Rabu, 24 Juli 2013

REAKSI KERAJAAN GOWA TERHADAP VOC


Donal Manalu /A/ SI3
·        Latar belakang
Pada awalnya orang-orang belanda ketika datang ke kepulauan indonesia pada mulanya tidak begitu tertarik dengan kerajaan Gowa yang letaknya di kaki barat daerah sulawesi selatan. Belanda pada mulanya dalam perjalanan ke Timur sesudah berangkat dari pelabuhan-pelabuhan jawa mereka meneruskan perjalanan nya ke maluku. Belanda baru mengetahui pentingnya pelabuhan Gowa setelah kejadian di dekat perairan malaka. Dimana pihak belanda merampas kapal milik portugis yang ternyata memilki seorang awak kapal makassar. Dari orang makassar ini lah belanda mengetahui bahwa pelabuhan Gowa merupakan pelabuhan transito bagi kapal-kapal yang berlayar deri atau ke maluku. Selain itu setelah bertemu dengan kapal-kapal Gowa yang memuat orang-orang portugis tidak di serang oleh belanda. Hal ini di lakukan guna mencari kesan yang baik dengan raja Gowa. Pada saat itu belanda berkesimpulan bahwa pelabuhan Gowa sangat strategis karena terletak antara malaka dan maluku.
Kemudian belanda mencoba menjajagi hubungan dengan terlebih dahulu mengirim sepucuk surat yang dikirim dari banda kepada sultan Gowa. Isi dari surat itu adalah semata-mata tujuan belanda hanya ingin berdagang saja. Ahirnya raja Gowa mengundan belanda berkunjung ke pelabuhan Gowa, tetapi dengan tekanan bahwa belanda hanya boleh berdagang saja di Gowa. Raja Gowa tidak ingin kerajaanya menajdi tempat adu senjata antara orang asing yang datang berdagang disana.atas undangan raja gowa, pedagang belanda mulai dtang ke pelabuhan gowa untuk berdagang. Belanda pernah mengajak kerjaan gowa untuk menyerang Banda yang merupakan pusat rempah-rempah, tetapi raja gowa menolak hal tersebut. Anggota kompeni belanda sering melakukan kunjungan ke gowa. Meraka selalu membujuk raja gowa agar tidak menjual berasnya pada portugis. Akan tetapi raja gowa tidak ingin memmutuskan hubungan dagang dengan portugis karena di anggap menguntungkan. Bahkan raja gowa mengeluh karena kapal-kapal kompeni mulai melakukan penyerangan  ke maluku. Ahinya keadaan gowa dan belanda pun makin memburuk karena kedua-duanya mempunyai kepantingan yang sama dalam perdagangan. Karena itu suatu saat bentrokan antara ke duanya tidak dapat terelakkan.(Nugroho Notosutanto, 79 : 1992).
Beberapa penyebab timbulnya perselisihan belanda dengan kerajaan gowa di karenakan kelicikan orang belanda yang hendak menagih hutang dari pembesar-pembesar Gowa. Pembesar ini du undang ke kapal belanda untuk di jamu, akan tetapi mereka di lucuti oleh belanda. Hal ini yang membuat kebencian masyarakat makassar tidak senag dengan belanda. Sebagai balas dendam orang-orang makassar membunuh awak kapal belanda. Hal ini membuat Jon Pieteers Coen menaruh dendam pada orang makassar.
·        Jalannya Perang
Kompeni menginginkan bagian terbesar dalam perdagangan rempah-rempah dimaluku, padahal pada waktu itu perdagangan ini berada di tangan orang-orang makassar, maka dengan sendirinya menimbulkan permusuhan. Belanda berencana melumpuhkan kerajaan Gowa. Pada tahun 1634 diadakan pemblokiran terhadap kerajaan Gowa. Dengan bantuan dari kapal yang datang dari batavia, belanda memblokir sombaopu. Kapal ini di tugaskan agar tidak membuang waktu. Tetapi lansung merusak, merongrong, merebut kapal portugis dan india yang berdagang di sombaopu, tidak terkecuali juga kapal-kapal makassar. Selain itu desa-desa kerajaan Gowa juga di musnahkan. Akan tetapi hal ini tidak tepat sasaran karena gowa telah mengetahui  berita tentang VOC dari japara. Dan tiga minggu sebelumnya kapal portugis telah berangkat menuju kakao. Pada tahun 1635 belanda melakukan lagi pemblokiran. Tetapi orang-orang makassar menyeberang melalui darat, sehingga dapat terus melakukan perdagangan. Bahkan dari buton, banyak terjadi penyerbuan dan pembunuhan terhadap orang belanda.(Nugroho Notosutanto, 80 : 1992)
Dua kali perang diistirahatkan ( 1635-1655 dan 1660). Tetapi dalam masa ini sering timbul permasalan yang membawa ke jurang permusuhan. Maetsuycker bahwa perang melawan makassar akan menelan belanja yang sangat besar karena melengkapi persiapan perang yang banyak. Dunia juga sadar bahwa pengarah-pengarah di amsterdam(Belanda) benci membelanjakan uang untuk menawan. Tambahan pula dalam tahun 1651 kompeni belanda sedang berperang dengan orang-orang portugis yang menghabiskan banyak biaya. (Bernard H.M. Vlekke, 167: 1967).
Pada tahun awal tahun 1654 terjadi perang, Gowa telah menyiapakan suatu armada prang dengan kekuatan 5.000 orang bersenjata untuk berlayar ke maluku. Pertempuran ini bermula karena belanda merampas suatu angkutan kayu cendana yang telah dijual rakyat makassar kepada orang portugis. Dan ahrinya belanda dipaksa membayar ganti rugi, Dan membuat pecahnya perang. Pertempuran terjadi di buton dan maluku, terutama di Ambon. Orang-orang makassar mendapat bantuan dari Gowa maupun dari Majira, seorang pemimpin maluku. Bagi belanda sendiri sangat kewalahan dengan perang ini karena dijalankan di beberapa tempat yang saling berjauhan sehingga merepotkan. Ahirnya pada tanggal 27 februari 1656 membuat perjanjian yang menguntungkan makassar. Akan tetapi tahun 1660 VOC menyiapakan diri untuk berperang, armada yang terdiri dari 31 buah kapal dan 2.600 awak dikirim ke sulawesi. Perang dimulai ketika armada ini sampai di depan sombaopu,dan menyebar ke kerajaan Gowa. Belanda berhasil merebut benteng Penanukang. Atas kekalahan ini Sultan Gowa menandaatngani suatu perjanjian yang sangat merugikan karena harus melepas Buton, Menado, dan Kepulauan maluku. Dan portugis harus meninggalkan kerajaan gowa. Tetapi pada tanggal 19 juni 1667,belanda di bawah pimpinan Speelmen melakukan penyerangan ke benteng gowa di sombaopu. Dan tembakan dilepaskan dri sombaopu ke kapal Speelmen. Tembakan sengit terdengar sepanjang hari. Spellmen mengambil taktik yaitu berlayar ke selatan dan merampok kampung sepanjang pantai untuk menyibukkan kerajaan Gowa terus-menerus. Di bantu oleh Aru palaka yang membawa 6.000 prajurit, belanda ahirnya dapat mengalahkan pos-pos kerajaan gowa dan berhasil merebut kerajaan Gowa.
Daftar Pustaka
Abdul Rasak Daeng Patunru , Sedjarah Gowa, Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, Makasar, 1969.
Bernard H.M. Vlekke, Nusantara(Sejarah Indonesia) Dewan Bahasa Dan Pustaka Kementrian Pelajaran Malaysia, Kualan Lumpur, 1967
Nugroho Notosutanto, Sejarah Nasional Indonesia III, Depaertemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka, 1992.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar