Jumat, 26 Juli 2013

PEMIMPIN PERANG PADRI “TUANKU IMAM BONJOL


ROSI FITRIANI/B/SI3
Gerakan perlawanan menentang penjajahan Belanda yang dilakukan oleh rakyat Sumatera Barat dipimpin oleh "Tuanku Imam Bonjol"
            Minangkabau adalah daerah yang indah. Tanahnya yang subur. Adat dan kebiasaan yang berlaku didaerah itu juga kuat. Adat dibawah penghulu adat dan juga raja-raja. Dengan jalan adat, kekuasaan para raja dan juga penghulu adat dapat terus terpelihara dan dipertahankan. Namun karena adat itu pulalah rakyat kebanyakan dirugikan. Mereka tidak bisa bebas berfikir dan merdeka menyuarakan kata hatinya. Semua dibatasi oleh adat. Para raja dan penghulu adat itulah yang berkuasa dan rakyat wajib diperintah dan kehendak mereka.
Keadaan seperti itu mulai berubah setelah beberapa orang Minangkabau datang dari Mekah setelah menuntut agama Islam. Islam mengajarkan persamaan dan kesetaraan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Kelebihan seorang manusia dengan manusia yang lainnyaterletak pada ketaqwaanya kepada Allah, Tuhan Yang Maha Pencipta. Bukan terletak pada pangkat, derajat, jabatan, atau juga kekayaannya.
            Salah seorang Minang yang datang dari Mekah itu adalah Peto Syarif atau dikenal juga dengan nama Mohammad Shahab. Dilahirkan di Tanjung Bunga, Pasaman, pada tahun 1772. Ayahnya bernama Buya Nudin. Beliau terpandai dalam ilmu agama diantara teman-temannya yang pulang dari Mekah. Karna kepandaian, kealiman,dan ketinggian ilmu agamanya, beliau digelari Tuanku Imam. Dan karna beliau bermukim di bonjol, maka lengkaplah gelarnya menjadi Tuanku Imam Bonjol.
            Perang Paderi meletus di Minangkabau antara sejak tahun 1821 hingga 1837. Kaum Paderi dipimpin Tuanku Imam Bonjol melawan penjajah Hindia Belanda. Gerakan Paderi menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di masyarakat Minang, seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat (opium), minuman keras, tembakau, sirih, juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam.
Perang Padri
Gambar untuk Perang Padri.
Tuanku Imam Bonjol merupakan tokoh Padriyang sangat disegani dan mempunyai wibawa. Beliau dimusuhi oleh pihak Belanda karna telah mendirikan negeri Bonjoldi Lembah Alahan Panjang, Sumatera Barat, tetapi pertentangan kaum adat dengan kaum padrimembuat terlibatnya Tuanku Imam Bonjol. Pada mulanya perang padri ini merupakan perang saudara karna terjadi pertentangan antara kaum padri dan kaum adat sebagai mana yang disebutkan di atas:
·         Kaum padri pada mulanya dipimpin oleh: Datuk Bandaro dan teman-tamannya yakni Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Pasaman, Tuanku Nan Renceh, dan Tuanku Nan Cerdik.
·         Kaum adat dipimpin oleh: Datuk Sati
Pertentangan antara kedua belah pihak ini mula-mula akan diselesaikan secara damai, tetapi tidak terdapat penyesuaian pendapat. Akhirnya Tuanku Nan Renceh menganjurkan penyelesaian secara kekerasan sehingga terjadilah perang saudara yang bercorak keagamaan dengan nama Perang Padri (1803-1821).
Perang saudara ini mula-mula berlangsung di Koto Laweh. Selanjutnya menjalar ke daerah-daerah lain. Pada mulanya kaum Paderi dipimpin Datuk Bandaro melawan kaum Adat di bawah pimpinan Datuk Sati. Karena Datuk Bandaro meninggal, perjuangan kaum Pidari dilanjutkan oleh Mohammad Shahab, yang kemudian terkenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol karena berkedudukan dibonjol.
Dalam perang itu, kaum Padri mendapat kemenangan di mana-mana. Kedudukan kaum Adat makin terdesak, sehingga kaum Adat meminta bantuan kepada Inggris (di bawah Raffles yang saat itu masih berkuasa di Sumatera Barat). Karena Inggris segera menyerahkan Sumatera Barat kepada Belanda, maka kaum Adat meminta bantuan kepada Belanda, dengan janji kaum Adat akan menyerahkan kedaulatan seluruh Minangkabau (10 Februari 1821). Permintaan itu sangat menggembirakan Belanda yang memang sudah lama mencari kesempatan untuk meluaskan kekuasaannya ke daerah tersebut.
Kaum padri mempunyai tujuan untuk membersihkan agama Islam yang selama ini telah diselewengkan, untuk selanjutnya dikembalikan seperti sediakala yaitu agama yang murni. Kaum adat yang telah terancam kedudukannya merasa gembira, ketika Belanda ikut membantu dalam perang tersebut.
      Gambar Tuanku Imam Bonjol
Walaupun kaum Adat di bantu oleh Belanda akan tetapi pasukan Tuanku imam Bonjol lebih tangguh dari mereka. Sehingga dapat membahayakan kedudukan Belanda. Pihak Belanda kali ini membuat strategi untuk melemahkan pasukan Imam Bonjol dengan mengadakan perjanjian damai dengannya pada tahun 1824. Perjanjian itu dikenal dengan nama "Perjanjian Masang". Belanda berhasil melancarkan strateginya dengan menyerang negeri Pandai Sikek.
Setelah berhasil menguasai negeri Pandai Sikek, pada tahun 1824 Belanda kembali mengerahkan kekuatannya yang lebih besar lagi, dengan dipimpin oleh Gubernur Jendral Van den Bosh mereka kembali melakukan aksi penipuan dengan mengajak damai untuk kedua kalinya dengan maklumat "Palakat Panjang". Imam Bonjol tidak langsung percaya dengan tawaran Belanda, beliaupun mulai mengatur strategi untuk menjatuhkan Belanda dan mengusirnya dari Negeri Pandai Sikek.
Kartodirdjo, Sartono.1988. mengatakan bahwa, "Pusat gerakan adalah Bonjol atauAlahan panjang. Imam Bonjol dalam memimpin gerakan dibantu oleh tuanku Mudik Padang dan Mansiangan. Dalam menghadapi perjuangan kaum Padri, Belanda lama-kelamaan sadar bahwa pada hakikatnya gerakan itu tidak hanya mempertahankan kepentingan agama akan tetapi juga melakukan perlawanan terhadap penetrasikolonial, sebagai ancaman terhadap kemerdekaan mereka."(Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emperium Sampai Imperium)
Pada bulan Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol diundang oleh Belanda untuk diajak berunding kembali. Tetapi sesampai ditempat Imam, beliau langsung ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Beliau meninggal dunia di tempat pembuangannya pada tanggal 6 november 1864. Jenazahnya dimakamkan didesa Pineleng, Cianjur, Jawa Barat. Atas segala jasa dan pengorbanan yang beliau berikan untuk Ibu Pertiwi, maka pemerintah Indonesia memberinya gelar kepahlawanan dengan mengangkatnya sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan pada tanggal 6 November 1973 sesuai dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 087/TK/Tahun 1973
Daftar Pustaka
Komandoko, Gamal,2006,Kisah 124 Pahlawan Dan Pejuang Nusantara.Yogyakarta:Pustaka Widyatama.
Wijaya,Kerta,2007, 130 Pahlawan dan Tokoh Pergerakan Nasional. Jakarta: Restu Agung.
Kartoditdjo,Sartono,1988, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900 Dari Emporium Sampai Imperium jilid I.Jakarta:PT Gramedia.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar