Senin, 14 Desember 2015

SEJARAH PEREBUTAN BARAT DI AFRIKA TIMUR (KRISIS FASHODA DAN MAROKO)


RITA OKTAVIA/PIS/B

            Afrika Timur adalah suatu wilayah di Afrika yang pada awalnya hanya diperebutkan oleh Inggris dan Jerman. Persaingan Inggris dan Jerman ini diawali dengan adanya kerja sama antara Inggris dengan Sultan Bargash dari Zanzibar pada tahun 1876.   Inggris mampu menguasai beberapa daerah dan mendapatkan daerah seluas 400 mil di Zanzibar Utara. Sedangkan Jerman, memulai usahanya dengan ekspedisi pada tahun 1884. Ternyata ekspedisi ini telah berhasil membuat kerja sama dengan penguasa-penguasa di Uganda, Nguru, Usugara dan Ukami hingga ke selatan Mozambik sampai Umba yang luasnya 600 mil.

            Hal ini menyebabkan Jerman berniat menguasai wilayah-wilayah sampai ke perbatasan Kongo dan ke utara Sungai Nil. Tindakan ini jelas menjadi penghalang bagi Inggris yang juga ingin menyatukan wilayah jajahan melalui jalur kereta api dari Cape Town sampai ke Kairo (Mesir). Pertentangan Inggris dan Jerman dapat di akhiri dengan suatu perjanjian yaitu Perjanjian Helgolan pada tahun 1890 yang isinya:
"Inggris diaku sebagai pelindung atas daerah Uganda ddan memperoleh hak-hak protektorat atas Zanzibar dan Kepulauan Zemba, Wytu dan Nyasaland, sebagi gantinya Jerman mendapatkan Pulau Helgolan. Jerman mendapat izin memperluas jajahannya dari Kamerun sampai danau Chad dan Afrika Barat Daya serta memperoleh Coprivizipped seluas 20 mil ke Timur sampai Sungai Zambezi".
            Akan tetapi, masalah berikutnya justru muncul kembali ketika Prancis merasa keberatan atas sumremasi Inggris di Zanzibar. Prancis menunujuk isi perjanjian tahun 1862 yang menjamin kebebasan Zanzibar sebagai pelabuhan terpenting di Afrika Timur dan masalah ini dapat diatasi kembali dengan disepakatinya perjanjian tahun 1890 yang isinya:
"Prancis mendapat kebebasan untuk mendapatkan Madagaskar dan Zahara, sebaiknnya Prancis tidak keberatan jika Afrika Timur berda dibawah  kekeuasan  Inggris". Perjanjian demi perjanian terus dilakukan antara bangsa Eropa untuk menghindadri terjadinya konflik yang terus berlanjut. Pada tahun 1891 Inggris kembali melakukan perjanjian dengan Italia unutuk menetukan batas-batas garis demarkasi antara Inggris dan Itallia di Afrika Tmur. Italia diperbolehkan untuk meluaskan wilayahnya sampai Ethiopia hingga garis meridian 350 lintang timur. Garis ini  menempatkan Inggris sebagai penguasa Sudan yang juga merupakan koridor yang menghubungkan Mesir dengan Uganda.
KRISIS FASHODA

Pada awalnya Krisis Fashoda terjadi di Aljazair sebelah utara, secara perlahan Prancis memasuki Sahara sehingga sebagian besar daerah ini telah ditaklukkan Prancis. Dipantai barat Prancis bergerak dari Senegal terus ke pedalaman, di timur Prancis juga bergerak di Somalia. Prancis ingin menggabung daerah kekuasaannya dari barat ke timur yang dikenal dengan istilah "dari samudra ke samudra" untuk itu perlu menduduki seluruh Kongo, Sudan dan Ethiopia. Keinginan dari Prancis ini berakibat berhadapannya Prancis dengan Inggris yang juga ingin menyatukan wilayahnya yang dikenal dengan istilah "from Cape to Cairo". Permasalahan ini sebenarnya adalah keduanya mempunyai tujuan ingin menaklukkan daerah-daerah yang sama. Beberapa waktu sebelumnya, setelah berhasil mengatasi konflik di Mesir, Inggris telah mulai memasuki Sudan melalui tangan Mesir karena secara historis Sudan adalah milik mesir. Meskipun pada ekspedisi pertama tidak berhasil, akan tetapi pada tahun 1885 ekspedisi berikutnya Sudan berhasil dikuasai.keinginan Inggris yang berusaha untuk mendapatkan Sudan karena Sudan memiliki posisi yang strategis sebagai penyanggah bagi amannya kedudukan Inggris di Mesir. Terlebih setelah kemenangan Ethopia dari Italia yang berarti ancaman bagi Inggris. Itulah sebabnya Inggris melakukan kerja sama dengan Italia (1891) dan Jerman (1893).
Dalam mewujudkan cita-citanya maka Prancis mengirimkan ekspedisi pada tahun 1896 dibawah pimpinan  J.B Marchand dengan jumlah  peserta 234 orang yang sebagian besar adalah penduduk bumi putera dan mengibarkan bendera Prancis di Sudan. Saat Inggris mendengar ekspedisi dari Prancis, Inggris pun mengirimkan Ekspedisi pula dibawah pimpinan Kitchener.  Pada tahun 1896 sudah mencapai Dongolo, terus keselatan mencaoai Atbata setelah berhasil mengalahkan kaum Darwish pada tahun 1898 dan menguasai Omdurman. Ketika pasukan Inggris tiba di Fashoda Kitchener mereka menemukan bendera Prancis telah berkobar sehingga terjadilah ketegangan kedua pimpinan tersebut. Akhirnya , untuk menyelesaikan krisis ini diserahkan kepada negaranya masing-masing. Dengan lebih mendahulukan "Revance" terhadap Jerman dan "Drayfus" maka Prancis memilih mundur untuk menghindarkan konflik yang lebih besar yang berarti kemenangan bagi Inggris.
Jadi, Krisis Fashoda terjadi pada tahun 1898 di Sudan (Afrika Timur). Krisis ini adalah klimaks dari sengketa wilayah kekuasaan antara Inggris dan Perancis dan berakhir dengan kemenangan diplomatik untuk Inggris. Karena kemenangan ini, pihak Inggris mulai mengatur sistem pemerintahan di Sudan.

KRISIS MAROKO

Krisis Maroko pertama atau yang dikenal sebagai Krisis Tangier adalah krisis Internasional atas status Internasional Maroko anatara Maret (1905) dan Mei (1906). Maroko terletak di Afrika Utara sebelah barat, letaknya yang strategis di Selat Gibraltar dan berhadapan langsung denngan Spanyol bagian selatan. Selat Gibraltar merupakan satu-satunya pintu masuk-keluar darilaut tengah. Dadri abad ke-17 sampai awal aba ke-19 Maroko mampu bertahan sebagi negara berdaulat.
Letak Maroko yang sangat strategis ini, pada akhirnya justru menjadi incaran bagi negara-negara Eopa yang ingn meluaskan kekuasaan khususnya diwilayah Afrika apalagi Maroko begitu dekat dengan Eropa. Sanyol sebagai negar Eropa yang terdekat dengan Maroko mencoba mengirimkan pasukan ke Maroko tetapi berhasil dihalang oleh Inggris. Pada prinsipnya, Inggris tidak menginginnkan adanya kekuasaan permanen di Maroko karena penguasaan Maroko oleh satu kekuatan Barat akan dapat memicu bagi terjadinya Krisis Internasional. Sebaliknnya Prancis justru mempunyai keinginan untuk menguasai Maroko, meskipun Jerman pada tahun 1873 sudah menempatkan perwakilannya di Maroko. Itulah sebabnya Prancis mendirikan pangkalan militer  Fez, maka negara-negar Eropa banyak yang melakukan protes. Untuk menghindari konflik yang lebih besar, diadakan suatu konfensi yang membahas masalah Maroko pada tahun 1880 dan dihadiri oleh 15 negara Eropa dan Amerika Serikat di Madrid. Hasilnya yaitu "status quo Sultan Maroko harus dipertahankan dan Maroko tetap menjalankan ppolitik pintu terbuka". Sejak itu maka banyak negara yang berlomba menanamkan modal di Maroko.
Mundurnya Prancis dar Krsis Fashoda merupakan tamparan dahsyat bagi Prancis dan negara inipun tidak bisa melupakannya begitu saja. Demikian pula kekalahan yang dirasakan setelah mundur dari Suez pada saat terjadinya perang melawan Mesir. Kekalahan demi kekalahan yang diterima Prancis membuutuhkan suatu tirai untuk menyembuhkannya. Maka hal yang paling tepat yang bisa dilakukan Prancis adalah menduduki Maroko. Jika Inggris telah menduduki pintu keluar menuju India yaitu Suez, maka Prancis seharusnya dapat menguasai pintu masuk yaitu Maroko. Sewaktu Inggris sibuk menghadi perjuangan rakyat Boer di Afrika Selatan, maka Prancis secara diam-diam melakukan perjanjian ddengan Italia yang isisnya "Italia tidak keberatan apabila Prancis di Maroko, sebaliknya Prancis juga tidak akakn menghalangi keinginan Italia di Tripoli dan Cyrenaica". Perjanjian ini diratifikasi pada tahun 1902 dengan memasukan "apabila salah satu negara di serang musuh maka yang lain akan bersikap netral".
Kemudian Prancis melakukan perjanjian dengan Spanyol tahun 1904 yang intinya "Spanyol Pantai utara dan termasuk Tanjir dan Fezs serta sedikit di bagian selatan, selebihnya menjadi miliik Prancis. Usaha lain yang sangat penting yanng dilakukan oleh Prancis adalah menerima tawaran Inggris untuk mengakhiri pertikaian dengan Prancis khususnya mengenai Afrika yang menempatkan kedua Negara besar itu sebagai musuh bebuuyutan. Berbagai cara yang telah dilakukan agar dapat kembali ke Mesir tapi selalu mengalami kegagalan. Sedangkan bagi Inggris Maroko sangat vital, Inggris tidak mengingnkan satu negarapun yang ingin dikuasai diwilayah itu. Pintu masuk laut tengah menjadi sangat berbahaya bagi Inggris, untuk itulah Inggris menempuh jalan damai dengan Prancis. Maka pada tahun 1904 disepakati "Marocco Egyption Agreement" yang dikenal pula denngan sebuatan Entente Cordiale. Inti dari perjanjian perjanjian ini adalah "Prancis akan melupakan/melepasakan kepentingannya di Mesir sebagai imbalannya Inggris tidak keberatan apabila Prancis  berada di Maroko, denagn catatan tidak boleh ada Benteng di Jabaltarik". Sementara Spanyol tetap mendapat Fez sebagaimana perjanjian sebelumnya, Tanjir berada dibawah pengawasan internasional demi menjaga kelancaran pelayaran internasional.
Bagi Prancis berakhirnya pertentangan dengan Inggris berarti tidak ada kekuatan beesar yang akan mennghalanginya lagi di Maroko dan penanaman modal Prancis semakiin intensif dan di pihak laiin secara bersamaan keuangan Maroko mengalami kebangkrutan akibat tidak mampu mengelola dengan baik, Prancis pun menggunakan alasan ini untuk masuk lebih dalam didalam urusan dalam negri Maroko seperti mengatasi masalah keuangan, pemerintahan, dan lain-lain.
Tindakan Prancis di Maroko ini mendapat protes dari Jerman. Jerman pun harus mengetahui bahwa telah terjadi berbagai perjanjian rahasia antara Prancis dengan sekutu-sekutunya. Bagi Jerman, Maroko tetplah negara bebas sesuai dengan perjanjian Madrid tahun 1880. Konflik ini  memuncak dengan adanya kunjungan kaisar Williem II mengunjungi Tanjir dan mengakui kedaulatan Maroko. Untuk menhindari konflik yang lebih besar lagi maka Prancis menerima tuntutan Jerman untuk mengadakan konferensi bagi Maroko yang diikuti oleh Negara-negara Prancis,Inggris, Rusia, Jerman, Amerika Serikat, Italia, Australia dan Spanyol. Konferensi itu dieri mana Konferensi Algeciras pada tahun 1806. Isinnya antara lain:
1.      Kedaulatan Sultan Maroko tetap diakaui
2.      Masalah kepolisian dan bank-bank nasional dibawah pengawasan internasional
3.      Maroko tetap menjalankan politik pintu terbuka
4.      Prancis diperkenankan menjalankan penetrasi damai di Maroko kecuali Pantai utara
5.      Pantai utara disetahkan pada Spanyol.

Dengan di tanda tanganinya perjanjian Algeciras, maka Krisis Maroko episode pertama inipun dapat diatasi secara damai pada tahun 1806.

Krisis Maroko kedua yang dikenal dengan Krisis Agadir atau Panthersprung. Sesuai dengan konferensi diatas, maka Prancis merasa perlu untuk menetapkan kedudukannya di maroko. Namun kondisi didalam negeri Maroko sendiri menjadi bergolak, karena munculnya perlawanan-perlawanan rakyat terhadap Prancis. Pergolakan-pergolakan yang terjadi dan sikap Prancis dalam menghadapi pergolakan tersebut membuat Jerman masuk kembali kemasalah Maroko dengan mengakui kemerdekaan Maroko pada tahun 1808, akibatnya pemberontakan semakin hebat. Pada tahun 1911 ibukota Maroko, Fez bahkan dapat dikepung oleh kaum pemberontakan dan tentara Prancis pun menduduki kota tersebbut. Tindakan ini memaksa Jerman mengirim kapal-kapal perangnya ke Maroko yang merupakan tanntangan bagi Prancis dan Inggris. Menurut Inggris tindakan Jerman tersebut mengancam perdamaian dunia karena melibatkan 3  negara besar yaitu, Jerman, Prancis dan Inggris dan akhirnnya kondisi ini dapat diakhri dengan perjanjian yang intinya Jerman harus meninggalkan Maroko dan mengakui kekuasaan Prancis atas Maroko. Sebagai imbalannya Jerman mendapatkan sebagian dari daerah Prancis di kongo. Dengan  adanya perjanjian ini krisis Maroko  yang kedua ini pun berakhir dan Prancis semakin memantapkan kedudukannya di Maroko dan pada tahun 1918 Maroko dijadikan wilayah Protektorat Prancis.

DAFTAR PUSTAKA:
Soeratman,Darsiti.2012.Sejarah Afrika.Yogyakarta:Ombak
Sejarah Afrika oleh Andri Karmidi, S.Pd, M.Pd
          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar