Rabu, 23 Desember 2015

Romusha


Wita Afrianti S/A

Romusha (buruh,pekerja) adalah panggilan bagi orang-orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia dari tahun 1942 hingga 1945.Kebanyakan romusa adalah petani,dan sejak Oktober 1943 pihak Jepang mewajibkan para petani menjadi romusa.Mereka dikirim untuk bekerja di berbagai tempat di Indonesia serta Asia Tenggara.
          Romusa adalah sebuah kata Jepang yang berarti semacam " serdadu kerja " yang tenaganya dibutuhkan demi kepentingan perang pasifik yang dialami Jepang melawan tentara sekutu pada Perang Dunia II.

            Dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia (1990:248) ,romusa asal kata dari bahasa Jepang yang berarti kuli atau tenaga kerja.Lebih lanjut diterangkan Romusa adalah nama barisan pekerja Jawa yang tidak termasuk bagian ketentaraan akan tetapi umumnya dipekerjakan di garis belakang dari berbagai medan pertempuran.
            Menurut Ensiklopedia Nasional Indonesia (1984:2934),romusa adalah tenaga kerja paksa di dalam pendudukan Jepang yang dipekerjakan di sarana strategis demi kepentingan pertahanan Jepang dan mengalami perlakuan lebih buruk dari pada kerja rodi zaman Belanda.
           Dalam bahasa Jepang, romusha berarti "pahlawan kerja". Romusha di Indonesia dipakai untuk menyebut tenaga kerja paksa di zaman pendudukan Jepang (1942–1945). Para romusha dipekerjakan untuk kepentingan membangun pertahanan pasukan Jepang.Romusya adalah rakyat yang dikerahkan oleh militer Jepang untuk membuat jalan,jembatan,rel kereta api dan sebagainya dalam Perang Dunia II di wilayah pendudukannya;banyak diantara mereka yang mati karena penderitaan.
           Apapun artinya, romusa adalah orang-orang yang dipaksa kerja berat di luar daerahnya,selama pendudukan Jepang bagi kepentingan tercapainya kemenangan akhir.Waktu itu setiap kepala keluarga diwajibkan menyerahkan seorang anak lelakinya dibawah usia 30 tahun untuk berangkat menjadi romusa.Tenaga- tenaga tersebut didatangkan dari Jawa sebagai pulau yang paling padat penduduknya untuk dikirim dan dikerahkan ke proyek-proyek tentara Jepang di Jawa dan pulau-pulau lain bahkan hingga ke Singapura dan Thailand.
1.Latar Belakang Jepang Mengeksploitasi Romusa
            Ketika perang pasifik pecah yang diawali dengan serangan udara mendadak Jepang terhadap pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) di Pearl Harbor,Hawaii pada tanggal 7 Desember 1941.Saat itu pulalah dimulainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Jepang.Tentu saja peperangan antara kedua kubu tersebut membutuhkan biaya,tenaga dan bahan makanan yang tidak sedikit.
            Dalam waktu yang sangat singkat Angkatan Perang Jepang telah dapat merebut dan menduduki hampir seluruh wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara,termasuk Hindia Belanda.Hingga pada tanggal 8 Maret 1942 tentara Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang.Maka berakhir pulalah pemerintahan penjajahan bangsa Belanda di Indonesia digantikan oleh penjajahan bangsa Jepang.
             Pada akhir tahun 1942 keadaan perang pasifik semakin menyulitkan tentara Jepang untuk mencapai obsesinya sebagai negara ekspansionis yang sukses dan satu-satunya di wilayah Asia.Jika pada awal peperangan Jepang bertindak agresif-ofensif,selalu menyerang .Maka pada awal tahun 1943 tentara Jepang lebih bersifat defensif dari serangan balik Amerika Serikat sehingga Pimpinan tentara Jepang merencanakan siasat perang selama mungkin untuk menahan dan menghambat kemajuan tentara sekutu.Untuk keperluan itu tentara Jepang sangat membutuhkan bantuan tenaga dari bangsa Indonesia yang menjadi daerah jajahannya.
2.  Tujuan Jepang Mengeksploitasi Romusa
      Di pulau Jawa menyimpan sumber daya yang melimpah dan dapat dimanfaatkan adalah penduduknya.Oleh Jepang,penduduk tersebut dimanfaatkan tenaganya sebagai sumber daya penting selain sumber alam.Maka jutaan orang dimobilisasi sebagai romusa untuk melakukan pekerjaan berat di dalam dan luar pulau Jawa bahkan sampai ke luar wilayah Indonesia.
       Pada awalnya romusa di pekerjakan sebagai tenaga produktif di perusahaan-perusahaan,kedudukannya seperti buruh biasa.Kebijakan mobilisasi mereka ke luar Jawa dimaksudkan untuk menciptakan produktivitas akibat pengurangan produktivitas pertanian dan perkebunan di Pulau Jawa.Memasuki pertengahan tahun 1943 ,kebijakan pengerahan romusa berubah menjadi usaha eksploitasi.Pengambilan dan penempatan romusa oleh Angkatan Perang dilakukan dengan serius.Ada tiga alasan mengapa eksploitasi romusa dilakukan.Pertama,kondisi perang Pasifik semakin memburuk bagi Jepang.Kedua,adanya tuntutan memenuhi kebutuhan sendiri (swasembada) bagi setiap Angkatan Perang di daerah pendudukan. Ketiga, adanya motivasi ekonomi yang merupakan tujuan utama imperialisme Jepang ke Indonesia. Keempat,Jepang kekurangan tenaga dalam peran mensukseskan Perang Pasifik yang sedang dijalaninya guna untuk membuat kubu – kubu pertahanan,lubang-lubang pertahanan,lapangan-lapangan udara,rel kereta api,pertambangan batu bara,perkebunan jarak sebagai minyak dan sebagainya.
       Mulai saat itu tenaga romusa bukan hanya diperlukan untuk eksploitasi ekonomi,tetapi juga diperlukan untuk proyek-proyek yang secara langsung berkaitan dengan perang.Pada taraf ini permintaan terhadap romusa menjadi tak terkendali.Di setiap desa dan wilayah ,laki-laki dan perempuan usia produktif diinventarisir oleh kepala desa atau kepala wilayah dan kemudian mereka dikenai kewajiban kerja tanpa terkecuali.

SEJARAH ROMUSA SEBAGAI PUNCAK PENDERITAAN RAKYAT DI BAYAH
Proses Rekrutmen Romusa di Pertambangan Bayah
          Pertambangan Bayah merupakan salah satu tempat eksploitasi yang menjadi strategi pemerintahan militer Jepang untuk memenangkan perang Asia Timur Raya.Di sana bukan hanya terdapat pertambangan batu bara saja tetapi juga proyek pembuatan rel kereta api juga.Pada prosesnya,pertambangan Bayah tidak mengambil tenaga kerja dari penduduk pribumi.Penduduk pribumi hanyalah berkonsep pada pengerahan yang bersifat kerja bakti (kinrohonsi) seperti membuat dan memperbaiki jalan dan jembatan.Sedangkan untuk tenaga romusa sendiri dimobilisasi dari Jawa Tengah ,Jawa Timur dan sedikit dari Cirebon.
Ada tiga alasan Jepang melakukan rekrutmen dan mobilisasi romusa dari Jawa Tengah dan Jawa Timur,antara lain:
  1. Penduduk Bayah atau Banten Selatan yang ada secara umum sudah terikat dengan kewajiban kinrohonsi (kerja bakti) dengan pemerintahan Jepang.
  2. Penduduk Bayah masih sangat sedikit sehingga tidak memadai dan mencukupi untuk kerja di pertambangan.
  3. Adanya keinginan penguasa militer Jepang di Jawa untuk mempercepat produksi pertambangan Bayah sehingga mendatangkan tenaga romusa secara besar-besar.
           Dalam proses rekrutmen dan mobilisasi,terdapat dua unsur yang berkaitan,yaitu pelaku rekrutmen dan sasaran rekrutmen.Sedangkan keberhasilan perekrutan ditentukan oleh cara-cara yang digunakan pelaku perekrutan dalam mempengaruhi sasaran perekrutan.
  1. Pelaku Rekrutmen
          Pelaku rekrutmen diartikan sebagai orang-orang atau lembaga yang secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam proses perekrutan.Pada tingkatan tertinggi ,rekrutmen romusa diorganisasi langsung oleh Pemerintah Militer Pusat Angkatan Darat ke-16 Jawa,sedangkan proses perekrutan dan transportasi pengiriman romusa ke daerah-daerah tujuan menjadi tanggung jawab Romokyokai (biro tenaga kerja).Biro ini dibentuk dari pusat hingga tingkat Karesidenan (Shu),Romokyokai berkewajiban menentukan jatah (kuota) romusa yang harus disediakan oleh karesidenan-karesidenan di Jawa dari mengontrol penempatannya ke daerah tujuan pekerjaan.
          Selanjutnya jatah untuk karesidenan dibagi lagi kepada kabupataen-kabupaten.Dari kabupaten (ken) kuota penyediaan romusa untyuk daerahnya diberikan kepada kewedanan (Gun).Perekrutan dari tingkat kabupaten dipimpin oleh pangreh praja (bupati) yang juga ketua BP3 (Badan Pembantu Prajurit Pekerja) di daerahnya.Selanjutnya pangreh praja menugaskan kepada kepala-kepala desa (Kuncho) dalam wilayahnya kekuasaanya untuk menyediakan tenaga dalam jumlah tertentu.Setiap desa (Ku) rata-rata harus menyediakan romusa 20-50  orang romusa per-minggu.
          Setelah rakyat memberikan kepercayaan dan mau terlibat dalam kerja-kerja romusa,perekrut dari Pangreh Praja inilah yang mendata,mengumpulkan dan memberangkatkan romusa dari desa ke kecamatan lalu kabupaten kemudian diberangkatakan ke Bayah.
2.      Sasaran Rekrutmen
           Sasaran rekrutmen merupakan orang-orang atau kelompok orang yang telah memenuhi kriteria untuk dilibatkan ke dalam pekerjaan-pekerjaan yang diadakan oleh pemerintah militer Jepang.Orang –orang ini biasanya bertempat tinggal di wilayah-wilayah target perekrutan.Telah dijelaskan bahwa wilayah yang menjadi target perekrutan adalah pemduduk dari Jawa Tengah dan Jawa Timur.Dari daerah-daerah tersebut,pria-wanita,tua-muda,usia produktif adalah sasaran perekrutan.Menurut peraturan yang dikeluarkan oleh Romukyokai ,laki-laki dan perempuan tersebut harus berumur antara 14-45 tahun,dan bagi laki-laki diutamakan berbadan sehat,kuat,dan tegap karena pekerjaan romusa sangat berat.
            Tetapi ,dalam kenyataannya banyak hal yang dilanggar ketika peraturan tersebut berhadapan dengan pelaksanaan.Pada prosesnya banyak pangreh praja asal ambil saja dari masyarakat karena terdesak kuota.Agar kuotanya terpenuhi aparat desa tersebut mengambil orang tua,pemuda,dan anak-anak muda usia sekolah yang masih di bawah 14 tahun untuk dijadikan romusa.
3.      Cara-Cara Rekrutmen
             Cara-cara rekrutmen adalah tindakan yang dilakukan oleh perekrut untuk mempengaruhi targetnya agar berperilaku dan bertindak sesuai dengan keinginan dirinya.Berbagai cara dilakukan perekrut untuk mempengaruhi penduduk  agar mau diajak ke dalam kerja romusa.Secara umum yang sering dihadapi romusa adalah sebagai berikut:

a.       Dengan cara membujuk dan merayu
           Cara ini dilakukan terhadap penduduk yang berlatar belakang pengangguran,pengemis,dan penjahat dan juga terhadap golongan usia muda.Golongan pengangguran,pengemis,dan penjahat umumnya langsung tertarik dengan bujuk rayu itu dengan menjanjikan pekerjaan ,gaji dan makanan bagi mereka.Sedangkan untuk golongan muda dengan sedikit tipuan yaitu selain dijanjikan pekerjaan dan gaji serta apabila telah bekerja dalam masa tiga bulan akan digantikan dan direkrut menjadi menjadi pemuda sukarela(kemiliteran) di Jakarta.
b.      Dengan cara tipu muslihat
            Modusnya seseorang tiba-tiba disuruh mendaftar oleh kepala desa untuk menggantikan bapak atau saudaranya yang tidak bisa mengikuti romusa,atau petani yang sedang bekerja di sawah didatangi perangkat desa dan diperintahkan berkumpul ke balai desa untuk mendapat pelatihan.Namun,mereka kemudian diangkut ke Bayah tanpa diberi kesempatan untuk berpamitan ke keluarga mereka.Ketika mereka tahu kalau akan dijadikan romusa banyak dari mereka melarika diri ketika kereta berhenti atau meloncat dari gerbong ketika kereta sedang berjalan.Banyak peristiwa seperti ini sehingga menyebabkan korban romusa tidak terhitung.
c.       Dengan Cara memaksa
           Cara ini dilakukan apabila penduduk tidak lagi bisa dibujuk untuk dijadikan romusa.Pada situasi ini biasanya penduduk telah mendengar kabar tentang kekejaman dan kesengsaraan saudara-saudaranya di pertambangan Bayah.Sehingga ketika nama mereka dicantumkan namanya ke dalam daftar pekerja untk diberangkatkan oleh kepala desa ,mereka cenderung menentang dan menolaknya. Kuncho yang takut gagal memenuhi kewajibannya terhadap Jepang berusaha dengan berbagai cara,seperti menangkapi petani yang sedang bekerja di sawah,bahkan melakukan peculikan anak-anak sekolah yang sedang belajar di sekolah.Cara ini biasanya mendapat dukungan dari pejabat kecamatan dengan mengirimkan tentara Jepang ke desa-desa tersebut.


Kondisi Lingkungan Kerja dan Pekerjaan Romusa
            Romusa di pertambangan Bayah adalah orang-orang yang datang bukan untuk mengadu nasib atau mencari penghidupan yang lebih baik.Tetapi,orang-orang yang tertipu sehingga menjadi korban kewajiban kerja paksa Jepang.
Romusa di pertambangan Bayah terbagi ke dalam dua kategori,antara lain:
  1. Romusa yang memiliki keahlian
          Romusa semacam ini sangat dibutuhkan di pertambangan Bayah.Mereka sebelum dikirim sudah memiliki profesi seperti ahli bangunan,ahli mesin,pembuat jalan dan jembatan,pegawai kereta,masinis,sopir,ahli dalam pembukaan hutan serta ahli dalam pengeboran.Mereka akan dijadikan juru tulis,mandor,dsb
2.      Romusa tanpa keahlian
           Romusa dalam kategori ini adalah romusa yang dari tempat asalnya tidak mempunyai keahlian apa-apa.Mereka umumnya berprofesi sebagai petani,gelandangan,pengemis,dsb.
Golongan ini adalah mayoritas romusa di pertambangan Bayah.Romusa yang tidak memiliki keahlian ini dibedakan menjadi tiga kelompok,antara lain:
  1. Kelompok romusa dengan kondisi badan lemah
  2. Kelompok romusa dengan kondisi badan sedang
  3. Kelompok romusa dengan kondisi badan sedang
Kondisi pekerjaan merupakan gambaran aktivitas romusa yang berhubungan dengan pelaksanaan kerja yang diberikan oleh Jepang di pertambangan Bayah.Kondisi kerja tersebut dibedakan menjadi:
  1. Kondisi Kerja Romusa non Tambang
            Romusa non tambang dipekerjakan pada pekerjaan-pekerjaan biasa seperti membuat jalan raya dan jalan kereta,membuka hutan,membuat bangunan-bangunan dan pekerjaan-pekerjaan lain yang sifatnya tidak berat.Sebelum dan selama melakukan pekerjaan ,romusa-romusa dibagi ke dalam regu-regu kecil.Setiap regu berjumlah 15 sampai 20 orang dan dipimpin oleh seorang ketua regu.Setiap regu ditentukan target kerja yang harus dicapai setiap harinya.Untuk pekerjaan merambah hutan,setiap regu ditetapkan harus mengumpulkan kayu dalam jumlah kubikan tertentu dan penebangan dalam luas tertentu.Dalam membuat jalan ditentukan berapa meter yang harus diselesaikan dan dalam membuat bangunan juga ditentukan batas waktu jadinya suatu bangunan tersebut.
            Pekerjaan ini umumnya tidak begitu berat,tetapi kondisi tubuh romusalah yang mengakibatkan pekerjaan itu menjadi berat,karena banyak romusa yang sakit dan lemah diharuskan tetap bekerja.Dalam peraturan yang harus dilaksanakan oleh Kigotai bahwa setiap romusa yang sakit tapi masih bisa berdiri dan berjalan diharuskan tetap bekerja kecuali sudah tidak dapat berdiri dan bergerak.Lagi pula bekerja adalah satu-satunya cara romusa agar bisa bertahan hidup,karena dengan bekerja sedikit makanan agar dapat bertahan hidup masih bisa didapatkan.
2.      Kondisi Kerja Romusa Tambang
            Pekerja tambang adalah romusa yang dalam pekerjaannya berhubungan dengan pengambilan batu bara di dalam lubang-lubang penambangan dan aktivisnya lebih banyak berada di bawah tanah.Aktivitas di lubang penambangan berlansung 24 jam yang dibagi dalam empat shift.Setiap shift romusa mendapatkan waktu kerja selama 6 sampai 7 jam.Seperti pada romusa non tambang,romusa ditambang juga dibagi kedalam kelompok atau regu yang masing-masing terdiri dari 10 sampai 12 orang.Setiap regu dipimpin oleh ketua regu ,yang beranggotakan 2 orang pemegang mesin bor,2 orang pemasang dinamit,dan selebihnya adalah tukang pecah batu bara dan pengangkut.
            Dalam satu shift ,lubang-lubang penambangan diisi oleh 4 sampai 6 regu,di awah pengawasan langsung satu orang mandor.Jadi,dalam 4 shift terdapat empat mandor.Mandor-mandor tersebut mempertanggung jawabkan pekerjaannya kepadaseorang mandor utama yang disebut mandor besar.Setiap mandor besar dalam pekerjaannya bertanggung jawab langsung kepada seorang Jepang kepala bagian romusa.
            Proses penambangan di dalam lubang menimbulkan kecelakaan kerja,seperti tertimpa longsoran tanah,terkena ledakan dinamit,terbentur dinding batu,terkena pentalan batu dari ledakan,kebakaran di dalam tambang,kekurangan oksigen,hingga keracunan gas di dalam lubang.Hal ini terjadi sebagian besar karena kelalaian Jepang yang tidak memberikan alat-alat keselamatan yang memadai selama proses penambangan.
            Selain kecelakaan kerja ,hal umum yang selalu dialami semua romusa adalah kelelahan fisik yang amat sangat dan menurunnya daya tahan tubuh akibat kekurangan pangan dan berbagai penyakit yang dideritanya.Dalam kondisi ini pekerjaan yang sudah berat dirasakan semakin menyiksa dan menimbulkan penderitaan yang berkepanjangan akibat tidak dipenuhinya hak-hak dasar pekerja yang semestinya seperti mendapatkan makanan dan pakaian,upah ,dan pelayanan kesehatan untuk memulihkan kondisi badan sulit didapatkan.Akibatnya dalam jangka panjang pekerjaan romusa di pertambangan benar-benar menjadi tragedi kemanusiaan yang dahsyat.
Penderitaan yang Dialami Romusa di Bayah
            Kebijakan romusa yang dilancarkan oleh pemerintah Jepang untuk memenangkan perang pasifik ternyata menimbulkan penderitaan –penderitaan yang amat berat bagi sebagian rakyat Indonesia.Semula tugas-tugas yang dibebankan kepada para romusa bersifat sukarela.Akan tetapi lama kelamaan berubah menjadi kerja paksa yang dinilai lebih kejam daripada kebijakan culturstelsel (semacam kerja paksa) pada zaman penjajahan Belanda.Dalam hal ini penderitaan yang dialami rakyat Bayah akibat romusa adalah :
  1. Sistem Upah
            Layaknya suatu pekerjaan,pasti akan mandapatkan hasil dan pekerjaan harus diberi imbalan.Begitu pula dengan romusa-romusa di pertambangan Bayah,mereka pun mendapatkan upah yang berupa uang dan bahan makanan atau beras.Dalam hal ini terdapat ketidaksesuaian upah dari yang semula dijanjikan oleh Jepang.Untuk pekerja lubang penambangan,mereka mendapatkan upah 40 sen-60 sen dan beras 400 gram per harinya,sedangkan romusa berkeluarga mendapatkan beras 750 gram per hari.Romusa bukan pekerja lubang menerima upah antara 15 sen -40 sen dan beras 250 gram.Dalam bentuk bahan makanan ini Jepang tidak mutlak memberikannya dalam bentuk beras tetapi diberikan juga dalam bentuk nasi siap saji.Nasi yang diberikan terhadap romusa kadang-kadang masih bercampur dengan butiran gabah atau kerikil dengan pelengkap sayur bening tanpa bumbu yang isinya pepaya mentah atau genjer ditambah ikan asin (kalau ada),seringnya tidak ada.Sedangkan dalam hal upah berupa uang setiap romusa pasti mendapatkannya tetapi jimlahnya tidak tentu dan tidak berlanjut.Hal ini tentu saja menanmbah penderitaan romusa selama bekerja.
2.      Beratnya Beban Kerja
           Romusa merasakan beratnya beban kerja secara fisik dan psikis.Secara fisik apa yang dikerjakan pada saat itu sangat bertolak belakang dengan yang biasa mereka kerjakan sehari-hari di daerah asalnya.Di tempat kerja baru,mereka berhadapan dengan pekerjaan baru (di pertambangan batu bara Bayah) yang sama sekali belum pernah mereka kerjakan sebelumnya dengan pola kerja yang ketat.Dalam kondisi seperti itu,mau tidak mau harus mematuhi apa yang diperintahkan Jepang.Menolak perintahnya berarti menanti hukuman berat yang akan diberikan Jepang.Selain itu,adanya ketentuan tidak tertulis yang menyebutkan bahwa untuk mendapatkan makanan maka romusa harus bekerja,dan yang tidak bekerja tidak akan terdaftar dalam penerima ransuman nasi atau jatah beras.
           Secara psikis,kita bisa melihat pada masa awal perekrutan.Romusa direkrut dengan cara-cara yang tidak patut dan secara emosional hal itu menyebabkan para romusa menjadi tertekan.Sehingga banyak dari mereka yang akhirnya tidak ikhlas bekerja dan hendak kabur dari tempat romusa untuk kembali berkumpul dengan keluarga yang telah lama ditinggalkan.
3.      Kurangnya Makanan dan Pakaian
          Makanan adalah unsur penting bagi romusa agar bisa bertahan hidup dan mendapatkan energi agar dapat tetap bekerja.Dalam hal ini makanan memang diberikan dalam dua kali sehari,beras bagi romusa yang berkeluarga,dan nasi bagi romusa yang tidak berkeluarga.Yang jadi masalah bagi romusa adalah takarannya yang tidak sesuai dengan kebutuhan harian dan kualitasnya tidak layak konsumsi bila dibandingkan dengan energi yang harus mereka keluarkan sehari-hari dalam pekerjaannya.Beras yang diberikan tidak semua dapat dikonsumsi karena kadang kala masih bercampur dengan gabah,jagung atau bahkan kerikil kecil.Selain itu tak jarang romusa mendapatkan makan pagi,tetapi sorenya tidak.Bersama nadi tersebut diberikan juga sayur pepaya tau daunsingkong,genjer,kangkungb tanpa bumbu dan lauknya sekali-kali ikan asin.
          Pakaian sama halnya dengan makanan yang merupakan barang langka dan sulit didapatkan.Pakaian yang diberikan Jepang kepada romusa berupa baju dan celana yang terbuat dari bahan karung goni untuk laki-laki dan lempengan karet (lateks) untuk perempuan.Bagi romusa memakai pakaian itu adalah siksaan dan sangat tidak nyaman karena menyebabkan panas dan gatal-gatal,juga menyebabkan iritasi kulit apabila bergesekan dengan serat-seratnya yang sangat kasar.Pakaian ini selain digunakan romusa untuk bekerja di lubang pertambangan ,proyek penambangan,dan membabat hutan,juga untuk pakaian sehari-hari.Hal ini biasa terjadi karena romusa hanya memiliki satu buah pakaian dalam jangka waktu yang  lama.

4.      Wabah Penyakit
        Wabah penyakit merupakan pembunuh nomor satu di pertambangan Bayah.Menurut Tan Malaka (2000:349),dalam sehari tidak kurang 400-500 orang romusa meninggal dunia di seluruh wilayah pertambangan Bayah.Wabah penyakit timbul dan menyebar disebabkan oleh:
5.      Kondisi Lingkungan yang tidak sehat
         Pemukiman romusa oleh Jepang umumnya ditempatkan di sekitar lubang-lubang penambangan di tengah hutan dan tepi pantai yang potensial sebagai sarang nyamuk malaria.Juga tidak terdapat fasilitas MCK yang baik dan memadai.Romusa terbiasa untuk menggunakan sungai-sungai untuk aktivitas tersebut.Hal ini berpotensi menyebabkan malaria ,disentri,dan kolera.
6.      Kondisi badan romusa yang lemah
            Pekerjaan berat dan kurangnya makanan membuat tubuh romusa sangat lemah dan memiliki tingkat imunitas yang rendah terhadap potensi penyakit yang akan menyerang tubuhnya.Sehingga ketika disekelilingnya teradapat potensi penyebaran dari lingkungan dan penularan dari sesama romusa maka romusa tersebut sangat rentan sekali terjangkit.
7.      Kondisi badan dan pakaian yang kotor
            Pakaian dan badan yang kotor berpotensi terjangkitnya penyakit kulit yang diakibatkan oleh parasit-parasit atau kutu busuk yang menempel ditubuh dan pakaian tersebut.Apalagi pakaian romusa adalah pakaian multiguna,yaitu pakaian sehari-hari dan bekerja.Juga disebabkan oleh bahan pakaian yang digunakannya,yaitu karung goni yang menjadi tempat tinggal nyaman kutu busuk yaitu tuma penghisap darah.Tuma ada hampir di seluruh pakaian romusa di pertambangan Bayah,biasanya tinggal dalam pori-pori karung yang memang besar dan dalam lipatannya.Siang dan malam tuma-tuma itu menghisap darah romusa,meninggalkan bintik-bintik merah dikulit dan sangat gatal.Mau tidak mau romusa harus menggaruknya yang lama kelamaan meninggalkan luka yang menyebar menjadi budukan,dan dari lecet menjadi borok yang berisi nanah.
            Pada malam hari menjelang tidur,siksaan ini semakin dahsyat karena serangan tuma yang ditambah tumbila yang bersarang di pelupuh (lantai bambu) bedeng (asrama romusa).Untuk menghindarinya banyak romusa yang tidur di luar bedeng dan tidur di atas tanah yang kotor dan lembab.Tidur di alam terbuka seperti ini dalam jangka waktu yang lama membuat daya tahan tubuh romusa semakin menurun sehingga mudah terjangkit berbagai macam penyakit.
8.      Tidak ada upaya penanngulangan dari pihak Jepang
          Dalam kondisi ini seharusnya Jepang membuat rumah sakit untuk menampung romusa yang menderita penyakit,menambah dokter dan perawat,menyediakan beragam obat untuk penyakit dan yang paling penting adalah meningkatkan kualitas hidup romusa.
           Pada saat itu memang rumah sakit besar ada di Pasir Kolecer Bayah di setiap blok penambangan serta terdapat semacam balai pengobatan (klinik) ,tetapi tidak berfungsi sesuai dengan yang diharapkan.Di rumah sakit tersebut setiap pasien yang datang hanya mendapatkan sekadar pemeriksaan alakadarnya dan tidak mendapatkan obat.Hal ini terjadi karena minimnya obat-obatan dan kalaupun ada hanya pil kina saja yang disediakan Jepang.
           Fungsi rumah sakit saat itu tidak lebih hanya sebagai tempat penampungan romusa untuk menunggu kematian.Bahkan dikalangan romusa sendiri ada desas-desus kalau sekali seseorang diangkut ke rumah sakit atau klinik,maka ia tidak akan kembali dalam keadaan hidup.
            Selama bergelut dengan rasa sakitnya,romusa-romusa ini tidak dapat bekerja atau tidak mau bekerja lagi.Mereka berserakan di berbagai tempat di sekitar kamp-kamp penambangan,emperan-emperan bangunan,di sepanjang rel kereta api,di pemukiman penduduk dan di bawah pepohonan.Para romusa ini hanya bisa terdiam merasakan sakit dan menunggu maut karena sudah tidak mampu beraktivitas lagi.Setiap pagi penduduk sekitar dan para romusa menyaksikan pemandangan mengerikan yaitu romusa-romusa telah menjadi mayat yang berserakan.
            Pemandangan seperti itu bukan barang yang aneh bagi mereka.Ketika itu mayat-mayat romusa seolah tidak dianggap manusia karena pemakamannya tanpa melalui proses ritual layaknya manusia mati.Mayat yang hanya dibungkus tikar,dibalut pakaian yang menempel pada badannya atau dengan dedaunan,kemudian dimakamkan di mana saja tergantung romusa itu ditemukan.Dalam satu lubang kadang kala diisi bukan hanya oleh satu atau dua mayat,tetapi bisa sampai lima puluh mayat.Sungguh ironis bila mengungkap fakta kekejaman Jepang terhadap penderitaan romusa di Bayah saat itu.

Daftar Kutipan :
Astuti,Meta Sekar Puji.2008.Apakah Mereka Mata-Mata?:Orang-Orang Jepang Di Indonesia (1868-1942).Yogyakarta:Ombak
Isnaeni,Hendri F.2008.Romusa :Sejarah Yang Terlupakan (1942-1945).Yogyakarta
Sumber  :
Bimtes SBMPTN 2015
Buku Sejarah kelas 2 SMA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar