Rabu, 23 Desember 2015

BUDAYA KOTA PEKANBARU

CHINDY RANI PISCA/PBM/BI


Pengertian kebudayaan
Kebudayaan= cultuur (bahasa Belanda)= culture (bahasa Inggris) berasal dari perkataan Latin "Colere" yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan, terutama mengolah tanah atau bertani. Dari segi arti ini berkembanglah arti culture sebagai "segala daya dan aktivitet manusia untuk mengolah dan mengubah alam"
Dilihat dari sudut bahasa Indonesia, kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta "buddhayah", yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal.

Pendapat lain mengatakan, bahwa "budaya" adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi-daya, yang berarti daya dari budi, karena itu mereaka membedakan antara budaya dan kebudayaan. Budaya adalah dayadari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa, dan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa dan rasa tersebut.
Adapun ahli antropologi yang memberikan defenisi tentang kebudayaan secara sistematis dan ilmiah E.B.Tylor dalam buku yang berjudul "Primitive Culture", bahwa kebudayaan  adalah keseluruhan kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan yang lain, serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat.
C.Klukhohn dan W.H.Kelly mencoba merumuskan definisi tentang kebudayaan sebagai hasil tanya jawab dengan para ahli antropologi, sejarah ; hukum, psychologi yang implisit, explisit, rasional, irasional, terdapat pada setiap waktu sebagai pedoman yang potensial bagi tingkah laku manusia.
J.P.H.Dryvendak mengatakan bahwa kebudayaan adalah kumpulan dari cetusan jiwa manusia sebagai yang beraneka ragam berlaku dalam suatu masyarakat terntentu.
Drs. Sidi Gazabal, kebudayaan adalah cara berpikir dan merasa yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk kesatuan sosial dengan suatu ruang dan suatu waktu.
Definisi-definisi di atas kelihatannya berbeda-beda, namun semuanya berperinsip sama, yaitu mengakui adanya ciptaan manusia, meliputi perilaku dan hasil kelakuan manusia, yang diatur oleh tatakelakuan yang diperoleh dengan belajar yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.
Secara garis besarnya kebudayaan dapat diartikan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat.
Begitu banyak ragam suku bangsa dan kebudayaan di Indonesia,namun tak dapat dipungkiri apabila unsur-unsur lain banyak mempengaruhi kebudayaan yang telah ada dan dapat memudarkan hasil budaya itu sendiri.Setiap kebudayaan daerah masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda.Sama halnya seperti Rokan Hilir yang dikenal penghuni mayoritasnya adalah orang Melayu
Pekanbaru, seperti layaknya kota-kota lain di Indonesia mengalami gejolak pembangunan fisik yang pada akhirnya menimbulkan pertanyaan apakah sebenarnya yang bisa di angkat sebagai identitas fisik dari hasil-hasil pembangunan yang terjadi. Menggunakan kembali arsitektur tradisional ataupun elemen-elemen penyusun arsitektur tradisional tersebut dipandang menjadi cara tercepat guna mendapatkan identitas bangunan maupun kota. Namun demikian pemahaman yang tidak menyeluruh dari arsitektur tradisional tersebut menyebabkan kaburnya atau hilangnya makna dari penggunaan elemen-elemen arsitektur tradisional tersebut, bahkan sering kali elemen-elemen arsitektur tradisional ditempatkan bukan pada tempat yang seharusnya.
Selembayung sebagai elemen arsitektur tradisional Melayu yang diangkat sebagai identitas bangunan dan Kota Pekanbaru ternyata mengalami pergeseran makna akibat tidak adanya pemahaman yang menyeluruh terhadap arsitektur tradisional Melayu.
Pada bangunan Melayu terdapat beberapa komponen yang menjadikan bangunan itu sebagai tempat melakukan aktifitas kehidupan. Komponen merupakan faktor utama dalam melihat suatu arsitektur tradisional, yang mana terdiri dari: nama,bentuk bagian-bagian bangunan,tipologi,massa bangunan,struktur,susunan dan fungsi ruang, ornamen, serta cara pembuatan yang diwariskan secara turun temurun.
Ornamen berasal dari bahasa Yunani, yaitu onare berarti hiasan atau perhiasan. Perhiasan dalam hal ini dapat diartikan sebagai sesuatu yang keberadannya berfungsi untuk menghiasi, memperindah atau sebagai tambahan yang dirasa perlu, dan terkadang memiliki arti atau maksud tertentu bagi orang yang memakai atau membuatnya.
Motif dasar dari ornamen Artsitektur Tradisional Melayu Riau pada umumnya bersumber dari alam, yaitu terdiri dari flora, fauna dan benda benda lainnya. Benda-benda tersebut kemudian diubah menjadi bentuk-bentuk tertentu, seperti bentuk bunga, petak, lingkaran,wajik, kubus, segi dll.
Motif hewan yang dipilih umumnya yang mengandung sifat tertentu atau yang berkaitan dengan mitos atau kepercayaan setempat. Contohnya motif semut, walaupun tidak dalam bentuk sesungguhnya, disebut dengan motif semut beriring dikarenakan sifat semut yang rukun dan tolong menolong, yang mana sifat inilah yang menjadi sifat dasar orang-orang Melayu.
Selembayung yang disebut juga Sulo Bayuang dan Tanduak Buang adalah hiasan yang terletak bersilang pada kedua ujung perabung. Pada bagian bawah adakalanya diberi pula hiasan tambahan seperti tombak terhunus, meyambung kedua ujung perabung.
Selembayung mengandung beberapa makna, antara lain:
·         Tajuk bangunan           : Selembayung membangkitkan seri dan cahaya bangunan
·         Perkasih bangunan      : Lambang keserasian dalam bangunan
·         Pasak Atap                  : Lambang hidup yang tahu diri
·         Tangga Dewa              : Lambang tempat turun pada dewa, mambang, akuan, soko, keramat, dan sisi yang membawa keselamatan bagi manusia.
·         Rumah Beradat           : Tanda bahwa bangunan itu adalah tempat kediaman orang berbangsa, balai atau tempat orang patut-patut.
·         Tuah Rumah                : Yakini sebagai lambang bahwa bangunan tersebut mendatangkan tuah kepada pemiliknya.
·         Lambang keperkasaan dan wibawa
·         Lambang kasih sayang
Sebuah nama selalu diingat atau dikenang atas identitas yang melekat kepadanya. Begitu pula sebuah kota. Jati diri sebuah kota lahir sebagai akumulasi dari khazanah kebudayaan serta sumber daya alam yang tumbuh dan berkembang di dalamnya. Nama yang melekat membuat kita mudah mengingat, julukan "Ibukota" berarti Jakarta, "Kota Pelajar" berarti Yogyakarta dll.
Keragaman khasanah artsitektur tradisional yang kita miliki sungguh sayangat disayangkan jika tidak dikembangkan. Kita punya potensi untuk menampilkan ciri dan identitas dari khasanah arsitektur tradisional yang dimiliki oleh masing-masing daerah.  Dengan kekayaan arsitektur Nusantara yang kita miliki, kita bisa menampilkan kota-kota yang indah dengan masing-masing memiliki ciri sesuai dengan daerahnya.
Banyak daerah yang menggunakan ornamen kedaerahannya sebagai salah satu ciri atau identitas bangunan yang ada pada wilayahnya. Menjadi ornamen tempelan sebagai identitas dari masing-masing kota yang ada di Indonesia. Tidak jarang simbol, ornamen, atau bentuk khas tradisional tersebut kehilangan makna yang terkandung didalamnya. Fungsinya  hanya sebagai tempelan belaka, padahal faktanya ornamen dan filosofi yang sangat dalam.
Kota Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau yang merupakan garda depan di Provinsi Riau khususnya dan di Indonesia pada umumnya dalam hal menjaga dan melestarikan kebudayaan Melayu, perlu dikaji mengenai penggunaan aplikasi langgam arsitektur melayu pada wajah kotanya, khususnya Selembayung sebagai ornamen yang paling menonjol dalam perancangan bangunan di kota Pekanbaru.
Pada bangunan pemerintahan dan fasilitas umum, penerapan langgam Arsitektur tradisional Melayu Riau sebagian besar pada bnetuk atap (belah bumbung dan atau tebar layar) lengkap dengan penggunaan ornamen pada perabung atap, sudut atap (selembayung, sayap layang-layang) dan bidai.
Sedangkan pada bangunan fungsi seni dan budaya, penerapan langgam Arsitektur Tradisional Melayu Riau di usahakan mencakup segala aspek, terutsms dari segi penampilan luar bangunan, baik bentuk maupun estetika (ornamen). Eksterior menggunakan ornamen yang lengkap hingga pada jendela, pintu, pagar, serta ventilasi.bangunan menerapkan bentuk yang dapat menggambarkan rumah tradisional Melayu Riau dengan tiang, tangga, dan bentuk segiempatnya. Hal ini bertujuan untuk melestarikan bentuk asli dari bangunan Melayu.
Dapat kita ketahui bahwa banyak bangunan kontemporer yang menggunakan langgap arsitektur melayu pada desain bangunannya. Aplikasi langgam arsitektur melayu ini dibagi dalam tiga elemen utama yaitu desain atap, penggunaan selembayung dan pengunaan onamen atau ukiran tradisional Melayu.
Berdasarkan ornamen yang sering digunakan, makan dapat di identifikasi bahwa selembayung merupakan langgam arsitektur tradisional melayu yang selalu menjadi bagian dalam perancangan bangunan di kota Pekanbaru. Selembayung tidak pernah di pinggirkan dan selalu menghiasi atap bangunan.
Dalam penggunaan selembayung tersebut, terkadang desain yang digunakan sering tidak sesuai dengan filosofi selembayung dan budaya melayu sebenarnya. Sebagian bangunan cendrung menggunakan langgam arsitektur melayu hanya untuk menjadi simbol sebagai suatu persyaratan bangunan di Kota Pekanbaru atau hanya sebagai "tempelan" belaka.

            Tradisi dan kebudayaan merupakan hal yang wajib kita lestarikan, karena itu merupakan akar budaya daan identitas lokal yang harus kita pertahankan. Kekayaan khasanah budaya negeri ini harus dilestarikan, jangan sampai hilang. Arsitektur tradisioanl merupakan salah satu kebudayaan dan jati diri masyarakat kita. Kita bisa mengatakan bahwa kota-kota di Indonesia sedang mengalami krisis identitas. Kota-kota tumbuh begitu pesat dengan style bangunan yang tidak menunjukan identitas kota tersebut.
            Kita di tuntut untuk mampu mengolah kekayaan yang ada, kita dapat menghadirkan wajah-wajah kota yang khas dan menampilkan identitas daerahnya secara elegan. Pekanbaru sebagai kota yang terus berkembang diharapkan dapat menunjukkan jati dirinya sebagai kita bernuansa Melayu. Kita berharap penggunaan Selembayung sebagai salah satu upaya menunjukan identitas tidak hanya sekedar "tempelan" belaka.



DAFTAR PUSTAKA

Al Mudara, Mahyudin. 2004. Rumah Melayu: Memangku Adat Menjemput Zaman, Yogyakarta: Adicita
Isnaeni, Catur Hari. 2008. Identifikasi Ornamen Arsitektur Tradisional Melayu Pada Bangunan Anjungan 'Riau' Taman Mini Indonesia Indah. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Molindhuri, Sisdayana. 2010. Pusat budaya melayu Riau di Pekanbaru Dengan Penekanan Pada Pemanfaatan Karakter Atsitektur Tradisional Melayu Riau Sebagai Ekspresi Bangunan. Surakarta: UNS
Drs.Djoko Widagdho,dkk.2004.Ilmu budaya dasar.
Drs.Hartono,M.Pd.2007.Kalam Membingkai Pekanbaru.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar