Kamis, 11 Juni 2015

MUHAMMAD ABDUH DAN USAHA PEMBARUAN PENDIDIKAN ISLAM DI MESIR


NURMI  SUARI/SP/14 A

A.    Biografi Singkat Muhammad Abduh
Muhammad Abduh lahir pada tahun 1848 M/ 1265 H, di sebuah desa di Propinsi Gharbiyyah Mesir Hilir. Beliau lahir dengan latar belakang keluarga petani yang sangat cinta ilmu pengetahuan, sederhana, da taat. Ayahnya bernama Muhammad 'Abduh ibn Hasa Khairullah. Sedang ibunya-entah bernama siapa- katanya merupakan keturunan Arab yang berkaitan dengan garis nasab dengan suu Umar bin Khaththab. Terlahir dari keluarga muslim yang ta'at, Abduh kecil diarahkan untuk belajar
dasar – dasar agama. Di usia 10 tahun dia belajar al – qur'an di rumahnya. Dua tahun kemudian dia sudah menghafal seluruh al-qur'an. Di tahun 1862 Abduh kecil dikirim orang tuanya ke Thantha untuk belajar di sekolah Al-Qur'an yang bernama Al-Jamie Al – Ahmadi. Di sekolah yang merupakan salah satu lembaga pendidikan terbesar di Mesir ini, Abduh kecil berguru pada seorang alim bernama Syaikh Ahmad. Di usianya yang masih tergolong remaja, Abduh sudah dikenal sebagai anak yang tekun dan semangat dalam menuntut ilmu. Hal ini terlihat dari hasil gemilang yang kerap kali diperolehnya dalam menuntut ilmu. Bahkan sikap kritisnya juga sudah mulai tampak pada usia ini. Di sana, dia melakukan protes dan tidak setuju dengan model pengajaran yang berlaku, hingga akhirnya membuatnya untuk memutuskan kembali ke kampung halamannya. Konon, model pengajaran yang didapatkan Abduh saat itu merupakan model pengajaran yang dipraktekkan oleh Mesir, dan bahkan dunia muslim pada umumnya. Pada saat itu, aspek hafalanlah yang ditonjolkan, namun di sisi lain justeru mengabaikan sisi pemahaman terhadap materi itu sendiri. Tapi sepulangnnya ke desa, keberadaannya justru tidak diterima. Bahkan dia disuruh untuk kembali belajar. Putus asa dengan keadaannya, bukannya kembali ke Thanta, Abduh malah bersembunyi di rumah salah satu pamannya. Dan di situlah dia bertemu Syeikh Darwisy Khadr. Seorang penganut tasawwuf yang pernah belajar di Libya dan Tripoli. Kondisi Muhammad Abduh saat itu sangat membenci buku dan ilmu pengetahuan, sehingga membuat Darwisy untuk selalu sabar mengajarinya. Dan pada akhirnya, pada bulan Oktober 1865 M/ 1286 H, Muhammad Abduh mulai kembali lagi ke Thanta. Hal ini hanya berkisar 6 bulan, dan kemudian beliau menuju Al-Azhar. Rasa kecewa kebali merasuki hatinya. Dalam salah satu tulisannya,beliau mengungkapkan kekecewaannya denga mengatakan bahwa metode pengajaran yang verbalis itu telah merusak akal dan nalarnya. Setelah itu beliau akhirnya menekuni dunia istik dan sufi. Pada tahun 1871, beliau bertemu dengan Sayyid Jamaludin A. Afghani. Dalam diri Afghani, Abduh menemukan gelora yang tidak ia temukan di tempat lain. Pemikiran-pemikiran yang diperkenalkan Afghani demikian mempesona Abduh. Ia seakan mendapatkan pencerahan yang menggiringnya untuk dapat membebaskan diri dari banyak belenggu tradisi yang saat itu mengekang dirinya dan masyarakat. Sebab Afghani mengajarinya kritis terhadap kondisi keterpurukan umat Islam saat itu. Jadilah Afghani sebagai "universitas" kedua bagi Abduh setelah al-Azhar. perlahan namun pasti, pengaruh duo Afghani dan Abduh mulai menyebar ke tengah masyarakat luas. Namun, akibat kekisruhan politik saat itu, keduanya diusir dari Cairo. Afghani ke Paris dan Abduh keluar dari Cairo. Tetapi pada tahun berikutnya, Abduh diizinkan kembali bahkan dipercaya untuk memimpin surat kabar pemerintah yang bernama al-Waqa'i al-Mishriyah. Pada periode ini, secara praktis Abduh terjun dalam dunia politik. Tapi karena dianggap oposan, akibatnya Abduh diusir untuk kedua kalinya. Untuk pengusiran kali ini dia pergi ke Syiria. Di sana, Abduh sempat memberikan kuliah-kuliah yang di kemudian hari dibukukan menjadi salah satu karyanya: Risalah al-Tauhid. Buku ini kelak diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama oleh tokoh-tokoh pembaruan di Indonesia.

Pada tahun 1834 beliau kembali ke Beirut. Kegiatan yang beliau lakukan adalah menerjemahkan kitab-kitab asing ke dalam bahasa Arab. Dan pada tahun 1899, beliau diangkat menjadi mufti menggantikan Syaikh Hasanuddin al-Nadawi. Usaha pertama yang beliau lakukan ketika menjabat sebagai mufti adalah merubah pandangan masyarakat bahkan pandangan mufti sendiri tentang kedudukan mereka sebagai hakim. Mufti baginya tidak hanya berkhidmat pada Negara, tetapi juga pada masyarakat luas. Kemudian beliau mendirikan organisasi social bernama al-Jami'at al-Khairiyah al-Iskamiyyah pada tahun 1892. Organisasi ini bertujuan untuk menyantuni fakir miskin dan anak yang tidak mampu dibiayai oleh orangtuanya.
B.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemikiran Muhammad Abduh
Faktor-faktor tersebut, diantaranya :
1.      Faktor sosial, berupa sikap hidup yang dibentuk oleh keluarga dan gurunya. Di samping itu beliau juga menemukan sistem pendidikan yang tidak efektif selama belajar di Thanta dan Mesir
2.      Faktor Kebudayaan, berupa ilmu yang diperolehnya selama belajar di sekolah formal dari Jamaluddin A. Afghani dan yang ditimbanya di Barat.
3.      Faktor Politik yang bersumber dari situasi politik di masanya, sejak dilingkungan keluarganya di Mukallaf Nashr.
Dari faktor-faktor inilah yang melatarbelakangi lahirnya pemikran Muhammad Abduh dalam berbagai bidang ilmu. Salah satunya dalam bidang teologi, beliau fokuskan pada perbuatan manusia, qada dan qadar, serta sifat-sifat Tuhan.

C.    Meredefinisi Ajaran Islam
Disini beliau mengungkapkan delapan keunggulan Islam atas Kristen, yakni menegaskan bahwa meyakini keesaan Allah dan membenarkan risalah Muhammad merupakan kebenaran inti ajaran Islam
1.      Menyepakati bahwa akal dan wahyu berjalan tidak saling bertentangan
2.      Islam sangat terbuka atas berbagai berbagai interpretasi
3.      Islam tidak membenarkan seseorang menyeruka risalah Islam kepada orang lain, kecuali dengan bukti
4.      Islam diperintahkan untuk menumbangkan otoritas agama
5.      Islam melindungi dakwah dan risalah, menghentikan perpecahan dan fitnah
6.      Islam adalah agama kasih saying, persahabatan, dan mawaddah kepada orang yang berbeda doktrinnya
7.      Islam memadukan antara kesejahteraan dunia dan akhirat

D.    Pembaruan Pendidikan Islam di Mesir
Ada empat agenda pembaruan yang dilakukan oleh beliau, yakni :
1.      Purifikasi
Yaitu usaha pemurnia agama Islam yang berkaitan dengan munculnya berbagai khurafat dan bid'ah.
2.      Reformasi
Hal ini beliau fokuskan pada Universitas Al-Azhar. Beliau menyatakan bahwa mempelajari ilmu-ilmu sains modern juga perlu disamping belajar ilmu-ilmu klasik.
3.      Pembelaan Islam
Lewat Risalah Al-Tauhid-nya, beliau berusaha untuk mempertahankan potret Islam. Beliau tidak pernah menaruh perhatian terhadap paham-paham filsafat antiagama yang marak di Eropa.
4.      Reformulasi
Agenda ini dilaksanakan degan cara mebuka pintu ijtihad. Dengan ini, beliau menegaskan bahwa Islam telah membangkitkan akal pikiran manusia dari tidur panjangnya. Manusia tercipta dalam kondisi tidak terkekang.
Pembaruan ini pada dasarnya dilatarbelakangi oleh kondisi sosial dan pendidikan yang terjadi pada saat itu. Krisis yang menimpa umat Islam tidak hanya dalam bidang akidah dan syariat, melainkan juga akhlak, moral.
Pada abad ke-19, beliau memulai pembaruan di Mesir. Karena pendidikan sebelumnya mewariskan dua tipe pendidikan, yakni tipe pertama adalah sekolah-sekolah agama dengan Al-Azhar sebagai lembaga pendidikan yang tinggi. Sedangkan tipe yang kedua adalah sekolah-sekolah modern, baik yang dibangun oleh pemerintah Mesir maupun yang didirikan oleh Bangsa Asing. Padahal seharusnya tidak ada pemisahan seperti itu. Selain itu, banyak pula sekolah-sekolah yang hanya memasukkan kurikulum dari Barat saja, tanpa memasukkan kurikulum ilmu pengetahua agama. Hal ini menyebabkan terjadinya dualisme pendidikan yag melahirkan dua kelas social. Tipe sekolah yang pertama melahirkan para ulama dan tokoh masyarakat yang cenderung tetap mempertahankan tradisi. Sedangkan tipe yang kedua, melahirkan kelas elite generasi muda dengan mudahnya menerima ide-ide dari Barat. Ada segi negatif dari kedua hal tersebut, yakni jika pemikiran pertama tetap dipertahankan, maka akan membuat umat Islam tertinggal jauh, terdesak oleh arus kehidupan dan pemikiran modern. Sedangkan pemikiran yang kedua, terdapat bahaya yang mengancam sendi-sendi agama dan moral yang akan tergoyahkan oleh pemikiran modern yang mereka serap.

E.     Macam-Macam Kurikulum yang Dikembangkan
Melihat situasi-situasi semacam itu, akhirnya melahirkan pemikiran beliau dalam bidang pendidikan formal dan non formal. Dalam pendidikan formal tujuannya yang esensi adalah menghapuskan dualisme pendidikan. Adapun kurikulum yang beliau canangkan adalah :
1.      Kurikulum Al-Azhar
Disini beliau memasukkan ilmu filsafat, logika, dan ilmu pengetahuan modern ke dalam kurikulum Al-Azhar
2.      Tingkat Sekolah Dasar
Beliau beranggapan bahwa dasar pembentukan jiwa agama hendaknya sudah dimulai semenjak masa kanak-kanak. Oleh karena itu, mata pelajaran agama hendaknya dijadikan inti semua mata pelajaran
3.      Tingkat Atas
Upaya ini dilakukan dengan mendirikan sekolah menengah untuk menghasilkan ahli dalam berbagai lapangan administrasi, militer, kesehatan, perindustrian dan sebagainya. Namun tetap memasukkan pendidikan agama. Sedangkan madrasah-madrasah yang berada di bawah naungan Al-Azhar, dimasukkan ilmu Mantik, ilmu falsafah dan tauhid. Meskipun kurikulum tersebut yang telah dirancang oleh beliau, sukar dilaksanakan secara utuh, namun tetap menjangkau pemikiran untuk mengahargai ilmu-imu agama dan sama penilaiannya terhadap ilmu-ilmu dari Barat. Dalam praktik mengajar pun beliau menggunakan metode diskusi dan bukan hafalan. Ia menekankan pentingnya memberi pengertian terhadap setiap pelajaran. Kemudian beliau juga mendukung pendidikan untuk wanita, karena pada dasarnya haknya sama seperti laki-laki dalam hal memperoleh pendidikan. Dalam bidang pendidikan non formal, beliau juga melakukan usaha perbaikan dengan melibatkan pemerintah, terutama dalam mempersiapkan para pendakwah.
Tugas mereka yang utama adalah :
a.       Menyampaikan kewajiban dan pentingnya belajar
b.      Mendidik mereka dengan memberikan pelajaran apa yang mereka lupakan atau yang belum mereka ketahui
Daftar Pustaka
1.      Nizar, Samsul. 2007. Sejarah Pendidikan Islam : Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah sampai Indonesia. Jakarta : Kencana Prenada Media
2.      Suharto, Toto. 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta : Ar-Ruzz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar