Kamis, 11 Juni 2015

Peradaban Islam Di Kamerun

Isra Algifari/S/E-A

Kamerun (Cameroon) adalah sebuah negara di Afrtika Barat, sedikit lebih besar dari California, menurut para ahli arkeologi telah dihuni manusia sejak 50.000 tahun yang lalu. Pada abad ke-5 sebelum Masehi, suku Hanno dari Kartago (Tunisia sekarang), orang asing pertama yang memasuki Kamerun, dan selama berabad-abad mengeksplorasi perdagangan budak. Pada abad ke-2 sampai dengan abad ke-1 sebelum Masehi, suku Bantu (dikenal dengan sebutan Pygmi) yang berasal dari Nigeria Utara mulai berimigrasi ke Kamerun (dikenal dengan Cameroon Highlanders), mereka ahli dalam pertanian. Para
pedagang dari Arab yang sekaligus menyebarkan Islam datang ke Kamerun pada abad ke-10. Mereka berdagang emas, garam, tembaga dan budak. Orang barat pertama yang memasuki Kamerun adalah Fenando Po, dari tim ekspedisi Portugis pada tahun 1472, mereka mendarat di sebuah pantai di Kamerun. Dinamakan Kamerun, karena orang Portugis melihat banyak udang di perairan Kamerun, sehingga mereka menamakan Rio des Cameroes (the Prawn River).
Dengan wilayah seluas 475.440 km2, beriklim tropik dan kering, berbatasan dengan banyak negara, antara lain Nigeria, Chad, Republik Afrika Tengah, Republik Congo, Gabon dan Equatorial Guinea. Berpenduduk padat, dihuni sekitar 16.063.678 orang, terdiri dari suku asli Afrika (black African) sebanyak 99%, yaitu Cameroon Highlander, Bantu, Fulani, Kirdi dan suku asli Afrika lainnya. Selebihnya adalah pendatang dari Eropa dan Arab. Angka pertumbuhan penduduk, rata-rata 1,97% per-tahun, angka kelahiran 35,08 per-1000, dan angka kematian 15.34 per-1000. Agama Islam dianut sekitrar 20%, Kristen (Katholik dan Protestan) 40% dan animis 40% Bahasa nasional mereka adalah Inggris dan Perancis di samping bahasa lokal (24 bahasa).
Republic of Cameroon (Republik Kamerun), ibukotanya YAOUNDE (semula beribukota di Buea), terbagi dalam 10 propinsi. Sebelum orang-orang Portugis menemukan Kamerun pada abad ke-15 (1472), para pedagang Arab dan orang-orang Islam telah memasuki Kamerun dari arah utara (Sahara) pada abad ke-10. Mereka berda'wah sambil berdagang emas, perunggu, tembaga, garam, dan budak. Oleh karena itu, Islam sangat kuat di bagian utara dan tengah Kamerun. Portugis adalah kolonial Barat pertama yang masuk ke Kamerun, yaitu sekitar abad ke-15 (tahun 1472), diikuti Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis. Orang-orang Barat ini datang ke Kamerun untuk memperebutkan perdagangan budak. Perdagangan budak ini berakhir pada abad ke-19 (1845), dan Kamerun dijadikan protektorat Inggris. Namun pada tahun 1884, Jerman yang diwakili oleh Gustav Nachtigal mengadakan perjanjian dengan Raja Doula, dan pada tahun 1885, Baron von Soden ditunjuk sebagai Gubernur Kamerun. Ketika terjadi perang dunia pertama (1916-1918), Inggris dan Perancis berhasil mengusir Jerman dari Kamerun, kedua negara terakhir berbagi kekuasaan di Kamerun. Perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan dari para penjajah dimulai setelah perang dunia kedua, yaitu ketika pada tahun 1955 muncul revolusi di daerah kekuasaan Perancis yang dipelopori oleh Union des Populations Camerounaises (UPC), yang disponsori oleh suku Bamileke dan Bassa.
Bapak kemerdekaan Kamerun, seorang pejuang muslim sejati dari suku Fulani, El-Haji Ahmadou Babatoura Ahijo (lahir pada Agustus 1924), berhasil membawa bangsa Kamerun memperoleh kemerdekaan, ketika pada tahun 1958 melalui partainya I'Union Camerounaise menguasai parlemen. Akhirnya pada tanggal 1 Januari 1960, Ahijo memproklamasikan kemerdekaan Kamerun, dan beliau ditunjuk sebagai Presiden pertama. Pada awalnya pemerintahan Ahijo kurang berjalan mulus, karena penduduk bagian selatan yang didominasi Kristen dan berbahasa Perancis belum bisa menerima kemerdekaan. Untuk itu, pemerintah Kamerun di bawah Ahijo mengadakan referendum pada bulan Oktober 1961. Hasil referendum adalah, penduduk bagian utara yan didominasi Islam dan berkiblat ke Inggris lebih menginginkan bergabung dengan Nigeria, sedangkan pendudukan bagian selatan lebih menginginkan pembentukan Republik Federasi Kamerun. Kemelut ini berakhir pada tanggal 20 Mei 1972, ketika disepakati adanya konstitusi baru yang pada intinya membentuk Republik Kesatuan Kamerun.
Awal Masuk dan Berkembangnya Islam di Kamerun
Islam telah masuk ke Kamerun pada abad ke-10, ketika para pedagang Arab melalui Sahara memasuki Kamerun bagian utara. Di samping mereka berdagang (emas, garam, tembaga, perunggu dan budak), mereka juga mengenalkan Islam (da'wah) pada penduduk pribumi. Mereka terus tumbuh dan akhirnya menguasai Kamerun bagian utara dan tengah hingga kini. Sedangkan misi Kristen baru mulai bekembang pada abad ke-19, namun hampir menguasai seluruh aspek kehidupan masyarakat Kamerun. Ketika Kerajaan Kanem Bornu di dekat Danau Chad dipimpin oleh dinasti Saifawa (Sefuwa), yaitu Raja Dunama Dibbalemi masuk Islam pada tahun 1221 (memerintah sampai dengan tahun 1251), maka kejayaan Islam di Afrika Tengah mulai menyebar, mulai dari Chad, Nigeria, Niger maupun Kamerun. Pengaruh Kanem Bornu di Kamerun ini berlanjut hingga abad ke-15. Islam menjadi kekuatan penuh di Kamerun bagian utara, ketika suku Fulani (Fulbe) menguasai daerah itu pada abad ke-18, dan mendirikan kerajaan Adamawa (Adamawa Emirate), yang meliputi Kamerun dan Nigeria. Sultan Adamawa saat ini adalah Issa Maigari, sekaligus sebagai Gubernur propinsi Adamawa. Suku Fulani memang termasuk salah satu suku unggulan di Afrika, dan paling gigih menyebarkan agama Islam di kawasan itu. Mereka sampai saat ini menguasai pemerintahan modern di Senegal, Guinea (Futa Jallon), Mauritania, Guinea Bissau, Mali, Burkina Faso, Benin, Niger, Chad, Kamerun dan Sudan. Sebelumnya, pada abad ke-17, suku Fulani telah mengekspansi Kerajaan Bamoun yang didirikan oleh Nshare Yen, dan kerajaan Bamoun baru menerima Islam secara utuh pada tahun 1833 ketika Sultan Njoya Ibrahima berkuasa.
Sepakterjang suku Fulani, yang notabene adalah islam, sangat diakui keberadaannya di Kamerun, termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan. Salah satu putra terbaik suku Fulani adalah El-Hajj Ahmadou Babatoura Ahijo, kelahiran Garou, Agustus 1924, proklamator dan bapak kemerdekaan Republik Kamerun. Beliau adalah pejuang muslim dari suku Fulani dan terpilih sebagai presiden pertama Republik Kamerun dari tahun 1960-1982. Sayangnya, estafet kepemimpinannya tak dapat diteruskan oleh kader-kader politikus muslim lainnya, dan justru jatuh ke pihak Kristen, yaitu Paul Biya. Pada pemilu 2004, salah seorang politikus, scientist dan pejuang muslim Kamerun, yaitu Prof. Dr. Adamou Ndam Njoya, gagal terpilih sebagai presiden Kamerun, dan hanya memperoleh suara 4,5%. Padahal beliau adalah tokoh muslim Kamerun saat ini, dan mempunyai jabatan luar biasa banyaknya, antara lain, sebagai gurubesar University of Cameroon, co-president of World Conference of Religious for Peace (WCRP), founder and president of the Islamic and Religious Studies Institute, Gubernur Foumban dan masih banyak lagi jabatan-jabatan lain yang dipangkunya. Perjuangan Islam di Kamerun saat ini memang tergolong berat, karena sepeninggal mendiang Ahmadou Ahijo, kekuatan Kristen di sana semakin kokoh. Hal ini disebabkan infrasktuktur kekuasaan Kristen sangat luar biasa, dan dukungan negara bekas kolonial. Namun, apapun yang terjadi, Islam di Kamerun telah menorehkan tinta emas dalam memperjuangkan kemerdekaan, dan ummat Islam di sana, tentu tak akan tinggal diam, dan akan terus mengembalikan kejayaan masa lalunya.

