Selasa, 08 Oktober 2013

KEHIDUPAN SUKU LAUT MASA KINI

MARA ANJANI / SR

Masyarakat paling asli di Kepulauan Riau adalah Orang Laut. Masyarakat ini memiliki peran khusus dalam sejarah karena daerahnya meliputi ratusan pulau dengan perairan yang sangat rumit tepat di bibir selat Malaka. Pihak yang menguasai wilayah ini juga menguasai arus perdagangan lewat selat yang amat strategis ini. Dukungan dari masyarakat asli kepulauan – dulu disebut sebagai Orang Pesukuan – pada momen tertentu dalam sejarah telah merupakan faktor penting bagi pihak yang merebut daerah ini. Ternyata, berkembang suatu sistem yang secara simbolis mengikat suku-suku Laut kepada kerajaan di daerah ini lewat kerahan atau tugas yang statusnya berbeda-beda. Akibatnya, suku-suku Laut di kepulauan termasuk pada hierarki sosial, di mana lapisan teratasnya terasimilasi pada jati diri orang Melayu melalui Islam.
Orang Laut yang masih asli adalah lapisan terendah dan hingga sekarang masih dio kucilkan, walaupun telah menetap di Pantai. Pencaharian mereka adalah memanfaatkan ikan-ikan di karang dengan tombak, paning, mencari teripang, berburu duyung, bahkan memburu mangsa di hutan dengan bantuan anjing peliharaan. Sumberdaya dan kondisi kerja mereka sangat dipengaruhi musim, sehingga masyarakat ini pada dasarnya hidup berkelana di sampan. Pada musim tertentu biasanya saat hasil laut berkurang mereka bekerja menebang bakau untuk dapur arang. Ada kelompok yang akhirnya menggantungkan hidup pada pekerjaan ini dan menjadi kelompok masyarakat menetap.
Hidup berkelana di Laut adalah sejarah masyarakat suku Laut. Dengan sampan berkajang yang berfungsi sebagai rumah dan lambing kesatuan sebuah keluarga, kehidupan seperti itu berlangsung berabad lamanya. Semua aktifitas kehidupan berlangsung di dalam sampan dengan laut sebagai pemenuh segala kebutuhan hidup.
Sebutan lain untuk Orang Laut adalah Orang Selat. Orang Laut kadang-kadang dirancukan dengan suku bangsa maritim lainnya, Orang Lanun . Secara historis, Orang Laut dulunya adalah perompak, namun berperan penting dalam Kerajaan Sriwijaya, Kesultanan Malaka dan Kesultanan Johor. Mereka menjaga selat-selat, mengusir bajak laut, memandu para pedagang ke pelabuhan Kerajaan-kerajaan tersebut, dan mempertahankan hegemoni mereka di daerah tersebut
Sampai pada sekitar dua puluhan tahun yang lalu, kelompok suku ini mendapat perhatian dari beberapa pihak yang berambisi merubah cara hidup mereka. Pihak pemerintah melalui Departemen Sosial dengan program PKMTnya, kelompok misionaris dengan ajaran agamanya, juga pihak lembaga swasta lainnya seperti K3S (Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial) yang berlomba memberikan sentuhan "peradaban" bagi kelompok masyarakat ini. Berdasarkan penilaian terhadap cara kehidupan yang selama ini dijalani, dua hal penting sebagai kriteria peradaban dalam misi tersebut adalah hidup menetap dan beragama.
Pemerintah melalui PKMT memberikan pembinaan untuk hidup menetap dan membangun rumah bagi mereka, sekaligus memasukkan mereka sebagai penganut Islam. Namun tidak semua kelompok suku ini terjaring dalam program tersebut. Program PKMT ada di Pulau Bertam dan Pulau Gara di kecamatan Belakang Padang, di Kampung Air Klubi, kecamatan Bintan Timur, di pulau Lipan, kecamatan Lingga, juga ada di SeiBuluh, kecamatan Singkep serta di Pulau Talas / Linau, kecamatan Senayang.
Kelompok lainnya di luar PKMT tersebar di kecamatan Belakang Padang dan Batam Timur, kotamadya Batam, di kecamatan Bintan Timur, Bintan Utara, Galang, Kundur, Lingga, Singkep dan Senayang yang termasuk wilayah Kepulauan Riau. Jumlah keseluruhan mereka saat ini sekitar 944 keluarga atau 4.970 jiwa. Mereka yang tidak tersentuh program itu umumnya mendapat perhatian dari kaum misionaris dengan kompensasi menjadi umat Kristen Katolik atau Protestan.
Ternyata gelombang peradaban itu justru menyeret mereka ke dalam arus dilemma kehidupan yang berkepanjangan. Hidup menetap dan beragama tidak lantas begitu saja mengangkat derajat kehidupan mereka sama seperti kelompok masyarakat lainnya. Orang-orang di sekitar mereka terutama orang Melayu yang merupakan kelompok mayoritas telah terlanjur menganggap kelompok ini sebagai kelompok terasing yang liar, kotor, bau dan memiliki ilmu hitam. Mereka yang dikenal dengan sebutan orang Mantang, Barok, Tambus dan orang Sampan menjadi kelompok yang tersingkir dari pergaulan sehari-hari dengan masyarakat lainnya.
Padahal dengan hidup bersama kelompok suku laut, nelayan-nelayan lain di sekitar mereka banyak mengetahui cara-cara memanfaatkan jenis biota laut tertentu yang menjadi andalan seperti gamang dan tripang. Berbagi pengetahuan dengan orang lain dengan sendirnya telah membuat mereka kehilangan kesempatan untuk sebanyak mungkin mendapat hasil laut.
Namun masih ada hal yang justru lebih buruk, yakni mengeksploitasi sumber daya laut dengan cara yang illegal. Seperti penggunaan pukat harimau, pemboman terumbu karang dan peracunan ikan. Kegiatan tersebut hampir terjadi di seluruh wilayah perairan kepulauan Riau yang berdampak buruk bagi perekonomian nelayan-nelayan tradisional. Permasalahan lingkungan lain adalah pencemaran air laut oleh limbah industri yang banyak tersebar di kotamadya Batam yang merupakan pusat industri. Pengerukan dasar laut oleh perusahaan galangan kapal, pertambangan bauksit, pertambangan timah dan pengerukan pasir laut wilayah perairan Kepulauan Riau.
Bagi nelayan tradisional temasuk suku laut kegiatan yang terus berlangsung itu, ancaman yang dapat menghancurkan kehidupan perekonomian mereka. Bila sebelum hidup menetap dapat pergi kemana saja mendapatkan rezeki, maka sekarang hal tersebut tidak dapat lagi dilakukan. Dengan sendirinya kehidupan sekarang telah membatasi ruang gerak mereka. Jarak yang dapat ditempuh menjadi terbatas karena adanya ikatan untuk kembali ke rumah. Ditambah lagi peralatan yang digunakan masih sangat sederhana. Sebagian besar dari mereka masih menggunakan sampan dan ada beberapa yang menggunakan pompon dengan kekuatan mesin yang relative kecil. Alat tangkap yang digunakan biasanya adalah pancing, jaring, tombak dan bambu.
Ketika desakan ekonomi semakin menghimpit, sebagian dari mereka terpaksa mencari solusi lain dengan pergi bertandang. Bertandang adalah kegiatan turun ke laut dengan sampan berkajang menuju tempat yang dianggap masih memiliki hasil lumayan terutama gamat dan teripang. Seluruh anggota keluarga di dalamnya dalam waktu berminggu-minggu lamanya. Tetapi kegiatan ini justru membuat citra mereka sebagai masyarakat terasing semakin sulit dihilangkan.
Mau tidak mau resiko itu terpaksa diterima, bahkan ada sekelompok orang Laut di Air Mas kecamatan Batam Timur yang dahulunya tetap mempertahankan budaya bertandang ini.Kelompok ini menghabiskan lebih banyak waktu dengan berpindah-pindah ke laut walaupun harus di pandang primitif oleh orang lain bahkan oleh kelompoknya sendiri, tidak ada pilihan lain untuk mempertahankan hidup. Hidup menetap-pun tidak membuat mereka lebih baik secara ekonomi maupun sosial.
Dalam bidang pendidikan bagi kelompok yang bertandang merupakan suatu masalah baru lagi bagi mereka. Secara umum tingkat pendidikan masyarakat suku Laut masih sangat rendah, sebagian besar mereka masih buta huruf. Bagi anak-anak suku laut bersekolah di sekolah umum di desa cenderung mendapat perlakuan yang deskriminatif. Guru sendiri terkadang sering memperlakukan mereka dengan kasar karena dianggap nakal. Hal ini menjadi trauma yang berkepanjangan sehingga mereka lebih memilih untuk tidak bersekolah.
Kalaupun ada sebagian beruntung yang tidak mendapat perlakuan buruk dari sekolah, maka kemerosotan ekonomi akan muncul sebagai kendala. Sekalipun mereka tidak memimpikan untuk mendapat pendidikan yang tinggi, yang utama adalah baca tulis saja. Agar dengan demikian mereka tidak semakin termarginal dalam segala hal. Tetapi dengan keadaan sosial ekonomi sekarang ini sulit bagi Suku Laut untuk menempuh jenjang pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
·         Rab, Tabrani, 2002. Nasib Suku Asli di Riau. Pekanbaru : Riau Cultural Institut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar