Kamis, 11 Juni 2015

PENDIDIKAN CINA PADA ZAMAN KLASIK


Rapni Yelti/SP/014/A

Filsafat Pendidikan Cina

Dinasti Han tahun 206 SM – 220 M merupakan dinasti kekaisaran besar pertama didalam perjalanan sejarah kekaisaran Cina. Pada masa ini banyak literature lama yang dikumpulkan dan diperbaiki kembali. Hal tersebut dikarenakan pada masa pemerintahan sebelumnya ajaran-ajaran kong hu cu diberantas habis. Pada masa ini Confusianisme menjadi falsafah terkemuka dan menjadi inti bagi sistem pendidikan. Pada masa Dinasti Han ini yang menjadi dasar masyarakat Tionghoa, ialah pengajaran counfusius Pada negeri Cina pendidikan mendapat tempat yang penting sekali dalam penghidupan Hal tersebut dikarenakan masyarakat Cina menganggap pendidikan sejalan dengan filsafat, bahkan menjadi alat bagi filsafat, yang mengutamakan etika

 Anggapan ini membuat pendidikan di Cina mengiringi kembalinya popularitas aliran filsafat Kung Fu Tse di dalam masyarakat Cina. Anggapan tersebut muncul dari ajaran-ajaran Confusianisme yang mulai mendapatkan tempat kembali di hati rakyat Cina, yang ditandai dengan munculnya Dinasti Han sebagai penguasa. Ajaran-ajaran tersebut mengajarkan bahwa pendidikan tersebut penting. Seperti yang ditanamakan Hsun Tzu, "Belajar terus sampai mati dan hanya kematianlah yang menghentikannya". Belajar adalah pekerjaan sepanjang hayat, dan jabatan yang tinggi mungkin merupakan ganjarannya. Cina telah memberikan status pada kegiatan belajar lebih dari masyarakat mana pun
Dalam membicarakan mengenai falsafah pendidikan Cina, tidak dapat dijauhkan dari pembicaraan mengenai ajaran Confusianisme. Seperti yang diutarakan di atas, bahwa ajaran confusianisme memberikan dasar-dasar dan sumbangan-sumbangan dalam sistem pendidikan Cina, khususnya pada masa Dinasti Han ini. Dalam ajaran confusianisme, pendidikan adalah mesin yang mengemudi dunia kebenaran… menuntut pendidikan dikejar secara terus menerus sampai kematian.
Pernyataan-pernyataan yang dinilai mementingkan pendidikan tersebut dan diperkuat dengan ajaran kong hu cu yang dianggap sebagai agama bagi masyarakat Cina, dimana masyarakat Cina sangat kuat dalam memeluk ajaran tersebut, sehingga membuat pendidikan memiliki sisi yang penting dalam kehidupan masyarakat Cina. anggapan pentingnya pendidikan tersebut meberikan dampak yang sangat berpengaruh dalam sistem masyarakat Cina, sehingga segala aspek yang berhubungan dengan pendidikan mendapatkan tempat-tempat istimewa.Ajaran confusianisme yang mulai muncul kembali dan berkembang pesat pada masa dinasti Han, serta ajaran ini menjadi dasar kepercayaan membuat pemerintahan tersebut menjalankan ajaran-ajaran didalamnya secara benar.Sikap orang Tiongkok yang mementingkan pendidikan di dalam kehidupannya telahmelahirkan sebuah filosofis orang Tiongkok mengenai pendidikan dan pendidikan ini telah lama menjaga kekuasaan Tiongkok berapa lama, sampai pada masuknya bangsa asing ke Tiongkok yang akan merubah wajah sistem pendidikan kuno di Tiongkok. Permulaan pendidikan Tiongkok kuno mencapai puncak dimulai pada Dinasti Han, dimana ajaran Kung fu Tse kembali lagi diangkat dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Tiongkok,
Masyarakat Tiongkok yang menganggap pendidikan sejalan dengan filsafat, bahkan menjadi alat bagi filsafat, yang mengutamakan etika. Anggapan ini membuat pendidikan di Tiongkok mengiringi kembalinya popularitas aliran filsafat Kung Fu Tse di dalam masyarakat Tiongkok.
Dalam membicarakan mengenai falsafah pendidikan Tiongkok, tidak dapat dijauhkan dari pembicaraan mengenai ajaran Confusianisme. Seperti yang diutarakan di atas, bahwa ajaran confusianisme memberikan dasar-dasar dan sumbangan-sumbangan dalam sistem pendidikan Tiongkok, khususnya pada masa Dinasti Han ini. Dalam ajaran confusianisme, pendidikan adalah mesin yang mengemudi dunia kebenaran menuntut pendidikan dikejar secara terus menerus sampai kematian.
Pernyataan-pernyataan yang dinilai mementingkan pendidikan tersebut dan diperkuat dengan ajaran kong hu cu yang dianggap sebagai agama bagi masyarakat Tiongkok, dimana masyarakat Tiongkok sangat kuat dalam memeluk ajaran tersebut, sehingga membuat pendidikan memiliki sisi yang penting dalam kehidupan masyarakat Tiongkok. anggapan pentingnya pendidikan tersebut meberikan dampak yang sangat berpengaruh dalam sistem masyarakat Tiongkok, sehingga segala aspek yang berhubungan dengan pendidikan mendapatkan tempat-tempat istimewa.
Pada masa Dinasti Han banyak melahirkan para sarjana-sarjana yang kelak akan memimpin negara dan telah membuat Dinasti Han sebagai salah satu dinasti yang besar dalam sejarah Tiongkok. Sistem pendidikan yang dikembangkan oleh bekas pengikut-pengikut Kung Fu Tse ini telah melahirkan sebuah golongan yang terkenal dalam sejarah Tiongkok dan menentukan perjalanan kekuasaan Dinasti Han, yaitu Kaum Gentry
Kaum gentry merupakan suatu komunitas orang-orang terpelajar yang telah menempuh pendidikan dan sistem ujian negara. Kaum terpelajar ini ditempa dengan pendidikan yang cukup keras dan sistem ujian negara yang cukup ketat. Pada masa Dinasti Han kaum gentry mendapatkan tempat yang terhormat disamping keluarga kerajaan dan para bangsawan.
Kebudayaan Cina berkembang sendiri tanpa adanya pengaruh dari kebudayaan luar. Masuknya unsur-unsur kebudayaan asing tidak mengurangi keaslian kebudayaan Cina. Dengan begitu pendidikan dan pengajarannya mempunyai ciri-ciri yang khas, yang tidak menunjukkan persamaan dengan ciri-ciri pendidikan di negara-negara Timur lainnya. Pendidikan anak-anak merupakan pendidikan pendidikan bagi keluarga dan bagi negara. Tujuan pendidikan dan cita-cita hidup di Cina adalah Lao Tse dan Konfusius.
Ciri-ciri pendidikan di Cina masa klasik di antaranya adalah:

1. pendidikan tidak dihubungkan dengan agama, tetapi dengan tradisi dan kehidupan praktis. Yang dihormati bukan pandeta tetapi leluhurnya;
2. penyelenggara pendidikan adalah negara dan keluarga;
3. tujuan pendidikan adalah mendidik kepala-kepala keluarga yang baik, pegawai yang rajin, suami yang setia, anak-anak yang patuh, pegawai-pegawai yang rajin, warga negara yang jujur dan rela berbakti, tentara yang gagah berani.

Penyelenggaraan pendidikan:
1. pendidikan di rumah: diselenggarakan sebelum anak masuk sekolah. Mulai umur 6 tahun mereka menerima pelajaran dari guru yang sengaja didatangkan di rumah (biasanya untuk kalangan pegawai tinggi dan bangsawan). Pelajaran yang diberikan: berhitung permulaan dan ilmu hitung;
2. pendidikan di sekolah: setelah anak-anak berumur 10 tahun mulai dikirim ke sekolah. pelajaran yang diberikan: berhitung, menulis, membaca, musik, dan menari. Yang diutamakan adalah pelajaran menulis;
3. pendidikan untuk pegawai: setiap orang mempunyai kemungkinan menduduki jabatan tinggi. Untuk menjadi pegawai harus menempuh ujian dulu. Para pegawai setiap 3 tahun sekali wajib menempuh ujian ulangan, juga untuk kenaikan pangkat ujian ulangan harus ditempuh terlebih dahulu.
Pendidikan saat itu masih diperuntukkan bagi keluarga bangsawan, karena untuk mendapatkan pendidikan membutuhkan biaya yang sangat mahal.
Sistem pendidikan saat itu dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu :
Infant School (Shu)
Tingkat pendidikan ini diperuntukkan bagi mereka yang berusia dibawah 7 tahun dan masih merupakan keluarga bangsawan.
Dalam tingkatan pendidikan ini anak-anak diajarkan tentang pengetahuan praktis terutama untuk menjalankan kehidupan mereka sehari-hari, seperti bagaimana cara makan, berbicara, berhitung dan sebagainya.

Lower School (Hsiao Hsueh)
Umumnya peserta didik pada tingkatan ini adalah anak laki-laki yang berusia antara 8 sampai 15 tahun. Kurikulum yang terdapat pada tingkatan ini adalah sebagai berikut :
Pendidikan Moral, diajarkan bagaimana cara berprilaku yang benar sebagai seorang bangsawan. Membersihkan dan menyapu lantai, bagimana menjawab dan merespon pertanyaan, bagimana menjadi pendengar yang baik.
Pendidikan Intelektual, termasuk didalamnya bagaimana cara membaca, menyanyi, menulis dan matematika.
Pendidikan Fisik, termasuk didalamnya menari, bercocok tanam, menunggang kuda, mengendarai kereta kuda, dan panahan.

Higher School (Ta Hsueh)
Peserta didik pada tingkatan ini umumnya laki-laki yang berusia 16 hingga 24 tahun. Peserta didik pada tingkatan ini dibagi lagi menjadi dua yaitu anak-anak dari kerajaan disebut P'i Yin dan anak-anak bangsawan yang berasal dari penguasa-penguasa daerah disebut P'an Kung. Pada tingkatan ini diajarkan beberapa hal, diantaranya :
Pendidikan Moral, didalamnya diajarkan bagaimana cara berfikir yang benar dan tulus, tujuannya adalah untuk pengendalian diri dan menjaga kepribadian bangsawan.
Pendidikan Intelektual, mempelajari enam disiplin kesenian, serta meningkatkan beberapa hal yang diperlukan dalam bertingkah laku, pengetahuan dan keterampilan lanjutan terutama untuk menggali dan memperluas pengetahuan yang telah mereka peroleh.
Pendidikan Fisik, materi yang diajarkan adalah materi yang diajarkan pada tingkat Hsiao Hsueh hanya tingkatannya lebih lanjut.
Bagi masyarakat Tiongkok saat itu kedudukan seorang guru adalah sebagai perwakilan dan utusan Tuhan yang membawa keinginan Tuhan dan membawa kembali manusia kepangkuan Tuhan. Ada 3 nilai penting dalam kehidupan masyarakat Tiongkok, yaitu Orang tua yang melahirkan kita, Guru yang mengajarkan kita dan Raja yang memberi kita makan. Jadi jelaslah kedudukan guru sangat dihormati dan diagungkan

Lao Tse
Lao Tse lahir pada tahun 604 SM, ketika di Cina timbul kekacauan politik. Ia adalah seorang ahli mistik. Ajarannya disebut Tao (jalan Tuhan atau sabda Tuhan). Manusia harus hidup selaras dengan Tao. Manusia yang dapat berpadu hidupnya dengan Tao harus hidup selaras dengan Tao, dapat menahan hawa nafsunya, dapat melenyapkan nafsu serakah, dan dapat mendengar duara Tao dalam kalbunya sendiri. Menurut ajaran Tao, perang hanya akan memusnahkan manusia, dan kebahagiaan hidup tidak akan tercapai dengan kekuatan senjata.
Ajaran Lao Tzu, lebih dikenal dengan sebutan Taoisme, yakni suatu paham spiritual yang lahir di Tiongkok dan telah mengalami berbagai perkembangan selama ribuan tahun. Taoisme dikembangkan oleh Lao Tzu dengan kitab utamanya yang disebut Tao Te Ching yakni kitab tentang Jalan Kebenaran. Kitab ini merupakan suatu buku spiritual singkat yang sangat rumit dan hanya terdiri dari 5.250 huruf. Penulisan Tao Te Ching sendiri menurut kisahnya berawal ketika pada usia tuanya Lao Tzu meninggalkan negara Chu dan hendak hidup bertapa. Dalam perjalanannya, ia dihentikan di pintu gerbang Hsien Ku oleh seorang penjaga yang bernama Yin Hsi, di perbatasan negara Chin. Yin Hsi mengenali Lao Tzu sebagai seorang Yang Suci, lalu ia memintanya untuk menuliskan kebijaksanaannya dalam suatu kitab. Lao Tzu menyanggupi dan selang tiga hari kemudian, ia berhasil menyelesaikannya

Konfusius (Kong Fu Tse), 551-479 SM
Konfusius adalah seorang ahli etika (etik: filsafat/kesusilaan, ilmu kesusilaan, ilmu tentang baik-buruk), mengajarkan hal-hal yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Ajarannya dapat dipahami semua orang dan tidak sulit. Menurutnya manusia harus bertindak sesuai dengan kedudukannya masing-masing. Masing-masing harus mengenal tempat dalam lingkungannya dan dengan penuh kesadaran menjalankan tugasnya masing-masing sebaik-baiknya (baik sebagai raja, tentara, pegawai, guru, dan sebagainya). Orang yang lebih tinggi derajatnya harus memegang teguh Yen (dapat meraba hati orang yang derajatnya lebih rendah dengan rasa kemanusiaan dan kasih sayang.
Rasa hormat dan memuliakan (Hiao) adalah kebajikan hidup yang tertinggi nilainya. Hiao juga mengatur hubungan kekeluargaan antara anak dan orang tua, pegawai dengan raja, seorang sahabat kepada teman, adik terhadap kakak dan sebagainya. Dengan jalan demikian maka negara akan aman dan damai, terhidar dari bencana, karena setiap orang memahami tugasnya masing-masing.
Konfusius juga mengajarkan bahwa dalam segala hal manusia harus berpedoman pada peraturan yang telah disusun oleh nenek moyang. Leluhurlah yang dijadikan teladan. Tradisi menguasai pandangan hidup mereka. Itulah sebabnya maka penganut-penganut ajaran Konfusius bersifat ststia, tidak memandang ke depan akan tetapi menoleh ke belakang ke alam yang telah lampau.
Konfusius berhasil mengumpulkan beberapa kesusastraan Cina yang disusun menjadi 4 jilid:
1. buku tentang sejarah;
2. buku yang berisis tentang syair-syair;
3. buku tentang upacara-upacara, yang merupakan cermin kesusilaan;
4. buku tentang metamorfosa.

Bukunya yang kelima adalah hasil karyanya sendiri tentang sejarah Lu, daerah kelahirannya. Kelima buku tersebut dipandang sebagai buku suci dan menjadi dasar pendidikan di Cina secara keseluruhan


DAFTAR PUSTAKA
tan G.Melly.2008. etnis tioghua dan pendidikan.grafika mardiL:Bogor.
Djumhur. (1974). Sejarah Pendidikan. Bandung: CV Ilmu
Lan.joe neo.tanpa tahun.tiongkok sepanjang abad.balai pustaka
www.sejarah pendidikan cina masa klasik.com
www.pendidikan cina purba.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar