Senin, 11 Januari 2016

JEPANG DI ASIA TIMUR


Bella Berliana/S/A

            Pada tanggal 10 mei 1940 tentara Jerman menyerang negeri Belanda. Kemudian pemerintah Jepang mengadakan move pertama terhadap Hindia Belanda.koloninya diasia timur ,atau dalam istilah konstitusi Belanda terhadap wilayah kerajaan di asia. Pada tanggal 14 mei 1940 pemerintah dan ratu Belanda meninggalkan negerinya untuk mengungsi ke London.pusat kota Roterdam di hancurkan oleh Luftwaffe nazi dimana untuk pertama kali nya penduduk sipil mengalami kekejaman perang udara.

            Duta besar jepang ini menyerahkan sebuah nota pada pemerintah kerajaan Belanda mengenai koloninya dan menekan kan agar dibukanya perundingan tentang hubungan -hubungan ekonomi yang lebih luas antara Jepang dan Hindia Belanda sambil menunjukan bahwa pada tanggal 2 februari 1940 nota semacam ini di kirim dan belum masuk jawaban oleh Belanda. Tanggl 15 mei Belanda menyerah dan wilayah nya di duduki Jerman. Sejak saat itu Amsterdam tidak lagi berfungsi sebagai punggung untuk kejadian- kejadian yang menentukan nasib Indonesia.
            Di Batavia yang sekarang Jakarta konsul jenderal Jepang pada tanggal 18 mei 1940 mengadakan audiensi dengan Gubernur jendaral Jhr.Tjarda van STARkenborg-stachou wer sambil menyampaikan ikut berbelasungkawa dan berduka cita atas malapetaka yang menimpa Belanda. Di Tokyo duta besar Belanda dipanggil oleh Menetri Luar Negeri Jepang pada waktu itu, Arita, yang menyodorkan suatu nota padanya . Nota tersebut berisi kepuasaan pemerintah Jepang pada waktu itu dengan jaminan Gubernur Jendral yang di nyatakan melalui duta besar Belanda Jendral j.c pabst. Bahwa hubungan ekspor bahan-bahan mentah dari Indonesia ke Jepang tidak akan menemui halanagan apa-apa pada tanggal 16 mei jaminan itu di berikan dan ini sangat penting bagi Jepang berhubung perang yang terjadi di Cina.
            Pada tanggal 28 mei sekali lagi nota di kirim dengan isi yang sama berisi tekanan- tekanan agar segera memberi jawaban sebab kaum ekstremis Jepang membahayakan kedudukan Jepang. Setengah tahun berlalu Hindia Belanda secara fisik berperang dengan kaisar Jepang, dan secara resmi Indonesia memaasuki perang dunia ke II tanggal 10 mei 1940. Volksraad atau dewan rakyat segera mengadakan sidang istimewa mengenai situasi tersebut.
           

Tjipyo Mangunkusumo dalam pembuangan di makasar memimpin demontrasi di depan Gubernur Sulawesi untuk menyatan dukacita dan sekali gus loyalitas pada pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi bencana nasional yang sedang terjadi. Orang Jerman dan NSB harus di amankan. Dari sembilan belas kapal  dagang milik Jerman hanya satu yang berhasil di tenggelamkan oleh anak buah kapal sebelem di duduki oleh tentara KNIL. Pelaksanaan pengamanan ini dapat berjalan dengan lancar dan efisien karana sebelumnya sudah ada persiapan yang matang. Ketika Jerman memasuki Noerwegia dan Denmark maka Indonesia sudah diadakan persiapann guna menghadapai kemungkian perang dunia II.
Sebuah surat di tuliskan seorang Belanda anggota NSB yang sedang internir kepada Ds.tichelar.tokoh yang sangat terkenal di Hindia Belanda tahun 1940. Surat yang berjudul N.S.B er briref aan Ds.tichelaar berbentuk manuskrip setebal 49 halaman dan merupakan semacam vlug orang Belanda pro nazi di Indonesia yang mungkin terdiri dari kelompok kelompok penting di BB serta penguasa nesar dalam VC.
Dalam surat ini di jelas kan bahwa NSB adalah suatu partai yang diakui dan bahwa tunduhan NSB melakukan penghianatan sama sekali tidak bener dan tidak terbukti di negeri Belanda apalagi di Indonesia. Ia juga mengkritik ratu Belanda yang lari ke London sambil meninggalkan rakyatnya yang di kuasai musuh. Sampai dimana kebenaran ini hal ini bisa dapat di pastikan ,tetapi banyak surat kawat dari berlian di tahan yang memuat kata-kata sandi untuk aksi ini.
Pada bulan mei tahun itu juga ada berbagai persiapan militer. Anehnya tidak saja terhadap Jerman . Tetapi terhadap Jepang. Laksmana Madya Helfict memerintahkan kapal perang Belanda untuk mengadakan latihan perang di Selat Madura. Sedangkan Pulau Jawa armada Belanda di pusatkan untuk menjaga pintu masuk Indonesia dan menghadapi serangan-serangan dari Jepang dari jurusan utara. Dari bulan mei 1940 sampai desember 1941 pemerintah Hindia Belanda selalu mewaspadai dan kuatir akan kemungkianan serbuan dari pihak Jepang.
Untuk sementara Indonesia aman dari koloni kerajaan Belanda aman dari penyerangan Jepang di belakang barier benteng- benteng koloni milik Inggris. Negeri Belanda sendri sebenarnya dari sejak akhir abad ke 18 dan lebih –lebih sejak abad ke 19 telah mendapat jaminan kemanan dan perlindungan dari Inggris terhadap kemungkinan ancaman kekuatan kekuatan lain dari daratan Eropa.
Dalam bulan agustuts 1941 pertemuan antara presiden Roosevelt dari Amerika Serikat dan Churcil yang mengahasilkan Atlantik Charter. Jepang menerima resmi dari Amerika Serikat dan Inggris bermaksud menghentikan agresi Jepang ke Pasifik. Pemerintah Hindia Belanda kemudian di minta untuk mengirim nota dengan isi yang sama. Jelas pernyataan –pernyataan ini bermaksd melindungi milik-milik ingris dan Belanda di asia serta menghentikan perluasan ekspansi Jepang.
Pada saat negara-negara Eropa terlibat dalam peperangan melawan Hitler . Pernyatan Amerika serikat berbunyi :
1. Setiap perluasan lebih lanjut di Pasifik Barat Daya oleh Jepang akan menimbulkan keadaan dimana pemerintahan Amerika Serikat akan terpaksa mengambil tindakan- tindakan yang menantangnya biarpun ini akan berarti perang antara Amerika Serika dan Jepang.
2. Bila ada pihak ketiga yang menjadi korban agresor Jepang sebagai akibat dari tindakan-tindakan yang dimaksd atau karena bantuannya pada mereka, presiden akan meminta pada kongres mandat untuk membantunya.
Tetapi untuk sementara politik Non-Belligerency Amerika Serikat tidak banyak mempengaruhi jalannya sejarah baik di Asia maupun di Eropa. Diasia menurut Cina Jepang itu tidak di halangi memperluas daerah pengaruhnya di negara itu . Dan Eropa orang-orang Inggris menganggap Atlantik Conference sebagai Pious Word terutama Eropa. Amerika Serikat sendiri masih terlalu isolasionis menurut pendapat umum di Eropa. Jepang berkembang sebagai negara industri dan kaitalisme terkuat. Pada masa Jepang masih menjadi kekuatan-kekuatan barat besar .
Hanya industri yang dapat menampung pertambahan penduduk yang demikian hebat. Penanamann modal Jepang juga menunjukkan angka-angka yang meningkat. Pada akhirnya perang Cina-Jepang pada tahun 1895 modal yang di tanam berjumlah 308 juta yen sedangkan tahun 1930 berjumlah 13.790.758.000 yen, meningkat hampir seratus kali . Modal perdagangan dalam tahun 1930  sejak 1895 meningkat lima puluh kali lipat. Setengah dari jumlah modal penanaman ini di tanamkan di pabrik-pabrik dan pertambangan dan sebagian besar lainnya pada perbankan dan perdagangan.
Industri tekstil yang menjadi demikian penting umpamanya di peroleh dan di besarkan oleh pangeran Shimazu seorang anggota penting dari klien bangsawan Satsuma yang berperan dalam restorasi meiji. Sampai suatu batas tertentu dapat di katakan bahwa struktur feodal dan ikatan feodal serta kekayaan di tangan kepala-kepala klen memudahkan perkembangan industri melalui penanaman modal dan bentuk-bentuk organuisasi nya. Pada abad 19 timbul dalam masyarakat Jepang golongan baru yaitu golongan bangsawan berdasarkan kekayaan modal dan tidak berdasarkan atas milik tanah. Sedangkan pemerintah dan golongan elite disamping menunjukan garis –garis pemisah antara berbagai kepentingan industri , perdagangan, dan agrari masing-masing juga mempunyai aktifitas ekonomi.


Pada abad 19  Jepang memulai politik pengaruh di ekspensi dengan kemenangan Jepang atas Cina dalam perang Cina-Jepang yang pertama 1895. Puncak kedua dicapai dalam perang Rusia-Jepang 1905 , sekali lagi dengan dengan kemenangan Jepang. Kemenangan ini menghasilkan Korea pengaruh di Machuria. Foramsa Taiwan di akui Jepang sebagai negara besar di Asia. Untuk suatu periode yang lama yaitu sampai tahun 1940. Petualangan Jepang dan usaha Jepang menjadikan Cina semacam protektorat selama perang dunia I ketika negara-negara barat sibuk di Eropa menghadapi Jerman berhasilkan di gagal kan oleh negara-negara barat tersebut. Warlordisme adalah perang antar saudara kudeta dan lain-lainnya menyebabkan Cina sama sekali tidak mempunyai daya tahan di asia dan negara internasioanal kecuali sebagai suatu aktor dalam politik internasional kecuali sebagai korban dari berbagai ekspansi.
Keadaan Cina seperti berlangsung hingga pecah nya perang Pasifik, tetapi pada tahun 1920-1930 negara-negara barat berhasil mengekang Jepang. Dari tahun 1920 sampai 1930 Jepang mengalami masa damai. Kekalahan diplomatik dan perjanjian-perjanjian internasional yang mengurangi persentaan. Wangsington Conferencedan perjanjian empat negara semuanya mengekang Jepang. Pada tahun 1930 di Jepang terjadi perubahan politik yang besar. Dalam perkembangan 1920-1930 dapat menyaingkan glongan- golongan klen satsuma dan klen choshu dari kepemimpinan angkatan bersenjata. Walaupun masa 1930 sampai 1941 tida seluruhnya pemimpinnegara berada di tangan angkatan bersenjata Jepang.
Tujuan utama dalam politik ini adalah Manchuria yang status internasional nya pada waktu itu dapat di ragukan. Manchuria di kuasai oleh Warlloard Chang Hsuhliang yang mempunyai hubungan baik dengan Jepang yang memang memiliki kepentingan luas di manchuria. Campur tangan liga bangsakarena protes Cina dan pernyatan-pernyatan Amerika Serikat yang menantang Jepang di abaikan serti juga aksi-aksi Cina terhadap segala yang berbau Jepang. Dan merugikan perdagangan Jepang. Dalam bulan maret 1932 Manchukeu dibawah Henry pu-yi kaisar terkhir Dinasti Chin dari Cina. Negara-negara ini meliputi tiga provinsi utara Cina dan provinsi jehol yang baru di Rengrut dalam tahun 1933.
Dalam tahun 1933 ketika Jepang kurang puas dengan lyttocommission dari liga bangsa-bangsa maka Jepang keluar dari wadah tersebut sebagai anggota. Untuk sementara negara barat dalam kesukaran krisis ekonomi dunia tidak bersedia menghentikan agresi Jepang di Cina dengan kekerasan senjata. Ada harapan bahwa Jepang akan kehabisan tenaga menghadapi kampanye –kampanye lama dan sukar di Cina sehingga terpaksa mencari penyelesaian ke arah lain. Selain itu Jerman di Eropa juga mengadakan pakta anticomintren dengan Jepang. Filsafat nasioanalisme yang pada waktu itu berkecamuk di Jepang mendekatkannya pada negara Nazi Jerman dan fasis Italia.

Prof.imaizumi pemimpin aliran KODO yang sangat mempengaruhi kelompok-kelompok nasioanalisme ekstrem menulis:
"Jepang dari hari ini kini sebagai suatu kerajaan tidak sepeti keadaannya yang dahulu. Rakyat terasing dari kaisar dengan muncul nya suatu golongan minoritit yang memilih hak-hak istimewa ,para negarawan tua partai partai politik yang mengelilingi kaisar ,semuanya satu sama lain berhubungan erat dan orang-orang yang menghalangi semua langsung antara kaisar dan kaula-kaulanya.mereka adalah orang-orng yang mempererat kaisar untuk memerintah negara demi kebutuhan-kebutuhan pribadinya.
j.romein menulis bahwa golongan militer dan nasionalis ekstrem ini hanya halnya mereka yang berasal dari kalangan bawah mempunyai sentimel sentimel antikapitalisme tetapi karna kestian buta mereka terhadap kaisar maka idiologi mereka semifasis dan totaliter. Golongan Nasioanalisme ekstrem ini berpolitik untuk mendirikan negara-negara tetangga sekitar Jepang yang bersahabat dengan Jepang atau merupakan negara-negara boneka Jepang dengan kekaisaran Jepang sendri sebagai suatu pusat dari aliasai negara-negara model Jepang ini.
Kokoryukai terkenal sebagai angkatan bersenta dalam nasionalisme dan agitasi dalam perkumpulan rahasia yang didirikan oleh Chida Ryohei. Mulai tahun 1930 nasionalisme Jepang memuncak . Hal ini antara lain disebabkan karena perjanjian London tentang angkatan laut yang membatasi jumlah tenaga angakatan laut Jepang. Sejak tahun 1930 juga terlihat suatu sentimen anti barat di sampuing di perkuat nya bushide shintoisme dan kesetian pada kaisar. Sentimen-sentimen anti marika berkisar pada undang-undang imigrasi Amerika Serikat pada tahun 1924 dan bantuannya  terhadap Cina.
Perluasan perang Jepang ke Cina Selatan sesudah mendirikan negara Manchukuo dan kemenangan-kemenangan di Cina Utara. Menyebabkan sesudah tahun 1938 muncul sebuah ketegangan yang makin lama makin tajam dengan negara-negara barat. Peperangan lambat laun menjadi suatu permusuhan antara Jepang dan Inggris, Amerika dan Perancis di lain pihak tidak saja lagi hanya antara Cina dan Jepang. Di Tientsint Cina Utara konsensi-konsensi Inggris tentang dan pelaksanaan blokade terhadap Inggris .
Dengan Amerika Serikat persoalan-persoalan timbul berhubungan dengan anggapan Amerika Serikat yang tradisional mengenai pintu terbuka di Cina dan Manchuria yang di halang-halangi oleh Jepang. Di samping itu persoalan sehubungan dengan insiden akibat perang Jepang di Cina seperti pengeboman di utara oleh Jepang terhadap kapal dagang PANAY yang berada di zona perang. Menurut Jepang mereka meraka sedang berusaha semaksimal munkin untuk mendirikan orde baru yang di dasarkan keadilan internasioanal di seluruh Asia Timur. Biarpun dalam sikap-sikap kompromi ini Inggris dan Amerika Serikat kemudian memberi bantuan-bantuan keuangan pada Cina tetapi pada umumnya dapat di katakan bahwa negara-negara barat mengalah terhadap Jepang terutama ketika kesukaran-kesukaran di Eropa bertambah .
Disarankan oleh Lord Hallifax kemudian untuk menghindarkan peperangan dengan Jepang. Indo Cina di bawah dibawah Gubernur Jendral Decoux lalu mengadakan kapitalisme demi kapitulasi terhadap tuntutan Jepang yaitu penempatan komisi pengawas di perbatasan Indo Cina. Selanjutnya melaui tekanan-tekanan Jerman terhadap pemerintahh Vichy di Perancis. Dengan demikian timbul keadaan dimana Jepang  menjadi pelindung Indo Cina tahun 1941 dan akhir dari riwayat ini terjadi pada maret 1945 dengan kependudukan seluruh Indo Cina dan penahanan orang-orang perancis disana . Sebagai reaksi kejadian-kejadain di Indo Cina ini Amerika serikat yang prinsip-prinsip politiknya didasarkan atas status Quo di Asia Selatan.
Ketika Jerman pada tahun 1940 mencapai kemenangan- kemenangan gemilang di Eropa , Jepang mengubah sikapnya dan mulai mendekati kembali Jerman. Pengusaan terhadap koloni -koloni barat di Asia yang tadi nya kelihatan sebagai angan-angan yang jauh , menjadi sesuatu yang dapat di capai dengan jatuh nya perancis penakluk seluruh Eropa Barat oleh Jerman dan juga ancaman terhadap Inggris sendiri dalam Battle Of Britain. Kedudukan Jepang di Utara di bebaskan dengan di adakan Pakta Neutralitet dengan Rusia dalam bulan april1941. Pada kesempatan kunjungan Matsuoka ke Eropa seperti Berlin Roma dan Moscow Jepang mendapat pengakuan dari Hitler sebagai pemimpin Asia Raya sedangkan Hitler sendiri menyebut dirinya pemimpin Eropa dan Mussolini pemimpin Afrika.
Jepang mengimpor gula dan minyak dari Indonesia sedangkan Indonesia mengimpor barang-barang konsumsi yang murah dari Jepang. Eksor dari Indonesia ke Jepang tahun 198-1925 lebih besar impor. Jadi ada semacam keuntungan dari pihak Indonesia . Kemudian pada tahun 1925-1928 perimbangan eksppor-impor kira-kira menjadi sama . Tetapi sejak tahun 1928 pembelian Jepang dari Indonesia mengalami penurunan sedangkan impor dari Jepang tetap tinggi sepuluh persen dari impor Indonesia. Sejak tahun 1928 produksi gula Jepang dari famosa menjadi baik dan Jepang tidak memerlukan impor gula dari Hindia Belanda, sesuatu yang mengjengkal Belanda, karena gula merupakan salah satu tulang punggung ekspor dan perekonomian Indonesia. Terutama karena cara produksi gula Jepang di pelajari dari jawa balans perdagangan dengan Jepang pasif.
Pada tahun 1934 kedua negara sepakat untuk mengadakan suatu perundingan dalam bidang ekonomi.degalasi Jepang di ketua oleh Dr.Haruchi Nagaoka, bekas duta besar Jepang di Paris Den Hag sedang kan dari pihak Hindia Belanda diangkat dr.mayer rannef wakil Presiden dewan Hindia Belanda . Ketika degalasi Jepang yang jumlahnya besar datang di tanjung priok, mereka mengucapkan kata-kata yang tidak enak bagi telinga Belanda antara lain:
Bahwa rakyat Jawa yang mempunyai sejarah lebih dari 2000 tahun juga menyumbangkan pada kemakmuran Indonesia maka tuhan telah menetukan rantai-rantai hubungan demi kemakmuran bersama antara kedua negara.
Kata-kata itu tentu nya kurang baik di terima oleh Belanda terutama menunjukkan perbandingan antara jarak Indonesia-Jepang dan Indonesia negeri Belanda juga dengan disebut-sebutnya kata koeksitensi dan kemakmuran bersama yang kemudin menjadi doktrin resmi Jepang. Kata-kata itu mencinptakan suasana diplomatik yang kurang baik dan bersifat menekan bahwa menurut Jepang mereka datang ke  Indonesia tidak untuk menjual kain-kain tetapi untuk membicarakan politik negeri. Beberapa hari kemudian dr.nagaoka menyerahkan pada Gubernur Jenderal semacam nota yang memuat empat pasal, yang akan membatasi hak-hak Belanda untuk mengambil tindakan-tindakan dalam bidang ekonomiyang dapat merugikan Jepang dan selain itu termuat usul bahwa Indonesia akan diekspolitit bersama demi keoksitensi dan kemakmuran bersama.
Ketika perang timbul di Eropa dan pada akhirnya negeri Belanda di duduki Jerman maka ofensi Jepang terhadap Hindia Belanda di mulai lagi. Seperti di uraikan di bagian awal ofisien ini sangat gencar dan  bersifat mendesak. Tetapi agitasi kaum ekstremis di Jepang sendiri dan terlibat nya Jepang dalam Chine incident. Keadaan perang dunia dunia II menimbulkan satu hal yang baru dalam hubungan diplomatik Indonesia Jepang . Sebelum 1940 pihak Belanda selalu menekan kan tentang soal peningkatan ekspor dari Indonesia ke Jepang. Sekarang soanya berubah di mana dari pihak Jepang ada kekewatiran bahwa Hindia Belanda akan menghentikan ekpornya dan justru sekarang Jepang ingin memperbesar pembeliannya bahan-bahan mentah dan strategis dari Indonesia.
Dalam bulan juni 1940 pemerintah Hindia Belanda menjawab nota –nota yang di desak dari Jepang. Nota Belanda ini menjamin bahwa perdagangan akan dilanjutkan dan bahwa ini sudah tercantum dalam persetujuan hart ishizawa sambil menyebut sesekali lagi masalah gula yang tidak dapat di penuhi oleh Jepang berhubung dengan Chine Incident. Pemerintah Hindia Belanda meminta Jepang memahami malah yang juga di alami kerajaan Belanda.
Soal-soal ekspor bauksit ,besi,nikel,dan lain-lainnya memunkindapat dipenuhi hanya tentang minyak pemerintah Hindia Belanda sangsi karena lebih besar jumpak ekspor Jepang. Walaupun banyak buku terbitan Belanda dan sekutu tentang zaman itu mengambor-gemborkan sikap tegas mereka trhadap Jepang. Fakta-fakta menunjukan adanya sikap yang lain. Terutama Inggris sebagai negara barat yang paling banyak berhubungan dengan Jepang kepentingan-kepentingan paling banyak di asia, lebih berada dalam kesukaran bila di bandingkan degan Amerika Serikat dan karena terpaksa bepolitik mundur terhadap desakan-desakan diplomatik Jepang dan dengan sendiri nya ini berakibat terhadap Hindia Belanda.


Sebelum pertukaran nota-nota berakhir sama sekali dalam bulan juli 1940 Jepang mendesak sekali lagi tuk mengadakan perundingan antara kedua negara tentang soal-soal umum dan dalam skala luas . Pemeritah Hindia Belanda tentu tidak senang dengan ini ,sebab bila hanya ada perundingan hanya tentang soal-soal perdagangan maka ini dapat di lanjutkan pada perundingan-perundingan yang lebih rendah tingkatannya. Di samping itu kekuatiran bahwa Jepang akan meningkatkan perunding-perundingan ke bidang politik dan karena itu bisa timbul soal-soal yang menyangkut status quo.
Politik ini di jalan sampai bulan januari 1942 sembari mengadakan pernyatan perang Hindia Belanda yang di umumkan bulan desember 1941.Pertimbangakan untuk mengadakan politik semacam ini bagi Jepang tentunya di dasarkan atas beberapa hal. Bagi Jepang adalah suatu keuntungan untuk dapat memperoleh Hindia Belanda tanpa kerusakann apa-apa dalam keadaan utuh . Selain itu menguntungkan oleh Jepang untik menerima Hindia Belanda degan administrasinya yang efisien tanpa kegoncanganapa pun juga dan dapat melakukan kerja sama dengan para pengawai pemrintah Belanda yang berpengalaman.



Sebelum penukaran nota-nota selesai Jepang memutuskan untuk mengirim degalasi ke Hindia Belanda guna mengadakan perundingan. Hindia Belanda tidak berani menolak nya dan menerima usul untuk mengadakan perundingan pada tanggal 1 agustus. Sikap Hindia Belanda adalah untuk tidak membicarakan soal-soal politik dan umum dan mememinta kepada Jepang penjelasan yang terperinci tentang program perundingan. Tetapi rupanya hal ini di abaikan Jepang dan memeberikan jawaban yang samar-samar tentang penanaman modal mereka pembelian minyak dan lain-lain. 
Kegemilangan Jepang yang diperoleh hingga 1937, belumlah memberikan kepuasan kepada Jepang. Sebaliknya Jepang makin agresif. Hal ini nampak jelas dengan adanya cita-cita pembentukan Negara Asia Timur Raya. Dengan ini Jepang berambisi besar untuk menggantikan kedudukan bangsa-bangsa Asia dari penjajahan bangsa kulit putih. Cita-cita yangtinggimemaksaJepangharusmelibatkandiridalamkancah peperangandiPasifikyangkemudiandikenaldenganPerangPasifik.
     Adapun faktor-faktor yang menyebabkan Jepang bercita-cita ingin membentuk Negara Asia Timur Raya adalah sebagai berikut:
  1. Jepang Insyaf benar akan panggilanya untuk menjadi pemimpin di Asia. Kita masih ingat akan plakat Jepang di Indonesia, dengan semboyan 3A, yakni: Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia. Tentang pembebasan bangsa-bangsa Asia, selanjutnya Jepang mengemukakan perlunya kerja sama yang erat dan kesatuan yang kuat antara negara-negara Asia Timur dan Pasifik.
  2.  Jepang merasa dirinya kuat untuk berhadapan dengan kekuatan Barat yang besar di Asia dan Pasifik. Jepang insyaf bahwa ia harus berhadapan dengan Inggris dan Amerika Serikat.
  3. Kemajuan industri dan perdagangan yang pesat, memaksa Jepang untuk mencari daerah-daerah Asia sebagai tempat pemasaran dan pengambilan bahan mentah.
  4. Kepadatan penduduk yang semakin cepat perkembangannya, merupakan masalah yang sulit dipecahkan. Satu-satunya jalan mengatasi masalah penduduk adalah memindahkan sebagian penduduk Jepang ke daerah-daerah lain. Apabila cita-cita membentuk suatu kerajaan besar di Asia da direalisir, maka salah satu masalah nasional Jepang yang sangat penting ini dapat dipecahkan.
                            

 Untuk merealisasikan cita-citanya Jepang melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:
  1. Membentuk Pakta anti-Komitern (1936), yang beranggotakan Jepang, Jerman, Italia, Hongaria, Manchukuo dan Spanyol.
  2. Membentuk Pakta Poros (1940), sebab setelah Jepang berhasil merebut Indocina dari tangan Prancis pada 1940, maka Jepang segera mengadakan perjanjian dengan Jerman dan Italia. Maksudnya agar saling membantu melawan setiap Negara yang hendak campur tangan dengan perang di Eropa atau pun dalam perang yang sedang berlangsung antara Jepang-Cina II. Poros BEROTO (BErlin, ROma, dan TOkyo) ini merupakan ancaman besar bagi Amerika Serikat.
  3. Mengadakan Perjanjian dengan Uni Soviet 1941 (Neutrality Pact), yaitu perjanjian untuk tidak saling menyerang.
     Ketiga tindakan tersebut tidak lain merupakan usaha Jepang untuk memperkuat pertahanan diri terhadap kemungkinan adanya bahaya dan rintangan negara-negara lain sehingga dengan pertahanan yang kuat itu Jepang berharap akan mencapai cita-citanya, yakni menguasai Asia Timur dan Pasifik. Sekalipun demikian dalam hati Jepang merasa takut karena ada kekuatan besar yang telah lama berkuasa dan berpengaruh di Pasifik, yaitu Amerika Serikat.

DAFTAR PUSTAKA :

1.Onghokham.Runtuhnya Hindia Belanda.Jakarta: PT Gramedia, 1989
2.Nagazumi,Akira pemberontakan Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.1988
4. Syah,Iskandar.2004.Asia Timur (Dalam Perspektif Sejarah).Bandar Lampung:Universitas Lampung press.
5.Rudy, Teuku May Drs SH MA MIR., Studi Kawasan. Bandung: Bina Budhaya1997.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar