Rabu, 23 Desember 2015

Perjuangan Datuk Tabano di Kabupaten Kampar


Fatimah/ SR

Datuk Tabano adalah tokoh pejuang Kampar,  yang nama kecilnya Gandulo dilahirkan tahun 1869 disuatu kampung kecil bagian kehulu sungai Kampar kanan yaitu kampung Uwai dikenegrian daerah Limo Koto Kampar, Ibunya berasal dari persukuan Melayu Datuk Tuo. Gandulo kecil merupakan salah seorang murid pengajian surau Jamiak, dikenal sebagai murid yang patuh dan berani.selain belajar mengaji Gandulo juga mempelajari ilmu silat pendinding dari silat lahir maupun bathin itu sebagai lazimnya pendidikan ketika itu.

Setelah dewasa oleh Ninik Mamak suku Melayu Datuk Tua dengan kesepakatan kaum persukuan dan setelah dikalikan dalam dan gantungkan tinggi serta ditua dicelakai, maka dimufakati oleh kaum persukuan untuk mengangkat Gandulo menjadi Dubalang dari Datuk Tuo dan diberi gelar Datuk Tabano. [1]
Sebagai Dubalang dari Datuk Tuo yang dalam pemerintahan adat kenegrian Bangkinang Datuk Tuo merupakan pasak kunci Ninik Mamak dua belas penjaga parit perbatasan yang memegang kekuasaan disaat negeri sedang rebut rampas, maka jiwa ksatria Tabano sangatlah dituntut untuk mengamankan negerinya serta mengemban tugasnya Tuhan maka kuasa telah memberikan takdir kepada Tabano yang mempunyai ilmu  kebal diri, dan memiliki rambut yang panjang, maka suatu ketika akan datang marabahaya maka rambutnya yang panjang akan berdiri bagai diterbangkan angin, maka Datuk Tabano dimasa hidupnya didampingi istrinya, yang juga mempunyai ilmu pendiding diri bernama Halimah Siyam dikarunia dua orang anak masing masing bernama Abdullah dan Habibah kesetian Halimah diabadikan hingga akhir ayat Tabano.
Pada tahun 1895 karena daerah keadaan daerah perbatasan Pulau Godang tidak aman lagi, maka diadakanlah musyawarah Datuk yang berlima dengan mufakat untuk memperbuat pusat pertahanan rakyat Limo Koto dikandang haluan dan polucuan tonggak, guna mempertahankan Limo Koto dari serbuan kompeni belanda yang datang dari hulu. kedua pusat ketahanan benteng terletak ditepi sungai kampar kandang haluan didekat batu dinding rantau berangin sedangkan pelocuan tonggak didaerah pulau Ompek Kuok.
Pertengahan tahun 1895 dibenteng kandang kandang haluan berkobarlah perang antara pasukan kompeni dengan pasukan rakyat Limo  Koto, lima buah perahu kompeni yang bersenjata lengkap dilumpuhkan dibenteng kandang halauan, disaat  pasukan kompeni memasuki kandang perairan kandang haluan maka oleh pasukan rakyat dihujani dengan tembakan mariam besi dari atas tebing yang mengakibatkan perahu kompeni tenggelam kedalam komando Tabano.      
Sesuai dengan keputusan musyawarah dikota menanti dan setelah tiba waktu ditentukan, pada tahun 1895 oleh Datuk yang berlima serta pendudkuk Limo Koto diadakanlah acara pelepasan pasukan penduduk rakyat dari Bangkinang menuju pulau godang dengan dipersenjatai mariam besi, senapan lantak, tombak dan parang. dari Bangkinang pasukan bergerak melalui kampung Pulau Empat. dipelucuan tongak pasukan yang dikemandoi Tabano bergabung dengan Dubalang Pulau Empat dan Pulau Balai
Pada malam harinya melalui jalan sungai Kampar dengan memudikinya pasukan bergerak menuju daerah tambang, sesampai dimudik Rantau Berangin pasukan kembali melalui jalan hutan dengan petunjuk jalan Tengku Daud Salim dan Marjan. menjelang kokok ayam pasukan rakyat memasuki kawasan daerah tambang, para pekerja tambang yang dalam kekelahan dan para serdadu yang sedang tertidur pulas karena tidak mengira akan terjadi serangan tersebut akhirnya banyak yang mati pimpinan tambang yang juga mengepalai kemponi belanda bernama "Clifford" berhasil dibunuh oleh pasukan Datuk Tabano, berbagai persenjataan milik kompeni berhasil dirampas oleh pasukan rakyat, satu pucuk senapan pistol milik Clifford dibawa ke Bangkinang oleh pasukan rakyat Limo Koto sebagian kompeni yang masih hidup melarikan diri kearah muara termasuk seorang nyai pendamping Clifford yang menderita luka luka, nyai ini pulalah yang membawa berita sampai Kelima Puluh Kota Payakumbuh, sedangkan di Limo Koto kabar kemenangan pasukan rakyat disambut gembira oleh datuk yang berlima serta masyarakat limo koto, penyambutan pasukan dirayakan dengan keramaian anak negeri serta acara dibalai Kampung Godang.
Kabar penyerangan ke tambang emas Pulau Godang oleh rakyat Limo Koto dan terbunuhnya Clifford sampai Keresiden Padang, menangapi peristiwa tersebut oleh Residen dan Goverment Belanda yang diwakili Paulus dibentuk suatu team yang dipimpin perwira belanda yang bernama Berenchat bertugas merebut limo Koto Serta menangkap para pembunuh Clifford. Tahun 1896 setelah menduduki jabatannya Berenchat melakukan berbagai taktik untuk menguasai Limo Koto, serangan pancingan untuk mengukur kekuatan pasukan rakyat dicoba Berenchat  dengan memakai sedadu – serdadu  belanda hitam, namun disaat melewati pertahanan polucuan tonggak para serdadu yang bergerak melalui sungai Kampar, maka Berenchat menjalankan taktik diam sambil menyelidiki pasukan melalui spionase serta membujuk pemuka adat agar mau bekerja sama dengan Belanda.
Ditahun 1898 pada suatu malam dua orang utusan belanda yaitu Datuk Indo Sampono yang lebih dikenal sebagai Tuanku Laras serta Datuk Rajo Selo datang menemui pucuk adat Datuk Bandaro Sati, setelah berbincang bincang Datuk Indo Sampono mengutarakan maksudnya, bahwa kedatangannya sebagai uluran jari sambungan lidah menyampaikan pesan yang dipikulkan belanda kepadanya, meminta Datuk Bandaro Sati dan Datuk Tabano mau berkerja sama dengan belanda, mendengar hal tersebut Datuk Bandaro Sati tersentak mendengarkan kata kata tersebut muka pucuk adat tersebut merah padam bulu tangannya yang panjang berdiri namun kemarahan itu cepat diredakannya, permintaan Indo Sampono ditolaknya, bekerja sama dengan belanda sama dengan menjual bangsanya sendiri kepada penjajah baginya lebih baik berlumur darah dari pada menyerah untuk bekerja sama dengan belanda.
Malam itu juga ditemani Tayib Datuk Bendaro Sati menemui Datuk  Tabano guna untuk menyampaikan bahwa ada dua orang utusan belanda yang datang kepadanya untuk menawarkan bekerja sama dengan belanda dua orang itu tak lain  dan tak bukan aalah Datuk Indo Sampono dan Datuk Rajo Selo. Tetapi Datuk Tabano balik bertanya kepada Datuk Bandaro Sati, bagaimana dengan sikap datuk, Datuk Bandaro Sati lalu menjawab bahwa sikapnya sama dengan Datuk Tabano, Terapung sama hanyut terendam sama basah setapak berpantang surut melangkah berpantang mundur. Kemudian dijawab oleh Tabano " benar tuk bahwa sejengkal tanah Limo Koto takkan kita biarkan di sentuh oleh penjajah belanda, lebih baik mati bercermin bangkai dari pada bekerja sama dengan kafir itu " setelah berbincang panjang lebar akhirnya Datuk Bandaro Sati pamit pulang.
Pada hari Senin tanggal 28 Agustus 1899 belanda berhasil menduduki Bangkinang, penduduk yang tidak menduga kedatangan belanda merasa cemas dan ketakutan kemudian berusaha menyingkir ke seberang Bangkinang sedangkan yang berada di pecan Bangkinang diancam dengan senjata yang siap dimuntahkan untuk tidak melakukan perlawanan beberapa orang kepala suku yang berada di pecan Bangkinang  berhasil mereka tangkap kemudian ditawan, termasuk Dubalang Jelo yang diduga terlibat dalam pembunuhan Clifford. Kepala suku yang dicurigai malam itu ditawan namun Datuk  Bandaro Sati dan Datuk Tabano serta Seribu Garang tak berhasil mereka tangkap sedangkan Marjan dan Tengku Daud Salim sudah menyingkir lari ke hutan. Malam harinya ketika  Belanda melakukan pemeriksaan tawanan ternyata para pucuk pimpinan adat sudah tidak ada dan akhirnya malam  itu juga dibawah pimpinan Stain ditugaskan untuk menangkap pucuk adat Datuk Bandaro Sati dan Datuk Tabano serta Tengku Daud Salim dan Marjan yang diduga sebagai pemberontak yang telah membocorkan rahasia kompeni belanda di Pulang Godang. Dengan petunjuk Datuk Indo Sapono serta Rajo Selo bergerak menuju kampung pulau tempat kediaman Datuk Bandaro Sati.    

Penangkapan Datuk Bandaro Sati
Malam itu Datuk Tabano mendapat pirasat, rambutnya yang panjang berdiri bagai diterbangkan angin inti pertanda bagi dirinya bahwa akan datang cobaan yang harus dihadapinya, matanya pada malam itu sulit dilelapkan, anaknya yang bernama Habibah sebentar – sebentar menangis hal ini merupakan pertanda akan ada sesuatu yang terjadi. Tabano duduk ditepi ranjang kemudia ditatapnya anaknya yang  bernama Abdullah yang sedang tertidur pulas, lalu terdengar suara istrinya " Kenapa belum  tidur Tuk apa gerangan yang datuk pikirkan " lalu Datuk Tabano menjawab entahlah Halimah perasaan ku  rasanya kurang enak ulasnya kemudia Halimah berusaha menenagkan suaminya seraya berkata serahkan saja semuanya kepada tuhan, kita harus  bertawagkal kan Tuk, tetapi malam ini aku berfirasat bahwa aku harus berjuang sampai titik darah penghabisan kata Datuk Tabano. Sementara itu pasukan belanda tepatnya pada pukul 05 pagi telah sampai ke halaman rumah Datuk Tabano, hal ini sangat mengagetkan Datuk   Tabano apalagi ditambahlagi dengan dilihatnya orang yang selama ini menjadi pucuk adat melayu yakni Datuk Bandaro Sati diseret secara keji dibawah ancaman senjata oleh pasukan belanda, lehernya dijepit dengan bambu yang semakin banyak mengeluarkan darah.
Beberapa orang prajurit yang  bersenjata lengkap telah disiapkan didepan rumah Datuk Tabano, oleh Stein untuk menyuruh Datuk Tabano untuk menyerahkan diri, lalu terdengar suara Datuk Bandaro Sati " Rang Kayo Datuk Tabano tiang panjang  dalam nagari sandi batu rumah nan gadang pelampung negeri Limo Koto saya dipaksakan oleh Belanda menyuruh  datuk untuk menyerahkan diri jangan sampai melakukan perlawanan leher hamba di jepit dengan bambu tangan diikat keduanya tidak kuasa melawan lagi, menyerahlah Datuk tengganglah kampung dan halaman,  tengganglah anak kemenakan penduduk Limo Koto jangan sampai binasa air mata Datuk Bandaro Sati membasahi pipinya.


Perlawanan Datuk Tabano Menantang Belanda
Datuk Tabano yang dari  tadi mendengar  kata – kata Datuk Bandaro Sati menyentak pedangnya wajahnya geram jiwanya memberontak seakan akan ditelannya apa yang datang, ia menarik nafas panjang kemudian menengadah keatas mulutnya komat kamit membaca do'a, kemudia diambilnya destar pengikat rambutnya didestar inipulalah tersimpan berbagai wafak yang tak pernah dilupakan  oleh Datuk  Tabano ketika menghadapi musuh. Istrinya melihat Datuk Tabano yang demikian memberikan keyakinan kepada Datuk  Tabano dengan berkata " Datuk dengarkan saya datuk panglimo kata orang pantang melangkah surut, harimau pantang menganjak gigit jelaskan sajalah pada Datuk Bandaro Sati yang dari tadi berada dihalaman, tapi manis jangan cepat ditelan pahit jangan cepat datuk muntahkan, hulubalang dipintu mati orang banyak dipintu hutan. Kata – kata istrinya itu membuat keyakinannya semakin teguh dengan tenang ia berkata kepada istrinya " masuklah engkau ke dalam  selamatkan dirimu dan anak – anak " kemudian halimah masuk kedalam kemudian menggendong anak – anaknya.
Dengan keyakinannya kemudian mendekat ke pintu lalu berkata " Datuk Bandaro Sati dengarkan saya kilat balintung telah ke kaki kilat kaca telah kemuka tentang permintaan Datuk tak dapat saya kabulkan saya teguh pada janji saya setia pada sumpah saya akan hanya menyerah pada yang satu saya akan tetap berjihat bilang pada belanda itu walau kelangit mereka menjemur namun cucian takkan kering, suruh saja mereka masuk kalau mau menangkap hamba , mendengar kata – katanya  belanda merasa bahwa usahanya untuk membujuk takkan berhasil kemudian memerintahkan kepada anak buahnya mendobrak pintu rumah, pintu rumah terbuka dan dua orang serdadu menerobos masuk kedalam rumah namun malang bagi kedua serdadu itu pedang ditanga Tabano telah menghabisi nyawanya, kemudian menyusul berapa orang serdadu mamun mati juga ditangan Tabano seorang serdadu kulit putih melepaskan tembakan kearah Tabano, manun peluru yang dilepaskan berkali kali itu sama sekali tidak merobek kulit Tabano sedadu itu semakin .penasaran kemudia dia menyerang denga sangkur yang terpasang pada ujung senjatanya namun langka pangiyan  Tabano lebih sigap dari gerakn serdadu itu. Ketika Tabano memecah kesunyian subuh itu dengan mengucapkan kebesaran Allah " Allahuakbar yang berkali kali beliu ucapkan dua orang serdadu masing – masing Apel dengan nomor pegenal 48072 dan Dema dengan nomor pengenal 3209 menerobos masuk kerumah, seseorang diantaranya menghantamkan pedangnya kearah Tabano dengan sigap Tabano mengelakkan kemudian menebaskan pula pedangnya kearah serdadu itu namun mereka harus menahan sakit karena lengan terputus terkena serangan pedang Tabano, melihat hal itu Dema nomor pengenal 3209 membabi buta menyerang sambil mengayuhkan pedangnya kesana kemari namun tak ada yang mengenai mtubuh Tabano namun sebaliknya .pedang tabanolah yang merobek perutnya.[2]

Wafatnya Datuk Tabano
Setelah berlangsung lama pertarungan antara Datuk Tabano dengan para penjajah yakni serdadu belanda maka tibalah saatnya seorang sersan belanda yang bernama Smith mencoba menyerang Datuk Tabano, ketika Smith menyerang Datuk  Tabano melompat mengelak, smith jatuh tersungkur namun ketika tabano hendak melompati Smith kembali kakinya tergelincir di  tikar yang sudah licin  terkena darah dia terjatuh dan dester yang di kepalanya terlepas saat itu perwira belanda yang bernama Stein yang dari tadi berdiri siaga dipintu rumah melihat kesempatan itu melepaskan tembakan kea rah tubuh tabano, peluruh senapan Stein yang sengaja telah disiapkan sejak awal setelah mengetahui kelemahan Tabano itu akhirnya menembus tubuh Tabano, Stein kemudian melihat destar Tabano yang terlepas itu memburuhnya kemudian menghujamkan sangkurnya ke leher Tabano, dan akhirnya almujahid itu tah mampu menahan sakit hanya kalimah kebesaran Allah terus keluar dari mulutnya dan akhirnya almujahid itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Setelah di selamatkan secara agama islam maka akhirnya mayat Datuk Tabano pun dimakamkan dipemakaman keluarga istrinya di kampung tanjung, setelah empat puluh hari dimakamkan di kampung tanjung kemudian atas permintaan persukuan dan kemenakan serta disetujui oleh pihak istrinya makam almujahid itu dipindahkan ke pemakaman suku melayu Datuk Tuo di kampung UAI, dikampung Uai inilah akhirnya beliau beristirahat dengan tenang dimana kampung Uai ini adalah kampung halaman dan tanah kelahirannya. [3]

Daftar Pustaka
[1] ABD. RIVAI.T. 2005. Sejarah Tokoh Pejuang Utama Daerah Kabupaten Kampar. Bangkinang. SEE Kabupaten Kampar.
[2] ABD. RIVAI.T. 2005. Cerita Rakyat Riau. Kampar. SEE Kabupaten Kampar.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar