Minggu, 10 Januari 2016

KERAJAAN KUNTO DARUSSALAM SEBELUM KEDATANGAN JEPANG DI TANAH MELAYU


AGUSNIYARNI/SR

a.       Bangkitnya kembali Rantau Rokan
1.      Kerajaan Kunto Darussalam dalam kelompok kerajaan-kerajaan Rokan.
Setelah kerajaan Rokan di pakaitan runtuh dan Rajanya melarikan diri ke Siarang-arang, maka aktifitas masyarakat dalam daerah di sepanjang aliran sungai Rokan hilang dari percaturan polilik selama beberapa abad dan tidak disebut-sebut dalam sejarah Kesultanan Malaka. Rakyat yang ada didaerah ini tidak menunjukan kegiatan yang berarti untuk membangkitkan kembali masa lalu kerajaan Rokan. Mereka hanya sibuk dengan kebiasaan sehari-hari untuk pemenuhan kebutuhan hidup, namun kondisi ini segera berubah setelah berdirinya kerajaan-kerajaan kecil di Rokan bagian Hulu dan rokan Hilir. Di Rokan Hulu berdiri 5 kerajaan dan di Rokan Hilir berdiri 3 kerajaan dan masing-masing kerajaan ini berdiri sendiri. Nama-nama kerajaan yang berdiri diRokan hulu diantaranya : Kerajaan Rambah yang berpusat di pasir pangaraian, Kerajaan Tambusai yang berpusat di Dalu-dalu, kerajaan Kepenuhan yang berpusat di kota Tengah, Kerajaan Rokan IV koto yang berpusat di Rokan IV Koto, dan Kerajaan Kunto Darussalam yang berpusat di Kota Lama.

Sedangkan 3 kerajaan yang terdapat di Rokan Hilir terdiri dari kerajaan Kubu yang terdapat di Teluk Merbau, Kerajaan Bangko yang terdapat di Bantaian, Kerajaan tanah Putih yang terdapat di Tanah Putih.  Da berikut ini beberapa pendapat yang berkaitan tentang berdirinya kerajaan-kerajaan itu, dalam sejarah Rokan disebutkan Bahwa kerajaan-kerajaan yang terdapat di Rokan Hulu dan hilir muncul kira-kira abad ke -16, sedangkan dalam silsilah Kunto Darussalam raja pertamanya yang memerintah adalah pada tahun kurang lebih dari 1878-1884.  Dan kerajaan Kunto Darussalam ini salah satu kerajaan yang terdapat di Rokan Hulu. Jika merujuk pada sislsilah raja-raja Kunto darussalam maka kerajaan –kerajaan yang ada di Rokan Hulu berdiri sekitar Abad ke -19 seperti kerajaan Kunto Darussalam juga. Sedanagkan Jika merajuk pada sejarah rokan tentunya keraan ini telah berdiri semenjak abad ke -16, berarti antara jatuhnya kerajaan rokan di pekaitan sekitaran tahun 1513, dan secara yuridis masing-masing kerajaan di rokan hulu dan hilir ini mempunyai pemerintahan yang sendiri-sendiri yang bersifat otonom tetapi raja dan rakyatnya masih terikat dalam suatu kekerabatan, pemimpin kerajaan dirokan hulu adalah Raja dengan gelar Yang Dipertuan.[1]
Pada masa pemerintahan Sultan syaifuddin dari tambusai di kota lama berdiri kerajaan Kunto Darussalam, dan ditempat ini pulalah pada abad ke 14 dan 15 terdapat kerajaan Roka yang runtuh pada saat diserang Aceh.
2.      Raja-raja Kunto Darussalam
Dari silsilah rajaraja kerajaan ini diketahui raja yang pertama adalah Tengku Panglima Besar kahar yang dipertuan Muda-Yang Dipertuan Besar atau Yang Dipertuan Sakti(1878-1884).  Yang Dipertuan Besar adalah raja sekaligus sebagai Kepala Kerapatan Adat. Dan pemerintahannya berkedudukan di Rantau Tonan Kota Intan/Kota Lama. Dan daerah kekuasaannya selain Kota Lama juga meliputi Tandun, Kepanasan, Sinamo Ninik dan Kasikan. Semenjak Tuanku Panglima Besar Kahar menjadi raja dia berusaha menghimpun rakyat yang berserakan semenjak kejatuhan rokan karena serang Aceh. Titik pertama pembangunan ialah pembuatan Benteng, dan ia memerintahkan untuk membuat benteng itu kepada Datu-datuk dari 5 kota yang meliputi:Kota Lama, Tandun, Kepanasan, Sinamo Ninik, dan Kasikan. Dengan bantuan dari merekalah maka pembangunan Banteng itu dapat diselesaikan dimana banteng itu dibangun dengan tujuan untuk pengamanan dan pemisah anatara perkampungan dan istana.
Dan dari perkawianannya dengan Permaisuri raja mempunyai 4 orang anak diantaranya sebagai berikut:  T. Intan Nafiay, T. Ali Momad, T. Siti Panco Alam, T. Abdullah/Sultan Rokan. Pada tahun 1884 Penglima Besar Yang Dipertuan Besar mangkat,dan selama kurang lebih 6 tahun dia telah berhasil menyatukan rakyat disekitar kota Lama dalam wadah kerajaan Kunto darussalam.  Setelah ia mangkat dan yang menggantikannya ialah Tengku Besar Syarif dengan gelar Yang Dipertuan Muda-Yang Dipertuan Besar (1885-1895)  raja kedua ini bukan lah putranya namun punyahubungan kekeluargaan dengannya. Selama pemerintahannya raja berusaha memperluas daerah hingga daerah tapung, dan Raja ini juga membangun Balai Kerajaan karena difungsikan Untuk tempat Pertemuan dan Perkantoran. Dan untuk tempat tinggal dan menjalankan pemerintahan raja ini membangun sebuah Istana. Semasa pemerintahannya juga kerajaan pernah diserang Hulubalang Siak, sehingga menyebabkan raja ini mengadakan hubungan dengan Belanda, ini dibuktikan dengan adanya perjanjian pada tahun 1895 yang dipimpin oleh Mr. Khous selaku Kontroleur Belanda di Rokan Empat Koto. [2]
Dimana isi perjanjiannya itu diantaranya:
a.       Kerajaan bersahabat dengan wakil Goverment Belanda Voordeckock di Rokan IV Koto.
b.      Raja melayu menyetujui memberi izin kepada belanda melalui sungai Rokan menuju ke Kuala Tanah Putih dan Bangko/bagan untuk menyusun Kekuasaan Controleur.
c.       Raja dengan Belanda tidak ada permusuhan sebagai bukti alat perang meriam dipakukan pada lubang Mesiu di kota Lama kunto.
Persahabatan itu bertujuan untuk perlindungan kerajaan dari serangan dari luar,namun antara serangan siak dengan belanda ternyata memiliki hubungan, dan akibatnya Datuk-datuk menuduh Raja menjual kerajaan kepada belanda, sehingga banyak datuk yang memisahkan diri dari kerajaan. Dan puncaknya terjadinya penembakan terhadap raja sehingga menyebabkan kematian. Dan raja selanjutnya ialah Tengku Ali Kasyam dengan gelar Yang Dipertuan Besar(1896-1905) beliau adalah menantu dari raja yang pertama, pusat pemerintahan dipindahkan dari Kota Lama kunto kekota Lama sekarang. Pada masa dia memerintah raja ini memerintahkan kepada Datuk-Datuk untuk terusan dari danau Ombak dan danau sicolek. Raja ini dikenal raja yang mempunyai banyak perkebunan karet atau tanah yang banyak di kota Lama, beliau mempunyai 3 oarang Istri yaitu: T. Siti Panca Alam(Puter raja pertama), T. Syarifah, dan Suri.  Dari istri pertama raja puya 4 orang anak, raja kedua raja punya anak dua, dan istri ketiga raja punya anak empat.
Dan  pada tahun 1905 beliau wafat dan di kebumikan dikota lama, dan sebagai penggantinya diangkat Teungku Ali Tandun Yang Dipertuan Besar(1906-1910) raja ini sangat rapat hubungannya dengan Belanda, dan pada tanggal 25 Juni 1910 diadakan perjanjian antara Raja dan Belanda yang disebut Korte Verklaring.  Dan selama pemerintahannya selalu atas kehendak Belanda, sepeti sebutan raja diganti Zelfbestuur, dan kerajaan ini menjadi kerajaan Zelfbestuur van Kunto Darussalam. Dan akhir pemerintahhanya raja ini diturunkan oleh belanda, namun setelah diturunkannya oleh belnda maka penggantinya di tunjuk Tengku Ishack yang bergelar Yang Dipertuan Muda(1911-1920) masa pemerintahannya mendapat dukungan dari ketua kerapatan  yang berkedudukan di Kota Intan dan dari Datuk mentri yang berkedudukan di Kota lama.  Dan pada tahun 1921 beliau mangkat dan dimakamkan di Kota Lama. Dan raja selanjutnya yang menggantikan ialah Tengku Ali Momad dengan gelar Tengku Panglima Besar(1921-1925). Masa pemerintahannya ia mendapatkan simpati dari Datuk suku sembilankota intan dan Datuk suku Tujuh kota lama, watak raja ini sangat keras dalam mengambil keputusan, bahkan ia bisa membuat kerajaan siak menyetujui tuntutannya, dan siak memberika upeti kepada kerajaan ini sebesar f 250 Gulden perbulan. [3]
Masa pemerintahannya ia sakit dan mengkat di Kota Lama 1925.  Dan penggantinya ialah Tengku Kamaruddin(1925-1935)  raja ini merupakan putra  raja kelima T. Ishack. Dalam menjalankan pemerintahannya raja ini berani melakukan penataan dan perombakan seperti:
a.       Kepala kerapatan yang awalnya dipegang oleh Sultan Jalil Buang dari suku 9 kota intan dipindahkan ke sultan Aminullah.
b.      Datuk Bendahara yang berada pada Datuk 9 suku yang diserahkan kepada Datuk Luha, jadi Datuk Bendahara ada dikota Intan.
c.       Datuk Perdana Mentri diserahkan kepada datuk 7 suku dari Suku Caniago di kota lama, jabatan ini tidak dapat dipindahkan ke datuk 9 suku kota Inatan.
Kebijakan raja ini tampa seizin Belanda sehingga menimbulkan perselisihan dan untuk penyelesaiannya di adakan sidang Landraad pasir Pangaraian dan Bengkalis, sementara itu diantara datuk 9 suku dan Datuk 7 suku terjadi juga kesalah pahaman dan menimbulkan bibit keretakan di kerajaan. Dan mas pemerntahan dia juga lah masuk paham muda islam dari inangkabau yang dibawa oleh Sych jamil. Dan paham ini mendesak paham tua(tarekat) yang sudah ada lama di kunto darussalam. Dan akibatnya timbulnya pertentangan kedua paham ini sehingga memberikan ruang untuk Belanda untuk mencampurinya, belanda menimpahkan kesalahan kepada Teungku kamaruddin yang membiarkan paham baru masuk, dan pada akhirnya diadakan perundingan di batvia yang menyebabkan pemerintahhanya di non aktivkan dan di asingkan ke Bandung selama 5 tahun. Pada masa Teungku Kamaruddin diasingkan dan putranya Teungku syamsu juga di perintahkan untuk meninggalkan Kunto Darussalam dan disuruh pergi keujung Batu dan Tinggal di Rumah Datuk Haji Yusuf.
Dan raja yang terakhir adalah Teuku Ma'ali dimana pada masa pemerintahannya sama dengan masuknya jepang di daerah Kunto Darussalam pada tahun 1942, jepang membuat kebujakan dengan menghilangkan kekuasaan raja dengan menangkap raja ini dan memasukkannya ke dalam tahanan di Teluk Kuantan.[4]
Catatatan Kaki:
[1] Yusuf Ahmad.dkk.,Sejarah Kerajaan Kunto Darusalam.Pemerintah Daerah Propinsi Riau,Pekanbaru.1995
[2]  Mutiara, P.M,Asal Usul Raja dan Rakyat Rokan,Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa,Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan,1996.
[4] Yusuf Ahmad.dkk.,Sejarah Kerajaan Kunto Darusalam.Pemerintah Daerah Propinsi Riau,Pekanbaru.1995


Tidak ada komentar:

Posting Komentar