Minggu, 10 Januari 2016

Australia, dari naungan Inggris ke naungan Amerika Serikat


Viska Septiani/SAO/14B

Yunani yang banyak menginspirasi peradaban di dunia turut berandi besar dalam penemuan Australia. Cerita kuno di Yunani menyebutkan bahwa terdapat benua besar di selatan khatulistiwa yang berperan sebagai penyeimbang benua disebelah utara khatulistiwa. Benua ini belum dikenal, sehingga dalam cerita tersebut dikenal dengan sebutan Terra Australis, yang kira-kira artinya adalah benua selatan (Terra= benua atau bumi dan Australis=selatan). Pada abad ke 16, ketika bangsa Eropa mulai mencari daerah koloni, cerita kuno Yunani ini dijadikan sebagai inspirasi mereka untuk dijadikan sebagai daerah kekuasaan. Pelaut yang menemukan Terra Australis ini adalah Pedro Fernandez de Quiros, seorang pelaut Portugis dalam kedinasan Spanyol. Pedro Fernandez de Quiros mengklaim bahwa pulau Hebride Baru yang ditemukannya adalah Terra Australis dan dijadikan sebagai milik raja Philips III (raja Spanyol berdarah Austria) sehingga Terra Australis berganti nama
menjadi Austrialia, kemudian lebih dikenal dengan Australia. Cerita inilah yang menginspirasi bangsa Eropa untuk menemukan benua diselatan bumi sampai akhirnya pada tahun 1770, James Cook berkebangsaan Inggris menemukan Australia dan menamakan New South Wales (Wales baru di selatan). Karena belum ada yang mengklaim Australia sebagai daerah kekuasaan sehingga negara-negara Eropa seperti Spanyol, Belanda, dan Inggris bebas keluar masuk Australia, maka Inggris segera mengklaim bahwa Australia merupakan daerah kekuasaan mereka hingga pada akhirnya Australia menjadi daerah persemakmuran Inggris.
  • Asal-Usul Australia; Penemuan Hingga Menjadi Negara Persemakmuran Inggris
Teori dari Nicholaus Copernicus yang mengatakan bahwa bumi itu bulat, terbagi atas belahan bumi bagian utara dan selatan yang berkembang pada zaman klasik menginspirasi bangsa Eropa untuk membuktikan kebenarannya. Selain itu, berita mengenai perjalanan Marcopolo yang tertulis dalam buku Imago Mundi menjadi alasan lain penjelajahan yang dilakukan bangsa Eropa untuk mencari daerah baru yang dapat dijadikan sebagai daerah jajahan. Teori bahwa bumi itu bulat dibenarkan oleh Ptolemy(seorang ahli matematika dan geografi Yunani yang tinggal di Iskandariyah) yang mengatakan bahwa disebelah selatan khatulistiwa terdapat suatu daratan luas untuk mengimbangi daratan-daratan yang berada disebelah utara. Mengenai berapa luas daratan dan bagaimana bentuk dari daratan tersebut tidak disebutkan secara detail. Menurut J. Siboro dalam bukunya yang berjudul Sejarah Australia, Ptolemy menamakan daratan tersebut sebagai Terra Australis Incognita, yang berarti benua atau daratan selatan yang belum dikenal. Pendapat serupa dikemukakan oleh Soebantardjo dalam bukunya yang berjudul Sari Sedjarah; Asia-Australia yang mengatakan bahwa bangsa Yunani menyebutkan tentang suatu benua diselatan bumi yang dinamakan dengan Terra Australis, yang artinya benua diselatan. Hal inilah yang menginspirasi bangsa Portugis untuk mencari letak Terra Australis. Pedro Fernandez de Quiros adalah pelaut Portugis dibawah dinas Spanyol yang mengklaim telah ditemukannya sebuah daratan di selatan khatulistiwa. Pada tanggal 21 Desember 1605, ekspedisi de Quiros yang dipimpin oleh Luis de Torres berangkat dari Callao, Peru dengan menggunakan kapal St. Peter dan St. Paul. De Quiros bersama anak buahnya menemukan pulau Espiritu Santo di New Hebrides. Namun, pada 11 Juni, anak buah de Quiros memberontak. Pada akhirnya, Torres dan de Quiros tetap melanjutkan pelayaran menyusuri selatan Irian. Sebenarnya, Torres dan de Quiros tidak berhasil menemukan Australia, namun pada tahun 1610, de Quiros menerbitkan tulisan yang berjudul Austrialia Del Espiritu Santo dan mengklaim bahwa telah menemukan Terra Australis yang disebutkan dalam cerita Yunani kuno karya Ptolemy. Mengenai penamaan Austrialia menarik untuk dicermati. Untuk menghargai raja Spanyol Phillip III yang berdarah Austria, maka Terra Australis diganti menjadi Austrialia, yang artinya kira-kira adalah daratan kekuasaan Austria. Atas jasa Luis de Torres, maka namanya diabadikan sebagai selat Torres, yaitu selat yang memisahkan pulau Irian dengan benua Australia. Memang Torres dan de Quiros tidak menemukan daratan Australia, namun tulisannya mengenai daratan yang luas di selatan bumi yang dinamakan dengan Austrialia sangat menginspirasi bangsa Eropa lain, seperti Belanda dan Inggris untuk mencari letak Austialia. Bukan hanya Portugis yang ingin menemukan daratan disebelah selatan yang sangat termansyur, namun juga Belanda. Ditutupnya pelabuhan Lisabon oleh Spanyol akibat Belanda menyerah dalam perang 80 tahun (1568-1648), menyebabkan Belanda ingin mencari daerah yang mampu dimanfaatkan sumber daya alamnya termasuk rempah-rempah yang saat itu merupakan komoditi primadona di Eropa. Salah satu tulisan yang menginspirasi Belanda untuk melakukan penjelajahan samudra dan mencari daerah koloni adalah Itinerario, karya Jan Huygen Van Linschoten yang menceritakan tentang kekuasaan Portugis di Nusantara. Keberhasilan Cornelis de Houtman dan Peter de Keyser sampai di Nusantara tepatnya di Banten pada 23 Juni 1596 membuktikan bahwa Belanda mampu menemukan daerah yang mereka cari. Untuk membuktikan kebenaran adanya daratan di selatan khatulistiwa,  Williem Jansz dengan kapal Duyfken berlayar hingga tiba di pantai barat semenanjung York pada bulan Maret 1606. Namun, karena perbekalan habis, Jansz kembali ke Nusantara. Tempat yang disinggahi tersebut dinamakan Tanjung Keerweer, yang berarti Turn-back (kembali). Williem Jansz tercatat sebagai orang Eropa pertama yang sampai ke daratan Australia.
Secara kebetulan, Hendrik Brouwer menemukan rute baru menuju ke Nusantara pada tahun 1611 dengan melewati Tanjung Harapan kearah timur sejauh 3000 mil menuju  sebelah utara Australia dan memutar haluan menuju ke pulau Jawa. Rute ini terbukti mampu mempersingkat waktu tempuh sehingga dijadikan acuan menuju pulau Jawa. Setelah itu, Dirk Hartog mencapai pantai barat Australia dan mendarat di daerah yang kini bernama Hartog's Island. Namun setelah Dirk Hartog, banyak kapal-kapal Belanda yang hilang dan mengalami kecelakaan setelah melalui rute Brouwer. Untuk menyelidiki secara detail penyebab banyaknya kecelakaan kapal-kapal dagang Belanda, maka Gubernur Jendral VOC, Anthony Van Diemen memerintahkan Abel Janszoon Tasman untuk memyelidikinya. Menurut J. Siboro (1996), Anthony Van Diemen tercatat sebagai Gubernur Jendral VOC yang sangat memperhatikan eksplorasi ke daratan Australia. Dengan menggunakan dua buah kapal, Heemskerk dan Zeehaen, serta dibantu oleh Franz Fisher, Abel Tasman berangkat dari Batavia pada 14 Agustus 1642 dengan memotong samudra Hindia menuju Mauritus dan berbelok ke Australia. Pada tanggal 21 November 1642, Abel Tasman sampai di daerah yang dinamakan dengan Van Diemen's Land. Saat ini daerah tersebut dinamakan Tasmania. Setelah itu, Abel Tasman kembali lagi menuju Batavia setelah sebelumnya menemukan New Zealand (Neusee Land) dan tiba di Batavia pada tanggal 15 Juni 1643. Bangsa Belanda yang berhasil menemukan Terra Australis yang sangat termansyur meskipun tidak seluruh daratan diklam sebagai New Holland. Penemuan daratan di sebelah selatan khatulistiwa ini menurut bangsa Belanda tidak mempengaruhi kolonisasi yang dilakukan bangsa Belanda. Menurut mereka, Australia terkesan sangat gersang dan tidak memiliki potensi yang besar dalam hal sumber daya alam sehingga tidak layak untuk dijadikan sebagai daerah koloni. Sebenarnya New Holland, Van Diemen's Land, dan Neusee Land memiliki potensi alam yang cukup besar berupa emas dan perak, namun tidak dieksplorasi karena penjelajahan dalam dua tahap yang dilakukan oleh Abel Tasman menelan biaya yang sangat besar. Hagemoni kekuasaan Belanda di Nusantara dinilai lebih besar ketimbang melakukan eksplorasi di daratan Australia. Bukan Spanyol, Portugis, atau Belanda yang mampu menjadikan Australia menjadi daerah jajahannya, melainkan Inggris. Setelah Abel Tasman gagal mengeksplorasi Australia, William Dampier, seorang bajak laut berkebangsaan Inggris, pada tahun 1688 mengunjungi Australia dan mendarat di dekat Melville Island dengan menggunakan kapal Cygnet. Setelah kembali ke Inggris, Dampier menuliskan kisah perjalanannya. Tulisan tersebut bertepatan dengan keinginan kerajaan Inggris untuk membatasi kekuasaan Belanda di wilayah Nusantara. Oleh sebab itu, Dampier diutus kembali untuk menyelidiki Australia. Pada tanggal 6 Agustus 1699, Dampier dengan menggunakan kapal Roebuck, sampai di tempat yang banyak ikan hiu sehingga dinamakan Shark's Bay. Kira-kira selama 70 tahun, tidak ada lagi eksplorasi yang dilakukan oleh Inggis. Pada tahun 1768, ahli astronomi Inggris memperkirakan adanya 'Transit of Venus' didaerah Tahiti. Oleh karena itu, kerajaan inggris memerintahkan untuk mencaritahu keberadaan fenomena tersebut. Pada tanggal 26 Agustus 1768, James Cook, seorang perwira angkatan laut yang sangat ahli membuat peta, diperintahkan untuk memimpin ekspedisi menggunakan kapal Endeavour Bark. Ekspedisi ini berhasil mencapai tahiti pada Bulan April tahun 1769 dan mencapai new Zealand pada bulan Oktober 1769. Disini, James Cook menghabiskan waktu enam bulan untuk mengelilingi New Zealand dan berkesimpulan bahwa New Zealand bukanlah daerah yang luas seperti yang disebutkan oleh Ptolemy. Kemudian James Cook meninggalkan New Zealand menuju Van Diemen's Land. Namun karena obak yang besar, James Cook mendarat di tempat, tepatnya di suatu teluk bernama Stingray Harbour. Nama tersebut oleh Joseph banks diubah menjadi Botany Bay karena banyak terdapat tumbuhan disekitar teluk tersebut. Kemudian Cook meneruskan pelayaran kearah utara dan menemukan sebuah pulau bernama Possesion Island yang kemudian lebih dikenal dengan New Wales atau New South Wales pada tanggal 23 Agustus 1770. Pada tahun 1798, Matthew Flinders berhasil mengelilingi Australia, sekaligus memetakan Australia. Flinders pula yang mengusulkan untuk memberi nama seluruh daratan yang awalnya Austrialia menjadi Australia.
Penemuan Cook ini mengilhami Inggris untuk melakukan kolonisasi di Australia. Tidak seperti hasil ekspedisi yang dilakukan oleh Abel Tasman, ekspedisi yang dilakukan oleh Cook lebih berhasil menggambarkan potensi alam yang dimiliki oleh Australia. Pada hakikatnya, Belanda-lah yang menemukan Australia, namun Inggris-lah yang berhasil memecahkan teka-teki mengenai daratan di selatan khatulistiwa. Setelah eksplorasi dan ekspedisi yang dilakukan oleh James Cook, tidak ada lagi ekspedisi terkait dengan Australia. Namun keadaan di Inggris berubah dengan semakin banyaknya narapidana yang tidak mampu ditampung sepenuhnya oleh Inggris. Pada abad ke 17, di Inggris berkembang kejahatan akibat dari kemiskinan dan kelaparan. Fenomena ini lebih dikenal dengan sebutan The Carnival of Crime. Bertepatan dengan itu, Amerika Serikat yang merupakan tempat pembuangan bagi narapidana di Inggris mengalami kemerdekaan sehingga seluruh narapidana yang ada di Amerika dipindahkan ke Kanada. Dengan masalah yang muncul, ditambah lagi dengan adanya revolusi industri yang memicu urbanisasi menuju kota-kota industri di Inggris membuat pemerintah kerajaan berupaya mencari solusi untuk memecahkan masalah kependudukan ini. Joseph Banks yang mengikuti ekspedisi James Cook kemudian memberikan saran untuk menjadikan Botany Bay sebagai lokasi pembuangan dari narapidana mengingat lokasinya yang jauh dari Inggris dan tanahnya yang subur. Sejalan dengan itu, James Maria Matra mengusulkan agar para loyalist Inggris yang setia pada Inggris ditempatkan di New South Wales. Namun, J. Siboro dalam buku Sejarah Australia berpendapat bahwa Inggris menjadikan Australia sebagai daerah koloni semata-mata bukan hanya untuk lokasi penampungan narapidana dan penampung 'American Loyalist', melainkan untuk memudahkan kongsi dagang EIC milik Inggris untuk mengembangkan kekuasaannya. Australia kemudian menjadi daerah koloni Inggris dan mengesampingkan penduduk asli Australia yaitu suku Aborigin. Pada tahun 1788, mendarat 717 orang narapidana di Botany bay, kemudian dipindahkan ke Port Jackson karena Botany bay dirasa tidak memadai untuk dijadikan sebagai daerah koloni. Port Jackson kemudian diubah namanya menjadi Sydney untuk mengabadikan nama menteri dalam negeri Lord Sydney. Untuk menjaga keamanan dibentuk New South Wales corp dengan John MacArthur menjadi raja tanpa mahkota. Kolonisasi tersebut berkembang hingga menjadikan daerah baru sebagai daerah kekuasaan kerajaan Inggris, antara lain Tasmania (1803), Queensland (1824), Victoria (1824), Western Australia (1829), dan South Australia (1826). John MacArthur yang menguasai New South Wales kemudian bertindak sewenang-wenag dengan memasukkan rum (minuman keras). Hal ini memicu adanya ketergantungan akan minuman keras bagi seluruh penduduk sehingga menimbulkan kekacauan yang dinamakan dengan Rum Rebellion. Untuk menangani hal tersebut, pemerintah Inggris mengirim William Bligh, namun William tidak mampu mengatasi hingga pada akhirnya diselesaikan oleh Lachlan Macquaire. MacArthur bukan hanya membawa malapetaka bagi Australia. Disisi lain, Mac Arthur juga menjadikan Australia maju pesat di bidang ekonomi. Pada tahun 1797, Mac Arthur melakukan impor domba merino. Hal ini menjadikan australia sebagai peternakan domba hingga bulu domba (wol) menjadi komoditi utama Australia. Revolusi industri juga membantu Australia untuk mengembangkan wol ini dengan digunakannya mesin-mesin tenunan wol dan alat pendingin (pembekuan) daging domba. Dalam hal politik, Australia sadar untuk membentuk negara sendiri tanpa harus bergantung pada Inggris. Meskipun demikian, Inggris tetap menjadikan Australia sebagai daerah persemakmuran.Akhirnya pada 1 Januari 1901, Australia berubah menjadi Commonwealth of Australia berdasarkan undang-undang Art to Constitute the commonwealth of Australia.
  • Australia Berubah Acuan; Dari Inggris ke Amerika Serikat
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Australia adalah wilayah persemakmuran Inggris. Namun pada kenyataannya ada kesan bahwa Inggris melepas Australia. Hal ini terjadi karena Inggris memiliki daerah persemakmuran yang sangat banyak di dunia. Tidak kurang terdapat 54 negara persemakmuran Inggris di dunia. Menurut John Farndon, sekitar 600 juta penduduk di dunia diperintah oleh kerajaan Inggris. Pasca Australia menjadi negara persemakmuran Inggris, sebelum meletusnya perang dunia pertama, Australia sangat menyandarkan ekonomi, politik maupun militernya pada Inggris. Pada tahun 1909, dengan ditandatanganinya The Defence Act, Australia membentuk tentara yang masih dalam naungan Inggris. Sadar akan kekuatannya yang masih lemah, Australia mengadopsi kemiliteran yang ada di Inggris. Sejalan dengan itu, Australia berusaha mendesak Inggris untuk menguasai pulau-pulau yang belum terjamah disekitar Australia dan Irian karena saat itu Jerman, Perancis, dan Amerika Serikat telah menduduki beberapa wilayah seperti Tahiti, New Caledonia, New Hebrides (Perancis), Hawaii, Filiphina, Samoa (Amerika Serikat), Irian Timur Laut, Kepulauan Bismarck, Marshall, Salomons, Marianne dan Palau (Jerman). Atas desakan Australia inilah, akhirnya Inggris menduduki kepulauan Fiji pada tahun 1874 dan Irian Tenggara pada tahun 1905 yang dinamakan dengan Papua. Irian merupakan suatu hal yang penting bagi Australia. Ketika Jepang mengadakan Restorasi Meiji yang berhasil mengalahkan Rusia pada tahun 1905 membuat Jepang mulai melakukan kolonisasi diwilayah Asia Pasifik. Hal ini memaksa Australia mendesak Inggris untuk membendung Jepang dengan berpolitik manis terhadap Jepang. Pada saat perang dunia pertama, Australia membantu Inggris dengan bergabung dalam ANZAC bersama dengan pasukan dari Selandia Baru (New Zealand). Angkatan perang Australia ini ikut bertempur dalam front Gallipoli, Timur Tengah, dan beberapa daratan di Eropa. Kecemasan akan Jepang untuk sementara sirna, karena Jepang pada perang dunia pertama tergabung dalam pihak sekutu seperti halnya Australia. Kecemasan tersebut muncul kembali pasca perang dunia pertama. Jepang yang mendapatkan daerah kekuasaan Jerman di utara khatulistiwa mulai bergerak ke selatan sehingga memaksa Australia untuk mendesak Inggris kembali agar mau membendung restorasi yang dilakukan Jepang. Tetapi Inggris memilih bungkam dan berusaha merekonstruksi kembali daerah-daerah di Eropa pasca perang dunia pertama. Menurut Soebantardjo, sikap inggris ini dikarenakan Inggris menganggap bahwa Australia adalah The Far East bukan bagian dari Eropa dan bukan The Near North seperti yang ditafsirkan Australia selama ini terhadap Inggris. Sikap Inggris ini membuat Australia sadar bahwa untuk dapat mempertahankan negara harus dilakukakn dengan kekuatan sendiri. Dalam rentang waktu antara tahun 1920 sampai dengan tahun 1939,  Australia mampu memiliki angkatan perang berupa 5000 pesawat terbang dan 500000 tentara. Pada saat perang dunia kedua, Jepang yang berhasil mengalahkan Amerika di Pearl Harbour, Hawaii, berniat untuk menguasai Amerika setelah sebelumnya mampu menguasai Hindia Belanda.  Namun, Jepang gagal menguasi Australia setelah gagal membendung kekuatan tentara Amerika di Port Moresby (Irian Tenggara). Hal ini membuat Australia mulai sadar bahwa Amerika lah yang lebih dekat dengannya. Bagi Amerika, membantu Australia menghadapi Jepang diperang Pasifik adalah suatu keharusan untuk membendung kekuatan Jepang dan usaha Jepang untuk menguasai Asia Pasifik. Amerika Serikat mewujudkan bantuannya secara militer dengan memberikan senjata, pesawat terbag dan kapal laut untuk digunakan dalam perang yang dipasok melalui Sydney.
Pasca perang dunia kedua, dalam masa rekonstruksi pasca perang, Amerika serikat memberikan perhatiannya pada Australia. Dalam hal politik dan ekonomi, Australia mulai mengacu pada Amerika Serikat hingga mampu menjadi salah satu negara maju di Pasifik bahkan di dunia. Sistem ekonomi liberal diadopsi dari Amerika serikat. Sebagai balas jasa bagi Amerika Serikat, Australia membantu Amerika dalam perang yang terjadi di Vietnam. Sekali lagi, inilah yang membuat Australia berpindah haluan, dari Inggris menuju Amerika Serikat. Cerita Yunani kuno karya Ptolemy mengenai adanya daratan luas disebelah selatan khatulistiwa sebagai penyeimbang daratan disebelah utara bernama Terra Australis Incognita mengilhami pencarian Australia. Selain itu, penjelajahan yang dilakukan oleh de Quiros dan Torres yang menemukan daratan bernama Austrialia menjadi pemicu eksplorasi dan ekspedisi yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Belanda melalui pelautnya, Willem Jansz tercatat sebagai orang Eropa pertama yang sampai di Australia. Kemudian cerita mengenai Australia menginspirasi Abel Tasman untuk mengeksplorasi Australia dan menamakan New Holland. Bagi Inggris, William Dampier adalah orang pertama berkebangsaan Inggris yang sampai di daratan Australia. Ekspedisinya kemudian diteruskan oleh James Cook. Di Australia sendiri sudah terdapat penduduk asli, tekanal dengan sebutan Aborigin. Mengenai nama Australia sendiri adalah saran dari Matthew Flinders, sekaligus orang pertama yang berhasil memetakan Australia secara keseluruhan. Australia yang menjadi daerah persemakmuran Inggris sejak tahun 1901 sangat bergantung pada Inggris baik secara ekonomi, politik dan militer. Pada saat perang dunia pertama, tentara yang berasal dari Australia membantu Inggris dalam perang yang terjadi di Gallipoli. Namun, Inggris menganggap bahwa Australia adalah bukan Eropa sehingga terkesan 'melupakan' Australia. Terbukti saat perang dunia pertama, Inggris kurang berperan dalam pembendungan kekuatan Jepang. Hal ini membuat Australia mulai berpikir sendiri akan nasib negaranya. Disaat itu, Amerika Serikat dengan kepentingan membendung usaha Jepang menguasai Asia Pasifik membantu Australia dalam bidang militer. Pasca perang dunia kedua, Australia mulai mengacu pada Amerika, terutama dalam sistem ekonomi liberal dan sistem militer. Sebagai balas jasa, Australia turut membantu Amerika Serikat dalam perang Vietnam.    
Daftar Pustaka
-          Farndon, John, 1000 Fakta Tentang Sejarah Dunia, Penerbit PT Bhuana Ilmu Komputer, Jakarta, 2005.
-          Hardjono, Ratih, Suku Putihnya Asia; Perjalanan Australia Mencari Jati Dirinya, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1992.
-          Kitley, Australia di mata Indonesia, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1989.
-          Kollit, D. K., Sejarah Australia dan Selandia Baru, Penerbit Nusa Indah, 1974.
-          Oliver, W. H., The Oxford History of New Zealand, Penerbit Oxford University Press, London, 1981.
-          Sabari, J., Sejarah Australia Selayang Pandang, Penerbit Liberty, 1991.
-          Soebantardjo, Sari Sedjarah; Asia-Australia, Penerbit Bopkri, Yogyakarta, 1962.
-          Zuhdi, Susanto, VOC di Kepulauan Indonesia:Berdagang dan Menjajah, Kedutaan Besar Republik Indonesia, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta, 2002.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar