Senin, 14 Desember 2015

Awal penemuan benua kangguru(Australia)


Meriani / 14A/SAO

Terra Australis Incognita" adalah sebutan pertama dari Benua Australia yang tergambar dalam peta karya ahli geografi Eropa pada abad 15-16 masehi. Awalnya sejak abad ke 2 masehi seorang tokoh terkenal bernama Ptolemy mengemukakan ada daratan di daerah selatan yang masih belum dikenal dan dianggap sebagai penyeimbang daratan-daratan bumi bagian utara. Makna kalimat Terra Australis Incognita adalah suatu daratan yang luas, namun daratan ini masih bersifat imajiner karena belum ada yang bisa membuktikan adanya daratan luas di dekat kutub selatan tersebut. Perbedaan pendapat mengenai Terra Australis Incognita terjadi antara kaum Agamawan yang menganggap Bumi itu datar dan kaum ilmuwan yang menganggap bumi itu tidak datar melainkan berbentuk bulat. Perdebatan itulah yang menjadi awal mula sejarah Benua Australia atau saat ini dikenal sebagai Benua Kangguru.

            Pasca dominasi agamawan mulai hilang, banyak pelayaran yang dilakukan oleh pelaut Bangsa Eropa untuk menjelajahi Daerah Timur dengan berbagai kepentingan. Pada dasarnya tujuan Bangsa Eropa menjelajah ini adalah untuk melakukan transaksi pedagangan di penjuru daerah supaya memperoleh keuntungan yang sangat besar. Jalur perdaganganpun mulai dicari para pelaut supaya lebih cepat mencapai Daerah Timur. Dengan berbagai misi mencari jalur ini banyak pelaut yang disengaja maupun tidak mulai menemukan daerah baru yang digunakan untuk berdagang atau sekedar sandar saja. Salah satunya adalah Daerah Australia sendiri yang ditemukan oleh pelaut Belanda dan pelaut-pelaut Inggris. Sampai saat ini pelaut Inggris bernama James Cook yang dianggap sebagai orang Eropa pertama dalam menemukan serta mengklaim daerah Australia sebagai milik dari Bangsa Inggris. Walaupun sebelum dia ada juga pelaut lain yang menemukannya termasuk pelaut dari Nusantara yang berlayar menggunkan perahu cadik.
A.    Kondisi Penduduk Australia Sebelum Kedatangan Bangsa Eropa
             Terdapat dua macam kebudayaan yang berkembang di Australia, pertama yaitu kebudayaan penduduk asli dan kedua kebudayaan yang berasal dari Eropa (Siboro J., 5:1989). Diperkirakan penduduk asli Australia ini beasal dari arah utara dan menetap di daerah tersebut sejak 40.000 tahun-an, jadi secara de facto penduduk asli inilah yang pertama kali menemukan Benua Austrlia. Lalu siapakah penduduk asli tersebut. ?  Penduduk asli Australia berbeda dengan ras-ras besar yang ada di dunia, sehingga mereka dimasukkan dalam ras tersendiri yaitu ras khusus yang disebut ras Australoid. Secara fisik penduduk asli ini dapat dikenali dengan ciri-ciri sebagai berikut:
Kulit berwarna coklat (hitam kalau terbakar sinar matahari), rambut ikal bergelombang, muka dan tubuh ditumbuhi oleh bulu-bulu yang lebat, dahi sempit atau mundur, rongga mata dalam, alis mata menonjol, rahang menonjol, mulut lebar, tulang tengkorak tebal, tinggi badan rata-rata adalah 5 kaki dan 5/6 inchi (Siboro J., 6:1989). Salah satu yang mempunyai ciri-ciri tersebut dan juga sebagai penduduk asli Australia adalah suku Aborigin.
            Pada waktu dahulu Suku Aborigin bermukim secara terpencar-pencar dan terisolir, hal ini karena kondisi Australia yang tidak memungkinkan penduduknya untuk saling berinteraksi satu dengan yang lain. Pada mulanya, mereka hidup dari berburu dan mencari ikan. Mereka berburu binatang liar seperti kanguru dengan tombak, panah, dan bumerang yang merupakan senjata khas kaum Aborigin. Ilmu bercocok tanam dan beternak belum dikenal, karenanya kelompok anak suku Aborigin tidak pernah berkelana jauh dari sumber-sumber air atau sungai. Rumahnya pun amat sederhana, terbuat dari susunan ranting pohon dan dedaunan. Dalam masyarakat kesukuannya, mereka dipimpin oleh kepala suku yang biasanya juga merangkap sebagai dukun suku itu. Sebutan pemimpin suku ini adalah Pemulwuy, dia adalah Pangeran Diponegoronya kaum Aborigin (Ratih H., 4:1992). Tugas utama dari Pemulwuy adalah menjaga semua anggota suku dari Bangsa Asing, tugas lainnya adalah memimpin upacara keagamaan dan perkawinan.
B.     Hubungan Kaum Aborigin dengan Dunia Luar
            Sebelum Suku Aborigin mengenal Bangsa Eropa mereka sudah lama saling berhubungan dengan orang-orang Asia. Diantaranya adalah orang dari Makasar, Jepang, dan Cina. Interaksi tersebut terjalin tidak secara bersamaan melainkan pada waktu yang berbeda-beda. Orang Asia datang di Australia tidaklah untuk menjajahnya tetapi  untuk kepentingan ekonomi saja seperti tukar-menukar barang dan mencari barang dagangan.
            Dalam hubungannya dengan orang Makasar, kaum Aborigin sangatlah terbuka hampir tidak ada konflik yang terjadi diantara keduanya. Orang Makasar datang di Australia khususnya Australia Utara dengan tujuan mencari tripang untuk dijual kembali ke daratan Cina (Ratih H., 13:1992). Dalam petualangnya di Australia orang Makasar saling bertukar barang dengan kaum Aborigin. Orang Makasar dan Bugis membawa makanan, tembakau, alkohol, pakaian, pisau, dan sebagainya. Sedangkan kaum Aborigin mempunyai kulit penyu dan kulit mutiara untuk dipertukarkan. Pengaruh orang Makasar terhadap kaum Aborigin terjadi pada pembuatan kapal, pipa untuk merokok, dan dalam hal bahasa.
              Selanjutnya untuk orang Jepang yang mengunjungi daerah Australia bagian Timur bertujuan untuk mencari Mutiara. Hubungan orang Jepang dengan kaum Aborigin cukup harmonis, tidak pernah ada perkelahian diantara keduanya. Hal ini disebabkan orang Jepang mampu beradaptasi dengan baik kepada kaum Aborigin, misalnya ketika kaum Aborigin dipekerjakan untuk mencari mutiara maka orang Jepang memperlakukannya dengan sangat baik. Ketika dalam kehidupan biasa mereka juga saling membaur menjadi satu, seakan-akan tidak ada perbedaan kelas.
            Terakhir yaitu hubungan orang Cina dengan kaum Aborigin. Tujuan utama orang Cina berkunjung di Australia adalah untuk mendapatkan emas. Tidak seperti sebelumnya hubungan tersebut tidak berjalin dengan baik, sering terjadi perselisihan diantara kedunya. Perselisihan terjadi karena orang Cina kurang bisa beradaptasi dengan penduduk setempat. Bahkan dalam buku yang ditulis oleh Ratih H. ada orang Cina yang dimakan oleh penduduk setempat, kanibalisme ini terjadi pada saat upacara kepercayaan.
            Dari hubungan orang Asia dengan kaum Aborigin bisa diketahui terdapat motif yang sama mengenai tujuan pengunjungannya. Kepentingan ekonomi atau perdagangan sangatlah mempengaruhi masyarakat dunia untuk berpindah dari tempat satu ketempat yang lain. Dengan perdagangan juga kebudayaan bisa dikembangkan di berbagai tempat dan disesuaikan dengan kebudayaan aslinya. Sejarahpun bisa diketahui juga karena hasil penulisan pelaut-pelaut ketika menjelajah ke daerah-daerah baru dengan kepentingan utama untuk berdagang.
C.    kedatangan Bangsa Eropa ke Benua Australia
Selama abad ke- 15 dan ke- 16 suatu rangkaian peristiwa penting membuka jalan laut baru dari Eropa ke "Dunia Timur" dan ke "daerah-daerah baru" (Siboro J., 10:1989). Rangkaian peristiwa tersebut berupa perbedaan pendapat mengenai "Terra Australis Incognita". Perbedaan pendapat  ini tidak secara langsung dilakukan oleh tokoh-tokoh yang ada didalamnya seperti Ptolemay, Lactantius, Santa Agustinus, Cosmos Indicopleustes dan sebagainya. Mereka semua hanya mempunyai pandangan bahwa bumi itu berbentuk datar dan pandangan bumi itu bulat dengan dasar dari kitab suci serta yang menolak bumi itu datar berdasarkan Ilmu Pengetahuan yang ada.
Berbagai peta telah dibuat oleh ahli geografi baik yang menerima bahwa bumi itu datar dan yang menolak argumen tersebut. Tetapi kedua kalangan ini sama-sama belum mengetahui apakah ada benua Australia atau tidak. Belum ada seorang yang pernah menuliskan bahwa telah menemukan benua tersebut, yang ada hanyalah argumen-argumen dari tokoh-tokoh atau ilmuwan. Akhir perbedaan pendapat ini adalah meninggalnya tokoh yang sangat berpegang teguh dengan argumennya serta mulai ditemukannya tanda-tanda adanya "Terra Australis Incognita" oleh pelaut-pelaut Eropa.      
Secara geografis Benua Australia sangat dekat dengan Benua Asia, namun kebudayaan yang ada di Australia hampir sama dengan kebudayaan di Eropa. Aneh memang, tetapi hal ini bisa terungkap jika kita melihat bagaimana sejarah Australia ketika dikunjungi oleh pelaut Eropa. Ada cukup banyak pelaut dari bangsa asing yang ingin menjelajahi pelosok-pelosok Australia, baik dari Bangsa Asia maupun Bangsa Eropa. Motifnya sama yaitu untuk kepentingan perekonomian atau perdagangan. Tetapi Bangsa Eropa lebih mengharap banyak dari sumber daya alam di Australia yang akhirnya mereka mengakui bahwa daerah tersebut adalah kekuasaannya. Dan berikut sekilas latar belakang kedatangan Bangsa Eropa yang mengunjungi Australia.
D.    Pelayaran yang Dilakukan oleh Bangsa Portugis dan Bangsa Spanyol
Banyak pedagang Eropa bersing untuk mendapatkan keuntungan dari perdagangan barang-barang seperti rempah-rempah, emas, sutera dan sebagainya yang dibutuhkan oleh orang-orang Eropa. Termasuk juga Bangsa Portugis dan Spanyol yang dari dahulu identik dengan kesuksesan pelautnya dalam mengarungi samudra dan menemukan daerah baru. Bartholomeus Diaz adalah pelaut Portugis yang mampu mencapai sebuah tanjung yang kemudian dikenal sebagai tanjung pengharapan baik. Ada lagi Vasco De Gama yang mencapai India sekitar abad 15. Mereka yang memberikan kesempatan bagi bangsanya untuk mendapatkan barang dagangan dengan melakukan pelayaran sesuai jalur yang telah dilalui sebelumnya. Sehingga pelaut Portugislah yang telah membuka jalan bagi pelaut bangsa Eropa lain untuk menemukan Benua Australia.
Setelah jalan menju Daerah Timur telah ditemukan ada tokoh bernama Christopher Columbus yang mempunyai tujuan pelayaran mempersingkat jalan menuju daerah Timur. Dia bekerja untuk kedinasan Spanyol dengan berlayar ke arah barat Eropa karena menganggap jika bumi itu bulat maka pelayaran terus ke arah barat akan sampai di Daerah Timur. Namun Columbus belum pernah sampai ke tempat tujunnya, dia memang sampai di sebuah daratan yang di anggap Daerah Asia namun tanpa disadari daratan tersebut aslinya adalah Amerika pada saat ini. Dari pengalaman tersebut pelaut lainnya terus bekerja keras mencari jalan lain menuju Timur. Banyak yang gagal dalam melakukannya tetapi tanpa usaha apapun maka tidak akan ada hasilnya pula.
Selanjutnya ada perwira dari Portugis yang bekerja di Spanyol bernama Pedro Fernandes De Quiros yang melakukan ekspedisi berlayar menuju Timur untuk setidaknya mengetahui adanya Benua Australia. Dalam ekspedisinya itu dia menuliskan hasil pelayarannya selama bertahun-tahun sampai akhirnya menemukan daratan yang dicari-cari atau Terra Australis Incognita. Setelah ditindak lanjuti tulisan tersebut, pada kenyataannya dia belum pernah menumukan Daerah Australia bahkan melihatnya dari kejahuanpun belum pernah. Tetapi dengan pelayaran dari Bangsa Portugis dan Spanyol ini memberikan jalan mudah kepada Bangsa Eropa lain untuk menemukan Terra Australis Incognita.
E.     Pelayaran dan Penemuan yang Dilakukan oleh Bangsa Belanda
            Pelaut Belanda menjadi orang Eropa pertama yang bisa dikatakan menjadi penemu benua Australia. Tokoh yang berhasil menemukannya adalah William Jansz, dia merupakan seorang gubernur kolonial yang handal dalam bidang navigasi dan dipekerjakan Kerajaan Belanda. William Jansz berlayar menjelajah Australia dan sekitarnya dengan sebuah kapal bernama Duyfken. Kapal tersebut berlayar dari salah satu pos Belanda dengan tujuan utama menyelidiki pantai selatan Irian. Dalam rangkaian pelayaran tersebut, dia kemudian melabuhkan kapalnya sejenak di sebuah sungai bernama Pennefather yang terletak di pesisir barat Tanjung York Queensland. Berlabuhnya kapal inilah yang dicatat dunia sebagai kunjungan pertama di Australia.
            Setelah William Jansz menemukan Australia maka pelaut Belanda lain melakukan berbagai ekspedisi guna menjelajah lebih jauh di daratan tersebut. Ekspedisi itu dipimpin oleh seorang pelaut yang berpengalaman yaitu Abel Tazman.  Tazman ini memulai pelayarannya dari Batavia (Jakarta) pada tahun 1642 dengan menggunakan dua kapal yaitu Heemskrek dan Zeehaen. Pada tahun yang sama dia menemukan daratan yang disebut Van Diamen's Land, atau yang saat ini adalah Daerah Tasmania. Cukup banyak daerah baru yang ditemukan oleh Tazman melalui pelayarannya sampai diapun kembali ke Batavia lagi pada tahun 1643.
            Tidak berhenti sampai disitu Abel Tazman selanjutnya melakukan ekspedisi kedua pada tahun 1644. Tujuan Tazman kali ini adalah diperinthkan untuk menyelidiki passage antara Irian dengan daratan di sebelah selatannya. Namun tujuan utamanya tetaplah mencari barang berharga seperti emas dan perak guna meningkatkan perekonomin Belanda. Dengan berbagai alasan yang kurang jelas, Tazman kembali ke Batavia dengan kegagalan mencari passage tersebut. Setelah ekspedisi kedua ini Belanda menggunakan nama New Holland kepada daratan Australia dan tidak melakukan ekspedisi lagi karena hasil yang diharapkan tidak bisa tercapai.
F.     Pelayaran dan Penemuan yang Dilakukan oleh Bangsa Inggris
            Setelah ekspedisi Tasman II gagal menemukan daerah passage, daratan Australia jarang dikunjungi lagi oleh pelaut Eropa. Selama masa vakum tersebut Bangsa Inggris mulai berpikir untuk menjelajah Australia. Orang Inggris yang melakukan penjelajahan itu adalah  William Dampier. Sebenarnya dia adalah seorang bajak laut, tetapi dia mampu menuliskan hasil pelayarannya untuk diserahkan kembali di Inggris supaya bisa menjadi referensi daratan yang bisa dikuasai. Akhirnya untuk menindak lanjuti laporan William Dampier, Bangsa Inggris melakukan ekspedisi ke Australia dengan dipimpin oleh James Cook. Dari James Cook inilah berbagai daerah-daerah penting yang tidak bisa terpecahkan Belanda mampu dengan baik diselesaikan olehnya.
Memang pada hakekatnya orang Belanda adalah orang Eropa pertama yang menemukan Australia, tetapi dunia mengakui bahwa yang berhasil menemukan Australia adalah James Cook. Mengapa bisa demikian?. Setelah diselidiki ternyata James Cook adalah orang pertama Eropa yang menancapkan Bendera Inggris sekaligus mengklaim daerah tersebut termasuk kekuasaan bangsanya dan menemukan daerah-daerah penting. Dengan ditemukannya daerah penting yang sebelumnya tidak terpecahkan oleh Belanda, James Cook dianggap penemu Benua Australia dan mendapat julukan "the real discoverer of the real Australia that we know" (Siboro J., 25:1989).
            Dari James Cook tersebut masyarakat dunia mulai mengenal Benua Australia atau Benua Kanguru. Terlepas dari siapa penemu asli Benua Australia kita bisa menyadari bahwa sejarah perdagangan dunia telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan jaman. Sejarah tidak pernah lepas dari ekonomi, ekonomi dan sejarah juga tidak pernah lepas dari ilmu-ilmu sosial. Sehingga pada hakekatnya ilmu-ilmu sosial sangatlah terkait satu sama lain.
DAFTAR PUSTAKA
-          Australia Government. 2011. Australia in Brief. Department of Foreign Affair and Trade, edition 2011.
-          Botros, Andrew. 2005. Seven Lessons from Australia's History. The Australian National University.
-          Dudgeon, Pat. ET. AL. 2009. The Social, Cultural, Historical Context of Aboriginal and Torres Strait Islander Australian. The University of Western Australia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar