Rabu, 23 Desember 2015

TRADISI GHATIB BERANYUT DI SIAK SRI INDRAPURA

DEVI YENTI/PBM/BI

Siak adalah sebuah kabupaten di Provinsi Riau yang dulunya merupakan pusat kesultanan Islam terbesar di Riau yaitu Siak Sri Indrapura. Kata Siak Sri Indrapura, secara harfiah dapat bermakna pusat kota raja yang taat beragama, dalam bahasa sansekerta, sri berarti "bercahaya" dan indera atau indra dapat bermakna "raja". Sedangkan pura berarti "kota" atau "kerajaan". Siak dalam anggapan masyarakan melayu sangat bertali erat dengan agama islam, Orang Siak  ialah orang - orang yang ahli agama Islam, kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai Orang Siak. Siak memiliki cerita sejarah yang sangat panjang. Kerajaan ini didirikan
di Buantan oleh Raja Kecik dari Pagaruyung. Dalam perkembangannya, Kesultanan Siak muncul sebagai sebuah kerajaan bahari yang kuat dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialisme Eropa. Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat, sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatera dan Kalimantan. Pasang surut kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir,Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia. Kemudian wilayah ini menjadi wilayah Kewedanan Siak di bawah Kabupaten Bengkalis yang kemudian berubah status menjadi Kecamatan Siak. Pada tahun 1999 berdasarkan UU No. 53 Tahun 1999, meningkat statusnya menjadi Kabupaten Siak dengan ibukotanya Siak Sri Indrapura.
            Masyarakat Melayu, dikenal memiliki adat istiadat, budaya dan tradisi yang beranekaragam. Namun terlebih dahulu kita harus mengetaui perbedaan diantara tiga hal tersebut.
Adat : Prof. Dr. J. Prins mengatakan, "De adat overheerste tot voor kort alle terrein van het leven juist wat de plichtenleer idealiter beoogt te doen" (Prins, 1954). Pendapat Prins ini menegaskan bahwa adat meliputi semua segi kehidupan dan hanya untuk jangka waktu yang singkat.
Ritual :  "Ritual defined in the most general and basic terms is performance, planned or improvised, that effects a transition from everyday is transformed." (Alexander, 1997: 139) Di dalam definisinya tersebut, Alexander menekankan bahwa semua ritual, termasuk ritual keagamaan, didasarkan kepada dunia keseharian manusia.
 Budaya / Kebudayaan : Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seniagama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia.

Sejak zaman dahulu, Siak dikenal dengan adat istiadat, budaya dan tradisi melayunya yang begitu kental dan religius berdasarkan syariat islam. Salah satu tradisi itu adalah Ghatib Beranyut.
Seperti disebutkan Tonel (1920) :
"Maka segala adat-istiadat Melayu itu pun sah menurut syarak Islam dan syariat Islam. Adat-istiadat itulah yang turun-temurun berkembang sampai ke negeri Johor, negeri Riau, negeri Indragiri, negeri Siak, negeri Pelalawan, dan sekalian negeri orang Melayu adanya. Segala adat yang tidak bersendikan syariat Islam salah dan tidak boleh dipakai lagi. Sejak itu, adat-istiadat Melayu disebut adat bersendi syarak yang berpegang kepada kitab Allah dan sunah Nabi."

Asal Usul Ghatib Beranyut
Istilah Ghatib berhayut merupakan gabungan dari dua unsur kata, Ghatib berarti dzikir, sedangan beranyut artinya hanyut di atas perahu. Jadi, Ghatib beranyut adalah kegiatan dzikir yang dilakukan di atas perahu, dan seiring dengan derasnya arus sungai Siak membuat perahu hanyut. Kagiatan Ghatib berhanyut diikuti sejulah jamaah masjid dan Mushalla serta warga Muslim Kota Siak baik di Kecamatan Siak maupun Mempura. Selama kegiatan doa dan zikir didengungkan di tengah Sungai.
Tradisi Ghatib beranyut merupakan tradisi dalam bentuk ritual tolak bala asli leluhur masyarakat Siak. Tolak bala adalah  satu perlakuan kompleks bercorak ritual dengan tujuan menghindar dari kejadian buruk, sial, nasib tidak baik, penyakit, atau apa saja yang tidak diingini berlaku kepada diri sendiri dan komunitas suatu masyarakat.
            Dalam kepercayaan lama, konsep tolak bala bagi menghindar sial atau kecelakaan lebih diinstitusikan menerusi beberapa ritual. Apabila berlaku sesuatu malapetaka, ia lebih merupakan upacara yang dilakukan  berjadwal. Dalam suatu ungkapan melayu dikatakan :
tolak bala menolak segala petaka
menolak segala celaka
menolak segala yang berbisa
supaya menjauh dendam kesumat
supaya menjauh segala yang jahat
supaya menjauh kutuk dan laknat
supaya setan tidak mendekat
supaya iblis tidak melekat
supaya terkabul pinta dan niat
supaya selamat dunia akhirat

Dulu pada zaman kesultanan Siak, ada suatu perkampungan terkena wabah penyakit menular (sampar). Maka untuk mengatasi masalah ini, seluruh ulama dikumpulkan untuk melaksanakan ritual ghatib (zikir). Dimulai malam hari setelah Shalat Isya dengan berjalan berkeliling kampung diikuti semua lapisan masyarakat membawa obor sebagai penerangan. Setelah menyelesaikan perjalanan berkeliiling kampung, dilanjutkan berzikir di atas Sungai Jantan ketika air surut agar masyarakat dapat pulang dengan selamat serta untuk mengusir bala keluar menuju kearah laut, sehingga terusirlah semua wabah bencana dari kampung itu. Dengan menggunakan perahu, mereka membawa berbagai sesajian hasil bumi untuk disajikan ke Sungai Siak. Dengan sesajian itu, mereka berharap warga yang tinggal di sekitar sungai dapat dijauhkan dari mara bahaya. Setelah menebar sesajen, mereka pun terus melaut ke desa-desa di sekelilingnya. Tujuannya ialah ingin menjaga hubungan dengan warga sekitar sehingga dapat bersama-sama bergandeng tangan untuk menolak bala. Namun saat ini, seirng dengan semakin kuatnya ajaran Islam di Siak, ritual Ghatib Beranyut dengan mempersembahkan sesajen itu sudah ditinggalkan karena dinilai mengandung syirik yang bertentangan dengan syarak (syariat Islam). Ghatib beranyut diselenggarakan hanya untuk tujuan wisata Ritual yang lebih cenderung berupa doa agar "Negeri Istana" dijauhkan dari malapetaka, bencana dan kesulitan. Tradisi ini sempat hilang dimakan zaman, setelah beberapa tahun pemerintah berusaha mengangkat kembali tradisi warisan leluhur ini di tahun 2012 yang hingga kini menjadi agenda rutin tahunan dengan tujuan pengenalan dan pelestarian budaya sekaligus penggalakan destinasi wisata religius di Kabupaken Siak.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Ghatib Beranyut dilakukan malam hari setelah shalat isya pada setiap bulan safar . Bertempat di Sungai Jantan (Siak) dengan kedalaman yang dulunya mencapai 30 meter (namun kini tinggal sekitar 18 meter karena pendangkalan sungai). Kegiatan ini dimulai dari Pelabuhan Lasdap hingga ke Feri Penyebrangan Belantik, Desa Langkai, Siak. Menggunakan feri, serta 30 perahu mesin, dengan kapasitas untuk 1 perahu mesin di isi 10 orang.

Pelaksanaan
  • ·       Persiapan 
Petang sebelum ghatib beranyut dilaksanakan, seluruh peserta dan masyarakat dengan mengenakan pakaian serba putih melaksanakan ziarah ke makam sultan yang terletak di Kecamatan Siak, tepatnya disamping Masjid Syahbuddin. Mereka juga berdoa dan berzikir bersama di sana dipimpin oleh ulama ataupun penghulu. Pada adat istiadat di Siak Sri Inderapura, kepala suku yang bergelar penghulu masih dihormati sebagai tata cara untuk menjaga adat setempat. Biasanya, seorang penghulu dibantu sangko penghulu, malim penghulu dan lelo penghulu. Ada juga juga batin, dengan kedudukan yang sama dengan penghulu tapi memiliki hak atas hasil hutan yang tidak dimiliki penghulu. Batin dibantu tongkat, monti dan antan-antan. Pada perhelatan Ghatib Beranyut, perangkat adat hingga orang kaya dilibatkan untuk mengikuti proses menolak bala. Warga menggunakan pakaian khas membuktikan rasa antusias untuk ikut menjaga kelestarian budaya Melayu di Siak.  Ziarah makam ini merupakan rangkaian dari kegiatan ghatib beranyut. Sementara itu puluhan sampan dan kapal sudah berjejer rapi di tepian sungai siak. Dalam perencanaan dan persiapannya, kegiatan ini sengaja dilaksanakan ketika air sungai sedang surut, tujuannya agar semua masyarakat dapat pulang dengan selamat.
  • ·         Pelaksanaan
Setiap orang yang mengikuti ritual Ghatib Beranyut yang dikhususkan untuk kaum laki – laki ini mengambil posisinya masing – masing dengan dipimpin oleh seorang ulama dengan lantunan – lantunan dzikir.
Allahuakbar. Allahuakbar. Allahuakbar. Seorang ulama bertakbir diikuti oleh seluruh masyarakat. Baik yang naik sampan atau hanya menyaksikan dari tepian. Senja semakin kelam, tapi tepian semakin menawan. Apalagi ketika bergema di atas Sungai Jantan.
Sambil berzikir di atas sampan yang terus berjalan mengelilingi sungai, seluruh warga berzikir. Dalam hati berharap agar segala persoalan terbuang ke arah laut. Sudah pasti, selain berharap pahala dari Allah SWT, juga berharap perlindungan dari segala bencana. Prosesi Ghatib Beranyut dulunya disertai dengan tabur bunga dan persembahan sesajen ke sungai, namun dengan seiring masuknya ajaran islam ke daerah siak, hal itu kini ditinggalkan karena dinilai mengacu pada sesuatu yang syirik. Dalam ungkapan melayu dikatakan :
Sampai ke arus yang berdengung
Kalau tali boleh diseret
Kalau rupa boleh dilihat
Kalau rasa boleh dimakan
Itulah adat sebenar adat
Adat turun dari syarak
Dilihat dengan hukum syariat
Itulah pusaka turun-temurun
Warisan yang tak putus oleh cencang
Yang menjadi galang lembaga
Yang menjadi ico dengan pakaian
Yang digenggam di peselimut
Adat yang keras tidak tertarik
Adat lunak tidak tersudu
  • ·         Penutupan
Setelah selesai berkeliling kampung melalui Sungai Jantan, kegiatan itu pun diakhiri dengan makan bersama lalu ditutup dengan doa. Lagi - lagi khalifah dan kadam yang memimpin masyarakat. Ada pembukaan, ada penutupan. Ada permulaan pasti ada yang diakhiri.
Keberadaan Ghatib Beranyut memang baru digalakkan kembali secara meriah pada tiga tahun terakhir ini sebagai upaya agar tradisi masyarakat asli itu tak hilang dimakan zaman. Meskipun Ghatib Beranyut kini dilakukan lebih sebagai ajang wisata atau sebuah rutinitas biasa, masih banyak warga percaya pelaksanaannya tetap bisa melindungi negeri dari berbagai bencana dan penyakit. Selanjutnya, tradisi ritual Ghatib Beranyut ini akan dilengkapi dengan rangkaian atraksi pariwisata di Siak berupa "Festival Sungai Siak" yang akan menampilkan karnaval sampan hias dan acara menarik lainnya sebagai upaya mengoptimalkan daya tarik Sungai Siak atau Sungai Jantan sebagai salah satu objek wisata yang potensial di Kabupaten Siak.

KESIMPULAN
Tradisi Ghatib beranyut merupakan tradisi asli leluhur masyarakat Siak yang sempat hilang dimakan zaman. Tradisi ini mencakup ritual tolak bala yang dilakukan dengan berdzikir dan berdoa di atas perahu mengarungi sungai siak. Sebelumnya, Ghatib Beranyut diawali dengan berziarah ke makam Sultan. Masyarakat yang mengikuti kegiatan ini dikhususkan kepada kaum laki – laki dengan memakai pakaian serba putih dan melantunkan asma – asma Allah serta doa yang dipandu  oleh ulama setempat tujuannya agar terbebas dari segala macam malapetaka, bahaya, musibah, masalah dan wabah penyakit. Pelaksanaan Ghatib Beranyut dahulunya dipengaruhi oleh kebudayaan hindu dengan memakai sesajen dan persembahan yang kemudian seiring kuatnya ajaran islam, hal ini mulai ditinggalkan karena dinilai mengandung unsur syirik. Sehingga sekarang hanya diselenggarakan sebagai wisata religius, yakni membangkitkan sebuah tradisi lama warisan nenek moyang dulunya. Walaupun begitu, banyak masyarakat Siak percaya bahwa ritual ini ampuh untuk menjauhkan negeri dari segala musibah.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Penulis Sejarah Kerajaan Siak.2011.Sejarah Kerajaan Siak.Siak: LAM Kab.Siak
Suwardi.2007.Bahan Ajar Kebudayaan Melayu.Pekanbaru: Kampus APEPH

1 komentar: