Sabtu, 04 Juni 2016

KEPERCAYAAN MASYARAKAT MELAYU KHUSUSNYA SUKU SAKAI DI KOTA DURI


ULLYA MUFLIHATIN / PBM
Seperti kebanyakan suku asli lainnya, suku Sakai punya sejumlah tradisi adat. Mereka umumnya memiliki upacara atau ritual tersendiri untuk kelahiran, pernikahan, maupun kematian atau pemakaman. Kebanyakan orang Sakai menganut kepercayaan animisme dan meyakini adanya 'antu' atau makhluk gaib.
Seiring perkembangan zaman, sebagian suku Sakai mulai memeluk agama lain seperti Islam dan Kristen, hanya saja kebiasaan mereka terhadap hal-hal yang berbau magis kadang masih mereka lakukan. (http://metroterkini.com/berita-8710-mengenal-lebih-dekat--tentang-keunikan-suku-asli-di-riau.html)
  Menurut Moszkowski (1908) dan kemudian juga dikutip oleh Loeb (1935), orang sakai adalah orang Veddoid yang bercampur dengan orang-orang minangkabau yang datang bermigrasi pada sekitar abad ke-14ke daerah Riau, yaitu ke Gasib, ditepi sungai Gasib yang terletak di hulu sungai Rokan. Kemudian Gasib menjadi sebuah kerajaan dan kerajaan Gasib ini dihancurkan oleh kerajaan Aceh dan warga dari kerajaan Gasib melarikan diri ke hutan-hutan disekitar daerah sugai Gasib, Rokan, dan Mandau serta seluruh anak-anak sungai Siak. Mereka inilah nenek moyang dari orang sakai.    
A.    Agama dan Kepercayaan Orang Sakai
Menurut Supardi Parlan (1995) salah satu di antara ciri-ciri yang dimiliki orang sakai yang juga dianggap oleh Orang Melayu atau oleh golongan suku bangsa lainnya sebagai ciri-ciri orang sakai, adalah agama mereka yang diselimuti oleh keyakinan pada 'animisme', kekuatan magi, dan tenung. Orang sakai di muara basung memeluk agama islam. Tetapi hanya sebagian saja yang betul-betul menjalankan shalat lima kali dalam satu hari dan berpuasa dalam bulan Ramadhan. Sebagian di antara mereka tergolong dalam dua kelompok keagamaan, yaitu: (1) Tarekat Naqsabandiyah dan (2) Sunnah Wal Jamaah.
Tarekat Naqsabandiyah merupakan aliran dalam agama islam yang telah berabad-abad berkembang di Riau dan di Pulau Sumatera pada umumnya, dan di Riau ajaran ini berpusat di Kerajaan Siak. Tarekat Naqsabandiyah menuntut pemeluknya agar melakukan sejumlah upacara ritual di luar kewajiban-kewajiban yang dilakukan oleh para pemeluk aliran sunnah, yang antara lain mencakup kegiatan-kegiatan berzikir dan wirid, berpuasa, dan mengasingkan diri, dan taat kepada guru (mursyid) atau khalifah. Mereka yang telah menjalankan upacara-upacara ritual dibawah bimbingan seorang guru atau khalifah dan dianggap telah menamatkannya dengan baik dinamakan khalifah. Di masa lampau para khalifah inilah sebenarnya yang telah mengislamkan orang-orang Sakai di Kecamatan Mandau. Secara umum kedudukan sosial khalifah sama dengan kedudukan sosial orang sakai dalam stratifikasi yang berlaku setempat tetapi khalifah itu dalam kelompoknya masing-masing amat dihormati dan bahkan ditakuti dan didengar kata-kata dan petuah-petuahnya.
Aliran Sunnah sebetulnya belum lama dikenal dan masuk dalam kehidupan Orang Melayu di Riau pada umumnya, dan dalam kehidupan Orang Melayu dan Orang Sakai di Muara Basung khususnya. Aliran ini datang bersamaaan dengan kedatangan orang-orang Minangkabau di Riau. Perluasan atau peningkatan kegiatan dan jumlah pemeluk dari aliran sunnah ini, secara langsung ataupun tidak langsung, sebenarnya dapat dilihat sebagai suatu bentuk ancaman atas kekokohan kewenangan kekuasaan khilafah dalam struktur kehidupan sosial masyarakat setempat. Bahkan terjadi juga pemisahan dalam sejumlah kegiatan sosial dan ekonomi, yaitu dalam hubungan saling tolong menolong dan usaha dagang. Contoh dari keadaan seperti tersebut diatas adalah masyarakat desa muara basung yang  mempunyai dua buah masjid, yang masing-masing milik tarekat naqsabandiyah dan sunnah wal jamaah.
            Suku sakai masih percaya kepada keyakinan asli dari nenek moyangnya bahwa lingkungan hidup mereka di huni oleh makhluk-makhluk gaib yang dinamakan 'antu' atau hantu (dalam bahasa melayu).  Antu itu ada yang baik dan ada yang jahat. Mereka tinggal dan menjadi penghuni pepohonan, sungai-sungai, rawa-rawa, wilayah hutan, ladang, tempat pemukiman, rumah, dan sebagainya. Seperti halnya dengan manusia maka antu-antu tersebut ada yang hidup menyendiri dan ada juga yang hidup dalam satu kesatuan masyarakat yang kecil dan besar atau kerajaan. Dalam konsep kebudayaan orang sakai, kerajaan antu berada di tengah-tengah rimba belantara yang belum pernah dirambah manusia.
Bagi orang sakai berbagai macam penyakit yang mereka derita, kemalangan, dan kematian, sebagian besar disebabkan oleh gangguan antu. Walaupun demikian tidak ada rasa takut terhadap antu, kecuali anak-anak kecil yang biasanya ditakuti-takuti orang tuanya atau oleh mereka yang lebih tua kalau mereka selalu menangis atau tidak menurut perintah. Ketidaktakutan mereka terhadap antu tersebut disebabkan oleh adanya keyakinan bahwa antu-antu itu memang ada di alam sekeliling tempat mereka hidup, dan bahwa ada mantra-mantra dan upacara-upacara ritual yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit yang disebabkan oleh antu.
 Dalam konsep mereka, arwah dari orang-orang mati juga menjadi bagian dari antu-antu tersebut, arwah dari orang-orang yang meninggal ditakuti oleh anggota-anggota keluarganya yang masih hidup, terkecuali anak kecil atau bayi yang baru lahir ketakutan itu di sebabkan oleh adanya keyakinan bahwa arwah yang baru saja meninggal sebenarnya hidup di dunia lain tetapi berada di tempat anggota keluarganya yang masih hidup. Oleh karena itu, bila ada orang yang meninggal dunia maka keluarga yang di tinggalkan mati keluar meninggalkan rumah kediaman mereka selama satu minggu setelah si mati dikubur, dan supaya arwah si mati tidak menempel terus pada diri mereka maka caranya adalah menyebrangi sungai, karen orang mati tidak menyebrangi sungai.  (http://agamalokal2016pa4.blogspot.co.id/2016/05/v-behaviorurldefaultvmlo_34.html)
Orang sakai juga percaya bahwa penyakit dan kematian yang diderita manusia juga disebabkan oleh karena di racun atau di tenung orang lain. Prinsip ilmu tenung orang sakai adalah dengan menggunakan kekuatan antu untuk membunuh lawan.
B.     Obat-Obatan Tradisional
Di masa lampau, orang sakai menganggap bahwa segala macam penyakit itu disebabkan oleh gangguan antu. Pada masa sekarang, mereka telah ringkasnya menurut mereka antara penyakit yang disebabkan oleh angin dan cuaca, kuman, bakteri, jamur atau keracunana, yang mereka namakan penyakit biasa, dan penyakit yang disebabkan oleh gangguan antu. Secara ringkasnya menurut mereka, gejala-gejala penyakit yang tergolong sebagai akibat gangguan antu adalah sakit kepala yang terus menerus dan berulang kembali datang menyerang, batuk dan demam yang berkepanjangan, perut busung, lumpuh, dan segala penyakit yang parah, atau sakit berat.
Ada tiga cara pengobatan yang juga merupakan tiga tahapan pengobatan, yang biasa dilakukan oleh orang sakai yaitu:
1.      Uras
2.      Jungkul
3.      Dikir
1.      Uras
Perincian dari cara pengobatan "uras'tersebut adalah sebagai berikut: keluarga si sakit menyerahkan sebuah cincin perak kepada dukun. Cincin perak tersebut dikembalikan lagi oleh dukun kepada keluarga si sakit dan sebagai gantinya dia menerima uang Rp.1.000.-. dukun memberi mantra yang harus dibaca atau diucapkan oleh si sakit. Kemudian dukun memberikan resepnya kepada keluarga si sakit yan terdiri atas:
(1)   Daun-daunan dari pohon-pohon yang tumbuh di hutan (daun belum bangun, daun anuti, daun bauit, daun papaga, daun ibu-ibu)
(2)   Bahan-bahan dari pada: (betih atau pada ketan yang digoreng sangan sampai terkelupas kulit padinya, beras basah, beras rending atau beras yang digoreng sangan, dan beras kunyit atau beras yang direndam di air kunyit)
(3)   Makanan yang terdiri atas nasi ketan kuning dan telur rebus sebuah
(4)   Lilin yang terbuat dari damar
2.      Jungkul
Pengobatan yang dilakukan oleh dukun dapat menggunakan cara 'jungkul" atau cara "dikir". Kalau sekiranya penyakitnya digolongkan sebagai tidak terlalu berat maka cara yang digunakan adalah "jungkul" sedangkan kalau penyakitnya digolongkan sebagai berat maka cara yang digunakan adalah dikir. Adapun cara pengobatan oleh dukun dengan mnggunakan cara jungkul adalah sebagai berikut: keluarga meminta dukun untuk mengobati si sakit dengan cara menyerahkan sebuah cincin perak. Cincin ini dinamakan "cincin serah". Cincin serah ini kemudian dipakaikan kepada si sakit sebagai gelang, diikat dengan tali dan dipakaikan di pergelangan tangannya. Cincin ini, setelah dipakaikan kepada si sakit dinamakan "cincin semangat' artinya cincin yang berisi semangat kekuatan untuk mengusir dan melindungi si sakit dari antu yang mengganggunya. Semangat kekuatan tersebut berasal dari si dukun yang mengobati si sakit.
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam cara pengobatan "jungkul" adalah sebagai berikut:
(1)    Anyam-anyaman yang terbuat dari daun kapau  muda  dan dari kayu "elubi" untuk membuat bangunan-bangunan atau mainan-mainan: kapal, mobil, rumah atau istana; membuat orang-orangan yang diperlakukan sebagai dayang-dayang atau pelayan istana atau rumah.
(2)    Obor besar untuk dinyalakan waktu mengahadap kepada dewa yang menguasai dunia antuelur rebus
(3)    Daun-daunan dari hutan yang sama jenisnya dengan yang digunakan untuk cara pengobatan "uras'
(4)    Betih, beras rendang, beras kuning, beras basah
Pengobatan dilakukan pada malam hari yaitu setelah matahari terbenam dan berlangsung semalaman, selama tiga hari tiga malam. Bangunan rumah-rumahan atau mainan-mainan berikut dayang-dayangannya dipasang di bagian tengah atau di bagian muka dari ruang rumah yang terletak berseberangan dengan atau di dekat si sakit yang terbaring di pembaringan.
3.      Dikir
Perincian dari cara pengobatan "dikir" adalah ssebagai berikut:
(1)   Peralatan yang diperlukan (a) alat tetabuhan, (b) bangunan rumah-rumahan yang terbuat dari kayu pohon belubi dan anyam-anyaan janur kuning pohon kapau
(2)   Obor besar dan lilin
(3)   Daun-daunan yang jenisnya sama dengan yang digunakan untuk cara pengobatan "uras" dan "jungkul"
(4)   Betih, beras kunyit, beras rending, beras basah (beras yang direndam)
(5)   Nasi ketan kuning dan telur rebus
                  
                   Sebagai akhir kata dari uraian mengenai kehidupan keagamaan orang sakai bahwa orang sakai tidak mempunyai tradisi-tradisi yang mantap yang menjadi ciri-ciri dari kebudayaannya sendiri, tetapi mengambil atau menjiplak unsur-unsur dari tradisi-tradisi yang  mantap dan lebih dominan dalam kehidupan mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Suparlan Supardi, Orang Sakai di Riau: Masyarakat Terasing Dalam Masyarakat Indonesia. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia : 1995.
(http://agamalokal2016pa4.blogspot.co.id/2016/05/v-behaviorurldefaultvmlo_34.html)
(http://metroterkini.com/berita-8710-mengenal-lebih-dekat--tentang-keunikan-suku-asli-di-riau.html)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar