Selasa, 17 Mei 2016

PENDIDIKAN DI JERMAN


ARMESWARI HARIS/SP/B

A.    Gambaran Tradisi Keilmuwan di Jerman
Tradisi keilmuwan masyarakat di Jerman sudah dimulai bahkan sejak sebelum Revolusi Industri di Inggris. Pada saat itu, Jerman telah berlomba-lomba secara sehat dengan universitas di berbagai negara dan telah menunjukkan kualitasnya. Orang-orang Jerman telah banyak membuka  universitas-universitas baru di samping upaya untuk mempertahankan universitas tua yang sudah ada. Bahkan, mereka juga mendirikan sekolah-sekolah tekhnik baru atau Technisches Hochschulen yang dipolakan mengikuti acole Polytechnique untuk memenuhi kebutuhan industri dan komersial masyarakat.

Pada saat yang sama juga didirikan laboratorium-laboratorium yang saling berkompetisi secara efektif. Beberapa ilmuwan juga mendirikan laboratorium-laboratorium di tempat tinggal mereka seperti Henry Rose, Gustav Magnus, yang paling terkenal adalah laboratorium Justus Liebig di Universitas Giessen. Para ilmuwan ini ada di banyak kota-kota di Jerman dan bahkan di dukung oleh raja kala itu sehingga terbentuklah masyarakat ilmuwan di Jerman yang disebut Gesellschaft Deutscher Naturforscher und Artze. Dengan konsep yang demikian akhirnya timbullah kultur masyarakat yang dinamis dan memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan.
Kerja serius dari para ilmuwan ini akhirnya mendapatkan perhatian publik dan pemerintah sehingga mendapatkan dukungan finansial dari berbagai pihak. Dengan kondisi sistemik yang ideal dalam pendidikan inilah Jerman dapat menghasilkan banyak ahli kimia profesional kelas dua dan tiga yang dapat bekerja di industri. Hal inilah yang kemudian membuat Jerman dapat mengambil alih kepemimpinan dalam industri pewarnaan (celup) dengan memulai sains terapan  yaitu antara tahun 1858 dan 1862. Pada tahun 1870 akhirnya Jerman juga mampu memimpin industri listrik, baja, minyak, kimia, dan mesin pembakaran internal dengan didukung oleh sistem pendidikan yang mengakomodir keahlian peserta didik.

B.     Pendidikan di Jerman Masa Kini
Secara keseluruhan terdapat 324 institusi pendidikan tinggi yang tersebar di seluruh Jerman. Universitas dibangun atas prinsip "kesatuan antara penelitian dan pengajaran" dan memiliki reputasi internasional yang baik. Dalam kapasitasnya sebagai universitas yang modern, universitas mengkombinasikan riset murni dan terapan. Perjanjian kerjasama lintas disiplin ilmu dengan lembaga kerjasama multinasional dan institusi penelitian sudah jamak dilakukan. Hal ini akan memperkuat daya saing lulusan universitas.
Jumlah Fachhochschule (FH) atau University of Applied Science di Jerman cukup banyak. FH memberikan pelatihan akademis profesional yang berkualitas tinggi bagi mereka yang tidak mengejar karir dalam ilmu murni. Di samping penyampaian teori, FH juga menitikberatkan praktek yang dilakukan mahasiswa FH di perusahaan atau organisasi pelayanan sosial.

C.    Kebijakan Pendidikan di Jerman
1.      Struktur Pendidikan
Di beberapa Lander, sekolah dasar dibagi menurut aliran keagamaan dari orang tua. Hubungan antara gereja Katholik dengan pihak sekolah di tiap Lander ditentukan oleh perjanjian yang disepakati dengan pihak Vatikan. Di beberapa Lander terdapat pemisahan pembelajaran keagamaannya diberikan menurut aliran keagamaan para murid-nya. Berdasarkan undang-undang yang berlaku, pelajaran keagamaan merupakan bagian dari kurikulum semua sekolah.
2.      Pendidikan Prasekolah
Pendidikan prasekolah dilaksanakan secara sukarela (oleh yayasan swasta, pen). Kebanyakan taman kanak-kanak (kindergarten) bagi anak-anak usia tiga dan enam tahun dilaksanakan oleh lembaga swasta dan pihak gereja, serta disupervisi oleh pejabat sosial, yakni para menteri dan badan kesejahteraan sosial.
Sedangkan di Jerman timur, anak mulai bersekolah melalui permainan, anak dapat memperoleh pengetahuan. Anak belajar untuk bekerja sama, saling menolong, dan mengerjakan tugas yang telah diberikan. Ketangkasan manualnya, imajinasi kreatif, dan daya rasa anak diwujudkan melalui lukisan, menyanyi, seni, dan keterampilan. Perkembangan fisik dan kesehatan  ditumbuhkan melalui permainan dan aktivitas atlentik yang sesuai.
3.      Pendidikan Dasar
Sekolah dasar (Grundschule) wajib dilalui oleh semua anak. Lamanya berkisar antara 4 hingga 6 tahun. Pelajaran yang diberikan adalah agama, bahasa jerman, menyanyi, geografi, aritmatika, pendidikan fisik, seni kreativitas, dan sains. Bagi perempuan diberikan pelajaran menjahit.
Sedangkan di Jerman Timur sekolah rendah dalam sekolah menengah politeknik umum menekannkan pada kemampuan dasar membaca, menulis, keterampilan bahasa secara umum, aritmatika, dan prinsip dasar tentang alam semesta, serta mengenai kehidupan dan pekerjaan di negara sosialis.
4.      Pendidikan Menengah
Murid sekolah hingga usia 15 tahun. Mereka dapat masuk ke salah satu dari tiga jenis sekolah, yaitu sekolah umum (Hauptschulen), sekolah intermediate (Realschule), atau sekolah menengah klasik (Gymnasium).
Di Jerman timur, siswa tingkat 9 hingga 11 melanjutkan pendidikan umum dan kejuruan mereka dikelas khusus selama tiga tahun. Mereka lalu diberi sertifikat kejuruan, sebuah pengakuan bagi mereka yang telah mencapai tingkat pengembang bidang kejuruan. Mereka juga mengikuti Abitur, yakni ujian akhir akademik yang menjadikan mereka sah untuk mendaftar belajar lembaga pendidikan tinggi.
5.      Pendidikan Teknik dan Kejuruan
Pendidikan kejuruan memiliki tradisi yang lama di Jerman barat. Umumnya, tiga jenjang sekolah dapat dibedakan sebagai berikut: sekolah kejuruan paro waktu (part-time), yakni Berufsschulen; penuh waktu (full-time), yakni Berufsfachschulen, sekolah teknik (fachschulen); dan sekolah teknik lanjutan (Hohere Fachschulen, Akademien).
6.      Pendidikan Tinggi
Lembaga pendidikan tinggi meliputi universitas, universitas teknik, sekolah tinggi teologi, sekolah tinggi pelatihan guru, serta akademik seni, musik dan olahraga. Persyaratan pendaftaran bagi semua institusi, kecuali beberapa akademik seni dan musik adalah menyerahkan sertifikat  Abitur. Universitas bekerja menurut empat prinsip dasar, yaitu melaksanakan pengaturan administrasi akademik sendiri, berhubungan dengan peneliti mengajar, kebebasan meneliti dan mengajar dari pengaruh politik dan ideologi, dan kebebasan para mahasiswa untuk memilih kuliah aturan yang seminim mungkin. Universitas tradisional diorganisasikan menjadi beberapa fakultas atau jurusan dan dikelola oleh rektor atau presiden yang dipilih oleh senat (baik yang mewakili fakultas maupun mahasiswa). Sedangkan, universitas moderen diorganisasikan menjadi beberapa jurusan yang dipimpin oleh presiden (di Indonesia disebut Rektor).
Di Jerman Timur universitas merupakan tahapan tangga pendididkan tertinggi. Pendidikan tinggi bisa ditempuh oleh mahasiswa usia lebih dari 35 tahun. Disini ujian masuk tetap diperlukan. Sebuah komite diperlukan untuk menyeleksi mahasiswa calon mahasiswa yang berhasil lulus ujian, lalu memberikan pilihan kepada mereka yang memiliki pendidikan kejuruan yang utuh, serta pelayanan menwa. Kuliah sore hari bagi mahasiswa paro waktu juga diberikan di sebagian universitas.
7.      Pelatihan Guru
Pelatihan semua guru, kecuali para guru taman kanak-kanak, dilaksanakan di universitas dan lembaga pendidikan tinggi. Untuk seluruh tipe guru, pelatihan akademik diarahkan untuk mengikuti ujian negara ang pertama. Pendahuluan praktik mengajar, tahapan pelatihan guru (referendarzeit, vorbereitungsdienst), biasanya memerlukan waktu dua tahun dan diarahkan untuk mengikuti ujian yang kedua. Guru yang prospektif melaksanakan sekurang-kurangnya dua kuliah pokok dan beberapa kuliah tambahan di bidang filsafat, psikolog pendidikan dan sosiologi. Persiapan mengajar (Referendariat) berakhir selama setengah tahun dan dibentuk di lembaga khusus (Studienseminare). Selama pelayanan persiapannya ini Referendar diberi izin untuk memperoleh sedikitnya sepertiga bagian dari gaji awalnya.

Dapat disimpulkan bahwa sistem pendidikan di Negara Jerman masih diwarnai dengan konsep sosialisme dengan kesamarataan dan kesamarasaan yang mendasari ide ini. Di samping itu, pendidikan di Jerman ini merupakan suatu hal yang dibangun atas landasan kultur profesionalisasi pendidikan yang didukung oleh lembaga pemerintahan dan industri sehingga pada titik tertentu akan membawa kepada arah profesionalisasi sains sehingga terbentuk sebuah kemajuan bangsa.
Pendidikan di Jerman disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan seorang anak. Pada jenjang dasar, siswa hanya diajarkan keilmuwan dasar, dan keterampilan. Di Jerman pembelajaran yang demikian sesuai dengan tingkat pertumbuhan anak dapat diartikan sebagai sebuah pembelajaran yang mendalam untuk kemudian dilanjutkan pada sekolah selanjutnya.




Daftar Pustaka

Akdogan, Cemil. 2005. Asal Usul Sains Modern dan Kontribusi Muslim, dalam IslamiaJurnal Pemikiran dan Peradaban Islam Edisi Tahun II No 5. Jakarta: Khairul Bayan.
Assegaf, Abd. Rachman. 2003. Internasionalisasi Pendidikan: Sketsa Perbandingan Pendidikan di Negara-Negara Islam dan Barat. Jakarta: Gama Media.
German Academic Exchange Service (Dinas Pertukaran Akademis Jerman), Tanya Jawab, dalam www.daadjkt.org, diakses pada tanggal 25 maret 2013 pukul 10.18 WIB.
Hardjanti, Rani. 20 Negara dengan Tingkat Pendidikan Tertinggi di Dunia, dalam http://kampus.okezone.com, diakses pada tanggal 25 Maret 2013 pukul 10.09 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar