Rabu, 23 Desember 2015

PEMBANGUNAN PADA MASA ORDE BARU


 VALDI MENSI/S/A 

Pada masa kepemimpinan Soeharto, Soeharto mempunyai program pembangunan jangka pendek yang disebut Pelita (pembangunan lima tahun). Selama masa kepemimpinannya soeharto mampu menjalankan program pembangunan pelita hingga mencapai pelita VI dan telah menjadi program pembangunan jangka panjang. Dari pelita I hingga VI ada pelita yang menekankan program pembangunannya pada Trilogi Pembangunan yaitu di pelita III. Pelita III dilaksanakan pada tanggal 1 april 1979 hingga 31 maret 1984.


Trilogi pembangunan adalah wacana pembangunan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah orde baru di indonesia sebagai landasan penentuan kebijakan politik, ekonomi, dan sosial dalam melaksanakan pembangunan negara.
Isi Trilogi pembangunan adalah sebagai berikut :
§  Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia
§  Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
§  Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis

Upaya pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya tidak mungkin tercapai tanpa adanya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, sedangkan pertumbuhan ekonomi tidak mungkin dapat dicapai tanpa adanya stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.
 Hal ini tercemin bahwa unsur-unsur dalam trilogi pembangunan harus dikembangkan secara selaras, serasi, terpadu, dan saling mengait.
Unsur-unsur dalam Trilogi pembangunan adalah :
A. Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, berarti bahwa pembangunan itu harus dilaksanakan secara merata di seluruh wilayah tanah air, serta hasil-hasilnya harus dapat dirasakan oleh seluruh rakyat secara adil dan merata. Apa yang dimaksud dengan adil dan merata ? Adil dan merata mengandung arti bahwa setiap warga negara harus menerima hasil-hasil pembangunan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, dan bagi yang mampu berperan lebih, harus menerima hasilnya sesuai dengan dharma baktinya kepada bangsa dan negara.
B. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi mengandung arti bahwa :
1.      Pertumbuhan ekonomi harus lebih tinggi dari angka laju pertumbuhan penduduk
2.       Upaya mengejar pertumbuhan ekonomi harus tetap memperhatikan keadilan keadilan dan pemeataan.
3.       Harus tetap dijaga keselarasan, keserasian, dan keseimbangan dengan bidang-bidang pembangunan lainnya
 C. Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis, dimaksudkan agar dalam pelaksanaan pembangunan itu :
 1. Terdapat kondisi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang aman, tentram, tertib yang tercipta karena berlakunya aturan yang di sepakati bersama
2. Dalam kondisi stabilitas nasional terdapat iklim yang mndorong berkembangnya kreativitas masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara.

 Didalam pelaksanaan pembangunan selalu diperhatikan asas pemerataan yang menuju terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia dengan melanjutkan, meperluas, dan memberikan kedalaman pada pelaksanaan delapan jalur pemerataan yang selama ini telah ditempuh pemerintah. Adapun yang dimaksud dengan delapan jalur pemerataan itu adalah :
o   Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak, khususnya pangan, sandang dan papan - Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan keselamatan
o   Pemerataan pembagian pendapatan
o   Pemerataan kesempatan kerja
o   Pemerataan kesempatan berusaha
o   Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda kaum wanita
o   Pemerataan penyebaran pembangunan di wilayah tanah air
o   Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan [1]

Di indonesia segala sesuatunya berlandaskan kepada Pancasila dan UUD 1945, begitu juga dalam hal pembangunan. Sesungguhnya Pancasila dan UUD 1945 merupakan landasan pembangunan yang ideal. Dalam hal ini beliau (presiden Soeharto) mengungkapkan bahwa : "mencapai cita-cita masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila itu tidaklah mungkin hanya dengan melaksanakan satu pelita saja. Masyarakat adil dan makmur tidak akan jatuh dari langit, harus di perjuangkan melalui pembangunan secara bertahap, di perlukan landasan yang kuat, ialah industri yang di dukung oleh pertanian yang tangguh."[2]
Dasar pembangunan yang belandasan kepada pancasila melalui tahapan-tahapan pelita untuk mencapai cita-cita masyarakat adil dan makmur sebagaimana dikataan oleh Soeharto telah dapat terwujud salah satunya melalui pelita III yaitu Trilogi Pembangunan. Trilogi pembangunan yang di canangkan oleh presiden Soeharto ini berhasil meningkatkan pertumbuhan indonesia dari minus 2,25% pada tahun 1963 menjadi naik tajam sebesar 12% pada tahun 1969 atau setahun setelah dirinya ditunjuk sebagai pejabat presiden. Selama periode tahun 1967-1997, pertumbuhan ekonomi indonesia dapat ditingkatkan dan di pertahankan rata-rata 72% pertahun.
Namun demikian, meski Trilogi pembangunan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, perancanaan trilogi pembangunan ini menuai kontroversi karena pada pelaksanaannya mengakibatkan hal-hal berikut :
-          Pelaksanaan stabilitas politik menghasilkan regulasi dimana diterbitkan sejumlah peraturan yang mengakibatkan pengendalian pers dan pengendalian aksi mahasiswa.
-          Dalam hal procedural diterbitkan undang-undang tentang organisasi masa dan undang-undang partai politik pertumbuhan ekonomi menghasilkan penanaman modal asing yang mengakibatkan utang luar negri.
-          Serbuan para insvestor asing ini kemudian melambat ketika terjadi jatuhnya harga minyak dunia, yang mana selanjutnya dirangsang ekstra melalui kebijakan regulasi (liberalisasi) pada tahun 1983-1988. Tampa disadari, kebijakan penarikan insvestor yang sangat liberal ini mengakibatkan undang-undang Indonesia yang mengatur arus modal menjadi yang sangat liberal di lingkungan internasional.
 Namun kebijakan yang sama juga menghasilkan intensifikasi pertanian di kalangan petani. Dalam pemerataan hasil, pelaksanaannya membuka jalur-jalur distributive seperti kredit usaha tani dan mitra pengusaha besar dan kecil.

Demikian sekilas uraian tentang Trilogi Pembangunan. Trilogi Pembangunan menjadi salah satu instrumen pemersatu energi bangsa yang dipergunakan presiden Soeharto dalam membangun kembali indonesia. Trilogi pembangunan merupakan visi kedaulatan dan kemandirian ekonomi bangsa yang diletakan dalam road map trilogi pembangunan yang dengan targetnya merumuskan secara jelas yaitu tercapainya tinggal landas (setara dengan negara maju) pada tahun 2019/2020 dengan struktur perekonomian yang di dukung industri strategis yang kuat namun terlihat justru semakin menjauh saat sekarang. Bahkan sejumlah ahli ekonomi menyatakan telah terjadi deindustralisasi pada era reformasi. Segala jerih payah untuk mewujudkan kedaulatan dan kemandirian ekonomi bangsa itu kini harus ditata kembali. Kegagalan ini merupakan kegagalan bersama sebagai sebuah bangsa yang dalam proses transisi tahun 1998 tidak bisa memetakan secara akurat siapa lawan dan siapa loyalis nusantara yang sesungguhnya.

Note
 [1] Ketut supeksa anak bali, trilogi pembangunan dan delapan jalur pemerataan, diakses pada 24 november 2014
 [2] G. Dwipayan & Ramadhan KH, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan saya, (jakarta: PT Citra Kharisma Bunda, 1989), hlm 254

 Sumber :
- Ermadina.com/trilogi-pembangunan-presiden-soeharto-2/
 - Soeharto.co/tag/trilogi-pembangunan
 -Sri Hadi, mengenang prestasi ekonomi indonesia 1966-1990an. Jakarta: penerbit Universitas Indonesia, 2006
-G. Dwipayan & Ramadhan KH, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan saya, (jakarta: PT Citra Kharisma Bunda, 1989)
-http://supeksa.wordpress.com/2010/11/14/trilogi-pembangunan-dan-delapan-jalur-pemerataan/ diakses pada 20 desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar