Minggu, 14 Juni 2015

SEJARAH SINGKAT PENDIDKAN HINDU BUDHA DI INDONESIA


MASDI/SP

pendidikan pada hakikatnya untuk membangun peradaban bangsa melalui membangun manusia seutuhnya. Pendidikan merupakan hak setiap manusia untuk membangun harkat dan martabatnya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penyelenggaraan pendidikan, banyak faktor yang mempengaruhinya baik yang berasal dari eksternal maupun internal sistem pendidikan. Faktor-faktor yang di luar pendidikan yang seimbang antara kepentingan pemerintah dan rakyat. Selema perjalanan sejarah bangsa indonesia, aspek pendidikan merupakan satu hal yang tidak dapat di pisahkan dari kelangsungan hidup bangsa indonesia itu
sendiri. Munculnya mjapahit dan sriwijaya sebagai kerajaan nusantara pada masanya dengan berbagai karya agung yang masih dapat kita temukan hingga saat ini hingga merdekanya bangsa ini tidak lepas dari pengaruh pendidikan pada masa itu. Di samping itu, pendidikan di indonesia banyak mengalami perubahan dari waktu ke waktu, dari yang semula di peruntukkan untuk kalangan agamawan dan bangsawan, hingga pendidikan yang merata untuk semua kalangan. Sebelum masuknya pengaruh hindu budha, kebudayaan indonesia asli pada kira-kira 1500 SM di sebut kebudayaan neolitis (neo=baru), yang sisa-sisa nya dapat kita jumpai di pedalaman kalimantan dan sulawesi (A. Ahmadi, 1987:10). Ciri-ciri dari kebudayaan neolitis adalah bahwa kebudayaan tersebut adalah kebudayaan maritim (ada hubungan dengan laut).
Kepercayaan yang di anut pada saat itu adalah animisme dan dinamisme. Animisme adalah kepercayaan sakti roh nenek moyang. Roh ini sangat di puja karena orang beranggapan bahwa nenek moyanglah yang mewariskan dan melindungi adat. Mereka percaya bahwa kesejahteraan masyarakat bergantung pada penuaian kewajiban orang seorang, ykni adat. Dinamisme artinya mempercayai adanya kekuatan ghaib (mana) pada setiap benda, baik pada benda hidup maupun pada benda mati. Masyarakat pada saat itu bersifat gotong royong, akrab, dan statis, karena di dalamnya belum terdapat perbedaan-perbedaan kelas. Orang-orang tinggal dalam masyarakat-masyarakat kecil dan di pimpin oleh ketua adat yang bertugas memimpin upacara-upacara keagamaan. Setelah masuknya hindu budha ketua adt ini kelak di jadikan raja. Pengetahuan tentang tubuh manusia adalah pengetahuan yang luas tentang ciri-ciri tubuh manusia, letak dan susunan urat-urat, dan sebagainya. Hal ini terwujud dalam kemampuan pengobatan tradisional yang seringkali menggunakan ilmu ghaib. Dengan sistem pengetahuan yang di miliki seperti tersebut di atas, pada waktu itu pendidikan pada lingkungan keluarga sudah mencukupi kebutuhan, karena masyarakat serba bersahaja, yang menjadi pendidik adalah ayah dan ibu. Ayah mengajarkan pengetahuan yang dimiliki kepada anak laki-laki dan ibu terhadap anak perempuannya. Yang di anggap memiliki kecakapan pada masa itu adalah pandai besi dan dukun, mereka diberi gelar empu. Pandai besi adalah seseorang yang ahli dalam pengetahuan duniawi, sedangkan dukun adalah ahli dalam dalam pengetahuan maknawi. Para empu dapat juga di sebut sebagai guru, karena merekalah yang berperan sebagai guru.
Pengaruh hindu mulai masuk ke indonesia setelah terjadinya hubungan perdagangan antara orang-orang indonesia dengan pedagang hindu. Hubungan tersebut terjadi antara para pedagang india dengan ketua adat, golongan kaya yang mampu melakukan perdagangan karena mempunyai modal yang besar. Dari para pedagang inilah informasi tentang keadaan di india didapatkan. Gambaran pemerintahan yang di pimpin oleh seorang raja dengan dukungan dari kasta brahmana, raja menikmati segala kebahagiaan hidup dan mempunyai status istimewah. Kenikmatan yang tergambar dari cerita para pedagang india tersebut, serta keinginan untuk mencari hubungan diplomatik dengan luar negeri untuk memperlancar perdagangan, mendorong krtua adat untuk mendatangkan brahmana untuk mengatur negaranya, sehingga ketua adat dalam waktu yang singkat di nobatkan dan di sahkan menjadi raja yang berkuasa seperti dengan kedudukan raja di india.dalm keraton inilah mulai masuk kebudayaan hindu budha ke dalam masyarakat indonesia dan mempengaruhi kebudayaan kuno. Setelah masuknya pengaruh hindu, susunan masyarakat menjadi masyarakat feodal dan melahirkan, golongan kasta brahmanana dan ksatria, yaitu para raja dan pegawai-pegawainya dan golongan kasta waisya dan sudra, yaitu golongan rakyat biasa atau golongan yang menjamin golongan rakyat pertama. Raja dan pegawai-pegawainya mempunyai tingkatanb yang jauh lebih tinggi dari dari rakyat biasa serta menguasai daerah yang termasuk rakyatnya. Oleh brahmana, raja dinyatakan sebagai wakil dari syiwa, syiwa menjelma sebagai raja. Dalam paham hindu budha, manusia hidup dalam samsara atau peroindahan jiwa yang tak berkeputusan. Ia tidak dapat melepaskan dunia dari keduniawian.
Manusia tetap hidup di dunia ini, setelah mati dilahirkan kembali. Manusia berasal dari debu, kemudian melalui tingkat-tingkat: debu-tanaman-hewan-sudra-ksatria-waisya-brahmana-moksyah atau dapat bersatu dengan syiwa. Untuk mencapai moksa dapat dicapai dengan cara bertapa. Dalam kepercayaan budha, hidup itu merupakan penderitaan. Manusia harus mencari jawaban arti dan makna hidup yang lebih banyak mengandung duka dari pada suka. Untuk memecahkan itu dengan delapan usaha yaitu: kepercayaan, pertimbangan, perkataan, perbuatan, penghidupan, usaha, samadi, dan persatuan pikiran yang positif. Sehingga manusia berada dalam keadaan nirwan atau sepi dari kehendak. Dalam budha tidak ada pembagian kasta. Syiwaiasme dari hinduisme dan budhisme sebagai dua agama yang berbeda di indonesia dalam pertumbuhannya secara berdampingan nampak adanya kecendrungan, yaitu keyakinan untuk mempersatukan figur syiwa dan budha sebagai satu sumber yang maha tinggi. Perwujudan dari syncretisme tersebut terceermin dalam semboyan pada lambang negara kita, yaitu bhineka tunggal ika sebsebagai salah satu bait dari syair sotasoma karangan empu tantular dari jaman majapahit. Maknanya adalah syiwa dan budha adalah dewa-dewa yang diperbedakan atau binna tetapi dewa-dewa itu ika atau tunggal. Para brahmana menggantikan posisi empu di indonesia, mereka berperan sebagai guru. Brahmana menjadi manusia istimewah , para empu belajar kepada mereka. Selain itu empu-empu tersebut menjadi guru dan menggantikan kedudukan brahmana. Murid-murid dari guru keraton ini terdiri dari anak-anak raja dan bangsawan.
Sedangkan guru-guru bertapa sifatnya lebih kerakyatan. Pada prinsipnya mereka mendekati dan menjauhi keraton dengan sembunyi di hutan-hutan untuk menghindari perselisihan dengankaum bangsawan. Tujuannya adalah mengangkat derajat rakyat jelata. Untuk ke depannya peran para guru petapa ini sangat penting dalam penyebaran agama islam. Empu dan guru di anggap sebagai orang yang sakti. Sistim pendidikan yang di jalankan di sesuaikan dengan cara di india yaitu sistim guru kula atau asrama. Murid-murid tinggal serumah dengan guru, istri guru di anggap sebagai ibu. Di sini murid juga wajib melayani gurunya, karena guru di anggap sebagai orang yang sakti dan selamanya di hormati. Sebagai guru tidak mempunyai penghasilan yang tetap, hanya sewaktu-waktu menerima suka rela dari pada orang tua wali murid. Kerajaan-kerajaan besar seperti sriwijaya, tarumanegara, matarm lama dan sebagainya mendasarkan pendidikannya pada agama budha, dengan tujuan tiap-tiap orang yang beragama budha supaya menjadi manusia yang sempurna dan dapat masuk nirwan. Dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi dipegang oleh kaum brahmana. Adapun kurikulum yang di ajarkan adalah isi buku dari agama budha. Sedangkan guru yang terkenal pada saat itu adalah darmapalah. Metode yang di terapkan adalah murid-murid menghafalkan dan di beri buku pembelajaran untuk di hafalkan sampai benar-benar menguasai. Kepada mereka di ajarkan ilmu pengetahuan yang bersifat umum dan religius. Sifat pengajaran dan pendidikan tidak di laksanakan secara formal, sehingga setiap murid di mungkinkan untuk pindah dari guru yang satu ke guru yang lainnya dalam meningkatkan pengetahuan dan memperdalam ilmu yang telah di milikinya. Para bangsawan, ksatria, serta para pejabat kerajaan lainnya bisa mengirimkan anank-anaknya kepada para guru untuk di didik atau para guru yang di minta datang ke istana untuk mengajar anak-anak mereka. Pendidikan yang diutamakan adalah pendidikan keagamaan, pememrintahan, strategi perang serta ilmu kekebalan dan kemahiran menunggang kuda dan memainkan senjata tajam. Pada abad terakhir menjelang jatuhnya kerajaan hindu di indonesia, sitem pendidikan tidak lagi dijalankan secara besar-besaran seperti sebelumnya, tetapi dilakukan oleh para guru kepada para siswa dalam jumlah terbatas dalam padepokan atau asrama. Dengan demikian usia pendidikan hampir di pastikan sama tuanya dengan manusia itu sendiri. Perjalanan sepanjang perkembangan pendidikan di indonesia dapat di telusuri sejak saman hindu dan budha pada abad ke-5 masehi. Dari perkembangan sejak zaman itu telah diperoleh gambaran bahwa pendidikan telah berlangsung sesuai dengan tuntutan zaman yang berbeda-beda dengan penyesuaian dengan ideologi, tujuan serta sistem pelaksanaannya. Kriteria zaman hindu dan budha, perkembangan pendidikan di sesuaikan dengan pusat pertumbuhan masyarakat hindu dan budha yang berkembang bersama kerajaan besar yang ada di pulau jawa dan sumatera. Kemudian kedua agama yaitu hindu dan budha tersebut berkembang ke berbagai negara di asia timur dan asia tenggara termasuk ke indonesia yang akhirnya mempengaruhi kebudayaan indonesia begitu juga pendidikan yang di ajarkan hindu dan budha.
Hindu budha di indonesia akrab di awali dari kemunculan beberapa kerajaan di abad ke-5 masehi, antara lain yaitu; kerajaan hindu dan kutai dengan rajanya mulawarman, putra aswawarman atau cucu kudungga. Di jawa barat muncul kerajaan hindu tarumanegara dengan rajanya purnawarman. Pada saat itu, eksistensi pulau jawa telah di sebut ptolomeus (pengembara asal alexandria-yunani) dalam catatannya dengan sebutan yabadiou dan demikian pula dalam epik ramayana eksistensinya dinyatakan dengan sebutan yamadwipa. Pada masa itu pendidikan terkait dengan agama. Agama hindu di sebarkan oleh bangsa arya atau bangsa pendatang setelah masuk melalui celah yang memisahkan antara eropa dan asia. Dan pada saat itu bangsa arya merasa sangat nyaman untuk tinggal di india karena india adalah termasuk daerah yang sangat subur sehingga bangsa srya mengalahkan bangsa arya atau bangsa dravida. Perbedaan bangsa arya dengan bangsa dravida terdapat pada bagian fisiknya, yaitu bangsa arya berkulit putih sedangkan bangsa dravida berkulit hitam. Hindu mengenal pembagian masyarakat atas kasta-kasta tertentu, yaitu brahmana, ksatria, waisya,dan sudra. Pembagian tersebut di dasrkan pada tugas atau pekerjaan mereka. Brahmana bertugas mengurus soal kehidupan keagamaan, yang terdiri dari para pendeta. Ksatria berkewajiban menjalankan pemerintahan termasuk ketahanan negara, terdiri dari raja dan keluarganya, para bangsawan danprajurit. Waisya bertugas berdagang, bertani, dan berternak terdiri dari para pedagang. Sudra bertugas sebagai petani atau peternak, para pekerja atau buruh dan budak, merupakan para pekerja besar. Agama budha adalah sebuah agama dan filsafat yang berasal dari anak benua india dan meliputi beragam tradisi kepercayaan, dan praktik sebahagian besar berdasarkan pada ajaran yang di kaitkan dengan siddarta gutama, yang di kenal secara umum sebagai sang budha atau berarti yang telah sadar dalam bahasa sangskerta dan pali. Setiap aliran budha berpegang pada triptaka sebagai rujukan utama karena di dalamnya tercatat sabda dan ajaran budha guatama. Pengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan ajaran dalam tiga buku yaitu sutta pitaka, vinaya pitaka, dan abidhama pitaka. Agama budha tumbuh di india tepatnya di bagian timur laut. Agama budha muncul sebagai dominasi golongan brahma atas ajaran dan ritual keagamaan dalam masyarakat india.
Sriwijaya menjadi kerajaan besar adalah karena kehidupan sosial masyarakatnya meningkat dengan pesat terutama dalam bidang pendidikan dan hasilnya terbukti sriwijaya menjadi pusat pendidikan dan penyebaran agama budha di asia tenggara. Hal ini sesuai dengan berita i-tsing pada abad ke-8 bahwa sriwijaya terdapat 1000 pendeta yang belajar agama budha di bawa bimbingan pendeta budha terkenal yaitu sakyakirti. Disamping itu juga pemuda-pemuda sriwijaya juga mempelajari agama budha dan agama lainnya di india, hal ini tertera dalam prasati nalanda. Kemajuan di bidang pendidikan yang berhasil dikembangkan sriwijaya bukanlah suatu hasil perkembangan dalam waktu yang singkat tetapi sejak awal pendirian sriwijaya, raja sriwijaya selalu tampil sebagai pelindung agama dan menganut agama yang taat. Sebagai raja yang taat maka raja sriwijaya juga memperhatikan kelestarian lingkungannya (seperti yang tertera dalam prasati talang tuo) dengan tujuan untuk meningkatkan kemakmuran rakyatnya. Dengan demikian kehidupan sosial ekonomi masyarakat sriwijaya sangat baik dan makmur, dalam hal ini tentunya juga diikuti oleh kemajuan dalam bidang kebudayaan. Kemajuan dalam bidang budaya bsampai sekarang dapat diketahui dalam peninggalan-peninggalan suci seperti stupa, candi atau patung arca budha seperti ditemukan di jambi, muara takus, dan gunung tua (padang lawas) serta di bukit siguntung (palembang). Kerajaan holing atau (chopo) kerajaan ini ibubkotanya bernama chopo (nama china), menurut bukti-bukti china pada abad ke-5M. Mengenai kerajaan holing secara pastinya belum dapat dipastikan. Ada beberapa argumen yang menyebutkan letak kerajaan ini, ada yang menyebutkan bahwa ini terletak di semenanjung malay, di jawa barat dan di jawa tengah. Tetapi letak yang paling mingkin ada di daerah pekalongan dan plawangan di jawa tengah. Hal ini berdasarkan catatan perjalanan dari china. Kerajaan holing adalah kerajaan yang terpengaruh oleh agama budha. Sehingga holing menjadi pusat pendidikan agama budha. Holing sendiri memiliki pendeta yang terkenal yang bernama janabadra. Sebagai pusat pendidikan budha menyebabkan seorang pendeta dari china menuntut ilmu di holing. Pendeta itu bernama Hou ei- ning ke holing, ia ke holing untuk menerjemahkan kitab hinayana dari bahasa sangskerta ke bahasa china pada 664-665. Dengan bertambahnya populasi penduduk dan meningkatnya  standar pendidikan yang di pegang oleh kaum brahmana, secara berlahan muncullah sistem birokrasi, yang tersusun atas: hierarki keabadian kerajaan, bangsawan dan tuan tanah, di masa kerajaan hindu budha. Masuknya kebudayaan india ke indonesia telah membawah pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan di indonesia. Kebudayaan yang datang dari india telah mengalami proses penyesuaian dengan kebudayaan asli indonesia. Terjadilah proses akulturasi. Pengaruh kebudayaan hindu budha di indonesia dapat di lihat dari peningalan-peninggalan sejarah dalam berbagai bidang, antara lain yaitu:
ü  Bidang agama, dibuktikan dengan berkembangnya agama hindu dan budha di indonesia.
ü  Bidang politik dan pemerintahan, sistem pemerintahan yang berlaku di indonesia masih masih berupa pemerintahan kesukuan yang di pimpin oleh seorang kepala suku. Kemudian masuknya pengaruh india membawa pengaruh pada terbentuknya kerajaan yang bercorak hindu budha di indonesia.
ü  Bidang pendidikan, lembaga-lembaga pendidikan semacam asrama merupakan buktii dan pengaruh dari kebudayaan hindu-budha lembaga tersebut mempelajari satu bidang saja, yaitu keagamaan.
ü  Bidang sastra dan bahasa, pengaruh hindu budha pada bidang sastra menggunakan bahasa sankskerta dan huruf pallawa oleh masyarakat india.
ü  Bidang seni tari, relief-relief yang terdapat pada candi borobudur dan prambanan menunjukkan adanya bentuk tarian yang berkembang pada saat itu.
ü  Hiasan pada candi atau sering di sebut relief yang terdapat pada candi-candi di indonesia.
ü  Wujud akulturasi pemujaan arwah leluhur dengan ajaran hindu budha yang dapat di lihat dari bentuk arca dan patung yang di tempatkan pada dinding-dinding candi.
Pendapat mengenai proses masuk dan berkembangnya kebudayaan hindu budha di indonesia, yaitu hipotesis brahmana dan teori arus balik. Masuk dan berkembangnya agama dan kebudayaan hindu-budha membawa pengaruh besar di berbagai bidang. Kerajaan-kerajaan yang bercorak hindu-budha di indonesia. Setiap kerajaan di pimpin oleh seorang raja yang memiliki kekuasaan mutlak dan turun temurun. Kerajaan itu adalah: kerajaan kutai, kerajaan tarumanegara, kerajaan sriwijaya, mataram kuno, kerajaan singasari, kerajaan majapahit. Masuknya kebudayaan india ke indonesia telah membawa pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan di indonesia. Namun kebudayaan indonesia tidak begitu luntur. Kebudayaan yang datang dari india mengalami proses penyesuaian dengan kebudayaan, maka terjadilah proses akulturasi kebudayaan.

Daftar pustaka
-           Rifa'i, muhammad. 2011. Sejara Pendidikan Nasional dari Masa Klasik hingga Modern. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
-           Verhaak, 1987. Sejarah Perkembangan Iman dari Awal Sampai Dengan Masa Kini dan Sejarah Perkembangan Iman di Indonesia. Yogyakarta. Sekolah Tinggi Filsafat.
-           Iwan Setiawan dkk, wawasan sosial, Jakarta: Pusat Perbukuan Dapertemen Pendidikan Nasional Indonesia, 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar