Selasa, 31 Mei 2016

SEJARAH PERJUANGAN RAKYAT RIAU MELAWAN JEPANG PADA TAHUN 1942-KEMERDEKAAN


Mulyana sari/E/S

A.    Reaksi masyarakat riau terhadap penduduk jepang

1.      Penderitaan Romusha dan Masyarakat Riau
Tahun 1942 jepang telah menduduki beberapa negara dikawasan pasifik. untuk memperkuat pertahanan mereka di negara yang telah diduduki Jepang membuka jalan kereta api. Di daerah Riau Jepang membuka jalan kereta api antara Muaro Sijunjung-Pekanbaru, pembuatan jalan darat dari Medan ke Pasir Pengaraian, pembuatan lapangan terbang simpang Tiga Pekanbaru dan pembuatan jembatan Rantau Berangin dan Danau Bingkuang.


a.       Pembangunan Pendudukan Jepang
"Pembuatan jalan kereta api Muaro Sijunjung – Pekanbaru menurut ahli militer Jepang mempunyai arti penting dan jangkauan yang strategis untuk memperkuat pertahanan di wilayah yang merea duduki" (Syafei Abdullah, 2002: 8). Disebut strategis, karena didaerah riau terdapat pelabuhan samudera di Dumai dan Sungai Siak. Didaerah Riau juga didapat tambang minyak bumi.

b.      Usaha mendapatkan tenaga kerja
Pekerjaan yang banyak itu akan menuntut tenaga kerja yang banyak, perlunya tenaga ahli dan tersedianya peralatan . hal inilah yang menjadi masalah yang berat bagi Jepang. Penduduk Riau sangat kurang. Diperkirakan penduduk Riau tahun 1942 – 1945 rata-rata ± 10 jiwa per km². (Asni Munir, 1991 : 19). Sebagian besar daerah yang akan dilewati rel kereta api itu berpenduduk yang jarang. Bila dikerjakan oleh penduduk daerah dari Lubuk Ambacang ke Pekanbaru, maka akan mewajibkan seluruh penduduk laki-laki antara umur 16 – 45 tahun dan tenaga kerja dai tempat ini pun  jauh dari mencukupi kebutuhan. Sementara Jepang mengintensifkan penanaman bahan makanan. Bila penduduk harus mengerjakan jalan, maka pertanian tidak dapat dilaksanakan. Untuk mengatasi itu didatangkan tenaga kerja dari Jawa (Jamal Lako Sutan, Naskah : 326).

c.       Penderitaan Tenaga Kerja Paksa (Romusha)
Pemuda – pemuda yang berasal dari sekitar Pasir Pengaraian diwajibkan bergotong-royong membuat jalan raya dari Kota Pinang lewat Hutan Mahato menuju Pasir Pengaraian . jalan kereta api dan jalan raya dikerjakan dalam waktu yang sama dan diharapkan pula dapat diselesaikan dalam waktu yang bersamaan.
Kegiatan Jepang di Dumai terutama memasang pipa air yang memanjang dari Dumai Ke Duri, tujuannya untuk mengalirkan air dari Duri ke Dumai yang akan diuji muatan minyak dalam air itu.
Romusha dari V Koto Kampar diperkerjakan membuat lapangan terbang Simpang Tiga dan membuat jembatan kayu penyeberangan Sungai Kampar di Rantau Berangin Danau Bingkuang (Umar Amin, 1983 : 16). Jepang memaksa mereka  bekerja siang dan malam, sementara itu makanan yang mereka terima sangat sedikit. Mereka diberi beras alakadarnya, akibatnya mereka kekurangan makanan. Pemondokan dan lingkungan tidak baik. Saat mereka bekerja diawasi Jepang secara ketat, setiap saat selalu diabsen dan apabila malas dipukul, ditendang, dan disiksa (Ahmad Yusuf, et. 1994 : 151)
Tidak ada istilah teriknya panas atau hujan. Mereka harus bekerja keras. Adakalanya jalan kereta api melewati rawa-rawa, namun rawa-rawa yang luas itu harus ditimbun dengan tanah. Bagaimanapun jalan kereta api harus dapat disiapkan. Pekerjaan berat saat pembuatan jalan kereta api yaitu:
·         Menggali tanah-tanah, bukit untuk menimbun bahagian jalan rel yang berawa-rawa tempat yang rendah dari ujung jalan atau di pangkal jalan.
·         Mengangkat kayu-kayu untuk bantalan rel dan jembatan.
·         Mengangkut besi-besi rel.

Makam para romusha yang menjadi korban pembuatan rel kereta api yang waktu itu terkenal dengan jalan kereta api "loge" (loges) banyak tersebar disepanjang jalan. Yang terbesar adalah di Simpang Tiga Pekanbaru. Disini oleh Gubernur Riau, (Alm) Subrantas Siswanto tanggal 10 November tahun 1978 telah didirikan monumen "Pahlawan Kerja". Untuk mengenang pengorbanan bangsa Indonesia yang dipekerjakan sebagai romusha. Ditempat ini telah dikuburkan ± 30.000 orang yang meninggal dunia.

d.      Penderitaan Rakyat Riau
Penderitaan tidak hanya dirasakan oleh tenaga kerja paksa saja, juga terjadi pada rakyat riau lainnya yang tidak ikut bekerja pembangunan Jepang. Laki-laki, wanita, anak-anak merasakan penderitaan selama pendudukan Jepang akibat kekurangan makanan, pakaian dan kebutuhan hidup sehari-hari lain. Di Tembilahan rakyat diperintahkan Jepang untuk menyediakan serabut kelapa yang akan dipergunakan Jepang untuk membuatalas kaki(keset). Untuk mendapatkan serabut kelapa ini sangat sukar, apalagi Jepang memaksa rakyat menyediakan sejumlah lebih kurang 2 kg setiap hari. Waktu tersita untuk memenuhi perintah Jepang itu. Menentang perintah akan mendapat hukuman yang ditakuti rakyat.
Hasil petanian sangat penting di daerah Kampar. Semenjak pemerintahan Jepang hasil pertanian itu khususnya padi sangat berkurang bahkan tidak mencukupi lagi. Pada zaman pendudukan Jepang  kehidupan masyarakat sulit. Penduduk diperlakukan sebagai tenaga kerja paksa bagi mememenuhi keinginan militer Jepang untuk membangun sarana keperluan perang.
Kehidupan sosial ekonomi penduduk mejadi terganggu karena karet tidak laku di pasaran, maka Jepang memerintahkan pohon-pohon karet rakyat supaya ditebang dan diganti dengan tanamanpadi dan tanaman muda. Rakyat Riau yang tidak ikut mengerjakan proyek jepang harus mengintensifkan penanaman padi dan palawija serta memperluas lahan pertanian untuk menyiapkan cadangan makanan keperlauan perang Jepang . selesai panen, sebagian besar dari hasil nya harus diserahkan kepada pemerintah Jepang, demikian juga hasil ternak.
Selain itu disetiap pekarangan rumah penduduk diperintahkan pula supaya menanam pohon jarak. Kehidupan rakyat semakain lama semakin parah. Banyak penduduk daerah Kampar yang kelaparan. Sebagai pengganti makanan pokok banayak pula yang makan gadung, keladi, ubi/kulit ubi dan sebaginya(Umar Amin, 1983:16-18).  Begitu juga di Kuantan kehidupan masyarakat sangat sulit, makanan yang dikonsumsi sukar didapat, bahkan rakyat makan ubi dan gadung. Jepang kurang peduli mengenai kebutuhan hidup masyarakat(Wawancara Mohd. Yusuf, 29 Desember 2002 di Pekanbaru).

2.      Perlawanan Rakyat Riau Terhadap Jepang

1)      Sikap Rakyat terhadap Jepang
Saat kedatangan Jepang ke Riau awalnya sangat memikat hati rakyat. Jepang dianggap sebagai penyelamat masyarakat dari penjajahan Belanda yang mana awalnya sangat ramah tama dan baik terhadap rakyat indonesia seperti sambutan rakyat Kampar dan Indragiri Hulu. Tokoh-tokoh masyarakat yang mengkoordinir  sambutan di Indragiri Hulu adalah Abu Bakar Abduh, Toha Hanafi, dan Jusih(Maleha Aziz, Naskah: 27).
Keadaan itu berubah setelah jepang menduduki semua wilayah Riau. Sikap ramah tama berubah menjadi kasar, selanjutnya muncul watak fasisme Jepang. Tindakan sewenang-wenang merupakan pandangan sehari-hari. Bendera merah putih sebelumnya berkibar bersama Hinomoru tidak boleh lagi dikibarkan. Sepak terjang, tampar, maki-maki kasar seperti"bagero" sudah merupakan tindakan biasa. Organisasi politik dan sosial dilarang, bahkan dibubarkan Jepang. Pemerintahan para sultan dan raja-raja dibekukan dan seluruh wilayah Riau diperintah lansung oleh pemerintah militer Jepang. Sedangkan kekuasaan sultan dan raja-raja diperlakukan sebagai pengemuka masyarakat biasa.(Depdikbud, 1986: 189).
Akibat tindakan Jepang yang sewenang-wenang itu rasa simpati berubah membenci Jepang, bahkan ada yang melakukan perlawanan, baik melalui dakwa maupun alat senjata. Untuk menghadapi kekejaman Jepang rakyat Kampar mulai bersatu menentang pendudukan Jepang. Pemuda-pemuda mengadakan gerakan dibawah tanah yang dipimpin Mahmud Marzuki dan HM Amin. Gerakan itu dilakukan secara beranting dengan menyampaikan semangat nasional, memelihara persatuan dan membangkitkan rasa kebencian terhadap Jepang. Alasannya Jepang orang kafir dan semua perbuatan yang zalim harus ditantang karena tidak sesuai dengan ajaran islam (Maleha Aziz, Naskah: 20). Di Kampar, masyarakat mengingkari perintah Jepang untuk tidak membayar pajak dan melanggar peraturan Jepang (Tim Penulis Sejarah Kampar: 13).
Mengingat saluran politik tidak dapat lagi digunakan, maka dipakai jalur dakwa dan pendidikan agama sebagai basis perjuangan. Semula jalur dakwa masih dapat digunakan, asal setiap mubaligh diminta untuk membesarkan atau mengagungkan Jepang di Asia Timur Raya. Saluran resmi tempat rayat menyatakan keinginan dan pendapat sama sekali tidak ada lagi.tetapi setelah kemajuan perang Jepang diberbagai front mulai tertahan oleh tentara sekutu, maka dibentuklah Syu Sangi Kai(sejenis parlemen tingkat keresidenan) anggota-anggotanya dari bangsa Indonesia yang terdiri setiap Gun mengirim dua orang wakilnya, yaitu Gunco sendiri ditambah satu orang yang dipilih oleh suatu badan yang dibentuk Gunco.

2)      Sikap Antipati Terhadap Jepang
Kebencian masyarakat terhadap Jepang dilakukan melalui perlawanan-perlawanan di beberapa tempat. Orang-orang sakai melakukan pemberontakan kepada Jepang di daerah Mandau, akibatnya banyak orang  Jepang yang korban.
Bentuk perlawanan rakyat Siak terhadap Jepang pada tahun 1944 adalah berbentuk barisan zikir yang dipimpin oleh Pakih Aris yang berasal dari Seremban Malaysia. Anggota zikir berjumlah 40 orang termasuk Zalik Aris. Tempat zikir diadakan dirumah Tengku Johan yaitu rumah tua di Siak Sri Indrapura tepatnya dimuka Sungai Mempura. Zikir dilaksanakan kira-kira satu jam. Bacaan zikirnya, "lailahaillallah muhammadurrosulullah fikulli, lambatin wanafasin'adadama wasi'ahu'ilmullah". Setelah mereka berzikir tuan Pakih Aris melepaskan ikan tapah yang cukup besar ke Sungai Siak. Waktu melepaskan ikan tersebut tuan Pakih mengucapkan ikan tapah ini dilepas untuk kemerdekaan Indonesia. Setelah itu dilepaskan lagi ikan tapah yang kedua agak kecil dari ikan tapah yang pertama. Waktu melepaskan ikan kedua tuan Pakih mengucapkan ikan ini dilepas untuk kemerdekaan Malaysia. Dalam hal ini perlawanan dilaksanakan melalui perjuangan batin.
Di Pasir Pengaraian bentuk perlawanan dilakukan secara diam-diam dengan menyembunyikan hasil panen didalam hutan dan menyerahkan padi-padi hampa ke gudang Jepang. Sistem yang mereka lakukan, mula-mula memisahkan padi-padi yang bernas dengan padi yang hampa. Bagian padi yang disimpan rakyat adalah padi yang bernas, sisanya ditambah yang hampa diserahkan kepada Jepang sama banyaknya dengan bagian rakyat.
Di Tembilahan terjadi perlawanan bersenjata di Parit Baru (Enokku). Rakyat sudah tidak bersedia menyerahkan padinya pada Pemerintah Jepang. Biarpun telah berkali-kali diperingatkan dengan keras, rakyat tetap tidak bersedia lagi menyerahkan padi mereka.


B.     Situasi Menjelang Kemerdekaan

1. Jepang Mengambil Hati Rakyat
           Situasi Jepang dalam Perang Pasifik makin mundur. Sekutu dapat mengalahkan Jepang disemua Front. Gerakan ofensif yang semula dapat mengalahkan tentara Sekutu berubah menjadi defensif. Gerakan ofensif berpindah kepihak sekutu. Dalam keadaan semakin genting itu, Jepang berusaha mencari dukungan dan bantuan dari rakyat Indonesia. Begitu juga dengan tentara Jepang yang ada didaerah Riau.
            Di Indragiri, Jepang membujuk Sultan agar bersedia membantu dan bekerjasama untuk melawan tentara Sekutu. Jepang mulai mendekati pemimpin dan rakyat Indragiri Hulu agar membantu mereka dalam perang melawan Sekutu. Dengan berbagai bujukan agar rakyat simpati, ternyata rakyat Indragiri Hulu tidak tertarik lagi kepada Jepang. Jepang menggunakan taktik pendekatan yang sangat simpatik yaitu dengan cara apabila mereka dipercaya akan diangkat menjadi junsa (polisi), diberi gaji, dan diistimewakan. Orang-orang inilah yang digunakan Jepang untuk memungut pajak, merampas, dan memeras hasil pertanian rakyat.
            "Di Siak, Jepang mengatakan kepada Sultan Siak Sri Indrapura bahwa mereka akan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia asalkan mau membantu Jepang dalam menghadapi serangan Sekutu."(wawancara Sutrisno, 27 November 2002). "Untuk mengambil hati rakyat Siak, Jepang memberikan perongkosan bagi pemuda-pemuda yang mengikuti latihan kemeliteran di Palembang, Bukit Tinggi, Medan dan lain-lain untuk kembali kekampung halamannya."(Maleha Aziz, Naskah: 51). "Jepang melakukan politik  balik untuk mendapat dukungan penduduk di daerah Riau. Politik yang sebelumnya menyakiti hati rakyat berubah mendekati pemimpin rakyat agar mendapat simpati dari rakyat. Jepang juga membujuk rakyat dengan propagandanya menghidupkan semangat nasional berupa mengakui adanya tanah air Indonesia. Semua usaha Jepang tidak mendapat respon dari rakyat, karena sudah terdorong membenci Jepang, akibat tindak tanduk Jepang yang telah mensengsarakan rakyat."(Ahmad Yusuf, 1944: 155-156).

2. Perampasan Senjata dan Alat Logistik Jepang
            Kekalahan Jepang sudah tersebar di Indonesia. Di Indragiri berita itu diterima dari Fujima Sang selaku wakil resimen tentara Jepang yang berkedudukan di Air Molek. Segera diadakan pertemuan antara kelompok pemuda dengan Fujima Sang di Indragiri. Fujima Sang berjanji untuk membantu perjuangan rakyat Indragiri mencapai bangsa yang berdaulat. Sebagai tanda persetujuan itu, ia menyerahkan pedang samurai, pistol, dan ransel (Ahmad Yusuf, 1994: 165).
            Untuk mendapatkan senjata dilakukan berbagai cara. Ada melalui pemberian, usaha sendiri, dan ada dengan cara merampas senjata dari Jepang. Barisan pemuda pejuang yang tinggal di Pekanbaru melakukan secara inisiatif sendiri, tombak, parang dan lain-lain. Disamping itu ada juga membongkar gudang senjata di Padang Terubuk, gudang senjata Jepang yang terdapat di Gobah, gudang senjata di Air Hangat Marpoyan, dan dari gudang senjata di Teluk Lembu.
            Untuk mendapatkan persenjataan bagi pejuang-pejuang Indonesia di Siak dengan melalui beberapa usaha :

a)      Mempergunakan senjata-senjata pasukan pengawal istana Kerajaan Siak yang tersimpan dalam gudang seperti senjata-senjata, pedang, keris, tombak dan kelewang.
b)      Persenjataan rampasan dari Jepang saat melakukan penyergapan oleh para pejuang di Siak.
c)      Senjata yang didapat dari Jepang sebagai akibat rasa simpati terhadap perjuangan rakyat Siak.
d)     Hasil penyelam dan pancingan terhadap senjata Jepang yang dibuang ke Sungai Siak (Maleha Aziz, 1976: 26)

Daftar Pustaka

Abdullah, H.M. Syafei, Korban Pembangunan Jalan Kereta Api Muat Muara Sijunjung-             Pekanbaru (Tahun 1943-1945), Yapsim, Pekanbaru, 1987.

Abdullah, HM. Syafei. Korban Pembangunan Kereta Api Maut, Kanwil Depdikbud Prov.               Riau, Pekanbaru, 1985
                                     . Korban Pembangunan Jalan Kereta Api Maut Muara Sijunjung-Pekanbaru Tahun 1943-1945, tt
                                     . Tragedi Pembangunan Rel Kereta Api, Unri Press, Pekanbaru, 2002

Asmuni, Marleyli Rahim. Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Depdikbud, Pekanbaru, 1982

Yusuf, Ahmad. dkk, 2004. Sejarah Perjuangan Rakyat Riau 1942-2002. Pekanbaru : Badan Kesejahteraan Sosial Provinsi Riau atas kerjasama MSI Cabang Riau, LVRI/DHD'45, dan LAMR.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar