Selasa, 09 Juni 2015

BIOGRAFI TOKOH PELOPOR PERISTIWA RENGASDENGKLOK


TIKA PERMATA SARI/SI IV

Peristiwa rengasdengklok adalah suatu peristiwa yang sangat bersejarah bagi bangsa indonesia. Bagaimana tidak peristiwa rengasdengklok adalah salah satu penentu kemerdekaan republik indonesia pada tanggal 17 agustus tahun 1945, peristiwa rengasdengklok di pelopori oleh golongan muda yang dimana golongan muda tersebut menculik soekarno dan hatta untuk mendesak memproklamirkan kemerdekaan republik indonesia.

Berikut ini adalah biografi beberapa tokoh pelopor terjadi peristiwa rengasdengklok yang terjadi pada tanggal 16 agustus tahun 1945 pukul 03.00 wib: [1]
CHAERUL SALEH
Chaerul Saleh Datuk Paduko Rajo atau lebih dikenal dengan nama Chaerul Saleh lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat pada tanggal 13 September 1916. Ia adalah seorang pejuang kemerdekaan dan tokoh politik Indonesia yang pernah menjabat sebagai menteri, wakil perdana menteri, dan ketua MPRS antara tahun 1957 sampai 1966.
Chaerul Saleh menempuh pendidikan SR (Sekolah Rakyat) di Medan dan diselesaikannya di Bukittinggi (1924-1931). Setelah tamat ia melanjutkan ke HBS (Hogere Burger School) bagian B di Medan dan diselesaikannya di Jakarta (1931-1937). Melanjutkan lagi ke Fakultas Hukum di Jakarta (1937-1942). Menjabat Ketua Persatuan Pemuda Pelajar Indonesia (1940-1942), dan setelah Jepang masuk jadi anggota dari panitia Seinendan, membentuk Barisan Banteng, dan anggota PUTERA dan Barisan Pelopor yang dipimpin oleh Ir. Soekarno. Selanjutnya ia menjadi wakil ketua pada Gerakan Angkatan Baru dan Pemuda. Bersama-sama dengan temannya turut aktif dalam persiapan proklamasi kemerdekaan RI.
Ia bersama pemuda lainnya dari Menteng 31 yang menculik Soekarno dan Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklok agar kedua tokoh ini segera menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia setelah kekalaha Jepang dari Sekutu pada tahun 1945. Setelah proklamasi kemerdekaan RI ia menjadi wakil ketua dan sekretaris Pusat Pemuda yang diketuai oleh Wikana kemudian menjadi ketua Komite van Actie yang kemudian diganti menjadi Angkatan Pemuda Indonesia (API) di Menteng Raya 31. Pada saat diadakan Kongres Pemuda di Yogyakarta, ia terpilih jadi ketua. Selanjutnya, menjadi Ketua Dewan Politik Lasykar Rakyat Jawa Barat akan tetapi, ketika ia menjadi ketua Biro Politik Perjuangan yang diprakarsai oleh Tan Malaka, ia ditahan oleh pemerintah RI, setahun. Akhirnya setelah dibebaskan bersama Dr. Muwardi membentuk Gerakan Revolusi Rakyat.
Ketika terjadi Agresi Militer II Chairul Saleh turut bersama Divisi Siliwangi melakukan Long March dari Yogyakarta ke Karawang dan Sanggabuana. Akhirnya ia bergabung dengan Divisi Tentara Nasional 17 Agustus di bawah pimpinan Letnan Kolonel Wahidin Nasution, setelah di bawah pimpinan Mayor Sambas Atmadinata. Oleh karena tidak setuju dengan adanya KMB, Chairul Saleh dari Jakarta melarikan diri ke Banten bersama anggota kesatuan lainnya yang menyebabkan terjadinya Peristiwa Banten Selatan. Bulan Februari 1950-1952 ia dipenjara karena dianggap sebagai pelanggar hukum Pemerintah RI, setelah bebas melanjutkan sekolah di Fakultas Hukum Universitas Bonn di Jerman Barat (1952-1955). Di sini, ia menghimpun para pelajar Indonesia dan mendirikan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI).
Setelah kembali pada Desember 1956 ia diangkat menjadi wakil ketua umum Legiun Veteran RI. Tanggal 9 April 1957 diangkat menjadi Menteri Veteran dalam Kabinet Karya, pada tanggal 10 Juli 1959 diangkat pada kementrian Perindustrian Dasar dan Pertambangan dan Migas. Pada tanggal 13 November 1963 diangkat menjadi Wakil Perdana Menteri III. Tanggal 8 Februari 1967 ia meninggal dunia. Untuk mengenang jasanya di bidang kemiliteran, pangkat terakhir yang diperoleh adalah Jenderal Kehormatan TNI AD, sedangkan bintang jasa yang diperoleh antara lain Bintang Gerilya, Satyalencana Peristiwa Aksi Militer II, Satyalencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan, Bintang Mahaputra Tingkat III, Satyalencana Satya Dharma, Lencana Kapal Selam RI, dan Doktor Honoris Causa dalam Ilmu Kemasyarakatan dari Universitas Hasanuddin.[2]
JUSUF KUNTO
Jusuf Kunto lahir di Salatiga pada tanggal 8 Agustus 1921. Jusuf Kunto sebenarnya bernama asli Kunto. Namanya berubah menjadi Jusuf Kunto sejak tahun 1937, diambil dari nama depan keluarga kakak sepupunya, Mr. Jusuf Suwondo. Jusuf Kunto merupakan salah satu tokoh yang ikut menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945. Dia bersama Sukarni dan beberapa anggota PETA yang menjemput dan membawa Soekarno dan Hatta menuju Rengasdengklok.
Jusuf Kunto pernah tinggal di Pangkalpinang, Bangka, karena ia mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai mantra kesehatan di Tambang Timah Bangka. Ia menempuh pendidikan formalnya di Hollandsch Chinesche School, sekolah khusus untuk orang-orang keturunan Cina. Perkenalannya dengan kaum pergerakan Indonesia dimulai ketika ia bersekolah di Hoogere Burgerschool (HBS) Semarang pada tahun 1933. Ia pernah menusuk seorang polisi Belanda yang ingin menangkapnya karena ia sering melakukan pertemuan-pertemuan dengan para kaum pergerakan lainnya.
Sebelum menjadi tokoh pejuang muda di Indonesia pada masa perjuangan kemerdekaan RI, Jusuf Kunto pernah menjadi seorang tentara Jepang. Hal itu bermula ketika ia diselundupkan ke Jepang karena ia menjadi buronan Politieke Inlichting Dienst (PID), polisi dinas keamanan negara. Di Jepang, ia menyelesaikan studinya di Politeknik Waseda University, Tokyo. Ia merupakan rombongan terakhir pemuda-pemuda Jepang yang direkrut menjadi pilot pesawat tempur Jepang di California, Amerika Serikat. Bahkan ia pernah masuk dalam skuadron pesawat tempur Jepang dan juga pernah ikut menyerang kepulauan Hawaii dan beberapa kepulauan lainnya di wilayah Pasifik. Ia juga pernah terlibat dalam tugas pengintaian dan pemboman Port Moresby, Papua Nugini. Karir militernya bersama pasukan udara Jepang harus terhenti ketika pesawat yang ditumpanginya tertembak saat terjadi pertempuran udara di Morotai dan Halmahera, Maluku. Jusuf Kunto menderita cukup parah dan harus dibawa ke Jakarta untuk dirawat di RS Cipto Mangunkusumo.
Ketika dirawat di RS Cipto Mangunkusumo, ia mulai menjalin hubungan baik dengan para pejuang Indonesia yang sebagian besar berasal dari kalangan mahasiswa Fakultas Kedokteran di Jakarta. Salah satu kenalannya dan kemudian menjadi istrinya adalah Prof. dr. Murtiningrum, anak Kunto Tjokrowidagdo, seorang pegawai tinggi Perumka saat itu.
Jusuf Kunto akhirnya disersi sebagai tentara Jepang dan membantu perjuangan pemuda Indonesia secara sembunyi-sembunyi. Tahun 1944, ia pernah memasok satu kompi amunisi dan senjata untuk para pemuda di Bandung dan melatih mereka. Ia juga sangat pintar dalam memecahkan sandi tentara Jepang karena pengalaman dan kemampuan yang ia dapat selama ia bergabung bersama tentara Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, Jusuf Kunto bergabung bersama Badan Keamanan Rakyat. Ia lebih memilih terjun dalam bidang intelijen bersama dengan Zulkifli Lubis. Ia pun pernah menjadi Staf Oemoem I (SO I) pada Markas Besar Tentara (MBT) di Benteng Vredenburg, Yogyakarta. Jusuf Kunto saat itu berpangkat mayor. Mayor Jusuf Kunto sempat memindahkan markas daruratnya dari Yogyakarta ke Pakem pada saat sebelum Agresi Militer Belanda. Ia melakukan penyamaran ketika itu untuk dapat menyampaikan informasi atau bahan obat-obatan serta beberapa kebutuhan lainnya untuk para pejuang di Yogyakarta.
Jusuf Kunto meninggal dunia pada 2 Januari 1949 akibat kelelahan dan sakit radang paru-paru serta kurangnya bantuan medis terhadap dirinya. Saat itu usianya belum genap 28 tahun. Ia akhirnya dimakamkan di pemakaman umum Badran, yang terletak di dekat sebuah kuburan Cina di sebelah barat Stasiun Tugu, Yogyakarta.
Perjuangan Jusuf Kunto dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan RI memang sangat jarang diungkap secara lebih jelas. Padahal menurut Maroeto Nitimihardjo, salah seorang tokoh pemuda pada masa sekitar proklamasi, Jusuf Kunto adalah seorang tokoh pemuda yang diberi tugas ke sana-kemari, termasuk membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok lalu membawanya sampai esok subuh ke rumah Laksamana Maeda.[3]

WIKANA
Wikana lahir di Sumedang, Jawa Barat, 18 Oktober 1914 adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Bersama pemuda-pemuda lainnya dari Menteng 31, mereka menculik Soekarno dan Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklok dengan tujuan agar kedua tokoh ini segera memproklamasikan kemerdekaan setelah Jepang menyerah kepada Sekutu.
Wikana terlahir dari keluarga menak Sumedang, ayahnya bernama Raden Haji Soelaiman. Sebagai anak priayi, Wikana punya hak untuk mengenyam pendidikan. Tapi untuk masuk ELS (Europeesch Lagere School), sekolah dasar yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar, tidak cukup bermodal anak raden saja. Kemampuan bahasa Belanda dan kepintaran si anak menjadi standar utama. Wikana memenuhi syarat itu dan berhasil lulus dari ELS. Lepas dari ELS Wikana melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Semasa muda itulah Wikana sempat menjadi salah satu dari sekian pemuda satelit Bung Karno di Bandung.
Pada peristiwa Proklamasi 1945 Wikana memainkan peran penting karena berkat koneksinya di Angkatan Laut Jepang atau Kaigun, Proklamasi 1945 bisa dirumuskan di rumah dinas Laksamana Maeda di Menteng yang terjamin keamanannya. Lalu Wikana mengatur semua keperluan Pembacaan Proklamasi di rumah Bung Karno di Pegangsaan, ia juga tegang saat melihat Bung Karno sakit malaria pagi hari menjelang detik-detik pembacaan Proklamasi. Wikana kasak kusuk ke kalangan militer Jepang untuk tidak mengganggu jalannya upacara pembacaan teks proklamasi.
Setelah kemerdekaan jalan hidup Wikana sangat rumit, ia dianggap terlibat peristiwa Madiun 1948, namun berhasil lepas dari kejaran tentara. Bersama dengan pejuang-pejuang dari Nasionalis sayap kiri ia menghilang dan baru kembali setelah DN Aidit melakukan pledoi terhadap kasus Madiun 1948 yang mulai digugat oleh Jaksa Dali Mutiara pada 2 Februari 1955. Namun revitalisasi PKI ditangan DN Aidit membuat Wikana tersingkir dan dianggap bagian dari golongan tua yang tidak progresif, ini sama saja dengan kasus penyingkiran kaum komunis ex Digulis oleh anak-anak muda PKI, karena tidak sesuai dengan perkembangan perjuangan komunis yang lebih Nasionalis dan mendekat pada Bung Karno. Terakhir Wikana tinggal di daerah Simpangan Matraman Plantsoen dalam keadaan miskin dan sengsara karena tidak mendapat tempat di PKI dan diisolir oleh Aidit. Beruntung Waperdam Chaerul Saleh pada tahun 1965 menarik Wikana menjadi anggota MPRS. Pada saat penangkapan-penangkapan setelah kejadian GESTAPU, Wikana hilang begitu saja.[4]
DAFTAR PUSTAKA
[1] sudirman,adi.2014.sejarah lengkap nasional dari era klasik hingga terkini.jogjakarta.diva press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar