Rabu, 23 Desember 2015

Peristiwa Rengasdengklok


Dira Afriani S/A

Kita tentu sudah mengetahui bahwa pada 6 Agustus 1945 Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima, Nagasaki juga dibom pada 9 Agustus 1945. Kedua bom atom tersebut mengakibatkan korban jiwa yang sangat besar. Berbagai fasilitas juga hancur. Pemerintah Jepang benar-benar dalam kesulitan. Akhirnya,  pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.

Berita kekalahan Jepang kepada Sekutu segera sampai pada kaum pergerakan kemerdekaan Indonesia. Terdapat dua pendapat dalam menyikapi kekalahan Jepang pada Sekutu. Kelompok pertama segera menginginkan bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. 


Mereka terkenal dengan golongan muda. Golongan tua menginginkan proklamasi dilakukan sesuai kesepakatan dengan tentara Jepang. Setelah melalui proses panjang dan melelahkan, akhirnya golongan tua mengikuti kemauan golongan muda agar proklamasi kemerdekaan segera dikumandangkan.

Kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik semakin jelas dengan dijatuhkannya bom atom oleh Sekutu di kota Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada tanggal 9 Agustus 1945. Akibat peristiwa tersebut, kekuatan Jepang makin lemah. Kepastian berita kekalahan Jepang terjawab ketika tanggal 15 Agustus 1945 dini hari, Sekutu mengumumkan bahwa Jepang sudah menyerah tanpa syarat dan perang telah berakhir. Berita tersebut diterima melalui siaran radio di Jakarta oleh para pemuda yang termasuk orang-orang Menteng Raya 31 seperti Chaerul Saleh, Abubakar Lubis, Wikana, dan lainnya.

Penyerahan Jepang kepada Sekutu menyebabkan reaksi yang berbeda di antara para tokoh pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Para anggota PPKI, seperti Soekarno dan Hatta tetap menginginkan proklamasi dilakukan sesuai mekanisme PPKI.

Alasannya kekuasaan Jepang di Indonesia belum diambil alih. Tetapi, golongan muda, seperti Tan Malaka dan Sukarni menginginkan proklamasi kemerdekaan dilaksanakan sesegera mungkin. Para pemuda mendesak agar Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan secepatnya. Alasan mereka adalah Indonesia dalam keadaan vakum atau kekosongan kekuasaan.
Adanya kekosongan kekuasaan menyebabkan munculnya konflik antara golongan muda dan golongan tua mengenai masalah kemerdekaan Indonesia. Golongan muda menginginkan agar proklamasi kemerdekaan segera dikumandangkan.
Mereka itu antara lain Sukarni, B.M Diah, Yusuf Kunto, Wikana, Sayuti Melik, Adam Malik, dan Chaerul Saleh. Sedangkan golongan tua menginginkan proklamasi kemerdekaan harus dirapatkan dulu dengan anggota PPKI. Mereka adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Ahmad Subardjo, Mr. Moh. Yamin, Dr. Buntaran, Dr. Syamsi dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Golongan muda kemudian mengadakan rapat di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di Pegangsaan Timur, Jakarta pada tanggal 15 Agustus 1945 pukul 20.00 WIB. Rapat tersebut dipimpin oleh Chaerul Saleh yang menghasilkan keputusan tuntutan-tuntutan golongan muda yang menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hal dan soal rakyat Indonesia sendiri, tidak dapat digantungkan kepada bangsa lain. Segala ikatan, hubungan dan janji kemerdekaan harus diputus, dan sebaliknya perlu mengadakan perundingan dengan Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta agar kelompok pemuda diikutsertakan dalam menyatakan proklamasi.

Pertentangan pendapat antara golongan tua dan golongan muda inilah yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa Rengasdengklok.


Peristiwa Rengasdengklok, Peristiwa kehancuran pertahanan dan kekalahan jepang dalam perang Pasifik sejak akhir tahun 1944 sampai Agustus 1945 tidak banyak diketahui oleh bangsa Indonesia.

Hal ini disebabkan:
a. Jalur Komunikasi lewat Radio dengan jalur komunikasi lewat radio dengan luar negeri diputuskan, atau dilarang keras oleh Jepang.
b. Pihak dinas prokpaganda jepang selalu menyetengahkan berita dan perista kekalahan perang Jepang.

Rengasdengklok dipilih untuk mengamankan Soekarno-Hatta karena menurut perhitungan meliter, jauh dari jalan Raya Jakarta-Cirebon sehingga dapat dengan mudah mengawasi gerak-gerik tentara Jepang yang hendak datang ke Rengasdengklok. Soekarno-Hatta berada seharian penuh di Rengasdengklok. Usaha para pemuda untuk menekan mereka berdua supaya segera melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan tanpa campur tangan Jepang rupanya tidak terlaksana. Tampaknya kedua pemimpin ini mempunyai wibawa yang cukup besar sehigga para pemuda merasa segan untuk melaksanaan penekanan. Namun daslam pembicaraan Shodanco Singgih dengan Soekarno, ternyata beliau bersedia untuk Memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dengan segera sesudah kembali ke Jakarta. Berdasarkan pernyataan itu, Singgih pada tengah hari kembali ke Jakarta untuk menyampaikan rencana Proklamasi kepada kawan-kawannya dan para pemimpin muda yang ada di Jakarta. Semantara itu di Jakarta, antara Ahmad Subardjo (Golongan tua) dan Wikana (golongan Pemuda) tercapai kata kesepakatan bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Harus di laksanakan di Jakarta. Laksana Tadashi Maeda juga telah bersedia menjaga keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu Jusuf Kunto dari golongan pemuda mengantar Ahmad Subardjo bersama sekretaris pribadinya pergi menjemut Soekarno-Hatta. Rombongan tiba di Jakarta pukul 18.00 waktu zaman Jepang (17.30 wib). Sebelumnya di rengas dengklok, Ahmad subardjo memberi jaminan dengan taruhan nyawanya bahwa proklamasi kemerdekaan akan di umumkan pada tangal 17 Agustus 1945 keesokan harinya selambat-lambatnya pukul 12.00 Wib. Dengan jaminan itulah Komandan Kompi PETA setempat Cudanco Subeno bersedia melepas Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta.[3] 2. Perumusan Teks Proklamasi Ketika tiba di Jakarta, rombongan menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di jalan Imam Bonjol No. 1 (sekarang perpustakaan Nasioanal, Depdiknas), setelah Soekarno-Hatta singgah terlebih dahulu di rumah masing-masing. Dirumah Takashi Maeda, naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia disusun. Namun sebelum mulai pembicaraan pembuatan naskah teks Proklamasi, Soekarno-Hatta telah menemui Mayor Nishijima, Tomegoro Yoshizumi, dan Miyoshi sebagai penejemah. Dalam pertemuan itu di capai kesepakatan antara Soekarno-Hatta dan Nishimura. Soekarno-Hatta akhirnya hanya berharap agar jepang tidak menghalangi Pelaksanaan Proklamasi kemerdekaan yang akan dilakukan oleh rakyat Indonesia sendiri. Setelah pertemuan itu, Soekarno-Hatta kembali ke rumah Laksamana Tadashi Maeda, karena rumah itu di anggap paling aman dari ancaman pemerintah Melliter. Dirumah makan Laksamana Maeda itulah naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dirumuskan, sedangkan Laksamana Tadashi Maeda sendiri menyingkir ke kamar tidurnya ketika "Peristiwa Bersejarah" itu berlansung. Miyoshi sebagai orang kepercayaan Nishimura bersama tiga tokoh pemuda, yaitu Sukarni, sudiro, dan B.M Diah menyaksikan Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan Ahmad Subardjo membahas perumusan naskah Proklamasi Kemerdekan Indonesia. Tokoh-Tokoh lainnya, baik itu dari golongan tua maupun golongan pemuda menunggu di serambi muka. Ir Soekarno menulis konsep proklamasi pada secerik kertas sedangkan Moh. Hatta dan Ahmad Subardjo menyumbangkan pikiran secara lisan. Sebagai hasil pebicaraan mereka bertiga diperoleh teks Proklamasi tulisan tangan Ir. Soekarno. Menjelang subuh, Ir. Soekarno membuka pertemuan untuk membicarakan rumusan naskah Proklamasi yang masih berupa konsep. Ir. Soekarno menyarankan agar mereka bersama-sama menandatangi naskah Proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia. Saran itu di perkuat oleh Drs. Moh. Hatta dengan mengambil contoh pada naskah declaration of indenfenden Amerika serikat yang di tanda tangani oleh 13 utusan dari negara bagian. Usulan itu ditentang oleh golongan pemuda mengusulkan agar yang menandatangi naskah Proklamsi Kemerdekan Indonesia itu adalah Ir. Soekarno atas nama bangsa Indonesia. Usulan sukarni disetujui oleh hadirin. Kemudian Soekarno meminta kepada Sayuti Malik untuk mengetik Naskah itu berdasarkan naskah hasil tulisan tangannya dengan perubahan yang telah disetujui. Pertemuan yang menghasilkan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia itu berlangsung pada tanggal 17 agustus 1945 dini hari. Selanjutnya timbul masalah bagaimana caranya naskah itu disebarluaskan keseluruh Indonesia. Sukarni mellaporkan bahwa lapangan ikada telah di persiapkan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat Jakarta untuk mendengarkan pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Ir. Soekarno menganggap lapangan ikada adalah lokasi yang bisa menimbulkan bentrokan antara rakyat dan pihak militer jepang akhirnya disepakati bahwa upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan didepan kediaman insinyur oekarno dijalan pegangsaan timur no. 56 jakarta pada hari jum'at tanggal 17 agustus 1945 pukul 10 wib, ditengah bulan suci ramadhan. [4] 3. Makna Perumusan Teks Proklamasi Keberhasilan penulisan teks proklamasi memiliki arti yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Teks proklamasi merupakan pernyataan untuk merdeka atau membebaskan diri dari segala bentuk ikatan penjajahan bangsa lain atas bangsa dan negara Indonesia. Melalui pernyataan itu sejarah baru bagi bangsa Indonesia mulai dirintis. Pernyataan itu merupakan seluruh ungkapan kepahitan, kesengsaraan, dan penderitaan yang sebulumnya dialami bangsa Indonesia. Dengan pernyataan itu, bangsa Indonesia bebas dari segala bentuk penjajahan bangsa lain. Proklamasi adalah jabatan emas yang menghubungkandan mengantarkan bangsa Indonesia dalam mencapai masyarakat baru, kehidupan yang baru, tanpa tekanan, dan ikatan. Proklamasi adalah seruan yang bersifat legal dan resmi. Dengan prolamasi itu bangsa Indonesia dapat menentukan jalan hidupnya sendiri sesuai dengan harat dan martabat serta tradisi bangsa Indonesia. Perumusa teks proklamasi itu telah mencerminkan kemandirian bangsa Indonesia dalam mencapai cita-cita bangsa yang bebas dan merdeka. Oleh karna itu, teks proklamasi memiliki makna yang sangat penting bagi bangsa Indonesia, apalagi hal itu telah berhasil mengantarkan bangsa Indonesia kepintu gerbang masyarakat Indonesia yang adil dan beradab.


a. Golongan Tua

Mereka yang dicap sebagai golongan tua adalah para anggota PPKI yang diwakili oleh Soekarno dan Hatta. Mereka adalah kelompok konservatif yang menghendaki pelaksanaan proklamasi harus melalui PPKI sesuai dengan prosedur maklumat Jepang pada 24 Agustus 1945. Alasan mereka adalah meskipun Jepang telah kalah, kekuatan militernya di Indonesia harus diperhitungkan demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. Kembalinya Tentara Belanda ke Indonesia dianggap lebih berbahaya daripada sekadar masalah waktu pelaksanaan proklamasi itu sendiri.

b. Golongan Muda

Menanggapi sikap konservatif golongan tua, golongan muda yang diwakili oleh para anggota PETA dan mahasiswa merasa kecewa. Mereka tidak setuju terhadap sikap golongan tua dan menganggap bahwa PPKI adalah bentukan Jepang. Oleh karena itu, mereka menolak jika proklamasi dilaksanakan melalui PPKI. Sebaliknya, mereka menghendaki terlaksananya proklamasi kemerdekaan dengan kekuatan sendiri, terbebas dari pengaruh Jepang. Sutan Syahrir termasuk tokoh pertama yang mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Sikap golongan muda secara resmi diputuskan dalam rapat yang diselenggarakan di Pegangsaan Timur Jakarta pada 15 Agustus 1945. Hadir dalam rapat ini Chairul Saleh, Djohar Nur, Kusnandar, Subadio, Subianto, Margono, Armansyah, dan Wikana. Rapat yang dipimpin Chairul Saleh ini memutuskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan masalah rakyat Indonesia sendiri, bukan menggantungkan kepada pihak lain.

Keputusan rapat kemudian disampaikan oleh Darwis dan Wikana pada Soekarno dan Hatta di Pegangsaan Timur No.56 Jakarta. Mereka mendesak agar Proklamasi Kemerdekaan segera dikumandangkan pada 16 Agustus 1945. Jika tidak diumumkan pada tanggal tersebut, golongan pemuda menyatakan bahwa akan terjadi pertumpahan darah. Namun, Soekarno tetap bersikap keras pada pendiriannya bahwa proklamasi harus dilaksanakan melalui PPKI. Oleh karena itu, PPKI harus segera menyelenggarakan rapat. Pro kontra yang mencapai titik puncak inilah yang telah mengantarkan terjadinya peristiwa Rengasdengklok.

c. Membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok

Di tengah suasana pro dan kontra, golongan pemuda memutuskan untuk membawa Soekarno dan Hatta ke luar Jakarta. Pilihan ini diambil berdasarkan kesepakatan rapat terakhir golongan pemuda pada 16 Agustus 1945 di Asrama Baperpi, Cikini, Jakarta. Tujuannya untuk menjauhkan Soekarno Hatta dari pengaruh Jepang.

Untuk melaksanakan pengamanan Soekarno dan Hatta, golongan pemuda memilih Shodanco Singgih, guna menghindari kecurigaan dan tindakan militer Jepang. Untuk memuluskan jalan, proses ini dibantu berupa perlengkapan Tentara PETA dari Cudanco Latief Hendraningrat. Soekarno dan Hatta kemudian dibawa ke Rengasdengklok. Ketika anggota PETA Daidan Purwakarta dan Daidan Jakarta mengadakan latihan bersama, terjalin hubungan yang baik di antara mereka.

Di Jakarta, dialog antara golongan muda yang diwakili oleh Wikana dan golongan tua Ahmad Subardjo mencapai kata sepakat. Proklamasi Kemerdekaan harus dilaksanakan di Jakarta dan diumumkan pada 17 Agustus 1945. Golongan pemuda kemudian mengutus Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Subardjo ke Rengasdengklok dalam rangka menjemput Soekarno dan Hatta.

Ahmad Subardjo memberi jaminan pada golongan pemuda bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada 17 Agustus 1945 selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, Cudanco Subeno (Komandan Kompi PETA Rengasdengklok) bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta untuk kembali ke Jakarta dalam rangka mempersiapkan kelengkapan untuk melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan.

Daftar Pustaka
Sejarah kelas 2 SMA
Bimtes SBMPTN 2015



1 komentar: