Senin, 14 Desember 2015

SEJARAH PERKEMBANGAN POLITIK DI AMERIKA LATIN

Feni Risdiyanti/ 1B/PIS

2.1   Kehidupan Pemerintahan Di Amerika Latin
Benua Amerika secara geografis dibagi menjadi tiga yaitu Amerika Utara, Amerika Serikat, dan Amerika Selatan. Sedangkan benua Amerika secara kebudayaan dibagi menjadi dua yaitu, Amerika Anglosaxen dan Amerika Latin. Wilayah Amerika Anglosexen terdiri dari Amerika Utara dan Amerika Tengah, sedangkan Amerika Latin terdiri dari negara-negara bagian di Amerika Selatan diantaranya Argentina, Bolivia, Brasil, Chili, Ekuador, Georgia Selatan dan kepulauan Sandwich Selatan, Guyana, Guyana Prancis, Kepulauan Falkland, Colombia, Paraguay, Peru dan Suriname. Amerika Selatan atau Amerika Latin adalah negara-negara yang terletak di selatan  Amerika Serikat yaitu semua negara di wilayah benua Amerika bagian Selatan yang sebagian terbesar bekas  koloni kerajaan-kerajaan Spanyol, Portugis, dan Perancis. Luas daratan seluruh Amerika Selatan lk 7 juta mil persegi dengan jumlah penduduk pada akhir abad ke-20 lebih dari 350 juta jiwa.

Di Amerika Selatan pemerintahan kotanya tumbuh dengan pesat kira-kira pada awal abad ke-20, kaum imigran di Argentina dan bagian selatan Brasilia berperan besar dan ikut bertanggung jawab atas  terjadinya  pertumbuhan pemerintahan kota tersebut. Para pekerja kontrak dari Itali, Spanyol dan Portugis; setelah beberapa tahun bekerja di ladang-ladang biji-bijian (gandum) atau di kebun-kebun kopi menghadapi kenyataan tidak mungkin memiliki tanah kebun bagi dirinya;  kemudian mereka cenderung untuk tinggal di kota-kota. Perbaikan sanitasi dan terbasminya penyakit-penyakit seperti penyakit malaria khususnya di kota-kota ikut menyumbang pertumbuhan penduduk karena berkurangnya angka kematian.
Kegiatan ekonomi dan perdagangan di Amerika Selatan setelah Perang Dunia I  pada umumnya berkembang, hal itu menyebabkan diperlukannya tenaga-tenaga managerial dan profesional disamping bertambahnya  lapangan kerja bagi sekretaris, juru tulis, penjaga gudang, pekerja kereta api, pekerja pelabuhan, pekerja perpakiran dan lain-lain. Namun pada kenyataannya banyak posisi- posisi yang baik dalam bank-bank, perusahaan asuransi, pusat-puat perdagangan, dan berbagai fasilitas lainnya masih diisi oleh tenaga-tenaga managerial dan profesional asing, hal itu telah membangkitkan kemarahan para pekerja lokal.  Keadaan seperti itu diperparah oleh kenyataan bahwa para kapitalis asing tampak hanya mengeruk sumber daya alam Amerika Latin.
Para politisi Amerika Latin mengritik elite penguasa sebagai antek  kapitalis Inggris atau Amerika. Para politisi yang  sebagian besar kelas menengah  terus  berusaha mendapatkan dukungan dari para pekerja  yang  terancam hilang  pekerjaannya saat ekspor produk-produk Amerika Latin  terus  merosot. Keadaan seperti itu menyebabkan faham nasionalisme tumbuh menjadi faktor penting dalam politik di Amerika Latin pada  abad ke-20.
Sesungguhnya sejak abad ke-19 konstitusi Amerika Latin telah mengatur adanya pemerintahan  yang dipilih oleh rakyat dan golongan-golongan, namun partisipasi rakyat  belum   memadai seperti   terlihat dalam  banyak pemilihan umum maupun penetapan pemenang dari pemilihan-pemilihan  tersebut.  Memasuki abad ke-20 kelompok-kelompok penduduk kota menghendaki reformasi cara-cara pemilihan, pelopor dari reformasi tersebut adalah kaum elite tua dari Argentina dan Chile. Adanya  reformasi cara pemilihan  telah  memungkinkan partai kelas menengah radikal merebut kedudukan presiden di Argentina tahun 1916 dan di  Chile tahun 1920. Sementara itu perubahan administrasi pemerihtahan telah berpengaruh terhadap kebebasan rakyat melakukan pemilihan; di Chilie pemilihan menjadi tidak demokratis dan di Argentina sebagian besar presiden terpilih dan digulingkan oleh kudeta militer.
Pada abad ke-20 di Uruguay, Costa Rica, dan Kolumbia pelaksanaan demokrasi politiknya berjalan cukup baik. Di Brasilia sepanjang tahun 1945-1965 pemilihan  juga telah berjalan dengan baik.  Di Kuba ( selama pendudukan Amerika Serikat dari tahun 1940-1952)  telah dilakukan pemilihan umum, demikian pula di sebagian besar negara-negara republik Amerika Latin. Namun sejak awal tahun 1970-an banyak negara-negara di Amerika Latin menganut sistem satu partai yang unik, hal itu menyebabkan  hasil pemilihan disemua tingkatan telah diketahui terlebih dahulu.
2.2  Keadaan Ekonomi dan Politik Amerika Latin Sebelum Sampai Perang DuniaII
Di Amerika Latin pada awal abad ke-20 negara-negara bagiannya bertambah dua negara yaitu Kuba dan Panama. Kuba merdeka dari Spanyol pada tahun 1902, dan Panama memisahkan diri dari Columbia pada tahun 1903. Walaupun telah menjadi negara merdeka, kedaulatan dari kedua negara tersebut masih terbatas dengan  adanya perjanjian  bahwa tentara Amerika Serikatlah yang bertanggung jawab menjamin kemerdekaan kedua negara tersebut.  Sementara itu dalam dua dekade berikutnya Republik Dominica, Nicaragua, dan Haiti menjadi protektorat Amerika Serikat.
Sebelum memasuki abad ke-20, pada tahun  1845, Texas  yang telah melepaskan diri  dari  Meksiko bergabung dengan  Amerika Serikat. Disamping itu  Amerika  juga menginginkan wilayah Meksiko di Pantai Barat. Sudah tentu Meksiko tidak senang dengan  keinginan   tersebut, maka terjadilah "Perang Mesiko-Amerika". Amerika Serikat  berhasil memenangkan perang  dan memperoleh wilayah California dan Amerika Serikat Barat Daya.
Sejak tahun 1900 investasi Amerika Serikat  di Mesiko dan di negara-negara Karibia telah melampaui investasi Inggris. Hal itu berarti pada awal abad ke-20 Amerika Serikat sudah menanamkan pengaruh politik dan ekonomi  di Amerika Latin  dengan  kuat.  Keadaan seperti itu menyebabkan  tumbuhnya sikap anti terhadap  Amerika Serikat,  yang dikenal  oleh kalangan  masyarakat Amerika Latin sebagai "Imperialis Yankee". Enrique Rodo menyatakan bahwa sikap menentang pelanggaran  militer, ekonomi, dan kultur  dari "Colossus of the North adalah  suatu sikap yang menjadi dambaan rakyat Amerika Latin. Walaupun rakyat dan  negara-negara Amerika Latin sesungguhnya lebih memerlukan terciptanya  keadilan   dan kemakmuran masyarakatnya.  
Pada masa tahun 1900-an  negara-negara Amerika Latin adalah  penghasil produk-produk primair guna keperluan ekspor. Oleh karena itu suatu kontraksi perdagangan dunia karena depresi pada tahun 1890-an menyebabkan kerawanan bagi Amerika Latin  seperti  tampak dengan terguncangnya  ekonomi Argentina dan Kuba. Disamping itu imperialisme Eropa, yang dengan intensif mengeksploitasi koloni-koloninya di wilayah Asia dan Afrika, menyebabkan terjadinya krisis kopi tahun 1905 dan runtuhnya boom karet tahun 1914 di Brasilia.
Beberapa saat setelah itu pecah Perang Dunia I (1914 – 1918) membawa makin susutnya perdagangan dunia. Keadaan itu ternyata  tidak berlangsung lama, karena kerusakan  lahan pertanian di Eropa berakibat terciptanya  pasar baru bagi produk bahan makanan Amerika Latin. Namun cepatnya recovery lahan-lahan pertanian di Eropa tersebut membawa pengaruh  negatif bagi perdagangan produk-produk pertanian Amerika Latin.
  sepertiga bagian pertama dari abad ke-20 pemerintahan di Amerika Latin menjaga stabilitas ekspor hasil produksinya dengan membatasi produksinya, disamping  mengadakan berbagai perjanjian perdagangan internasional  untuk melindungi ekonominya. Dengan terjadinya  depresi pada  tahun 1930-an usaha tersebut tampak sia-sia,  Amerika Latin  menderita kerugian lebih besar daripada  yang seharusnya. Bahkan ketika secara umum ekonomi dunia telah membaik dan tumbuh, pengaturan internasional perdagangan komoditi-komoditi tidak efektif melindungi Amerika Latin. Berkurangnya tembaga dan timah putih menyebabkan rusaknya ekonomi serta menyebabkan perpecahan sosial di Chile atau Bolivia. Dengan berjalannya waktu, maka muncul kesadaran diantara masyarakat Amerika Latin, bahwa melindungi diri dari gejolak perubahan ekonomi dunia adalah mutlak diperlukan antara lain  dengan melakukan diversifikasi ekonomi termasuk industrialisasi.
Selama Perang Dunia ke-1 industrialisasi di Amerika Latin menjadi  marak, pabrik-pabrik dibangun untuk memproduksi barang-barang konsumsi yang semula  diperoleh dari Eropa dan Amerika Serikat. Sebagian besar pabrik-pabrik yang dibangun tersebut adalah tergolong industri  ringan, namun  sewaktu terjadi banjir impor pada tahun  1920-an sebagian besar pabrik-pabrik tersebut mati tenggelam. Pada tahun berikutnya terlihat adanya gelombang naik  dari industri ringan tersebut yaitu ketika ekspor produk primer Amerika Latin menurun, dimana Amerika Latin terpaksa mengurangi impornya serta menggantikannya dengan memproduksi   produk dalam negeri sebagai substitusi impor.
Industri substitusi  impor  terus tumbuh selama Perang Dunia II  sampai  perang berakhir.  Beberapa negara seperti Brasilia dan Argentina  membuat dinding tarif untuk melindungi industri substitusi impor tersebut  serta  menyokong penuh industrialisasi.  Industri Argentina  tumbuh dengan pesat dibawah program ambisius yang dilancarkan oleh diktator Juan D Peron, dan  Brasilia tumbuh menjadi negara yang maju industrinya.
2.3    Munculnya Gerakan Revolusioner Negara-Negara Amerika Latin
Pada abad ke-20 pengalaman pertama yang diperoleh oleh Mesiko adalah adanya revolusi sosial  di berbagai  negara  Amerika Latin. Pemberontakan pada tahun 1910 menghadirkan revolusi  pada tahun 1940; tambang dan kilang minyak milik asing dinasionalisir; dan sebagian besar tanah-tanah produktif diambil alih dan dibagikan kepada para petani. Serangan secara simultan dan berhasil terhadap kapital  asing serta hacendados domestik (tanah-tanah produktip) tersebut tidak diduga sebelumnya.
Pada tahun 1878-1911  Mesiko dibawah pemerintahan diktator Porfirio Diaz   dengan semboyan "Kestabilan dan Kemajuan" dapat berkembang dan maju menuju ke negara industri. Pemerintahan  dilakukannya  secara otoriter dengan dukungan militer, kebebasan masyarakat dikekang dengan kejam, dan pemilihan umum yang bebas dihindarinya. Hal  itulah yang merupakan penyebab utama munculnya gerakan revolusioner dan pemberontakan rakyat Mexico (1910 – 1920) yang kemudian menjadi revolusi sosial.
Revolusi Mexico menyaksikan perpindahan dari kekuasaan diktator otoriter ke kekuasaan radikal dan revolusioner. Ketika  revolusi berlangsung  tambang-tambang minyak asing diambil alih dan kebun-kebun dibagikan kepada petani oleh gerakan revolusioner. Revolusi sosial tersebut  bukanlah terjadi secara tiba-tiba tetapi karena  berbagai sebab  yang berakumulasi dan berseluk-beluk  sbb:
       Perkembangan kapitalisme dan imperialisme yang rakus  khususnya di Amerika Utara disatu pihak, dan  berdirinya negara sosialis  sebagai penerapan paham  Marxisme Leninisme di Rusia dilain pihak,Tumbuhnya nasionalisme yang berkolaborasi dengan kaum kapitalis & imperialis  asing dan   menimbulkan pemeritahan dictator otoriter disatu pihak, dan rakyat banyak yang menuntut keadilan.
Seperti  diketahui adanya  gerakan revolusioner yang menyebabkan revolusi sosial tersebut selain di Mesiko juga terjadi di berbagai negara Amerika Latin lainnya. Untuk memberi gambaran tentang hal itu berikut ini  adalah uraian singkat tentang keadaan yang terjadi  di Kuba, Chili, Bolivia dan Kolombia.
2.1.1     Kuba
Pada tahun 1895-1898, Kuba merupakan jajahan Spanyol,  namun sebagian besar wilayah  pedesaan dan sejumlah kota dikuasai oleh kekuatan revolusi yang ingin menggulingkannya. Spanyol yang menguasai kota-kota besar berusaha menundukkan kekuatan revolusi tersebut, namun perlawanan tetap berlanjut. Perlawanan kaum revolusioner Kuba surut setelah pada tahun 1898 Amerika Serikat memenangkan  "Perang Spanyol-Amerika" dan menduduki  Kuba.  Pada tahun 1902  Kuba  mendapatkan kemerdekaan,  dan tentara Amerika Serikat meninggalkan Kuba. Namun   Amerika Serikat melalui   "Amandemen Platt"  masih memiliki  wewenang  yang besar dalam urusan-urusan dalam negeri Kuba.
Pada tahun 1902-1906 Kuba berada dalam masa damai yaitu sewaktu pemeritahan Tomas Estrada Palma sebagai presiden pertama. Namun antara tahun 1906-1909 dengan menggunakan pasal-pasal dalam "Amandemen Platt" tentara Amerika Serikat  menduduki  kembali Kuba. Pada tahun 1934  Amandemen Platt tersebut dicabut, namun keberadaan Amerika Serikat di Teluk Guantanamo  terus diperpanjang sampai saat ini.
Pada tahun 1952 pada saat pemerintahsn Fulgencio Batista  dapat mengambil alih pimpinan pemerintahan Kuba.  Fulgencio Batista  memimpin Kuba secara diktator otoriter, hal itu berakibat rakyat merasa tidak puas sehingga banyak kelompok  yang  menentangnya. Pada November 1956 Fidel Castro dengan 82 orang pejuang dilatih oleh Alberto Bayo mantan kolonel Tentara Republik Spanyol menggulingkan pemerintahan diktator Batista,  dalam  suasana  masyarakat  kecewa dan tidak puas terhadap pemerintah. Castro kemudian  berhasil membangun negara komunis dengan sistem satu partai yang  pertama di belahan Barat dunia.
2.1.2     Chili
Menjelang akhir abad ke-19, pemerintah Chili di Santiago menjadi lebih kokoh kedudukannya  karena:
·         Kedaulatan Chili atas selat Magelhaens diakui Argentina,
·         Wilayah Chili diperluas kearah utara yang berdampak hilangnya sepertiga akses Bolivia ke Samudra Pacifik, dan
·         Ditemukannya deposit senyawa nitrat yang berharga.
Eksploitasi deposit senyawa nitrat tersebut telah membawa Chili ke era kemakmuran. Namun konflik antara "Presiden" (Jose Manuel Balmaceda) dan "Kongres" telah memicu "Perang Saudara" tahun 1891. Perang-saudara tersebut juga merupakan pertarungan antara pihak yang menghendaki pembangunan industri dalam negeri dengan  pihak  perbankan Chili  yang mengutamakan ekspor sumber daya  alam. "Kongres" memenangkan konflik tersebut, dan kemudian menerapkan sistem "republik parlementer".
Pada periode "republik parlementer" tersebut  terjadi pertumbuhan ekonomi yang cukup   tinggi, namun juga  ditandai oleh ketidakstabilan politik dan merupakan awal  timbulnya masalah sosial yaitu  adanya gerakan revolusioner dari kaum proletar. Masalah sosial tersebut timbul karena tidak terwujudnya "pemerataan  kemakmuran".
Chili selama bertahun-tahun berganti-ganti pemerintahan, baik  melalui kudeta  militer maupun  melalui proses pemilihan. Pada  tahun 1970  Allende berpaham sosialis memenangkan pemilihan  umum. Pemerintahan Allende mengajukan suatu program yang dalam garis besarnya sebagai berikut :
·         menjalankan  sistem ekonomi dan sosial yang sosialistis,
·         meningkatkan peranan kaum buruh,
·         melakukan nasionalisasi bank-bank asing, dan
·         memperkuat milisi rakyat.
Dibawah Allende  keadaan ekonomi dan politik di Chili  tidak menjadi stabil;   media, politisi, serikat buruh, dan berbagai  organisasi   lainnya  selalu melakukan aksi-aksi yang menentang  Allende.   Sejumlah aksi menentang Allende  tersebut didukung oleh  Amerika Serikat.   Hal itu   menyebabkan  pada permulaan tahun 1973 Chili mengalami krisis ekonomi dan hiperinflasi hingga 600% s/d  800%.  Pada 26 Mei 1973 Mahkamah Agung Chili secara terbuka ikut serta menentang pemerintahan Allende, dan berpendapat bahwa  kebijakan Allende adalah pemicu ketidak stabilan ekonomi, politik,  dan sosial di Chlili.
Pada 11 September 1973 terjadi kudeta militer menggulingkan pemerintahan Allende.  Kudeta militer tersebut  kemudian membentuk junta  militer yang  dipimpin oleh Jenderal  Augusto Pinochet, dan mengambil alih kendali negara. Meskipun  kudeta tersebut ilegal menurut konstitusi Chili,  namun "Mahkamah Agung Chili"  mendukung  dan  mengukuhkannya.  Pada 11 September 1980  sebuah  "konstitusi baru"  diiberlakukan  melalui suatu referendum.
Jenderal Pinochet menjadi presiden republik Chili selama 8 tahun. Setelah Pinochet memperoleh kekuasaan, beberapa ratus orang revolusioner meninggalkan Chili  bergabung dengan tentara Sandinista di Nikaragua, pasukan gerilya di Argentina, atau ke kamp pelatihan di Kuba,  Eropa Timur, dan Afrika Utara.
2.1.3     Bolivia
Seperti diketahui sejak merdeka sampai abad ke-19 Bolivia telah kehilangan lebih  dari setengah wilayahnya ke negara tetangga karena suatu peperangan. Pada akhir abad ke-19, meningkatnya harga emas dunia telah membawa Bolivia menjadi negara yang secara  ekonomi  relatif makmur dan secara politik stabil. Sementara itu selama awal abad ke-20  timah telah menggantikan emas sebagai sumber kekayaan negara yang paling penting.  Dalam tiga puluh tahun pertama  abad ke-20  pemerintahan Bolivia  didominasi oleh elit yang menjalankan kebijakan sosial dan ekonomi liberal.
Pada tahun 1951 partai yang berbasis luas, Gerakan Nasionalis Revolusioner Movimiento Nacionalista Revolucionario (MNR), memenangkan pemilihan presiden Bolivia. Kemenangannya tersebut  tidak didukung  oleh kekuatan-kekuatan elit, namun  MNR tahun 1952 ternyata dapat  melakukan  suatu perubahan dengan sukses.  Presiden  Victor Paz Estenssoro dengan dukungan  rakyat melakukan perubahan-perubahan sebagai berikut :
·         memperkenalkan hak pilih,
·         melaksanakan reformasi tanah,
·         mempromosikan pendidikan pedesaan, dan
·         nasionalisasi tambang terbesar (timah).
Pada tahun 1964, junta militer menggulingkan Presiden Estenssoro, kemudian pada 1971  Hugo Banzer Suarez seorang  Kolonel AD diangkat sebagai presiden Bolivia. Selama pemerintahan presiden Banzer ekonomi Bolivia tumbuh dengan mengesankan, walaupun terjadi banyak pelanggaran  hak asasi manusia (HAM)  dan krisis fiskal yang  akhirnya melemahkan dukungan masyarakat terhadapnya. Banzer pada tahun 1978  dipaksa menggelar pemilu, dan Bolivia kembali  memasuki masa kekacauan politik.
Pada tahun 1979 dan 1981 dilaksanakan Pemilu, namun hasilnya tidak meyakinkan dan ditandai oleh banyak kecurangan. Setelah itu Bolivia selalu mengalami krisis politik dan ekonomi, pemerintahan tidak stabil (sering berganti-ganti melalui kudeta dan kontra kudeta militer), terjadi banyak pelanggaran HAM,  dan marak praktek perdagangan narkotika. Selama pemerintahan presiden  Gonzalo Sanchez de Lozada  telah dilakukan  reformasi  ekonomi dan sosial secara agresif, dimana investor asing  boleh menguasai 50% kepemilikan dan melakukan kontrol terhadap manajemen perusahaan publik. Reformasi dan restrukturisasi ekonomi ini  sangat ditentang oleh  golongan tertentu  yang  terus melakukan  protes  dan bahkan  kadang-kadang  disertai  kekerasan,  terutama di La Paz ibukota dan Chapare daerah penghasil koka. 
Pada tahun 1994-1996 pemerintah de Lozada  menawarkan kompensasi moneter  kepada  petani koka ilegal di wilayah Chapare, jika mereka menghentikan penanaman koka. Kebijakan ini dapat sedikit mengurangi produksi koka. Seperti diketahui pada tahun  1990-an Bolivia adalah pemasok hampir sepertiga  koka dunia.
Sementara itu Central Obrera Boliviana (COB)  menentang berbagai kebijakan pemerintah  Bolivia, namun tantangan itu tidak efektif seperti terlihat pada saat pemogokan guru tahun 1995. Pada saat itu COB tidak dapat mengerahkan  dukungan dari anggotanya  termasuk dukungan  dari para pekerja konstruksi  dan  pabrik. Kemudian pemerintah menyatakan negara dalam keadaan darurat militer  untuk menjaga agar gangguan yang disebabkan oleh aksi  para guru tersebut tidak terulang.
Kemudian antara Januari 1999 sampai April 2000 terjadi aksi protes dalam skala besar di kota terbesar ketiga di Bolivia (Cochabamba).  Aksi protes tersebut adalah sebagai reaksi terhadap privatisasi sumber daya air. Akibat privatisai tersebut  pengelola  sumberdaya air (perusahaan asing) menaikan harga  air hingga dua kali lipat. Gonzalo Sanchez de Lozada mundur pada Oktober 2003, dan digantikan Wakil Presiden  Carlos Mesa. Namun 6 bulan kemudian Juni 2005  Mesa digantikan oleh ketua MA Eduardo Rodriguez. Pada  18 Desember 2005  Evo Morales pemimpin sosialis pribumi terpilih sebagai presiden.
2.1.4     Kolombia
Republik Kolombia terbentuk pada tahun 1886, setelah sebelumnya terjadi perang sipil selama dua tahun.  Perang sipil seperti itu sering terjadi di Kolumbia,  yang paling terkenal adalah "perang sipil 1000 hari (1899 - 1902)" yang terjadi  bertepatan dengan Amerika Serikat  ingin mengambil alih pembangunan "Terusan Panama". Hal tersebut berakibat Panama menjadi sebuah negara merdeka  lepas dari Kolombia pada tahun 1903.
Kolombia juga terlibat dalam perang yang cukup lama dengan Peru, karena konflik  teritorial.  Setelah perang dengan Peru berakhir  Kolombia mengalami stabilitas politik. Sejak Gustavo Rojas berkuasa melalui sebuah kudeta, dan melakukan negosiasi dengan kaum gerilyawan (1953 – 1964) suasana kekejaman mereda. Setelah Gustavo Rojas, Kolumbia berada dibawah pemimpin militer Jenderal Gabriel Paris Gordillo.  Meredanya suasana kekejaman tersebut ternyata tidak meredakan adanya kontradiksi. Bahkan kekuatan  kaum gerilyawan di desa-desa akhirnya secara resmi membentuk FARC  (FARC atau  Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia atau Revolutionary Armed Forces of Colombia, lihat Wikipedia) untuk melawan pemerintah  yang dipandangnya  pro Amerika Serikat Antara tahun 1980 – 1990 terbentuklah "kartel obat" yang berkuasa dan kejam di Kolumbia yaitu "Kartel Medellin" (Pablo Escobar)  dan "Kartel Kali", dalam hal tertentu kartel-kartel tersebut mempengaruhi politik dan ekonomi di Kolombia. Pada tahun 1991 "Konstitusi Kolombia 1991" yang diajukan oleh "Badan Konstitusi Kolombia" diberlakukan. Konstitusi ini mengatur posisi-posisi penting di bidang politik, etnik,  gender, dan hak assasi manusia (HAM).
2.4         Persatuan Di Amerika Latin
Negara-negara Amerika Selatan sadar,  bahwa mereka tidak akan mencapai  "Kemerdeka sepenuhnya" jika tidak bersatu.  Persatuan tersebut hanya akan kokoh jika Amerika Selatan dapat menjadi "gabungan negara-negara raksasa", dan Amerika Selatan sangat mungkin menjadi "gabungan negara-negara raksasa" karena  :
·         Memiliki sumberdaya yang cukup untuk seluruh kebutuhannya,
·         Memiliki luas wilayah yang memungkinkan setiap penduduk memiliki ruang yang cukup bagi hidupnya,
·         Memiliki iklim dan penduduk dengan adat-istiadat yang lebih kurang sama, dan
·         Mampu  membentuk suatu pemerintahan yang demokratis.

Bahwa  Amerika Selatan akan bersatu dan menjadi "gabungan negara-negara raksasa"  telah   terlihat  tanda-tandanya antara lain tampak pada saat gerakan kemerdekaan Amerika Selatan (South American independence movement) pimpinan Simon Bolivar memperoleh kemenangan   atas tentara kerajaan  Spanyol   di Ayachucho (1824). Tanda-tanda bahwa Amerika Selatan akan bersatu menjadi "gabungan negara-negara raksasa tersebut kemudian menjadi lebih nyata sejak hampir 50 tahun yang lalu  tepatnya pada tahun 1969, dimana  negara-negara  Amerika Selatan  telah berhasil membentuk berbagai kerja-sama  antara lain sebagai berikut :
·      Andean Community (Comunidad Andina de Naciones-CAN)
Pada 1969 lima negara Amerika Selatan yaitu Bolivia, Kolombia, Ekuador dan Peru  menandatangani Andean Pact  yang merupakan apa yang disebut sebagai "Andean Community".
·      Latin American Economic System (SELA)
Pada 1975 terbentuk Latin American Economic System (SELA). Saat ini (2010) SELA beranggotakan  Argentina, Barbados, Belize, Bolivia, Brasil, Chile, Kolombia, Kosta Rika, Kuba, Dominika, Ekuador, El Salvador, Grenada, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Jamaika, Meksiko, Nikaragua, Panama, Paraguay, Peru, Suriname, Trinidad & Tobago, Uruguay, dan Venezuela.
·      Latin American Integration Association (LALA/ALADI)
Pada 1980 Latin American Integration Association (LALA) berdiri.  LALA beranggota 12 negara yaitu Argentina, Brasil, Bolivia, Chile, Kolombia, Kuba, Ekuador, Meksiko, Paraguay, Peru, Uruguay dan Venezuela.
·      Mercado Comun del Sur (Mercosur)
Pada 1991 Mercado Cumun de Sur (Mercosur) dibentuk oleh  4 negara yaitu Argentina, Brasil, Paraguay dan Uruguay. Mercosur dimaksudkan untuk  memperkuat para anggotanya menghadapi perkembangan perekonomian dunia. Mercosur memiliki pasar dan tarif impor bersama. Pada tahun 2006, Venezuela bergabung menjadi anggota penuh Mercosur.
DAFTAR PUSTAKA
Kismomihardjo, Santoso. 2012. Amerika Latin. (diakses tanggal 20 November 2015)
Basri, Seta. Negara-Negara Kawasan Amerika Selatan Latin bentuk Negara dan Sistem Pemerintahannya. (diakses tanggal 18 November 2015)
 Arnold Toynbee,1967.Sejarah umat manusia.Jakarta:pustaka Pelajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar