Senin, 16 Mei 2016

PENDIDIKAN DI NIGERIA

NURLIZA SEMBIRING/S.P/15A

Nigeria memiliki populasi terbesar dari setiap negara di Afrika, dan semakin meningkat dengan cepat. Nigeria juga merupakan salah satu negara dengan populasi yang paling beragam, yang terdiri dari lebih dari 300 kelompok etnis yang mempunyai budaya dan bahasa yang berbeda satu dengan yang lainnya berusaha mempertahankan etnisitas dari kelompok budaya masing-masing.

Nigeria sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar ke-4 dengan jumlah 78 juta Muslim menyaingi negara Mesir yang berjumlah 74 juta dan juga negara Turki dengan populasi penduduk yang menganut agama Islam sebesar 73 juta jiwa. Sekitar setengah dari penduduk Yoruba adalah Muslim, dan setengah lainnya adalah Kristen. Kelompok Kristen menapai 40% dari populasi, termasuk Igbo dan sebagian besar kelompok etnis lain yang tinggal di selatan. Dan 10% populasi lainnya - apakah Yoruba, Igbo, Hausa, Fulani, atau salah satu dari kelompok-kelompok etnis lain yang tak terhitung jumlahnya - mengkombinasikan praktek keagamaan atau tradisional.
Populasi terdiri dari lebih dari 350 etnolinguistik kelompok dengan dua agama utama adalah Islam dan Kristen. Sekitar setengah dari penduduk Yoruba adalah Muslim, dan setengah lainnya adalah Kristen. Kelompok Kristen lainnya, yakni 40% dari populasi, termasuk Igbo dan sebagian besar kelompok etnis lain yang tinggal di selatan. 10% populasi lainnya - apakah Yoruba, Igbo, Hausa, Fulani, atau salah satu dari kelompok-kelompok lain yang tak terhitung jumlahnya etnis - kombinasi praktek keagamaan atau tradisional ini dengan baik Kristen atau Islam.
Penduduk Nigeria ditandai dengan perbedaan geografis yang besar. Pembangunan sumber daya manusia untuk anak perempuan dan perempuan lebih buruk di Utara, di mana tingkat kemiskinan hampir dua kali lebih tinggi dari bagian Selatan (72% di Timur Utara dibanding dengan 26% di Timur Selatan dan rata-rata nasional 54% ). Hampir setengah dari semua anak balita yang kekurangan gizi di Timur Utara, dibandingkan dengan 22% di Timur Selatan. Gadis Hausa, misalnya, adalah 35% lebih kecil kemungkinannya untuk pergi ke sekolah dibandingkan anak laki-laki Yoruba. Dampak ketimpangan pada kehidupan anak perempuan dan perempuan tercermin jelas dalam hasil kesehatan dan pendidikan, nasional dan antara Utara dan Selatan. Tingkat kekerasan gender juga tinggi, terutama di Selatan di mana terjadi ketimpangan yang besar.
Pendidikan Di Nigeria
Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu masalah yang dihadapi sektor pendidikan Nigeria adalah kesenjangan gender. Meskipun Kebijakan Nasional tentang Pendidikan dan konstitusi Republik Federal Nigeria tahun 1999 menekankan akses yang sama terhadap pendidikan oleh laki-laki dan perempuan di Nigeria, perbedaan masalah gender dalam akses terhadap pendidikan masih sangat jelas terlihat dari praktek diskriminasi di lapangan pendidikan. Pemerintah federal Nigeria telah melaporkan pada tahun 2003 bahwa diperkirakan tujuh juta (sekitar 35% dari jumlah total) dari anak-anak Nigeria sekolah dasar usia tidak terdaftar di sekolah dasar. Enam puluh dua persen dari tujuh juta adalah perempuan, yang berarti bahwa sekitar 4,3 juta anak perempuan yang putus sekolah. Dengan tingkat perempuan yang tidak bisa mengenyam pendidikan dasar bisa berakibat pada tergoyahnya pondasi untuk pembangunan di masa yang akan datang, karena pembelajaran pertama anak adalah dari sosok ibu, namun dengan tingkat akses pendidikan yang minim sekali untuk perempuan maka, pendidikan untuk anak pun terpengaruh. Sehingga pentingnya kebijakan pemerintahan federal untuk menyamaratakan hak pendidikan untuk perempuan dan laki-laki yang telah disahkan dapat berjalan sebagaimana mestinya terjadi di lapangan.
Pemerintah federal Nigeria membuat sistem formal pendidikan di Nigeria terdiri dari enam tahun sekolah dasar, tiga tahun sekolah menengah pertama, tiga tahun sekolah menengah umum dan empat tahun universitas. Sebelum kemerdekaan pada tahun 1960 misionaris Kristen dan Muslim telah memiliki sistem pengajaran tersendiri untuk mendidik pemeluknya, namun bentuk pengajarannya masih tergolong dalam kelompok-kelompok kecil untuk memberikan pengajaran. Setelah kemerdekaan sistem pendidikan barat resmi muncul di samping sekolah Al-Quran dengan sistem adat. Di dalam sistem adat, penekanan pendidikannya adalah pada kemampuan dalam praktek pertanian, perikanan dan pertukangan sementara di Nigeria utara, segala sesuatu di kelas dipengaruhi oleh Al-Quran.
Kemudian pada tahun 1970 pemerintah mengambil alih menjalankan sistem pendidikan. Selama 20 tahun terakhir atau lebih, dana pendidikan yang ada tidak memadai untuk merealisasikan keseragaman dalam mengenyam pendidikan, khususnya di Nigeria bagian utara. Diperkirakan ada hampir 55 juta anak-anak Nigeria di bawah usia 14 namun fasilitas sekolah yang ada hanya bisa menampung kurang dari setengah jumlah tersebut, sebagai akibatnya, banyak sekolah dasar dan menengah swasta, perguruan tinggi swasta dibentuk, dampaknya pada kurangnya tingkat kehadiran anak usia sekolah di Nigeria terkendala dengan kurangnya fasilitas yang diberikan oleh negara. Kurangnya fasilitas yang ada maka kebanyakan orang Nigeria harus membayar mahal bentuk pendidikan swasta untuk anak-anak mereka, itu dipandang oleh banyak orang sebagai satu-satunya jalan untuk mengakses pendidikan.
Jauh sebelum sistem pendidikan diambil alih oleh pemerintah Nigeria, di Nigeria Selatan pendidikan lebih berkembang dan pada umumnya oleh para missionaris, sedangkan di Nigeria Utara, pendidikan dikembangkan oleh pemerintah Inggris. Tekanan masih diletakkan pada pendidikan dasar. Di samping itu terdapat pula pendidikan menengah dan kursus-kursus guru. Universitas baru berdiri tahun 1955 di Nigeria Barat dan tahun 1957 di Nigeria Timur. Dalam bulan Januari 1957, terdapat kira-kira 2,5 juta anak memasuki sekolah dasar dan kira-kira 800 ribu yang memasuki sekolah menengah. The Nigerian College of Arts, Science and Technology terdapat di ketiga daerah bagian dan terdapat pula Institut Teknologi di Yaba dan terdapat pula 8 pusat-pusat perdagangan untuk melatih 2 ribu pekerja. Universitas Ibadan dapat menerima mahasiswa dari seluruh Nigeria, dengan kapasitas penampungan mahasiswa sejumlah 1500 orang. Lebih dari 3000 orang mahasiswa Nigeria belajar di Luar negeri. Pemerintah federal dan pemerintah daerah menyediakan dana £84 juta untuk pendidikan, selama tahun 1955 sampai tahun 1960.
Wanita Muslim dari Nigeria Utara secara historis memiliki akses yang sangat terbatas untuk pendidikan meskipun perempuan secara individual memiliki kesempatan untuk unggul dalam pembelajaran Islam. Namun, tren mendirikan sekolah-sekolah Islam yang dimulai pada pertengahan tahun 1970-an. Pendidikan Islam di Nigeria Utara telah menjadi saksi perubahan besar di dalam jangka waktu dua puluh lima tahun. Salah satu aspek terpenting adalah perkembangan sekolah Islam yang baru yang menggabungkan fitur tradisional dan modern dalam format dan program kurikulum institusional mereka. Faktor penting kedua adalah pemusatan dalam kolaborasi pembelajaran sekuler dan Islam modern ke dalam sistem pendidikan.
Melihat dari latar belakang sejarah pendidikan di Nigeria menunjukkan bahwa perempuan tidak memiliki akses mudah ke pendidikan formal. Pada tahun 1965, 37,7% siswa di sekolah dasar adalah perempuan namun hanya mencapai 9% yang lulus dari sekolah dasar adalah siswa perempuan.
Nigeria memiliki jumlah terbesar anak-anak yang mengalami drop-out di dunia. Angka-angka menunjukkan perbedaan yang rentan antara negara dan seluruh masyarakat. 70,8% dari wanita muda berusia 20-29 di Barat Laut tidak dapat membaca atau menulis, dibandingkan dengan 9,7% di Timur Selatan. Beberapa alasan menjelaskan hal ini: pernikahan dini, persalinan dini, sanitasi yang buruk, dan kekurangan guru perempuan. Namun, dua alasan menonjol. Biaya untuk masuk sekolah merupakan alas an yang menonjol orang tua enggan untuk memberikan pendidikan lebi tinggi dibandingkan dengan anak laki-laki, meskipun dalam teorinya pendidikan itu gratis, tetapi dalam prakteknya orang tua membayar biaya yang tidak proporsional yang membebani masyarakat miskin.
Adapun faktor lain yakni rendahnya kualitas pendidikan, banyak sekolah gagal untuk menyediakan lingkungan yang aman bagi perempuan remaja yang takut pada hukuman fisik atau bentuk kekerasan, intimidasi atau penghinaan. Kualitas pengajaran yang rendah perlu menjadi koreksi kehadiran perempuan untuk mengenyam pendidikan dengan baik, dikarenakan perbedaan sikap yang diterima perempuan dan perlakuan yang buruk di sekolah mengakibatkan traumatic pada perempuan untuk berada di sekolah, hingga dalam kasus ini tantangannya adalah bagaimana meningkatkan budaya pengajaran dan pembelajaran bagi semua, termasuk perempuan. Upaya yang seharusnya dilakukan untuk memberikan kepercayaan kembali kepada orang tua untuk menigirimkan anak perempuan mereka ke sekolah dan membujuk anak perempuan dan orang tua mereka untuk menunda perkawinan dan melahirkan akan menjadi tugas berat sampai pendidikan tingkat lanjut yang lebih menarik dan lebih murah untuk orang tua.
Tidak dapat disangkal kenyataan bahwa kesempatan yang sama dalam segala bentuk dan tingkat pendidikan sangat dibutuhkan untuk memungkinkan perempuan dari segala usia untuk membuat kontribusi yang bermanfaat untuk masyarakat, sehingga menghilangkan insiden kesenjangan gender. Namun, praktek diskriminasi terhadap perempuan telah membantah mereka kontribusi mereka terhadap pembangunan bangsa di Nigeria. Oleh karena itu, adanya sensitivitas gender untuk waktu yang lama membuat perempuan yang memiliki potensi dalam diri mereka seakan teredam oleh diskriminasi yang diterima untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki, sehingga menyebabkan ketidakmampuan mereka untuk berkontribusi pada pembangunan nasional seperti rekan-rekan pria mereka.
Kebijakan Pemerintah Terhadap Pendidikan Perempuan di Nigeria
Sebagai salah satu kepedulian pemerintah Nigeria terhadap pentingnya pendidikan di Nigeria yakni dengan meluncurkan Program Pendidikan Universal Basic Education (UBE) pada bulan September 1976. Hal ini telah terbukti sangat penting untuk peningkatan pendidikan di Nigeria. Meskipun itu bukan pertama kalinya program pendidikan dasar gratis ini diluncurkan di negara ini. Namun untuk wacana mengenai peningkatan pendidikan pada anak usia sekolah di Nigeria sudah ada sejak tahun 1955 di Nigeria bagian barat telah meluncurkan skema serupa yang membantu untuk meningkatkan partisipasi duk mengenyam pendidikan yang layak. Diawali dari tahun 1955 maka disusunlah skema untuk seluruh wilayah di Nigeria yakni pada tahun 1976 yang diluncurkan oleh pemerintah federal. Salah satu implikasi dari skema UBE telah menjadi peningkatan progresif jumlah anak yang terdaftar di sekolah.
Tak berhenti pada perencanaan program pendidikan dasar gratis untuk anak namun pemerintah juga mengusahakan status perempuan dan penduduk pada tahun 1985 dengan adanya rancangan kebijakan kependudukan yang menyadari kebutuhan untuk meningkatkan status perempuan. Berbagai kelompok perempuan berjuang dalam bidang politik dan pembangunan. Draft untuk pelaksanaan kebijakan yang telah dirancang dengan usulan untuk menaikkan usia hukum pernikahan bagi perempuan yakni 15-18 tahun.
Dalam mencoba untuk menyoroti masalah-masalah yang membingungkan pada sistem pendidikan perempuan / anak perempuan di Nigeria, kontribusi dari pemerintah yang berkuasa sangat penting, terutama kebijakan pendidikan mereka, proses pelaksanaan dan sikap Menteri Pendidikan pada setiap waktu yang diberikan untuk pendidikan dari anak perempuan. Hal ini penting karena kebijakan pendidikan di Nigeria telah dirumuskan dan dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan. Kementerian ini dibiayai oleh Pemerintah Federal dan kegiatannya diarahkan oleh Menteri dan Dirjen nya.
Relevansi Keikutsertaan Perempuan Dalam Pendidikan
Dilihat dari sejarah, bahwa perempuan menurut adat adalah mengerjakan pekerjaan domestik dan membantu suami, sehingga untuk mengirim perempuan ke pendidikan formal menjadi hal yang menjadi rintangan yang cukup besar. Perempuan dikirim ke sekolah setelah anak laki-laki, dan pembiayaan yang seharusnya untuk pendidikan anak perempuan dialihkan untuk membiayai pendidikan anak laki-laki karena dianggap lebih penting dibandingkan untuk membiayai pendidikan anak perempuan. Perempuan kadang-kadang ditarik dari pelatihan dan menikah untuk mendukung anak laki-laki mendapatkan studi lebih lanjut. Perempuan dianggap lebih rendah daripada laki-laki dalam status adat, dan peran perempuan dianggap dalam lingkup domestik. Pernikahan anak dibawah umurmenjadi lazim dilakukan di banyak negara bagian, sehingga semakin memperkecil kesempatan pendidikan untuk perempuan.
Perempuan Muslim dari Nigeria Utara secara historis memiliki akses yang sangat terbatas untuk mengenyam pendidikan meskipun perempuan sebagai individu menginginkan untuk mendapatkan kesempatan untuk unggul dalam pendidikan Islam. Namun, tren mendirikan sekolah-sekolah Islam yang dimulai pada pertengahan tahun 1970-an memberikan kesempatan baru untuk perempuan Muslim untuk mengenyam pendidikan umum, terlebih lagi dengan animo untuk pendirian sekolah-sekolah Islam memberikan kesempatan mereka untuk mendapatkan pendidikan Islam sebagai upaya untuk meningkatkan perempuan yang melek huruh di kalangan perempuan Muslim. Terlepas dari kekuatan numerik mereka, perempuan memiliki potensi yang besar diperlukan untuk mengembangkan sebuah tatanan ekonomi baru, untuk mempercepat pembangunan sosial dan politik dan akibatnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik
Dalam hal pendidikan anak-anak, pada tahun 1993, 6,9 juta murid perempuan berada di sekolah dasar seperti terhadap 8,3 juta murid laki-laki. Pada tahun 1994, ada 9,1 juta laki-laki dan 7,1 juta perempuan. Pada tahun 1995, ada 8,7 juta laki-laki dan 7,0 juta perempuan di sekolah dasar Nigeria, di tingkat pasca pendidikan dasar, pada tahun 1993, ada 2,2 juta siswa laki-laki seperti terhadap 1,9 juta siswa perempuan.32 Ada peningkatan yang stabil dalam pendaftaran perempuan di berbagai tingkatan pendidikan di negeri ini. Pada tahun 2004 bergerak dari 44,73% menjadi 46,07% pada tahun 2008. Pada tingkat menengah, bergerak dari 43,63% menjadi 44,43%. Melek huruf orang dewasa turut terjadi peningkatan ke atas dari 46,42% menjadi 50,35%. Pada tingkat politeknik, dimulai dengan 40,25% pada tahun 2000 dan turun menjadi 37,61% pada tahun 2003/2004, tapi meningkat pada 2004/2005 untuk mencatat 40,46%. Di perguruan tinggi pendidikan, kecuali dalam 2006/2007 yang tercatat 48,06%.
DAFTAR PUSTAKA
1. Dave, Learning Strategies For Post-Literacy and Continuing Education in Kenya, Nigeria, Tanzania, and United Kingdom, 69.
2. Scott Steven Reese, The Transmission of learning in Islamic Africa (Leiden: Koninklijke Brill NV, 2004), 99.
3. Oni, Revitalizing Nigerian Education in Digital Age, 424.
4. World Data Education 7th edition, 2010/11 (International Bureu of Education, 2010)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar