Senin, 13 Juni 2016

Tradisi Balimau Kasai di Kampar


Rahayu Fitri / PBM

Balimau Kasai adalah sebuah upacara tradisional yang istimewa bagi masyarakat Kampar di Provinsi Riau untuk menyambut bulan suci Ramadan. Acara ini biasanya dilaksanakan sehari menjelang masuknya bulan puasa. Upacara tradisional ini selain sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan puasa, juga merupakan simbol penyucian dan pembersihan diri. Balimau sendiri bermakna mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk yang oleh masyarakat setempat disebut limau. Jeruk yang biasa digunakan adalah jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk kapas.
Sedangkan kasai adalah wangi-wangian yang dipakai saat berkeramas.Bagi masyarakat Kampar, pengharum rambut ini (kasai) dipercayai dapat mengusir segala macam rasa dengki yang ada dalam kepala, sebelum memasuki bulan puasa.
Sebenarnya upacara bersih diri atau mandi menjelang masuk bulan ramadhan tidak hanya dimiliki masyarakat Kampar saja. Kalau di Kampar upacara ini sering dikenal dengan nama Balimau Kasai, maka di Kota Pelalawan lebih dikenal dengan nama Balimau Kasai Potang Mamogang. Di Sumatera Barat juga dikenal istilah yang hampir mirip, yakni Mandi Balimau. Khusus untuk Kota Pelalawan, tambahan kata potang mamogong mempunyai arti menjelang petang karena menunjuk waktu pelaksanaan acara tersebut.
Tradisi Balimau Kasai di Kampar, konon telah berlangsung berabad-abad lamanya sejak daerah ini masih di bawah kekuasaan kerajaan. Upacara untuk menyambut kedatangan bulan Ramadan ini dipercayai bermula dari kebiasaan Raja Pelalawan. Namun ada juga anggapan lain yang
mengatakan bahwa upacara tradisional ini berasal dari Sumatera Barat. Bagi masyarakat Kampar sendiri upacara Balimau Kasai dianggap sebagai tradisi campuran Hindu- Islam yang telah ada sejak Kerajaan Muara Takus berkuasa.
Keistimewaan Balimau Kasai merupakan acara adat yang mengandung nilai sakral yang khas. Wisatawan yang mengikuti acara ini bisa menyaksikan masyarakat Kampar dan sekitarnya berbondong-bondong menuju pinggir sungai (Sungai Kampar) untuk melakukan ritual mandi bersama. Sebelum masyarakat menceburkan diri ke sungai, ritual mandi ini dimulai dengan makan bersama yang oleh masyarakat sering disebut makan majamba.

1.   FILOSOFI DARI UPACARA RITUAL BALIMAU KASAI

            Balaimau kasai ini berasal dari tradisi penduduk sungai gangga yang ada di india mereka menganut agama hindu yang memeiliki tradisi penyucian diri di sungai, agar dosa-dosa mereka hilang bersama mengalirnya air sungai tersebut dan kemudian agama itu berkembang di Indonesia hingga sampai ke pelosok negeri yang ada di nusantara dan sungai di kampar ini sebagai bukti bahwa adanya agama hindu sampai di kampar adalah dengan adanya gugusan candi di muara takus (XIII Koto Kampar).
            Dan setelah masuk di daerah pelalawan berkembangnya Budaya dan Tradisi dan budaya itu pun masih berkembang hingga sekarang ini semoga apa yang telah di wariskan oleh nenek moyang kita dahulu dapat lebih berkembang lagi hingga ke sanak cucu kita nanti.
Balimau Kasai bagi masyarakat Kampar mempunyai makna yang mendalam yakni bersuci sehari sebelum Ramadhan. Biasanya dilakukan ketika petang sebelum Ramadhan berlangsung. Tua-muda turun ke sungai dan mandi bersama.Balimau artinya membasuh diri dengan ramuan rebusan limau purut atau limau nipis. Sedangkan kasai yang bermakna lulur dalam bahasa Melayu adalah bahan alami seperti beras, kunyit, daun pandan dan bunga bungaan yang membuat wangi tubuh.
Tradisi ini, berlangsung sejak turun menurun di kalangan Melayu Riau. Tradisi dilakukan hampir di seluruh kabupaten/kota yang ada, dengan nama berbeda satu sama lain. Contohnya saja Balimau Kasai  lebih dikenal oleh masyarakat Kabupaten Kampar .
Balimau Kasai artinya mensucikan diri baik lahir dan batin, sebelum datangnya Ramadhan,"menurut masyarakat.  Kebanyakan orang  kegiatan Balimau Kasai ini merupakan ritual wajib yang harus dilakukan. Selain mandi di sungai dengan limau yang dianggap sebagai penyucian fisik, ajang ini juga dijadikan sarana untuk memperkuat rasa persaudaraan sesama muslim dengan saling mengunjungi dan meminta maaf.Namun sangat disayangkan pada saat ini,  tradisi ini semakin menyalahi, dulu ada batasan antara lelaki dan perempuan. Sekarang semua bercampur baur. Tidak lagi menunjukkan mensucikan diri yang sebenarnya,

2.     NILAI FILOSOFIS DARI MANDI BALIMAU

Mandi Balimau kasai tersebut bukanlah termasuk sunnah rosulullah, melainkan hanya sebagai tradisi semata yang memiliki nilai filosofis yang tinggi bagi masyarakat pelalawan dan sekitarnya, Selain momen membersihkan diri secara zahir, mandi Balimau Kasai juga merupakan momentum untuk menjalin silaturrahmi dan acara saling maaf memaafkan dalam rangka menyambut tamu agung yaitu Syahru Ramadan Syahrus Siyam, jadi bukanlah sebuah keyakian yang memiliki dalil naqli  secara qat'i. tapi ini lebih kepada sebuah adat yang bersendikan syara' (Syariat Islam) syara' bersandikan Kitabullah yang secara filosifisnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Tidak dapat kita pungkiri bahwa kemajuan zaman hari ini secara langsung maupun tidak memberikan dampak negative terhadap kehidupan kita dalam kerangka adat istiadat, banyak terjadi distorsi sejarah, salah interpretasi terhadap nilai-nilai adat yang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita, termasuk mandi Balimau Kasai.
Dahulunya jika ingin mandi di sungai ini, jangan pernah bergabung dengan para wanita, karena antara 'topian" (tempat mandi) laki-laki dengan perempuan ada tempat khusus, yaitu antara tempat lak-laki dengan perempuan berjarak sekitar 20 meter dan selang-seling. Dalam Mandi Balimau Kasai pada awalnya tidak dilakukan secara bercampur antara laki-laki dengan perempuan, akan tetapi akhir-akhir ini hal tersebut sudah tidak diindahkan lagi.
Kalau kita lihat apa yang terjadi saat ini, tradisi Mandi Balimau Kasai, sudah sangat jauh dilencengkan. Kita hanya akan melihat kegiatan yang sifatnya hura-hura dan pergaulan yang tidak sepantasnya dilakukan didepan umum. Bahkan yang memalukan adalah mandi bersamaan yang dilakukan anak muda laki-laki dengan perempuan dan juga mabuk mabukan.
Padahal dulunya, tradisi ini merupakan hal yang tergolong sakral. Sebelum memasuki bulan puasa atau sebelum magrib, anak, anak kemenakan dan menantu atau juga yang tua serta murid, akan mendatangi orang tua, mertua, mamak (paman), kepala adat, atau guru mereka dalam rangka meminta maaf menjelang masuk bulan suci.Kedatangan generasi muda menjenguk orang tua akan disertai dengan iring-iringan dan membawa bahan Limau dan Kasai, serta membawa jambau (makan-makanan).

3.     Ramuan dan Tata Cara Mandi Balimau Kasai

Bahan ramuan limau yaitu limau purut, kumanyang, kabelu, urat sirih koduok, lengkuas padang, serai wangi, mayang pinang, daun nilam, urat siduo, urat usau, bunga kenanga, bunga tanjung dan bunga rampai. Semua bahan ini direbus agak lama hingga kulit limau purut bisa hancur diremas. 
Adapun kasai terbagi dua yaitu kasai kering dan kasai basah. Bahan ramuan kasai kering adalah beras, coku dan kunyit. Membuat kasai kering dengan merendam beras hingga lunak kemudian ditumbuk bersama coku dan kunyit. Sedangkan membuat kasai basah dengan merendam beras hingga lunak kemudian ditumbuk bersama coku tanpa kunyit, ditambah kumanyang dan kulit limau purut. Kasai basah berwarna putih sedangkan kasai kering berwarna kuning.
Dahulu limau dan kasai dibungkus dengan dengan daun pisang,yang mana daun pisang tersebut dilayukan terlebih dahulu. Namun sekarang limau dan kasai sudah di bungkus dengan bungkusan plastik. Namun isi dari limau dan kasai nya tetaplah sama.
Cara Penggunaannya, ternyata Limau atau jeruk adalah untuk dilumuri di kepala seperti halnya kita berkeramas menggunakan shampoo. Kemudian Kasai atau Lulur adalah pembersih sebatang tubuh layaknya seperti kita menggunakan sabun. Bunga rampai adalah untuk pewangi air yang kita gunakan untuk mandi, layaknya seperti mandi kembang.
Selain kegunaan Limau dan Kasai sebagai ramuan mandi sebagai bagian dari Pembersihan Raga, Limau dan Kasai juga dijadikan sarana Pembersihan hati dan jiwa. Caranya adalah dengan memberikan Limau kasai kepada sanak saudara atau kerabat yang dikunjungi dan saling bermaaf-maafan. Biasanya Tradisi mengunjungi ini dilakukan oleh yang lebih muda mengunjungi yang tua, seperti Anak mengunjungi Orang Tua, menantu mengunjungi mertua, kemenakan mengunjungi Paman dan seterusnya.

4.     Pandangan Tokoh Agama Terhadap Balimau Kasai
Tokoh agama Sumatera Barat, Prof. Dr Duski Samad menilai, tradisi balimau (mensucikan diri dengan mandi di sungai) menjelang Ramadhan, akan menodai Ramadhan itu sendiri, karena tidak ada dalam ajaran Islam.
"Tradisi balimau yang masih dilaksanakan masyarakat sangat keliru, karena ibaratkan musik tidak ada notnya, sehingga tidak memberikan arti apa-apa Menjelang Ramadhan 1431 H, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kampar termasuk dalam balimau kasai diharamkan mandi bareng karena itu bukanlah tradisi yang Islami," ungkap Ketua MUI Kampar Mawardi melalui Sekretaris Umum MUI Kampar H Johar Arifin kemarin.
            Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Ketua MUI Kampar DR H Mawardi MS MA melalui sekretaris MUI Kampar H Johar Arifin Lc MA menyatakan tradisi Balimau Kasai di Kampar kalau mengikuti kepada konsep awal tidak ada masalah sama sekali dan tidak bertentangan dengan agama Islam, karena pada awalnya dulu Balimau Kasai benar benar satu tradisi masyarakat dalam menyambut ramadhan dalam bentuk saling mengunjungi antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain.
''Dulunya yang disebut dengan Balimau Kasai itu adalah tradisi saling memaafkan satu sama lainnya, mengunjungi keluarga, lalu kalaupun mandi mandinya sendiri sendiri dan tidak bercampur baur antara laki laki dan perempuan, sehingga tidak ada masalah sama sekali dengan agama dengan adanya tradisi balimau kasai ini, ''ujarnya.
Islam sama sekali tidak pernah mengajarkan ketika memasuki bulan suci ramadhan agar mandi menyiram sekujur tubuhnya (mirip mandi junub),di dalam agama islam sebelum memasuki bulan ramadhan sangat dianjurkan untuk saling mema'afkan satu sama lainnya, karena ramadhan adalah bulan untuk bertaubat, sementara ampunan Allah terhalang jika urusan sesama manusia belum diselesaikan, disamping itu, kaum muslimin dianjurkan untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin secara fisik dan pisikis, agar memperoleh hasil secara optimal dalam menjalankan ibadah puasa. Dan bukan dengan mandi balimau kasai yang pada umumnya dilakukan oleh masyarakat Kampar.
Balimau kasai yang sudah dilaksanakan di kampar bertahun-tahun menimbulkan pro dan kontra dimasyarakat, karena dinilai sudah jauh menyimpang dari makna yang sebenarnya.

5.     Perubahan Nilai dari Mandi Balimau Kasai
Sekarang tradisi ini semakin menyalahi aqidah, dahulu ada batasan antara lelaki dan perempuan. Sekarang semua bercampur baur. Musik yang dihadirkan pun bukanlah yang bernuasa Islami. Melainkan musik dangdut dengan goyangan yang membangkitkan gairah. Tak ayal, ajang yang semula dijadikan penyucian diri berubah makna menjadi ajang jodoh dan mandi bersama pasangan yang bukan mahram. Balimau kasai di jadikan hari terakhir sebelum hari semuanya dilarang pada keesokan harinya. Untuk menuju balimau kasai ini, orang akan menempuh satu jam perjalanan. Namun hal ini sebanding dengan keringanan yang ia dapatkan. Ia tak memungkiri, jika balimau kasai dijadikan sebagai ajang untuk berkenalan dengan gadis dari daerah lain.

DAFTAR PUSTAKA
Budisantoso, dkk.Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya.Riau:Pemerintah
Daerah Provinsi Riau
http://www.majalahsuluo. Ramuan dan Cara Mandi Balimau Kasai.top/2015/06/ramuan-dan-cara-mandi-balimau kasai.ht,l#sthasa.CjE7mNN.dpuf


Tidak ada komentar:

Posting Komentar