Minggu, 07 Juni 2015

Sejarah Pendidikan di Negara Sudan


ANA SEPTI YANA /B

Pendidikan di Sudan digratiskan dan diwajibkan bagi seluruh anak-anak usia 6 sampai 13 tahun. Pendidikan dimulai dari pendidikan dasar selama dari delapan tahun, kemudian pendidikan menengah tiga tahun. Jenjang pendidikan diubah menjadi berformat 6 + 3 + 3 pada tahun 1990. Bahasa pengantar pedidikan yang digunakan di semua tingkatan adalah bahasa Arab. Lokasi sekolah terkonsentrasi di sejumlah daerah perkotaan, yang mana sejumlah sekolah yang terletak di bagian Selatan dan Barat telah rusak bahkan hancur akibat konflik di Negara tersebut. 


Pada tahun 2001, Bank Dunia memperkirakan bahwa partisipasi murni siswa Sekolah Dasar adalah 46% dan 21 persen dari pelajar sekolah menengah yang terdiri dari siswa yang memenuhi syarat. Tingkat kelangsungan pendidikan di Sudan sangat bervariasi, di beberapa provinsi bahkan hanya mencapai di bawah 20 persen. Sudan memiliki 19 universitas berbahasa Arab. Pendidikan di tingkat menengah dan pendidikan tinggi di universitas mengalami masalah penghambat yang serius disebabkan oleh sebagian besar penduduk berjenis kelamin laki-laki melaksanakan dinas militer sebelum dapat menyelesaikan pendidikan mereka. Menurut perkiraan Bank Dunia, pada tahun 2000 tingkat baca-tulis pada orang dewasa berusia 15 tahun keatas hampir 58% (69% untuk laki-laki, 46 %untuk wanita). Sedangkan pada tahun 2002, tingkat baca-tulis pada orang dewasa berusia 15 tahun keatas mencapai 60 persen dan tingkat buta aksara pemuda (usia 15-24) diperkirakan sebesar 23%.
 Meski di negara ini terdapat konflik internal yang setiap saat bisa pecah, namun semangat penuntut ilmu untuk datang ke Sudan tidak menipis. setiap tahunnya selalu ada mahasiswa asing, khususnya indonesia yang datang menuntut ilmu ke sudan. bahkan sudan termasuk negara pilihan untuk melanjutkan pascasarjana di bidang study keislaman. salah satu universitas yang dituju oleh pascasarjana tersebut adalah Universitas Omdurman, Universitas yang di dirikan pada tahun 1912 ini terletak di Kota Omdurman,  kota terbesar di Sudan. Universitas ini terkenal dengan studi keislamannya, karena awal mula berdirinya hanya membuka fakultas-fakultas keagamaan. Maka tidak aneh jika selanjutnya banyak mahasiswa asing yang kuliah strata satu ataupun pascasarjana di universitas ini.
Diantara mahasiswa yang cukup banyak berminat melanjutkan program pasca sarjananya adalah para lulusan Universitas al-Azhar, Mesir. Meski Universitas al-Azhar sendiri juga menyediakan program pascasarjana, akan tetapi tetap saja setiap tahunnya banyak lulusan salah satu universitas Islam tertua ini yang lantas melanjutkan studi ke Universitas Omdurman. Tentunya ada beberapa kelebihan dan sekaligus kemudahan yang ditawarkan Universitas Omdurman, sehingga menjadi alasan mahasiswa lulusan Universitas Al-Azhar tidak melanjutkan studi pasca sarjana di universitasnya itu.

Di bidang pendidikan formal, Sudan mempunyai banyak universitas ternama yang sudah berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Diantara perguruan tinggi tersebut adalah Khartoum University, Omdurman Islamic University, El-Nilein University, Khartoum International Institute of Arabic, Universitas Al Quran Al Karim dan yang paling muda adalah International University of Africa. Jumlah mahasiswa dan mahasiswi Indonesia di Sudan sampai saat ini tercatat sekitar 175 orang yang terbagi dalam tujuh Perguruan Tinggi besar yang ada di Sudan, pada program yang berbeda mulai dari program S1 sampai dengan program S3, di mana 35% diantara mereka adalah mahasiswa program pasca sarjana. Dari seluruh mahasiswa yang ada, 40% diantaranya melaksanakan perkuliahan dengan biaya sendiri tanpa ada bantuan dari instansi atau sponsor lainnya, dan hanya mengandalkan bantuan dari keluarga yang tidak mereka terima secara periodik. Belum lagi dengan cuaca dan kondisi di Sudan yang kadang kurang bersahabat.

Sehingga bagi yang tidak kuat daya tahan tubuhnya atau kurang pemenuhan gizinya, akan mudah terserang penyakit malaria. Hal seperti ini ditambah lagi dengan fasilitas kesehatan dan obat-obatan yang cukup mahal. Untuk kebutuhan buku-buku referensi, sangat berat bagi mahasiswa untuk memenuhinya karena selain tingkat harga yang lebih mahal di banding buku-buku di negara arab lainnya, juga karena dari segi pendanaan untuk kebutuhan-kebutuhan lainnya .  Adapun pendidikan non formal, di Sudan terdapat banyak majelis-majelis ilmu yang menggunakan system talaqqi lewat para masyaikh yang tersebar hampir di seluruh penjuru Sudan, dan diantara jama
ah yang paling eksis dalam bidang ini adalah  jamaah anshar sunnah al muhammadiyah yang menebarkan dakwah ahlus sunnah wal jamaah dengan pemahaman salaf as sholeh.
Dari realita di atas saya dapat menyimpulkan bahwa Sistem Pendidikan di Sudan dimulai dengan Primary School, kemudian secondary School. Level di atasnya adalah Vocational/Technical Education and Training atau University/College Education. Disamping itu ada Preservice Teacher Training dan In Service Teacher Training. Pendidikan non formal, di Sudan terdapat banyak majelis-majelis ilmu yang menggunakan system talaqqi lewat para masyaikh yang tersebar hampir di seluruh penjuru Sudan, dan diantara jamaah yang paling eksis dalam bidang ini adalah jamaah anshar sunnah al muhammadiyah yang menyebarkan dakwah ahlus sunnah wal jamaah dengan pemahaman salaf as sholeh.
Daftar Rujukan 
ensiklopedi Nasional Indonesia. PT.Delta Pamungkas.2004

Tidak ada komentar:

Posting Komentar