Senin, 14 Desember 2015

PENINGGALAN SEJARAH KABUPATEN BENGKALIS

DEVI ANGGRAEINI / SR
Asal mula nama Bengkalis diambil dari Kata " Mengkal" yang berarti sedih atau sebak dan " Kalis" yang bearti tabah, sabar dan tahan ujian kata ini di ambil dari ungkapan raja kecil kepada pembantu dan pengikutnya sewaktu baginda sampai di pulau Bengkalis ketika ingin merebut tahta kerajaan Johor. dengan ungkapan " Mengkal rasanya hati ini karena tidak diakui sebagai Sultan yang memerintah negeri, namun tidak mengapalah, kita masih kalis dalam menerima keadaan ini " sehingga menjadi buah bicara penduduk bahwa baginda sedang Mengkal tapi masih Kalis akhirnya ungkapan itu menjadi perkataan " oh baginda sedang Mengkalis " dari kisah ini timbullah kata mengkalis, bahkan berubah menjadi kata Bengkalis.
Sejarah Bengkalis bermula ketika Tuan Bujang alias Raja Kecil bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah mendarat di Bengkalis pada tahun 1722. Beliau di sambut oleh batin Senggoro dan beberapa Batin pucuk suku "asli" Batin Merbau, Batin Selat Tebing Tinggi dll. Berita Raja Kecil adalah pewaris kerajaan Johor semakin menumbuhkan rasa hormat Batin-Batin di maksud, sehingga mereka mengusulkan agar Raja Kecil membangunkan kerajaannya di pulau Bengkalis.[2]
Namun melaui musyawarah beliyau dengan Datuk Laksemana Bukit Batu, Datuk Pesisir, Datuk Tanah Datar, Datuk Lima Puluh dan Datuk Kampar dan para Batin, di sepakati bahwa pusat kerajaan didirikan di dekat Sabak Aur yakni di sungai Buantan salah satu anak Sungai Siak, pusat kerajaan itu didirikan pada tahun 1723. Kerajaan inilah kemudian berkembang menjadi kerajaan Siak Sri Indra Pura, yang pernah menguasai kawasan yang luas di pesisir pantai Sumatra bagian utara dan tengah sampai ke perbatasan Aceh.
Catatan sejarah menunjukkan, bahwa Bengkalis pernah menjadi basis awal kerajaan Siak. Di Bengkalislah wawasan mendirikan kerajaan Siak di mufakati. Dan di Bengkalis pula bantuan moral dari rakyat di padukan ketika beliau keluar dari Bintan. Sejarah juga mencatat, setelah belanda semakin berkuasa. Maka Bengkalis pula yang menjadi tempat kedudukan residen pesisir timur pulau Sumatra berdasarkan perjanjian dengan Sultan Syarif Kasim Abdul Jalil Syarifudin menyerahkan pulau bengkalis kepada Hindia Belanda tanggal 26 Juli 1823.
Sejarah juga mencatat sebelum kedatangan Raja Kecil, Bengkalis sudah menunjukkan peran penting dalam arus lalu lintas niaga di selat Melaka. Terutama sebagai persinggahan saudagar yang keluar masuk sungai Siak. Bahkan sejak Tapung (Petapahan) di temui timah (1674) dan emas.peran Bengkalis dalam hubungan Melaka dengan kerajaan di pesisir timur Sumatra semakin besar, terutama dimasa berdirinya kerajaan Gasib. Di masa pemerintahan Sultan Mansur Syah tahun (1459-1477) Gasib di kuasai oleh Melaka, raja Gasib yang belum menganut agama Islam di Islamkan dan di beri gelar Sultan " Ibrahim" dan di jadikan wakil Sultan Melaka di Gasib, sejak itu kerajaan Gasib di bawah kepimpinan Sultan Ibrahim ( Sebelum di Islamkan bernama Megat Kudu) menjadi kawasan pengembangan Islam.

Bengakalis pada zaman prasejarah
Untuk mengethaui perjalanan kemajuan kebudayaan manusia sebelum mendapatkan sumber-sumber tertulis, terdapat dua sumber yang dijadikan dasar yaitu :
1.      penggalian fosil ( sisa tulang belulanh manusia atau hewan) dan artepak-artepak (alat-alat yang digunakan manusia prasejarah) yang ditemukan didalam tanah atau penggalian secara kebetulan.
2.      suku-suku bangsa yang saat ini masih hidup dipedalaman dan terbelakang.
dalam hubungan ini di bengkalis, menghadapi persoalan prasejarah yang sulit, terutama dalam usaha memperoleh keterangan tentang asal usul penghuni pertama (early man) serta kebudayaannya. hal ini di sebabkan di sumatera pada umumnya, Riau dan bengkalis khususnya, sedikit sekali di temukan fosil-fosil dan artepak-artepak. dalam laporan penelitian arkeologi di sumatera yang dilaksanakan dari tanggal 28 mei- 18 juli 1973 oleh bennet bronson dan kawan-kawan dinyatakan "kiranya persoalan kesulitan yang di tentukan earlyman. sehingga sekarang, sumatera tidak mengahasilkan tulang tulang dari manusia pertama. kenyataan ini tidak menghasilkan suatu bukti, baik berupa tulang belulang maupun sisa-sisa tanaman yang menunjukkan sesuatu bukti, baik berupa tulang belulang maupun sisa-sisa tanaman yang menunjukkan sesuatu yang timbul sebelum akhir zaman Plestosin (10.000-15.000 tahun yang lalu). semua penyelidikan arkeologi yang diadakan di sumatera selama abad terakhir tidak berhasil menemukan fosil manusia prasejarah seperti yang banyak ditemukan di pulau jawa. walaupun di Sumatera, raiu dan khususnya Bengakalis belum di temukan fosil-fosil dan kurangnya artepak-artepak sebagai sumber utama untuk mendapatkan keterangan tentang hidup serta kehidupan manusia pertama di bengkalis, tetapi para penelitian masih dapat mengambil manfaat dari terdapatnya suku-suku terbelakang yang masih hidup di beberapa bagian daerah kabupaten bengkalis dewasa ini. suku-suku dimaksud suku sakai di mandau , suku akit di pulau rupat dan suku orang hutan di pulau bengkalis.
Bengkalis pada zaman kuno
Kesamaan pendapat para ahli sejarah bahwa arus perdagangan di perairan Selat Malaka memegang peranan penting dibelahan bumi ini sejak awal tarik masehi, karena jalur perdagangan yang terbentang antara cina dan Hindia melalui selat ini. Bengkalis yang terletak di perairan selat malaka merupakan daerah strategis dalam arus lalu lintas selat malaka. faktor ini memungkinkan di Bengkalis timbulnya suatu bentuk kekuasaan dan kenegaraan yang akan diuraikan seperti berikut ini:
Menurut tarikh cina 1433, kerajaan ghasib bersama-sama dengan indragiri dan siantan minta perlindungan ke cina karena adanya usaha ekspansi kerajaan Malaka yang memeluk agamaislam yang berbeda kepercayaannya dengan orang gasib yang beragam Hindu/Budha. Kerajaan majapahit sebagai pelindung kerajaan gasib selama ini menjadi lemah. "Dalam sejarah melayu" dikisahkan sewaktu sultan masnyur syah berkuasa di Malaka tahun 1444- 1477, malaka menaklukan kerajaan Hindu/Budha yang bertempat di gasib.
Raja gasib ketika itu bernama Permaisuri ditawan. Setelah ditaklukkan oleh malaka, sultan mansyur syah mengangkat anak raja Siak bernam Megat Kudu. Setelah Megat kudu di didik di Malaka kemudian memeluk agama islam dan dikawinkan dengan anak raja Malaka, ia memegang kekuasaan di siakdibawah naungan malaka dengan gelar sultan ibrahim, gelar sultan ini digunakan setelah masuk agama islam. Jabatan sultan selanjtnya diwakili oleh bendahara yang ada di daerah-daerah dengan gelar datuk. Sebagai puncak pimpinan, datuk bertanggung jawab langsung kepada raja. Dibawah datuk ada lagi  pejabat-pejabat yang selalu berhubungan dengan masyarkat. Mereka itulah sebagai pelaksanaan kepemimpinan dalam masyarakat yang disebut kepala suku. Kepala suku adalah pemimpin di daerah persukuan yang didasari atas unsur-unsur kekeluargaan.
Dalam hubungannya sebagai rakyat dan sebuah kerajaan, kadang-kadang tiap suku itu mempunyai tugas-tugas tertentu didalam kerajaan, kepala suku bertanggung jawab langsung kepada datuk. Dalam masyarakat kepala suku ini memimpin penyelesaian masalah kekeluargaan dilingkungan persukuan mereka. Jika tidak terselesaikan dan menemui jalan buntu barulah penyelesaiannya diteruskan kepada datuk. Adalagi daerah yang disebut perbatinan ini terletak diperdalaman. Penyatuan masyarakat dalam daerah perbatinan ini didasrakan atas adat istiadat, kepercayaan dan talian daerah. Sebagai kepala daerah perbatinan ini disebut "batin" atau ketua adat atau Bomo. Perbatinan terdapat di daerah suku-suku terbelakang seperti suku sakai diperdalaman pulau Bengkalis.
Selain itu di senggoro yang dipimpin oleh laksamana Batin hitam.pada zaman kuno ini dikaitkan dengan zaman prasejarah di pulau bengkalis sudah di huni manusia denga pola kehidupan tradisonal \dan telah memiliki tatanan pemerintahan dalam bentuk perbatinan orang hutan dan perbatinan senggoro. Meskipuan perbatinan senggoro memiliki lingkungan kecil yang terletak dipesisir pulau bengkalis, namun telah memilki tatanan pemerintah dan pertahanan yang disegani dan dan diperhitungkan karena memilki anggota pilihan yang cukup terlatih dan berani mempertaruhkan nyawanya untuk mempertahankan daerah pemukiman meraka.
Perbatinan dibawah datuk laksamana batin hitam ini mengatur strategi dan taktik mempertahankan daerahnya dengan membangun benteng-benteng yang saat ini dikenali oleh masyarakat dengan nama benteng batin hitam dan kuburan dara sembilan yang merupakan benteng untuk melindungi para gadis saat itu agar tidak di culik oleh para penyerang dari laur yang pada masa itu dikenal dengan nama "lanun" kemungkinan kematian para gadis ini disebakan oleh terkurung dari luar atau bentengnya rubuh karena serangan Portugis.[3]
Bengkalis melawan penjajahan portugis
Pada tahun 1512, sultan mahmud syah mengutus hang nadim ke bengkalis , bukit batu dan siak-gasib untukmebincangkan persipan melawan portugis di malaka. Bengkalis melalui batin senggoro mempersiapkan pasukan dibawah laksamana batin hitam.kesatuan bukit batu mempersiapkan pasukan dibawah pimpinan tuan megat dan siak-gasib menyiapkan pasukan dibawah pengawasan sultan khoja ahmad syah. Armada gabungan ini kemudian berkumpul dengan armada lainnya di kuala lumpur di bawah pimpinan hang nadim, pada bulan juli 1512 pasukan gabungan yang terdiri dari bengkalis, bukit batu, siak-gasib dan bintan menyerang portugis yang dipimpin oleh Fernao Perses de Andrade di malaka.
Dengan adanya penyerangan tersebut, menyebabkan portugis tidak puas hati dan meneruskan serangan ke Bengkalis dan bukit batu. Dengan strategi yang mantap dan bantuan kerajaan siak serta kebatinan senggoro maka bengkalis dapat mempertahankan diri sehingga portugis mengalami kekalahan dan mundur kembali ke malaka. Kemenangan menantang serangan Portugis tahun 1512 merupakan peristiwa paling bersejarah dan memiliki semangat perjuangan yang besar bagi bengkalis.

Peninggalan sejarah
Kota bengkalis mayoritas penduduknya suku melayu, jawa, bengkinang, cina, banjar dan lain-lain. Dari peninggalan sejarah berupa bangunan-bangunan pada zaman penjajahan dahulu hingga yang berbau mistik, seperti bangunan lama yang mempunyai kuasa spiritual dan makam-makam bersejarah. Sayangnya, cerita sejarah yang ada di Bengkalis hanya tersimpan di dalam buku besar sejarah di kantor pariwisata. Kebanyakan orang Bengkalis tidak mengetahui sejarah yang ada di daerahnya sendiri terutama bagi anak muda sekarang. Orang tua dahulu yang mengetahui pun seakan enggan menceritakan kepada generasi muda sehingga tidak tahu akan sejarah Bengkalis dan anak muda dizaman sekarang menganggap yang lalu biarlah berlalu.
Langsung saja saya mengulas tentang peninggalan sejarah Bengkalis berikut ada beberapa peninggalan yang saya ketahui :
Masjid Kuning
Masjid Kuning ini berdiri pada tahun 1850 M, pada pertengahan abad Ke-19 di desa Senggoro. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Allahyarham Panglima MinalMasjid Kuning ini awalnya berdinding papan, banngunannya pun sangat sederhana dan kecil. Setelah masjid dibangun, ditanamlah dua batang kenanga. Kenanga disebelah kanan ditanam oleh Panglima Minal, yang disebelah kiri di tanam oleh istrinya, Buyut. Beberapa tahun kemudian, kenanga itu pun besar dan berbunga. Lama kelamaan masjid kecil ini tersungkup oleh bunga kenanga. Sehingga, dari kejauhan terlihat hanya warna kuning bunga kenanga. Kabarnya, itulah sebab kenapa masjid itu disebut Masjid Kuning.
Masjid Kuning telah mengalami pemugaran sebanyak dua kali, yang pertama dilakukan pada masa colonial Belanda, dan yang kedua dilakukan setelah Indonesia merdeka. Salah satu imam Masjid Kuning yang terkenal adalah imam Simpul,merupakan cucu Panglima Minal. Masyarakat Bengkalis percaya bahwa Masjid Kuning memiliki kekuatan mistik. Menurut cerita yang beredar,masjid tersebut dijaga oleh makhluk gaib,yang tak jarang menampakkan diri kepada orang-orang tertentu.
Hal ini juga pernah dialami oleh Ahmad Sontel (keturunan panglima minal) dan Ustadz M.Yunus. Sampai sekarang,masjid tersebut masih dicat berwarna kuning,dari luar sampai di dalamnya termasuk juga kain pembatas sholat diberi warna kuning.[5]
Perigi Lada Hitam
Di desa Sungai Alam, tepatnya di dusun Sukaramai, ada sebuah kolam besar yang di percayai memiliki kisah tersendiri. Meski lebih pantas disebut kolam besar, namun penduduk setempat menyebutnya perigi. Perigi atau kolam dengan luas sekitar 200 meter persegi itu dipercayai mempunyai kekuatan magis yang besar,sehingga tidak ada penduduk yang berani berbicara takabur di kawasan tersebut.
Di sekitar perigi sudah ditumbuhi semak belukar yang tinggi, namun airnya sangat jernih. Menurut salah seorang warga yang kami jumpai,perigi ini banyak didatangi orang karna percaya air dari perigi ini bisa menyembuhkan penyakit.
Menurut narasumber yang bernama Zakaria,pada masa penjajahan dulu,kawasan tersebut merupakan kawasan diperuntukan oleh Belanda untuk tempat pengolahan rempah-rempah. Pemerintah kolonial Belanda selalu menjadikan tanah Bengkalis sebagai daerah uji coba pertanian,seperti menanam kapas dan membuat pabrik pemintalan benang,sebagaimana yang dilakukan di Kebun Kapas (salah satu desa di Bengkalis) sekarang. Selain kapas,ternyata Belanda juga mencoba menanam rempah-rempah,karena pada masa itu komoditas ekspor yang sangat menguntungkan adalah rempah-rempah.
Salah satu jenis rempah yang dikembangkannya adalah lada hitam.Untuk menanam lada hitam di Sungai Alam.pemerintah kolonial Belanda bekerjasama dengan kapitan cina yang bernama Chambian, selain itu penduduk juga diwajibkan menanam lada hitam dan hasilnya harus dijual pada pemerintah Belanda. Sekitar tahun 1920, setelah penanaman dilakukan mereka mulai membuat semacam semacam tempat pengolahan, yaitu dengan membuat sebuah kolam besar sebagai tempat merendam lada hitam sebelum diolah, namun karna hasilnya kurang memuaskan akhirnya kegiatan itu terhenti dan ditinggalkan. Tak jauh dari lokasi perigi lada hitam tersebut terdapat tempat sembahyang orang Tionghoa yang sudah ditutupi semak-semak.
Makam Dara Sembilan
Makam dara sembilan terletak di desa Airputih. Dahulunya makam dara sembilan merupakan sebuah benteng pertahanan di bawah tanah untuk menyembunyikan anak dara di Bengkalis. Benteng itu dibuat karna dahulu di Bengkalis terjadi kekacauan oleh lanun yang datang untuk mencuri harta dan menculik anak gadis Bengkalis. Oleh sebab itu, dalam pemerintahan Batin Senggoro atau Batin Hitam dibuatlah sebuah benteng dibawah tanah.
Ketika lanun datang, anak dara segera dimasukkan ke dalam benteng tersebut. Didalamnya sudah disediakan stok oksigen dan makanan.Hal ihwal peperangan diluar tidak mereka ketahui,setelah lanun pergi dan keadaan aman,anak dara dikeluarkan kembali,begitu seterusnya sampai pada suatu hari si pemegang kunci mati tertembak. Ini membuat pintu benteng tidak dapat dibuka,sehingga anak dara yang berada disana meninggal dunia. Menurut kabarnya anak dara yang ada di dalam benteng tersebut berjumlah 9 orang,oleh sebab itulah orang-orang menyebutnya makam dara sembilan.
Cerita ini ada beberapa versi, ada yang mengatakan bahwa yang memegang kunci pintu adalah ayah dari sembilan dara yanng terkunci di dalam benteng itu,ada juga yang mengatakan bahwa ke sembilan dara itu bukan adik beradik melainkan dara-dara yang ada pada masa itu.
Dahulu, pada masa penduduk masih minim,makan dara sembilan dijaga oleh seekor ular weling,setiap bulanya akan diberi sesajen atau saji-sajian untuk ular itu sebagai penghormatan terhadap makam dara sembilan,tetapi setelah zaman berkembang dan penduduk semakin ramai serta sudah mempunyai kepercayaan yang kokoh,penduduk tidak lagi memberi saji-sajian,sehingga ular yang ada di atas makam dara sembilan tidak lagi dijumpai Makam ini dipercayai mempunyai kekuatan gaib. Bagi orang-orang yang datang berziarah dilarang berkata kotor,berfikir kotor,meludah sembarangan,dan bersikap tidak sopan karena dikhawatirkan akan mendapat musibah,.
Makam Panglima Minal
Menurut orang tua-tua yang telah menceritakan sejarah tentang Panglima Minal,bahwasanyaPanglima Minal lahir ± pada tahun 1609 M dan wafat pada usia 91 tahun sekitar tahun 1700 M. Pada masa pemerintahan Sultan Siak Jalil Rahmad Syah.
Berawal kisah Minal diangkat menjadi panglima oleh sultan siak Jalil Rahmad Syah adalah karna adanya tragedi kekacauan yang dilakukan oleh para perompak atau lanun di perairan selat Bengkalis,terutamanya di perairan Tanjung Kongkong sampai Tanjung Jati yang membuat kewalahan dan kekhawatiran para panglima yang ada di Kerajaan Siak pada masa itu,untuk menghadapi kekacauan yang terjadi maka Sultan Siak Jalil Rahmad Syah mengeluarkan sebuah pengumuman kepada masyarat. Isi pengumuman itu adalah: Barangsiapa yang dapat menumpaskan para Bajak Laut atau lanun yang berleluasa merompak di perairan selat Bengkalis maka Sultan berjanji akan melantiknya menjadi Panglima kerajaan. Mendengar titah yang dikeluarkan oleh Sultan Siak,seorang pemuda bertubuh kekar dan berjambang bernama Minal,secara diam-diam menyanggupi  titah itu.Minal mulai melakukan penyisiran di Perairan Pulau Bengkalis dengan menggunakan perahu kecil dan ternyata usahanya tidak sia-sia.Di suatu wilayah Minal menemukan tongkang si bajak laut dan ia berusaha mendekatinya. Setelah mendekat,disitulah Minal menunjukkan kekuatan dan keperkasaannya sebagai pendekar yang handal dan membuat para lanun takut menghadapinya.Dalam menghadapi bajak laut Minal tidak menggunakan kekerasaan dan pertumpahan darah melainkan dengan menunjukkan ilmunya,ia meminta beberapa batang paku 5 inci kepada lanun tersebut dan langsung melahapnya lalu meludahkan liurnya didepan bajak laut,ternyata tidak terjadi apa-apa kepada Minal. Itu membuat bajak laut ngeri,dan mengaku kalah. Mereka berjanji tidak akan merampok lagi diperairan selat Bengkalis. Minal menangkap dan menyerahkan bajak laut itu kepada Sultan Siak,dikeranakan jasanya itulah maka Sultan Siak mengangkatnya menjadi panglima kerajaan yang menjaga pesisir pulau Bengkalis.
Selain menghadapi dan menumpaskan para lanun,Minal juga diuji untuk menghadapi beberapa orang panglima kerajaan terdahulu,yaitu:
  •     Panglima Megat Alam
  •     Panglima Emping Bermintah
  •     Panglima Kenaik
  •     Panglima Tunggang
  •     Panglima Nayan (Rupat)
  •     Panglima Muhammad (Kubu)
  •    Panglima Hasyim (Kubu)
Dan Panglima Minal juga mendapa ujian dengan cara ditembakkan meriam ke dadanya tapi peluru itu berhenti tepat beberapa jengkal didepannya,tidak menembus badan Panglima Minal,peluru tersebut jatuh di kakinya. Dengan kejadian itu Sultan Siak benar-benar takjub dan yakin akan kehandalan Panglima Minal.Setelah diangkat menjadi panglima maka Panglima Minal ditugaskan untuk menumpaskan kepala perampok si Megat Hitam yang merajalela merampok dan menculik para anak dara di desa Senggoro. Melihat kejahatan Megat Hitam,Panglima Minal tidak tinggal diam dan dia berusaha menghapuskan kepala perampok tersebut. Perkelahian tak terelakkan, ternyata Magat Hitam mempunyai ilmu kekebalan yang cukup tinggi sehingga sangat sulit untuk dibunuh. Panglima tidak kehabisan akal,ia menunggu kesempatan yang baik,ketika Megat Hitam melompat dan kakinya tidak sampai ke tanah,Panglima Minal pun menancapkan pedang keleher Megat Hitam dan memisahkan kepala dan badannya, dengan seketika Megat Hitam pun tewas. Kepalanya dibuang ke Bukit Batu sementara badannya berada di Bengkalis tepatnya di Desa Senggoro.
Sosok Laksmana Raja di Laut
Desa Sukajadi, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau. Kondisi desa yang akrab disebut Desa Bukit Batu Darat ini sama seperti desa lainnya. Desa ini memiliki sejarah yang gaungnya patut diperhitungkan menjadi cacatan sejarah budaya Melayu di Indonesia.Desa Sukajadi merupakan daerah agricultur pertanian dan perikanan. Berbeda dengan Desa Bukit Batu Laut–bersebelahan dengan Desa Bukit Batu darat. Desa Bukit Batu Laut jumlah kepala keluarganya lebih kurang 80 kepala keluarga. Sebahagian besar ibu-ibu dan anak-anak perempuannya menenun dan laki-lakinya nelayan.Berbicara lebih dekat mengenai Datuk Laksamana, ini merupakan gelar sekaligus titah dari Kerajaan Siak untuk menjaga di pesisir pantai Selat Malaka. Datuk Encik Ibrahim disebut-sebut sebagai Datuk Laksamana Raja di Laut I yang berkuasa pada tahun 1767 M-1807 M.[1]
Ada empat datuk yang memerintah di Bukit Batu, tiga penerusnya adalah Datuk Khamis, Datuk Abdullah Shaleh dan Datuk Ali Akbar. Mereka digelari Datuk Laksamana II sampai IV.Datuk Laksamana Raja Di Laut menjadi lagenda seorang penguasa laut yang terkenal. Kabarnya ditanganyalah segala bentuk kejahatan laut takluk padanya. Seperti banyaknya lanun, yang merompak hasil bumi dan perdagangan di laut. Begitu juga dengan penyerangan-penyerangan dari negeri luar.Rumah Datuk Laksamana Di Laut IV, Laksamana Ali Akbar terletak di Desa Sukajadi, sekitar 35 kilometer dari Kota Sungai Pakning, Bengkalis-Riau. Sekilas terlihat seperti rumah adat/rumah tradisi di Riau. Berbentuk panggung dengan motif-motif Melayu di beberapa ornamen bangunannya.
Persis di depan Istana Datuk Laksamana terpancang dua buah meriam yang menghulu ke jalan. Meriam ini merupakan peninggalan Datuk Laksamana. Datuk Laksamana memang terkenal sebagai penakluk dalam peperangaan laut. Meriam yang menjadi alat perang ini kini memang tinggal sedikit. Tetapi masyarakat setempat pernah menemukan senjata berhulu ledak ini juga di muara sungai di Bukit Batu.Sebuah benteng menunjukkan kegagahan penguasa laut. Tak ubahnya, pinggiran laut di Bukit Batu sebagai benteng pertahanan pada masa itu agar para penjajah tak dapat masuk ke wiayah kekuasaan Datuk Laksamana. Tidak jauh dari rumah Laksamana Raja di Laut, akan terlihat dua makam Datuk penguasa laut. Yakni Laksamana III dan Laksamana IV. Kedua Makam ini terletak di belakang Masjid Jami' Al Haq. Mesjid tua peningggalan para Laksamana dulunya.[4]
DAFTAR PUSTAKA
[1] Aswandi Syahri. Kota Kara Dan Situs-Situs Sejarah Bintan Lama. Dinas Pariwisata
dan Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau.2007
[2] Hasan Junus. Sejarah Kabupaten Bengkalis Sebuah Tinjuauan Paling Dasar Serta
Beberapa Makalah. Pemda Kabupaten Bengkalis.2002
[3] Taufik abdullah (1996) sejarah di indonesia. Gajah Mada University Press, yogyakarta.
[4] Peringatan Hari jadi Bengakalis Negeri Junjungan Ke-498 tahun 2010 di resmikan oleh kesra Setda Kab. Bengkalis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar