Selasa, 31 Mei 2016

PERLUASAN KEKUASAAN ACEH-MATARAM-MAKASAR (1600-1700)

YULIA GUSTINA/ SI IV/ 14A
1.      Perkembangan perdagangan sekitar tahun 1600
Sejak jatuhnya Malaka pada tahun 1511 ke tangan protugis, Aceh berusaha menarik perdagangan internasional dan antar –kepulauan Nusantara. Salah satu jalan menghancurkan Malaka dan Johor, jalan lain ialah mencoba menguasai pelabuhan-pelabuhan transito. Di pantai Timur Sumatra, setelah pedir, Pasai, Deli dan Aru, maka Aceh mencoba mengasai Jambi di mana perdagangan sangat ramai, Jambi adalah pelabuhan pengekspor lada yang banyak dihasilkan di daerah pelabuhan pedalaman, seperti Minangkabau yang diangkut lewat sungai Indragiri, Kampar, dan Batanghari.
Pengaruh Aceh meliputi kerajaan-kerajaan di semenanjung Malaya, seperti Kedah, Perak, Pahang, dan Johor. Sebelum 1603 Aceh mengambil ladanya dari petani, Kedah, Pedir, Indragiri, dan Jambi. Ekspansi Aceh sejak itu berhasil menguasai perdagangan pantai Barat sumatra dan mencakup Tiku, Pariaman, dan Bengkulu. Untuk memperkuat posisinya terhadap Mataram maka dibuatnya pesekutuan dengan Makasar. Meskipun ekspansi Mataram menghancurkan kota-kota pesisir dan karenanya perdagangan setengahnya menjadi lumpuh, akan tetapi sebagai penghasil utama dan pengekspor beras  posisi Mataram dalam jaringan perdagangan Nusantara  masih berpengaruh.
Sebelum Malaka jatuh ke tangan protugis, perdagangan rempah-rempah dikuasai oleh perdagangan-perdagangan Melayu dari Malaka yang kemudian berpakal di johor dan Jawa. Sementara itu  ada pegeseran sebagian perdagangan dari pesisir Jawa Timur ke seberang latutan Jawa, yaitu ke Banjarmasin dan Sukanda. Eksodus perdagangan dari Jawa menambah keramaian perdagangan dan pasar di Banjarmasin dan relasi dengan Mataram semetra waktu tetap terpelihara dengan baik.
2.      Kerajaan Aceh dalam abad XVII
Iskandar Muda (1607-1636) yang dala tradisi Aceh juga disebut Marhum Mahkota Alam melanjutkan politik ekspansi raja-raja sebelumnya. Menurut Bustanussalatin, dia yang mengembangkan kehidupan beragama islam di Aceh antara lain dengan membangun banyak Masjid serta melakukan perang jihad terhadap kaum kafir. Dalam penyerbuan Johor, Kota dihancurkan dan raja Abdullah atau juga dikenal sebagai Raja Sabrang, ditawan di Aceh. Tidak lama kemudian Sultan Johor dikembalikan dan kerajaan direstorasi.
Dalam pengejaraan itu di jumpai angkatan perang protugis, setelah perlak ditundukkan maka seorang bernama Raja Sulung dinobatkan sebagai raja dan bergelar Sultan Mudhafar Shah. Menurut Bustanussalatin wajah Iskandar Muda digambarkan sebagai seorang yang berusaha menegakkan kehidupan beragama, memberantas minum keras dan main judi dan menjalanka peraturan agama, bersama rakyat bershalat jumaat di masjid dan bersedekah kepada fakir miskin.  Berbeda sekali dengan gambaran di aatas, informasinya yang di utarakan Beausieu mengenai Iskandar Muda. Banyak penderintaan rakyat yang disebabkan oleh peperangan yang dilakukan, kealimannya terbukti oleh perintahnyta pada umumnya barang menjadi mahal.
3.      Perang Makassar (1660-1669)
Makassar dengan VOC mau tak mau berkembang menjadi rivalitas, karena tujuan VOC untuk memegang monopoli perdagangan langsung bertentangan dengan prinsip sitem terbuka, suatu hal yang menjadi kepentingan Makassar selama kedudukan sebagai pusat perdagangan dengan hegemoni politik sebagi dukungannya. Konflik semakin memuncak dengan adanya insiden-insiden dan faktor-faktor lain:
a.       VOC menganggap penduduk Na'Kukkukang sebgai ancaman terhadap Makassar.
b.      Peristiwa de Walvis pada tahu 1662, waktu meriamnya dan barang- barang muatannya disita oleh pasukan karaeang Tallo, sedangkan tuntutannVOC untuk mengembalikannya ditolak.
c.       Anak kapal di bunuh dan sejumlah uang disita.
Untuk mengadapi pecahnya perang dengan Belanda, Sulta Hasanudinn pada akhirnya mengumpulkan semua bangsawan yang diminta bersumpah setia kepadanya. Meskipun  Sultan Hasanudin dan kelompok besar bangsawan lebih suka berpolitik damai, ada partai perang di bawah pimpinan karaeang popo. Adapun soal bahan makanan, persediaan beras rupanya tidak menjadi soal oleh karena ada adat yang kuat untuk menghormat tanaman padi sehingga tidak terjadi pembinasaan tanaman.
Jalanya perang di pengaruhi juga oleh faktor iklim suatu faktor yang sejak awal diperhitungkan oleh pihak VOC., sehubung dengan itu serangan terhadap Makassar ditunda menunggu musim hujan reda. Di tengah-tengah masa perang yaitu dari April sampai Juli 1668 berjangkitla epidemi sehingga kedua pihak tidak banyak melakukkan operasi. Konflik bersenjata yang berkobar antara munculnya angkatan perang VOC di pelabuhan Makassar dan jatuhnya somboatu di tangannya merupakan konflik besar kedua yang dialami VOC dalam menjalankan penetrasi di nusantara.
Kalau netralitas Banten dapat turut menyelamatkan Batavia dari agresif Sultan Agung, dari perang Makassar ini diperoleh bantuan yang memungkinkan kemenangan dengan aliansi dengan Arung Palaka beserta Toangkenya.berkali-kali VOC akan dapat memanfaatkan adanya faksionalisme serta konflik atau perpecahan di antara unsur-unsur pribumi, yaitu dengan membentuk aliansi dengan slah satu pihak. Dalam konteks sosial, ekonomis, politik, dan kultural masa itu, adalah anakronisme bila berbicara tentang nasionali, dalam arti yang dipergunakan sejak abad XIX. Tujuan pokok hegemoni tetap ekonomis, yaitu memegang monopoli perdagangan.
4.      Perebutan Hegemoni antara Pajang dan Mataram
Meskipun pajang terletak di pedalaman, dijalankannya " ostpolitik" seperti pihak Demak. Dalam menghadapi Mataram, Pajang mempererat aliansinya dengan vasal-vasal dari pesisir, antara lain Tumenggung Demak dan Tuban. Setelah Senopati tiga tahun berturut-turut menolak untuk pergi ke kraton pajang akhirnya sultan pajang memutuskan untuk menundukan senopati. pertempuran terjadi di prambanan, Sultan pajang terpaksa melarikan diri ke Tembayat dan pasukannya cerai berai dikejar oleh tentara Mataram. Meskipun Mataram memperoleh kemenangan, pergolakan untuk merebut hegemoni berjalan terus.
Dalam menghadapi calon yang terakhir timbullah pedekatan antara pangeran Benawa dan Senopati, akhirnya mereka bersekutu untuk bersama-sama melawan pajang. Pasukan Adipati Demak terdiri atas barisan pajang 300 orang, barisan Demak 2000 orang dan bariran seberang 400 orang. Kemenangan ada di pihak aliansi Mataram- Jepang,  Adipati Demak turun tahta pangeran Benawa menarik diri dan bertapa di Gunung Kukalan, kemudian terkenal sebagai Sunan Parakan.
5.      Politik ekspansi Mataram
Pada masa pemerintahan panembahan Krapyak berkobarlah pemberontakan-pemberontakan dari kalangan warga dinasti sendiri, yaitu pangeran punger di Demak dan pangeran Jagaraya di panaraga. Disini dengan jelas tampil sumber kelemahan sistem politik kerajaan Jawa hampir sepanjang sejarah dinasti terus –menerus menganggu kesetabilan politik, bahkan menciptakan krisis besar sehingga mengakibatkan perpecahan dan pembagian kerajaan. Faktor ini pula yang menjerumuskan raja-raja ke lingkungan pengaruh VOC.
Meskipin tujuan agresi terakhir adalah Surabaya akan tetapi ekspedisi Mataram tahun1614 dikirim untuk menalukan Kendiri, Pasuruhan, Lumajang, Renong, dan Malang. Pad tahun 1615 afensif Mataram lebih dipusatkan pada Wirasaba, suatu benteng pertahanan yang terletak di dekat bekas Majapahit, lagi pila merupakan titik strategis karena lokakinya ada di pintu gerbang ke delta Brantas serta pintu  masuk ke ujung  Jawa Timur. Sementara itu keadaan di dalam kerajaan sendiri mengalami krisis karena timbul ketegangan antara golongan-golongan ataupun klik kraton yang saling memusuhi.
 Keturunan Patih Senopati, Mandaraka, dibawah pimpinan madurareja mengambil prakarsa melakukan  subversi terhadap sultan Agung. Gerakan ini didukung oleh Dipati pajang yang senantiasa nerasa newarisi otoritas kraton pajang. Pemberontakan pajang terjadi oleh karena seorang vasal ( Ki Tambakbaya terhadap Dipati pajang) tidak mengindahkan perintah raja, disini khususnya menyerahkan kudanya, di domba kepada Sultan Agung. Kemudian Ki Tambakbaya diambil sebagai menantu Pangeran Surabaya dan diangkat sebagi panglima pasukan.
6.      Puncak Konfrontasi Mataram- Surabaya ( 1620-1625)
 Kekuatan posisi Surabaya berdasarkan atas beberapa faktor. Faktor utama kedudukannya sebagai pusat perdagangan serta segala kekayaan dan hubungan yang dihasilkannya, faktor kedua kepentingan ekonomis bersamadi antara kota-kota pelauhan Jawa Timur membentuk solidaritas yang terbentuk sebagai aliansi pesisir. Faktor kedua itu diperkuat oleh ideologi religius yang mempertajam perbedaan dengan Mataram, faktor ketiga ialah daerah  pedalaman yang subur dan maju pertaniannya sehingga hasil berasnya dapat menopang fungsi Surabaya sebagai entrepot.
Untuk mematahkan kekuatan Surabaya maka Strategi Mataram tampak jelas bahwa faktor-faktor diatas diperhitungkan dan satu persatu ditanganinya. Strategi Mataram selama periode 1620-1625 menunjukan pola yang jelas yaitu, bahwa serangan dilakukan dalam musim kemarau dan secara sistematis diadakan perampasan panen dari daerah sekitarnya.  Dalam Ekspedisi ke sukanda kedua pemaisuri raja dan delapan sampai sembilan puluh orang tertawan dan dibawa ke Mataram. Invasi Mataram di Madura tertuju lebih dulu ke bagian Barat dan pertempuran terjadi dalam bulan Juli 1624.
Meskipun ada pertahanan yang gigih, segera Bangkalan, Arosbaya, Balega, Sampang dan Pakacangan diduduki oleh Mataram. Sebulan kemudian seluruh Madura termasuk pamekasan dan sumenap dikuasai pasukan Mataram. Di panaraga yang pertama di perintah oleh Sultan Agung untuk kembali ke Surabaya tetapi dilarang tinggal dalam kota. Selanjutnya pangerang pekik hidup " menyepi" dan meninggal sebagai orang keramat
7.      Konfontasi Mataram lawan VOC
Dalam pencaturan politik didalam komplek historis Jawa bagian pertama abad XVII di tandai oleh perebutan lingkungan pengaruh. Politik Mataram terhadap pesisir pada umumnya memang membuka kesempatan bagi VOC untuk menjalankan peranannya di wilayah itu. Ternyata surabaya tidak mendapat dukungan kongkret dari Banjarmasin, Johor, Banten, dan relasi lain-lainnya. Padahal Banten lebih memihak Surabaya karena juga senantiasa menhadapi ancaman Mataram. Antara Mataram dan VOC timbul pedekatan, antara lain terbukti daru utusan VOC yang sejak tahun 1610 hampir setiap tahun pergi menghadap raja Mataram. Satu faktor yang pada suatu waktu pasti menimbulkan bentrokan yaiutu tujuan VOC memegang monopoli pada satu pihak dan politik ekspansi mataram pada pihak lain.
Dari fakta antara kapitulasi Surabaya dan ofensif terhadap Batavia terselah lebih kurang tiga tahun, dapat di tarik kesimpulan bahwa Mataram memerlukan suatu waktu istirahat untuk bernafas artinya mengumpulkan kekuatan dala bidang logistiknya. Di samping itu berjangkitla wabah penyakit  yang sangat melemahkan sumber daya manusia-manusia Mataram.kota-kota hancur daerah-daerah kosong karena di tinggal penduduknya, sawah terlantar, banyak tanaman rusak seperti pohon-pohon pisang, kelapa dan buhan-buahan., dimana- mana kemiskinaan, kelaparan dan berbagai penyakit berjangkit. Pada tahun 1628 sudah dapat disiapkan suatu angkatan laut ke Batavia.  Angkatan pertama dipimpin oleh T. Baureksa dan yang kedua  Sura Agul-Agul di bantu oleh T.  Mandurareja dan T upasanta.
Pada tanggal 27 november malam dilakukan serangan terhadp Hollandia tetapi gagal. Karena kegagalan itu pada 1 desenber kedua pimpinan di hukum mati dan dua hari kemudian barisan mengundurkan diri. Angkatan perang Mataram berangkat dalam dua gelombang yang pertama terdiri atas artileri dan animasi pada pertengahan men1629, gelombang kedua ialah pasukan infanteri, pada tanggal 20 juni 1929. Sejak tanggal 27 september tidak ada lagi serangan umum  lagi. Keadaaan para karena lskar menderita kelaparan. Akhirnya barisan ditarik mundur.
8.      Konsolidasi dalam Kerajaan Mataram
Sebagai hasil ekspansi sejak penembahan Senopatisampai jatuhnya Surabaya, wilayah Mataram sudah berlipat ganda luasnya maka kebesaran kedudukan raja Mataram sudah tidak lagi dicerminkan oleh gelar penembahan, suatu gelar yang pantas bagi seorang penguasa lokal diatas Kyai agung. Pada tahun 1624 hubungan yang tegang antara Mataram dan pesisir memberi petunjuk kuat mengenai kedudukan  kedua otoritas itu. Dalam hubungan ini perlu disebut bahwa Raja Cirebon bergelar panembahan. Dalam fase kedua yaitu sejak tahun1625 dibuat bangunan-bangunan lagi antara lain masjid besar dan kolam. Bangunan itu mempunyai  dimensi yang luar biasa, meskipun relatif, dan kesemuanya mempunyai fungsi untuk melambangkan status raja.
  Dengan perluasan daerah pemerintahan dan hubungan-hubungan politik keluar, sistem pratimonialistik seperti yang terdapat pada zaa Kyai Agung Mataam tidak dapat berfungsi lagi apabila tidak disertai perkembangan a;at-alat pemerintahanya seperti birokrasi, militer, dan diplomasi. Orang pertama yang dalam kedudukan hirarkis langsung ada di bawah raja ialah Tumenggung Mataram, suatu kedudukan yang kemudian lebih dikenal sebagai Patih. Di samping itu Sultan Agung masih dibantu oleh K; Demang penguasa untuk menjalankan pemerintah didaerah masing- masing, memimpin pasukan, dan menyelenggarakan pengadilan.
9.       Priangan Sebelum dan Selama Dominasi Mataram
Meskkipun hubungan kerajaan Sunda dengan daerah-daerah lain di Jawa  nertal, hanya sedikit pedagang Jawa yang diizinkan berdagang, oleh karena ada kekhawatiran bahwa mereka akan melakukan tindakan seperti yang telah terjadi di kota-kota pelabuhan Jawa yaitu merebut kekuasaan. Mengenai priode terakhir kerajaan dihadapkan dengan berita- berita yang tidak hanya berbeda tetapi juga sering bertentangan. Data dari tradisi atai historografi tradisonal penuh dengan fakta-fakta yang besifat legendaris atau mitologi, antara lain tentang Raja prabu Siliwangi sebagai Raja "terakhir", tokoh Syeh Ibn Maulana dan raja Rum.
Kemudian pada tahun 1705 oleh Pakubuwana I di serahkan tambahan sebelah timur sampai Cilosari dan di sebelah, Barat sampai Cisadane. Dalam melaksanakan ekspedisinya ke Jawa Timur, Sultan Agung menyerahkan pimpinan pasukan yang menyerang Sampang kepada Rangga Gempol. Waktu Rangga Gempol menjalankan tugas itu, timbullah pergolakan yang dipimpin oleh pengeran Aria Suradiwangsa, putra dari Rangga Gempol. Pemberontakan berkobar lagi di bawah pimpina Aria Surengrana  atu pangeran Pangerangung, yang telah diserahi oleh Sulta Agung membuka koloni baru bagi rakyat dari Wirasaba di sebelah Barat Indramayu. Dalam pertempuran sengit di tepi sungai Cibeurum dapatlah dia ditaklukkan ole Adipati Kartabumi.
Pemberontakan- pemberontakan tersebut tidsk secara langsung melibatkan kekuasaan lain, Banten bersedia besedia menampung pengungsi atu pelarian dari priangan. Begitu pula dengan VOC terhadap pengungsi itu. Rupanya tidak ada minat memperluas teritorium antara lain karena priangan sangat jarang penduduknya. Salah satu tindakan utama Mataram ialah mendirikan koloni- koloni atau pemukiman baru. Pada pendirian kabupaten Sukapura pada tahun1641, dipilih sebagai ibu Kota tempat yang terletak di tepi sungai Ciwulan, kemudian berkembang menjadi sukaraja.
DAFTAR PUTAKA:
Andaya, L.Y. The Kingdom of johor, 1641-1728.
Graff , H.J. de.De Regeering van Sunan Agung vorts van Mataram 1613-1645. En die van zijn voorganger panembahan seda- ing-mKrapjak 1601-1613. Den Haag. 1958
Schrieke, B.J.O. Indonesian sociologocal studies. 2 jil, The Hague 1918-1957
Stapel F.W. Het Bongaaisch Verdrag. Leiden, 1992

Tidak ada komentar:

Posting Komentar