Senin, 08 Juni 2015

BIOGRAFI TOKOH-TOKOH SAREKAT ISLAM ( SI )


MAMAN KURNIAWAN / SI IV

A.      H.O.S. Cokroaminoto
Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau H.O.S Cokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 16 Agustus 1882 dan meninggal di Yogyakarta, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun. Cokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Cokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu merupakan keluarga yang taat beragama. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo. Sebagai salah satu pelopor pergerakan nasional, ia mempunyai beberapa murid yang selanjutnya memberikan warna bagi sejarah pergerakan
Indonesia, yaitu Musso yang sosialis/komunis, Soekarno yang nasionalis, dan Kartosuwiryo yang agamis. Namun ketiga muridnya itu saling berselisih. Setelah menyelesaikan sekolah administasi pemerintahan di Magelang, ia menjadi seorang juru tulis pada patih Ngawi selama tiga tahun. Ia kemudian menjadi Patih kemudian meninggalkan pekerjaan itu dan pindah ke Surabaya. Ia mengikuti kursus-kursus malam dalam soal teknik mesin untuk tiga tahun lamanya antara tahun 1907 sampai 1910 dan bekerja sebagai pegawai pada sebuah pabrik gula di luar kota Surabaya pada tahun 1911-1912. Ketika ia didatangi oleh delegasi dari srekt islam Solo untuk bergabung dengan organisasi ini Tjokroaminoto telah terkenal dengan sikapnya yang radikal dengan menentang kebiasaan-kebiasaan yang memalukan bagi rakyat banyak. Ia terkenal sebagai seorang yang menganggap dirinya sama sederajat dengan pihak manapun juga, apakah dengan seorang Belanda ataupun seorang pejabat pemerintah. Dia berkeinginan sekali untuk melihat sikap  ini juga oleh kawan sebangsanya terutama di dalam berhubungan dengan orang-orang asing. Ia sering disebut orang Gatotkoco sarekat Islam. Pada bulan Mei 1912, Tjokroaminoto bergabung dengan organisasi Sarekat Islam. Cokroamonoto bergabung dengan sarekat islam di Surabaya atas ajakan dari pendiri sarekat islam sendiri yakni haji haji samanhoeddhi yang memang mencari orang-orang yang telah pernah mendapat pendidikan yang lebih baik dan lebih berpengalaman untuk memperkuat organisasinya. Selanjutnya Tjokroaminoto langsung menyusun sebuah anggaran dasar baru bagi organisasi itu bagi seluruh Indonesia dan meminta pengakuan dari pemerintah untuk menghindarkan diri  dari apa yang disebutkan "pengawasan preventif dan represif secara administrative". Dengan berbagai alasan pemerintah belanda menolak untuk memenuhi permintaan tadi, tetapi organisasi setempat yang memiliki sifat yang sama dipertimbangkan oleh belanda, sehingga cabang-cabang sarekat islam dikisaran jawa yang memenuhi kriteria menurut sistem  belanda kemudian mengajukan permintaan untuk pengakuan akhirnya diberikan. Keputusan pemerintah yang tidak mengakui pusat sarekat islam yang menaungi cabang-cabang tentu saja mengganggu struktur oganisasi dari sarekat islam yang menuurut kongresnya yang pertama di Surabaya bulan januari 1913 memang menekankan kegiatan yang bersiat menyeluruh untuk semua cabang di tanah air. Sebagai pimpinan Sarikat Islam, HOS dikenal dengan kebijakan-kebijakannya yang tegas namun bersahaja. Kemampuannya berdagang menjadikannya seorang guru yang disegani karena mengetahui tatakrama dengan budaya yang beragam. Pergerakan SI yang pada awalnya sebagai bentuk protes atas para pedagang asing yang tergabung sebagai Sarekat Dagang Islam yang oleh HOS dianggap sebagai organisasi yang terlalu mementingkan perdagangan tanpa mengambil daya tawar pada bidang politik. Seiring perjalanannya, SI digiring menjadi partai politik setelah mendapatkan status Badan Hukum pada 10 September 1912 oleh pemerintah yang saat itu dikontrol oleh Gubernur Jenderal Idenburg. SI kemudian berkembang menjadi parpol dengan keanggotaan yang tidak terbatas pada pedagang dan rakyat Jawa-Madura saja. Perpecahan SI menjadi dua kubu karena masuknya infiltrasi komunisme memaksa HOS Cokroaminoto untuk bertindak lebih hati-hati kala itu. Perepecahan yang terjadi dalam kubu sarekat islam karena beberapa faktor salah satunya ialah penangkapn oleh pemerinth kolonial belanda terhadap Tjokroaminoto yang memberi peluang bagi para petinggi sarekat islam yang berhaluan marxis untuk mengamil alih politik dalamorganisasi ini .Ia bersama rekan-rekannya yang masih percaya bersatu dalam kubu SI Putih berlawanan dengan Semaun yang berhasil membujuk tokoh-tokoh pemuda saat itu seperti Alimin, Tan Malaka, dan Darsono dalam kubu SI Merah. Namun bagaimanapun, kewibaan HOS Cokroaminoto justru dibutuhkan sebagai penengah di antara kedua pecahan SI tersebut, mengingat ia masih dianggap guru oleh Semaun. Singkat cerita jurang antara SI Merah dan SI Putih semakin lebar saat muncul pernyataan Komintern (Partai Komunis Internasional) yang menentang Pan-Islamisme (apa yang selalu menjadi aliran HOS dan rekan-rekannya) [1]

B.      Semaun
Semaun (lahir di Curahmalang, kecamatan Sumobito, termasuk dalam kawedanan Mojoagung, kabupaten Jombang, Jawa Timur sekitar tahun 1899 dan wafat pada tahun 1971).  Adalah Ketua Umum Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI). Kemunculannya di panggung politik pergerakan dimulai di usia belia, 14 tahun. Saat itu, tahun 1914, ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) afdeeling Surabaya. Setahun kemudian, 1915, bertemu dengan Sneevliet dan diajak masuk ke Indische Sociaal-Democratische Vereeniging, organisasi sosial demokrat Hindia Belanda (ISDV) afdeeling Surabaya yang didirikan Sneevliet dan Vereeniging voor Spoor-en Tramwegpersoneel, serikat buruh kereta api dan trem (VSTP) afdeeling Surabaya. Pekerjaan di Staatsspoor akhirnya ditinggalkannya pada tahun 1916 sejalan dengan kepindahannya ke Semarang karena diangkat menjadi propagandis VSTP yang digaji. Penguasaan bahasa Belanda yang baik, terutama dalam membaca dan mendengarkan, minatnya untuk terus memperluas pengetahuan dengan belajar sendiri, hubungan yang cukup dekat dengan Sneevliet, merupakan faktor-faktor penting mengapa Semaoen dapat menempati posisi penting di kedua organisasi Belanda itu. Sementara itu pengaruh Semaun menjalar ke tubuh SI. Ia berpendapat bahwa pertentangan yang terjadi bukan antara penjajah-penjajah, tetapi antara kapitalis-buruh. Oleh karena itu, perlu memobilisasikan kekuatan buruh dan tani disamping tetap memperluas pengajaran Islam. Dalam Kongres SI Keempat tahun 1919, Sarekat Islam memperhatikan gerakan buruh dan Sarekat Sekerja karena hal ini dapat memperkuat kedudukan partai dalam menghadapi pemerintah kolonial. Namun dalam kongres ini pengaruh sosial komunis telah masuk ke tubuh Central Sarekat Islam (CSI) maupun cabang-cabangnya. Dalam Kongres Sarekat Islam kelima tahun 1921, Semaun melancarkan kritik terhadap kebijaksanaan Central Sarekat Islam yang menimbulkan perpecahan[. Rupanya benih perpecahan semakin jelas dan dua aliran itu tidak dapat dipersatukan kembali. Dalam Kongres Luar Biasa Central Sarekat Islam yang diselenggarakan tahun 1921 dibicarakan masalah disiplin partai. Abdul Muis (Wakil Ketua CSI) yang menjadi pejabat Ketua CSI menggantikan Tjokroaminoto yang masih berada di dalam penjara, memimpin kongres tersebut. Akhirnya Kongres tersebut mengeluarkan ketetapan aturan Disiplin Partai. Artinya, dengan dikeluarkannya aturan tersebut, golongan komunis yang diwakili oleh Semaun dan Darsono, dikeluarkan dari Sarekat Islam. Dengan pemecatan Semaun dari Sarekat Islam, maka Sarekat Islam pecah menjadi dua, yaitu Sarekat Islam Putih yang berasaskan kebangsaan keagamaan di bawah pimpinan Tjokroaminoto dan Sarekat Islam Merah yang berasaskan komunis di bawah pimpinan Semaun yang berpusat di Semarang. Di Semarang, ia juga menjadi redaktur surat kabar VSTP berbahasa Melayu, dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, koran Sarekat Islam Semarang. Semaun adalah figur termuda dalam organisasi. Di tahun belasan itu, ia dikenal sebagai jurnalis yang andal dan cerdas. Ia juga memiliki kejelian yang sering dipakai sebagai senjata ampuh dalam menyerang kebijakan-kebijakan kolonial. Pada tahun 1918 dia juga menjadi anggota dewan pimpinan di Sarekat Islam (SI). Sebagai Ketua SI Semarang, Semaoen banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Pemogokan terbesar dan sangat berhasil di awal tahun 1918 dilancarkan 300 pekerja industri furnitur. Pada tahun 1920, terjadi lagi pemogokan besar-besaran di kalangan buruh industri cetak yang melibatkan SI Semarang. Pemogokan ini berhasil memaksa majikan untuk menaikkan upah buruh sebesar 20 persen dan uang makan 10 persen. Bersama-sama dengan Alimin dan Darsono, Semaun mewujudkan cita-cita Sneevliet untuk memperbesar dan memperkuat gerakan komunis di Hindia Belanda. Sikap dan prinsip komunisme yang dianut Semaoen membuat renggang hubungannya dengan anggota SI lainnya. Pada 23 Mei 1920, Semaun mengganti ISDV menjadi Partai Komunis Hindia. Tujuh bulan kemudian, namanya diubah menjadi Partai Komunis Indonesia dan Semaoen sebagai ketuanya. PKI pada awalnya adalah bagian dari Sarekat Islam, tapi akibat perbedaan paham akhirnya membuat kedua kekuatan besar di SI ini berpisah pada bulan Oktober 1921. Pada akhir tahun itu juga dia meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Moskow, dan Tan Malaka menggantikannya sebagai Ketua Umum. Setelah kembali ke Indonesia pada bulan Mei 1922, dia mendapatkan kembali posisi Ketua Umum dan mencoba untuk meraih pengaruhnya kembali di SI tetapi kurang berhasil. Semaun membangun partainya dengan berpijak pada kenyataan yang hidup di sekitarnya. Dengan begitu, Ia membangun propagandanya berdasarkan kenyataan-kenyataan sosial yang terhampar di depannya, seperti persoalan agraria, wabah pes, Indie Weebaar. Di tangannya, marxisme diterjemahkan dalam keadaan-keadaan khusus di sekitarnya. Pada tahun 1921, terjadi keretakan antara SI-PKI akibat serangan pribadi Darsono terhadap pimpinan SI, termasuk Tjokroaminoto. Situasi itu dimanfaatkan sayap konservatif SI untuk mendorong disiplin partai dan menendang keluar sayap kiri. Namun, Semaun getol menyerukan persatuan diantara kedua golongan guna mengakhiri keretakan itu. Kebijakan Semaun didukung oleh penggantinya, Tan Malaka, yang menganggap perpecahan timbul karena kritik yang ceroboh terhadap kepemimpinan Sarekat Islam. Ia mengimpikan sebuah kerjasama seperti Kongres Nasional di India, yang bisa menyatukan semua faksi untuk melawan imperialism. Anak didik Sneevliet ini bernama Semaun, salah satu kader komunisme yang berperan besar menurnbuhkan gerakan ini di Indonesia. Semaun adalah tokoh yang menggerakkan rnassa buruh untuk melakukan pernogokan besar-besaran, yang merongrong perekonomian Hindia Belanda pada dekade 1920-an. Kiprahnya tidak sebatas sebagai tokoh "Sarekat Islam yang berhaluan komunis", seperti yang dikatakan sejarah Orde Baru, tetapi juga aktivis buruh yang ditakuti oleh Belanda. Bersama Tan Malaka, Semaun memperkenalkan cara agresi pemogokan buruh. Selama satu abad penuh, pernogokan rnerajalela di Hindia Belanda hingga rnembuat pemerintahan kolonial kerepotan dan rugi besar. Sarekat Islam (SI). Paksi dalam SI yang berhaluan komunis kemudian dikenal dengan nama SI merah. Organisasi yang dimotori Haji samanhudi dan Tjokroaminoto, akhirnya bisa diruntuhkan dari dalam. Tanpa disadari, keputusan untuk mengangkat semaun sebagai Presiden Sarekat Islam Semarang, pada 6 Mei 1917, menjadi awal dari bencana. Sosialisme dan komunisme tanpa disadari telah menjadi jamur yang tumbuh dengan cepat di SI. Anggota SI dari kalangan buruh dan rakyat kecil kemudian memisahkan diri dari SI.[2]

C. Agus Salim
Tokoh-tokoh lain yang dianggap penting dalam perjuangan sarekat islam adalah agus salim. Ia dilahirkan di kota kedang Bukittinggi pada 8 oktober 1884 sebagai seorang anak dari pejabat pemerintah yang juga berasal dari kalagan bangsawan dan agama, salim menyelesaikan pelajaran sekolah menengahnya (HBS) di Jakarta dan kemudian bekerja pada konsulat belanda di Jeddah tahun 1906 sampai 1909. Perkenalan ia dalam sarekat islam amatlah ganjil, dia mendapat kabar dari seorang polisi belanda yang menyatakan bahwa cokroaminoto telah menjual sarekat islam kepada jerman dengan harga 150.000 poundsterling, dengan menggunakan uang itu I akan membangunkan pemberontakan besar di jawa, dan akan mendapat antuan persenjataan dari jerman. Dari kabar tersebut dia menyimpulkan dua hal, yang pertama kabar itu hanya bohong belaka. Yang kedua jika kabar itu benar maka akan menjadi yang besar bagi negeri dan rakyat. Lalu dia melakukan penyelidikan dan berkenalan dengan pemimpinnya yakni cokroaminoto, hiingga ia mengetahui tujuan mulia dari sarekat islam ang menyebabkan salim menjadi seorang anggota sarekat islam. [3]



D. Kiai Haji Samanhudi
Kiai Haji Samanhudi nama kecilnya ialah Sudarno Nadi. Adalah seorang anak dari pedagang batik bernama haji muhammadzein.keluarga ini pindah ke lawiyan, solo. Setelah menyelesaikan studinya di sekolah kelas dua, samanhudi membantu ayahnya erjualan batik sampai ia dapat berdiri sendiri dengan membuka perusahaan batik pada tahun 1888. Ia berhasil dalam bidang ini sehingga ia membuka cabang-cabang perusahaannya di berbagai kota di jawa seperti Surabaya, banyuwangi, tulung agung, bandung dan parakan. Pada tahun 1904 pergi ke Mekkah untuk naik haji dan kembali pada tahun berikutnya. Dalam dunia perdagangan, Samanhudi merasakan perbedaan perlakuan oleh penguasa penjajahan Belanda antara pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam dengan pedagang Cina pada tahun 1911. Oleh sebab itu Samanhudi merasa pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka. Pada tahun 1911, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk mewujudkan cita-citanya.Ia dimakamkan di Banaran, Grogol, Sukoharjo.Sesudah itu,Serikat Islam dipimpin oleh Haji Oemar Said Cokroaminito.[4]

E. Abdul Muis
Abdoel Moeis (lahir di Sungai Puar, Bukittinggi, Sumatera Barat, 3 Juli 1883. Ia menyelesaikan pendidikanya di sekolah belanda di bukittinggi. Ia juga merupakan keturunan bangsawan yang kuat beragama. – meninggal di Bandung, Jawa Barat, 17 Juni 1959 pada umur 75 tahun) adalah seorang sastrawan dan wartawan Indonesia. Pendidikan terakhirnya adalah di Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta akan tetapi tidak tamat. Ia juga pernah menjadi anggota Volksraad pada tahun 1918 mewakili Centraal Sarekat Islam. Abdul muis bergabung dengan central sarekat islam atas permintaan cokroaminoto yang melihat dia sebagai  seorang Indonesia yan erpendidikan dan pengalaman yang dapat diharapkan dengan sikap radikal pula terhadap ketidak adilan dn segala macam penderitaan orang-orang Indonesia, sifat-sifat yang sangat diperlukan pada masa itu untuk mebina gerakan tersebut. Kepemimpinan muis terlihat enanjak dan pada1916 ia menjadi wakil presiden central sarekat islam. Ia dan salim merupakan benteng dalam lingkungan sarekat islam terhadap penetrasi komunis pada masa periode kedua. Tetapi pada periode ketiga kedudukannya menurun sedangkan kedudukan salim bertambah menanjak. Namun kepemimpinan cokroaminto tidak tergoyah sama sekali. Pada Kongres Sarekat Islam Ketujuh tahun 1923 di Madiun diputuskan bahwa Central Sarekat Islam digantikan menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). dan cabang Sarekat Islam yang mendapat pengaruh komunis menyatakan diri bernaung dalam Sarekat Rakyat yang merupakan organisasi di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada periode antara tahun 1911-1923 Sarekat Islam menempuh garis perjuangan parlementer dan evolusioner. Artinya, Sarekat Islam mengadakan politik kerja sama dengan pemerintah kolonial. Namun setelah tahun 1923, Sarekat Islam menempuh garis perjuangan nonkooperatif. Artinya, organisasi tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, atas nama dirinya sendiri. Kongres Partai Sarekat Islam tahun 1927 menegaskan bahwa tujuan perjuangan adalah mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan agama Islam. Karena tujuannya adalah untuk mencapai kemerdekaan nasional maka Partai Sarekat Islam menggabungkan diri dengan Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).[5]

DAFTAR PUSTAKA

 [1]Abdillah,  Masykuri,  "Potret  Masyarakat  Madani  di  Indonesia",  dalam  Seminar Nasional tentang  "Menatap Masa Depan Politik  Islam  di Indonesia",  Jakarta:
 [2]Ali Daud, Muhammad, Asas-Asas Hukum Islam, Jakarta: Rajawali, 1991, Cet . ke-2
[3]Anwar, M. Syafi'i, Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia: Sebuah Kajian Politik tentangCendekiawan Muslim Orde Baru, Jakarta: Paramadina, 1995 
[4] Http//Id_wkipedia.org.tokoh-sarekat-islam
[5]Azra,  Azyumardi,  Islam  reformis:  Dinamika  Intelektual  dan  Gerakan,  Jakarta:  Raja Grafindo Persada, 1999


Tidak ada komentar:

Posting Komentar