Senin, 08 Juni 2015

SAREKAT ISLAM ( SI )


MAMAN KURNIAWAN / SI IV

       Tiga tahun setelah berdirinya Budi Utomo,maka pada tahun 1911 didirikanlah perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang awalnya diberinama Sarekat  Dagang Islam (SDI) di kota Solo oleh Haji Samanhudi.Haji Samanhudi sendiri adalah seorang pengusaha batik di Kampung Lawean (Solo) yang mempunyai banyak pekerja. Perkumpulan ini semakin berkembang pesat ketika Tjokroaminoto memegang tampuk pimpinan dan mengubah nama perkumpulan itu menjadi Sarekat Islam.Kata "Dagang" dalam Serikat Dagang Islam dihilangkan dengan maksud agar ruang geraknya lebih luas tidak dalam bidang dagang
saja. Pada periode antara tahun 1911-1923 Sarekat Islam menempuh garis perjuangan parlementer dan evolusioner. Artinya, Sarekat Islam mengadakan politik kerja sama dengan pemerintah kolonial. Namun setelah tahun 1923, Sarekat Islam menempuh garis perjuangan nonkooperatif. Artinya, organisasi tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, atas nama dirinya sendiri. Pada mulanya Sarekat Islam adalah sebuah perkumpulan para pedagang yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Pada tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh H. Samanhudi sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa. Garis yang diambil oleh SDI adalah koperasi, dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam. Keanggotaan SDI masih terbatas pada ruang lingkup pedagang maka tidak memiliki anggota yang cukup banyak. Oleh karena itu, agar memiliki anggota yang banyak dan luas ruang lingkupnya maka pada tanggal 18 September 1912, SDI diubah menjadi SI (Sarekat Islam). Pada tanggal 29 Maret 1913, para pemimpin SI mengadakan pertemuan dengan Gubernur Jenderal Idenburg untuk memperjuangkan SI berbadan hukum. Jawaban dari Idenburg pada tanggal 29 Maret 1913, yaitu SI di bawah pimpinan H.O.S. Cokroaminoto tidak diberi badan hukum. Ironisnya yang mendapat pengakuan pemerintah kolonial Belanda (Gubernur Jenderal Idenburg) justru cabang-cabang SI yang yang ada di daerah. Ini suatu taktik pemerintah kolonial Belanda dalam memcah belah persatuan SI. Bayang pemecahan muncul dari pandangan yang berbeda antara H.O.S. Cokroaminoto dengan Semaun mengenai kapitalisme. Menurut Semaun yang memiliki pandangan sosialis, bergandeng dengan kapitalis adalah haram. Dalam kongres SI yang dilaksanakan pada tahun 1921, ditetapkan adanya disiplin partai rangkap anggota. Setiap anggota SI tidak boleh merangkap sebagai anggota lain terutama yang beraliran komunis. Akhirnya SI pecah menjadi dua. Latar belakang dibentuknya perkumpulan ini adalah reaksi terhadap monopoli penjualan bahan baku oleh pedagang China yang dirasakan sangat merugikan pedagang Islam. Namun, para pendiri Sarekat Islam mendirikan organisasi itu bukan hanya untuk mengadakan perlawanan terhadap orang-orang Cina namun untuk membuat front melawan penghinaan terhadap rakyat bumi putera.Juga merupakan reaksi terhadap rencana krestenings politik (politik pengkristenan) dari kaum Zending,perlawanan terhadap kecurangan-kecurangan dan penindasan-penindasan dari pihak ambtenar bumi putera dan Eropa.Pokok utama perlawanan Sarekat Islam ditujukan terhadap setiap bentuk penindasan.[1]

Pemerintah Hindia Belanda merasa khawatir terhadap perkembangan SI yang begitu pesat karena mengandung unsur-unsur revolusioner.SI dianggap membahayakan kedudukan pemerintah Hindia Belanda, karena mampu memobilisasikan massa.Sehingga puhak Hindia Belanda mengirimkan salah seorang penasihatnya kepada organisasi tersebut.Gubernur Jenderal Idenburg meminta nasihat dari para residen untuk menetapkan kebijakan politiknya.Hasil sementaranya SI tidak boleh berupa organisasi besar dan hanya diperbolehkan berdiri secara lokal. Penulis D.M.G.Koch mengemukakan adanya aliran didalam tubuh SI yang bersifat islam fanatik yaitu golongan yang bersifat menentang keras dan yang lainnya yaitu golongan yang hendak berusaha untuk maju secara bertahap hanya mengandalkan bantuan pemerintah.Sedangkan menurut Suwardi Suryaningrat(Ki Hajar Dewantara) ia mencatat bahwa sehubungan dengan jalan diplomatis yang ditempuh oleh organisasi itu,maka lambat laun unsur memberontak menjadi berkurang.Namun,apabila terdapat perlakuan tidak adil kepada rakyat Indonesia begitu jelas,maka sifat kerohanian SI tetap demokratis dan militan(sangat siap berjuang untuk melakukan perlawanan).Beberapa aspek perjuangan terkumpul menjadi satu dalam tubuh SI sehingga ada yang menamakan SI itu adalah "gerakan nasionalistis-demokratis-ekonomis".Pada kongres Sarekat Islam di Yogayakarta pada tahun 1914, HOS Tjokroaminoto terpilih sebagai Ketua Sarekat Islam. Ia berusaha tetap mempertahankan keutuhan dengan mengatakan bahwa kecenderungan untuk memisahkan diri dari Central Sarekat Islam harus dikutuk dan persatuan harus dijaga karena Islam sebagai unsur penyatu. Pada tahun 1914 juga berdiri organisasi berpaham sosialis yang didirikan oleh Sneevlit, yaitu ISDV (Indische Social Democratische Vereeniging). Namun organisasi yang didirikan orang Belanda di Indonesia ini tidak mendapat simpati rakyat, oleh karena itu diadakan "Gerakan Penyusupan" ke dalam tubuh Serikat Islam yang akhirnya berhasil mempengaruhi tokoh-tokoh Serikat Islam muda seperti Semaun, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin. Politik Kanalisasi Idenburg cukup berhasil, karena Sarekat Islam baru diberi pengakuan badan hukum pada bulan Maret 1916 dan keputusan ini diambil ketika ia akan mengakhiri masa jabatannya.Sementara itu,Idenburg digantikan oleh Gubernur Jenderal van Limburg Stirum (1916-1921).Jenderal Van Limburg baru bersikap agak simpatik terhadap Sarekat Islam. Namun sebelum Kongres Sarekat Islam Kedua tahun 1917 yang diadakan di Jakarta .Muncul aliran revolusioner sosialistis(bercorak demokratis) yang selalu siap berjuang dipimpin oleh Semaun dan Darsono yang merupakan pelopor penggunaan senjata dalam berjuang melawan imperialisme yaitu teori perjuangan Marx. Pada saat itu Semaun menduduki jabatan ketua pada SI lokal Semarang.Timbulah pertentangan antara pendukung paham Islam dan paham Marx sehingga terjadilah perdebatan antara H.Agus Salim-Abdul Muis dengan pihak Semaun.Dalam Kongres itu diputuskan pula tentang keikutsertaan partai dalam Voklsraad(Dewan Rakyat).Dengan HOS Tjokroaminoto (anggota yang diangkat) dan Abdul Muis (anggota yang dipilih) mewakili Sarekat Islam dalam Volksraad tersebut. [2]

Pada Kongres Sarekat Islam ke tujuh Tahun 1921 di Madiun SI mengubah namanya menjadi PSI (Partai Sarekat Islam). Tahun 1921,Sarekat Islam pecah menjadi dua ketika cabang SI yang mendapat pengaruh komunis yaitu golongan kiri(paham Marx)dapat disingkirkan,lalu menamakan dirinya bernaung dalam Sarekat Rakyat(SR) atau Sarekat Islam Merah  yang merupakan organisasi dibawah naungan Partai Komunis Indonesia(PKI) dipimpin oleh Semaun  sedangkan Sarekat Islam Putih dipimpin oleh Cokroaminoto dengan anggotanya yaitu SI awal .Sejak itu, SI dan SR berusaha untuk mencari dukungan dari massa dan keduanya cukup berhasil. Kongres Partai Sarekat Islam tahun 1927 menegaskan struktur partai yang kuat bahwa tujuan perjuangan adalah mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan agama Islam. Karena tujuannya adalah untuk mencapai kemerdekaan nasional maka Partai Sarekat Islam menggabungkan diri dengan Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Kemunduran PSII. Bulan Juli dan Agustus 1930 hubungan PSII dengan golongan nasionalis non agama memburuk dikarenakan terdapat serangkaian tulisan di surat kabar Soeara Oemoem yang ditulis oleh banyak anggota PPPKI.Tulisan-tulisan tersebut ditafsirkan sebagai penghinaan terhadap keyakinan PSII.Hal tersebut menyebabkan tanggal 28 Desember 1929(tidak menunggu kongres) PSII mengumumkan keluar dari PPPKI.Alasannya yaitu karena Pasal 1 Anggaran Dasar PPPKI berlawanan dengan anggaran dasar PSII yang memperbolehkan keanggotaan bagi semua orang islam apa pun kebangsaannya.Juga alasan lainnya karena kelompok studi umum di Surabaya kurang menghormati agama Islam;perkumpulan-perkumpulan lain anggota PPPKI selalu bertengkar karena perkumpulan-perkumpulan itu menentang poligami sehingga PSII pecah menjadi beberapa partai kecil dan PSII selanjutnya menjalin hubungan yang lebih erat dengan organisasi islam lainnya. Perselisihan antara anggota pengurus besar partai yairu Cokroaminoto dan H.Agus Salim dengan dr.Sukiman Wiryosanjoyo dan Suryopranoto mengakibatkan perpecahan dalam tubuh PSII.Maka tahun 1933 Dr.Sukiman Wiryosanjoyo dan Suryopranoto dipecat dari PSII.Pertengahan bulan Mei 1933 berdiri partai baru di Yogyakarta bernama Partai Islam Indonesia(Parii). Partai ini bertujuan ke arah harmonis dari nusa bangsa atas dasar agama islam dan pada waktu itu Parii dipimpin oleh dr.Sukiman namun partai ini berumur pendek.Tahun 1935 Cokroaminoto meninggal dunia,dan muncul suara-suara bahwa Parii mau bergabung lagi dengan PSII.Namun,untuk bergabung kembali masih ada halangan karena H.Agus Salim menjadi ketua PSII menggantikan Cokroaminoto. Perselisihan dalam partai terus bertambah.H.Agus Salim menghendaki agar PSII bekerjasama dengan pemerintah yang sebelumnya PSII bersikap nonkooperasi yang menyebabkan PSII dibatasi geraknya.Sehingga tanggal 7 Maret 1935 H.Agus Salim mengusulkan agar PSII membuang sikap nonkooperasi. Hal tersebut mengakibatkan perpecahan dalam pimpinan.  H.Agus Salim terpilih kembali sebagai Ketua Dewan Partai.Lawan-lawannya yaitu Abikusno Cokrosuyoso dan S.M.Kartosuwiryo. Pada kongres tahun 1936(8-12 Juli)Abikusno terpilih sebagai formatur,akibatnya pengurus terdiri atas orang-orang yang anti kepada H.Agus Salim.Sehingga membuat H.Agus Salim memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai Ketua Dewan Partai.Namun,dia tetap berjanji untuk menyumbangkan segenap teganya untuk tetap bekerja demi kepentingan umat Islam Indonesia. [3]

Untuk melanjutkan cita-citanya itu,tanggal 28 November 1936 di Jakarta dibentuklah golongan yang pro kepada H.Agus Salim yaitu suatu komite oposisi(sebuah komite yang mau bekerjasama dengan pemerintahan kolonial).Komite itu bernama Barisan Penyadar PSII yang dipimpin oleh Muhammad Rum.Tujuannya adalah ingin menyadarkan PSII bahwa zaman ini sudah berubah.Komite itu dengan tegas membantah sikap nonkooperasi PSII dan mereka sendiri menempuh politik kooperasi.Pada tanggal 13 Februari PSII memecat kaum oposisi dengan alasan bahwa tindakan mereka bertentangan dengan hukum dan sumpah partai yang membuat 29 tokoh terkemuka PSII dipecat termasuklah H.Agus Salim. Namun perdamaian dengan golongan ini(dr.Sukiman)tidak berlangsung lama.Setelah kongres di Suabaya mereka keluar dari PSII karena tetap tidak setuju dengan politik PSII.Mereka bersedia kembali jikalau PSII: (a)jika PSII mau melepaskan asas hijrah,asas itu tidak boleh dijadikan asas perjuangan melainkan hanya taktik perjuangan; (b) semata mata hanya mengerjakan aksi politik sedang pekerjaan sosial ekonomi harus diserahkan kepada perkumpulan lain; (c) secepatnya mencabut disiplin partai terhadap Muhammadiyah.Namun,PSII menolak permintaan itu.karena penolakan itu maka tanggal 6 Desember 1938 di Solo didirikanlah partai baru bernama Partai Islam Indonesia(PII)  yang diketuai R.M.Wiwoho dengan anggota gabungan dari Parii,Muhammadiyah dan Jong Islamitien Bond(JIB. Selanjutnya,Kartosuwiryo yang membuat pengurus PSII Marah.Ia telah menulis brosur yang terdiri dari dua jilid tentang hijrah tanpa membicarakannya lebih dulu dengan Abikusno.Kartosuwiryo dan beberapa temannya temannya telah menyatakan bantahannya dengan cara yang dipandang tidak baik atas tindakan PSII menggabungkan diri dalam Gapi.Kartosuwiryo menolak menghentikan penerbitan tulisan itu dan ia mendapat dukungan dari beberapa cabang PSII di Jawa Tengah,sehingga Kartosuwiryo dan 8 cabang PSII di Jawa Tengah dipecat dari partai tahun 1939. Pada kongres PSII di Palembang tahun1940 diputuskan menyetujui pemecatan atas S.M.Kartosuwiryo .Setelah dipecat,permulaan tahun 1940 Kartosuwiryo mendirikan Komite Pertahanan Kebenaran PSII yang mana tanggal 24 Maret 1940 mengadakan rapat umum di Malangbong,Garut.Dalam rapat itu,diterangkan bahwa akan dijalankan "politik hijrah" juga disiarkan keputusan untuk mengadakan suatu "suffah" yaitu suatu badan yang mendidik menjadi pemimpin-pemimpin yang ahli. Sehingga berdirilah PSII kedua,dalam hal ini bendera dan nama PSII dipakai dengan menggunakan asas dan anggaran dasar yang sama.Dalam kelompok ini sudah nampak cita-cita teokratis islam yang nantinya akan menjadi dasar perjuangan Darul Islam Kartosuwiryo. Namun,kesempatan untuk berkembang lenih lanjut lagi terhambat karena keadaan perang.Maka tanggal 10 Mei 1940 karena keadaan darurat habislah riwayat kedua partai tersebut dibidang politik.[4]

Pada perkembangan selanjutnya tumbuhlah cabang-cabang SI di berbagai daerah, seperti SI Semarang, SI Yogyakarta, SI Surakarta serta SI Surabaya dan tidak lupa dibentuk pula semacam SI pusat atau CSI dengan struktur modern. Salah satu faktor berkembangnya SI secara pesat dengan memiliki basis massa yang besar adalah karena diperbolehkannya kartu keanggotaan rangkap. Akibatnya, mayoritas anggota SI merupakan anggota dari organisasi lain, seperti ISDV, PKI, ataupun serikat-serikat kerja/buruh. Walaupun perkembangan SI sampai ke luar Jawa, namun tetap mempertahankan Jawa sebagai pusat kegiatannya. Pemerintah kolonial semakin tidak senang melihat kekuatan SI yang semakin besar dilihat dari jumlah massanya saat itu, melebihi massa dari organisasi-organisasi lainnya. Walaupun para pengikut Sarekat Islam begitu banyak, tetapi tidak semuanya mempunyai pengertian dan pemahaman atas tujuan dan kegiatan organisasi tersebut, sehingga terjadi berbagai penyimpangan yang mengatasnamakan organisasi Sarekat Islam. Di beberapa tempat yang menjadi cabang Sarekat Islam timbul berbagai gerakan anti-Cina, dikarenakan golongan Tionghoa dianggap sebagai penghalang usaha ekonomi pribumi. Daerah tersebut antara lain: Sala, Bangil, Tuban, Rembang, Cirebon, Tuban, Kudus (1918). Hal itu juga diperkuat karena adanya perbedaan agama. Di Batavia saat itu juga banyak terjadi bentrokan yang mengatasnamakan Sarekat Islam dengan para pengusaha pelacuran dan perjudian. Marco awalnya adalah seorang jurnalistik yang keras mengkritik pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Ia berkali-kali dikenakan pressdelict karena berita-berita yang dituliskannya. Sewaktu ditahan di penjara, Marco mendapatkan tekanan kuat dari pengurus SI, ia tidak mendapatkan dukungan penuh. Justru ia dibela oleh Sneevliet dan inilah awal mula Marco terjun dalan haluan sosialis di dalam SI. Marco yang sempat mundur dari pentas pergerakan dan lebih memilih melanjutkan serta fokus dalam kegiatan jurnalistiknya, akhirnya memutuskan untuk kembali ke Surakarta karena hidup baginya adalah "pergerakan dan pengorbanan". Kaum sosialis tersebut datang ke Indonesia, karena melihat bangsa ini memiliki potensi yang sangat besar untuk dapat melakukan gerakan-gerakan massa melawan pemerintah Hindia-Belanda.Hal ini dilatarbelakangi oleh perpecahan yang terjadi pada kaum sosialis Belanda yang melahirkan kubu revisionis dan kubu ortodoks revolusioner. Seperti yang dituliskan oleh Munasichin berikut:.Kubu revisionis tetap bertahan dan mengembangkan partai sosialis sebelum-nya Sociaal Democratische Arbeiders Partij (SDAP) yang lebih moderat. Se-dangkan kelompok ortodoks mendirikan partai baru yang kemudian dikenal dengan nama Sociaal Democratische Partij (SDP). SDP dikenal sebagai partai berhaluan Marxisme ortodoks, yang mengembangkan perjuangan revolusioner daripada perjuangan parlementer, seperti yang dilakukan oleh SDAP. Pada tahun 1914 Sneevliet dan kawan-kawan berhasil mendirikan organisasi ISDV yang kental dengan haluan Marxisme-nya. terutama yang mampu menggerakkan rakyat dalam melakukan perlawanan terhadap segala kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang menyengsarakan mereka. Hasil cetakan ISDV tersebut seperti Semaoen, Darsono dan Marco tak lain adalah anggota SI daerah.[5]


DAFTAR PUSTAKA

[1]Nugroho Notosusanto,Sejarah Nasional Indonesia untuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, 1992
[2]K. Pringgodigdo, S. H., Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, (Jakarta: Dian Rakyat_Anggota Ikapi, 1994).
[3]Sudirman.Adi.2014.Sejarah Lengkap Indonesia,Jogjakartadi:Divapress
[4]Abdul Khamil, Nationalism and Revolution in Indonesia, Cornell University Press, 1952.
[5]Suwarno.2011.Latar Belakang Dan Fase Awal Pertumbuhan Nasional.Puataka     Pelajar:Purwokerto 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar