Rabu, 23 Desember 2015

BLACK DEATH PADA ABAD PERTENGAHAN


Jely Novianti/PIS/B
A.  Abad Pertengahan
Abad pertengahan dimulai dari runtuhnya Imperium Romawi, yaitu pada 395M, sampai jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki pada 1453. Pada abad pertengahan, Eropa dilanda zaman kelam (Dark Ages). Hal ini karena masyarakat eropa menghadapi kemunduran intelektual. Dark Ages juga dimaksudkan ketiaadan prospek yang jelas bagi masyarakat Eropa.

Pada abad pertengahan terjadi Dominasi gereja yang membawah dampak yang tidak sedikit di benua Eropa. Seperti pada bidang Sosial terjadi kesenjangan sosial, dimana pihak penguasa menikmati kemewahan dan kemakmuran sedangkan golongan buruh atau petani hanya bekerja tanpa menikmati hasilnya. Di bidang agama, terjadi penjualan surat pengampunan dosa sehingga rakyat miskin (buruh dan petani) bekerja hanya untuk membeli surat pengampunan dosa sedangkan golongan pendeta dan pemuka agama menjadi kayak arena upah dari pengaampunan dosa. Sedangkan dalam bidang kesehatan timbulnya penyakit PES (Black Death) yang terjadi karena kebersihan dan sanitasi yang kurang.
B.  Latar Belakang
Black Death disebut juga Wabah Hitam, yang merupakan satu-satunya bencana terburuk yang pernah menghantam umat manusia. Black Death adalah suatu pandemi hebat yang pertama kali melanda Eropa pada pertengahan hingga akhir abad ke-14 (1347 – 1351) dan membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa. Black Death merupakan epidemik wabah penyakit PES dan radang paru-paru yang memporakporandakan Eropa. Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi pula epidemi pada sebagian besar Asia danTimur Tengah, yang menunjukkan bahwa peristiwa di Eropa sebenarnya merupakan bagian dari pandemi multi-regional. Jika termasuk Timur Tengah, India, danTiongkok, Black Death telah merenggut sedikitnya 75 juta nyawa. Penyakit yang sama diduga kembali melanda Eropa pada setiap generasi dengan perbedaan intensitas dan tingkat fatalitas yang berbeda hingga dasawarsa 1700-an. Beberapa wabah penting yang muncul kemudian antara lain Wabah Italia (1629 – 1631),Wabah Besar London (1665 – 1666), Wabah Besar Wina (1679), Wabah Besar Marseille (1720 – 1722), serta wabah pada tahun 1771 di Moskwa. Penyakit ini berhasil dimusnahkan di Eropa pada awal abad ke-19, tapi masih berlanjut pada bagian lain dunia (Afrika Tengah dan Oriental, Madagaskar, Asia, beberapa bagianAmerika Selatan).
       Black Death  menimbulkan akibat drastis terhadap populasi Eropa, serta mengubah struktur sosial Eropa. Penyakit ini mungkin berawal dari China, kemudian ditularkan pada orang-orang Eropa ketika seorang Kipchak (Mongol) menyerbu sebuah keramaian dengan melemparkan jenazah yang terinfeksi ke tengah pusat perdagangan di Crimea. Kemudian wabah tsb mencapai Genoa pada 1347, lalu menyebar ke bagian barat dan utara, mencapai London dan Paris pada 1348.Wabah tersebut mungkin dibawa pertama kali oleh kutu tiklus yang juga dapat hidup pada manusia. Hal itu kemudian berubah menjadi wabah penyakit radang paru-paru yang menyebar melalui batuk dan bersin.Setelah wabah black death ini tersebar, tanah lapang dipenuhi dengan mayat-mayat,rumah-rumah, desa-desa dan perkotaan menjadi sunyi dan kosong.
Setelah itu terjadilah kelangkaan tenaga kerja sehingga upah mereka meningkat dan banyak budak yang mendapatkan kemerdekaan mereka.
Konon, ribuan kerangka manusia yg digunakan sebagai kontruksi dasar bangunan Evora Chapel di Portugal itu merupakan kerangka para korban keganasan wabah Black Death.
C.  Membubuh Dasar untuk Malapetaka
Tragedi Sampar Hitam tidak hanya mencakup penyakit itu sendiri. Sejumlah faktor turut memperparah malapetaka ini, salah satunya adalah semangat keagamaan. Sebuah contoh adalah doktrin api penyucian. "Pada akhir abad ke-13, kepercayaan akan api penyucian tersebar di mana-mana," kata sejarawan Prancis, Jacques le Goff. Pada awal abad ke-14, Dante menghasilkan karyanya yang berpengaruh, The Divine Comedy, dengan uraiannya yang terperinci tentang neraka dan api penyucian. Berkembanglah iklim keagamaan yang membuat masyarakat cenderung menghadapi wabah dengan sikap apatis dan pasrah, memandang hal itu sebagai hukuman dari Allah sendiri. Sebagaimana akan kita lihat, cara berpikir yang pesimis demikian malah menyulut penyebaran penyakit tersebut. "Keadaan itu benar-benar ideal bagi penyebaran wabah tersebut," kata buku The Black Death, oleh Philip Ziegler.
Selain itu, terdapat problem gagal panen yang berulang-ulang di Eropa. Akibatnya, populasi yang sedang bertumbuh pesat di benua tersebut mengalami malnutrisi—tidak kuat melawan penyakit.
D.  Penyebaran wabah Black Death
Tahun-tahun paling mematikan akibat wabah tersebut adalah tahun 1347, hingga awal tahun 1351. Pada bulan Desember 1347, Black Death telah menyerang Konstantinopel (Turki), Kepulauan Italia seperti Sisilia, Sardinia, Corsica, Marseille, dan Prancis. Enam bula kemudian, bulan Juni 1348 Black Death telah menyerang seluruh Yunani dan Italia, wilayah yang sekarang menjadi Yugoslavia, Albania, Bosnia, Herzegonia, dan Kroasia. Pada bulan Desember 1348, enam bulan kemudian dan setahun penuh dengan kemunculannya yang pertama di Eropa, Black Death menyerang sisa wilayah Prancis dan sebagian besar Austria dan telah melintasi selat Inggris di atas kapal untuk menyerang bagian selatan Inggris. Enam bulan kemudian, pada bulan juni 1349, delapan belas bulan setelah serbuannya, Black Death telah menyapu Swiss, sebagian besar Jerman, bagian tengah Inggris, dan seluruh Autralia.Pada tahun 1349, Blaack Death telah memasuki seluruh Irlandia, sebagian besar Skotlandia, bagian pusat Jerman, seluruh Kopenhagen, dan telah melintasi laut Utara untuk menyerang bagian selatan Norwegia.
Musnahnya Black Death sebagian besar disebabkan karena perbaikan dalam hal sanitasi, yang melemahkan kemampuan pertahanan kutu pembawa wabah.
Sejumlah sejarawan mengatakan bahwa kebakaran hebat di London pada yahun 1666 juga memberi kontribusi bagi pemusnahan akhir terhadap kutu-kutu yang terkontaminasi di Eropa, meski pada saat ini, penyebaran wabah ini telah tercerai-berai dan jarang terjadi.
Dalam berbagai segi, wabah ini tidaklah sepenuhnya dilenyapkan. Merebaknya wabah terjadi secara tetap di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat. Wabah telah merebak pada tahun 1924 di Los Angeles. Wabah ini segera ditanggulangi dengan cepat, tetapi 33 orang telah dinyatakan tewas.
E.   Upaya yang Sia-Sia
Upaya-upaya untuk mengendalikan Sampar Hitam terbukti sia-sia karena tidak seorang pun tahu persis bagaimana penyakit itu ditularkan. Kebanyakan orang menyadari bahwa kontak langsung dengan penderita atau bahkan dengan pakaiannya sangat berbahaya. Beberapa orang bahkan takut bertatapan langsung dengan penderitanya! Akan tetapi, penduduk Florence, Italia, menuding kucing dan anjing sebagai penyebabnya. Mereka membantai binatang-binatang ini, tanpa menyadari bahwa tindakan tersebut malah membuka jalan bagi makhluk yang justru berkaitan dalam menyebarkan kontaminasi tikus.
Seraya angka kematian meningkat, ada yang berpaling kepada Allah memohon pertolongan. Pria dan wanita memberikan semua milik mereka kepada gereja, sambil berharap agar Allah melindungi mereka dari penyakit itu atau setidaknya mengaruniai mereka kehidupan surgawi jika mereka mati. Hal ini sangat memperkaya gereja. Jimat keberuntungan, patung Kristus, serta kotak-kotak kecil berisi ayat (phylactery) menjadi populer sebagai penangkal. Ada juga yang berpaling kepada takhayul, ilmu gaib, dan obat palsu untuk memperoleh kesembuhan. Minyak wangi, cuka, dan ramuan khusus konon dapat menangkal penyakit itu. Mengeluarkan darah adalah cara pengobatan favorit lainnya. Kalangan medis yang terpelajar dari University of Paris bahkan menghubungkan wabah tersebut dengan kesejajaran posisi planet-planet! Akan tetapi, penjelasan dan "pengobatan" palsu tidak sanggup menghentikan penyebaran wabah pembunuh ini.
F.   Dampak yang Belum Sirna
Setelah lima tahun, Sampar Hitam tampaknya hampir berakhir. Tetapi sebelum akhir abad itu, wabah tersebut kambuh paling tidak sebanyak empat kali. Dampak Sampar Hitam sebanding dengan dampak Perang Dunia I. "Hampir semua sejarawan modern sependapat bahwa pemunculan wabah endemis itu telah menimbulkan dampak yang teramat dalam terhadap ekonomi dan masyarakat setelah tahun 1348," komentar buku The Black Death in England terbitan tahun 1996. Wabah tersebut memusnahkan sebagian besar populasi, dan dibutuhkan waktu berabad-abad untuk memulihkan kondisi beberapa daerah. Dengan berkurangnya angkatan kerja, tentu saja upah kerja meningkat. Para tuan tanah yang kaya jatuh miskin, dan feodalisme yang mencirikan Abad Pertengahan terpuruk.
Dengan demikian, wabah itu menjadi pemicu perubahan politik, agama, dan sosial. Sebelum wabah itu, Prancis menjadi buah bibir di antara kaum terpelajar di Inggris. Akan tetapi, meninggalnya sejumlah besar guru Prancis turut menjadikan bahasa Inggris lebih menonjol daripada bahasa Prancis di Inggris. Perubahan juga terjadi dalam lingkungan agama. Sebagaimana dikomentari oleh sejarawan Prancis, Jacqueline Brossollet, akibat kurangnya calon imam, "Gereja sering kali merekrut orang-orang yang kurang berpengetahuan dan apatis". Brossollet menyatakan bahwa "kebobrokan [gereja] sebagai pusat dalam pengajaran dan iman merupakan salah satu penyebab terjadinya Reformasi".
Yang pasti, Sampar Hitam berdampak kuat terhadap kesenian, menjadikan kematian sebagai tema artistik yang umum. Kategori tarian kematian yang terkenal, biasanya menggambarkan tengkorak dan mayat, menjadi simbol populer untuk kuasa maut. Karena bimbang akan masa depan, banyak orang yang selamat dari wabah tersebut meninggalkan semua batasan moral. Tatanan moral pun ambruk hingga kondisi yang luar biasa bejat. Sehubungan dengan gereja, karena kegagalannya mencegah Sampar Hitam, "orang-orang abad pertengahan merasa telah dikecewakan oleh Gerejanya". (The Black Death) Beberapa sejarawan juga mengatakan bahwa perubahan sosial akibat Sampar Hitam memupuk individualisme dan bisnis serta meningkatnya mobilitas sosial dan ekonomi cikal bakal kapitalisme.
Sampar Hitam juga mendorong pemerintah-pemerintah untuk mendirikan sistem pengendalian sanitasi. Setelah wabah itu mereda, Venesia bertindak membersihkan jalan-jalan kota. Raja John II, yang dijuluki si Baik, dari Prancis juga memerintahkan agar jalan-jalan dibersihkan sebagai cara untuk menangkal ancaman epidemi. Raja tersebut mengambil langkah ini setelah mengetahui bahwa seorang dokter Yunani kuno menyelamatkan Athena dari sebuah wabah dengan membersihkan dan mencuci jalanan. Banyak jalanan pada abad pertengahan, yang menjadi selokan terbuka, akhirnya dibersihkan.
DAFTAR PUSTAKA
ü  Djaja, Wahjudi. 2012. Sejarah Eropa dari Eropa Kuno hingga Eropa Modern. Yogyakarta: Penerbit Ombak
ü  https: //animeisty. wordpress. Com /2011 /11 /03 /5-penyakit-mematikan-yang-pernah-melanda-dunia/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar