Rabu, 27 Desember 2017

BIOGRAFI SULTAN ISKANDAR MUDA


TITI SUGIARTI HAREFA/SI III/016/A

Nama Lengkap : Sultan Iskandar Muda
Nama Ayahnda : Sultan Alauddin Mansur Syah
Nama Ibu : Putri Indra Bangsa
Agama : Islam
Tempat Lahir : Aceh, Banda Aceh
Tanggal Lahir : Rabu, 27 Januari 1591
Warga Negara : Indonesia

Besar dalam lingkungan istana, ketika telah cukup umur Iskandar Muda dikirim ayahnya untuk belajar pada Teungku Di Bitai, salah seorang ulama dari Baitul Mukadis pakal ilmu falak dan ilmu firasat. Iskandar muda mempelajari ilmu nahu dari beliau. Selanjutnya ayah Iskandar Muda mulai menerima banyak ulama terkenal dari Mekah dan dari Gujarat. Di antaranya adalah tiga orang yang sangat berpengaruh dalam intelektual Iskandar Muda, yaitu Syekh Abdul Khair Ibnu Hajar, Syekh Muhammad Jamani dari Mekah dan  Syekh Muhammad Djailani bin Hasan Ar-Raniry dari Gujarat.
Iskandar Muda Ada 2 sumber kuat tentang tahun kelahiran Sultan Iskandar Muda sebuah manuskrip menyatakan beliau dilahirkan pada 27 Januari 1591 dan dalam hikayat Aceh Iskandar Muda dilahirkan pada tahun 1583 kedua fakta ini hingga kini masih sama-sama diperdebatkan. Ayahandanya bernama Mansyur Syah sedangkan ibunya bernama Putri Indra Bangsa anak dari Sultan Alauddin Riayatsyah Al Mukamil. Sejak masa kanak-kanak Sultan Iskandar muda yang bernama Darmawangsa Tun Pangkat itu telah menunjukkan bakat dan kecerdasannya di berbagai bidang yang sebenarnya masih sangat jarang dilakukan oleh anak-anak seusianya misalnya berburu, bermain ketangkasan berpedang, memainkan meriam dan bermain perang-perangan dengan membuat benteng. Darmawangsa Tun Pangkat tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan tangguh. Saat itu Kerajaan Aceh diperintah oleh pamannya yaitu Sultan Muda Ali Riayat Syah. Masa pemerintahan Sultan Muda kerajaan Aceh banyak mengalami ketidak teraturan, banyaknya perampokan, pembunuhan dan berjangkitnya wabah penyakit. Pada saat Kerajaan Aceh menghadapi ancaman dari Portugis dibawah pimpinan Alfonso de Castro yang kemudian menyerang Aceh Darmawasa Tun Pangkat memohon untuk dapat membantu berperang melawan Portugis. Pada peperangan ini Aceh mendapat kemenangan dan Darmawangsa Tun pangkat menjadi populer. Pada saat Sultan Ali Riayat syah meningal dunia Darmawangsa Tun Pangkat dinobatkan sebagai raja di Kerajaan Aceh dan diberi gelar Sultan Iskandar Muda. Sejak itu kerajaan Aceh berangsur-angsur mengalami kejayaan. Berbagai bidang kehidupan diperbaiki. Sultan Iskandar Muda terkenal sangat tegas dan bijaksana. Dalam bidang pemerintahan Sultan Iskandar Muda menciptakan suatu bentuk kesatuan wilayah yang disebut mukim, guna mengkoordinir gampong. Tujuan pembentukkan mukim ini untuk kepentingan keagamaan, politik dan ekonomi. Sultan Iskandar Muda juga membuat ketetapan tentang tata cara yang berlaku di kerajaan Aceh yang kemudian disebut dengan "Adat Meukuta Alam". Di bidang pendidikan dan agama Islam pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pelaksanaan ibadah sangat tertib, beberapa ulama dan pujangga seperti Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Pasai hidup sebagai ulama yang ahli di bidang Tassawuf dan Teologi. Di bidang militer kerajaan Aceh masa itu terkenal dengan angkatan perang baik laut maupun pasukan darat yang dikenal dengan pasukan gajah yang sangat terlatih. Di bidang ekonomi kerajaan Aceh terkenal sangat kaya dengan perolehan hasil dari perniagaan luar negeri yang dilakukan di pelabuhan-pelabuhan Aceh dan daerah takluknya, pajak dan perkebunan (seunebok). Daerah takluk kerajaan Aceh masa Sultan Iskandar Muda di Pulau Sumatera meluas sepanjang jalur pantai pada kota-kota pelabuhan baik pada bagian timur maupun pada sebelah barat seperti Singkel, Barus, Batanghari, Passaman, Tiku, Pariaman, Padang dan Salido. Selain itu kekuasaannya juga meliputi semenanjung Melayu (Kerajaan Perak, Johor dan Pahang). Hasil yang dicapai semasa pemerintahan Sulltan Iskandar Muda diantaranya terdapat kemakmuran dan kejayaan kerajaan-kerajaan Islam di kawasan serantau yang meliputi:
1.      Menguasai selat Malaka dengan melawan atau mengusir Portugis dan negara asing lainnya yang ingin mendominasi rantau dengan cara memperkuat armada laut di kerajaan-kerajaan Islam sekawasan.
2.      Mengganggu eksistensi Portugis di Malaka dengan mengajak seluruh kerajaan-kerajaan Islam.
3.     Memberi sanksi kepada kerajaan Islam yang membantu atau bekerjasama dengan Portugis atau kekuasaan asing (Barat) lainnya.
4.    Mengendalikan harga komoditas ekspor masyarakat muslim antar benua dengan menetapkan pajak dan upeti yang sesuai, dengan demikian pedagang muslim dapat bersaing dengan pedagang asing Barat secara sehat dan mendapatkan harga komoditas standar dunia yang kompetitif dan saling menguntungkan. Kekuasaan Sultan Iskandar Muda mulai memudar setelah mengalami kekalahan saat melakukan penyerangan besar-besaran terhadap Portugis di Malaka pada tahun 1629. Banyak tentara yang gugur dan kapal-kapal perang karam. Kekalahan ini sebenarnya juga disebabkan terjadi intrik dan perpecahan di kalangan pejabat militer. Antara Perdana Mentri yang memimpin peperangan ditentang oleh Laksamana sebaliknya Portugis juga telah dibantu oleh kerajaan Johor, Pahang dan Pattani yang membelot terhadap kerajaan Aceh. Perdana Mentri dan Laksamana akhirnya juga tewas dalam tawanan Portugis. Sejak itu armada laut menjadi lemah dan berangsur-angsur kerajaan menjadi kurang berpengaruh. Teungku Chik Di Tiro Adanya unsur Perang Sabil dipergunakan sebagai basis ideologi dan dijadikan salah satu faktor yang menentukan dalam perlawanan terhadap Belanda. Hal ini nampak bahwa kepercayaan yang ditanamkan dalam perang kolonial Belanda di Aceh oleh Teungku Chik Di Tiro ke dalam para pengikutnya adalah kepercayaan dari sudut duniawi dan akhirat. Dari sudut duniawi tertanam kepercayaan bahwa mereka akan dapat memenangkan pertempuran dan mengusir musuh sedangkan dari sudut akhirat dianggap bahwa perang ini suci.

Dinobatkan pada tanggal 29 Juni 1606, Sultan Iskandar Muda memberikan tatanan baru dalam kerajaannya. Beliau mengangkat pimpinan adat untuk tiap suku dan menyusun tata negara sekaligus qanun yang menjadi tuntunan penyelenggaraan kerajaan dan hubungan antara raja dan rakyat. Selama 30 tahun masa pemerintahannya (1606 - 1636 SM) Sultan Iskandar Muda telah membawa Kerajaan Aceh Darussalam dalam kejayaan. Saat itu, kerajaan ini telah menjadi kerajaan Islam kelima terbesar di dunia setelah kerajaan Islam Maroko, Isfahan, Persia dan Agra. Seluruh wilayah semenanjung Melayu telah disatukan di bawah kerajaannya dan secara ekonomi kerajaan Aceh Darussalam telah memiliki hubungan diplomasi perdagangan yang baik secara internasional. Rakyat Aceh pun mengalami kemakmuran dengan pengaturan yang mencakup seluruh aspek kehidupan, yang dibuat oleh Iskandar Muda.
Tahun 1993, pada tanggal 14 September, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Iskandar Muda atas jasa dan kejayaannya membangun dasar-dasar penting hubungan ketatanegaraan dan atas keagungan beliau.
Sultan Iskandar Muda merupakan pahlawan nasional yang telah banyak berjasa dalam proses pembentukan karakter yang sangat kuat bagi nusantara dan Indonesia. Selama menjadi raja, Sultan Iskandar Muda menunjukkan sikapAnti-kolonialisme-nya. Ia bahkan sangat tegas terhadap kerajaan-kerajaan yang membangun hubungan atau kerjasama dengan Portugis, sebagai salah satu penjajah pada saat itu. Sultan Iskandar Muda mempunyai karakter yang sangat tegas dalam menghalau segala bentuk dominasi kolonialisme. Sebagai contoh, Kurun waktu 1573-1627 Sultan Iskandar Muda pernah melancarkan jihad perang melawan Portugis sebanyak 16 kali, meski semuanya gagal karena kuatnya benteng pertahanan musuh. Kekalahan tersebut menyebabkan jumlah penduduk turun drastis, sehingga Sultan Iskandar Muda mengambil kebijakan untuk menarik seluruh pendudukan di daerah-daerah taklukannya, seperti diSumatera Barat, Kedah, Pahang, Johor  dan Melaka, Perak, serta Deli , untuk migrasi ke daerah Aceh inti.
Pada saat berkuasa, Sultan Iskandar Muda membagi aturan hukum dan tata negara ke dalam Empat bidang yang kemudian dijabarkan secara praktis sesuai dengan tatanan kebudayaan masyarakat Aceh.  
Pertama, bidang Hukum yang diserahkan kepada Syaikhul Islam atau Qadhi Malikul Adil. Hukum merupakan asas tentang jaminan terciptanya keamanan dan perdamaian. Dengan adanya hukum diharapkan bahwa peraturan formal ini dapat menjamin dan melindungi segala kepentingan rakyat.
Kedua, bidang Adat yang diserahkan kepada kebijaksanaan Sultan danPenasehat. Bidang ini merupakan perangkat undang-undang yang berperan besar dalam mengatur tata negara tentang martabat hulu balang dan pembesar kerajaan.
Ketiga, bidang Resam yang merupakan urusan Panglima. Resam adalah peraturan yang telah menjadi adat istiadat (kebiasaan) dan diimpelentasikan melalui perangkat hukum dan adat. Artinya, setiap peraturan yang tidak diketahui kemudian ditentukan melalui resam yang dilakukan secara gotong-royong.
Keempat, bidang Qanun yang merupakan kebijakan Maharani Putro Phangsebagai permaisuri Sultan Iskandar Muda. Aspek ini telah berlaku sejak berdirinya Kerajaan Aceh.
Sultan Iskandar Muda dikenal sebagai raja yang sangat tegas dalam menerapkanSyariat Islam. Ia bahkan pernah melakukan Rajam terhadap puteranya sendiri, yang bernama Meurah Pupok karena melakukan perzinaan dengan istri seorang perwira.Sultan Iskandar Muda juga pernah mengeluarkan kebijakan tentang pengharamanriba. Tidak aneh jika kini Nanggroe Aceh Darussalam menerapkan Syariat Islamkarena memang jejak penerapannya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sultan Iskandar Muda juga sangat menyukai Tasawuf.
Sultan Iskandar Muda pernah berwasiat agar mengamalkan Delapan Perkara,Sang Sultan berwasiat kepada para Wazir, Hulubalang, Pegawai, dan Rakyat di antaranya adalah sebagai berikut :
Pertama, agar selalu ingat kepada Allah Ta'ala dan memenuhi janji yang telah diucapkan.
Kedua, jangan sampai para Raja menghina Alim Ulama dan Ahli Bijaksana.
Ketiga, jangan sampai para Raja percaya terhadap apa yang datang dari pihak musuh.
Keempat, para Raja diharapkan membeli banyak senjata. Pembelian senjata dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan dan pertahanan kerajaan dari kemungkinan serangan musuh setiap saat.
Kelima, hendaknya para raja mempunyai sifat Pemurah (turun tangan). Para raja dituntut untuk dapat memperhatikan nasib rakyatnya.
Keenam, hendaknya para raja menjalankan hukum berdasarkan Al-Qur'an danSunnah Rasul.
Ketujuh, di samping kedua sumber tersebut, sumber hukum lain yang harus dipegang adalah Qiyas dan Ijma'.
Kedelapan, baru kemudian berpegangan pada Hukum Kerajaan, Adat , Resam, dan Qanun.
Wasiat-wasiat tersebut mengindikasikan bahwa Sultan Iskandar Muda merupakan pemimpin yang saleh, bijaksana, serta memperhatikan kepentingan Agama, Rakyat, dan kerajaan.

Referensi :
Lombard, Denys. 2007. Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia

LA MADDUKKELLENG


JAMI'ATUL KHOIRI / 16B/ PIPS

lahir: Wajo, Sulawesi Selatan, 1700
wafat: Wajo, Sulawesi Selatan, 1765
Adalah seorang ksatria dari Wajo, Sulawesi Selatan. Pada masa kecilnya hidup di lingkungan istana Arung Matowa Wajo. Menginjak masa remaja ia diajak oleh pamannya mengikuti acara adu sambung ayam di kerajaan tetangganya Bone. Namun pada waktu itu terjadi ketidak adilan penyelenggaraan acara tersebut dimana orang Wajo merasa dipihak yang teraniaya, La Maddukkelleng tidak menerima hal tersebut dan terjadilah perkelahian. Ia lalu kembali ke Wajo dalam pengejaran orang Bone, lalu lewat Dewan Ade Pitue, ia memohon izin untuk merantau mencari ilmu. Dengan berbekal Tiga Ujung, (ujung mulut, ujung tombak, dan ujung kemaluan) ia berhasil di negeri Pasir Kalimantan sampai ke Malaysia, dan merajai Selat Makassar, hingga Belanda menjulukinya dengan Bajak Laut. Dia berhasil menikah dengan puteri Raja Pasir, dan salah seorang puterinya kawin dengan Raja Kutai. Dia bersama pengikutnya terus menerus melawan Belanda. Setelah sepuluh tahun La Maddukkelleng memerintah Pasir sebagai Sultan Pasir, datanglah utusan dari Arung Matowa Wajo La Salewangeng yang bernama La Dalle Arung Taa menghadap Sultan Pasir dengan membawa surat yang isinya mengajak kembali, karena Wajo dalam ancaman Bone. La Maddukkelleng akhirnya kembali lagi ke Tanah Wajo dan melalui suatu mufakat Arung Ennengnge (Dewan Adat), beliau diangkat sebagai Arung Matowa Wajo XXXIV. Dalam pemerintahannya, tercatat berhasil menciptakan strategi pemerintahan yang cemerlang yang terus menerus melawan dominasi Belanda dan membebaskan Wajo dari penjajahan diktean Kerajaan Bone, juga keberhasilan memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Wajo Petta Pamaradekangi Wajona To Wajoe Inilah La Maddukelleng.
La Maddukkelleng adalah putera dari Arung Raja Peneki La Mataesdso To Ma'dettia dan We Tenriangka Arung Raja Singkang, saudara Arung Matowa Wajo La Salewangeng To Tenrirua (1713-1737). Karena itulah La Maddukkelleng sering disebut Arung Singkang dan Arung Peneki.
Pada tahun 1713, Raja Bone La Patau Matanna Tikka mengundang Arung Matowa Wajo La Salewangeng untuk menghadiri perayaan pelubangan telinga (pemasangan giwang) puterinya I Wale di Cenrana (daerah kerajaan Bone). La Maddukkelleng ditugaskan pamannya (dia putera saudara perempuan La Salewangeng) ikut serta dengan tugas memegang tempat sirih raja. Sebagaimana lazimnya dilakukan di setiap pesta raja-raja Bugis-Makassar, diadakanlah ajang perlombaan perburuan rusa (maddenggeng) dan sambung ayam (mappabbitte).
Pemerintahan La Maddukkelleng sebagai Arung Matowa Wajo berakhir ketika banyak anggota pasukannya telah jenuh berperang. Hal ini melemahkan La Maddukkelleng, dan akhirnya ia mengundurkan diri sebagai Arung Matowa Wajo.
La Maddukkelleng meninggal di Sulawesi Selatan pada tahun 1765, dimakamkan di Sengkang. Pada tanggal 6 November 1998 Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK Presiden RI No. 109/TK/1998 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya.
La Maddukkelleng bersama We Tenriangka Arung singkang, dan pengikut-pengikutnya, mula-mula berlayar dan menetap di Tanah Malaka (Malaysia Barat), kemudian pindah dan menetap di kerajaan Pasir, Kaltim.
Dalam perjalanan rombongan tersebut, masih memegang adat tata dan norma kerajaan Wajo, La Maddukkelleng sebagai pimpinan. La Maddukkelleng mengangkat To Assa sebagai panglimanya. Mereka membangun armada laut yang terus mengacaukan pelayaran di Selat Makassar. Dalam perantauan ini juga La Maddukkelleng kawin dengan puteri Raja Pasir. Sementara itu salah seorang puterinya kawin dengan Raja Kutai (Sultan Muhammad Idris).
Pada saat itu, pemerintah Kutai dipimpin oleh raja bernama Adji Pangeran Dipati Anom Panji Mendapa Ing Martadipura, yang kerap pula disebut Adji Yang Begawan, memerintah pada tahun 1730 – 1732. setelah wafat, Adji Yang Begawan terkenal dengan sebutan Marhum Pemarangan. La Maddukkelleng, mempunyai tiga orang putera, yang kemudian beranak cucu dan berkeluarga dengan raja-raja di Kaltim. Ketiga anakanya ialah, Petta To Sibengngareng, yang turunannya kawin-mawin dengan raja-raja Pasir dan Kutai, Petta To Rawe, yang turunannya kawin-mawin dengan raja-raja Berau dan Kutai, serta Petta To Siangka yang turunannya kawin-mawin dengan raja-raja Bulungan dan Sulawesi Tengah.
Dalam rombongan La Maddukkelleng tersebut, ikut pula delapan orang bangsawan menengah, yaitu La Maohang Daeng Mangkona, La pallawa Daeng Marowa, Puanna Dekke, La Siaraje, Daeng Manambung, La Manja Daeng Lebbi, La Sawedi Daeng Sagala, dan La Manrappi Daeng punggawa. Karena tanah Wajo telah diduduki oleh kerajaan Bone, banyak pula warga Wajo yang meninggalkan kampung kelahirannya berlayar menuju Pasir dan menetap di Sungai Muara Kendilo. Tempat pemukiman baru tersebut lambat laun menjadi sesak akibat semakin bertambahnya migrasi dari tanah Wajo. Melihat hal itu, La Maddukkelleng mengadakan perundingan dengan pengikutnya. Hasilnya antara lain, diputuskan agar sebagian pengungsi Wajo itu mencari tempat pemukiman baru. Mereka pun memilih Kutai sebagai tanah pemukiman baru. Ketika rombongan itu sampai ke Tanah Kutai, La Mohang daeng Mangkona menghadap Raja Kutai Adji Pangeran Dipati Anom Ing Martadipura atau Marham Pemarangan. Ia memohon agar diizinkan menetap di tanah Kutai. Tetapi, sang raja berfikir, mugkin saja orang-orang itu malah akan membuat kesulitan seperti yang pernah dilakukan seorang temannya yang meminta hal serupa berpuluh tahun lampau. Pikir punya pikir, raja Kutai akhirnya setuju dengan satu syarat, agar patuh pada perintah raja.
La Mohang setuju dan berjanji apabila diberikan sebidang tanah ia akan mencari kehidupan di tanah Kutai, membangun daerah itu dan patuh pada titah raja. Disaksikan sejumlah pembesar kerajaan, sang raja bertitah "carilah sebidang tanah di wilayah kerajaanku ini di sebuah daerah berdaratan rendah dan di antara dataran rendah itu, terdapat sungai yang arusnya tidak langsung mengarah dari hulu ke hulir, tetapi mengalir dan berputar di antara dataran itu". Orang-orang bugis itu pun berlayar sepanjang Sungai Mahakam mencari tanah seperti yang telah ditentukan raja. Setelah beberapa lama berlayar mengitari Tanah Kutai, akhirnya mereka menemukan tanah dataran rendah yang sesuai dengan titah raja. Di tempat inilah kemudian mereka membangun rumah rakit, berada diatas air, dan ketinggian antara rumah yang satu dengan lainnya sama. Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak, dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan SAMARENDA atau lama-kelamaan ejaannya menjadi "SAMARINDA". Tempat itu lalu menjadi pemukiman orang-orang bugis wajo. Letaknya tak jauh dari kampung Mangkupalas, kampung tua di kecamatan Samarinda Seberang bagian tepi Sungai Mahakam, tempat pusaran air itu sekarang menjadi kompleks industri kayu lapis. Menurut cerita setempat, La Mohang Daeng Mangkona pengikut La Maddukkelleng itulah yang dianggap berjasa, mengembangkan Kampung Mangkupalas. Sebuah kampung tua yang kemudian berkembang menjadi Samarinda Seberang.
Setelah sepuluh tahun La Maddukkelleng memerintah Pasir sebagai Sultan Pasir, datanglah utusan dari Arung Matowa Wajo La Salewangeng yang bernama La Dalle Arung Taa menghadap Sultan Pasir dengan membawa surat yang isinya mengajak kembali, karena Wajo dalam ancaman Bone, tapi Wajo sudah siap dengan pasukan dan peralatan. Saat itu La Maddukkelleng menjadi Sultan Pasir, bertekad kembali ke Wajo memenuhi panggilan tanah leluhurnya, meskipun menghadapi banyak pertempuran.
Setelah itu La Maddukkelleng mengumpulkan kekuatan persenjataan dan armada yang berkekuatan perahu jenis bintak, perahu ini sengaja dipilih karena bisa cepat dan laju digerakkan. Perahu yang digunakan tersebut dilengkapi dengan meriam-meriam baru yang dibelinya dari orang-orang Inggris. Anggota pasukan La Maddukkelleng dibagi atas dua kelompok, yaitu pasukan laut (marinir) yang dipimpin oleh La Banna To Assa (kapitang laut) dan pasukan darat dipimpin oleh Panglima Puanna Pabbola dan Panglima Cambang Balolo. Pasukan istimewa tersebut seluruhnya merupakan orang-orang terlatih dan sangat berpengalaman dalam pertempuran laut dan darat di Semenanjung Malaya dan perairan antara Johor dengan Sulawesi. Pasukan ini terdiri atas suku Bugis, Pasir, Kutai, Makassar serta Bugis-Pagatan.
Armada La Maddukkelleng berangkat menuju Makassar melalui Mandar dan kemudian terlebih dahulu mampir di Pulau Sabutung. Dalam Desertasi Noorduyn dipaparkan bahwa dalam perjalanan menuju Makassar, dua kali armada La Maddukkelleng diserang oleh armada Belanda yaitu pada tanggal 8 Maret 1734 dan 12 Maret 1734. Dalam catatan Raja Tallo diberitakan bahwa armada Belanda yang terdiri dari enam buah perahu perang dapat dipukul mundur, perang ini berlangsung selama dua hari.
Lontarak Sukkuna Wajo menyatakan bahwa ketika armada La Maddukkelleng sedang berlayar antara pulau Lae-lae dan Rotterdam, pasukan Belanda yang berada di Benteng tersebut menembakinya dengan meriam-meriam. Armada La Maddukkelleng membalas tembakan meriam itu dengan gencar. Gubernur Makassar, Johan Santijn (1733-1737) mengirim satu pasukan orang-orang Belanda yang ditemani oleh Ancak Baeda Kapitang Melayu menuju pulau Lae-lae. Hampir seluruh pasukan tersebut ditewaskan oleh La Maddukkelleng bersama pasukannya. Melalui pelabuhan Gowa dia diterima oleh kawan seperjuangannya I Mappasempek Daeng Mamaro, Karaeng Bontolangkasa yang sebelumnya sudah dikirimi surat. Lalu kemudian Tumabbicara Butta (Mangkubumi) Kerajaan Gowa, I Megana juga datang menemui La Maddukkelleng. Kemudian diadakanlah pertemuan yang membicarakan rencana strategis dan taktik menghadapi tentara Belanda.
Setelah armada VOC tidak dapat mengalahkan armada La Maddukkelleng, mereka melanjutkan pelayaran menuju Bone dan tiba di Ujung Palette. Ratu Bone We Bataru Toja, yang merangkap jabatan Datu Soppeng, sejak tahun 1667 menjadi sekutu Belanda, mengirim pasukan untuk menghadang armada La Maddukkelleng, dan menyampaikan bahwa topasalanna Bone (orang bersalah terhadap Bone) dilarang masuk melalui sungai Cenrana. Suruhan La Maddukkelleng menyampaikan balasan bahwa La Maddukkelleng, Sultan Pasir, menghormati raja perempuan dan tidak akan melalui sungai Cenrana, tetapi melalui Doping (wilayah Wajo) ke Singkang. Dalam Musyawarah dengan Arum Pone (merangkap Datu Soppeng), Arung Matowa Wajo mendapat tekanan dari Raja Bone untuk menyerang dan tidak memberi kesempatan masuk. Arung Matowa Wajo menjawab bahwa berdasarkan perjanjian pemerintahan di Lapaddeppa antara Arung Saotanre La Tiringeng To Taba dengan rakyat Wajo (1476) yang berbunyi Wajo adalah negeri mereka dimana hak-hak asasi rakyat dijamin.
Dengan melalui proses negoisasi dan dengan persiapan yang mantap, La Maddukkelleng dengan pasukannya masuk melalui Doping. Tanggal 24 Mei 1736 ditambah dengan tambahan pasukan 100 (seratus) orang Wajo, sehingga diperkirakan kurang lebih 700 (tujuh ratus) orang ketika tiba di Sengkang. Karena La Maddukkelleng masih menghormati Hukum Adat Tellumpoccoe (persekutuan antara Wajo, Soppeng dan Bone), dia berangkat ke Tosora untuk menghadiri persidangan dengan kawalan 1.000 orang. Tuduhan pun dibacakan yang isinya mengungkap tuduhan perbuatan La Maddukkelleng mulai dari sebab meninggalkan negeri Bugis sampai pertempuran yang dialaminya melawan Belanda. La Maddukkelleng lalu membela diri dengan alasan-alasan rasional dan menyadarkan akan posisi orang Bugis di hadapan Belanda. Karena demikian maka tidak mendapat tanggapan dari Majelis Pengadilan Tellumpoccoe.
La Maddukkelleng kemudian ke Peneki memangku jabatan Arung yang diwariskan ayahnya, namun dalam perjalanan tidak dapat dihindari terjadinya peperangan dengan kekalahan di pihak pasukan Bone. La Maddukkelleng dijuluki "Petta Pamaradekangi Wajona To Wajoe" yang artinya tuan/orang yang memerdekakan tanah Wajo dan rakyatnya. Karena La Salewangeng (pemangku Arung Matowa Wajo) usianya sudah cukup lanjut untuk menyelesaikan segala persoalan, maka melalui suatu mufakat Arung Ennengnge (Dewan Adat), beliau diangkat sebagai Arung Matowa Wajo XXXIV. Pengangkatannya di Paria pada hari Selasa tanggal 8 November 1736. Dalam pemerintahannya, tercatat berhasil menciptakan strategi pemerintahan yang cemerlang yang terus menerus melawan dominasi Belanda dan membebaskan Wajo dari penjajahan diktean Kerajaan Bone, juga keberhasilan memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Wajo.

DAFTAR PUSTAKA

SEJARAH BERDIRINYA KABUPATEN ROKAN HULU

ANNA FASIRI BR.NASUTION/SR/15A

Kabupaten Rokan Hulu (ROHUL) merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Riau dengan ibu kotanya terletak di Pasir Pangaraian. Berdasarkan Permendagri No.66 Tahun 2011, Kabupaten Rokan Hulu memiliki luas wilayah sebesar 7.588,13 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 513.500 jiwa. Secara administratif, kabupaten ini memiliki 16 daerah kecamatan, 7 daerah kelurahan dan 149 daerah desa. Kabupaten Rokan Hulu dikenal dengan sebutan  "NEGERI SERIBU SULUK". Kabupaten Rokan Hulu  terletak pada garis lintang 00°25'20-010°25'41 LU 1000°02'56-1000°56'59 BT.
Pada sekitar awal tahun 1900-an seorang peneliti berkebangsaan jerman Max Moszkowski pernah malakukan ekspedisi ke hulu sungai tapung dan sungai rokan atas bantuan dan rekomendasi pemerintah belanda, dia mencatat beberapa hal tentang alam dan kebudayaan masyarakat yang ditemuinya, sempat menyebut tentang raja IV koto, kepenuhan, rambah dan tambusai, bahkan mengambil foto yang di pertuan sakti raja Ibrahim, raja rambah, dan raja kepenuhan  kemudian di terbitkan dalam bukunya yang berjudul Auf neuen Wegen Druch Sumatra (1909).
Rokan adalah nama sebuah sungai yang membelah Pulau Sumatera dibagian tengah, bermuara kebagian Utara Pulau tersebut (Selat Malaka). Daerah ini adalah kawasan Kerajaan Rokan Tua, diketahui keberadaannya abad ke-13, saat itu tercatat dalam "Negara Kertagama" karangan Prapanca, yang ditulis pada tahun 1364 M.
Sampai saat ini nama Rokan juga tetap eksis sebagaimana yang dapat dilihat dalam perkembangan kerajaan Rokan Tua itu sampai sekarang. Menurut Muchtar Lutfi, Wan Saleh dalam sejarah Riau, bahwa yang menjadi Raja Rokan abad ke-14-15 adalah keturunan dari Sultan Sidi saudara Sultan Sujak yang dijelaskan dalam buku Sulalatus Salatin, yang menyatakan bahwa raja Rokan itu anak Sultan Sidi saudara Sultan Sujak.
Berdirinya Kabupaten Rokan Hulu keberadaan wilayah ini tidak bisa dipisahkan dari Kerajaan Rokandi Rokan IV Koto pada abad ke-18.Dahulunya, daerah Rokan Hulu dikenal dengan nama Rantau Rokan atau Luhak Rokan Hulu, karena merupakan daerah tempat perantauan suku Minangkabau yang ada di daerah Sumatera Barat. Rokan Hulu pada masa ini juga diistilahkan sebagai 'Teratak Air Hitam' yakni Rantau Timur Minangkabau di sekitar daerah Kampar sekarang. Hal ini mengakibatkan masyarakat Rokan Hulu saat ini memiliki adat istiadat serta logat bahasa yang masih termasuk ke dalam bagian rumpun budaya Minangkabau. Terutama sekali daerah Rao dan Pasaman dari wilayah Propinsi Sumatera Barat. Sementara di sekitar Rokan Hulu bagian sebelah Utara dan Barat Daya, terdapat penduduk asli yang memiliki kedekatan sejarah dan budaya dengan etnis Rumpun Batak di daerah Padang Lawas di Propinsi Sumatera Utara. Sejak abad yang lampau, suku-suku ini telah mengalami Melayunisasi dan umumnya mereka mengaku sebagai suku Melayu.
Sejarah Kabupaten Rokan Hulu Zaman Penjajahan Belanda
Sebelum kemerdekaan yakni pada masa penjajahan Belanda, wilayah Rokan Hulu terbagi atas dua daerah: 
  •  Wilayah Rokan Kanan yang terdiri dari Kerajaan Tambusai, Kerajaan Rambah dan Kerajaan Kepenuhan.
  • Wilayah Rokan Kiri yang terdiri dari Kerajaan Rokan IV Koto, Kerajaan Kunto Darussalam serta beberapa kampung dari Kerajaan Siak (Kewalian negeri Tandun dan kewalian Kabun)
Kerajaan-kerajaan di atas sekarang dikenal dengan sebutan Lima Lukah. Kerajaan-kerajaan tersebut dikendalikan oleh Kerapatan Ninik Mamak, sementara untuk penyelenggaraan pemerintahan di kampung-kampung diselenggarakan oleh Penghulu Adat. Sering dikenal dengan istilah 'Raja itu dikurung dan dikandangkan oleh Ninik Mamak'. Pada tahun 1905, kerajaan-kerajaan di atas mengikat perjanjian dengan pihak Belanda. Diakuilah berdirinya kerajaan-kerajaan tersebut sebagai landscape. Setiap peraturan yang dibuat kerajaan mendapat pengesahan dari pihak Belanda.Pada masa penjajahan Belanda tersebut, bermunculan tokoh-tokoh Islam yang anti dengan Belanda. Beberapa diantarnya yang cukup fenomenal dan dikenang oleh masyarakat Riau dan nasional adalah Tuanku Tambusai, Sultan Zainal Abidinsyah, Tuanku Syekh Abdul Wahab Rokan dan sebagainya. Perjuangan para tokoh tersebut dibuktikan dengan adanya peninggalan sejarah seperti Benteng Tujuh Lapis yang merupakan benteng yang dibuat masyarakat Dalu-dalu atas perintah dari Tuanku Tambusai. Beberapa bukti sejarah lainnya adalah Kubu jua, Kubu manggis, Kubu joriang dan sebagainya. 
Sejarah  Kabupaten Rokan Hulu Zaman Penjajahan Jepang
Setelah Belanda mengalami kekalahan dengan Jepang, Jepang pun berkuasa di Indonesia termasuk di daerah Rokan Hulu. Pada masa Jepang, pemerintahan berjalan sebagaimana biasanya. Akan tetapi setelah beberapa orang raja ditangkap oleh penjajah Jepang, maka pemerintahan dilanjutkan oleh seorang 'kuncho' yang diangkat langsung oleh pihak Jepang.
Sejarah Kabupaten Rokan Hulu Zaman Pasca Kemerdekaan RI
Setelah kemerdekaan, daerah-daerah yang dijadikan landscape oleh Belanda dan Jepang tersebut dijadikan sebagai satu daerah Kecamatan. Sebelum menguatnya isu pemekaran daerah di Indonesia pada tahun 1999, Rokan Hulu tergabung dalam Kabupaten Kampar, Riau. Kabupaten Rokan Hulu resmi didirikan pada tanggal 12 Oktober 1999 berdasarkan UU Nomor 53 tahun 1999 dan UU No 11 tahun 2003.
Kabupaten Rokan Hulu terdiri dari 16 kecamatan, yaitu sebagai berikut :
  • Kecamatan Bangun Purba
  • Kecamatan Kabun
  • Kecamatan Kepenuhan
  • Kecamatan Kunto Darussalam
  • Kecamatan Rambah
  • Kecamatan Rambah Hilir
  • Kecamatan Rambah Samo
  • Kecamatan Rokan IV Koto
  • Kecamatan Tambusai
  • Kecamatan Tambusai Utara
  • Kecamatan Tandun
  • Kecamatan Ujungbatu
  • Kecamatan Pagaran Tapah Darussalam
  • Kecamatan Bonai Darussalam
  • Kecamatan Kepenuhan Hulu
  • Kecamatan Pendalian
Rokan Hulu terdiri dari 5 kerajaan, yaitu :
·         Kerajaan Tambusai ibu negerinya Dalu-dalu,
·         Kerajaan Rambah  ibu negerinya Pasirpengarayan,
·         Kerajaan Kepenuhan ibu negerinya Kototongah,
·         Kerajaan Rokan IV Koto, ibu negerinya Rokan,
·         Kerajaan Kuntodarussalam ibu negerinya Kotolamo.
Pada masa kolonial wilayah Rokan Hulu dibagi menjadi dua yaitu:
Wilayah Rokan Kanan terdiri dari 3 kerajaan
·         Kerajaan Tambusai
·         Kerajaan Rambah
·         Kerajaan Kepenuhan
Wilayah Rokan Kiri menjadi 2 kerajaan yaitu :
·         Kerajaan Rokan IV Koto
·         Kerajaan Kuntodarussalam dan ditambah kampung dari Kerajaan Siak yaitu Kewalian      Tandun dan Kabun.
    
     ARTI LAMBANG 
     Lambang Kabupaten Rokan Hulu berbentuk oval dan terdiri atas 8 (delapan) bagian, yaitu : 
1.        Payung bertangkaikan keris, memiliki makna semangat keberanian serta kemampuan untuk mencapai cita-cita Pembangunan.
2.         Keris teracung keatas melambangkan semangat untuk pencapaian tujuan akan prospek masa depan.
3.         Bintang, memiliki makna masyarakat Kabupaten Rokan Hulu berpegang teguh kepada ajaran agama.
2.        12 butir padi, 10 bunga kapas dan 9 gundukan bukit dengan 9 bayangan Nya, memiliki makna Kabupaten Rokan Hulu yang makmur, sejahtera dan bersahabat yang berdiri pada tanggal 12-10-1999.
3.         Benteng Tujuh Lapis, memiliki makna semangat juang masyarakat Kabupaten Rokan Hulu dalam membela marwah seperti perjuangan Tuanku Tambusai.
4.        Lingkaran, memiliki makna bahwa masyarakat yang terdiri dari berbagai suku diikat oleh tali persahabatan yang kokoh.
5.        Tiga buah sungai, memiliki makna gerak semangat pembangunan yang tak pernah surut.
6.        Pita Putih bertuliskan Kabupaten Rokan Hulu, memiliki makna kesucian hati dan tenggang rasa masyarakat
WARNA LAMBANG:
 Warna yang dipergunakan dalam Lambang Kabupaten Rokan Hulu yaitu :
1.       Warna Merah, melambangkan keberanian dalam memperjuangkan kebenaran. Warna Putih, melambangkan kesucian hati dan kejujuran.
2.      Warna Hijau, melambangkan kesejukan dan kedamaian.
3.       Warna Kuning, melambangkan kebesaran dan kejayaan masyarakat Kabupaten Rokan Hulu.
4.       Warna Biru Muda, melambangkan kesegaran


DAFTAR PUSTAKA
M.Ag,Nurzena, kabupaten rokan hulu,pemerintah kabupaten rokan hulu, cetakan 2007
Syam Juanidi ,sejarah kerajaan lima luhak, dinas kebudayaan dan pariwisata kab.rohul, 2012
S.S, Sumardi, potensi rokan hulu,pariwisata rohul, 2007
Syam junaidi , cerita rakyat rohul, pemerintah kabupaten rohul,2013
Proof.Drs.suwardi MS, Drs.Kamaruddin,M.Si, Asril.M.Pd, Sejarah Lokal,PT. Sutra Benta Perkasa,2014
Hamidy.U.U, Khazanah, Sedari. Melongok 99 Kisah Mengabadi, Bahana Mahasiswa, Bahana Press, Juli 2013

SEJARAH REPUBLIK PALAU



Nanda Rahmatika Syawali / 16B / SAO
Oceania adalah bagian luas di Samudera Pasifik yang terbentuk dari Hawai sammpai New Zaeland dan dari Nugini sampai Pulau Paskah. Oceania terbagi dalam tiga daerah besar kebudayaan yaitu; Melanisia di barat daya, Micronesia di barat laut dan Polinesia di timur. Pulau-pulau di daerah ini merupakan sisa-sisa pegunungan Batu Karang dan bersifat fulkanik. Tumbuhan beraneka ragam dari hutan lebat sampai pohon Plaem yang jarang. Penduduk Oceania berasal dari Amerika Serikat. Oceania pertama-tama dikenal oleh bangsa Eropa melalui Magellan (1519), namun perjanjian meluas oleh James Cook dalam abad ke 18. Oceania akhirnya sebagian besar menjadi milik koloni Inggris, Perancis, Amerika Serikat dan Jepang.

Sejak tahun 1960-an semakin banyak penduduk menuntut kemerdekaan dan pemerintahan sendiri. Sehingga banyak pulau dan kepulauan ynag telah memperoleh kemerdekaan. Sebuah organisasi yang bernama "Komisi Selatan" (South Pacifik Comission) yang berusaha membantu memajukan kehidupan ekonomi dan kesejahteraan sosial penduduk kepulauan Pasifik. Komisi tersebut didirikan pada tahun1947 oleh Negara-negara Australia, Perancis, Inggris, Belanda, Selandia Baru dan amerika Serikat. Dan beberapa Negara seperti Fuji, Belau, Nauru dan Samoa Barat yang telah menjadi anggota organisasi tersebut. Namun beberapa Negara yang baru merdeka itu menyatakan bahwa komisi tersebut terlalu dikuasai oleh negara-negara besar yang kemudian membentuk Forum Pasifik pada tahun 1971. Forum tersebut bertujuan untuk memajukan kerjasama antara mereka dibidang hubungan internasioanal dan perdagangan, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada Negara-negara barat.
v  Keadaan Geografi Palau
Belau yang mempunyai nama resmi Republic of Belau merupakan sebuah Negara kepulauan yang terletak di wilayah Pasifik bagian barat atau sekitar 885 km sebelah utara kota Manokwari, Irian Jaya dan kurang lebih 800 km sebelah timur Pulau Mindanao, Pilipina. Wilayahnya terdiri dari rangkaian sekitar 350 buah pulau yang membentang kurang lebih 160 km dari utara ke selatan, dan sekitar 32 km dari timur ke barat. Babeldaob atau Babelthoap merupakan pulau terbesar (kira-kira 229,80 km²). Pulau-pulau lain diantaranya : Koror, Arakabesan, Malakal, Urukthapel, Eil Malk, Angeur dan kepulauan Kayangel.

Luas wilayah Republik Belau sekitar 494 km², dengan batas-batasnya, sebelah barat dengan Pilipina, dan sebelah Selatan dengna Indonesia dan Papua Nugini, sebelah utara dengan Kepulauan Marina dan di timur dengan Kepulauan Karolin, Ibu  kota Belau adalah Koror. Belau beriklim Tropis dengan dua musim yakni musim kering atau kemarau yang jatuh pada bulan Nopember sampai April dan musim hujan yang jatuh pada bulan Mei sampai oktober. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Juli, mencapai ketinnggian 3.750 mm dan curah hujan terendah adalah 450 mm.
Sebagai Negara yang beriklim tropis, dimana wilayahnya terletak di tengah samudera, temperaturnya sehari-hari cukup sejuk, yaitu berkisar anatara 21°C – 27°C. Seperti juga pada wilayah-wilayah lain di pasifik, Belau sering mengalami serangan angin topan, terutama diantara bulan Juli dan Oktober. Di sebagian pulau-pulau ditumbuhi hutan, dan hutan yang paling lebat dijumpai di pulau Babeldaob, Karen apulau tersebut memperoleh curah hujan paling banyak. Sebagian besar pulau-pulau di Belau merupakan pilau-pulau karang dan pulau-pulau kecil  karena itu jenis faunanya tidak begitu banyak macamnya. Berbagia jenis ikan, buaya dijumpai disana. Di perairan dangkal di jumpai  jenis udang besar dan jenis udang kecil, sedang di laut lepas banyak juga memelihara kambing, babi dan ayam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beberapa binatang lain ynag dijumpai di Belau adalah sejenis kadal, tikus, kura-kura dan berbagai jenis burung.
v  Penduduk
Dari peninggalan kuno yang ditemukan, menunjukkan bahwa penduduk asli Belau berasal dari Asia yang datang ke wilayah tersebut ribuan tahun yang lalu. Orang Eropa pertama yang berkunjung ke Belau adalah penjajah Spanyol, Ruy Lopex de Villobos yang datang ke Belau tahun 1543 dan menamakannya Arrecifos. Pada tahun 1686, wilayah tersebut masuk ke dalam mandate Liga Bangsa-Bangsa. Mayoritas penduduk Belau adalah suku Micronesia, yang merupakan  suku asli Belau. Sedang minoritas nya terdiri dari campuran Amerika dan Eropa dengan suku Micronesia. Disamping  itu di jumpai juga sejumlah orang kulit putih, yaitu personal militer Amerika Serikat yang bertugas di Belau. Kebanyakan orang Micronesia mempunyai kemiripan dengan orang Polenisia, yang mempunyai bentuk badan yang cukup tinggi dengan rambut berombak dan kulit coklat terang. Namun diwilayah dekat asia, penduduknya mempunyai karakteristik Asia, seperti tulang pipi menonjol serta rambut lurus.
Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Micronesia dan bahasa Inggris. Bahasa Micronesia dipakai secara umum oleh seluruh penduduk. Sedang bahasa Inggris dipergunakan oleh segolongan orang tertentu seperti di kantor-kantor serta di tempat-tempat dimana para personal militer Amerika bertugas. Mayoritas penduduk Belau memeluk agama Kristen. Sedang sebagian kecil penduduk masih mempertahankan agama nenek moyang suku Micronesia, dimana mereka menganggap tanah, hutan atau laut merupakan dewa mereka. Penduduk Belau terampil dalam bidang kerajinan tangan dan mempunyai hasil seni yang tinggi. Dlam biadang anyam-anyaman dihasilkan keranjang dan tikar dari daun kelapa dan serta pandan dengan gambaran warna-warni yang indah. Dibidang ukir-ukiran dibuat topeng serta alat rumah tangga.
Pada waktu hari besar atau pada upacara perkawinan serta kelahiran diadakan acara menyanyi dan menari. Dalam acara tersebut seringkali diadakan permainan dan pembacaan cerita kepahlawanan nenek moyang mereka. Kebanyakan penduduk memakai pakaian cara Emerika dan Eropa. Namun dalam upacara-upacara adat mereka tetap mengenakan pakaian tradisional berupa jenis rok sampai lutut dari bahan serat atau daun kelapa. Dan beberapa diantaranya mengenakan semacam sisir dari kayu serta mengenakan juga kalung dari tempurung dan kulit kerang. Dalam bidang pendidikan, mendapat banyak bantuan dari para misionaris. Sebagian besar penduduk memperleh pendidikan hanya sampai tingkat sekolah dasar, sedang sebagian kecil berhasil sampai ke tingkat sekolah menengah atas.
v  Politik
Dalam masa pendudukan Jepang pulau Koror yang merupakan salah satu pulau dalam wilayah Belau menjadi pusat administrasi pendudukan Jepang di wilayah kepulauan Pasifik, sedangkan markas besar operasi militernya dipusatkan dipulau Peleliu dan Pulau Angaur. Dikedua pulau tersebut Jepang telah membangun lapangan terbang, pelabuhan, jalan-jaln serta menggali gua di gunung gunung karang sebagai tempat perlindungan dan pertahanan. Bulan September 1944, pasukan mariner Amerika Serikat dengan perjuangan yang berat berhasil merebut Pulau dan Angaur dari Jepang. Setelah PD II, pada tahun 1947 wilayah Belau menjadi bagian dari wilayah perwalian PBB untuk kepulauan Pasifik, sedang urusan administrasinya diserahkan kepaa Amerika Serikat.

Sebagai usaha untuk memperoleh pemerintahan sendiri, pada tanggal 12 Juli 1978 diadakan pungutan suara, dimana rakyat Belau menyatakan memisahkan diri dari Micronesia. Setelah melalui suatu referendum, pada tanggal 9 Juli 1980 berhasil diterima sebuah konstitusi untuk Negara Belau. Pada tanggal 4 Nopember 1980, Haruo I Remeliik terpilih menjadi Presiden Belau pertama. Dengan berlakunya konstitusi pada bulan Januari 1981, maka resmilah Belau menjadi Negara yang mempunyai pemerintah sendiri. Pada tanggal 26 agustus 1982, diadakan penandatanganan suatu perjanjian asosiasi bebas antara pemerintah Belau dengan pemerintah amerika Serikat. Dalam perjanjian tersebut telah disepakati bahwa Amerika Serikat memperoleh tanggung jawab untuk pelaksanaan pertahanan nasional serta politik luar negeri Negara Belau selama 50 tahun. Berdasarkan perjanjian itu, Amerika Serikat sewaktu-waktu dapat menggunakan suatu wilayah yang telah ditetapkan untuk latihan militer. Disamping itu amerika Serikat dapat juga menggunakan dua pelabuhan udara dan pelabuhan laut bersama sama dengan pemerintah Belau. Sebagai imbalanatas hak diberikan tersebut, pemerintah Belau akan memperoleh bantuan ekonomi sebesar US $ 1 milyar.
Dalam suatu plebisit pada tanggal 19 Pebruari 1983, sekitar 60% dari pemilih yang berjumlah 7.000 orang menyetujui suatu otonomi dibawah amerika Serikat. Tetapi suatu perubahan konstitusi untuk mengijinkan pengangkutan dan penyimpangan senjata Nuklir oleh amerika Serikat, tidak berhasil memperoleh 75% suara setuju. Untuk memecahkan masalah tersebut , pada tanggal 1 Juli 1983 pemerintah as dan Belau menandatangani suatu perjanjian dimana dinyatakan bahwa kapal-kapal nuklir amerika Serikat diijinkan untuk memasuki perairan belau, namun dilarang untuk mengadakan percobaan, menyimpan atau membuang sampah nuklir di wilayah Belau. Pada tanggal 30 Juli 1985, presidan Belau pertama haruo I Remeliik tewas karena tembakan seorang  pembunuh tidak dikenal. Kedudukan presiden sementara dujabat oleh wakil Presiden Alfonso R. Oiteting. Menurut konstitusi Belau, apabila jabatan presiden kosong maka seorang pejabat presiden harus mengadakan pemilihan presiden dalam jangka waktu 60 hari. Menurut sensus tahun 1980, jumlah penduduk Belau 13.495 orang. Jumlah penduduk terbanyak di kota Koror yang merupakn ibukota Republik Belau. Penduduk  di pedalamn mencari nafkah dengan bercocok tanam, sedang penduduk yang tinggal di perkampunagn pantai bermata pencaharian sebagai nelayan sebagian besar penduduk Belau dikenal sebagai nelayan yang trampil. Dengan menggunakan layar yang berbentuk segitiga, mereka dapat berlayar dengan baik walaupun angin bertiup cukup besar.
v  Sistem Pemerintahan
Belau adalah Negara yang berbentuk republic dengan pemerintahan sendiri. Kepala Negara dijabat seorang presiden yang dibantu oleh wakil presiden. Kepala Negara dipilih oleh badan legislative yang beranggotakan 36 orang. Untuk pemerintahan daerah seorang kepala desa dapat diangkat berdasarkan pemiliha, tetapi ada juga yang ditunjuk berdasarkan keturunan ataupun kekayaannya. Seoarang kepala desa mempunyai peranan penting, karena harus mempunyai kemampuan untuk memberi nasehat, memimpin rakyat serta menunjukkan keramah tamahan tamu yang datang. Sejak memperoleh pemerintahan sendiri pada tahun 1981, hubungan luar negeri Republik Belau, banyak dilakukan dengan Amerika Serikat . hal tersebut terjadi karena sesuai dengan perjanjian yang telah ditanda tangani oleh kedua Negara, dimana Amerika Serikat masig bertanggung jawab atas masalah pertahanan dan hubungna luar negeri Repubik Belau.
Dalam perkembangan selanjutnya Republik Belau berusaha untuk menjalin hubungna luar negerinya tanpa bergantung pada Amerika Serikat. Sebagai Negara yang berada di wilayah Pasifik, kerjasama dengan Negara tetangga di Pasifik Barat Daya mulai dikembangkan. Presiden Haruo I Remeliik berusaha memasukkan Belau ke dalam orbit politik Pasifik Selatan dan Australia. Disamping itu dilakukan juga usaha untuk memperkuat hubungan ekonomi dengna Jepang. Dengan terbunuhnya Remeliik tidaklah berarti usaha pendekatan dengna Negara tetangga menjadi terhenti. Pada bulan Agustus 1985, Oiterong sebagai pejabat presiden mewakili negaranya sebagai peninjau dalam konferensi 18 negara Forum Pasifik Selatan di Rarotonga, ibukota Kepulauan Cool .
v  Perekonomian Palau
Kandungan mineral yang cukup penting, berupa fostat di Pulau Angaur dan Boksit di Babeldaob. Dari seluruh wilayah Belau, hanya wilayah utara yang cukup produktif. Hal itu disebabkan karena curah hujan yang cukup banyak hanya terbatas di wilayah utara, sedang bagian selatan sebagian besar berupa pertanian karang yang kering. Hasil pertanian yang terpenting adalah kelapa. Selain itu sayuran, umbi-umbian dan buah-buahan seperti pisang, nanas, dan sukun kecuali kopra yang merupakan komoditi ekspor utama. Terdapat pula hasil pertanian lain untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Industry utama berupa industry makanan untuk keperluan dalam negeri dan industry kerajinan rumah tangga berupa baranng-barang cindera mata.
Belau merupakan Negara yang miskin akan sumber tambang maupun pertanian, karena itu perdagangan luar negerinya hanya berupa ekspor kopra. Imprnya berupa barang konsumsi untuk kepentingan sehari-hari yang hampir seluruhnya belum dapat diproduksi di dalam negeri. Belau mempunyai pemandangan pantai yang indah, dengan udara tropis yang cerah. Disamping itu dapat dijumpai pulau-pulau karang yang menarik untuk dikunjungi. Namun bidang pariwisata belum ditangani secara sungguh-sungguh, karena itu pariwisata di Belau belum dapat dikembangkan dengan baik.
Palau masuk ke dalam kebudayaan dalam Micronesia di barat laut. Belau juga termasuk sebagian dari Negara yang menjadi milik koloni Inggris, Perancis, Amerika Serikat dan Jepang. Sejak tahun 1960-an semakin banyak penduduk menuntut kemerdekaan dan pemerintahan sendiri. Sehingga banyak pulau dan kepulauan yang telah memperoleh kemerdekaan termasuk Belau. Belau juga ikut dalam sebuah organisasi yang bernama "Komisi Selatan" (South Pacifik Comission) yang berusaha membantu memajukan kehidupan ekonomi dan kesejahteraan sosial penduduk kepulauan Pasifik. Namun komisi tersebut terlalu dikuasai oleh negara-negara besar yang kemudian membentuk Forum Pasifik pada tahun 1971. Forum tersebut bertujuan untuk memajukan kerjasama antara mereka dibidang hubungan internasioanal dan perdagangan, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada Negara-negara barat.
 Palau yang mempunyai nama resmi Republic of Belau merupakan sebuah Negara kepulauan yang terletak di wilayah Pasifik bagian barat. Wilayahnya terdiri dari rangkaian sekitar 350 buah pulau. Luas wilayah Republik Belau sekitar 494 km², dengan batas-batasnya, sebelah barat dengan Pilipina, dan sebelah Selatan dengna Indonesia dan Papua Nugini, sebelah utara dengan Kepulauan Marina dan di timur dengan Kepulauan Karolin, Ibu  kota Belau adalah Koror. Belau beriklim Tropis dengan dua musim yakni musim kering atau kemarau yang jatuh pada bulan Nopember sampai April dan musim hujan yang jatuh pada bulan Mei sampai oktober. Sebagai Negara yang beriklim tropis, dimana wilayahnya terletak di tengah samudera, temperaturnya sehari-hari cukup sejuk, yaitu berkisar anatara 21°C – 27°C. Seperti juga pada wilayah-wilayah lain di pasifik, Belau sering mengalami serangan angin topan, terutama diantara bulan Juli dan Oktober. Penduduk asli Belau berasal dari Asia yang datang ke wilayah tersebut ribuan tahun yang lalu. Pada tahun 1686, wilayah tersebut masuk ke dalam mandate Liga Bangsa-Bangsa.
Mayoritas penduduk Belau adalah suku Micronesia, yang merupakan  suku asli Belau. Sedang minoritas nya terdiri dari campuran Amerika dan Eropa dengan suku Micronesia. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa Micronesia dan bahasa Inggris. Mayoritas penduduk Belau memeluk agama Kristen. Sedang sebagian kecil penduduk masih mempertahankan agama nenek moyang suku Micronesia. Penduduk Belau terampil dalam bidang kerajinan tangan dan mempunyai hasil seni yang tinggi. Setelah PD II, pada tahun 1947 wilayah Belau menjadi bagian dari wilayah perwalian PBB untuk kepulauan Pasifik. Dengan berlakunya konstitusi pada bulan Januari 1981, maka resmilah Belau menjadi Negara yang mempunyai pemerintah sendiri. Menurut sensus tahun 1980, jumlah penduduk Belau 13.495 orang.
Palau adalah Negara yang berbentuk republic dengan pemerintahan sendiri. Kepala Negara dijabat seorang presiden yang dibantu oleh wakil presiden. Kepala Negara dipilih oleh badan legislative yang beranggotakan 36 orang. Kandungan mineral yang cukup penting, berupa fostat di Pulau Angaur dan Boksit di Babeldaob. Dari seluruh wilayah Belau, hanya wilayah utara yang cukup produktif. Hasil pertanian yang terpenting adalah kelapa. Selain itu kopra yang merupakan komoditi ekspor utama. Belau merupakan Negara yang miskin akan sumber tambang maupun pertanian. Belau mempunyai pemandangan pantai yang indah, dengan udara tropis yang cerah. Disamping itu dapat dijumpai pulau-pulau karang yang menarik untuk dikunjungi. Namun bidang pariwisata belum ditangani secara sungguh-sungguh, karena itu pariwisata di Belau belum dapat dikembangkan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
1.      Hudaidah. 2004. Sejarah Australia dan Oceania. Palembang: FKIP UNSRI.