KEBIJAKAN PEMERINTAHAN JEPANG DI INDONESIA


andri/SI IV/A
a.       Usaha mempertahankan kekuasaan
Perang Pasifik semakin hari semakin melemahkan tentara Jepang. Keadaan itu membuat sikap Jepang terhadap negeri-negeri yang didudukinya. Jepang sangat membutuhkan bantuan rakyat setempat sepenuhnya guna menahan ofensif Serikat yang semakin dahsyat. Maka berdasarkan keputusan sidang parlemen ke-82 di Tokyo, dikemukakan oleh Perdana Mentri Tojo didalam pidatonya di lapangan Ikada (di belakang stasiun Gambir), Jakarta pada tanggal 7 Juli 1943 tentang adanya kesempatan untuk "turut mengambil bagian dalam pemerintahan negara".
 Menyusunlah pada tanggal 1 Agustus 1943 pengumuman Saiko Syikikan (Panglima Tertinggi Tentara Keenambelas) tentang garis-garis besar rencana pengambilan bagian dalam pemerintahan negara yang di janji kan itu, yakni meliputi badan-badan pertimbangan di daerah dan di pusat serta jabatan-jabatan tinggi untuk orang- orang Indonesia dan juga penunjukan orang-orang Indonesia sebagai penasehat Pemerintahan Militer. Pengakatan orang-orang Indonesia untuk kedudukan tinggi tersebut mulai dengan pengangkatan Prof. Husein Djajadiningrat sebagai Kepala Departemen Urusan Agama pada tanggal 1 Oktober 1943. Kemudian tanggal 10 November 1943 Mas Sutarjo Karthohadikusumo dan R.M.T.A Surio masing-masing sebagai Jakarta dan Bojonego Syucokan.
Pengangkatan 7 penasehat bangsa Indonesia pada Pemerintahan Militer dilakukan pada pertengahan bulan September 1943. Mereka di sebut Sanyo yang dipilih untuk 6 macam bu (departemen) : Ir. Soekarno untuk Somubu (Departemen Urusan Umum): Mr. Suwandi dan dr. Abdul Rasjid untuk Naimubu (Departemen Urusan Dalam Negeri); Prof. Dr.Mr.Supomo untuk syihobu (Departemen Kehakiman); Mochtar bin Prabu Mangkunegoro untuk Kotsubu (Departemen Lalu Lintas); Mr. Muh. Yamin untuk Sendenbu (Departemen Propoganda) dan Prawoto Sumodiligo untuk Sangyobu (Departemen Ekonomi) [1]
Mengenai pembentukan Badan  Pertimbangan Pusat (Cuo Sangi In), dimuat dalam Osamu Seirei. No 36/1943, yang di kembangkan oleh Saiko Syikikan. Sedangkan mengenai Badan Pertimbangan di Keresidenan dan Kotapraja Istimewa (Syu danTokubetsu Syi Sang Kai). Dimuat dalam Osamu Seirei No.37/1943 untuk kemudian dijelaskan dalam Osamu Kanrai No.8/1943. Osamu Kanrai, tersebut merupakan peraturan yang di keluarkan oleh Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer yang dijabat oleh Kepala Staf Tentara) untuk pelaksanaan Osamu Seirei. Cuo Sangi In atau Badan Pertimbangan Pusat adalah suatu Badan yang tugasnya mengajukan usul kepada Pemerintah serta menjawab peertanyaan Pemerintah mengenai soal-soal politik dan mementukan tindakan yang akan dilakukan oleh Balatentara. Dua puluh tiga orang anggotanya di angkatoleh Saiko Syikika. Delapan belas merupakan utusan dari tiap keresidenan dan kotapraja Jakarta Raya serta dua orang utusan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Surakarta. Dengan demikian jumlah seluruh anggotanya adalah empat puluh tiga orang.
Sidang Cou Sangi In yang pertama berlangsung pada tanggal 16 sampai 20 Oktober 1943, di mana di bentuk empat bunkakai (bagian), yang telah menjawab pertanyaan pertanyaan Saiko Syikikan tentang cara-cara apa yang sebaiknya dilakukan guna mencapai kemenangan di dalam perang. Karena Gunseikan dan pembesar-pembesar tentara Jepang lainnya turut menghadiri serta mengawasi jalannya sidang, maka jawaban sidang tak lepas dari kehendak pemerintah, yakni supaya seluruh potensi kerja dan produksi dikerahkan guna kepentingan perang.
Pemerintah militer Jepang mulai pula memikirkan pengarahan pemuda-pemuda Indonesia Guna membantu usaha pertahanan mereka. Sejak kekalahan armada-armadanya di dekat Midway dan sekitar kepulauan Solomon, Jepang mulai beralih kepada strategi defensif dimana wilayah Indonesia menjadi front depan. Maka menyelenggarakanlah latihan-latihan militer penuh bagi pemuda-pemuda indonesia. Seinen Dojo di Tangerang merupakan tempat latihan yang pertama, yang telah memberikan latihan militer penuh kepada kurang lebih 50 pemuda indonesia. Seinen Dojo di Tangerang merupakan tempat latihan yang pertama, yang telah memberikan latihan militer penuh Kemudian pada tanggal 29 April 1943 dibentuklah beberapa organisasi para militer, diantaranya yang terpenting adalah Keibodan (Barisan Bantu Polisi) dan Seinendan (Barisan Pemuda). Pemuda-pemuda dalam barisan-barisan tersebut mendapat latihan militer elementer dengan senjata-senjata tiruan yang terbuat dari kayu. Demikian pula dilakukan pengerahan tenaga heiho (pembantu prajurit), yang semula merupakan tenaga pekerja kasar tetapi kemudian dikerahkan untuk tugas-tugas bersenjata. [2]
Sesuai dengan tuntutan perang yang makin mendesak, pemerintah militer Jepang tidak saja membatasi diri pada pembentukan barisan para-militer, tetapi kemudian meluas dengan membentuk organisasi militer yang di kenal dengan nama Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) (Boei Giyugun). Riwayat pembentukan dimulai dengan usul R.Gatot Mangkupraja melalui suratnya yang ditunjukan kepada Gunseikan Pada tanggal 7 September 1943 yang antara lain meminta supaya bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintah militer Jepang, tidak saja di belakang garis-perang tetapi juga di medan-perang.
Pada tanggal 3 Oktober 1943 Panglima Tentara Keenam belas yang ke dua, Letnan Jendral Kumakici Harada memaklumkan Osamu Seirei No.44 yang mengatur pembentukan Peta. Dalam bulan itu juga dilatih puluhan calon perwira Indonesia di Jawa Boei Giyugun Kanbu Renseitai ( Korps Latihan Perwira Tentara Sukarela Pembela Tanah Air Jawa. Pembentukan Giyugun Sumatra juga berlangsung pada waktu yang hamper bersamaan dengan Peta di pulau Jawa. Pada tanggal 9 November 1943, Syucokan Aceh di depan umum di balaikota memberikan uraian tentang maksud pembentukan Giyugun. Dan pada tanggal 22 November diresmikanlah pembentukan Giyugun di Aceh dan beberapa daerah di Sumatara.
Menghadapi kekuatan Serikat, Jepang berusaha menjadikan seluruh daerah yang di dudukinya sebagai rangkaian pertahanan yang kompak dimana seluruh penduduk dengan bahan yang ada di daerahnya di kerahkan. Pengarahan penduduk itu tidak hanya terdiri dari penduduk asli, tetapi juga berlaku untuk semua golongan yang diikutsertakan didalam usaha perang melawan Serikat. Demikianlah pada tanggal 8 Januari 1944 Jepang memeperkenalkan system baru, yaitu system yang disebut, tonarigumi (rukun tetangga), suatu sistem yang di maksudkan untuk memperketat pengadilan terhadap penduduk. Tonarigumi membagi seluru pulau jawa dalam bagian- bagian kecil yang masing-masing terdiri dari 10-20 rumah tangga; beberapa tonarigumi dikelompokan kedalam ku ( desa atau bagian kota). [3]
Karena perang semakin mendesak Jepang, maka kewajiban yang harus dilakukan tonarigumi secara aktif antara lain adalah mengadakan latihan bersama-sama tentang pencegahan bahaya udara, kebakaran, pemberantasan mata-mata musuh dan penyampaian ikhtiar pemerintahan militer kepada penduduk, menganjurkan penambhan hasil bumi dan berbakti kepada pemerintahan militer pada bidang lain.
Setelah system baru ini berjalan dengan lancer, pemerintah militer Jepang kemudian membentuk suatu organisai yang meliputi semua ysaha tonarigumi, yakni organisasi yang berlainan sifatnya dengan Poetra, antara lain karena meliputi seluruh penduduk Asia lainnya dan orang-orang peranakan. Organisai tersebut bernama Djawa Hokakai yang pembentukannya diresmikan pada tanggal 1 Maret 1944. Pemimpin tertinggi adalah Gunseikai sedangkan Ir. Soekarno hanya mejabat sebagai Komon (penasehat).
Jika tonarigumi menonjolkan sifat gotong-royongnya, maka di dalam Djawa Hokokai yang ditonjolkan adalah sifat berbakti, maka semua badan yang bersifat kebaktian kepada Jepang, dilebur kedalam Djawa Hokokai, sedangkan Poetra sendiri dinyatakan bubar. Fujinkai (perkumpulan kaum wanita). Masjumi, Kakyo Sokai (perhimpunan cina), Taiku Kai (perkumpulan Olahraga), Keimin Bunka Syidosyo (himpunan kebudayaan) merupakan badan-badan yang dilebur kedalam Djawa Hokokai. [4]
Notes:
[1]. Sartono Kartodirjo dkk, Sejarah Nasional Indonesia VI, 1975, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Hal 11-12.
[2]. Sartono Kartodirjo dkk, Sejarah Nasional Indonesia VI, 1975, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Hal 12-13.
[3]. Sartono Kartodirjo dkk, Sejarah Nasional Indonesia VI, 1975, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Hal 13-14.
[4]. Sartono Kartodirjo dkk, Sejarah Nasional Indonesia VI, 1975, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Hal 14.
DAFTAR PUSTAKA
1.      Sartono Kartodirjo dkk, Sejarah Nasional Indonesia VI, 1975, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
2.      http://handikap60.blogspot.com/2013/01/berbagai-kebijakan-pemerintah-jepang-di.html

Perhimpunan pemuda indonesia dan lahirnya sumpah pemuda

Rafi zain yusuf/2012 A/Sejarah Indonesia 4

            Perjuangan perhimpunan Indonesia dinegri Belanda banyak memiliki peranan penting bagi kemerdekaan Indonesia belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia kerana basis pergerakan mereka yang dilakukan diluar negeri.
"Perhimpunan Indonesia" dibawah kepemimpinan Bung Hatta,Mr. Ali Sostroamidjojo, Mr. Pamandjuntak, Dr. Sukiman, Sutan Sjahrir, Iwa Kusumasumantri, dan lain-lain. Pada awalnya "perhimpunan Indonesia"  didirikan pada tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging, kemudian diganti namanya menjadi Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) pada tahun 1922, dan secara resmi nama "Perhimpunan indonesia digunakan pada tahun 1925.
            Para pemuda yang belum berkeluarga biasanya mengadakan perkumpulan di kediaman orang indonesia yang sudah berkeluarga seperti, keluarga Ali Sostroamidjojo, keluarga Suwardi Suryaningrat, dan lain-lain. pertemuan tersebut menimbulkan rasa persatuan dan kebersamaan hidup diluar tanah air, sehingga memajukan rasa nasionalisme Indonesia.
Gerakan perhimpunan indonesia dinegeri belanda berdasarkan non-cooperatif dan self-help, yang pada masa itu belum ada di Indonesia. Pergerakan nasional yang ada di Indonesia pertama kali adalah Budi Utomo dari tahun 1908-1926, belum bergerak langsung dalam bidang politik. Namun, ketika mahasiswa Indonesia sudah banyak yang pulang ke Indonesia, maka banyak dari anggota Budi Utomo yang mulai mendapat pengaruh politik dan ingin segera mengubah cara perjuangannya. Hal ini di mengerti pula oleh Dr. Soetomo sebagai pendiri Budi Utomo yang juga pernah menjadi Ketua PI di negeri Belanda.
           
Melalui majalah Indonesia Merdeka, yang secara sembunyi-sembunyi dikirimkan ke Indonesia, jelas mempunya pengaruh yang cukup besar terhadap pemikiran para tokoh pergerakan  kemerdekaan di Indonesia. Langkah dan usaha PI di negeri belanda dan di negara-negara Eropa dapat diketahui dengan cepat melalui majalah Indonesia Merdeka, yang sampai ke Indonesia. Seperti ikut sertanya Indonesia pada kongres "Liga" di Brussel, tanggal 27 februari 1927 yang menentang imperialisme dan kolonialisme untuk mencapai kemerdekaan bangsa-bangsa.
           
Untuk mencari bentuk persatuan nasional yang lebih mantap ditanah air, maka para mahasiswa dari berbagai sekolah tinggi di Indonesia pada tahun 1925 menginginkan tergabung dalam satu organisasi. Tapi baru terbentuk pada tahun 1926 organisasi yang baru terbentuk diberi nama Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Ternyata PPPI dapat menampung berbagai pemuda yang telah mempunyai atau menjadi anggota perkumpulan pemuda yang masih bersifat kedaerahan. Antusiasme para pemuda yang ingin melepaskan sifat kedaerahan, pada masa itu cukup besar. Sebaliknya kehidupan persatuan nasional semakin subur. Oleh karena itu, akan memudahkan untuk mencapai kesepakatan dalam menggalang persatuan nasional. Inilah benih-benih terjadinya Ikrar Pemuda.
            PPPI menpunyai hubungan yang baik dengan PI  di negeri Belanda. Meskipun secara organisasi PPPI tidak ada hubungan secara langsung, namun PPPI mendapat banyak kiriman majalah Indonesia Merdeka secara seludupan dari PI. Oleh karena itu tidak aneh apabila PPPI berusaha keras untuk meneruskan cita-cita PI tentang persatuan nasional dan dengan memberitahukan perkembangan perjuangan PI dalam forum internasional. Perjuangan yang berdasarkan atas perbedaan kepentingan kaum penjajah dengan kaum yang dijajah, memang tidak mudah. Oleh karena itu, sampai terselenggaranya Kongres Pemuda II, perbedaan kepentingan tersebut masih sangat dirasakan.
            PPPI merupakan penggerak utama dalam penyelenggaraan Kongres Pemuda II. PPPI telah memberikan pengaruh yang besar kepada pemuda-pemuda kebangsaan untuk merealisasikan cita-cita persatuan yang sudah beberapa tahun lamanyamenghinggapi hati sanubari mereka. Cita-cita persatuan tidak boleh ditunda terlalu lama. Kesamaan tujuan sudah ada, tinggal cara untuk membentuk persatuan nasional sajalah yang perlu dipikirkan.
Persiapan pelaksanaan Kongres Pemuda II memang memakan waktu yang lama sekali. Pokok persoalan yang menjadi pembahasanialah bagaimana caranya mendapatkan bentuk persatuan di antara pemuda-pemuda Indonesia yang sudah lama dicita-citakan. Juga akan bibicarakan dalam Kongres Pemuda II tersebut masalah pendidikan, pengajaran, kebudayaan, kepaudan, kewanitaan, dan sebagainya. Semua itu dimaksud kan untuk mempertebal dan meyakinkan rasa kesadaran nasional dan persatun nasional, untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
            Tentang bentuk persatuan PPPI mengusulkan agar semua perkumpulan pemuda bersatu dalam satu perkumpulan yang merupakan badan Fusi. Usulan PPPI ini merupakan ulangan usulan PPPI dalam Kongres Pemuda I tahun 1926. Karena hal itu dianggap sebagai suatu hal yang penting, maka PPPI mengajukan kembali. Sedangkan dari perkumpulan pemuda lain, yaitu Jong Java dalam kongresnya di Solo pada bulan Desember 1926, telah menetapkan sebuah rancangan tentang pembentukan badan Federasi. Badan Federasi yang akan dibentuk oleh Jong Java tersebut, akan diberi nama Pemuda Indonesia. Kedua pendapat ini, sebenarnya telah dibahas dalam Kongres Pemuda I, namun belum mendapat keputusan dalam kongres tersebut. Masing-masing organisasi pemuda, masih merasa keberatan untuk melepaskan organisasinya yang telah lama dirintis.
            Namun setelah terjadi suatu peristiwa yang mengakibatkan banyak korban jiwa maupun penagkapan secara besar-besaran dan ditahannya para tokoh pergerakan nasional, maka kebutuhan terbentuknya persatuan sangatlah mendesak. Peristiwa tersebut adalah pemberontakan PKI pada bulan Noveber 1926 yang telah gagal.
Kemudian, peristiwa berdirinya Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) pada tanggal 4Juli 1927, yang selanjutnya atas usaha Ir. Soekarno dan beberapa orang pendirinya, maka Perserikatan diganti dengan Partai Nasional Indonesia (PNI). Partai ini langsung bergerak dalam bidang politik dan berhaluan Non-cooperation dan self-help, sebagaimana yang dilakukan PI di negeri Belanda PNI dengan tegas bertujuan untuk mencapai Indonesia Merdeka. Sebagai pendiri sekaligus ketua PNI Ir.Soekarno mengadakan kesepakatan dengan beberapa pemimpin pergerakan nasional seperti, Mr.Sartono, Dr.Sukiman, Kusumo Utoyo, Otto Subrata dan lain-lain untuk membentuk suatu wadah organisasi politik dalam satu atap, yang hasil dari kesepakatan tersebut adalah membentuk persatuan dalam bentuk organisasi yang diberi nama Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Ternyata PPPKI banyak berpengaruh kepada organisasi pemuda yang masih bersifat kedaerahan untuk bergabung ke arah organisasi pemuda yang bersifat nasional.
            Dari peristiwa tersebut, maka usaha untuk terbentuknya badan Fusi atau badan federasi pemuda semakin dipercepat. Akhirnya secara praktis persiapan Kongres Pemuda II telah terbentuk, sejak bulan Juni 1928. Adapun susunan pengurus kongres tersebut sebagai berikut :
            Ketua              : Sugondo Djojopuspito, dari PPPI
            Wakil ketua     : Djoko Marsaid, dari Jong Java
            Sekretaris        : Moh. Yamin, dari Jong Sumatranen Bond
            Bendahara       : Amir Sjarifuddin, dari Jong Bataks Bond
            Pembantu I      : Djohan Moh.Tjai, dari Jong Islamiaten Bond
            Pembantu II    : Kotjosungkono, dari Pemuda Indonesia
            Pembantu III   : Senduk, dari Jong Celebes
            Pembantu IV   : J. Leimena, dari Jong Ambon
            Pembantu V    : Rohjani, dari Pemuda Kaum Betawi
           
Adapun susunan acara yang telah berhasil disusun adalah sebagai berikut :
a.       Persidanga pertama, diadakan pada hari sabtu malam minggu, tanggal 27 Oktober 1928, bertempat digedung Katholike Jonglingen Bond, Waterlooplein, dan Weltevreden.
Yang dibicarakan berikut ini :
1.      Pembukaan oleh Ketua Kongres Sugondo Djajapuspito
2.      Sambutan-sambutan.
3.       Pembicaraan prihal Persatuan dan Kebangsaan Indonesia, oleh Moh. Yamin
b.      Persidangan kedua, pada hari minggu, tanggal 28 Oktober 1928, digedung Oost Java Bioscoop, Koningplein Noord, dan Waltevreden.
Yang dibicarakan tentang pendidikan, ada empat orang pembicara yaitu :
1.      Nona Purnomo Wulan
2.      S. Mangunkarso
3.      Sarwono
4.      Ki Hajar Dewantara
c.       Persidangan ketiga, pada hari Minggu Malam Senin, tanggal 28 Oktober 1928, di Gedung Indonesische Clubgebouw, Kramat No. 106, Weltevreden.
Adapun acaranya adalah sebagai berikut:
1.      Arak-arakan Pandu.
2.      Perihal Kepanduan, oleh Ramelan.
3.      Perihal Pergerakan Pemuda Indonesia dan Pemuda Internasional, oleh Mr. Sunario
4.      Pengambilan Keputusan
5.      Penutup.
Yang hadir pada Kongres Pemuda II adalah wakil-wakil dari berbagai organisasi pemuda seluruh Indonesia, seperti: Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Pemuda Indonesia, Sekar Rukun, Jong Islameiten Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi, Jong Ambon, dan PPPI.
            Kongres Pemuda II berjalan dengan lancar dan tertib, sekalipun PID (Politieke Inlichtingen Dienst), senantiasa mondar-mandir mangawasi jalannya kongres, namun pembicara tidak merasa gentar dalam menyampaikan permasalahn yang menyangkut persoalan perjuangan menentang penindasan dan kekejaman Penjajah. Inti pembicaraan tetap menitik beratkan masalah persatuan dan cita-cita nasional.
Pada hari ketiga dari pelaksanaan Kongres Pemuda II diambil keputusan sebagai berikut.
Pertama           : Kami putra dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah satu,  tanah Indonesia
Kedua             : kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
Ketiga             : kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia
            Setelah mengeluarkan putusan ini, kerapatan mengeluarkan keyakinan asa ini wajib dipakai oleh segala perkumpulan-perkumpulan kebangsaan Indonesia. Mengeluarkan keyakinan persatuan Indonesia diperkuat dengan memperhatikan dasar persatuannya: kemauan, sejarah, hukum adat, pendidikan, dan kepanduan. Kerapatan juga mengeluarkan pengaharapan agar putusan tersebut disebarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan pemuda.
            Perumusan dibuat oleh Sekretaris Panitia, Moh. Yamin. Pembacaan putusan kongres dilakukan dengan khidmat oleh Ketua Sugondo Djojopuspito dimuka kongres. Dengan demikian pemuda-pemuda telah mengambil suatu keputusan unitarisme yang heroik. Persatuan Indonesia yang menjadi dasar Indonesia Raya tidak federalis, melainkan unitarisme, yang didapat pada persatuan bangsa, daerah dan kebudayaan.
            Kesatuan tanah air, bangsa, dan bahasa itu dilambangkan dengan:
1.      Lambang warna yang berupa pengibaran bendera Mera Putih
2.      Lambang suara, dengan melagukan lagu Indonesia Raya, ciptaan pujangga muda W.R. Supratman
3.      Lambang lukisan, berupa enam lencana garuda terbang.
Keputusan tersebut diats, pada mulanya merupakan "Ikrar Pemuda", tetapi lama kelamaan terkenal dengan "Sumpah Pemuda". Hal ini banyak yang menghubungkan dengan perkataan Sumpah Palapa Gajah Mada yang sangat terkenal.


DAFTAR PUSTAKA
1.      Drs. Sudiyo, PERHIMPUNAN INDONESIA. Jakarta : PT Asdi Mahasatya, April 2004
2.      Tirtoprojo,Susanto, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Jakarta: PT Pembangunan, 1962

SISTEM PENDIDIKAN DI YUNANI

GUSWITA PUTRI/SP

Manusia berada dan diciptakan dalam sejarah. Di satu sisi, manusia menentukan perjalanan sejarah tetapi di sisi lain, dalam arti khusus, manusia juga diciptakan oleh sejarah. Manusia tidak bisa berada di luar dari sejarah, sebaliknya, ia selalu berada bersama dengan perjalanan sejarah. Selain itu, ia juga menemukan dirinya sebagai  “yang bereksistensi” dalam sejarah dan bukan di luar sejarah. Agar perjalanan sejarah dapat bernilai maka, pertama-tama ia harus membuat dirinya bernilai di dalam dan di hadapan sejarah.
Demi pencapaian tujuan inilah maka banyak orang dalam perjalanan sejarah telah terlibat dalam  memikirkan, bagaimana membuat diri manusia bernilai, bermoral dan baik sehingga mengakibatkan dunia yang bernilai, bermoral dan baik.  Munculah para ahli filsafat. Pertanyaan  tentang filsafat dari masa ke masa menimbulkan perkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat, sampai menimbulkan  muculnya ilmu-ilmu baru; mulai dari teologi dan sampai kepada teknologi.
Salah satu ilmu yang cukup berkembang  yaitu pedagogi atau yang sering disebut juga dengan edukasi atau pendidikan. Perkembangan ilmu ini juga sebenarnya telah ada sejak manusia memikirkan tentang dirinya di hadapan dirinyaa, alam, lingkungan dan bahkan Tuhan. Tetapi secara perlahan, menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri, otonom. Seperti kita ketahui negara Yunani mengalami krisis perekonomian yang sangat tajam, yang akhirnya menyeret seluruh negara Eropa yang masuk dalam Euro Uni/EU untuk secara bersama-sama membantu  meringankan beban perekonomian Yunani. Bukan hanya Yunani saja, ternyata Euro Uni pun harus memberi perhatian kepada Portugal yang juga mengalami hal yang sama.Ternyata hal ini berdampak pada sektor pendidikan juga.Hal itu di tunjukan dengan adanya keseretan anggaran untuk pendidikan. Berdampak pada meningkat intensitas korupsi nepotisme dan dan naiknya biaya pendidikan.[1]
Hal ini mendapat respon dari berbagai pihak terkhusus pada kalangan mahasiswa. Hal ini di tunjukan dengan maraknya demo yang di lancarkan. Itu adalah bentuk dukungan mahasiswa terhadap mogok yang dilakukan para guru selama enam pekan terakhir. Mereka menuntut kenaikan gaji dan perbaikan sistem pendidikan serta sarana sekolah.
       Sistem pendidikan di Yunani utamanya dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu primer, sekunder, dan tersier, dengan tingkatan pasca-sekolah kejuruan menegah memberikan tambahan pelatihan. Pendidikan dasar dibagi menjadi TK berlangsung selama satu atau dua tahun, dan sekolah dasar rentang enam tahun (usia 6-12 tahun). Pendidikan menengah terdiri dari dua tahap yaitu Gymnasio (Sekolah Menengah atau SMP), sekolah wajib tiga tahun, setelah itu siswa dapat melanjutkan ke Lykeio (sebuah sekolah tinggi yang berorientasi akademis) atau pelatatihan kejuruan. [2]
Pendidikan tinggi tersier disediakan oleh Universitas dan Politeknik, Institut Teknologi Pendidikan (didirikan pada tahun 1983-sekarang) dan akademi yang terutama di peruntukan bagi militer dan ulama.  Program Sarjana biasanya berlangsung selama 4 tahun, 5 tahun untuk Politeknik dan beberapa sekolah Teknik/Seni, dan 6 tahun untuk Kedokteran. Pascasarjana merupakan program terakhir dari 1 sampai 2 tahun dengan gelar Doktor (Dr) dari 3 sampai 6 tahun.
Semua sekolah terlepas dari beban mengenai sekolah. Semua urusan sekolah diawasi oleh Depertemen Pendidikan dan Depertemen Agama. Kementerian memegang kontrol terpusat atas sekolah-sekolah negeri, dengan resep kurikulum, pengangkatan staf dan mengendalikan dana. Sekolah swasta juga jatuh di bawah mandat Departemen, yang melakukan kontrol pengawasan. Pada tingkat regional, peran pengawasan Kementerian tersebut dilakukan melalui Direktorat Daerah Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah beroperasi di Prefektur setiap. Lembaga tersier adalah nominal otonom, namun Departemen bertanggung jawab untuk pendanaan mereka, dan distribusi mahasiswa untuk program sarjana. Saat ini pemerintah Yunani hanya mengakui program gelar yang ditawarkan oleh negara yang dikelola universitas meskipun ada beberapa perguruan tinggi swasta dan perguruan tinggi menawarkan program gelar yang divalidasi dan diawasi oleh Amerika, Inggris dan universitas-universitas Eropa lainnya. Pemerintah Yunani ditekan untuk mengenali program-program luar negeri.
Semua tingkat pendidikan yang di penuhioleh sekolah-sekolah baik swasta maupun publik. Negar yang mengelola sekolah dan Universitas tidak memungut biaya pendidikan dan buku teks yang di sediakan gratis untuk semua siswa. Ada juga sejumlah sekolah Swasta tutor, Perguruan Tinggi, dan Universitas operasi samping pendidikan negar dan memberikan kuliah tambahan. Sekolah-sekolah paralel ini menyediakan bimbingan bahasa asing, tambahan pelajaran bagi siswa yang lemah serta kursus persiapan untuk kompetitif (Ujian Nasional Panhellenik). Sebagian besar siswa biasanya menghadiri kelas tersebut di Sekolah saat pengajar di sore dan malam hari sekolah normal mereka.
Tingkatan-tingkatan sekolah yang ada di Yunani:
1.      Pendidikan Dasar (Dimotika)
Sekolah Dasar di Yunani biasanya di sebut dengan Dimotika ( demotik yang artinya Kota). Dalam dua tahun pertama murid tidak resmi dalam nilai, dan orang tua mendapatkan umpan balik tentang kinerja mereka melalui komunikasi lisan dengan guru. Grading dimulai pada tahun 3, dan ujian tertulis diperkenalkan ditahun . lulus dari satu tahun ke tahun berikutnya otomatis, dan murid dengan kinerja yang kurang di berikan perbaikan les. Setiap tahun atau tingkatan di sebut “kelas” dari pertama ke urutan enam. Setiap kelas terdapat perbedaan umur yaitu:
a.       Tahun 1 (kelas 1) usia 6-7 tahun
b.      Tahun 2 (kelas 2) usia 7-8 tahun
c.       Tahun 3 (kelas 3) usia 8-9 tahun
d.      Tahun 4 (kelas 4) usia 9-10 tahun
e.       Tahun 5 (kelas 5) usia 10-11 tahun
f.       Tahun 6 (kelas 6) usia 11-12 tahun
Sistem sekolah dasar yang ada di Yunani hampir sama dengan yang ada di Indonesia. Pendaftaran berikutnya adalah Pendidikan Wajib, yaitu Gymnasium, secara otomatis. Sebuah sekolah yang hari normal di mulai pada pulkul 8.15 tergantung pada kelas dan sekolah nya masing-masing. Yang terakhir antara 30-80 menit kelas. Tahun ajaran selalu dimulai pada minggu kedua bulan September dan berakhir pada minggukedua bulan Juni. Para siswa memiliki liburan musim panas selam 3 bulan, liburan natal selama 2 minggu, dan liburan paskah selama 2 minggu. Selanjutnya, siswa mengambil empat hari biasanya 0ff atau libur cuti untuk merayakan dua hari libur nasional mereka yaitu tanggal 28 Oktober dan 25 Maret.
Dasar mata pelajaran yangdi ajarkan yaitu: Bahasa Yunani (9 jam/minggu), Yunani Modren Sastra (2 jam/minggu), Matemati ka (5 jam/minggu), Studi lingkungan Hidup (2-4 jam/minggu), Pendidikan Jasmani (4 jam/minggu), Musik (2 jam/minggu), Seni (2 jam/minggu), Ilmu Komputer (2 jam/minggu), Studi Teater (1 jam/minggu), Zona Fleksibel (3 jam/minggu), Bahasa Inggris (2-4 jam/minggu). Tambahan subjek bagi Pendidikan Dasar Yunani yaitu: Fisika (2jam/minggu, hanya untuk tahun 5 dan 6), Geografi (2 jam/minggu, hanya untuk tahun 5 dan 6), Sejarah  (2 jam/minggu untuk tahun 3-6),  Agama (2 jam/minggu untuk tahun3-6), Sosial dan Politik Studi (2 jam/minggu untuk tahun 5-6 tahun), Kedua Bahasa Asing (2jam/minggu hanya untuk tahun 5 dan 6). Sistem grading (sistem penilaian) untuk Tahun 1 (tidak ada nilai), Tahun 2 (tidak ada nilai), Tahun 3 (nilai A-E), Tahun 4 (nilai A-E), Tahun 5 (nilai 1-10), Tahun 6 (nilai 1-10). [3]
Pemilu di Sekolah Dasar diadakan setiapbulan September, semua siswa di wajibkan untuk memilih 2 2 presidiums untuk setiap kelas yang "aturan" sampai Januari saat yang lain berhasil pertama. Peran ini adalah untuk bersolek presidiums ruang-ruang kelas untuk liburan nasional dan untuk Natal.Selanjutnya mereka mentransfer keluhan setiap siswa untuk pihak sekolah. Ada 4 posisi yang direbutkan yaitu Presiden, wakil Presiden, Sekretaris Jenderal, Bendahara.

2.      Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah di Yunani  di bedakan menjadi 3 yaitu:
a.       Gimnasium (tengah/menengah)
Sekolah Menengah di Yunani biasanya di sebut dengan Gymnasium (tengah/menengah). Pendidikan Menengah Di Yunani dibagi dalam beberapa kelas:
1.      Kelas 1 usia 12-13 tahun
2.      Kelas  2 usia 13-14 tahun
3.      Kelas 3 usia 14-15 tahun
Awal  pendidikan dimulai pada 11 September dan berakhir pada 15-18 Juni. Akhir pelajaran pada minggu kedua hingga Mei bahwasiswa akan dapat belajar untuk ujian mereka antara Mei dan Juni. Kelas-kelas di mulai dari 8.15 sesuia dengan jenis sekolah. Berakhir selam 30 menit dan 45 menit, dan jam istirahat dari 10-5 menit tergantung masing-masing kelas. Setiap bulan setiap sekolah wajib memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan luar dan perjalan pendidikan ke Museum atau tempat lain. Untuk teater di lakukan pada akhir tahun setiap sekolah berkewajiban  untuk mengatur  perjalan sekolah untuk kelas 3, untuk siswa kelas 2 untuk 3-4 hari, dan untuk mahasiswa tahun ke 3 selama 3-5 hari dan untuk semua siswa yang berlangsung satu hari. Sekolah-sekolah biasanya mengatur perjalanan ke pulau-pulau seperti Santorini, Kreta, Rhodes, Corfuatau bahkan luar negeri dikota-kota Eropa seperti Paris, London, Barcelona, Lemesos, Valetta, Roma, Milan, Wina, Berlin,dll.
Ada 6 jenis Gymnasium di Yunani:
a.       Umum Gymnasium
b.      Gymnasium atletik (untuk memasukan jenis siswa sekolah harus lulus ujian tertentu pada olahraga seperti basket, sepak bola, bola Voli, senam, polo, renang,dll)
c.       Seni Gymnasium
d.      Eksperimental Gymnasium
e.       Gereja Gymnasium
Mata pelajaran di tingkat  Gymnasium Yunani yaitu : Bahasa Yunani Modern (2 jam/minggu), Yunani Modern Sastra (2jam/minggu), Bahasa Yunani Kuno (3 jam/minggu), Sastra Yunani Kuno (2jam/minggu), Matematika (4 jam/minggu), Fisika (2 jam/minggu), Kimia (1 jam / minggu dan selama bertahun-tahun 2 dan 3), Biologi (2 jam / minggu dan selama bertahun-tahun 1 dan 3), Studi Sosial dan Politik (2 jam / minggu dan untuk tahun 3), Pendidikan Jasmani (2 jam / minggu), Seni (1 jam / minggu), Musik (1 jam / minggu), Sejarah (2 jam / minggu selama bertahun-tahun 1 & 2 dan 3 jam / minggu untuk tahun 3), Agama (2 jam / minggu), Ilmu Komputer (1 jam / minggu), Teknologi (1 jam / minggu dan selama bertahun-tahun 1 & 2), Bahasa Inggris (2 jam / minggu), 2 bahasa asing (Jerman, Prancis dan Italia 2 jam / minggu), Sekolah Kejuruan Bimbingan (1 jam / minggu), Ekonomi (1 jam / minggu untuk tahun 1 dan 2 jam / minggu untuk tahun 2), Geografi (2 jam / minggu). [4]
b.      Umum Lyceum ( Sekolah Tinggi)
Sekolah tinggi  atau Lyceum umum terdapat tiga kelas:
a.        Kelas 1 usia15-16 tahun
b.      Kelas 2 usia 16-17 tahun
c.       Kelas 3 usia17-18 tahun
Pada 12 September 2011 sistem baru di perkenalkan kepada para siswa baru kelas Lyceum Umum. Mata pelajaran yang di ajarkan pada kelas Lyceum yaitu: Bahasa Yunani (Yunani Kuno, Sastra Yunani Modern dan Komposisi-9 jam / minggu), Agama (2 jam / minggu), Sejarah Kuno (2 jam / minggu) , Matematika (5 jam / minggu), Bahasa Inggris (3 jam / minggu), Ilmu Pengetahuan Fisika (Fisika, Kimia, Biologi-6 jam / minggu), Pendidikan Ekonomi (3 jam / minggu), Proyek (3 jam / minggu)
c.       Lyceum Kejuruan
Sekolah Lyceum kejuruan sama dengan sekolah Lyceum umum. Lyceum kejuruan juga terdapat tiga kelas. Mata pelajaran yang di pelajari juga sama dengan Lyceum umum. Tetapi bedanya lyceum kejuruan ini sesuai dengan namanya kejuruan terbagi atau khusus mempelajari pelajaran atau mendalam.
Pemilu pada Gymnasium dan Lyceum diadakan setiap bulan Septemberdan mereka juga di bagi dalam 2 bagian.pada bagian pertama setiap siswa memilih Presidium nya atau kelasnya.presidium kelas memiliki 5 anggota yaitu Presiden, Sekretaris Jenderal, Bendahara, Anggota 1, dan Anggota 2.pada bagian kedua siswa memilih Dewan Sekolah yang memiliki15 anggota dan merupakan siswa. Perannya sangat penting disetiap karena Dewan Sekolah mengambil keputusan yang signifikan untuk semua siswa. Dewan Sekolah memilki 15 anggota yaitu Presiden Sekolah, Wakil Presiden, Bendahara, dan 12 anggota lain.
      3. Pendidikan Tinggi Yunani
      Lembaga Pendidikan Tinggi yang terdiri dari dua sektor paralel: Universitas dan Institut Teknologi Pendidikan Tinggi (TEI).  Selain itu, perguruan tinggi bekerja sama dengan universitas asing yang dapat menawarkan program sarjana dan pascasarjana studi luar negeri Inggris di Yunani, di bawah pendaftaran yang tepat dengan Departemen Pendidikan Yunani. Biasanya, program ini disediakan sebagai berikut perjanjian waralaba atau validasi dengan universitas-universitas yang didirikan di negara-negara Uni Eropa, terutama di Inggris, yang mengarah ke derajat yang diberikan langsung oleh universitas-universitas tersebut. Pendidikan di Yunani hampir sama dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia. perbedaan nya terdapat pada sistem penilaian nya. [5]

Notes:
[1] Pearl S. Buch (2002).Negara dan Bangsa. PT.Ikrar Mandiri Abadi. Jakarta.
[3] Maleha Aziz dan Santi Paradila Sandi (2007). Sejarah Pendidikan. Cendikia Insani. Pekanbaru

ORGANISASI PERGERAKAN ZAMAN JEPANG

Rinta Yuliana Mandasari/ SI IV/B

Selama masa pendudukan Jepang, bangsa Indonesia dilarang membentuk organisasi sendiri. Akan tetapi, Jepang sendiri membentuk organisasi-organisasi bagi rakyat Indonesia  dengan maksud dipersiapkan untuk membantu Jepang. Organisasi-organisasi ini pada akhirnya berbalik melawan Jepang.
Pada akhir bulan maret 1942 hubungan kerjasama antara nasionalis Indonesia dengan pihak Jepang di tuangkan dalam bentuk institusional. Dibentuk perhimpunan dengan nama gerakan Tiga A. namanya dijabarkan dari semboyan propaganda jepang pada waktu itu : “Nippon cahaya Asia, Nippon pelindung Asia, Nippon pemimpin Asia. [1]  Bagian propoganda (Sendenbu)  sebagai sponsor  gerakan itu telah mengangkat tokoh Parindra – Jawa Barat, Mr. Samsuddin sebagai ketuanya, yang kemudian dia  mencoba mempropogandakan Gerakan Tiga A keseluruh Jawa. Kemudian secara bertahap gerakan yang diciptakan oleh Jepang itu mulai bulan Mei 1942 diperkenalkan kepada masyarakat melaluin mass-media. Gerakan Tiga A hanya berumur beberapa bulan saja. Pemerintah pendudukan Jepang menganggap bahwa Gerakan Tiga A tidak begitu efektif di dalam usahanya untuk mengerahkan bangsa Indonesia. Karena itu pada bulan Desember 1942 telah direncanakan untuk membentuk organisasi baru. Organisasi baru itu dipimpin oleh tokoh-tokoh Pergerakan Nasional yang lebih dikenal di kalangan rakyat. Demikianlah Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan K. H. Mansur ditampilkan sebagai pemimpin-pemimpin dengan sebutan Empat Serangkai.
Pemerintah Jepang ingin menggunakan tokoh-tokoh  Pergerakan Nasional Indonesia itu yang diharapkan dapat menggerakan massa untuk usaha perang mereka serta membangkitkan perasaan anti-Barat dan anti-bangsa kulit putih. Sentimen rasial sangat ditonjolkan dalam propaganda Jepang. Terutama Ir. Sukarno, seorang tokoh nasionalis lulusan Sekolah Tinggi Tehnik di Bandung, yang telah dikenal namanya sejak jaman Hindia Belanda dan sangat mahir berpidato, amat diharapkan kerjasamanya oleh Jepang.
Pada bulan Desember 1942, dibentuk satu panitia persiapan pembentukan suatu organisasi rakyat Indonesia yang dipimpin oleh Ir. Sukarno pada tanggal 1 Maret 1942 ia mengumumkan lahirnya  gerakan baru yang bernama Poesat Tenaga Rakyat  yang disingkat Poetera. Tujuan daripada Poetera ini menurut Ir. Sukarno adalah untuk membangun dan menghidupkan segala apa yang dirobohkan oleh imperialisme Belanda. [2] Peranan Sukarno dalam membentuk Poetera  ini menentukan, sekalipun dalam banyak hal ruang geraknya dibatasi oleh Jepang.
Bagi Jepang tujuan Poetera adalah untuk memusatkan segala potensi masyarakat Indonesia dalam rangka membantu usaha perangnya. Untuk itu, telah digariskan sebelas macam kegiatan yang harus dilakukan, sebagaimana yang tercantum di dalam peraturan dasarnya. Yang terpenting antara lain adalah tugas untuk memimpin rakyat supaya kuat rasa kewajiban  dan tanggungjawabnya untuk menghapuskan pengaruh Amerika, Inggris dan Belanda, mengambil bagian dalam usaha mempertahankan Asia Raya, memperkuat rasa persaudaraan Indonesia dan Jepang, serata mengintensifkan pelajaran-pelajaran bahasa Jepang. Di samping tugas di bidang propoganda sebagaimana tersebut diatas, Poetera mempunyai tugas pula dibidang sosial-ekonomi. Poetera mempunyai tugas untuk membina masyarakat dan memusatkan potensi itu untuk kepentingan perang Jepang.
Poetera mempunyai pimpinan pusat dan pimpinan daerah, yang masing-masing dibagi-bagikan atas pejabatan, yaitu:
1.      Pejabaran Susunan Pembangunan;
2.      Pejabatan Usaha dan Budaya;
3.      Pejabatan Propoganda.
Usaha pengembangan Poetera baru dimulai pada bulan April 1943. Sebagai pemimpin tertinggi diangkat. Ir. Sukarno yang dibantu oleh Drs. Moh. Hatta, Ki Khadjar Dewantara dan K.H. Mas Mansur. Pimpinan Poetera itu bersifat kolektif dan seperti telah diketahui disebut Empat Serangkai serta dianggap lambang daripada segala aliran di dalam Pergerakan Nasional. Di samping pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia, Poetera mempunyai beberapa penasehat orang Jepang. Mereka adalah S. Miyoshi, seorang bekas konsul Jepang di Jakarta, G. Taniguci pemimpin surat kabar Toindo Nippon, Iciro Yamasaki seorang pemimpin badan perdagangan dan Akiyama dari Bank Yokohama. Mereka semuanya sebelum perang pernah tinggal di Indonesia.
Pada awal berdirinya, Poetera mendapat sambutan yang baik dari organisasi-organisasi massa yang ada. Pengurus besar Persatuan Guru Indonesia beserta sejumlah 15.000 orang anggotanya telah menyatakan diri bergabung dengan Poetera. pula Perkumpulan Pegawai Pos Menengah akan menyerahkan perkumpulan kepada Poetera. Langkah kedua organisasi ini kemudian diikuti oleh organisai lainnya. Pada bulan April Pegawai Pos, Telegraf, Telpon dan Radio (PTTR)  di Bandung, dan Pengurus Besar Istri Indonesia di Jakarta menyatakan dirinya untuk bergabung dengan Poetra. [3]
Meskipun Poetra adalahnorganisasi resmi pemerintah, bantuan pemerintah tidak bisa mereka rasakan seperti organisasi resmi pemerintah, yang mengakibatkan tidak pesatnya  perkembangan organisasi tersebut. Namun dengan kekurangannya Poetra berhasil ikut mempersiapkan rakyat secara mental bagi kemerdekaan yang akan datang. Dengan rapat-rapat raksasa dan dengan memakai media komunikasi massa pihak Jepang, pemimpin-pemimpin Indonesia dapat mencapai rakyat secara luas daripada yang pernah dialami dalam jaman Hindia-Belanda. Poetra lebih mengarahkan perhatian rakyat kepada kemerdekaan daripada kepada usaha perang pihak Jepang. Pada tanggal 1 januari 1944 panglima tentara keenambelas, Jendral Kumakici Harada membentuk organisasi Jawa Hokokai (Himpunan Kenaktian Jawa). Organisasi ini diperintah langsung oleh kepala pemerintahan militer Jepang (Gunseikan). Latar belakang dibentuknya Jawa Hokokai adalah Jepang menyadari bahwa Putera lebih bermanfaat bagi pihak Indonesia daripada bagi pihak Jepang. Oleh karena itu, Jepang merancang pembentukan organisasi baru yang mencakup semua golongan masyarakat, termasuk golongan Cina dan Arab. Sebelum mendirikan Jawa Hokokai, pemerintah pendudukan Jepang lebih dahulunmeminta pendapat empat serangkai. Alasan yang diajukan adalah semakin hebatnya Perang Asia Timur Raya sehingga Jepang perlu membentuk organisasi baru untuk lebih menggiatkan dan mempersatukan segala kekuatan rakyat. Dasar organisasi ini adalah pengorbanan dalam hokoseiskin (semangat kebaktian) yang meliputi pengorbanan diri, mempertebal rasa persaudaraan, dan melaksanakan sesuatu dengan bakti. Secara tegas, Jawa Hokokai dinyatakan sebagai organisasi resmi pemerintah. Jika pucuk pimpinan Putera diserahkan kepada golongan nasionalis Indonesia, kepemimpinan Jawa Hokokai pada tingkat pusat dipegang langsung oleh Gunseikan. Adapun pimpinan daerah diserahkan kepada pejabat setempat mulai dari Shucokan sampai Kuco. Kegiatan- kegiatan Jawa Hokokai sebagaimana digariskan dalam anggaran dasarnya sebagai berikut.
a. Melaksanakan segala sesuatu dengan nyata dan ikhlas untuk menyumbangkan segenap tenaga kepada pemerintah Jepang.
b.  Memimpin rakyat untuk menyumbangkan segenap tenaga berdasarkan semangat persaudaraan antara segenap bangsa.
c. Memperkukuh pembelaan tanah air.
Anggota Jawa Hokokai adalah bangsa Indonesia yang berusia minimal 14 tahun, bangsa Jepang yang menjadi pegawai negeri, dan orang-orang dari berbagai kelompok profesi. Jawa Hokokai merupakan pelaksana utama usaha pengerahan barang-barang dan padi. Pada tahun 1945, semua kegiatan pemerintah dalam bidang pergerakan dilaksanakan oleh Jawa Hokokai sehingga organisasi ini harus melaksanakan tugas dengan nyata dan menjadi alat bagi kepentingan Jepang.
Jawa Hokokai merupakan organisasi sentral yang anggota-anggotanya terdiri atas bermacam-macam hokokai sesuai dengan bidang profesinya. Guru-guru bergabung dalam wadah Kyoiku Hokokai (Kebaktian para Pendidik) dan para dokter bergabung dalam wadah Izi Hokokai (Kebaktian para Dokter). Selain itu, Jawa Hokokai juga mempunyai anggota-an ggota istimewa yang terdiri dari Fujinkai (Organisasi Wanita), Keimin Bunka Shidosho (Pusat Kebudayaan), Boei Engokai (Tata Usaha Pembantu Prajurit Peta dan Heiko), serta hokokai perusahaan.
Diluar pulau Jawa, golongan nasionalis kurang mendapat perhatian dalam sistem pemerintahan lokal. Di Sumatra sendiri tidak dapat dibentuk sebuah organisasi yang merupakan wadah bagi golongan nasionalisme. Ketika di Jawa dibentuknya Poetra, maka Sumatra juga ingin membentuk organisasi yang sama. Pada bulan Juni 1943 Moh. Sjafe’i dan Chatib Sulaiman mengajukan surat permohonan kepada pemerintah Jepang, akan tetapi pembentukan itu tidak mendapat izin. Barulah pada bulan Maret 1945 konsesi politik diberikan kepada Sumatra dengan diizinkannya pembentukan Cuo Sangi In.[4] Ketika pemerintahan Jepang berada di tangan Perdana Menteri Toyo, Jepang pernah memberi janji merdeka kepada Filipina dan Burma, namun tidak melakukan hal yang sama kepada Indonesia. Oleh karena itu, kaum nasionalis Indonesia protes. Menanggapi protes tersebut, PM Toyo lalu membuat kebijakan berikut.
a. Pembentukan Dewan Pertimbangan Pusat (Cuo Sangi In).
b. Pembentukan Dewan Pertimbangan Karesidenan (Shu Sangi Kai) atau daerah.
c. Tokoh-tokoh Indonesia diangkat menjadi penasihat berbagai departemen.
d. Pengangkatan orang Indonesia ke dalam pemerintahan dan organisasi resmi lainnya.

Untuk melaksanakan kebijakan tersebut, pada tanggal 5 September 1943, Kumakichi Harada mengeluarkan Osamu Serei No. 36 dan 37 Tahun 1943 tentang pembentukan Cuo Sangi In dan Shu Sangi Kai. Cuo Sangi In yang berada di bawah pengawasan Saiko Shikikan (Pemerintahan Tentara Keenambelas) bertugas menjawab pertanyaan Saiko Shikikan dalam hal politik dan pemerintah. Rapat-rapat Cuo Sangi In membahas pengembangan pemerintah militer, mempertinggi derajat rakyat, penanganan pendidikan dan penerangan, masalah ekonomi dan industri, kemakmuran dan bantuan sosial, serta kesehatan. Keanggotaan Cuo Sangi In terdiri atas 43 orang, yaitu 23 orang diangkat oleh Saiko Shikikan, 18 orang dipilih oleh anggota Shu Sangi Kai, dan dua orang anggota yang diusulkan dari daerah Surakarta dan Yogyakarta. Anggota Cuo Sangi In dilantik pada tanggal 17 Oktober 1943 dengan ketua Ir. Soerkarno, serta wakilnya dua orang, yaitu M.A.A. Kusumo Utoyo dan Dr. Boentaran Martoatmodjo. Cuo Sangi In dibentuk dengan tujuan agar ada perwakilan, baik bagi pihak Jepang maupun pihak Indonesia. Namun, agar tidak dimanfaatkan untuk perjuangan bangsa Indonesia, Cuo Sangi In mendapat pengawasan ketat dari pemerintah Jepang. Dilihat dari segi perjuangan bangsa Indonesia dalam memperoleh kemerdekaan, keberadaan Cuo Sangi In memang tidak berarti banyak. Akan tetapi, keberadaan lembaga ini berguna bagi pertambahan wawasan pengalaman kaum nasionalis Indonesia.

Note:
[1] Sejarah Nasional Indonesia VI, hlm 18
[2] Sejarah Nasional Indonesia VI, hlm 19
[3] Sejarah Nasional Indonesia VI, hlm 21
[4] Sejarah Nasional Indonesia VI, hlm 23

Daftar Pustaka
Sukmayani, Ratna, dkk, 2008, Ilmu Pengetahuan Sosial: Untuk SMP/MTS kelas IX, PT. Galaxy Puspa Mega, Jakarta.
Poesponegoro, Marwati.D, dkk, 1984, Sejarah Nasional Indonesia VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.