Sabtu, 28 September 2013

ADAT ISTIADAT SUKU TALANG MAMAK

ELFIDAYATI / SR
Selayang Pandang
            Suku talang mamak adalah suku asli di provinsi Riau, dimana suku ini memilih jalan hidupnya untuk mengasingkan diri. Hampir semua penduduk talang mamak adalah orang yag buta hurup. Mereka hidup di daerah hilir sungai Indra Giri. Mereka tergolong pada Proto Melayu yaitu suku Melayu tua. Suku talang mamak kadang disebut juga dengan suku anak dalam atau Suku Langkah Lama. Talang mamak terdiri dari 2 kata, talang dan mamak. Talang artinya ladang kemudian mamak artinya kerabat ibu yang wajib dihormati. Suku Talang mamak ini sangat memegang teguh akan adat istiadatnya atau tradisinya. Ritual-ritual yang mereka lakukan agak berbeda dengan suku suku lainnya dan mereka memiliki kepercayaan animism. Dan mereka tetap mempertahankan ritual-ritual adat lama.
 Adat istiadat suku talang mamak berisikan upacara-upacara adat seperti gawai yaitu pesta pernikahan, kemantan yaitu pengobatan penyakit, tambat kubur yaitu acara seratus hari kematian dan memperbaiki kuburan untuk peningkatan status social, khitanan, upacara melahirkan dibantu oleh dukun, upacara timbang bayi, upacara beranggul yaitu upacara yang tujuannya untuk menghibur orang yang sedang mengalami kemalangan. Pada tulisan saya ini saya akan menjabarkan tentang upacara gawai gedang yaitu acara pernikahan pada suku talang mamak dan tambat kubur yaitu ritual pemakaman orang yang telah meninggal pada suku talang mamak.
Bahkan adat mereka yang telah menjadi tradisipun bukan hanya ritual-ritual seperti yang telah disebutkan diatas, namun sejak ratusan tahun suku talang mamak telah hidup meyatu dengan alam. Dan kegiatan ladang beringsut pun telah menjadi tradisi bagi mereka. Ladang beringsut adalah ladang berpindah. Dan pola ladang beringsut itu sendiri mereka jalankan secara baik dan benar dan dengan siklus yang tetap. Selain itu adat mereka yaitu adat langkah lama, dimana pria yang berambut panjang memakai sorban atau songkok. Pada kehidupan sehari-hari mereka melakukan upacara adat dan mereka lebih cenderung untuk menolak budaya luar.
Gawai Gedang pada Suku Talang Mamak
Gawai Gedang adalah bagian dari adat suku talang mamak yang telah enjadi tradisi dan dilakukan secara turun temurun yaitu adat ritual pesta pernikahan dari talang mamak yang telah menjadi tradisi pada suku ini. Pesta pernikahan yang disebut Gawai Gedang ini berlangsung selama 3 hari dengan berbagai prosesi. Pada hari pertama dimulai dengan prosesi dimana pada prosesi tersebut ada ritual yang sangat sakral yaitu disebut dengan menegakkan tiang gelanggang. Masyarakat percaya akan kesakralan proses tersebut dan mereka percaya bahwa tiang gelanggang tersebut adalah perwakilan dari tiang aras yaitu yang ada dilangit. Karena mereka menganggap proses ini yang paling sacral, mereka pun melaksanakan proses ini dengan penuh kehati-hatian dan mereka melakukannya penuh dengan keseriusan agar proses tersebt dapat berjalan dengan baik dan lancar.. Ini karena mereka menganggap jika mereka melakukan kesalahan pada proses ini mereka akan mendapatkan karma dan mereka percaya karma yang akan datang akan berlipat ganda kepada mereka. Karma itu akan datang kepada mereka jika mereka melakukan kesalahan pada proses menegakkan tiang gelanggang ini. Nah, setelah proses menaikkan tiang gelanggang ini kemudian ada proses pencak silat dan sabung ayam yang dilakukan dalam  upacara adat tersebut. Masyarakat talang mamak percaya jika mereka melakukan sabung ayam maka setan-setan tidak akan menganggu batin orang-orang yang ada pada acara tersebut. Mereka juga percaya saat itu jugs setan-setan akan menonton sabung ayam tersebut sehingga para batin dapat dengan tenang melaksanakan upacara adat tersebut. Setelah menaikkan tiang gelanggang acara selanjutnya yaitu  para batin akan datang satu persatu dan menuju dan masuk ke dalam kajang serong. Kajang serong itu sendiri adalah berbentuk replica perahu. Sebelum mereka masuk kesana mereka akan mengelilingi tiang gelanggang sebanyak 3 kali secara bersamaan dengan mempeai pria dan wanita, mempelai pria dan wanita ikut di arak mengelilingi juga kemudian digendong oleh pihak keluarga masing-masing. Mempelai pria dan wanita kakinya tidak boleh menginjak tanah, karena itu kedua mempelai digendong diarak mengelilinginya sebanyak 3 kali. Setelah itu mereka makan nasi manis. Nasi manis tersebut terbuat dari ketan yang dimasak dengan gula merah atau biasa disebut dengan wajik. Nah, proses tadi dinamakan dengan acara makan behidang. Ssetelah makan behidang tadi mereka kembali lagi ke kajang serong untuk membuka gulungan daun daun yang berisikan barang yang diperuntukkan untuk mempelai pria dan wanita. Isi gulungan gulungan tersebut adalah sirih dan rokok. Nah, begitulah ritual hari pertama, selanjutnya ritual hari kedua dimulai dengan Basipat. Basipat itu sendiri adalah acara penyerahan mas kawin. Mas kawin berupa tombak, kain putih 13 lembar, gelang perak dan sirih. Setelah penyerahan mas kawin selanjutnya acara makan gadang. Makan gadang adalah acara makan bersuap-suapan antara wanita dan priayang berpasang-pasangan sebanyak 3 pasang.. Pada acara makan gadang ini, dipersiapkan 3 pasangan yang akan mengikutinya, Namun ritual ini memiliki pantangan tersendiri yang dapat membuat penontonnya menjadi senang dan ritual ini sangat seru untuk ditonton, karena memiliki tantangan tersendiri, dimana yang isi pantangannya adalah jika salah satu pasangan yang ikut pada ritual ini melakukan kesalahan, maka mereka akan dinikahkan saat itu juga. Otomatis mereka yang mengikuti ritual ini pastilah akan lebih berhati-hati dalan menjalankan prosesi ritual makan gadang tersebut. Setelah itu acara selanjutnya yaitu ijab Kabul, mereka melakukan ijab kabul tidak dengan menggunakan syariat islam yaitu melainkan dengan minum pengangsi. Minum pengangsi itu sendiri adalah minum bersama antara kedua mempelai. Minuman itu adalah air gula yang sebelumnya sudah didoakan. Acara di hari kedua ini berlangsung sampai larut malam dan ditutup dengan sembah ajar dan teguh ajar. Disini maksudnya agar kedua mempelai dapat megetahui agar fungi dan kedudukan mereka jika menjalankan suatu rumah tangga. Istilahnya sama dengan mereka mendapat nasihat bagaimana fungsi dan kedudukan jika nanti telah menjalankan suatu rumah tangga. Selanjutnya di hari ketiga yaitu acara penutupan, pada acara penutupan ini dilakukan hampir sama dengan proses pada hari pertama. Hanya saja yang membuat berbeda adalah pada hari terakhir ini acaranya yaitu menurunkan tiang gelanggang. Sabung ayam tetap dilakukan pun fungsinya tetap sama yaitu agar setan-setan menonton pertunjukkan sabung ayam agar tidak mengganggu proses penurunan tiang gelanggang tersebut. Kemudian silat juga dilakukan pada acara penutupan tersebut.
Tambat Kubur pada Suku Talang Mamak
            Upacara tambat kubur termasuk upacara yang bisa dikategorikan dengan upacra yang sangat membutuhkan biaya besar pada suku mereka, ini dilihat dari waktu yang minimal dibutuhkan dua atau bahkan sampai tiga bulan setelah seseorang meninggal. Kemudian jika uang telah terkumpul maka dengan waktu yang sudah ditentukan oleh sang ahli waris, maka upacara ini akan dilakukan dan berkumpul dirumah duka. Kemudian ada sebuah patung, dan patung tersebut terbuat dari kayu lumpung setelah itu patung tersebut dikafani. Setelah dikafani, patung itu selanjutnya diletakkan diruang tengah. Mereka menganggap bahwa patung yang mereka kafani tersebut adalah sebagai pengganti atas orang yang telah meninggal. Seluruh kerabat akan mengantarkan sampai kekubur, sedangkan yang bukan kerabat tetap berada dirumah duka dan tidak ikut dalam pengantaran patung tersebut. Selanjutnya setelah sampai di kuburan mereka membuat tambak kubur yang dibuar berbentuk tingkat tiga. Kemudian dipersiapkan 2 binatang yaitu kambing dan ayam yang harus disembelih dan darahnya akan disiramkan keatas kubur tersebut. Upacara ini mereka anggap penting. Mereka menganggap agar orang yang meninggal tersebut dapat berada disisi sang penciptanya dan menuju dunia yang abadi. Ini berarti jika upacara ini tidak dilakukan maka arwah orang yang meninggal tersebut akan bergentangan.
Daftar Pustaka
Rab, Tabrani, 2002. Nasib Suku Asli di Riau. Pekanbaru : Riau Cultural Institut

Tidak ada komentar:

Posting Komentar