Rabu, 23 Desember 2015

Sejarah Pemerintahan Pantai Gading Dan Sejarah Islam Masuk Di Pantai Gading


Abdullah / Pis
Sejarah Pemerintahan Pantai Gading
Nama lengkap Pantai Gading adalah Republic of Cote d'Ivoire (Ivory Coast), terbagi dalam 19 regions (propinsi), dengan ibukotanya YAMOUSSOUKRO (sejak tahun 1983). Sedangkan Abidjan dijadikan sebagai pusat administrasi dan komersial. Banyak negara, termasuk Amerika Serikat, yang menempatkan kedutaan besarnya di Abidjan, bukan di Yamoussoukro.
Perancis semakin memperkokoh aneksasinya atas Pantai Gading sejak tahun 1842, pada tahun 1893, Pantai Gading menjadi sebuah republik otonom di bawah kendali Perancis. Tahun 1959 dibentuk kesatuan adat antara Pantai Gading, Benin, Niger dan Burkina Faso. Akhirnya pada tanggal 7 Agustus 1960, Pantai Gading memperoleh kemerdekaan dari Perancis, dan terpilih sebagai Presiden pertama adalah Felix Houphouet-Boigny.Felix Houphouet-Boigny terpilih kembali secara demokratis pada pemilu presiden tahun 1990, dan beliau wafat pada tahun 1993. Henri Konan Bedie menggantikan beliau sampai dengan tahun 1999. Pada tahun 1999 inilah, Pantai Gading memulai babak baru, ketika Alassane Ouattara, tokoh muslim yang disegani, mantan Perdana Menteri tahun 1990-1993, dan pejabat senior IMF berkeinginan mengikuti pemilu presiden. Munculnya Alassane Ouattara disebabkan program Bedie yang dianggap sectarian, yaitu dengan memunculkan program kebanggaan atas kemurnian bangsa Pantai Gading, serta menyingkirkan pendatang dari Mali dan Burkina Faso, yang mayoritas muslim. Alassane Ouattara termasuk tokoh muslim dari utara Pantai Gading yang dianggap bukan penduduk asli, namun berasal dari Burkina Faso. Sayangnya, sebelum pemilu diselenggarakan pada bulan Oktober 2000, Jendral Robert Guei melaklukan kudeta pada bulan Desember 1999. Ketika pemilu presiden diselenggarakan pada Oktober 2000, Laurent Gbagbo terpilih sebagai presiden Pantai Gading, namun dianggap oleh kalangan luas sebagai kemenangan yang penuh tipu daya. Alassane Ouattara memboikot pemilu yang penuh kecurangan tersebut, sedangkan Robert Guei hengkang keluar negeri dan memobilisasi pemberontakan, dan akhirnya terbunuh pada tanggal 19 September 2002[1].
Alassane Ouattara yang mendapatkan dukungan penduduk bagian utara yang notabene mayoritas Muslim menjadi opposan. Sedangkan Laurent Gbagbo sebagai presiden yang penuh kontroversi mendapat dukungan penduduk bagian selatan yang mayoritas Kristen. Tekanan yang begitu kuat yang melibatkan suku dan agama (Islam dan Kristen), yang menewaskan ribuan penduduk, memaksa Presiden Laurent Gbagbo menyerah dan mengadakan rekonsoliasi dengan pihak oposisi. Akhirnya setelah diadakan perundingan di Paris pada bulan Januari 2003, Laurent Gbagbo bersedia membagi kekuasaan kepada pihak oposisi. Bulan Maret 2003, Seydou Diarra, seorang tokoh muslim, diangkat sebagai Perdana Menteri Pantai Gading. Sedangkan Alassane Ouattara sendiri yang diragukan kewarganegaraannya, pada bulan Juni 2002 telah diakui penuh sebagai warga Pantai Gading, dan beliau mempersiapkan diri untuk mengikuti pemilu presiden tahun 2005. Sebagaimana diketahui, mayoritas muslim, mengontrol penuh bagian utara Pantai Gading.
Presiden Laurent Gbagbo membuat blunder paling berat dalam sejarah pemerintahannya, yaitu ketika tanggal 6 Nopember 2004 pasukannya melakukan pemboman terhadap kamp militer Perancis yang menewaskan 31 tentara. Perancis membalasnya dengan menembak 2 buah pesawat Sukhoi dan 5 helikopter milik Pantai Gading. Ketegangan pun merebak, baik antara Perancis dan Pantai Gading, maupun sebagian rakyat Pantai Gading yang berkeinginan kuat untuk mengusir warga Perancis di Pantai Gading.Tentu saja situasi ini tidak menguntungkan Laurent Gbagbo, di satu pihak memimpin pemerintahan yang sangat labil, didera pertikaian antara Kristen dan Muslim yang saling berebut kekuasaan, di lain pihak berhadapan dengan Perancis yang pernah menjajah negaranya.
Sejarah berdirinya islam di pantai gading
Jum'at, 6 Mei 2011, merupakan hari bersejarah bagi umat muslim Afrika, khususnya masyarakat Islam di pantai gading. Penantian mereka selama 50 tahun, agar negri tersebut dipimpin oleh seorang Muslim terwujud sudah. Mahkamah Agung (MA) Pantai Gading, menetapkan Alassane Ouattara sebagai presiden, lima bulan setelah ia memenangkan pemilu. Alassane Ouattara, menjadi presiden ke empat Cote d'Ivoire, sekaligus menjadi presiden muslim pertama di salah satu Negara Afrika Barat yang dihuni oleh lebih dari 17 juta jiwa. Menurut situs Islamonline, mayoritas penduduk Pantai Gading adalah muslim yaitu sebanyak 60%, 22% Kristen (Katolik) dan 18 % animis. Sehingga, kemenangan Outtara merupakan kemenangan umat Islam pantai gading, dan harapan baru kejayaan Islam di bekas wilayah kerajaan Islam Mali[2].
Memang perjalanan umat Islam di Pantai Gading sangat berat, penuh perjuangan serta pengorbanan Tercatat semenjak Felix Houphouet-Boigny membangun negara Pantai Gading dengan penuh toleransi, pasca kemerdekaanya dari prancis pada 7 Agustus 1960. Penerusnya yaitu Henri Konan Bedie dan Laurent Gbagbo mengawali sejarah diskriminasi agama dan suku, khususnya konflik antara wilayah utara yang mayoritas muslim dengan selatan yang dihuni oleh umat Kristiani. Diawali dengan sosok Bedie yang sangat sektarian, yaitu dengan memunculkan program kebanggaan atas kemurnian bangsa Pantai Gading, sehingga ia pun mulai menyingkirkan para pendatang dari Mali dan Burkina Faso, penduduk Pantai Gading Utara, yang merupakan mayoritas muslim. Ditambah lagi, ketika penggantinya Gbagbo menolak menyerahkan kekuasaan kepada Ouattara setelah kalah dalam pemilu presiden pada tahun 2010, maka negara bekas jajahan prancis ini jatuh ke pusaran konflik saudara. Dalam kurun waktu tersebut, lebih dari seribu orang tewas dan puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi.
Alassane Ouattara, pria kelahiran Dimbokro1 Januari 1942 (1942-01-01) (usia 69), merupakan salah satu tokoh intelektual Muslim Pantai Gading, serta seorang Doktor pakar ekonomi lulusanUniversity of Pennsylvania. Outtara juga sangat disegani baik dalam politik maupun karir internasionalnya. Menjabat sebagai Perdana Menteri tahun 1990-1993, kemudian sebagai wakil direktur manajemen di IMF, 1 Juli 1994- 31 Juli 1999, dan kemudian menjadi presiden dari Partai Rally of the Republicans (RDR) 1 Agustus 1999, serta kandidat calon presiden pada pemilu presiden berikutnya. Namun ia tersangkut masalah kewarganegaraan yang sengaja diletupkan oleh lawan politiknya. Sehingga ia ditolak untuk mengikuti pemilihan presiden pada tahun 2000. Outtara pun memboikot Pemilu yang penuh dengan konspirasi itu, Sebenarnya Alassane Ouattara diganjal bukan karena issu kewarnegaraan, namun karena beliau adalah seorang muslim. Karena alasan inilah terjadinya perang saudara antara Utara dan Selatan, yang menyebabkan ribuan jiwa melayang. Sampai pada akhirnya tahun 2010 , PBB, Uni-Afrika, Uni-Eropa, ECOWAS, Amerika serta IMF menolak hasil pemilu penuh kecurangan yang memenangkan Gbagbo, dan kemudian menetapkan Outtara sebagai pemenang sekaligus Presiden terpilih Ivory Coast.
Sejarah mencatat bahwa bangsa Berber, yang berasal dari utara Afrika yang merupakan campuran dari keturunan arab dan telah lebih dahulu memeluk Islam, merupakan penyebar agama Islam di benua Afrika. Konon ketika pertama kali sahabat Nabi hijrah ke Habasyah (Ethiopia-saat ini), dan kemudian disambut hangat oleh Raja Najasyi, agama Islam mulai perlahan menyebar di benua hitam ini. Para pedagang Berber pada abad ke-9 yang banyak mendiami daerah semenanjung Nil -khususnya Mesir- mempunyai andil yang sangat besar dalam berdirinya kerajaan Islam Ghana[3].
Kerajaan Islam Ghana terletak di sebelah timur Mauritania, dan berkembang cukup pesat sampai abad ke-13. Pada abad ke-11, wilayah kekuasaannya membentang dari samudera Atlantik hingga Timbuctu. Seiring kemunduran kerajaan Ghana pada akhir abad 13, muncullah kekaisaran Islam Mali yang kemudian menjadi kerajaan Islam dengan kekuatan dan pengaruh yang luar biasa. Bahkan mencapai puncak keemasanya pada Abad ke-14, yang kala itu wilayah kekuasaanya mencakup bekas wilayah kerajaan Ghana, termasuk di dalamnya Pantai Gading. Meski hanya sebatas ujung barat laut disekitar wilayah Odienne.
Selanjutnya kerajaan Islam Sudan berdiri, dan menjadi kekuatan Islam baru di Afrika Barat dan utara, yang berbatasan dengan Mesir. Kerajaan Islam Sudan kemudian juga berkembang menjadi pusat keilmuan Islam, yang ikut menyebar luaskan pendidikan Islam di penjuru daerah kekuasaanya.
Islam datang ke Afrika Barat dalam tiga gelombang. Pertama pada abad ke-9, ketika bangsa Berber Afrika Utara menyebarkan Islam ke kerajaan Ghana. Kedua pada abad ke-13, ketika kerajaan Mali terbentuk dan menyebarkan Islam ke seluruh Sabana di Afrika Barat sampai dengan abad ke-18. Terakhir pada abad ke-19, ketika seorang pahlawan muslim Mali, yaitu Samore Toure menyebarkan Islam ke selatan Afrika, seiring dengan berkembangnya kerajaan Islam Sudan sebagai kekuatan Baru Islam di Afrika. Sedangkan Islam masuk ke Pantai Gading pada gelombang ke-2, yaitu pada abad ke-13 ketika kerajaan Mali berjaya dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru Afrika Barat. Sedangkan Kristen datang pada abad ke-17[4].
Mayoritas pemeluk Islam di Pantai Gading beraliran Sunni, dan mengikuti Madzhab Maliki. Aliran sufi juga dianut oleh sebagian komunitas muslim Pantai Gading yang terpengaruh oleh ajaran sufistik yang berkembang di Mesir. Salah satunya adalah Tarekat Qadiriyah, yang berkembang pada abad ke-11 M. Pada abad ke-18 M, aliran Tarekat Tijaniyah masuk ke pantai Gading dan diikuti oleh sebagian besar muslim disana. Qadiriyah menyebar di sebelah barat, sedangkan Tijaniyah di sebelah timur. Disamping dua aliran sufistik tersebut, terdapat juga aliran Tarekat Sanusiyah yang muncul dan berkembang di Libia.
Dalam perkembangan aliran sufistik di Pantai Gading, khususnya penganut tarekat Tijaniyah, pada abad ke-19, seorang guru sufi yang bernama Shaykh Hamahullah bin Muhammad bin Umar (1886–1943), membuat tarekat tandingan yang akhirnya membuat pengikut tarekat Tijaniyah terpecah. Para pengikut syekh Hamahullah, kemudian menamakan dirinya sebagai Tarekat Hamalliyah. Pada abad ke-20 M, tarekat Hamalliyah berubah orientasinya menjadi aliran yang penuh mistis dan menyimpang dari ajaran Islam, ketika dipimpin oleh Muhammad ben Amadu. Ia merupakan ahli mistik yang berlatang belakang suku Fulani, yaitu suku yang menyebar di Afrika barat dan tengah.Dalam prakteknya, aliran Hamalliyah merubah dzikir-dzikir yang menjadi ritual bacaan di Tijaniyah, dengan bacaan-bacaan dzikir yang tidak ada dalilnya di dalam al-Qur'an dan Sunnah. Bacaan-bacaan tersebut terkesan sebagai mantra, yang mereka pun tidak paham artinya. Aliran Hamalliyah juga menolak mempelajari al-Qur'an, serta menolak keberadaan al-Qur'an sebagai referensi umat Islam. Hamalliyah pun berubah menjadi aliran tradisional yang lebih menerapkan ajaran ritual suku-suku di Afrika. Meski mereka juga menolak tradisi adat istiadat serta kasta-kasta tradisional yang ada.Secara pemerintahan, Pantai Gading mempunyai nama lengkap Republic of Cote d'Ivoire (Ivory Coast). Wilayahnya terbagi dalam 19 regions (propinsi), dengan ibukotanya YAMOUSSOUKRO (sejak tahun 1983). Sedangkan Abidjan dijadikan sebagai pusat administrasi dan komersial. Banyak negara, termasuk Amerika Serikat, yang menempatkan kedutaan besarnya di Abidjan, bukan di Yamoussoukro.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Samuel.P, 1992, Amerika Dan Dunia, Buku Kita, Jakarta
[2] Gamal Komandoko, 2010, Ensiklopedia Pelajar Dan Ilmu ,Satu Buku Sejuta Ilmu, Jakarta
[3] J. Milbur Thomson, 2010 Keadilan Dan Perdamainaan Tanggung Jawab Kristiani, Bpk, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar