Jumat, 27 September 2013

POLITIK LUAR NEGERI KOREA SELATAN

ROSELMA BR PANJAITAN/PIS

Korea Selatan merupakan salah satu negara yang mengalami kesulitan besar dalam menjalankan kebijakan diplomatiknya sendiri, Korea Selatan harus berhadapan dan bermusuhan  dengan Korea Utara di wilayah Semenanjung Korea yang dikelilingi oleh negara adi kuasa di Asia Timur Jauh yaitu Amerika Serikat, Rusia, Cina, dan Jepang.
Selama masa persaingan ideologi, Cina dan Rusia secara sepihak mendukung Pemerintah Pyongyang, sedangkan Korea Selatan mendapat bantuan dari Amerika Serikat dan Jepang.Korea Selatan sama sekali tidak berdaya untuk mengubah kondisi tersebut, bahkan hanya dapat menerimanya sebagai nasib negaranya karena hal itu terjadi akibat ketertiban baru yang muncul sesudah Perang Dunia II.
Dalam hal itu, Korea Selatan sejak awal mengalami kesulitan besar dalam menjalankan kebijakan diplomatiknya dan tidak mempunyai banyak pilihan untuk memvariasikannya.Setelah mendirikan pemerintahannya sendiri, kebijakan diplomatik Korea Selatan terhadap Cina dan Rusia (Uni Soviet) tercatat tidak menunjukkan perkembangan. Seoul terhadap negara Dunia Ketiga pun seringkali harus menghadapi gangguan dari kedua negara komunis raksasa itu.Di sisi lain, Jepang sering memainkan kartu terhadap Korea Utara dan Korea Selatan, dan warga Korea yang ada dalam masyarakat Jepang.Oleh karna itu, kebijakan diplomatik Korea Selatan sangatlah tergantung pada politik luar negeri Amerika Serikat dan secara sepihak condong ke arah Washington.
Politik luar negeri Korea Selatan seperti itu mulai berubah sedikit demi sedikit sejak awal tahun 1970-an lalu seiring dengan berkembangnya perekonomian nasional Korea selatan.Korea Selatan secara positif mencoba membuka hubungan diplomatik dengan kedua negara komunis raksasa dan negara-negara Eropa Timur.Namun, percobaan Korea Selatan itu tidak bisa mencapai keberhasilan, bahkan masih harus menghadapi tantangan dari Korea Utara yang dibantu oleh Cina dan Rusia.
Namun, pemerintahan Korea Selatan tidak henti-hentinya mencoba mengembangkan diplomasinya terhadap dunia Timur.Sepanjang tahun 1970-an, diplomasi Korea Selatan mengalami banyak kemajuan di benua Afrika dan Amerika Latin penyelenggaraan Olimpiade Seoul pada tahun 1988 membawa keberhasilan besar di lapisan kebijakan diplomatik.Banyak negara non-blok dan komunis mulai condong menuju ke arah Korea Selatan.Pemerintah Korea Selatan pun segera memperbaiki kebijakan diplomatiknya terhadap Amerika Serikat dan Jepang, yaitu dari diplomasi yang berdasarkan pada hubungan patron-client yang hierarkis menjadi hubungan yang seimbang.
Setelah Tembok Berlin runtuh dan Uni Soviet mengalami perpecahan, politik luar negeri Korea Selatan memasuki era baru.Dengan menggunakan keberhasilan perekonomian nasionalnya, Korea Selatan dapat menjalin hubungan diplomatinya penuh dengan Cina dan Rusia (Uni Soviet).Selama lima dasawarsa belakangan ini, Korea Selatan berhasil mengembangkan politik luar negerinya secara dinamis.Hal itu dilihat berdasarkan pada perubahan ketertiban dunia dan berkembangnya ekonomi masyarakat.
Korea Selatan telah melakukan investasi yang besar dalam politik luar negerinya untuk mempertahankan keberadaannya, menyelamatkan rakyatnya, dan meningkatkan martabatnya.Perkembangan politik luar negeri Korea sangat besar terutama selama 20 tahun terakhir ini. Di era Perang Dingin yang berakhir pada tahun 1989 Korea Selatan menghadapi ancaman dari Korea Utara secara langsung dan frontal, yaitu dengan menggunakan perlindungan militer Amerika Serikat sebagai penggertak.Kebijakan luar negerinya saat itu sangat diwarnai oleh persaingan diplomatik dengan Korea Utara di berbagai belahan dunia dan forum internasional
Upaya-upaya pertahanan Korea Selatan tidak lagi terpusat pada garis perbatasan dengan Korea Utara, namun Korea Selatan telah mengembangkan diplomatiknya dalam berbagai hal yaitu Presiden Kim Dae Jung telah mengambil peran dalam gagasan pembentukan Masnyarakat Asia Timur (East Asian Community) melalui upaya memberi isi dan dorongan pada proses ASEAN Plus Three(ASEAN+3).Proses ini telah mempertemukan 10 negara ASEAN dengan 3 negara Asia Timur Laut (Cina, Jepang, dan Korea Selatan) dalam pertemuan berkala, khususnya pertemuan puncak tahunan.Korea Selatan yang mengusulkan pembentukan suatu East Asian Group, yang terdiri dari oraang-orang non-pemerintah untuk merumuskan dasar dan tujuan suatu Masnyarakat Asia Timur, East Asian Group yang juga dipimpin oleh Korea Selatan.Pada tahun 2003 korea Selatan juga menjadi tuan rumah pertemuan East Asian Group.
Korea Selatan kini berada di garis terdepan dalam upaya pengembangan regional Asia Timur yang sama sekali sudah terlepas dari politik luar negeri yang terpusat pada Persoalan Korea.Inilah transformasi besar yang telah dialami Korea Selatan dalam politik luar negerinya.Korea Selatan bukan lagi suatu negara kecil, politik luar negerinya   sudah   diilhami gagasan besar mengenai perdamaian dan kesejahteraan dunia, sedikitnya untuk kawasan Asia Timur.
Daftar pustaka
Yang Seung-Yoon &Mas'oed Mohtar (2004), Politik Luar Negeri Korea Selatan ( Jakarta: Gajah MadaUniversity Press)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar