Selasa, 09 Juni 2015

Eksistensi Muhammadiyah terhadap kependudukan Jepang


Fatimah/ SIV

Muhammadiyah  didirikan di kampong kauman Yogjakarta, pada tanggal 8 Dzulhijah 1330 H/ 18 November 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian di kenal dengan K.H.Ahmad Dahlan. Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogjakarta sebagai seorang khotib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan dengan amalan-amlan yang bersifat mistik, beliau bergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali ke ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Quran dan hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai khatib dan para pedagang. [1]

Mula mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke luar daerah dank ke luar pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini Muhammmadiyah telah ada diseluruh pelosok tanah air
Disamping memberikan pelajaran/pengetahuannya kepada laki-laki, beliau juga memberi pelajaran kepada kaum ibu muda dalam forum pengajian yang disebut" Sidratul  Muntaha'.  Pada siang hari pelajaran untuk anak –anak laki-laki dan perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang telah dewasa.
KH Ahmad Dahlan memimpin Muhammmadiyah dari tahun 1921 hingga 1922 dimana saat itu masih menggunakan system permusyawaratan rapat tahunan. Pada rapat ke 11, pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934. Rapat tahunan itu sendiri kemudian berubah menjadi kongres Tahunan pada 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini menjadi Muktamar 5 tahunan.
Pada era penjajahan Jepang, Muhammadiyah melalui tokohnya, K.H Mas Mansur, memiliki interaksi yang khas dengan jepang. Di satu sisi melalui K.H. Mas Mansur, Muhammadiyah memiliki wakil dan peran penting dalam pusat Tenaga  Rakyat (Putera). Lembaga yang dibentuk pada tanggal 9 Maret 1943 ini dipimpin oleh empat serangkai, yaitu Ir. Sukarno, Drs. Moh.Hatta, kiai haji Mas Mansur dan Ki Hajar Dewantara, namun, Muhammadiyah melalui tokohnya yang lain, Ki Bagus Hadikusumo, tetap dapat menunjukkan sikap yang kritis, yakni terkait dengan penolakan pada aturan penghormatan kepada Tenno Haika dengan membungkukkan badan kea rah matahari terbit(seikirei). Umat islam tidak dibenarkan mengadakan penghormatan yang demikian itu walaupun raja sekalipun. Oleh karena itu , KI Bagus Hadikusumo terus berunding dengan pengurus Muhammadiyah lainnya, selanjutnya diputuskan membuat pengumuman bahwa umat islam tidak boleh melakukan seikerei, karena hal itu menyimpang dari ajaran tauhid. pengumuman Ki bagus Hadikusumo itu segera tersiar luas dan ternyata ditaati oleh umat Islam, terutama Muhammadiyah . Ha ini menjadi perhatian pemerintah Bala tentara jepang. Maka, Ki Bagus Hadikusumo dipanggil Gunseiken atau Gubernur Militer di Yogjakarta untuk membicarakan masalah tersebut. Akhirnya persoalan pelik ini dapat diatasi; dicapai pengertian antara Gunseiken dengan Muhammadiyah. [2]
Menjelang meletusnya Perang Dunia II tahun 1939, pemerintah HIndia Belanda Goyah karena semakin gencarnya desakan perjuangan kebangsaan Indonesia. Waktu itu situasi dunia tidak menentu. Pada tahun 1938 jepang mengundang tokoh –tokoh umat Islam dari beberapa Negara. Termasuk Indonesia, untuk menghadiri peresmian masjid di Tokyo. Kehadiran tokoh-tokoh Islam Indonesia ini menimbulkan kecurigaan pemerintah Hindia Belanda . utusan MIAI ke Jepang oleh Farid Ma'ruf, Abdul Kahar Muzakir, dan Mr. Kasmat (ketiganya dari Muhammadiyah , Abdullah Alamudi (PAI), dan Ahmad Sidiq (NU). Sepulang dari Jepang, mereka di tahan di Belanda.
Mereka datang ke Jepang dikatakan bukan sekedar menghadiri peresmian masjid, tapi dituduh telah mengadakan pembicaraan dengan pemimpin- pemimpin jepang dakam rangka penduduksnnhys ke Indonesia. Memang waktu Jepang sedang gencar menyiarkan propaganda untuk membebaskan rakyat Indonesia. Di lain pihak pemerintah Hindia Belanda sendiri juga menarik simpati bangsa Indonesia dengan Janji Indonesia berparlemen. Pemerintah Hindia Belanda minta agar rakyat Indonesia memberikan dukungna dengan mengikutsertakan dengan mengikutsertakan sebagian pemuda berjaga-bejaga dan sebagian lagi tergabung dalam bidang kesehatan.
Ketika kependudukan jepang bangsa kita menghadapi propaganda penuh dengan kewaspaaan dan hati-hati. Bangsa Indonesia sudah tidak percaya lagi dengan janji –janji manis pemerintah Hindia-belanda. Hal ini berdasarkan pada pengalaman pahit getir yang diderita bangsa Indonesia terhadap tipu muslihat Belanda. Sedang dalam menanggapi propaganda jepang itu tokoh – tokoh kita masih berfikir –fikir dan melihat, tidak segera terburu-buru memercayainya. Namun karena keinginan melepaskan diri dari penjajah Belanda telah lama menyelubungi kehidupan, pada awalnya kehadiran Jepang di Indonesia diterima dengan antusias.
Rupa-rupanya sebelum Jepang menduduki Indonesia, mereka telah membuat perhitungan secara cermat, bahwa mereka harus mendekati tokoh-tokoh Islam termasuk Muhammadiyah. Potensi dan peranan Umat Islam  tidak dapat diabaikan begitu saja karena sebagian besar bangsa Indonesia beragama Islam. Tidak ada salahnya mereka mendekati tokoh-tokoh Islam diIndonesia. Walaupun demikian, tidaklah dapat diartikan bahwa umat islam membantu kehadiran mereka di Indonesia, tetapi semata-mata telah muak melihat dan merasakan impitan pemerintah Hindia-Belanda. Adanya hal-hal yang demikian itu memberikan peluang kelancaran pendudukan Indonesia oleh Jepang, walaupun di balik propaganda yang muluk-mulik itu kemudian muncul praktik pemerintahan yang kejam menimpa bangsa Indonesia.
Pada periode Muhammadiyah dibawah pimpinan Mas Mansur, Jepang menyerbu Indonesia. Jepang mengumumkan perang melawan sekutu dengan menyerang pelabuhan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour pada tanggal 8 Desember 1941. Serangan Jepang yang mendadak itu menyebabkan berpuluh-puluh kapal Amerika Serikat Tenggelam, dan banyak kapal udara hancur. Seolah –olah Amerika Serikat lumpuh.[3]
Perang Dunia II kemudian ke Asia dan Pasifik dengan menyebut"Perang Asia Timur Raya". Dalam yang tempo relative Singkat jenderal Ter Porter, sebagai panglima tertinggi Angkatan Darat Belanda di Jawa, dan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkemborgh Stachouwer menyerah tanpa syarat kepada panglima Jenderal tentara Jepang Imamura di Kalijati pada 8  Maret 1942.
Setelah mulai berkuasa dan dengan maksud untuk mendapat simpati umat Islam, Jepang bersikap lunak terhadap Muhammadiyah. Gerakan dakwah Islam yang dilakukan  Muhammadiyah, Hizbul Wathan, diberi kesempatan mengembangkan dirinya, lain halnya dengan umat khatolik dan Kristen pada saat itu, mereka doperlakukan sama dengan orang-orang Belanda yang seagama. Maka, banyak pastur khatolik berbangsa Belanda ditangkapi Jepang dan tempatnya dididuduki  jepang. Gereja Kristen di Kotabaru, Jogjakarta, pernah diserahkan Jepang untuk tempat Ibadah umat Islam, dan baru setelah Indonesia merdeka umat Islam mendirikan masjid Syuhada.
Jepang menghilangkan kesan bahwa kehadiran mereka tidak untuk menjajah, dengan jalan pertama, mengikutsertakan tokoh-tokoh kebangsaan Organisasi atau lembaga dalam pemerintah Jepang. Kedua, menggunakan bahasa Indonesia disamping bahasa jepang sebagai bahasa resmi dalam lembaga-lembaga pemerintahan. Apa yang diperbuat jepang hanyalah untuk menutupi maksud-maksud yang tersembunyi. Pada tanggal 20 Mei 1942 Jepang mengeluarkan  undang-undang nomor 3 dan 4 yang pada prinsipnya melarang organisasi pergerakan rakyat Indonesia aktif. Juga dikeluarkannya larangan pengibaran bendera kebangsaan Indonesia, Merah Putih, dan lagu Indonesia Raya tidak boleh dinyanyikan lagi.
Sebagai wadah penampungan semua kegiatan masyarakat, pemerintah jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) pada tanggal 9 Maret 1943. Putera dipimpin oleh empat serangkai, yakni Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Kiai Haji Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara. Adapun tugas putera ialah mengerahkan segala tenaga dari kekuatan rakyat untuk memberikan bantuan kepada usaha-usaha untuk mencapai kemenangan akhir dalam Perang asia timur raya.
Berhubung mas Mansur menjadi pemimpin Putera, dan harus pindah ke Jakarta, maka jabatan Besar Muhammadiyah diserahkan kepada wakil ketua, yakni Ki Bagus Hadikusumo, untuk itu, dalam memimpin Muhammadiyah, Ki Bagus didampingi Haji A.Badawi.
Setelah pemerintahan jepang berjalan tiga bulan, tekanan-tekanan bangsa Indonesia mulai dirasakan. Jepang segera menerapkan peraturan-peraturan yang dibuatnya. Sebelum masuk kantor atau sekolah, pegawai dan anak-anak sekolah diharuskan bersenam yang disebut taisyo, kemudian bersumpah, diakhiri menyakinkan lagu kebangsaan Jepang, Kimigaya. Setelah itu, pegawai dan anak-anak sekolah melakukan penghormatan kea rah Tenno haika yang bertakhta di Tokyo dengan jalan membungkukkan badan atau seikirei. Penghormatan kepada Tenno haika yang disebut seikei itu dapat disamakan dengan ruku' pada waktu salat bagi umat islam.
Aturan seikirei inilah yang merisaukan umat islam. Maka, dipimpin Muhammmadiyah, Rakyat Indonesia melakukan protes atas aturan tersebut. Bagi Muhammmadiyah, umat Islam tidak dibenarkan mengadakan penghormatan yang demikian itu walaupun kepada raja sekalipun. Oleh karena itu, Ki Bagus Hadikusumo terus berunding dengan pengurus Muhammadiyah lainnya, selanjutnya diputuskan membuat pengumuman, bahwa umat Islam tidak boleh melakukan  sekirei karena hal itu menyimpang dari ajaran tauhid. Di Sumatra, seikerei itu ditentang oleh Dr. Haji abdul Karim Abdullah, ayah Prof.Dr.Hamka.
Pengumuman Ki Bagus Hadikusumo itu segera tersiar luas dan ternyata ditaati oleh umat Islam, terutama warga Muhammadiyah. Hal ini menjadi perhatian pemerintah Bala Tentara Jepang . Maka, Ki Bagus Hadikusumo dipanggil Gunseikan atau gubernur Militer di Jogjakarta. Dengan datangnya panggilan itu, hati Ki Bagus menjadi cemas. Teman-teman pengurus merasa khawatir akibat dari adanya surat panggilan itu, nasib apa yang akan menimpa Ki Bagus belum diketahuinya. Dalam pemikiran mereka akan atang siksaan terhadap Ki Bagus dari penguasa jepang.[4]
Untuk memenuhi panggilan Gunseiken itu, Ki Bagus Hadikusumo akan datang sendirian. Tidak perlu ditemani pengurus Muhammadiyah lainnya. Ia berfikir seandainya akan dilakukan penyiksaan hanya pada dirinya sendiri, ia tidak membawa korban yang lebih banyak lagi. Waktu itu Ki Bagus Hadikusumo semalaman bersembanhyang dan pasrah kepada Allah swt.

Daftar Pustaka
 [1] Drs. Suwarno. 2011. Latar Belakang dan Fase awal Pertumbuhan Kesadaran Nasional. Pustaka Pelajar : Jogjakarta. Hal : 70
[2] Majelis Dikti. 2010. Satu Abad Muhammadiyah"Gagasan Pembaharuan Sosial Keagamaan". Jogjakarta : Gramedia.  Hal : 113
[3]   www. Muhammadiyah .or.id
Wikipedia.org/wiki/Muhammadiyah
[4]   PP. Muhammadiyah. 2010. Tanfidz Keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah. Jogjakarta : Gramedia



Tidak ada komentar:

Posting Komentar