercipta di wilayah selatan Sulawesi sebelumnya telah menyebabkan perdagangan kopi semerbak dan membawa keuntungan bagi orang-orang Toraja. Hubungan dagang antara orang-orang Toraja dan Bugis sendiri berlangsung hampir dengan semua kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian orang Toraja menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan Sidenreng, Rappang dan Sawito, sedangkan sebagian lainnya bermitra dagang dengan kerajaan Bone dan Luwu.
Hubungan dagang yang baik antara orang Bugis dan orang Toraja ini juga telah membawa kabar kepada pemimpin-pemimpin Toraja akan adanya kemungkinan pecahnya perang antara Pemerintah Hindia Belanda dengan kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan pasca takluknya Gowa-Tallo dan Bone.
Untuk mengantisipasi perang yang akan pecah dalam waktu tidak lama penguasa-penguasa Toraja mengadakan musyawarah di kediaman Pong Maramba' di Tongkonan Buntu Pune Kesu'. Salah seorang penguasa Toraja yang datang adalah, Pong Tiku', penguasa Toraja di wilayah Pangala', yang dulu sempat diperangi Pong Maramba'. Dalam pertemuan ini beberapa kesepakatan pun dibuat oleh para pemimpin-pemimpin Toraja dengan satu tujuan yaitu: menggalang persatuan antar penguasa Toraja dan menghilangkan semua benih-benih perpecahan di antara orang-orang Toraja. Para penguasa adat ini pun didaulat menjadi para pemimpin perang dalam upaya melawan Belanda yang hendak datang dan menguasai Toraja. Kesepakatan para pemimpin Toraja ini pun dikenal dengan semboyan semangat yang melandasinya: "Misa' Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate". (Bersatu Kata Kita Hidup, Berbeda Kata Kita Mati.) Semboyan yang hampir serupa dengan semboyan perjuangan Republik Indonesia: Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh.
Setelah selesai bermusyawarah para penguasa Toraja ini, pun kembali ke daerahnya masing-masing. Pong Tiku' pun kembali ke Pangala' untuk mempersiapkan dan menyiagakan 9 (Sembilan) buah benteng sebagai persiapan orang-orang Toraja menghadapi perang yang sudah menanti di depan mata. Pongtiku sendiri mengirimkan beberapa pengintai untuk melihat peperangan yang sedang terjadi antara Belanda dan orang-orang Bugis di wilayah Sidenreng dan Sawito.
Januari 1906, Kerajaan Luwu (Palopo), salah satu tetangga terdekat Toraja, jatuh dan kalah dalam peperangannya dengan Belanda.
MASUKNYA BELANDA KE WILAYAH TORAJA
Setelah berhasil menaklukkan hampir semua kerajaan di Sulawesi Selatan, pada bulan Maret 1906, pasukan Angkatan Perang Belanda (KNIL) di bawah Pimpinan Kapten Killian masuk ke wilayah Toraja, tepatnya di Rantepao, dengan tujuan melucuti dan mengumpulkan senjata api dari semua penguasa Toraja. Masuknya Belanda ke wilayah Toraja juga sekaligus menandakan Belanda hendak menuntaskan misi besar mereka menaklukkan seluruh wilayah kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan.
Sewaktu masuk ke dalam Kota Rantepao, komandan pasukan Belanda memerintahkan Pongtiku datang menghadap dan menyerahkan semua senjata yang dimilikinya. Pongtiku menolak. Alih-alih menyerah, Pongtiku malah ia menyiagakan semua benteng-bentengnya untuk menghadapi perang dengan pasukan Belanda. Tanggapan yang diberikan Pongtiku membuat Kapten Killian pun merasa khawatir. Killian menganggap Pongtiku telah membuat persiapan yang baik untuk berperang dengan pasukan Belanda. Oleh karenanya, pasukan Belanda baru mulai digerakkan ke Tondon, setelah satu bulan mempelajari keadaan di Toraja.
Pada bulan April, pasukan Belanda dikirim ke Tondon untuk memerangi Pongtiku. Pasukan ini mundur kembali ke Rantepao tanpa perlawanan yang berarti. Di bulan-bulan berikutnya, Belanda mulai melakukan perang terbuka dengan pasukan Pongtiku di berbagai wilayah utara Toraja. Tanggal 1 Juni 1906 Angkatan Perang Belanda di bawah Komando Kapten De Last yang melakukan 3 gelombang serangan terhadap Pongtiku di Benteng Buntu Asu. Semua serangan Belanda kandas di muka Benteng dengan menelan banyak korban. Angkatan Perang Belanda pun dipukul mundur dan dihalau kembali ke Rantepao.
Keberhasilan Pongtiku menahan gempuran pasukan Belanda tampaknya tidak terlepas kemampuan strategi serta semangat yang ia miliki. Pongtiku memiliki keuntungan dalam hal penguasaan medan tempur serta Ia bertahan dan menyerang musuhnya dari benteng-benteng yang jumlahnya 9 buah yang telah dipersiapkan sejak dini. Perang Pongtiku melawan Belanda bukanlah tindakan spontanitas akan tetapi adalah perang yang direncanakan dan dipersiapkan dengan matang.
Penaklukkan Toraja yang berjalan lambat akhirnya membuat berang Gubernur Jendral Hindia Belanda saat itu, Johannes Benedictus van Heutsz. Heutsz pun memerintahkan Gubernur Sulawesi yang juga mantan Pasifikator Van Aceh (Pengaman Aceh), Letjen Swart, untuk memimpin langsung perang terhadap Pongtiku di wilayah Toraja. Setelah berbulan-bulan berperang, lewat beberapa kali pertempuran, pasukan Belanda tampaknya perlahan-lahan mulai berhasil memasuki wilayah Pongtiku di Pangala'. Belanda pun terus menaklukkan semua benteng pertahanan Pongtiku. Pongtiku pun akhirnya mengambil posisi bertahan di Benteng Batu di Baruppu'. Walau dengan teknologi yang terbatas, Pongtiku berhasil mempertahankan bentengnya selama berbulan-bulan. Belanda pun akhirnya menyadari bahwa peluru dan granat ternyata bukan hal yang mampu menaklukkan Pongtiku dan pasukannya, apalagi memadamkan semangat juang mereka. Keberhasilan Pongtiku menahan gempuran pasukan Belanda selama berbulan-bulan tampaknya tidak terlepas kemampuan strategi serta semangat yang ia miliki. Pongtiku pun memiliki keuntungan dalam hal penguasaan medan tempur serta posisi bertahan yang lebih menguntungkan. Setelah mengepung Pongtiku selama 4 bulan(Juli s/d Oktober 1906), Belanda pun menyadari mereka berperang bukan dengan orang yang berperang dengan sembarangan tanpa strategi. Pongtiku dipastikan telah mempersiapkan 9 bentengnya sejak dini. Pongtiku berperang dengan perencanaan dan persiapan yang matang. Belanda pun mulai memikirkan taktik lain untuk mengalahkan Pongtiku dan pasukannya.
Peperangan frontal telah nyata menunjukkan Pongtiku adalah lawan yang sulit untuk dikalahkan. Belanda pun menyadari mereka perlu kembali menggunakan akal bulus lainnya. Taktik penjebakan untuk Pongtiku pun mulai dipersiapkan. Ini adalah taktik klasik Belanda yang juga digunakan terhadap Pangeran Diponegoro, yaitu menawarkan perundingan. Pada tanggal 26 Oktober 1906 Belanda mengutus Andi Guru, penguasa Sidenreng, dan Tandi Bunna', bekas pemimpin pasukan Pongtiku, untuk menawarkan gencatan senjata kepada Pongtiku. Walau pada awalnya Pongtiku menolak, Pongtiku akhirnya mendengarkan nasihat dari orang-orang di kampungnya untuk mengingat kematian ibunya yang terjadi saat pengepungan. Tiga hari kemudian, Pongtiku pun mengalah karena ia merasa harus mengadakan upacara untuk pemakaman ibunya terlebih dahulu. Belanda pun masuk, mengambil alih benteng, menahan semua senjata dan menangkap Pongtiku pada tanggal 30 Oktober 2006. Belanda pun menggiring Pongtiku dan pasukannya ke Tondon. Di Tondon, Belanda pun membatasi gerak-gerik Pongtiku yang sedang mempersiapkan Upacara Pemakaman ibunya menurut adat Toraja. Persiapan upacara pemakaman yang memakan waktu berbulan-bulan ini ternyata juga digunakan Pongtiku untuk mengumpulkan kembali senjata lewat orang-orang kepercayaannya dan juga sekaligus untuk menjalin komunikasi dengan beberapa benteng perlawanan lainnya di Toraja.
Januari 1907, di malam sebelum acara pemakaman orang tuanya, Pongtiku dengan sejumlah pasukan melarikan diri ke arah selatan. Pongtiku akhirnya mengetahui bahwa ia dan pasukannya diikuti oleh pasukan Belanda. Ia pun meminta pasukannya untuk kembali ke Tondon. Pongtiku sendiri terus melanjutkan perjalanannya bersama lima belas orang lainnya ke Benteng Ambeso yang dipimpin oleh Bombing dan Ua' Saruran. Beberapa hari kemudian, Benteng Ambeso pun jatuh ke tangan Belanda. Pongtiku dan rombongannya pun keluar dari Benteng Ambeso dan pergi ke Benteng Alla. Maret 1907, Benteng Alla pun ditaklukkan Belanda. Kali ini Pongtiku dan rombongannya terpaksa kembali ke daerah Tondon. Mengingat semua benteng perlindungan telah jatuh ke tangan Belanda, Pongtiku pun menetap di hutan di sekitar wilayah Tondon.
Pada tanggal 30 Juni 1907, dengan petunjuk mata-mata Belanda, Pongtiku tertangkap lalu di bawa ke Rantepao. Setelah beberapa hari di penjara, pada tanggal 10 Juli 1907, Pongtiku dieksekusi dan gugur sebagai pahlawan Toraja di pinggir Sungai Sa'dan, tepatnya di tempat dimana Tugu Peringatan baginya didirikan di Singki', Rantepao.
Saat ke Toraja sempatkan diri ke Makam Pahlawan Pongtiku di Pangala', Toraja Utara (foto koleksi pribadi, akhir Juli 2012)
Bila melihat sejarah panjang Toraja dan Sulawesi Selatan, maka tak pelak lagi kita akan mendapati Pongtiku adalah penantang Belanda yang terakhir di daerah selatan Sulawesi, dan sekaligus penantang utama Belanda di wilayah Toraja. Semangat perjuangan Pongtiku ini tampak lewat sumpah yang diucapkannya sendiri, yaitu: "Iatu Tolino Pissanri Didadian, sia Pissanri Mate Iamoto Randuk Domai Tampak Beluakku Sae Rokko Pala' Lette'ku, Nokana' Lanaparenta Tumata Mabusa" (Manusia hanya sekali dilahirkan dan mati, dari ujung rambut sampai telapak kakiku, saya tidak akan rela diperintah oleh Belanda). Semangat ini pun terlihat dari perjuangan gigih yang membawa Pongtiku ke dalam kobaran perang dengan Belanda yang berlangsung lebih dari setahun lamanya.
            Pada tahun 1964, atas keberanian dan perjuangannya, Pemerintah Tana Toraja mengakui dan menyatakan Pongtiku sebagai Pahlawan Nasional. Setelah lebih dari 95 (sembilan puluh lima) tahun wafatnya, tepatnya pada 6 November 2002, Pemerintah Republik Indonesia lewat Dekrit Presiden 073/TK/2002 pun mengakui Pongtiku sebagai Pahlawan Nasional Indonesia yang ikut memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Tangdilintin, L.T. 1978. Sejarah dan Pola-Pola Hidup Toraja, (Yalbu Tana Toraja, Ujung Pandang).
Bigalke, Terance W. 1981. A Social History of "Tana Toraja" 1870-1965, (PhD Dissertation, Michigan London).
Wikipedia Indonesia:  http://id.wikipedia.org/wiki/Pong_Tiku
Wikipedia Inggris: http://en.wikipedia.org/wiki/Pongtiku

SEMANGAT PANGERAN ANTASARI


ANNASRUL – SI3 / A

Pangeran Antasari lahir di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar, tahun 1809, ayahnya bernama Pangeran Mas'ud dan ibunya bernama Gusti Hadijah puteri Sultan Sulaiman. Ia adalah keluarga Kesultanan Banjarmasin, tetapi hidup dan dibesarkan di luar lingkungan istana, yakni di Antasan Senor, Martapura. Kericuhan-kericuhan yang terjadi khususnya dalam kalangan penguasa kesultanan, menjadikan cicit dari Sultan Aminullah ini tersisih, walaupun ia sebenarnya pewaris pula atas tahta Kesultanan Banjar.
Kericuhan terjadi ketika Sultan Aminullah wafat dalam tahun 1761. Ia meninggalkan tiga orang putera yang masih kecil, dan karena itu saudara Sultan Aminullah, yang bernama Pangeran Natanegara diangkat menjadi wali. Dua orang putera Sultan Amunullah meninggal, dan yang seorang lagi yaitu Pangeran Amir pergi ke Pasir. Sesudah itu Pangeran Natannegara menubatkan diri menjadi Sultan Sulaiman Saidullah.
            Tahun 1787 Pangeran Amir melancarkan pemberontakan untuk mengambil tahtanya kembali dengan kekuatan 3000 orang Bugis. Sultan Sulaiman Saidullah untuk mengatasinya meminta bantuan Belanda. Pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Hoffman berhasil mematahkan perlawanan Pangeran Amir. Dalam suatu pertempuran pada tanggal 14 Mei 1787 Pangeran Amir tertangkap, dan bulan Juni ia dikirim ke Batavia untuk selanjutnya di buang ke Ceylon (sekarang Srilangka). Salah seorang puteranya bernama Pangeran Mas'ud, yaitu ayah dari Pangeran Antasari.
Belanda menarik keuntungan dari kericuhan itu. Sebagai imbalan jasa memadamkan "pemberontakan" Pangeran Amir, maka ditandatanganilah antara pihak Belanda dan penguasa Kesultanan Banjar sebuah tractaat dan Acta van Afstand pada tanggal 13 Agustus 1787. Dengan demikian berarti Sultan Sulaiman Saidullah terpaksa mengurangi kekuasaan, mengurangi kedaulatan Kesultanan Banjar. Ia dan keturunannya masih berhak menyandang gelar-gelar sultan dan memerintah wilayah kesultanan, tetapi hanya sebagai pinjaman (vazal) dari Belanda.
Kericuhan terjadi lagi dalam masa pemerintahan Sultan Adam Alwasyiqubillah putera Sultan Sulaiman. Selagi masih bertahta, ia mengangkat anaknya , Pangeran Abdurrahman , sebagai Sultan Muda atau Putera Mahkota. Pada tahun 1852 Sultan Muda Abdurrahman meninggal dunia, yang meninggalkan dua orang anak, yaitu Pangeran Hidayatullah anak dari perkawinan dengan Ratu Siti, dan Pangeran Tamjidillah anak dari perkawinan dengan Nyai Aminah. Keduanya merasa berhak atas tahta kesultanan. Di samping itu ada lagi pihak ketiga yang juga merasa berhak, yaitu Prabu Anom, putera Sultan Adam Alwasyiqubillah, adik Pangeran Abdurrahman. Sebenarnya Pangeran Hidayatullah yang paling berhak atas tahta kesultanan.
Sekali lagi Belanda ikut campur tangan. Mereka menggunakan sebagai alasan campur tangannya, karena investasinya yng sudah ditanamkan dalam pertambangan batu bara "Oranye Nassau" di Pengaron, dan "Julia Hermina" di Banyu Ireng. Kedua tambang ini mendatangkan hasil yang cukup banyak. Karena itu Belanda memerlukan sultan yang dapat mereka kendalikan.
Sultan Adam Alwasyiqubillah meninggal dunia dalam tahun1857. Belanda lalu mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai penggantinya, sedangkan Pangeran Hidayatullah diangkat sebagai mangkubumi. Para bangsawan, ulama, dan rakyat tidak menyukai terhadap pengangkatan Pangeran Tamjidillah sebagai Sultan.
Keresahan rakyat tampak jelas dengan timbulnya perlawanan di daerah pedalaman, yaitu:
Di Banua Lima (Negara, Alabio, Sungai Banar, Amuntai dan Kalua) dipimpin oleh Tumenggung Jalil.
Di Muning dibawah pimpinan Aling yang telah menobatkan dirinya menjadi sultan dengan nama Penembahan Muda. Anaknya yang bernama Sambang diangkat dan bergelar Sultan Kuning. Anak perempuannya Saranti diberi gelar Puteri Junjung Buih. Nama kampungnya diganti menjadi Tambai Makkah.
Di daerah Batang Hamandit, Gunung Madang, dipimpin Tumenggung Antaluddin.
Di Tanah Laut dan Hulu Sungai dipimpin oleh Demang Lehman.
Di Kapuas Kahayan dibawah pimpinan Tumenggung Surapati.
Gerakan-gerakan rakyat itu pada hakekatnya menghendaki agar yang bertahta di Kesultanan Banjar adalah Pangeran Hidayatullah. Sebenarnya Pangeran Hidayatullah yang berhak menjadi Sultan, sesuai pula dengan harapan rakyat Banjar, yang dipekuat pula dengan Surat Wasiat Sultan Adam Alwasyiqubillah. Isi Surat Wasiat itu sebagai berikut:
Sultan Adam memberi kepada Pangeran Hidayat gelar Sultan Hidayatullah Khalilullah.
Mengangkat menjadi penguasa agama serta mewariskan semua tanah kesultanan, semua alat senjata kesultanan, alat pusaka dan padang-padang perburuan.
Apabila Sultan Adam wafat, maka penggantinya ialah Pangean Hidayat, dan hendaknya memerintah rakyat dengan penuh keadilan dan mengikuti perintah agama.
Memerintahkan kepada seluruh rakyat Kesultanan Banjar supaya mentaati hal ini dan jika perlu mempertahankan dengan kekerasan.
Memerintahkan kepada semua pangeran, menteri, orang besar kesultanan, ulama dan tetuha kampung supaya mematuhi ketentuan ini, apabila dilanggar Sultan Adam menjatuhkan kutuknya.
Pada mulanya gerakan-gerakan itu berdiri sendiri-sendiri. Di berbagai tempat, di kampung-kampung, mereka mempengaruhi rakyat dan di sana-sini mengganggu ketenteraman. Baru kemudian gerakan-gerakan itu dapat dipersatukan oleh Pangeran Antasari yang waktu itu sudah berusia 50 tahun.
Sampai saat itu nama Pangeran Antasari hampir-hampir tidak dikenal. Ia tidak memiliki kekayaan yang memungkinkan untuk hidup layak sebagai seorang pangeran, sedang ia merasa prihatin menyaksikan Kesultanan Banjar yang recuh dan semakin besarnya pengaruh Belanda di Banua Banjar. Terbuka kesempatan bagi Pangeran Antasari ketika di pedalaman Banjar timbul gerakan-gerakan rakyat.
Pangeran Hidayatullah dalam kedudukannya sebagai mangkubumi mengutus 3 orang untuk menyelidiki gerakan-gerakan rakyat yang sedang bergolak. Salah seorang dari utusan itu adalah pamannya sendiri, yaitu Pangeran Antasari. Maka terbukalah kesempatan bagi Pangeran Antasari untuk menghubungi pemimpin-pemimpin gerakan rakyat yang siap mengadakan perlawanan, bahkan ia berhasil memperoleh kepercayaan rakyat dan dipilih sebagai pemimpin perlawanan. Cita-cita mereka memang sesuai dengan sikap dan pendirian Antasari.
Oleh karena itu ia dan keluarganya diam-diam meninggalkan kediamannya di Antasan Senor Martapura dan menyatukan diri dengan kaum perlawanan di pedalaman. Puteranya yang bernama Gusti Penembahan Muhammad Said, dikawinkan dengan Saranti, puteri Penembahan Aling, tokoh yang berpengaruh di kalangan mereka.
Pangeran Antasari berhasil mempersatukan gerakan rakyat yang dipimpin oleh Penembahan Aling di Muning dengan gerakan rakyat yang dipimpin oleh Tumenggung Jalil di Benua Lima. Wilayah perlawanan bertambah luas, meliputi Tanah Dusun Atas, Tabanio dan Kuala Kapuas, serta Tanah Bumbu. Semuanya menjadi satu front di bawah pimpinan Pangeran Antasari untuk menentang Belanda dan kekuasaannya yang menggunakan Sultan Tamjidillah.
Pengaruh Pangeran Antasari menjadi makin luas, juga di kalangan alim ulama Banjar yang sebagian besar bersedia ikut menempuh jalan kekerasan. Pada permulaannya ia berhasil menghimpun sebanyak 6.000 orang lasykar.
Serangan pertama dilakukan pada tanggal 28 April 1859. Dengan serangan itu maka meletuslah Perang Banjar. Pagi-pagi buta 300 orang lasykar yang dipimpin langsung oleh Pangeran Antasari menyerang tambang batu bara dan benteng Belanda di Pengaron. Pertempuran berlangsung hingga pukul 14.00 siang. Baik pihak Pangeran Antasari mapun pihak Belanda berjatuhan korban.
Pengaron dikepung rakyat lasykar Antasari. Komandan Beeckman sangat hawatir karena persediaan makanan sudah menipis. Ia segera mengirim kurir, tetapi kurir itu dapat dibunuh oleh lasykar. Keadaan di luar tambang dan benteng Belanda di Pengaron dapat dikuasai lasykar Pangeran Antasari. Dua puluh orang bersenjata parang menyelinap ke dalam pos dan benteng tambang batu bara Oranje Nassau Pengaron, tetapi diketahui musuh, dan semuanya gugur terbunuh. Dokter Belanda di dalam lokasi itu diamuk dan dibunuh oleh orang hukuman . Pangeran Antasari sebagai pimpinan lasykar perlawanan mengirim surat kepada Beeckman agar ia menyerah.
Dalam keadaan semacam ini pemerintah Belanda menganggap berbahaya terhadap pangeran Antasari sehingga dianggap pemberontak yang dikenai premie atau harga kepala 10.000 gulden untuk menangkapnya hidup atau mati. Demikian pula terhadap Pangeran Hidayatullah yang kemudian menggabung dengan Pangeran Antasari. Hal ini dilakukan Belanda setelah dihapuskannya Kerajaan Banjar oleh Belanda pada tanggal 11 Juni 1860.
Di dalam bulan suci Ramadhan 1278 H (Maret 1862) para alim ulama dan pemimpin rakyat di Barito, Sihong, Teweh serta kepala-kepala suku Dayak Kapuas Kahayan berkumpul di Dusun Hulu untuk menobatkan Pangeran Antasari menjadi Penembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, pemimpin tertinggi agama. Dengan demikian, dalam pengertian rakyat, kedaulatan daerah Banjar dipegang oleh Pangeran Antasari. Kekuasaan dan kedaulatan dilaksanakan sesuai dengan keadaan perang yang masih berkobar.
Belanda masih berusaha untuk berdamai dengan Pangeran Antasari dan bersedia memberi pengampunan. Tetapi Pangeran Antasari sadar, bahwa itu hanya tipu muslihat Belanda saja.
Pangeran Antasari menolak ajakan Belanda dengan mengirim surat kepada gezaghebber (Kepala Daerah/penguasa) di Marabahan (Bakumpai). Isinya ialah penolakan pengampunan yang diajukan Belanda kepada Pangeran Antasari. Ia tidak percaya kepada janji-janji yang diberikan Belanda dan menganggapnya sebagai tipu muslihat belaka.
Pangeran Antasari sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin hanya memberi satu jaminan untuk perdamaian, yaitu diserahkannya Kesultanan Banjarmasin, sedangkan Belanda hanya diizinkan untuk menarik pajak. Kalau syarat tersebut tidak dipenuhi, maka Pangeran Antasari memilh jalan meneruskan peperangan.
Ternyata Pangeran Antasari benar-benar menunjukkan jiwa kepahlawanan. Beliau selalu berkata. "Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing", maksudnya haram hukumnya menyerah kepada musuh, tak tergoyahkan, ulet, tabah sampai akhir. Perkataan ini diamanatkan pula kepada keturunan beliau.
Waktu itu Pangean Antasari sudah tidak muda lagi, usianya sudah lebih lima puluh tahun. Dengan penuh kesadaran dan keyakinan ia memimpin gerakan melawan pemerintah Belanda di Kalimantan Selatan dan Tengah. Ia mempunyai kekuatan pribadi dan keluhuran budi yang menjadi tenaga pendorong mengapa ia hidup mempertahankan pendiriannya tanpa pernah mundur setapakpun untuk berkompromi dengan lawan sampai akhir hayatnya.
Pangeran Antasari telah membuktikan memiliki keahlian dalam siasat perang gerilya serta mampu memimpin pasukan di daerah-daerah yang luas lagi sukar didiami manusia. Ia adalah pemimpin yang ulet, tabah dan berwibawa, serta memiliki kekuatan batin untuk mengikat para pengikutnya kepada tujuan yang mulia.
Pangeran Antasari seorang pemimpin yang tidak mementingkan diri sendiri. Pada saat para bangsawan yang berkuasa dalam Kesultanan Banjarmasin secara sistemetik dikuasai dan dipecah belah Belanda dengan memanfaatkan situasi dan kondisi Kesultanan Banjar itu sendiri., maka Pangeran Antasari mengangkat senjata dengan semboyannya yang pantang mundur itu.
Sementra itu wabah penyakit melanda daerah pedalaman . Pangeran Antasari jatuh sakit. Dalam keadaan sakit parah ia diangkut ke pegunungan Dusun Hulu. Akhirnya wafat di Bayan Pegog, Hulu Teweh, pada tanggal 11 Oktober 1862. Kemudian di masa Indonesia merdeka, kerangka tulang belulang beliau dipindahkan dan dimakamkan kembali di Kompleks Makam Pahlawan Perang Banjar, jalan Masdjid Jami di Banjarmasin, pada tanggal 11 November 1958. Sekarang makamnya diberi nama Makam Pahlawan Nasional Pangeran Antasari.
Dengan wafatnya Pangeran Antasari rakyat kehilangan pemimpin yang berani, cerdas, tangguh, cerdik, dan alim. Meskipun demikian semangat Antasari tetap berkobar-kobar. Rakyat Banjar tidak tenggelam kesedihannya, kedudukan Pangeran Antasari segera digantikan oleh putra-putranya, yaitu Pangeran Muhammad Seman menjadi sultan. Sementara saudara Muhammad Seman, yaitu Pangeran Panembahan Muhammad Said sebagai mangkubumi.
Pusat pemerintahan berpindah-pindah karena senantiasa dikejar-kejar Belanda. Semula berpusat di Dusun Hulu dengan kedudukan di Muara Teweh, kemudian di Kapuas Kahayan dengan pertahanannya di dekat Sungai Patangan. Paling akhir di Baras Kuning di mulut Sungai Manawing.
Tidak hanya keturunan Pangeran Antasari yang melanjutkan perlawanan, tetapi juga rakyat Banjar, seperti Tumenggung Surapati sampai meninggal tidak pernah menyerahkan diri kepada Belanda. Demang Lehman yang tertangkap melalui penghianatan tahun 1864, air mukanya tak berubah dan urat muka tak bergerak menaiki tiang gantungan, yang menunjukkan ketabahan hati. Selesai digantung kepalanya di potong Belanda. Jalil gugur karena luka dalam pertempuran. Kuburnya ditemukan Belanda dan dibongkar sedang kepalanya di potong. Penghulu Rasyid dari Benua Lawas, pemimpin golonagn agama, sangat terkenal dengan gerakan "Baratib Baamal", bertempur dengan gagah berani. Pada tahun 1864 menderita luka-luka dalam pertempuran, lalu berusaha menyembunyikan diri. Namun kaki tangan Belanda selalu membuntutinya. Penghianat tersebut dapat membunuhnya, kemudian memotong lehernya dan menyerahkan kepala Penghulu Rasyid kepada Belanda untuk mendapakan hadiah. Nasib yang sama juga dialami oleh Haji Buyasin, pejuang yang bersama-sama Demang Lehman melawan penjajah Belanda di Tanah Laut. Pada tahun 1866 beliau dibunuh oleh seorang kaki tangan Belanda, dan mayatnya diserahkan kepada Belanda di Banjarmasin.
Demikian pula pejuang-pejuang lainnya seperti Tumenggng Antaluddin, Tumenggung Cakrawati, Bukhari dan Kawan-kawan. Banyak sekali kalau dibeberkan satu persatu. Tumenggung Cakrawati gugur, lalu digantikan oleh isterinya yang memakai namanya. Bukhari dan kawan-kawan gugur melawan Belanda dalam Amuk Hantarukung, di ujung abad ke 19.
Pada tahun 1905 tanggal 1 Januari Sultan Muhammad Seman gugur. Sesudah itu boleh dikatakan pelawanan secara fisik tidak begitu memusingkan Belanda lagi. Perlawanan yang dilakukan oleh Ratu Zaleha dan Gusti Muhammad Arsyad sebagai keturunan langsung Pangeran Antasari tidak berhasil menguasai keadaan. Perang Banjar yang apinya mulai dinyalakan Pangeran Antasari tanggal 28 April 1859 boleh dikatakan telah padam. Meskipun demikian semangat kejuangan yang diwariskan Pangeran Antasari, beserta para pejuang lainnya terus menyala, selalu mendorong langkah perjuangan hingga Indonesia Merdeka, memelihara serta melestarikannya melalui pembangunan nasional.
Pangeran Antasari telah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 27 Maret 1968. Nama Antasari diabadikan pada Korem 101/Antasari dan julukan untuk Kalimantan Selatan yaitu Bumi Antasari. Kemudian untuk lebih mengenalkan P. Antasari kepada masyarakat nasional, Berikut beberapa hal yang dipersembahkan untuk mengenang Pangeran Antasari:
1) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari
IAIN Antasari berlokasi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Saat ini, ada 4 fakultas yang diakui, yaitu: Fakultas Syariah, Fakultas Dakwah, Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Ushuluddin. Sedangkan, pemangku jabatan rektor saat ini adalah Prof. Dr. H. Akh. Fauzi Aseri, MA. Kampus ini dikenal dengan julukan Green Campus, selain karena warna bangunan yang memang didominasi dengan warna hijau, juga karena IAIN adalah institusi yang bernaung di bawah Kementerian Agama, yang sangat kental dengan warna hijau.
2) Makam Pangeran Antasari
Komplek pemakaman Pangeran Antasari merupakan obyek wisata yang berada di komplek Masjid Jami, kelurahan Antasan, kecamatan Banjarmasin Timur. Sebenarnya, ini bukanlah makam awal untuk Pangeran Antasari. 91 tahun setelah Pangeran Antasari meninggal, yakni pada tahun 1958, jenazah Pangeran Antasari dipindahkan ke lokasi makam sekarang.
3) Gambar Pangeran Antasari di Uang Kertas Rp 2.000,-
Jika Anda mencari uang kertas untuk membayar ongkos lyn, misalnya, maka Anda harus memiliki dua lembar uang kertas ribuan. Tapi, semenjak tahun 2009, Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) resmi mengeluarkan uang kertas nominal Rp 2.000,00 dengan gambar Pangeran Antasari di sampul depannya. Tentu, ini adalah sebuah kehormatan bagi rakyat Kalimantan, karena tak semua pahlawan Nasional diabadikan wajahnya dalam uang pecahan keluaran BI.
4) Jalan Pangeran Antasari
Setidaknya ada tiga daerah di Indonesia yang memiliki Jalan Pangeran Antasari. Pertama, tentu di daerah Banjarmasin sendiri. Jalan ini berada di daerah Pekapuran Raya. Kedua, di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Jalan ini sangat terkenal. Bukan hanya karena nama pahlawannya, tetapi karena kemacetannya. Ketiga, di daerah Samarinda, Kalimantan Timur. Mungkin ada yang tahu, daerah mana lagi di Indonesia yang memiliki Jalan Pangeran Antasari?
5) Pasar Pangeran Antasari
Berlokasi di Jalan Pangeran Antasari, Pasar sentra Antasari merupakan pasar rakyat yang menjual berbagai kebutuhan rakyat seperti sembako dan lain-lain dengan harga sesuai jangkauan masyarakat. Oh, ya, ternyata di Bandung, Jawa Barat, juga ada Pasar Antasari, lho. Lebih tepatnya dikenal dengan Pasar Antasari Antapani.
DAFTAR PUSTAKA
Sudarmanto, J. B. (2007). Jejak-jejak pahlawan: perekat kesatuan bangsa Indonesia. Grasindo.
Iskandar, Salman. 99 Tokoh Muslim Indonesia. PT Mizan Publika.
Basuni, Ahmad (1986). Pangeran Antasari: pahlawan kemerdekaan nasional dari Kalimantan. Bina Ilmu.
Sudrajat, A Suryana (2006). Tapak-tapak pejuang: dari reformis ke revisionis (Seri khazanah kearifan). Erlangga.
Komandoko, Gamal (2006). Kisah 124 pahlawan & pejuang Nusantara. Pustaka Widyatama.