Islam Berkembang di Kamerun yang Toleran
DOUALA, KAMERUN– Para pengunjung yang baru datang ke kota pesisir Douala akan melihat dengan jelas jumlah masjid yang semakin meningkat sejalan dengan semakin berkembangnya warga Kamerun yang memeluk islam karena perilaku teladan yang ditunjukkan oleh umat Islam setempat.
"Perluasan masjid yang ada dan pembangunan masjid baru dengan jelas menunjukkan bahwa Islam berkembang sangat cepat di Douala dan di Kamerun pada umumnya," ujar Sheikh Mohamed Malik Farouk, imam kepala Douala.  "Alhamdulillah kita sekarang memiliki banyak masjid untuk shalat Jumat di Douala dan ini adalah tanda dari perkembangan Islam," imbuh Sheikh Farouk.
Dianggap sebagai ibukota ekonomi Kamerun, Douala sedang menyaksikan peningkatan jumlah masjid baru-baru ini. Setidaknya setiap dua tahun, muslim setempat membangun sebuah masjid baru untuk mengakomodasi meningkatnya jumlah ummat Islam. Meskipun Islam pertama kali masuk di Kamerun pada 1800-an, tetapi Islam masuk ke Douala pada tahun 1922, setelah Muslim dari Kamerun utara dan pedagang asing datang ke kota pesisir tersebut. "Masjid besar pertama dibangun pada tahun 1922," kenang Sheikh Farouk. Dan beliau menambahkan bahwa jumlah tersebut telah meningkat secara signifikan selama bertahun-tahun.
"Di Douala saja kami memiliki lebih dari 90 masjid dan sekitar 500.000 Muslim dari 3 juta penduduk kota." kata Sheikh Farouk.
Menurut CIA Factbook, Muslim berjumlah sekitar 20 persen dari total penduduk Kamerun yang berjumlah sekitar 20,5 juta. Sebagian besar dari mereka tinggal di Kamerun utara dan berasal dari suku-suku utama seperti Fulani dan Peuhl. Muslim di Kamerun sebagian besar bergerak dalam perdagangan dan memiliki bisnis besar di negara Afrika. Tidak seperti di negara-negara Afrika lainnya, konstitusi Kamerun memberikan kebebasan beragama. Keteladan dari warga Muslim menjadi faktor kunci terhadap peningkatan jumlah mualaf yang masuk Islam baru-baru ini. "Muslim di sini menunjukkan akhlaq yang baik. Mereka memperlakukan tetangga non-Muslim mereka dengan hormat," Sheikh Farouk menegaskan.
"Mereka juga tidak terlibat dalam kegiatan yang tidak bermoral, yang telah menarik banyak non-Muslim untuk masuk kita," tambah kata pemimpin agama setempat.
"Banyak orang yang ingin hidup bersih dari narkoba, alkohol dan seks bebas, yang dapat menyebabkan HIV, sehingga mereka berminat untuk masuk Islam," imbuh pemimpin agama setempat.
Seperti penganut agama lain, Muslim Kamerun juga mengelola sekolah, rumah sakit dan proyek pengembangan masyarakat lainnya. Selain itu, Sheikh Farouk menambahkan bahwa umat Islam yang dermawan turut menyumbang untuk membantu membangun masjid atau sekolah Muslim. Sheikh Farouk menegaskan bahwa umat Islam di Kamerun hidup dengan rekan-rekan mereka yang non-Muslim dengan damai, dalam suasana toleransi.
"Meskipun populasi kami yang besar, kami tidak pernah memiliki konflik agama dengan masyarakat di Kamerun," kata Sheikh Farouk.
"Sebagai imam kami selalu menyampaikan tentang pentingnya persatuan, solidaritas dan persaudaraan," kata Sheikh Farouk.
"Kami mengatakan kepada orang - orang beriman untuk memperlakukan tetangga non-muslim mereka dengan hormat," ujar Sheikh Farouk.
Sheikh Farouk menambahkan, umat islam sangat dermawan untuk membantu pembangunan masjid atau sekolah muslim. Umat islam di Kamerun juga hidup damai dengan warga non-muslim dalam suasana toleransi beragama.  "Kami tidak pernah memiliki konflik dengan warga masyarakat lainnya," katanya.
Daftar Pustaka :
Sumber Buku
Victor Julius Ngoh.1996. History of Cameroon Since 1800.Limbe:Presbook.
Sumber Majalah
Efendi, Mukhtar.2005."Islam di Kamerun".Amanah No. 63 TH XVIII.

Sumber Internet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar