Kamis, 25 Juli 2013

Perlawanan Rakyat Maluku


Oleh Ainil Hayati / SI3
A.          Perlawanan rakyat Maluku tehadap Portugis
Untuk mencukupi kebutuhan di Negaranya Portugis melakukan pelayaran ke Duniatimur. Dengan maksud mencari rempah-rempah. Tempat pertama yang didatangi mereka adalah Malaka,setelah berhasil merebut Malakapada tahun 1511, mereka kemudian, mengalihkan perhatiannya ke Maluku. Karena mereka telah mengetahui bahwa Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbesar di Nusantara. Maka pada akhir 1512 albuquerque mengirim ekspedisi ke daerah maluku dan sekitarnya,antara lain ke kepulauan aru,ambon,dan banda. Ekspedisi kedua menuju ke ternate dan tidore, di mana orang-orang portugis diterima oleh para satuan dengan ramah. Ekspedisi ketiga baru dilakukan pada tahun 1518. Di Maluku, orang-orang Portugis melakukan hubungan kerja sama dagang dengan kerajaan-kerajaan di Maluku, seperti Ternate dan Tidore.
Diantara kerajaan-kerajaan di maluku yang menonjol ialah Ternate,Tidore,Jilolo, dan Bacan. Mengenai hubungan antara kerajaan-kerajaan itu sejak kuno ada polarisasi yaitu kelompok ulilima dan ulisiwa, yang pertama ada di bawah ternate,sedang yang kedua dibawah tidore. Kecuali faktor itu ada faktor agama yang turut menentukan corak hubungan dengan portugis,ialah bahwa sejak abad XV ternate sudah menjadi kerajaan Islam. Semantera itu tidore dengan ulisiwanya tidak masuk Islam, suatu keadaan yang sering menpertajam konflik. Karena rivalitas itu, maka sejak semula terdapat ketegangan.
Pada saat bangsa portugis datang ke Maluku pada waktu yang bersamaan Bangsa spanyol juga datang ke Maluku yaitu pada tahun 1521. Bangsa Spanyol yang sedang bersaing dengan Bangsa Portugis di terima dengan baik oleh sultan almansur (Tidore), terutama karena merasa di nomor duakan oleh portugis yang terlebih dahulu singgah di Ternate. Perlu ditambahkan disini bahwa kehadiran bangsa spanyol di tidore diprotes oleh portugiskarena merupakan perlanggaran perjanjian todesillas pada tahun 1494. Karena diangap melanggar perjanjian tordesilas,sehingga terjadilah peperangan antara Portugis dan Spanyol. Portugis dibantu oleh Ternate sedangkan Spanyol dibantu oleh Tidore. Untuk menyelesaikan masalah peperangan ini, dibentuklah perjanjian Saragosa. Isi perjanjian Saragosa adalah Spanyol harus pergi dari nusantara khususnya Maluku dengan imbalan uang sebesar 350 ribu bukat emas. Maka Armada Spanyol pergi dari Maluku dan menetap di filipina dengan imbalan tersebut.Portugis kemudian merasa berkuasa sehingga bersikap sewenang wenang terhadap RakyatMaluku para penguasa Ternate yang semula menjadi sekutu Portugis akhirnya juga menentang Portugis.
Petikaian antara bangsa spanyol dan portugis sungguh memperlemah kedudukan Tidore dan Ternate. Salah satu ilustrasi seperti perebutan benteng yang di bangun bangsa spanyol pada tahun 1527 ditidore merupakan contoh dari situasi konflik yang kronis.
Campur tangan portugis dalam soal-soal intern kerajaan membawa mereka terlibat dalam pertikaian politik antar kerajaan, pada umumnya lebih merugikan dari pada menguntungkan. Lagi pula kecurigaan dan kebencian rakyat terhadap bangsa portugis semakin menjadi-jadi.
Akhirnya di bawah Sultan KhairunRakyatMaluku bangkit menentang Portugis namun,Gubernur PortugisDe wesquitamenangkap dan menawan Sultan Khairun. Tindakan Portugis tersebut memicu kemarahan rakyatMaluku.RakyatTernate segera menyerang dan membunuh serdadu-serdadu Portugis. Hal ini membuat Portugis kewalahan, dengan siasat liciknya, Portugis menawarkan perundingan kepada Sultan Khairun tapi ternyata Sultan Khairun tewas dibunuh di dalam benteng tempat perundingan dilangsungkan. Pertempuran pasca pembunuhan Sultan Khairun, Sultan Baabullah menuntut penyerahan Lopez de Mesquita untuk diadili.Namun Ditolak, akhirnyaSultan Baabulah melakukan serangan terhadap kedudukan Portugis. BentengbentengPortugis di Ternate yakni Tolucco, Santo Lucia dan Santo Pedro jatuh dalam waktu singkat hanya menyisakan Benteng Sao Paulo kediaman De Mesquita.
Atas perintah Baabullah pasukan Ternate mengepung benteng Sao Paulo dan memutuskan hubungannya dengan dunia luar, suplai makanan dibatasi hanya sekedar agar penghuni benteng bisa bertahan. Sultan Baabullah bisa saja menguasai benteng itu dengan kekerasan namun ia tak tega karena cukup banyak rakyatTernate yang telah menikah dengan orang Portugis dan mereka tinggal dalam benteng bersama keluarganya. Karena tertekan Portugis terpaksa memecat Lopez de Mesquita dan menggantinya dengan Alvaro de Ataide namun langkah ini tidak berhasil meluluhkan Baabullah. Meskipun bersikap Agak sedikit lunak terhadap Portugis di Sao Paulo, Sultan Baabullah tidak melupakan sumpahnya, ia mencabut segala fasilitas yang diberikan Sultan Khairun kepada Portugis terutama menyangkut misi Jesuit, kedudukan Portugis di berbagai tempat digempur habis – habisan.
Pada tahun 1571 pasukan Ternate dibawah pimpinan Kapita Kalakinka menyerbu Ambon dan berhasil mendudukinya. Pasukan Portugis dibawah kapten Sancho de Vasconcellos yang dibantu pribumi kristen berhasil memukul mundur pasukan Ternate di pulau Buru untuk sementara namun segera jatuh setelah Ternate memperbaharui serangannya kembali dibawah pimpinan Kapita Rubuhongi. Tahun 1575 seluruh kekuasaan Portugis di Maluku telah jatuh dan suku-suku atau kerajaan pribumi yang mendukung mereka telah berhasil ditundukkan hanya tersisa benteng Sao Paulo yang masih dalam pengepungan. Selama lima tahun orang-orang Portugis dan keluarganya hidup menderita dalam benteng, terputus dari dunia luar sebagai balasan atas penghianatan mereka. Sultan Baabullah akhirnya memberi ultimatum agar mereka meninggalkan Ternate dalam waktu 24 jam. Mereka yang telah beristrikan pribumi Ternate diperbolehkan tetap tinggal dengan syarat menjadi kawula kerajaan. Kemenangan rakyat Ternate ini merupakan kemenangan pertama putera-putera Nusantara atas kekuatan barat.
Pada tahun 1530 terungkapkan komplotan untuk membinasakan bangsa portugis. janda sultan Bajangullah dan Taruwes, kedua nya wali dari pangeran Ayalo, bekerja sama untuk menumpas bangsa Portugis. Setelah taruwes tertangkap, permaisuri sultan tersebut melarikan diri ke Tidore. Ayalo dipenjara dan seorang bernama kaisyil hatu diangkat sebagai raja . ini menyebabkan rakyat ternate merasa tidak puas.pada tanggal 27 mei 1531 para pemberontak melancarkan serangan dan membunuh panglima portugis. Kemudian Ayalo dibebaskan, tetapi rakyat menghendaki saudara lelakinya, Taburaja.
Bahwasanya Ayalo mempunyai dukungan penuh dari rakyat terbukti  dari pemberontakan pada tahun 1534 yang dilakukan oleh rakyat ternate di bawah pimpinannya. Pemberontakan itu di mulai oleh para raja maluku, diantaranya raja bacan yang menjadi salah seorang pelopornya. Di mana-mana bangsa portugis diserang , baru pada akhir 1536 datanglah Galvao yang memadamkan pemberontakan dan memulihkan ketertiban. Ayalo mendapat luka-luka  parah, sultan tidore di paksa berdamai, begitu pula raja Jilolo dan Bacan. Dibelakang ketentraman selama Galvao memegang kekuasaan, tetap ada tantangan dari raja-raja Maluku, terutama terhadap proses kristianisasi yang dilakukan oleh para misionaris.
Pada tahun 1575 menjadi nyatalah bahwa benteng di ternate sukar dipertahankan lebih lanjut. Baabullah menawarkan untuk berbunding. Salah satu politik yang diajukan ialah bahwa orang-orang portugis dan orang pribumi secara bebas dapat meninggalkan benteng,asal dia mendapat imbalan dari pembunuhan ayahnya. Sebelum 1576 ternate sudah ditinggalkan oleh portugis.
B.            Perlawanan Rakyat Maluku Terhadap VOC dan Hindia Belanda
Sejak lama perdagangan di Maluku telah berlangsung secara bebas. Sejak kedatangan bangasa barat atau Eropa menimbulkan corak perdagangan lain. Mereka memaksakan sistem monompoli.
Rakyat Hitu sangat menentang sistem monopoli ini yang dipaksakan VOC. Sejak tahun 1618 VOC mulai memaksakan sistem monopoli perdagangan. Namun, pedagang-pedagang Jawa dan Makasar tetap masih bisa mengadakan kegiatan perdagangan karena keterampilan mereka melewari pengawasan Belanda di maluku. VOC melakukan pelayaran Hongi dan memusnahkan rempah-rempah dengan cara menebang pohon rempah-rempah tersebut. Rempah-rempah yang dihancurkan ini disebut dengan pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi ini menjadi pelayaran tahunan yang dilakukan VOC untuk memelihara monopoli perdagangan agar harga rempah-rempah tetap stabil di pasaran. Kapal-kapal yang digunakan untuk melakukan pelayaran hongi ini harus disiapkan oleh penduduk.
Karena tindakan kasar dari VOC inilah yang menimbulkan pemberontakan rakyat Maluku, sehingga raja Ternate yang biasanya menjadi sekutu VOC sekarang memusuhi VOC dan penduduk Irian sampai Jawa telah diminta bantuan untuk mengusir VOC dan orang-orang asing lainnya yang dtang ke Nusantara.
Pada tahun 1635 muncul perlawanan rakyat Maluku terhadap VOC di bawah pimpinan Kakiali, Kapten Hitu. Perlawanan segera meluas ke berbagai daerah. Oleh karena kedudukan VOC terancam, maka Gubernur Jederal Van Diemen dari Batavia dua kali datang ke Maluku (1637 dan 1638) untuk menegakkan kekuasaan Kompeni. Untuk mematahkan perlawanan rakyat Maluku, Kompeni menjanjikan akan memberikan hadiah besar kepada siapa saja yang dapat membunuh Kakiali. Akhirnya seorang pengkhianat berhasil membunuh Kakiali.
Dengan gugurnya Kakiali, untuk sementara Belanda berhasil mematahkan perlawanan rakyat Maluku, sebab setelah itu muncul lagi perlawanan sengit dari orang-orang Hitu di bawah pimpinan Telukabesi. Perlawanan ini baru dapat dipadamkan pada tahun 1646. Pada tahun 1650 muncul perlawanan di Ambon yang dipimpin oleh Saidi. Perlawanan meluas ke daerah lain, seperti Seram, Maluku, dan Saparua. Pihak Belanda agak terdesak, kemudian minta bantuan ke Batavia. Pada bulan Juli 1655 bala bantuan datang di bawah pimpinan Vlaming van Oasthoom dan terjadilah pertempuran sengit di Howamohel. Pasukan rakyat terdesak, Saidi tertangkap dan dihukum mati, maka patahlah perlawanan rakyat Maluku.
Sampai akhir abad ke-17 tidak ada lagi perlawanan menentang VOC. Pada akhir abad ke-18, muncul lagi perlawanan rakyat Maluku di bawah pimpinan Sultan Jamaluddin, namun segera dapat ditangkap dan diasingkan ke Sailan (Sri Langka). Menjelang akhir abad ke-18 (1797) muncullah perlawanan besar rakyat Maluku di bawah pimpinan Sultan Nuku dari Tidore. Sultan Nuku berhasil merebut kembali Tidore dari tangan VOC. Akan tetapi setelah Sultan Nuku meninggal (1805), VOC dapat menguasai kembali wilayah Tidore.
Tidakan sewenang-wenang yang dilakukan VOC di Maluku kembali dilanjutkan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda setelah berkuasa kembali pada tahun 1816 dengan berakhirnya pemerintah Inggris di Indonesia tahun 1811-1816. Berbagai tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda di bawah ini menyebabkan timbulnya perlawanan rakyat Maluku. Hal-hal tersebut adalah :
a. Penduduk wajib kerja paksa untuk kepentingan Belanda misalnya di perkebunan-perkebunan dan membuat garam.
b. Penyerahan wajib berupa ikan asin, dendeng dan kopi.
e. Banyak guru dan pegawai pemerintah diberhentikan dan sekolah hanya dibuka di kota-kotabesar saja.
d. Jumlah pendeta dikurangi sehingga kegaitan menjalankan ibadah menjadi terhalang.
e. Secara khusus yang menyebabkan kemarahan rakyat adalah penolakan Residen Van den Berg terhadap tuntutan rakyat untuk membayar harga perahu yang dipisah sesuai dengan harga sebenarnya.Tahun 1817 rakyat Saparua mengadakan pertemuan dan menyepakati untuk memilih Thomas Matulessy (Kapitan Pattimura) untuk memimpin perlawanan. Keesokan harinya mereka berhasil merebut benteng Duurstede di Saparua sehingga residen Van den Berg tewas. Selain Pattimura tokoh lainnya adalah Paulus Tiahahu dan puterinya Christina Martha Tiahahu. Anthoni Reoak, Phillip Lattumahina, Said Perintah dan lain-lain. Perlawanan juga berkobar di pulau-pulau lain yaitu Hitu, Nusalaut dan Haruku penduduk berusaha merebut benteng Zeeeland.
Untuk merebut kembali benteng Duurstede, pasukan Belanda didatangkan dari Ambon dibawah pimpinan Mayor Beetjes namun pendaratannya digagalkan oleh penduduk dan mayor Beetjes tewas. Pada bulan Nopember 1817 Belanda mengerahkan tentara besar-besaran dan melakukan sergapan pada malam hari Pattimura dan kawan-kawannya tertangkap. Mereka menjalani hukuman gantung pada bulan Desember 1817 di Ambon. Paulus Tiahahu tertangkap dan menjalani hukuman gantung di Nusalaut. Christina Martha Tiahahu dibuang ke pulau Jawa. Selama perjalanan ia tutup mulut dan mogok makan yang menyebabkan sakit dan meninggal dunia dalam pelayaran pada awal Januari tahun 1818.
Perang ini disebabkan oleh Belanda yang sewenang-wenang terhadap Maluku
Perang ini berlangsung pada tahun 1817. Tokoh-tokohnya antara lain: Thomas Matulessy / Kapitan Pattimura, Christina Martha Tiahahu, Kapitan Paulus Tiahahu.
Perang ini Disertai dengan perebutan benteng Duurstde yang mengakibatkan kematian Jendral Van Den Berg. Karena adanya bantuan Inggris, Kapten Pattimura terdesak masuk hutan dan benteng-bentengnya direbut kembali pemerintah. Rakyat nusa laut menyerah tanggal 10 November 1817 setelah pimpinannya Kapiten Paulus Tiahahu serta putrinya Kristina Martha Tiahahu. Tanggal 12 November 1817 Kapitan Pattimura ditangkap dan bersama tiga penglimanya dijatuhi hukuman mati di Niuew Victoria di Ambon.
Daftar Pustaka
Kartodirdjo, Sartono. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru : 1500-1900 dari Emperium sampai Imperium Jilid 1. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Aziz, Maliha dan Asril. Sejarah Indonesia III. Pekanbaru: Cendikia Insani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar