Rabu, 24 Juli 2013

Batavia Sebagai Pusat VOC Sejak Tahun 1619

Oleh Ainil Hayati / SI3
Pada peta pelayaran awal abad XVI tercantum nama salah satu kota pelabuhan di pantai Utara Jawa Barat: Kalapa atau Sunda Kalapa. Diberitakan lebih lanjut bahwa Kalapa adalah pelabuhan dari kerajaan Pajajaran yang mempunyai ibu kota di pedalaman. Pada tahun 1522 Henrique Leme singgah di Kalapa untuk mengadakan hubungan dengan raja Sunda dan ketika kembali pada tahun 1528 dia kembali lagi untuk mengadakan perjanjian, namun situasi sudah berubah. Kalapa dikuasai oleh Banten sejak tahun 1527 dan diberi nama Jayakarta. Pada awal abad XVII Jayakarta ad dibawah suzerenitas Banten dan penguasanya Pangeran Jayakarta(masih warga Banten). Dalem terletak di tepi sungai Ciliwung menghadap suatu paseban di mana kemudian dibangun loji Inggris dan gereja Portugis.
Jayakarta pada masa kedatangan bangsa barat sudah kurang berarti sebagai pelabuhan, hanya sebagai tempat singgah untuk mengambil air bersih dan bahan makanan segar. Sebagai pelabuhan yang telah lama berada di bawah bayangan Banten. Kalau pangkal di daerah Indonesia Timur bagi VOC telah berwujud benteng dan faktroi yaitu Ambon, serta pada abad XVII telah berhasil memegang monopoli rempah-rempah, di bagian barat Indonesia diperlukan suatu randez-vous (tempat pertemuan) dan faktroi pusat dimana kegiatan VOC yang dapat diatur dan dikelolah.
Meskipun VOC telah mempunyai faktorai di Banten sejak 1603 serta perdagangannyaramai, akan tetapi kondisi tempat itu tidak menguntungkan. Pertama, keadaan keamanan kurang, banyak pencurian, perampokan bahkan pembunuhan. Kedua, kehadiran Inggris dan Portugis ditempat itu menimbulkan hubungan politik yang kompleks sehingga terjadi bentrokan. Dan juga dikarenakan pada waktu itu di Banten telah banyak kantor pusat perdagangan orang-orang Eropa lain seperti Portugis, Spanyol kemudian juga Inggris, sedangkan Jayakarta masih merupakan pelabuhan kecil.Pada tahun 1609 Pieter Both sebagai gubernur-jenderal pertama VOC, berusaha melaksanakan rencana konsentrasi pemerintahan VOC, maka ia mohon izin kepada Pangeran Jakarta untuk membangun suatu benteng yurisdiksi sendiri dan bebas dari bea-cukai.  
Untuk melaksanakan keinginannya tersebut, Gubernur Jendera VOC yaitu Pieter Both, yang merupakan Gubernur Jenderal VOC pertama yang memerintah di Nusantara, gagal memindahkan pusat VOC dari Ambon ke Jayakarta.Tetapi pada masa Jan Pieterzoon Coen, yaitu Gubernur Jenderal VOC kedua yang berhasil memindahkan pusat VOC dari Ambon ke Jayakarta resminya pada tanggal 31 Mei 1619. Persetujuan ini sempat tertunda, namun karena berbagai pertimbangan yang pokok sekali yaitu bahwa pendirian benteng di Jayakarta itu tidak menimbulkan permusuhan dari pihak banten. Akhirnya pada bulan januari 1611dapatlah dibuat kontrak yang memberi izin VOC untuk membuat bangunan dari batu bata dan kayu di suatu lapangan yang terletak di pecinan dengan ukuran 50 dan 50 vadem. Sebagai ganti rugi, VOC membayar 1200 real kepada pangeran Jayakarta.
Kedudukan Banten sebagai pusat perdagangan lada tetap kuat dan dengan kedatangan pedagang barat membawa banyak keuntungan serta kekayaan bagi penguasa dan pedagang China, khususnya pengeran Aria Ranamenggala, paman dan wali raja Banten. Setelah pedagang asing mempunya kedudukan yang kuat dan mulailah menyisihkan peranan perantara penguasa dan pedagang tersebut diatas, pihak terakhir mulai mempersulit transaksi dengan bermacam-macam cara, antara lain : menuntut persekot tetapi tidak menjamin ketertiban menyediakan barangnya, menaikkan harga, melarang pembuatan gedung, dan lain sebagainya.
Pendirian rendez-vous di Jayakarta oleh VOC perlu diterangkan dengan latar belakang percaturan percaturan politik yang berkaitan dengan hubungan multilateral antara kerajaan-kerajaan dan badan-badan perdagangan asing. Antagonisme antara Banten dan Mataram selama bagian abad XVII sedemikian kuat sehingga dalam menghadapi lawan yang sama yaitu VOC tidak terjadi pendekatan, jangankan aliansi. Kondisi politik di Jawa itu hanya menguntungkan VOC.
Meskipun Jayakarta berstatus vasal terhadap Banten akan tetapi cukup mempunyai otonom untuk melakukan kontrak sendiri dengan badan perdagangan asing lainnya. Antara kedua kerajaan (banten dan mataram) beserta pelabuhannya ada rivalitas dan kemajuan Banten hanya menimbulkan iri hati pada Pangeran Jayakarta, maka maksud yang ingin mendirikan loji diJakarta dismbut baik oleh Pangeran Jayakarta. Diharapakannya bahwadengan kehadiran pedagang-pedagang asing dipelabuhannya akan meningkatkan perkembangannya dan membawa keuntungan. Oleh karena itu, pedagang Inggris juga diberi izin mendirikan faktroi disana. Selain menjunjung tinggi prinsip perdagangan terbuka, juga bermaksud agar persaingan antara pedagang asing untuk tidak mendominasi perdagangan.Sehubungan dengan itu pula, Pangeran Jayakarta tidak menghendaki adanya benteng di teritoriumnya. Sebaliknya rencana VOC, khususnya J.P. Coen ialah membangun benteng yang tidak hanya untuk melindungi perdagangannya, tetapi juga menjadi basis politik untuk mempertahankan kedudukannya dalam menghadapi keadaan darurat atau krisis politik. Dimata pangeran Jayakarta, mengizinkan pendirian benteng berarti "memasukkan kuda Troya".
Persaingan antar Belanda dan Inggris menambah proses politik, suatu faktor yang menjadi keuntungan bagi kerajaan-kerajaan, karena pihak Inggris merupakan potensi berharga sebagai sekutu. Meskipun Belanda dan Inggris bersekutu di medan perang Eropa dalam melawan VOC, di Indonesia mereka saling bersaing dalam hal perdagangan dan politk. Salah satu alasan VOC untuk mencari lokasi baru sebagai kantor pusatnya ialah karena di Banten sering terjadi insiden antara anak buah Kumpeni dan orang Inggris. Pada tahun 1617 dua buah kapal Inggris disita oleh VOC di Maluku dimana perdagangan rempah-rempah ditutup bagi Inggris.
Penyerangan loji Jepara pada tanggal 8 Agustus 1618 mendorong Coen untuk memperkuat lojinya di Jakarta, maka dibuatnya bangunan pertahanan yang agak tinggi di tepi sungai. Pangeran Jakarta menganggap hal itu sebagai pelanggaran perjanjian dan ancaman terhadap dalemnya. Oleh karena itu, dia mulai membangun tembok juga di tepi pantai untuk melindungi istananya.
Pada akhir tahun 1618 pertentangan memuncak dengan adanya konfrontasi angkatan laut Inggris di banten. Pada tanggal 15desember 1618 sebuah kapal Belanda disita. Tindakan balasan Coen ialah penyerbuan loji Inggris di Jakarta dan penghancuran kampung didekatnya, bangunan pertahanan ditambah dan diperkuat sedangkan angkatan lautnya dikerahkan di sekitar pulau Onrust. Orang lebih cenderung dan bertekad untuk mempertahankan benteng daripada mengosongkannya dan mengungsi ke Ambon. Strategi Coen kemudian ialah melakukan serangan terhadap angkatan laut Inggris. Pertempuran pada tanggal 2 Januari 1619 tidak memberikan kemenangan bagi pihak manapun, tetapi karena menghadapi kekuatan yang lebih besar, 8 lawan 14 kapal, kumpeni bersia-siap untuk mengungsi ke Maluku.
Mendengar pertempuran tersebut, pangeran Aria Ranamenggala mengirim angkatan laut Banten ke jakarta untuk menengahi pertikaian itu. Tujuannya ialah untuk mencegah pengusiran Belanda karena kehadiran mereka dibutuhkan di Banten. Maka dari itu dia lebih memihak VOC yang menghadapi Inggris dan Pangeran Jakarta. Diharapkannya agar penghapusan loji VOC di Jayakarta membawa keuntungan bagi Banten. Pada tanggal 4 Januari 1619 terjadilah pertempuran, sepuluh hari kemudian Pangeran jakarta telah memerintahkan penghentian tembak-menembak itu, serta membuka perundingan dengan VOC. Perjanjian yang ditanda-tangani pada tanggal 19 Januari menentukan bahwa Pangeran Jayakarta menyetujui berlakunya kontrak-kontrak terdahulu dan suatu status quo mengenai keadaan bangunan di loji. Beberapa hari kemudian pimpinan VOC P. Van den Broeke beserta beberapa pengikutnya ditangkap ketika menghadap Pangeran jayakarta, karena beberapa alasan, antara lain karena Kumpeni tidak mau memenuhi tuntutannya yaitu membongkar tembok benteng. Untuk memenuhi kehendak pangeran jayakarta, kumpeni memutuskan akan menyerahkan benteng seluruhnya. Sementara itu diplomasi dari loji Banten berhasil membebaskan para tawanan dan merundingkan soal nasib benteng VOC di Jayakarta dengan P.A Ranamenggala. Atas perintahnya, Inggris disuruh meninggalkan faktroinya dan pangeran Jayakarta dihentikan sebagai penguasa.
Dengan demikian kemenangan ada di pihak VOC yang berhasil mempertahankan kedudukannya di Jayakarta. Pada tanggal 12 Maret 1619 benteng yang didirikaan VOC secara resmi diberi nama Batavia. Coen sebenarnya menghendaki nama Nieuw Hoorn karena dia sendiri berasal dari Hoorn. Keputusan pimpinan VOC memilih nama Batavia ialah untuk memuaskan ketujuh provinsi. Menurut hadrianus Julinus, Batavia berarti Bato's have, tempat tinggal Bato, yaitu pahlawan suku.
Nama Batavia diambil dari nama suku. Batavia sebagai sebuah suku Germanik yang bermukim di tepi sungai Rhein pada zaman Kekaisaran Romawi. Bangsa Belanda dan sebagian bangsa Jerman adalah keturunan dari suku ini. Batavia juga merupakan nama sebuah kapal layar tiang tinggi yang cukup besar buatan Belanda (VOC), dibuat pada 29 Oktober 1628, dinahkodai oleh Kapten Adriaan Jakobsz. Tidak jelas sejarahnya, entah nama kapal tersebut yang merupakan awal dari nama Batavia, atau bahkan sebaliknya, pihak VOC yang menggunakan nama Batavia untuk menamai kapalnya. Kapal tersebut akhirnya kandas di pesisir Beacon Island, Australia Barat. Dan seluruh awaknya yang berjumlah 268 orang berlayar dengan perahu sekoci darurat menuju kota Batavia ini.
Nama Batavia ini dipakai sejak sekitar tahun 1621 sampai dengan tahun 1942, ketika Hindia-Belanda jatuh ke tangan Jepang. Batavia atau Batauia yang merupakan nama sebuah wilayah di Indoneia  yang diberikan oleh orang Belanda pada koloni dagang yang sekarang tumbuh menjadi Jakarta, ibu kota Indonesia.
Daftar Pustaka
Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru : 1500-1900 dari Emperium sampai Imperium Jilid 1. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Yuzar, Muhammad, dkk. 2006. Sejarah Untuk SMA Kelas XI IPS dan Sederajat.Yogyakarta: Amara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar