Selasa, 17 Mei 2016

SEJARAH KERAJAAN MAJAPAHIT

Arif Firman Syaputra / E / S

A.    Awal Mula Terbentuknya Kerajaan Majapahit
Awal Terbentuknya Kerajaan Majapahit terjadi pada saat serangan Jayakatwang yang merupakan seorang adipati dari Kediri. Raden Wijaya bertugas menghadang bagian utara, ternyata serangan yang lebih besar justru dilancarkan dari selatan. Maka ketika Raden Wijaya kembali ke Istana, ia melihat Istana Kerajaan Singasari hampir habis dilalap api dan mendengar Kertanegara telah terbunuh bersama pembesar-pembesar lainnya.
Akhirnya ia melarikan diri bersama sisa-sisa tentaranya yang masih setia dan dibantu penduduk desa Kugagu. Setelah merasa aman ia pergi ke Madura meminta perlindungan dari Arya wiraraja. Atas saran Arya Wiraraja, Jayakatwang memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanegara, yang datang menyerahkan diri. Kemudian, Wiraraja mengirim utusan ke Daha, yang membawa surat berisi pernyataan, Raden Wijaya menyerah dan ingin mengabdi kepada Jayakatwang. Jawaban dari surat di atas disambut dengan senang hati. Raden Wijaya kemudian diberi hutan Tarik. Ia membuka hutan itu dan membangun desa baru. Desa itu dinamai Majapahit, yang namanya diambil dari "buah maja", dan rasa "pahit" dari buah tersebut.
Ketika tentara Mongol datang ke Jawa dengan dipimpin Shih-Pi, Ike-Mise, dan Kau Hsing dengan tujuan menghukum Kertanegara yang telah menghina utusan dari Kubilai Khan, maka Raden Wijaya memanfaatkan situasi itu untuk bekerja sama menyerang Jayakatwang. Setelah Jayakatwang terbunuh, tentara Mongol berpesta pora merayakan kemenangannya. Kesempatan itu pula dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk berbalik melawan tentara Mongol, sehingga tentara Mongol terusir dari Jawa dan pulang ke negerinya.
Tanggal pasti yang digunakan sebagai tanggal kelahiran kerajaan Majapahit adalah hari penobatan Raden Wijaya sebagai raja, yaitu tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 saka yang bertepatan dengan tanggal 10 november 1293. Ia dinobatkan dengan nama resmi Kertarajasa Jayawardhana.

B.     Raja-Raja Majapahit Dari Awal Berdiri, Kejayaan, Hingga Keruntuhannya
Kertajasa Jawardhana (1293 – 1309) atau Raden Wijaya Merupakan pendiri dari kerajaan Majapahit, pada masa pemerintahannya, Raden Wijaya dibantu oleh mereka yang turut berjasa dalam merintis berdirinya Kerajaan Majapahit, Aryawiraraja yang sangat besar jasanya diberi kekuasaan atas sebelah Timur meliputi daerah Lumajang dan Blambangan. Raden Wijaya memerintah dengan sangat baik dan bijaksana. Susunan pemerintahannya tidak berbeda dengan susunan pemerintahan Kerajaan Singasari.
Raja Jayanegara (1309-1328) atau Kala Gemet naik tahta menggantikan ayahnya dengan gelar Sri Jayanegara. Pada Masa pemerintahannnya banyak ditandai dengan pemberontakan-pemberontakan. Misalnya pemberontakan Ranggalawe 1231 saka, pemberontakan Lembu Sora 1233 saka, pemberontakan Juru Demung 1235 saka, pemberontakan Gajah Biru 1236 saka, Pemberontakan Nambi, Lasem, Semi, Kuti dengan peristiwa Bandaderga. Pemberontakan Kuti adalah pemberontakan yang berbahaya dan hampir meruntuhkan Kerajaan Majapahit. Namun semua itu dapat diatasi. Raja Jayanegara dibunuh oleh tabibnya sendiri yang bernama Tanca. Tanca akhirnya dibunuh pula oleh Gajah Mada.
Tribuwana Tunggadewi (1328 – 1350) setelah Raja Jayanegara meninggal tanpa meninggalkan seorang putrapun, seharusnya yang menjadi raja adalah Gayatri, tetapi karena ia telah menjadi seorang Bhiksu maka digantikanlah oleh putrinya yang bernama Bhre Kahuripan dengan gelar Tribuwana Tunggadewi, dalam pemerintahannya, Bhre Kahuripan dibantu oleh suaminya yang bernama Kartawardhana. Pada tahun 1331 timbul pemberontakan yang dilakukan oleh daerah Sadeng dan Keta (Besuki). Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh Gajah Mada yang pada saat itu menjabat sebagai Patih Daha. Atas jasanya ini, Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Kerajaan Majapahit menggantikan Pu Naga. Gajah Mada kemudian berusaha menunjukkan kesetiaannya, ia bercita-cita menyatukan wilayah Nusantara yang dibantu oleh Mpu Nala dan Adityawarman. Pada tahun 1339, Gajah Mada bersumpah tidak makan Palapa sebelum wilayah Nusantara bersatu. Sumpahnya itu dikenal dengan Sumpah Palapa, adapun isi dari amukti palapa adalah sebagai berikut :"Lamun luwas kalah nusantara isum amakti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, ring Sunda, ring Palembang, ring Tumasik, samana sun amukti palapa". Kemudian Gajah Mada melakukan penaklukan-penaklukan.
Hayam Wuruk (1350-1389) naik tahta pada usia yang sangat muda yaitu 16 tahun dan bergelar Rajasanegara. Di masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk yang didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, kerajaan Majapahit mencapai masa kejayaan atau keemasannya. Dari Kitab Negerakertagama dapat diketahui bahwa wilayah kekuasaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, hampir sama luasnya dengan wilayah Indonesia yang sekarang, bahkan pengaruh kerajaan Majapahit sampai ke negara-negara tetangga.
Satu-satunya daerah yang tidak tunduk kepada kekuasaaan Majapahit pada saat itu adalah kerajaan Sunda yang saat itu dibawah kekuasaan Sri baduga Maharaja. Hayam Wuruk bermaksud mengambil putri Sunda untuk dijadikan permaisurinya. Setelah putri Sunda (Diah Pitaloka) serta ayahnya Sri Baduga Maharaja bersama para pembesar Sunda berada di lapangan Bubat, Gajah Mada melakukan tipu muslihat, Gajah Mada tidak mau perkawinan Hayam Wuruk dengan putri Sunda dilangsungkan begitu saja. Ia menghendaki agar putri Sunda dipersembahkan kepada Majapahit (sebagai upeti). Maka terjadilah perselisihan paham dan akhirnya terjadinya perang Bubat. Banyak korban dikedua belah pihak, Sri Baduga gugur, sedangkan putri Sunda bunuh diri.
Tahun 1364 Gajah Mada meninggal, Kerajaan Majapahit kehilangan seorang mahapatih yang tak ada duanya. Untuk memilih penggantinya bukan suatu pekerjaan yang mudah. Dewan Sapta Prabu yang sudah beberapa kali mengadakan sidang untuk memilih pengganti Gajah Mada akhirnya memutuskan bahwa Patih Hamungkubhumi Gajah Mada tidak akan diganti. Untuk mengisi kekosongan dalam pelaksanaan pemerintahan, diangkat Mpu Tandi sebagai Wridhamantri, Mpu Nala sebagai menteri Amancanegara dan patih dami sebagai Yuamentri. Kemudian Raja Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389.
Wikramawardhana (1389-1427), Putri mahkota Kusumawardhani yang naik tahta menggantikan ayahnya bersuamikan Wikramawardhana. Dalam prakteknya Wikramawardhana lah yang menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan Bhre Wirabhumi anak Hayam Wuruk dari selir, karena Bhre Wirabhumi (Putri Hayam Wuruk) dari selir maka ia tidak berhak menduduki tahta kerajaan walaupun demikian ia masih diberi kekuasaan untuk memerintah di Bagian Timur Majapahit , yaitu daerah Blambangan.

"Kusumawardhani merupakan anak dari permaisuri Raja Hayam Wuruk, sehingga dirinya yang berhak mewarisi tahta kerajaan, Kusumawardhani juga sering disebut dengan sebutan Bhre Lasem, sedangkan suaminya Wikramawardhana menjabat sebagai Kepala Pengadilan Tinggi di Kerajaan Majapahit."(Abimanyu, Soedjipto:2014,226).

Pada masa inilah kerajaan Majapahit mulai mengalami kemundurannya. Perebutan kekuasaan antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabhumi disebut perang Paregreg. Disini Tiongkok mengetahui bahwa perang saudara itu melemahkan Majapahit, sehingga Tiongkok segera berusaha memikat daerah-daerah luar Jawa untuk mengakui kedaulatannya. Misalnya Kalimantan Barat yang dalam tahun 1368 telah diganggu oleh bajak laut dari Sulu sebagai alat dari Kaisar Tiongkok, sejak tahun 1405 tunduk kepada Tiongkok. Juga Palembang dan Malayu di tahun yang sama, mengarahkan pandangannya ke Tiongkok dengan tidak menghiraukan Majapahit. Malaka sebagai pelabuhan dan kota dagang penting yang dulunya dibawah kekuasaan majapahit, juga dianggap majapahit sudah hilang.
Setelah wafatnya Wikramawardhana di tahun 1429 sampai sekitar 1522 tidak banyak diketahui tentang Majapahit, Yang nyata, Majapahit yang tadinya telah mempersatukan Nusantara semakin suram dan makin pudar. Hal itu ditandai dengan terjadinya perang saudara antar keluarga raja, hilangnya kekuasaan pusat di daerah, dan adanya penyebaran agama Islam yang sejak sekitar tahun 1400 berpusat di Malaka, serta timbulnya kerajaan-kerajaan Islam yang menentang kedaulatan Majapahit semakin melemahkan kerajaan tersebut.
Suhita (1429-1447) merupakan raja yang memerintah Majapahit setelah Wikramawardhana. Masa pemerintahannya ditandai berkuasanya kembali anasir-anasir Indonesia, antara lain didirikannya berbagai tempat pemujaan dengan bangunan-bangunan yang disusun sebagai punden berundak-undak di lereng-lereng gunung ( misalnya Candi Sukuh dan Candi Ceta di lereng gunung Lawu). Selain itu terdapat pula batu-batu untuk persajian, tugu-tugu batu seperti menhir, gambar-gambar binatang ajaib yang memiliki arti sebagai lambang tenaga gaib, dan lain-lain.
            Suhita digantikan oleh adik tirinya, Kertawijaya (1447-1451). Kemudian cerita sejarah dan pergantian raja-rajanya setelah 1451 tidak dapat diketahui dengan pasti. dari kitab Pararaton dikenal Raja Suwardhan(1451-1453) sebagai pengganti Kertawijaya, tetapi ia berkeraton di Kahuripan. Tiga tahun tanpa raja, lalu dilanjutkan oleh Bre Wengker (1456-1466) bergelar Hyang Purwawisesa. Di tahun 1466 ia digantikan oleh Bhre Pandansalas yang nama aslinya Suraprabhawa dan bernama resmi Singhawikramawardhana, berKaraton di Tumapel selama 2 (dua) tahun. Dalam tahun 1468 ia terdesak oleh Brawijaya V atau Kertabumi (anak bungsu Rajasawardhana), yang kemudian berkuasa di Majapahit.
Kertabumi atau Brawijaya V (1474-1478), pada masa pemerintahannya juga tidak luput dari perebutan kekuasaan. Pada masa ini juga, Kesultanan Demak Menyerang Kerajaan Majapahit. Akhirnya Majapahit tunduk dan menjadi Negara bagian dari Kesultanan Demak. Namun pada tahun 1527 Girindrawardhana sebagai penguasa Majapahit mencoba menjalin hubungan dengan Portugis sehingga Majapahit diserang untuk yang kedua kalinya oleh Kesultanan Demak, alhasil Kerajaan Majapahit benar-benar Runtuh..

"Setelah kekuasaan Kertabhumi berakhir, Majapahit jatuh dalam kekuasaan Jim bun atau Raden Patah, Sultan Demak. Periode setelah 1478 merupakan periode Past Periode Kerajaan Majapahit sebagai Negara bawahan kesultanan Demak. Pada masa ini, ada 2 penguasa majapahit yang dapat diketahui, yakni Njoo Lai Wa seorang Tioghoa yang ditunjuk oleh Raden Patah dan Dyah Ranawijaya (menantu Raja Kertabhumi sekaligus adik ipar raden patah). Dyah Ranawijaya naik tahta dengan gelar Abhiseka Girindrawardhana dan memerintah sampai tahun 1527. Selama 40 tahun Girindrawardana memerintah dan mengadakan hubungan dengan orang-orang portugis di Malaka, akhirnya Majapahit untuk yang kedua kalinya di serang oleh Kerajaan Demak, sehingga Majapahit memang benar-benar hancur."(Abimanyu, Soedjipto:2014,232).

C.    Kegiatan Ekonomi Kerajaan Majapahit
Berdasarkan analisis yang penulis dapatkan dari beberapa sumber, sektor perekonomian yang menjadi andalan Kerajaan Majapahit ada 2, yakni Sektor agraris dan sector perdagangan kemaritiman. Kemakmuran Majapahit di bidang perekonomian ini dapat tercapai juga disebabkan oleh dua  faktor. Faktor pertama yaitu, sector agraris yang maju terutama dalam pertanian padi. Hal ini dkarenakan kerajaan majapahit mempunyai daerah yang subur di lembah sungai Bengawan Solo dan Lembah Sungai Brantas sehingga sangat cocok untuk Pertanian Masyarakat.

"Pertanian padi merupakan jenis pertanian andalan kerajaan majapahit, yang dibuktikan dengan Prasasti Trailokyapuri dimana dituliskan didalamnya pembuatan tanggul-tanggul sungai, pembuatan waduk, dam yang berfungsi untuk menigkatkan hasil pertanian dan menanggulangi bencana banjir."(Haryono, Timbul:1997,108).

Faktor kedua; pelabuhan-pelabuhan Majapahit di pantai utara Jawa berperan penting sebagai pelabuhan pangkalan untuk mendapatkan komoditas Pajak yang dikenakan pada komoditas rempah-rempah yang melewati Jawa merupakan sumber pemasukan penting bagi Majapahit. Kitab Nagarakretagama menyebutkan bahwa kemashuran penguasa Majapahit telah menarik banyak pedagang asing, di antaranya pedagang dari India, Khmer, Siam dan China. Selain itu, menurut Prasasti Canggu yang berangka tahun 1358 menyebutkan sebanyak 78 titik perlintasan berupa tempat perahu penyeberangan di dalam negeri Jawa. Prasasti dari masa Majapahit menyebutkan berbagai macam pekerjaan dan spesialisasi karier, mulai dari pengrajin emas dan perak, hingga penjual minuman, dan jagal atau tukang daging. Meskipun banyak di antara pekerjaan-pekerjaan ini sudah ada sejak zaman sebelumnya, namun proporsi populasi yang mencari pendapatan dan bermata pencarian di luar pertanian semakin meningkat pada era Majapahit.
Menurut catatan Wang Ta-yun, pedagang tiongkok, komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada, garam, kain, dan burung kakak tua, sedangkan komoditas impornya adalah mutiara, emas, perak, sutra, barang keramik, dan barang dari besi. Mata uangnya dibuat dari campuran perak, timah putih, timah hitam, dan tembaga. Selain itu, catatan Odorico da Pordenone, biarawan Katolik Roma dari Italia yang mengunjungi Jawa pada tahun 1321, menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dengan perhiasan emas, perak, dan permata.  

"Perekonomian Majapahit dalam sektor perdagangan bukan hanya terjadi antar pulau, tetapi juga mencakup Perdgangan linternasional, hal itu ditandai dengan Pelabuhan-pelabuhan Armada Kerajaan Majapahit di Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo. Selain itu Kerajaan  Majapahit juga mempunyai tempat-tempat penyeberangan yang terdiri atas Canggu, Trung, dan Surabaya."(Haryono, Timbul:1997,108)

D.    Wilayah Kekuasaan Kerajaan Majapahit Pada Masa Kejayaannya
Sebagaimana telah diceritakan sebelumnya, Dalam sejarah pembentukannya, kerajaan Majapahit merupakan kelanjutan Singasari. Kerajaan ini terdiri atas beberapa kawasan tertentu di bagian timur dan bagian tengah Jawa.  Berdasarkan isi yang terdapat dalam Prasasti Wingun Pitu (1447 M) disebutkan bahwa pemerintahan Majapahit dibagi menjadi 14 daerah bawahan, yang dipimpin oleh seseorang kerabat dekat kerajaan yang bergelar Bhre atau Bhatara I (gelar tertinggi bangsawan kerajaan). Daerah-daerah bawahan tersebut, yaitu Daha, Kahuripan, Kembang Jenar, Singaphura, Wengker, Jagaraga, Keling, Matah, Tanjungpura, Wirabumi, Kabalan, Kelinggapura, Pajang, dan Tumapel.

"dalam buku Nagarakertagama pupuh XIII-XV, daerah Kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura), dan sebagian kepulauan Filiphina, sumber ini menunjukkan batas terluas sekalius puncak kejayaan Kerajaan Majapahit." (Abimanyu, Soedibjo:2014,290)

Saat Majapahit memasuki era Kemaharajaan tepatnya pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, beberapa negara bagian di luar negeri juga termasuk dalam lingkaran pengaruh Majapahit, sebagai hasilnya, konsep teritorial yang lebih besar pun terbentuk, yaitu :
1.       Negara Agung, atau Negara Utama, inti kerajaan. Area awal Majapahit atau Majapahit Lama selama masa pembentukannya sebelum memasuki era kemaharajaan. Yang termasuk area ini adalah ibukota kerajaan dan wilayah sekitarnya dimana raja secara efektif menjalankan pemerintahannya. Area ini meliputi setengah bagian timur Jawa, dengan semua provinsinya yang dikelola oleh para Bhre (bangsawan), yang merupakan kerabat dekat raja.
2.       Mancanegara, area yang melingkupi Negara Agung. Area ini secara langsung dipengaruhi oleh kebudayaan Jawa, dan wajib membayar upeti tahunan. Akan tetapi, area-area tersebut biasanya memiliki penguasa atau raja pribumi, yang kemungkinan membentuk persekutuan atau menikah dengan keluarga kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit menempatkan birokrat dan pegawainya di tempat-tempat ini dan mengatur kegiatan perdagangan luar negeri mereka dan mengumpulkan pajak, namun mereka menikmati otonomi internal yang cukup besar. Wilayah Mancanegara termasuk di dalamnya seluruh daerah Pulau Jawa lainnya, Madura, Bali, dan juga Dharmasraya, Pagaruyung, Lampung dan Palembang di Sumatra.
3.       Nusantara, adalah area yang tidak mencerminkan kebudayaan Jawa, tetapi termasuk ke dalam koloni dan mereka harus membayar upeti tahunan. Mereka menikmati otonomi yang cukup luas dan kebebasan internal, dan Majapahit tidak merasa penting untuk menempatkan birokratnya atau tentara militernya di sini; akan tetapi, tantangan apa pun yang terlihat mengancam ketuanan Majapahit atas wilayah itu akan menuai reaksi keras. Termasuk dalam area ini adalah kerajaan kecil dan koloni di Maluku, Kepulauan Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.
4.       Mitreka Satata, yang didefinisikan sebagai hubungan diplomatik luar negeri, secara harfiah berarti "mitra dengan tatanan (aturan) yang sama". Hal itu menunjukkan negara independen luar negeri yang dianggap setara oleh Majapahit, bukan sebagai bawahan dalam kekuatan Majapahit. Menurut Negarakertagama pupuh 15, bangsa asing adalah Syangkayodhyapura (Ayutthaya di Thailand), Dharmmanagari (Kerajaan Nakhon Si Thammarat), Marutma, Rajapura dan Sinhanagari (kerajaan di Myanmar), Kerajaan Champa, Kamboja (Kamboja), dan Yawana (Annam). Mitreka Satata dapat dianggap sebagai aliansi Majapahit, karena kerajaan asing di luar negeri seperti China dan India tidak termasuk dalam kategori ini meskipun Majapahit telah melakukan hubungan luar negeri dengan kedua bangsa ini.



DAFTAR PUSTAKA

Abimanyu, Soedjipto.2014. Babad Tanah Jawi. Yogyakarta: Laksana.

Haryono, Timbul.1997. Jurnal Humaniora: Artikel Kerajaan Majapahit Masa Sri Rajasanagara sampai Girindrawardhana [online], Vol 5, 7 halaman. Tersedia : http//jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1902 [11 April 2016].

Revianur, Aditya.2012, 5 Desember.  Artikel Majapahit Jajah hingga Semenanjung Malaya. Kompas.com [online], halaman 1.Tersedia: http://sains.kompas.com/read/2012/12/05/19045066/Majapahit-Jajah-hingga-Semenanjung-Malaya  [11 April 2016].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar