Rabu, 23 Desember 2015

PERKEMBANGAN KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM ABAD XVI


ISNANI REFFILA DEWI /S/A

              Di Indonesia, Islam juga memiliki sejarah yang cukup panjang. Banyak kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri di Indonesia. Bahkan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia sempat menguasai beberapa wilayah di negara-negara tetengga seperti Malaysia, Filipina dan Thailand [1].
              Proses pemencaran agama Islam di Indonesia mengikuti jalan perdagangan, dan di dalam wilayah Indonesia sendiri demikian juga terjadinya. Dari pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur ada pemencaran ke Jawa Barat dan Maluku. Terutama di Jawa, setelah yang berkedudukan beragama Islam, maka penyebaran lebih lanjut berjalan melalui saluran-saluran formal. Dalam gelombang-gelombamg kemudian akan ada penyaluran lewat mistik antara lain dari Sumatra aliran tarekat dari Abdurrauf (dari singkel) dan Samsudin (dari pasai) sangat berpengaruh di pantai-pantai sumatra dan Jawa daam abad XVI.

Kerajaan Demak (1518-1550)
              Menurut tradisi seperti tercantum dalam historiografi tradisional Jawa, pendiri kerajaan Demak ialah Raden Patah, seorang putra raja Majapahit dari istri Cina yang dihadiahkan kepada raja Palembang. Sesuai dengan pola umum historiografi babad disini di tunjukkan adanya suatu kontinuitas dalam genealogi sehingga peralihan kekuasaan dengan demikian dapat disahkan. Dalam tradisi lain, seperti Sejarah Banten dan Hikayat Hasanudin, genealogi juga di kembalikan kepada nenek moyang Cina dan penguasa Palembang. Sedangkan Tome Pires menyebut seseorang yang berasal dari Gresik [2]. Kalau nama-nama berbeda sekali, sebaliknya tempat asal tidak perlu saling bertentangan. Kemungkinan ada daerah Cina dalam Dinasti Demak tidak tertutup, lebih-lebih kalau di ingat bahwa pada abad XVI ada penghuni di kota-kota pelabuhan yang berasal dari Cina [3]. Berita-berita dari abad XVII dan dari tradisi Jawa Barat memperkuat soal keturunan Cina yang sudah memeluk agama Islam serta berasal dari Gresik. Sebelum mendirikan kerajaan sudah menjabat patih Majapahit [4].
              Mengenai raja kedua, sementara ini sumber-sumber tradisional menyebut nama Cina, Cu-cu atau Sumangsang, sedang Pires menyebut Pate Rodin, maka sukar di identifikasikan [5]. Yang dapat di simpukan ialah bahwa pada masa kedua itu Demak sudah dapat berdiri sendiri, bebas dari hegemoni Majapahit.
              Sebagai raja Demak ketiga beberapa nama di sebut, Pate Rodin oleh Pires, Pangeran Sabrang Lor oleh tradisi Jawa Barat [6]. Menurut teori Rouffaer, Pate Rodin Sr. adalah Pate Unus seperti yangdi sebut dalam beberapa sumber Portugis [7]. Menurut Pires, Pate Unus berasal dari Kalimantan Barat Daya dan tergolong orang kebanyakan. Sekitar tahun 1470 dia pindah ke Jepara serta berkedudukan sebagai pedagang. Keterangan ini tidak bertentangan dengan cerita dari Barros yang menyebut Pate Unus sebagai seorang perompak yang telah berasil dalam perdagangan dan menjadi kaya. Rupanya lewat perkawinan dan pengumpulan pengikut dapatlah dia memperluas pengaruhnya. Pires menyebutkan bahwa dia menggantikan ayahnya, waktu berusia 17 tahu, yaitu pada tahun 1507 [8]. Politik ekspansinya membuat dia berhadapan dengan bangsa Portugis, dengan perlawanannya berupa serangan besar-besaran terhadap Malaka pada pergantian tahun 1512 ke 1513.
Ekspansi Demak
              Ekspansi Demak ke Jawa Barat dimulai dengan ekspedisi Syeh Nurullah atau yang kemudian di kenal sebagai Sunan Gunung Jati, yang berhasil berturut-turut mendirikan kerajaan Cirebon dan Banten. Bersamaan dengan ekspansi itu terjadilah proses Islamisasi daerah-daerah tersebut serta pengembangan kebudayaan Jawa.
              Menurut Babad Pasir daerah Banyumas dan Bagelen masuk lingkungan pengaruh Demak setelah Senopati mangkubumi masuk Islam, dan beberapa penguasa setempat, antara lain Carang Andul dan Bintang Karya, dapat di tundukkan oleh tentara Demak [9].
              Serangan terhadap Majapahit seperti yang diceritakan dalam historiografi tradisional belum dapat dipastikan historisitasnya, namun secarasimbolis sangat  penting artinya, ialah bahwa keruntuhan Majapahit dipandang sebagai akhirnya periode penting dalam sejarah, tidak hanya dari sudut penglihatan studi sejarah sekarang tetapi juga oleh para historiograf tradisonal. Menurut tradisi, tahun kejadian itu ialah menurut candrasengkala, sirna hilang kertaning bumi (1400 A.J. atau 1478 A.D.). kejadian ini diselubungi oleh mitos dan legenda sehingga memerlukan interpretasi tersendiri. Yang penting bagi pengetahuan sejarah ialah bahwa peristiwa itu menurut tradisi telah di pergunakan sebagai caesuur (garis pemisah) antara Jaman Kuno dan Jaman Baru dalam sejarah Indonesia [10].
              Dua kekutan yang berhadapan ialah penguasa yang berkedudukan lama, Majapahit di bantu vasal-vasalnya dari Klungkung, Pengging, dan Terung, dengan kekutan baru, ialah barisan Islam, ialah para ulama dari Kudus, imam masjid Demak, di bawah pimpinan pangeran Ngudung [11]. Menurut tradisi Jawa Barat (sejarah Banten) konfrontasi berlangsung beberapa tahun, baru pada tahun 1527 Majapahit dapat di taklukkan dan menurut tradisi raja Majapahit terakhir, Brawijaya menghilang. Pada tahun itu juga Tuban di taklukkan oleh Demak, salah satu negara vasal Majapahit meskipun sudah lama penguasanya masuk Islam.
              Berturut-turut di tundukkan Wirasari (1528), Gegelang (Madiun) pada tahun 1529. Mendangkung (Medang  Kumulan atau Blora) pada tahun 1530, Surabaya 1531, Pasuruan 1535, Lamongan, Blitar, Wirasaba, ketiganya pada tahun 1541 dan 1542., Gunung Penaggungan sebagai benteng para elite religius Hindu-Jawa 1543, Memenag atau Kediri 1549, Sengguruh (Malang) pada tahun 1545, dan sebagai sasaran terakhir adalah Panaruakan dan Blambangan. Menurut satu tradiisi di sebut bahwa pada tahun 1546 Blambangan ditaklukkan, sedang tradisi lain mengatakan bahwa pada tahun itu Sultan Trenggana gugur dalam pertempuran menyerbu Panarukan [12].
Kerajaan Cirebon
              Menurut tradisi seperti tertera dalam historiogafi tradisional pendiri kerajaan Cirebon adalah Sunan Gunung Jati. Dalam sumber sejarah Banten namanya ialah Faletehan atau Tagaril. Menurut Pires, ayah dari Pate Rodin Sr.lah yang mendirikan pemukimandi Cirebon itu. Seperti telah disebut di atas, Pires mengetahui bahwa didaerah Pesisir Jawa Tengah antara Cirebon dan Demak ada pelabuhan Losari, Tegal, dan Semarang, ketiganya mengekspor beras. Wajar apabila pada awal abad XVI ada hubungan ramai antara Demak dengan kota-kota itu dan seterusnya pelabuhan-pelabuhan di Jawa Barat. Sebelum ada komunikasi ini, Jawa Barat sudah mempunyai hubungan dengan Jawa Timur. Waktu itu di Priangan ada Kerajaan Pajajaran dengan pelabuhannya Sunda Kelapa di sebelah barat dan Kerajaan Galuh di sebelah timur. 
              Bahwasanya Cirebon pada awal abad XVI sudah mempunyai perdagangan ramai dan hubungan erat dengan Malaka terbukti dari keterangan Pires yang menyebutkan nama syahbandar koloni Cirebon di Upih Malaka, ialah Pate Kadir. Dia sangat terkemuka dan mempunyai hubungan baik dengan raja.
              Sumber-sumber tradisional, setengahnya menunjukkan hubungan pendiri Cirebon dengan tokoh-tokoh agama di Jawa Timur seperti Raden Rahmat, setengahnya hubungan dengan dinasti di Pasundan, antara lain di sebutkan bahwa raja legendaris dari Pajajaran dan Galuh, Aria Bangah, adalah saudaranya [13].
              Dalam mengikuti tradisi Jawa Barat, Nurullah melakukan ibadah haji dan sekembalinya (1524) dari Mekkah tinggal di Demak. Disana ia kawin dengan seorang saudara perempuan Sultan Trenggana.
              Tidak lama kemudian Nurullah bertolak ke Banten dimana didirikannya pemukiman bagi pengikutnya kaum muslimin. Sepeninggal putranya, Pangerann Pasareyan, Nurullah yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Gunung Jati pindah ke Cirebon, sedang pemerintahan di Banten di serahkan kepada seorang putra lain,  Hasanuddin.
              Sunan Gunung Jati di ganti oleh Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu pada tahun 1570. Selama pemerintahannya di peihara hubungan damai dengan Mataram dan para penguasa lokal di sebellah barat Mataram. Dapat di tafsirkan bahwa mereka itu termasuk potentat lokal dari golongan gentry. Mereka adalah elite yang berkuasa dan lazimnya mempunyai daerah pengaruh yang melampaui desanya. Dalam jaman Mataram kuno mereka bergelar Rakai atau Rakyan, dan pada jaman Mataram baru memakai gelar kyai Ageng atau Panembahan, contohnya kyai Ageng Sela, kyai Ageng Mangir, kyai Ageng Pamanahan. Rupanya para penguasa itu kemudian mengakui suzereinitas baik Cirebon maupun Mataram, tanpa mengadakan banyak perlawanan, kekecualian dalam hal ini ialah perlawanan Kyai Bocor dan Kyai Ageng Mangir terhadap hegemoni Mataram.
Kerajaan Banten
              Pada awal abad XVI di jawa Barat terdapat pusat kekuasaan yang berkedudukan di Pakuan atau seperti di beritakan oleh Portugis, Dayo, sebagai ibu kota Kerajaan Pajajaran. Hal ini di sebut dalam prasasti Sunda Kuno dengan tahun 1355 Saka atau 1433 A.D. Sumber  Portugis menyebut Sunda Kelapa sebagai pelabuhan yang penting, antara lain karena ekspor lada.
              Usaha Demak dalam ekspansinya kearah barat berupa pemukiman perintis yang di pimpin oleh Nurullah tersebut di atas. Peristiwa ini terjadi kira-kira pada tahun 1525 dan dapat di anggap sebagai pendirian Kerajaan Banten. Dari sini di lakukan ekspedisi ke pedalaman dan ke pelabuhan-pelabuhan lain, terutama ke Sunda Kelapa. Kota ini berhasi di taklukkan pada tahun 1527. Peristiwa ini menggagalkan usaha Portugis di bawah pimpinan Henri Leme, untuk mengadakan perjanjian dengan raja Sunda. Hal ini sebenarnya merupakan tindak lanjut dari kontak yang di adakan pada tahun 1522. Kemenangan Hasanuddin ditandai oleh pergantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Dengan di taklukkannya Jayakarta, Banten memegang peranan lebih penting serta dapat menarik perdagangan lada ke pelabuhannya.
              Menurut historiografi Banten, Hasanuddin di anggap sebagai pendiri Kerajaan Banten. Dia kawin dengan seorang putri Demak, ialah putri Sultan Trenggana, menurut dugaan perkawinan itu terjadi pada tahun 1522. Dari perkawinan ini lahirlah dua orang putra, yang tertua Maulana Yusuf dan yang kedua Pangeran Jepara. Yang terakhir ini disebut demikian karena sebagai menantu Ratu Kali Nyamat kemudian menggantikannya sebagai penguasa Jepara.
              Ekspansi Banten di bawah pimpinan Hasanuddin, juga di kenal dalamt tradisi rakyat sebagai Pangeran Saba Kingking, kemudian mencapai Lampung yang juga penting peranannya sebagai penghasil lada.
              Sepeninggal Hasanuddin sekitar tahun 1570, Maulana Yusuf yang menggantikannya meneruskan politik ekspansinya. Yang menjadi sasarannya ialah Pakuan Pajajaran. Meskipun tradisi rakyat menyebut Hasanuddin sebagai penakluknya, data sejarah lebih memperkuat fakta bahwa Maulana Yusuf-lah yang melakukannya. Konon menurut tradisi pula raja Pajajaran beserta keluarga menghilang setelah kraton jatuh ke tangan pasukan Banten.
              Tahta kerajaan Banten menjadi perebutan waktu Maulana Yusuf meninggal pada tahun1580, putranya Maulana Muhammad belum dewasa sehingga Pangeran Jepara merasa berhak menduduki tahta. Dengan angkatan lautnya diserangnya Banten, akan tetapi mengalami kekalahan dan terpaksa menghentikan intervensinya. Maulana Muhammad ternyata mendapat dukungan kuat dari para pemimpin agama.
              Akibat kegagalan intervensi Jepara ialah bahwa Cirebon dan Banten dapat menegakkan kedudukannya, bebas dari pengaruh kerajaan-kerajaan Jawa Tengah. Pergolakan serta pergeseran kekuasaan di Jawa Tengah sendiri juga menjadi faktor penyebab, Demak dapat di tundukkan oleh Pajang (1581) dan kemudian Pajang oleh Mataram.
              Ekspansi Banten di bawah pemerintahan Maulana Mohamad di arahkan ke Palembang, antara lain atas dorongan seorang pelarian dari Demak, ialah pangeran Mas. Ekspedisi itu akhirnya mengalami kegagalan, Maulana Mohamad gugur di medan pertempuran 1586.  

Daftar Kutipan
[2] A.Cortesao, (ed. & transl.) op.ct., hlm. 11.
[3] R.A. Kern. Islam in Indonesie, ('s-Gravenhage, 1947), hlm. 11.
[4] H.J. de Graaf & Th.G.Th. Pigeaud, "De Eerste Moslimse Vorstendom-men op Java: Studien over de Staatkundige Geschiedenis van de15een 16e Eeuw", VKI, 69 (1974), hlm.39.
[5] Ibid., hlm. 39-41.
[6] Ibid., hlm. 45.
[7] P.A. Tiele, "De Europeers in den Maleischen Archipel", BKI, 25 (1877), hlm.346.
[8] H.J. de Graaf & Th.G.Th.Pigeaud (1974), op.cit., hlm. 44.
[9] Ibid., hlm. 56-57
[10] Sartono Kartodirdjo, "Periodisasi Sejarah Indonesia", (Prasaran Seminar Sejarah I), (Yogyakarta, 1958), hlm. 110-128.
[11] H.J. de Graaf & Th.G.Th. Pigeaud (1974), op.cit., hlm. 93.
[12] Ibid., hlm. 57-59.
[13] Ibid., hlm. 111.

1 komentar: