Minggu, 10 Januari 2016

Tradisi Kebudayaan Agraris dalam Proses Penanaman Padi di Kabupaten Kampar

Rahma Yani/PBM/BI/5


Antara budaya dan sejarah merupakan satu kaitan yang tidak bisa terlepaskan. Dari kebesaran budaya suatu bangsa dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan sejarah. Untuk mempelajari sejarah kebudayaan diperlukan analisis kritis tentang sumber dan kaitannya dengan ilmu sosial. Sebelum lebih jauh membahas kebudayaan perlu di klarifikasikan pengertian kebudayaan. Kebudayaan ialah wujud dan isinya berupa kompleks ide, gagasan, nilai-nilai norma, peraturan dan sebagainya. Kompleks aktifitas kelakuan berpola dari manusia dan masyarakat. Sebagai benda-benda hasil karya manusia. Sistem pengetahuan bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup, serta sistem teknologi dan peralatan penunjang kehidupannya.

Secara geografis Kabupaten Kampar terletak diantara 01000`40" Lintang Utara sampai 00027`00" Lintang Selatan dan 100028`30"-101014`30" Bujur Timur. Berdasarkan perhitungan dari peta oleh Badan Pertanahan Nasional Propinsi Riau diperoleh luas Kabupaten Kampar lebih kurang 1.128.928 Ha. Kabupaten Kampar merupakan kabupaten terluas di Propinsi Riau, selain kabupaten terluas, Kampar juga memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang sangat besar. Selain itu juga memiliki kebudayaan pertanian yang sangat menarik dan perlu kita ketahui kebenarannya. Batas-batas daerah Kabupaten Kampar sebelah utara berbatasan dengan Kota Pekanbaru dan Kabupaten Siak. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Kuantan Singingi. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hulu dan Propinsi Sumatera Barat. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Siak.
Daerah Kampar didiami oleh suku bangsa melayu campuran antara suku Minang dan Melayu. Bahasa Melayu Riau yang berada di Kampar,disebut dengan bahasa Ocu. Ocu adalah suku asli daerah Kampar ,oleh karena itu daerah ini mempunyai banyak kebudayaan dan tradisi.
"Lain lubuk, lain pula ikannya", artinya lain suku lain pula kebudayaannya. Daerah Kampar banyak memiliki kebudayaan dan tradisi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mulai dari bidang ekonomi, bidang teknologi, perlengkapan hidup dan bidang kemasyarakatan seperti pernikahan, kematian, memberi nama anak. Ada juga kebudayaan dalam bidang religi atau kepercayaan seperti percaya kepada hal-hal yang gaib.
Kegiatan ekonomi dan mata pencaharian hidup sebagian besar masyarakat Kampar adalah pertanian, sampai saat ini kebudayaan pertanian masyarakat Kampar masih ada walaupun sudah dipengaruhi oleh teknologi salah satunya adalah pada saat proses penaman padi.
Adapun tradisi pertanian masyarakat Kampar dalam proses penanaman padi diantaranya adalah:
1. Meminang tanah
Maksudnya melihat situasi tanah kalau ada makluk halusnya,biasanya diadakan ritual oleh sesepuh adat atau tokoh agama. Ritual itu berisi mantra atau bacaan yang hanya diketahui oleh orang yang membacakannya. Selain itu jika menanam padi di hutan cara yang dilakukan adalah menguliti sedikit batang kayu besar dengan parang, lalu diambil sepotong kayu kecil yang berkait lalu dikaitkan dengan bekas kayu yang dikuliti, kemudian sang tokoh adat menyerukan kepada makhluk halus yang tinggal di hutan dengan suara yang lantang. Seruan ini berbunyi"Wahai makhluk halus penghuni hutan kalau kami boleh berladang ditempat ini, maka biarlah kaitannya berada pada tempatnya". Beberapa hari kemudian kaitan ini dapat dilihat apabila kaitannya masih tertambat berarti boleh berladang di situ.
2. Batobo
Yaitu kegiatan tolong menolong dalam pertanian mengerjakan sawah, juga dilaksanakan secara bergantian. Mulai mengerjakan sawah si A, besoknya sawah si B, lusa sawah si C, dan begitulah seterusnya sampai seluruh anggota kelompok mendapat giliran mengerjakan. Sampai sekarang hal seperti ini masih tetap berlangsung. hanya saja ada sedikit perubahan atau kemajuan dalam melaksanakannya akibat kemajuan teknologi dan masyarakat ingin serba cepat menyelesaikan sesuatu pekerjaan.
Peserta-peserta dari kegiatan tolong-menolong batobo ialah sekitar 20 orang dan mereka membawa alat kerja masing-masing. mereka bekerja secara bergiliran, misalnya hari ini mengerjakan secara bersama-sama sawah si A, besoknya sawah si B lusa si C dan seterusnya sehingga semua anggota mendapat giliran.
Tobo adalah peserta Batobo. pada tobo bujang dan gadis peserta terdiri dari laki-laki dan perempuan, tidak terbatas pada yang muda usiannya saja, tetapi juga terdiri dari yang sudah tua. disebut tobo bujang dan gadis, karena dalam hal ini yang menonjol adalah peranan bujang dan gadis dalam tobo itu. Jadi, jika pada saat sekarang bujang dan gadisnya tidak perduli dengan kebudayaan tradisional terutama kebudayaan Kampar, bagaimana dengan tradisi Batobo akan berkembang tanpa ada pengaruh generasi muda.
Batobo salah satu tradisi kebudayaan masyarakat Kampar dalam mengolah tanah ketika bertani padi. Sambil mengolah tanah, biasanya mereka melantunkan nyanyian Kutang Barendo. nyanyian ini adalah semacam nyanyian rakyat yang amat populer di daerah Kampar, terutama oleh muda-mudi. Nyanyian ini boleh dikatakan sebagai semacam nyanyian rakyat biasa dalam menghadapi nasibnya.
Batobo dilakukan karena tanah yang digarap sangat luas, sedangkan tenaga kerja sedikit untuk itu mereka saling tolong-menolong antara selama warga desa mengerjakan tanah secara bergiliran. Masyarakat yang memerlukan bantuan untuk mengolah tanah memberi tahu kerabat dan tetangga-tetangga, bantuan tenaga kerja ini berlangsung secara bergiliran.
3. Setelah proses mengolah tanah dan bertanam padi, proses selanjutnya adalah penyiangan dan pemeliharaan tanaman.
Pada waktu pemeliharaan tanaman menurut kebudayaan Kampar ada semacam ritual atau kepercayaan yang dilakukan untuk menangkal hama dan penyakit pada tanaman padi. Kepercayaan ini dilakukan dengan cara membuat tangkal penyakit atau hama tanaman. Pembuatan tangkal ini dapat dilakukan melalui 3 cara:
1. Cara pertama: menggunakan tonggak dan kertas, kemudian ditulis ayat-ayat al-qur`an yang menurut kepercayaan dapat mengusir hama dan penyakit pada padi mereka. Tonggak ini diletakkan di sudut sawah.
2. Cara kedua: menggunakan janur atau daun kelapa muda dan dituliskan ayat-ayat dan diletakkan di tengah-tengah sawah.
3. Cara ketiga: menggunakan sebuah papan yang sudah dibentuk diberikan kapur sirih di tengah papan tadi, penyusunan tata letaknya dilakukan oleh orang-orang yang dipercaya, atau sesepuh dari daerah Kampar. Kemudian di letakkan di tengah-tengah sawah.
Setelah salah satu cara dipilih baru ditentukan waktu pembuatan tangkal hama dan penyakit pada tanaman padi. Waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan Tangkal tiga hari.
Hari pertama pemilik padi datang ke rumah tokoh adat atau sesepuh. Kemudian tokoh adat atau sesepuh tadi menuliskan ayat-ayat al-quran yang menurut kepercayaan keagamaan mereka dapat meangkal hama dan penyakit pada tanaman padi.
Hari kedua si pemilik sawah datang ke rumah pembuat atau sesepuh tadi. tujuannya untuk mengantarkan persyaratan-persyaratan kepercayaan dan sebelum hari ketiga sesepuh yang membuat sudah melakukan sholat hazad, dengan maksud meminta pertolongan kepada allah agar sawahnya dijauhkan dari hama dan penyakit dan hazadnya sesuai dengan keinginan masing-masing.
Hari ketiga, pemasangan penangkalan yang sudah dibuat dilakukan oleh pihak sesepuh yang membuat dan pihak pemilik sawah. kegiatan pemasangan dilakukan pada pagi atau sore hari, dan pemasangan dilakukan menjelang tanaman padi berbunga, karena menurut mereka pada saat itulah datangnya setan-setan atau makhluk halus yang membawa penyakit dan hama yang akan menggagalkan panen.
4. Memanen padi
Panen padi dilakukan oleh masyarakat Kampar dengan beberapa tahapan yaitu pada hari pertama padi yang ditanam pertama dulu diambil lebih kurang tiga rumpun. Kemudian dibacakan mantra-mantra berupa nyanyian yang berbahasa arab ditambah dengan pantun-pantun melayu. Padi yang diambil tadi adalah padi yang diambil dengan cara dituai dengan menggunakan ani-ani. Padi tersebut lalu diikat menjadi satu dan diletakkan ditempat khusus yakni di lumbung padi dan cikal bakal menjadi bibit unggul pada pertanian selanjutnya. Bibit padi tadi diikat dengan digantung dilumbung padi. Biasanya prediksi yang menyanyi jika tiga rumpun yang pertama isinya bernas bertanda panen tahun depan akan melimpah ruah.
Tradisi kebudayaan pertanian di atas, saat ini sudahlah jarang di jumpai, karena masyarakat sekarang pada umumnya sudah beralih kepada lahan perkebunan. Bercocok tanam padi atau sayur mulai berkurang mengapa? Karena masyarakat sadar bahwa dengan mengolah sawah padi saja tidak mencukupi untuk kehidupannya. Akibatnya yang timbul dalam kebudayaan kampar, yang pergi kesawah hanyalah kaum wanitanya saja. Kaum laki-lakinya mencari pekerjaan lain, seperti menakik atau menderes karet. Pagi-pagi laki-laki ke ladang karet untuk menderes karet, setelah menderes kemudian pergi ke warung kopi. Tujuannya bukan untuk bermalas-malasan tetapi mereka menunggu getah karet tadi memenuhi wadah tempurung kelapa. Setelah penuh mereka ke ladang untuk mengumpulkan getah-getah tadi dan kemudian dijualnya.
Cara yang demikian merupakan gambaran kebudayaan melayu yang sekarang sudah mulai yang mulai hilang. dan penulis berpikir untuk memecahkan masalah ini dengan cara mengembangkan kembali tradisi-tradisi dan kebudayaan yang ada untuk di berikan kepada para generasi muda agar mereka sadar bahwa betapa pentingnya kebudayaan itu, agar mereka menjadi generasi muda yang cerdas, mandiri dan sejahtera.
Alat-Alat Pertanian Tradisional Masyarakat Kampar
Disamping adanya cara tradisional yang digunakan ketika bertani padi, alat-alat yang digunakan untuk pertaniannyapun ada yang bersifat tradisional. Seperti parang, kegunaannya untuk menebas kayu dan rerumputan yang ada pada tanah tersebut. Kemudian cabak, cabak bentuknya seperti cangkul tetapi matanya lebih lebar. Alat ini kegunaannya untuk membalik dan mengolah tanah agar gembur. Selain itu alat lainnya adalah tajak, alat ini berukuran kecil dan kegunaannya untuk menyiang padi saat padi sudah ditumbuhi gulma-gulma yang mengganggu. Untuk memanen padi, mereka menggunakan menggunakan ani-ani. Ani-ani bentuknya sesuai dengan keinginan masyarakat. Cara kerjanya sulit dibandingkan dengan cara kerja menggunakan teknologi.
Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Proses Penanaman Padi
Tradisi lama kebudayaan Kampar ini harus tetap di kembangkan kepada generasi muda, ilmu pengetahuan itu tidak akan lengkap sebelum mengetahui ilmu kebudayaan daerah. Di samping itu juga terkandung nilai-nilai yang sulit ditemui dalam kehidupan masyakat sekarang diantaranya:
1. Nilai sosial pada tradisi batobo
Mengolah tanah secara bersama-sama, gotong royong menimbulkan rasa kekeluargaan yang erat dalam masyarakat Kampar.Tradisi ini membuat masyarakat satu dan yang lainnya memahami rasa kebersamaan dan saling membantu antara sesama warga. Pekerjaan akan terasa mudah jika dikerjakan bersama-sama.
2. Nilai budaya
Kepercayaan terhadap hal yang gaib (animisme) masih berkembang pada masyarakat Kampar. Dilihat dari ritual dan mantra yang dibaca saat mengolah tanah ataupun saat panen, merupakan gabungan dari kepercayaan dan tradisi masyarakat.
Pergeseran nilai-nilai budaya ini akan mempengaruhi kehidupan masyarakat setempat dan membawa akibat terhadap bentuk sistem yang akan memegang peranan dalam mengungkapkan tradisi lama. Kegiatan penelitian dalam adat istiadat daerah dan kebudayaan daerah bertujuan untuk mempertahankan kebudayaan yang ada.
Suatu pertumbuhan yang terjadi dalam masyarakat akan membawa efek kepada perubahan, baik perubahan ini datangnya dari luar maupun dari dalam masyarakat itu sendiri.  Dalam pribahasa "Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga". pribahasa ini bermakna kebiasaan leluhur akan turun temurun kepada generasi penerusnya. Maksud nya adalah kebudayaan-kebudayaan pertanian yang sejak zaman nenek moyang akan tetap hidup sampai saat ini. Hal ini terkadang, jauh berbeda dari yang diharapkan.
Kehidupan masyarakat Kampar berakar pertanian berbuah kesejahteraan, maka dari itu kebudayaan yang masih harus dipertahankan adalah kebudayaan pertanian. Sesungguhnya dibalik hutan liar, di tengah kesuburan tanah, tersimpan kehidupan kebudayaan masyarakat Kampar yang akan membuat perubahan di negeri Lancang Kuning . Bila ditelusuri secara historis, pemikiran tentang mempertahankan kebudayaan daerah itu timbul dari diri kita masing-masing. Kebudayaan pertanian tradisional daerah Kampar banyak yang bisa dibanggakan seperti kebiasaan meminang tanah sebelum mengolah lahan, batobo, kepercayaan penangkal hama pada tanaman padidan panen padi yang memiki ciri khas tersendiri, begitu juga alat-alat pertanian yang digunakan dalam proses penanaman padi diantaranya: ada tajak, sabak dan ani-ani. Kebudayaan ini diharapkan jangan sampai hilang akibat dominasi teknologi dan globalisasi, sungguhpun secara praktis para generasi muda membawa ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memodernisasikan bidang produksi. Tentunya hal ini membawa kemajuan, namun disisi lain juga berdampak negatif, yaitu mundurnya kehidupan budaya dan tradisi daerah, begitu juga dengan nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan itu. Hal ini sebagai akibat adanya perubahan pandangan hidup dari kehidupan religius menjadi lahirnya sikap meterialistis dari generasi muda.
DAFTAR PUSTAKA
· Wangania, Jopie, dkk. 1980. Sistem Gotong Royong Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Riau. Pekanbaru: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
· Asany, Alimunis, dkk. 200. Sinar San Surya Di Bumi Lancang Kuning. Pekanbaru: PMW Riau.
· Zulkarnain, dkk. 2003. Alam Melayu. Pekanbaru: UNRI Press Pekanbaru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar