Kamis, 11 Juni 2015

SEJARAH KEBUDAYAAN BANGSA AZTEC DI MEKSIKO


Ayu Andriyani / S / Pe-B

Aztec merupakan satu dari beberapa kebudayaan yang disebut secara umum sebagai "nahuan" mengikuti bahasa mereka.Ketika kaum astec sampai ke lembah anahuac,mereka dianggap oleh nahuas lain sebagai yang paling tidak berperadaban,jadi mereka memutuskan belajar dan mengambil dari kaum-kaum lain.Mereka banyak belajar dari toltec tua (yang sering dikelirukan dengan kebudayaan teotihuacan yang lebih tua).

Pada abad ke -13, ketika orang - orang aztec datang masuk ke meksiko bagian tengah, kota teotihuacan yang dulunya padat ini (kira - kira puncak kejayaansekitar 400M ) telah sepi ditinggalkan para pembangunnya yang misterius.Bahkan orang - orang suku aztec yang ganas pun sangat terpukau saat pertama kali melihat bangunan piramida - piramida kematian ini.Pusat upacaranya yang megah, dimana puluhan ribu masyarakatnya berkumpul di tengah - tengah monumen batu keramat, terbenam dibawah rimbunnya perpohonan.Orang- orang aztec menamai situs perbakala ini dan mengindentifikasi monumen - monumen paling agung dan megah sesuai dengan kepercayaan sendiri, yaitu piramida matahari dan piramida bulan.Karena berasumsi bahwa beberapa bangunan ini adalah makam, mereka menyebut jalan raya utamanya "Street of the dead".
Kerajaan Aztec berdiri sekitar tahun 1298 M dan mencapai puncak kerjayaan pada tahun 1450 M. kerajaan Aztec mengalami kehancuran setelah datangnya bangsa spayol, dengan raja terkahir Monte Zuma II. Pusat kerjaan Aztec berada di daerah semenanjung Yukatan.
A.    Kebudayaan Suku Aztec 
Suku bangsa Nahua, yang terakhir tiba di tanah tinggi Meksiko, mewarisi rumpun budaya yang luas di daerah tersebut. Salah satu diantara suku itu adalah Mexica-Aztec atau Aztec. Pada mulanya bangsa Aztec merupakan suku yang pertama kali berjuang di daerah pinggiran wilayah tersebut. Selama pengembaraan mereka sebagai kelompok luar-garis, bangsa Aztec kadang-kadang mengalami kemerosotan sampai berpakaian dedaunan dan makan serangga. Pada sekitar tahun 1325 Masehi bangsa Aztec sampai ditempat yang sekarang menjadi kota Meksiko. Waktu itu tempat tersebut merupakan gususan danau paya dan pulau kecil.
Di sebuah pulau di danau Tecoco, bangsa Aztec memperoleh semacam wangsit karena telah meihat seekor elang dengan seekor ular dimulutnya, yang sedang bertengger pada pada sebatang kaktus. Karena menganggap hal tersebut sbeagi pertanda gaib, para pendeta mengikrarkan bahwa pulau tersebut telah dipilih untuk bangsa Aztec oleh dewa-dewa mereka. Distulah mereka membangun kota Tenochtitlan. Mereka memperluas kota tersebut dengan membuat rakit-rakit yang terbuat dari anyaman ranting dan rotan yang uruk tanah dan tanaman. Di daerah danau ini mereka mengembangkan pertanian yang bersifat primitif. Kota Tenocthitlan yang didirikan oleh bangsa Aztec kemudian berkembang menjadi pusat kegiatan ritual. Bangunan pemujaan berbentuk piramid banyak didirikan.
Bangsa Aztec adalah bangsa yang gemar berperang, bagi mereka perang merupakan bagian dari budaya sendiri dan bagian dari sistem kepercayaan. Bangsa Aztec menyembah banyak dewa atau politheisme. Mereka menyembah dewa matahari yaitu Huitzilochti. Mereka mempercayai bahwa matahari adalah sumber kehidupan dan harus terus dipelihara, agar terus beredar pada orbitnya dan berputar terbit dan tenggelam. Untuk itu diperlukan pelumas yang murni yaitu darah manusia. Mereka meyakini bahwa pengorbanan manusia merupakan tugas suci dan wajib dilakukan agar dewa matahari tetap memberikan kemakmuran bagi manusia. Upacara pengorbanan dilakukan diatas altar dipuncak piramid dengan cara mengambil jantung korban untuk pendeta. Upacara pengorbanan manusia juga dilakukan secara masal dengan cara membunuh banyak orang.
Ada tiga hipotesis yang dilakukan oleh para Antropolog mengenai alasan pengorbanan manusia disamping alasan untuk pengorbanan dewa, yaitu :
1.      Pengorbanan dilakukan untuk mengurangi jumlah penduduk, terutama sejak jumlah tawanan perang meningkat dengan pesat dibandingkan dengan jumlah kelahiran.
2.      Untuk memberikan kepada rakyat mayat-mayat yang dikorbankan sebagai sumber protein dan vitamin. Hipotesis ini snagat lemah, karena bangsa Aztec menghasilkan jagung, kacang, serta memlihara anjing, ayam dan kalkun.
3.      Pendapat yang lebih rasional adalah untuk menakut-nakuti para pembangkang dan pemberontak, agar mereka tidak melakukan perlawanan terhadap penguasa raja. Para tawanan perang banyak dijadikan korban dan jumlah besar untuk dewa matahari, orang-orang yang berslah juga yang bersalah juga jadi sasaran untuk jadi korban seperti jenderal yang salah dalam memimpin perang, para koruptor, hakim yang keliru membuat keputusan, serta pejabat negara yang berbuat salah, termasuk orang yang memasuki daerah terlarang istana raja.
Dalam buku Negara dan Bangsa (1990:208), disebutkan bahwa Huzlopochtli, khususnya, demikian rakus sehingga pada upacara istimewa ribuan manusia dikorbankan sebagai sesaji untuknya dalam waktu satu hari saja. Monte Zuma II pernah mengorbankan 5100 orang korban dalam satu upacara peringatan tahtanya. Pada waktu Ahuitzolt yang berkuasa pada abad ke-15, paling tidak 20.000 jiwa manusia dijadikan korban dalam upacara. Calon korban digiring ke puncak piramid tempat pendeta saling berebut bagian mereka masing-masing dan memotong jantung si korban dengan pisau batu gelas, lalu memprsembahkannya hangat-hangat dan masih berlumur darah ke batu altar sang dewa. Untuk sesaji yang sedemikian massalnya itu, bangsa Aztec tidak dapat mengandalkan sukarelawan dan oleh sebab itu mereka sering mengirim rombongan pejuang ke wilayah sekutunya untuk menangkapi calon-calon korban.
Pada puncak kejayaan kekuasaan Aztec, Tenochittlan merupakan pusat upacara berdarah yang semakin menjadi-menjadi. Berbagai jamuan sakramental dan ritus-ritus lainnya, menciptakan suatu kehidupan yang dibayang-bayangi oleh lambang kematian. Bagi bangsa Aztec, darah manusia merupakan bagian upacara untuk mencegah kehancuran dunia, yang menurut mereka ditandai oleh lenyapnya matahari. Upacara kurban bagi bangsa Aztec bukanlah hal yang mengerikan, begitu pula bagi calon korban.
Menurut kepercayaan bangsa Aztec, kematian ditangan para pendeta merupakan suatu kehormatan. Korban itu dipersembahkan kepada dewa-dewa dengan cara membelah dada dan mengambil hatinya, agar tidak marah dan lapar dan mendatangkan bencana alam. Kepercayaan ini mempengaruhi pendangan orang Aztec. Sejak masa kanak-kanak mereka telah dilatih untuk siap dijadikan kurban ritual bila mereka tertewan dalam peperangan. Mati sebagai kurban upacara bagi mereka berarti ikut menyumbangkan hati dan darah untuk dipersembahkan kepada dewa matahari, dan dengan demikian ikut memperkuat matahari dalam peperangan sehari-hari melawan gelap (malam) sehingga mereka menjadi bagian penting dari matahari.
Bangsa Aztec memiliki seni bangun atau arsitektur yang amat tinggi. Ketika bangsa Spanyol datang ke kota Tenocl (Mexico City) mereka menyaksikan kemajuan bangsa ini. Di sini terdapat bangunan-bangunan seperti aquadec atau bangunan lain, tempat jalan raya menuju kota, jalan-jalan lebar, serta kanal yang melewati kota serta jembatan diatasnya. Bangunan-bangunan tersebut menggunakan teknologi tinggi menurut jamannya. Di pusat kota dibangun kuil-kuil besar sebagai persembahan kepada dewa matahari. Tinggi bangunan tersebut 30 meter, terdiri atas tiga tingkat, yang masing-masing tingkat memiliki 120 anak tangga. Di bangunnya jalan-jalan dan kanal-kanal yang lebar adalah untuk memudahkan lalu lintas orang dan barang dagangan. Dalam kegitan perdagangan tersebut mereka memperjualbelikan bebek, ayam, kalkun, kelinci, dan rusa.
Arsitektur bangsa Aztec tergolong sederhana, lebih mementingkan fungsi daripada keindahan lahiriah. Di pegunungan, rumah orang Aztec terbuat dari batu bata yang dijemur, mirip batako yang kita kenal di Indonesia. Di dataran rendah, rumah mereka berdinding ranting-ranting atau batang padi yang diplester dengan tanah liat dan beratapkan alang-alang. Sebagi tambahan pada tempat tinggal utama, umumnya mereka mempunyai bangunan lain seperti tempat penyimpanan dan tempat seluruh keluarga mandi uap. Orang Aztec yang kaya memiliki rumah dari batako atau batu yang dibangun mengelilingi suatu Patio, yaitu ruang luas yang terbuka di tengah rumah.
Kuil Aztec dan bangunan lain dengan dekorasi patung merupkan salah satu karya terindah di Amerika. Tetapi hanya sedikit peninggalan karya arsitektur Aztec yang masih dapat ditemukan. Orang Spanyol, yang beragama kristen, telah memusnahkan kuil-kuil dan segala peninggalan keagamaan orang Aztec. Mereka bahkan telah menghancurkan kota lama Tenochitlan.
Hasil pertanian yang diolah di ladang-ladang pertanian adalah alpukat, kacang merah dan jagung, mereka juga membuat kerajinan dari emas dan perak untuk perhiasan. Dari kegiatan dagang dan jenis barang dagangannya yang diperjualbelikan dan sarana penunjang yang dibangunnya para ahli menyimpulkan bahawa bangsa Aztec memiliki tingkat kebudayaan dan peradaban yang tinggi. Peradaban ini runtuh karena penaklukan oleh bangsa Spanyol di bawah pimpinan Hernando Cortez pada tahun 1521.
B.     Fakta - fakta tentang ritual suku aztec 
Saat melakukan ritual, pendeta aztec mengecat hitam tubuh mereka sebagai pengenal bahwa mereka adalah seorang pendeta.Setiap kali orang aztec menaklukan sebuat kota,mereka menambahkan semua dewa dari kota tersebut ke agama mereka. Itu sebab,agama aztec selalu mendapat tambahan dewa baru.Suku aztec menguburkan anggota keluarga mereka di dalam rumah ritual aneh aztec termasuk mendandani orang - orang khusus yang terpilih meniru dewa tertentu untuk kemudian dibunuh sebagai korban bagi dewa tersebut.Keyakinan ini diperdalam dengan kepercayaan bahwa tiga dewa utama suku aztec Huitzilopochtli, Quetzalcoatl, dan Teccatlipoca mengorbankan diri dan menawarkan jantung mereka kepada matahari.suku aztec percaya bahwa jika mereka tidak melakukan pengorbanan, matahari tidak akan terbit keesokan harinya.


C.    Fakta - fakta tentang pengorbanan manusia aztec
Suku aztec percaya bahwa orang - orang yang dikorbankan untuk para dewa, perempuan yang meniggal selama persalinan, dan orang - orang yang tewas dalam pertempuran akan menjadi sahabat matahari selama 5 tahun setela mereka dilahirkan kembali sebagai koibri atau kupu - kupu.Para pendeta harus memilih orang yang cocok untuk dikorbankan, setelah itu mereka akan makan daging dan minum sebagian darah orang yang dikorbankan.
Ritual pengorbanan dilakukan dengan urutan sebagai berikut : korban dipilih, dibawa ke altar dalam kuil atau piramida dimana pendeta dari suku aztec akan menyayat dada dan mengambil jantung saat korban masih hidup untuk kemudian jantung tersebut di bakar.setelah itu, mayat kemudian dilempar dari atas piramida.jika korban menunjukan keberanian, pendeta akan menunjukan rasa hormat dengan menggendong mayan menuruni piramida alih - alih melemparkannya.
Satu - satunya pengecualian aturan di atas adalah ketika pengorbanan dilakukan untuk huehueteotl - dewa makanan, kehangatan, dan kematian dimana korban pertama kali dilemparkan kedalam api dan ditarik keluar sebelum tewas untuk diambil jantungnya dan dibuang kedalam api.Suku aztec percaya bahwa tlaloc, dewa hujan senang mendapatkan pengorbanan anak - anak dilakukan pada musim semi.Dalam upacara yang unik, perawan dikorbankan untuk dewa Xochipili, yang dimana kaki mereka disilangkan sebelum akhirnya jantung dikeluarkan dari dada mereka.Pada ritual lain, seorang wanita yang mewakili Xochiquetzal dikorbankan.Setiap kali oran aztec kehabisan makanan, mereka akan makan daging dari mayat musuh mereka yang tewas dalam pertempuran.
D.    Kemunduran suku aztec 
Bangsa Aztec mengalami kehancuran karena datangnya Spanyol. Dengan raja terakhirnya Monte Zuma II. Bangsa Spanyol banyak membunuh orang-orang Aztec. MEXICO CITY, Kilang-kilang minyak dan pembangkit-pembangkit tenaga listrik yang memompa polutan udara asam ke pantai Teluk Meksiko mengancam kelestarian lukisan-lukisan dinding (mural) batu di reruntuhan kota El Tajin yang berasal dari era sebelum kemunculan suku Aztec.

Referensi
·         Biale, David, ed. Cultures of the Jews: A New History. New York: Schocken, 2002
·         Calvesi, Maurizio, and Lorenzo Canova, eds. Rejoice! 700 Years of Art for the Papal Jubilee. New York: Rizzoli, 1999.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar