Rabu, 23 Desember 2015

Praktik Pemerintah Pendudukan Jepang di Indonesia


SITI MASYITOH /S/B

Keterlibatan Jepang dalam perang Dunia II pada tahun 1942-1945 dilandasi oleh ambisi membangun suatu wilayah kekuasaan di Asia. Penghancuran dan pengenyahan terhadap semua penghalang cita-citanya menjadi tugas yang harus dilakukan. 
Khusus mengenai Asia Tenggara, Jepang membagi kawasan ini kedalam dua sasaran.
1.      Wilayah A, yaitu beberapa koloni Inggris, Belanda dan Amerika Serikat yang meliputi Malaya, Kalimantan Utara, Filipina dan Indonesia.
2.      Wilayah B, yaitu koloni Prancis meliputi Vietnam, Laos dan Kamboja.
Mengapa Jepang berkeinginan menguasai wilayah-wilayah di Asia Pasifik?
Apakah tujuan Jepang menguasai wilayah-wilayah di kawasan Asia Tenggara?

Jepang menguasai Asia Tenggara, khususnya di wilayah A dengan tujuan, yakni menjadikan kawasan Asia Tenggara sebagai sumber bahan mentah bagi industri perang dan pertahanannya. Jepang juga berusaha untuk memotong garis perbekalan musuh yang berada di wilayah ini. Hal ini terlihat ketika Jepang berhasil menduduki dan menguasai Indonesia. Jepang membagi wilayah Indonesia kedalam tiga pendudukan pemerintah militer.
1.      Wilayah I, terdiri atas Jawa Madura serta diperintah oleh Tentara keenambelas Rikugun yang berpusat di Bukittinggi.
2.      Wilayah II, yakni Sumatera dan diperintah oleh Tentara Keduapuluhlima Rikugun yang berpusat di Bukittinggi.
3.      Wilayah III, terdiri atas Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali dan Nusa Tenggara serta diperintah Armada Selatan Kedua Kaigun (Angkatan Laut) yang berpusat di Makasar.
Di bidang politik, Jepang mempropagandakan diri sebagai saudara tua bagi rakyat Indonesia. Bersama-sama dengan Negara-negara di Asia Pasifik, Jepang menyatakan ingin menciptakan kemakmuran bersama di Asia Timur Raya. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus membantu bangsa Jepang memenangkan perang melawan pihak sekutu dalam perang Dunia II. Cara dan upaya Jepang mengeksplotasi sumber kekayaan Indonesia yaitu karena ketergantungan Jepang yang membutuhkan dana besar bagi biaya perangnya. Indonesia merupakan salah satu wilayah yang diperkirakan mampu mendukung kemenangan Jepang.
a.       Propaganda Jepang di Indonesia
Ketika Jepang baru datang ke Indonesia mereka berusaha membujuk bangsa Indonesia agar bersimpati terhadap Jepang dan mau membantu Jepang dalam perang Asia Timur Raya. Bujukan tersebut dilancarkan melalui propaganda yang isinya menyatakan bahwa Jepang mengobarkan Perang Asia Timur Raya adalah untuk membebaskan seluruh bangsa Asia dari penjajahan bangsa Barat. Mereka juga menyatakan bahwa bangsa Jepang adalah saudara tua bangsa Indonesia. Maksud datang ke Indonesia untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Di samping itu, Jepang juga menyatakan bahwa bangsa Jepang akan mempersatukan bangsa Asia dalam lingkungan kemakmuran bersama Asia Timur Raya di bawah pimpinan Jepang. Bagaimana kenyataan dari janji-janji tersebut?
Ternyata selama menjajah Indonesia, Jepang melakukan pemerasan terhadap sumber alam maupun tenaga rakyat Indonesia. Pemerintah militer Jepang memperlakukan bangsa Indonesia dengan sangat kejam. Mereka memeras dan menindas rakyat Indonesia diluar batas perikemanusiaan. Bahkan tindakan kejam pemerintah Jepang melebihi kekejaman pemerintah Hindia Belanda pada zaman kerja rodi dan tanam paksa. Akibat tindakan Jepang tersebut, bangsa Indonesia mengalami penderitaan, baik penderitaan lahir maupun batin.

b.      Pemerasan Sumber Alam
Berbagai cara dilakukan oleh Jepang untuk bisa mengeruk sumber-sumber alam di Indonesia. Semua itu dilakukan oleh Jepang demi tercapainya cita-cita dan ambisi politiknya, yakni menguasai wilayah Asia. Usaha-usaha Jepang dalam memeras kekayaan bangsa Indonesia diantaranya sebagai berikut :
·         Semua harta peninggalan milik bangsa Belanda disita, seperti perkebunan, bank, pabrik dan perusahaan-perusahaan vital (pertambangan, telekomunikasi, transportasi, listrik dan lain-lain).
·         Jepang mengawasi dan memonopoli penjualan hasil perkebunan teh, kopi, karet dan kina.
·         Jepang melancarkan kampanye pengerahan barang-barang dan menambah bahan pangan secara besar-besaran. Kampanye ini menjadi tugas Jawa Hokokai dan instansi-instansi lain.
·         Jenis-jenis perkebunan tidak berguna dimusnahkan dan diganti dengan tanaman bahan makanan.
·         Rakyat hanya diperbolehkan memiliki 40% dari hasil pertaniannya, sedangkan 60% lainnya harus disetorkan kepada pemerintah Jepang dan lumbung desa.
·         Rakyat dibebani pekerjaan tambahan untuk menanam pohon jarak yang digunakan sebagai pelumas pesawat terbang dan pelicin senjata.

c.       Pemerasan Tenaga Manusia (Romusha)
Jepang memerlukan banyak tenaga kerja untuk membangun pertahanannya, seperti kubu-kubu pertahanan, gua-gua, gudang bawah tanah, lapangan udara darurat, jalan-jalan dan sebagainya. Tenaga kerja itu dperoleh dari desa-desa di Pulau Jawa yang penduduknya amat padat. Pada mulanya, pengerahan tenaga kerja tersebut bersifat suka rela dan pelaksanaan pekerjaannya juga tidak begitu jauh dari rumah penduduk. Selain itu, Jepang melakukan propaganda dengan membentuk barisan romusha yang bertugas membela Negara dan membangun kemakmuran bersama. Namun, dalam pelaksanaannya, pengerahan tenaga rakyat ini dilakukan secara paksa. Mereka diperlakukan secara kasar, berbeda dengan propaganda yang dielu-elukannya. Kesehatan mereka tidak dijamin, makanan tidak cukup dan pekerjaan mereka melebihi kesanggupan manusia. Kematian banyak menimpa rakyat akibat romusha.
Demi menghilangkan rasa takut rakyat, sejak tahun 1943 Jepang menggelar propaganda baru. Romusha dipujinya setinggi langit, bahkan dikatakan sebagai prajurit ekonomi atau pahlawan pekerja. Jepang menggambarkan romusha sebagai sebuah tugas suci. Banyak rakyat yang kemudian masuk kembali ke romusha setelah melihat kesungguhan Jepang. Akan tetapi, kenyataannya tetap seperti yang tidak dharapkan. Romusha harus bekerja menebang kayu dihutan, meratakan bukit, menggempur batu-batu di pegunungan dan sebagainya.para pekerja yang lalai atau terlihat santai akan ditampar, dipukul dengan gagang senapan, didera atau ditendang. Mereka yang melawan akan disiksa bahkan dibunuhnya. Padahal romusha tersebut tidak hanya dikirim keluar Pulau Jawa, tetapi juga dikirim keluar Indonesia, seperti Burma (Myanmar), Thailand, Filipina, Malaya (Malaysia), Serawak dan sebagainya. Menurut taksiran, dari 300.000 tenaga romusha yang dikirim keluar negeri, hanya 70.000 orang yang berhasil kembali dan itupun dalam kondisi yang memprihatinkan.
d.      Pengerahan Tenaga Manusia melalui Organisasi Militer
Pengerahan tenaga rakyat Indonesia pada zaman Jepang juga dilakukan dengan membentuk organisasi militer. Tenaga para pemuda dimanfaatkan untuk menghadapi serbuan tentara Sekutu ke Indonesia. Adapun yang termasuk organisasi semi militer diantaranya sebagai berikut.
·         Seinendan (barisan pemuda)
Organisasi ini didirikan pada tanggal 9 Maret 1943. Anggotanya terdiri atas para pemuda yang berusia 14 sampai 22 tahun. Tujuan dibentuknya organisasi ini menurut pemerintah Jepang adalah untuk mendidik  dan melatih para pemuda agar dapat mempertahankan tanah air mereka dengan kekuatan sendiri, sedangkan tujuan pembentukan organisasi ini yang sebenarnya adalah mempersiapkan para pemuda untuk membantu Jepang dalam menghadapi serbuan tentara sekutu.
·         Keibodan (barisan pembantu polisi)
Organisasi ini dibentuk pada tanggal 29 April 1943. Anggotanya terdiri atas para pemuda yang berusia antara 26 sampai 35 tahun. Para pemuda tersebut memperoleh latihan untuk membantu tugas-tugas kepolisian. Organisai ini berada dibawah pengawasan ketat polisi Jepang. Keibodan adalah nama barisan pembantu polisi di Pulau Jawa. Di daerah luar pulau Jawa terdapat pula organisasi semacam itu, misalnya di Sumatera disebut Bogo dan Kalimantan disebut Borneo Konen Hokokudan.
·         Fujinkai (himpunan wanita)
Organisasi itu dibentuk bentuk pada bulan Agustus 1943. Anggota khusus kaum wanita yang berusia lebih dari 15 tahun. Tugasnya ialah ikut memperkuat pertahanan dengan cara mengumpulkan dana wajib yang berupa perhiasan, hewan ternak, bahan makanan dan sebagainya untuk kepentingan perang. Perbedaan antara organisasi semi militer dengan organisasi semi militer anggota-anggotanya hanya diberi latihan dasar kemiliteran tanpa dipersenjatai, sedangkan dalam organisasi militer anggota-anggotanya disamping mendapat latihan kemiliteran juga dipersenjatai.

e.       Organisasi militer di zaman Jepang
Adapun organisasi militer yang dibentuk pada zaman Jepang di antaranya sebagai berikut:
·         Heiho (pembantu prajurit Jepang)
Organisasi itu dibentuk pada bulan April 1943. Anggotanya ialah para pemuda yang berusia antara 18 sampai 25 tahun dan paling rendah berpendidikan sekolah dasar. Para anggota Heiho mendapat latihan kemiliteran lengkap. Setelah lulus mereka langsung ditempatkan di dalam organisasi militer, baik angkatan darat maupun angkatan laut. Mereka juga diberi senjata. Banyak di antara prajurit Heiho yang dikirim ke luar negeri untuk berperang melawan Sekutu. Di antara mereka dikirim ke Kepulauan Solomon dan Birma.
·         PETA (pembela tanah air)
Pasukan PETA dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943. Tugas pasukan itu sangat berat, yaitu mempertahankan tanah air Indonesia dengan sekuat tenaga. Untuk menjadi prajurit PETA para pemuda dididik secara khusus, yaitu di Tanggerang Jawa Barat. Untuk menjadi komandan pasukan PETA mereka dididik lewat pendidikan Calon Perwira  PETA di Bogor. Latihan yang diberikan di dalam PETA sangat berat dan disiplin. Meskipun PETA dan Heiho sama-sama dibentuk oleh Jepang, tetapi PETA berbeda dengan Heiho. PETA merupakan tentara Indonesia yang dididik oleh Jepang, sedangkan Heiho merupakan bagian dari tentara Jepang.
Pembentukan PETA yang melatih para pemuda dalam bidang kemiliteran ternyata member manfaat yang sangat besar bagi bangsa Indonesia. Para pemuda yang dilatih di dalam PETA, menjadi salah satu modal utama bagi bangsa Indonesia dalam perjuangan pada masa awal kemerdekaan. Dari prajurit-prajurit PETA itu muncul tokoh-tokoh nasional dalam bidang kemiliteran diantaranya Jenderal Sudirman, Jendral Gatot Subroto, Supriyadi, Jendral Ahmad Yani, Jendral Suharto (Mantan Presiden RI) dan sebagainya.


Daftar Pustaka

[1] Saiman, Marwoto & Bunari. 2013. Sejarah Nasional Indonesia. Pekanbaru : Cendikia Insani.

[2] Kurnia, Anwar & Suryana, Moh. 2000. IPS Sejarah. Jakarta : Yudhistira.

[3] Nugroho, Susanto. 1982, Sejarah Indonesia I. Jakarta : Balai Pustaka.

[4] Sutjipto Wirjosuparto, R.M. 1953. Dari Lima Zaman Penjajahan Menuju Zaman Kemerdekaan. Jakarta: Indira.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar