SEJARAH BERDIRINYA PEMERINTAHAN DARURAT REPUBLIK INDONESIA (PDRI)

KEVIN REZA / SI V / 5A

Perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan banyak menghadapi rintangan yang sangat sulit. Berbagai macam kesengsaraan atas penjajahan bangsa Eropa membuat Indonesia memiliki semangat nasionalisme yang semakin tinggi. Banyak permasalahan yang harus dihadapi oleh Bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Setelah tiga tahun Indonesia Merdeka,pada bulan November hingga Desember 1948 Belanda melakukan serangan militer yang biasa disebut Agresi Militer. Agresi Militer
Belanda terjadi dua kali. Pada Agresi Militer yang kedua Belanda masuk ke Yogyakarta yang ketika itu menjadi Ibukota Republik Indonesia dan berhasil menguasai kota tersebut.
Dengan dikuasainya Yogyakarta maka Belanda berhasil menawan Presiden, Wakil Presiden, dan beberapa pejabat tinggi lainnya. Mereka kemudian diasingkan ke daerah yang berbeda dengan maksud dan tujuan tertentu. Hal ini yang membuat para tentara Republik Indonesia merasa bahwa mereka merupakan satu-satunya penyelamat bagi Republik Indonesia. Untuk mengisi kekosongan pemerintahan, maka dalam sidang kabinet kemudian memutuskan untuk memberikan mandat kepada Mr.Sjafruddin Prawiranegara selaku Menteri Kemakmuran Republik Indonesia ketika itu untuk mendirikan atau membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia(PDRI).

Latar Belakang Lahirnya PDRI
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia atau yang kita kenal dengan singkatannya PDRI merupakan penyelenggara pemerintahan Indonesia yang pembentukannya diresmikan tanggal 22 Desember 1948 di Halaban, dekat Payakumbuh. [1]
PDRI dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara dan pada tanggal 13 Juli 1949 Sjafruddin Prawiranegara mengembalikan mandat kepada Presiden Soekarno. Sjaruddin Prawiranegara itu sendiri tidak pernah menyalahgunakan amanah pembentukan Pemerintah Darutat Republik Indonesia(PDRI) untuk mengangkat dirinya sebagai Presiden PDRI. Melainkan hanya sebagai ketua PDRI. [2]
Adapun alasan adanya Pemerintah Darurat Republik Indonesia(PDRI) pada masa Revolusi di Indonesia adalah adanya Agresi Militer II, 19 Desember 1948, yang pada saat itu Ibukota RI Yogyakarta diduduki oleh Belanda. Presiden, Wakil Presiden, dan beberapa menteri ditangkap dan diasingkan ke Bangka. Yang kita ketahui bahwasanya Ibukota RI Yogyakarta pada tahun 1946, menurut Ricklefs pada bulan Januari 1946 pendudukan kembali Belanda atas Jakarta telah berjalan begitu jauh sehingga diputuskan untuk memindahkan pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta, yang tepat menjadi Ibukota Indonesia yang merdeka selama masa Revolusi. [3]
Yogyakarta sendiri tepat dijadikan Ibukota karena keadaan Yogyakarta yang memiliki cukup gedung untuk kebutuhan tempat pemerintahan dibandingkan kota Palangkaraya yang diusulkan Presiden Soekarno. Ketika Yogyakarta telah menjadi Ibukota Indonesia dan pada tanggal 19 Desember 1948 pasukan payung Belanda melancarkan serangan terhadap Lapangan Terbang Maguwo(kini Lanuma Adi Sucipto) kurang lebih 6 kilometer di sebelah timur Ibukota RI Yogyakarta. Dengan serangan itu mulailah Agresi Militer Belanda Kedua.[4]
Memang pada awalnya ada beberapa alasan Belanda memilih melancarkan Agresi Militer II di Yogyakarta seperti pertikaian yang terjadi di kalangan Republik sebagai akibat dari perjanjian Renville, kegoncangan di kalangan TNI sehubungan dengan adanya rekonstruksi dan rasinalisasi, serta penumpasan pemberontakan PKI yang menelan daya upaya dan kekuatan Republik. Ini memberikan kesempatan baik bagi Belanda untuk lebih menekan Republik Indonesia. Perundingan-perundingan yang selama ini dilakukan antara Belanda dengan Indonesia selalu merugikan Indonesia. Perundingan-perundingan yang dilakukan dibawah pengawasan KTN selalu menemui jalan buntu sebab Belanda sengaja mengemukakan hal-hal yang tidak mungkin diterima Republik Indonesia, seperti penafsiran Garis van Mook sebagai garis demokrasi antara daerah yang masuk kekuasaan Republik dengan daerah yang menjadi kekuasaan Belanda.
Pada tanggal 18 Desember 1948 , pukul 23:30 , Dr. Beel memberitahukan kepada delegasi RI dan KTN bahwa Belanda tidak lagi mengakui dan terikat pada persetujuan Renville. Delegasi Republik Indonesia tidak dapat menyampaikan berita tersebut ke Yogyakarta karena hubungan telepon telah diputuskan. Pada tanggal 19 Desember 1948, jam 06:00 pagi, Agresi Militer Belanda kedua dilancarkan Belanda. [5]
Itulah beberapa alasan Belanda melakukan Agresi. Akan tetapi tidak hanya alasan itu saja,  Belanda sendiri pada dasarnya juga ingin menghancurkan Republik Indonesia yang merdeka dengan menghancurkan pemerintahannya untuk menghilangkan salah satu pokok atau syarat Hukum Internasional, sehingga pada agresi militer Belanda kedua menyerang Yogyakarta. Tindakan Belanda semakin nyata lagi ketika selanjutnya kedua pemimpin RI, Soekarno dan Hatta ditawan oleh Belanda ke Bangka, yang sebelumnya Soekarno ditawan di Prapat.
Maka Pemerintahan Darurat Republik Indonesia lahir untuk menjamin kelangsungan hidup Republik Indonesia untuk mengisi kekosongan pemerintahan, yang pada saat itu juga Ir.Soekarno dan Hatta telah diasingkan Belanda ke Bangka. PDRI diketuai oleh Sjafruddin Prawiranegara. Dan pada akhirnya, pada tanggal 19 Desember 1948 diadakan suatu sidang kabinet yang menghasilkan keputusan untuk memberikan mandat melalui radiogram kepada Menteri Kemakmuran Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang kebetulan sedang berada di Sumatera, agar membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia(PDRI). Dengan upaya mempertahankan kemerdekaan RI berhasil dilakukan, maka usaha pihak Belanda di Yogya untuk memaksakan Pemerintahan RI menerima konsepsi politik mereka, gagal sama sekali.[6]

Awal Berdirinya PDRI
            Serangan Agresi Belanda Militer II terjadi pagi hari pukul 06:00 pada tanggal 19 Desember 1948. Dengan pasukan lintas udara, serangan langsung ditujukan ke Ibukota RI, Yogyakarta. Lapangan terbang Maguwo dapat dikuasai Belanda dan selanjutnya seluruh kota Yogyakarta. [7]
Belanda yang melakukan Agresi Militer II berhasil menduduki Yogyakarta menawan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta yang diasingkan ke Bangka, dan beberapa petinggi lainnya seperti Agus Salim (Menteri Luar Negeri), Mohammad Roem dan beberapa menteri lainnya. Sebelum beberapa petinggi RI ini ditawan oleh Belanda, mereka mengadakan sidang kabinet dan mengambil keputusan untuk memberikan mandat melalui radiogram yang akan dikirimkan kepada Menteri Kemakmuran yaitu Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang sedang berada di Sumatera.
            Mandat atau materi kawat ini dikirim pada menit-menit terakhir sebelum Soekarno-Hatta ditawan. Mandat tersebut berisikan agar Mr. Sjafruddin Prawiranegara mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia(PDRI). Adapun teks Kawat Pertama 19 Desember 1948 berbunyi:
"Mandat Presiden Soekarno/wakil Presiden Hatta kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara.
Kami  Presiden Republik Indonesia memberitahukan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 jam 06:00 pagi, Belanda telah mulai serangannja atas Ibu Kota Djogjakarta.
Djika dalam keadaan Pemerintah tidak dapat menjalankan kewadjibannja lagi, kami mengusahakan pada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran Republik Indonesia untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra". [8]
            Dengan tertangkapnya para petinggi Republik Indonesia lantas tidak berarti bahwa pemerintah Republik Indonesia telah berakhir. Pada umumnya tentara Republik tidak dapat memahami alasan menyerahnya para politisi sipil pada Belanda sementara para prajurit mengorbankan jiwa mereka demi Republik. Seluruh kekuatan TNI yang ada di Yogyakarta diperintahkan keluar kota untuk bergerilya. Pasukan-pasukan Republik mengundurkan diri ke luar kota-kota dan memulai perang gerilya secara besar-besaran di kedua belah garis van Mook. Selain materi kawat yang dikirimkan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Menteri Luar Negeri Hadji Agoes Salim mengirim Kawat kedua kepada Dr. Soedarsono, A.N. Palar, Mr. A.A. Maramis di New Delhi yang berbunyi sebagai berikut:
"Kami Presiden Republik Indonesia memberitahukan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948, jam 06:00 pagi, Belanda mulai serangannja atas Ibu Kota Djogjakarta.
Djika ichtiar Mr. Sjafruddin Prawiranegara membentuk Pemerintah Darurat di Sumatera tidak berhasil, kepada saudara dikuasakan untuk membentuk Exile Goverment Republik Indonesia di India.
Harap dalam hal ini berhubungan dengan Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Sumatra.
Djika hubungan tidak mungkin, harap diambil tindakan seperlunja. [9]
            Materi Kawat atau radiogram itu ternyata tidak pernah diterima oleh Mr. Sjafruddin, hal ini diperkirakan bahwa dalam keadaan perang itu sangat dituntut mobilitas yang tinggi dengan berpindah-pindah kedudukan yang dimaksudkan untuk menghindari serangan dari lawan. Kekhawatiran inilah yang menyebabkan Hatta mengirimkan radiogram kepada Dr. Soedarsono, A.N. Palar, Mr. A.A. Maramis. Namun kontroversi sampai atau tidaknya radiogram itu berhenti pada tanggal 22 Desember 1948, ketika di desa Halaban, dekat Payakumbuh, Sumatera Barat, diadakan rapat dengan beberapa tokoh.
            Rapat tersebut akhirnya memutuskan untuk membentuk Pemerintah Darurat. Mr. Sjafruddin Prawiranegara terpilih sebagai Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia(PDRI). Dan pada tanggal 31 Maret 1949 berhasil membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia(PDRI). Ketua PDRI yaitu Mr. Sjaruddin Prawiranegara sendiri membentuk susunan kementrian PDRI sebagai berikut:
Ketua dan Menteri Pertahanan dan Penerangan                 : Mr. Sjafruddin Prawiranegara
Wakil Ketua dan Menteri Kehakiman                                : Mr. Soesanto Tirtoprodjo
Menteri Luar Negeri                                                            : Mr. A.A. Maramis
Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan                  : Dr. Soekiman Wirjosandjojo
Menteri Keuangan                                                               : Mr. Loekman Hakim
Menteri Kemakmuran dan Pengawasan Makanan Rakjat : I. Kasimo
Menteri Agama                                                                   : K.H. Masjkoer
Menteri P dan K                                                                  : Mr. Teuku Mohammad Hasan
Menteri Perhubungan                                                          : Ir. Inderatjaja
Menteri Pekerjaan Umum                                                   : Ir. Mananti Sitompul
Menteri Perburuhan dan Sosial                                           : Mr. St. M. Rasjid
            Dari fakta sejarah ini, Mr. Sjafruddin Prawiranegara tidak menyalahgunakan amanah pembentukan Pemerintah Darurat Republik Indonesia(PDRI) untuk mengangkat dirinya sebagai Presiden PDRI. Melainkan hanya sebagai Ketua PDRI.

Notes:
[1] Poesponegoro Notosusanto dan Marwati Djoened. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta. Balai Pustaka. 2009. Hlm: 260
[2] Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah-2. Bandung. Salamadani Pustaka Semesta. 2010. Hlm: 268
[3] Ricklefs, M.C. Sejarah Indonesia Modern. Jakarta. PT. Serambi Ilmu Semesta. 2008. Hlm: 462
[4] Poesponegoro Notosusanto Nugroho dan Marwati Djoened. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta. Balai Pustaka. 2009. Hlm: 258
[5] Tim Penyusun. 30 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta. PT. Citra Lantoro Gung Persada. 1985. Hlm: 191-192
[6] Nasution, Abdul Haris. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 9 (Agresi Militer Belanda II). Bandung. Disjarah AD dan Angkasa. 1979. Hlm: 190
[7] Sudharmono, S.H. 30 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta. PT. Tema Baru. 1981. Hlm: 192
[8] Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah-2. Bandung. Salamadani Pustaka Semesta. 2010. Hlm: 266
[9] Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah-2. Bandung. Salamadani Pustaka Semesta. 2010. Hlm: 267

DAFTAR PUSTAKA:
Nasution, Abdul Haris. 1979. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 9 (Agresi Militer Belanda II). Bandung: Disjarah AD dan Angkasa
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, Nugroho. 2009. Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka
Ricklefs, M.C. 2008. Sejarah Indonesia Modern. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta
Sudharmono, S.H. 1981. 30 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta: PT. Tema Baru
Suryanegara, Ahmad Mansur. 2010. Api Sejarah-2. Bandung: Salamadani Pustaka Semesta
Tim Penyusun. 1985. 30 Tahun Indonesia Merdeka. Jakarta: PT. Citra Lantoro Gung Persada

No comments:

Post a Comment