Minggu, 29 Mei 2016

PERLAWANAN RAKYAT MALUKU TERHADAP VOC

Ester Dahlia Siregar/ SI IV/ 14A

Latar Belakang Terjadinya Perlawanan
Tidakan sewenang-wenang yang dilakukan VOC di Maluku kembali dilanjutkan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda setelah berkuasa kembali pada tahun 1816 dengan berakhirnya pemerintah Inggris di Indonesia tahun 1811-1816.
Berbagai tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda di bawah ini menyebabkan timbulnya perlawanan rakyat Maluku:
a)        Penduduk wajib kerja paksa untuk kepentingan Belanda misalnya di perkebunan-perkebunan dan membuat garam.
b)        Penyerahan wajib berupa ikan asin, dendeng dan kopi.
c)        Banyak guru dan pegawai pemerintah diberhentikan dan sekolah hanya dibuka di kota-kota besar saja.
d)       Jumlah pendeta dikurangi sehingga kegaitan menjalankan ibadah menjadi terhalang.
e)        Secara khusus yang menyebabkan kemarahan rakyat adalah penolakan Residen Van den Berg terhadap tuntutan rakyat untuk membayar harga perahu yang dipisah sesuai dengan harga sebenarnya.
Tahun 1817 rakyat Saparua mengadakan pertemuan dan menyepakati untuk memilih Thomas Matulessy (Kapitan Pattimura) untuk memimpin perlawanan. Keesokan harinya mereka berhasil merebut benteng Duurstede di Saparua sehingga residen Van den Berg tewas. Selain Pattimura tokoh lainnya adalah Paulus Tiahahu dan puterinya Christina Martha Tiahahu. Anthoni Reoak, Phillip Lattumahina, Said
Perintah dan lain-lain. Perlawanan juga berkobar di pulau-pulau lain yaitu Hitu, Nusalaut dan Haruku penduduk berusaha merebut benteng Zeeeland.
Untuk merebut kembali benteng Duurstede, pasukan Belanda didatangkan dari Ambon dibawah pimpinan Mayor Beetjes namun pendaratannya digagalkan oleh penduduk dan mayor Beetjes tewas. Pada bulan Nopember 1817 Belanda mengerahkan tentara besar-besaran dan melakukan sergapan pada malam hari Pattimura dan kawan-kawannya tertangkap. Mereka menjalani hukuman gantung pada bulan Desember 1817 di Ambon. Paulus Tiahahu tertangkap dan menjalani hukuman gantung di Nusalaut. Christina Martha Tiahahu dibuang ke pulau Jawa. Selama perjalanan ia tutup mulut dan mogok makan yang menyebabkan sakit dan meninggal dunia dalam pelayaran pada awal Januari tahun 1818.
Latar belakang timbulnya perlawanan Pattimura, di samping adanya tekanan-tekanan yang berat di bidang ekonomi sejak kekuasaan VOC juga dikarenakan hal sebagai berikut.
a)    Sebab ekonomis, yakni adanya tindakan-tindakan pemerintah Belanda yang memperberat kehidupan rakyat, seperti sistem penyerahan secara paksa, kewajiban kerja blandong, penyerahan atap dan gaba-gaba, penyerahan ikan asin, dendeng dan kopi. Selain itu, beredarnya uang kertas yang menyebabkan rakyat Maluku tidak dapat menggunakannya untuk keperluan sehari-hari karena belum terbiasa.
b)   Sebab psikologis, yaitu adanya pemecatan guru-guru sekolah akibat pengurangan sekolah dan gereja, serta pengiriman orang-orang Maluku untuk dinas militer ke Batavia. Hal-hal tersebut di atas merupakan tindakan penindasan pemerintah Belanda terhadap rakyat Maluku. 
2.2  Tokoh / Pemimpin Perang
Bangsa Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang berhasil menguasai Maluku pada tahun 1512, kemudian disusul oleh bangsa Spanyol. Lalu disusul bangsa Inggris menguasai Maluku pada tahun 1811. Berdasarkan Convention of London (1814), daerah Maluku diserahkan oleh Inggris kepada Belanda. Belanda kemudian menerapkan praktek monopoli perdagangan di Maluku, dan melakukan tindakan-tindakan lain yang sangat merugikan rakyat Maluku. Diantaranya diadakan "pelayaran hongi" dan "ekstirpasi" yaitu aksi penebangan pohon pala dan cengkeh yang melanggar aturan monopoli.
Akibat penderitaan yang dialami rakyat Maluku, maka timbullah reaksi dan perlawanan rakyat Maluku pada tahun 1817 dibawah pimpinan Thomas Matulessy atau lebih dikenal dengan nama Kapitan Pattimura, seorang bekas sersan mayor pada dinas angkatan perang Inggris. Pattimura dibantu oleh beberapa pejuang lainnya antara lain, Anthony Rhebok, Thomas Pattiwael dan seorang pejuang putri Christina Martha Tiahahu
2.3  Proses Perlawanan
Serangan pertama terhadap Belanda dilancarkan pada malam hari tanggal 18 Mei 1817.Serangan ini berhasil dengan dibakarnya perahu-perahu pos di Porto (pelabuhan). Keesokan harinya mereka menyerang Benteng Duurstede dan berhasil merebutnya. Pada saat itu Residen Van Den Berg beserta keluarga dan pengawalnya yang ada di benteng berhasil dibunuh.
Benteng Duurstede
Untuk membalas dan merebut kembali benteng Duurstede, Belanda mendatangkan bala bantuan dari Ambon ke Haruku pada tanggal 19 Mei 1817. Bantuan itu berkekuatan 200 orang prajurit dan dipimpin oleh seorang mayor. Mereka memusatkan kekuatan di benteng Zeelandia.
Raja-raja di Maluku mengerahkan rakyatnya untuk menyerang benteng Zeelandia. Belanda menerobos kepungan rakyat dan melanjutkan perjalanan ke Saparua. Terjadi pertempuran sengit di Saparua. Banyak jatuh korban dipihak tentara Belanda. Dengan demikian berhasillah pasukan Pattimura mempertahankan benteng Duurstede.
Kemenangan yang gemilang ini menambah semangat juang rakyat Maluku, sehingga perlawanan meluas ke daerah lain seperti Seram, Hitu dan lain-lain. Perlawanan rakyat di Hitu, ditangani oleh Ulupaha (80 tahun). Karena pengkhianatan terhadap bangsa sendiri, akhirnya Ulupaha terdesak dan tertangkap oleh Belanda. Pada bulan Juli 1817, Belanda mendatangkan bala bantuan berupa kapal perang yang dilengkapi dengan meriam-meriam. Benteng Duurstede yang dikuasai oleh Pattimura dihujani meriam-meriam yang ditembakkan dari laut. Akhirnya benteng Duurstede berhasil direbut kembali oleh Belanda. Pasukan Pattimura melanjutkan perjuangan dengan siasat perang gerilya.
Pada bulan Oktober 1817, Belanda mengerahkan pasukan besar-besaran untuk menghadapi Pattimura. Sedikit demi sedikit pasukan Pattimura terdesak. Akhirnya pada bulan November 1817, Belanda berhasil menangkap Pattimura, Anthonie Rhebok dan Thomas Pattiwael. Pada tanggal 16 Desember 1817, Kapitan Pattimura dan teman-teman menjalani hukuman gantung di depan benteng Neuw Victoria di Ambon. Sementara Kapitan Paulus Tiahahu ditembak mati dan putrinya Christina Martha Tiahahu diasingkan ke Pulau Jawa pada tanggal 2 Januari 1818 dan meninggal diatas kapal perang Eversten. Christina meninggal diusia 17 tahun. Jenazahnya diluncurkan di Laut Banda. Atas jasa-jasanya, Pemerintah memberi gelar Pahlawan Nasional kepada Kapitan Pattimura dan Christina Martha Tiahahu.
2.4  Akhir Perlawanan
Di sebuah rumah di Siri Sori, Kapitan Pattimura berhasil ditangkap pasukan Belanda. Bersama beberapa anggota pasukannya, dia dibawa ke Ambon. Di sana beberapa kali dia dibujuk agar bersedia bekerjasama dengan pemerintah Belanda namun selalu ditolaknya. Akhirnya dia diadili di Pengadilan kolonial Belanda dan hukuman gantung pun dijatuhkan kepadanya. Walaupun begitu, Belanda masih berharap Pattimura masih mau berobah sikap dengan bersedia bekerjasama dengan Belanda. Satu hari sebelum eksekusi hukuman gantung dilaksanakan, Pattimura masih terus dibujuk. Tapi Pattimura menunjukkan kesejatian perjuangannya dengan tetap menolak bujukan itu. Di depan benteng Victoria, Ambon pada tanggal 16 Mei 1817, eksekusi pun dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Notosusanto, Nugroho:Poesponegoro Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia  Jilid IV.  Jakarta: PN Balai Pustaka.
Suyono Capt.R.P. 2003. Peperangan Kerajaan di Nusantara. Jakarta:PT Gramedia
Hanna, Williard. 1996. Ternate dan Tidore. Jakarta : PT Penebar Swadaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar