Kamis, 04 Januari 2018

Sejarah Masuknya Islam di Thailand

KHAIRUL ASRI/SAT

A.     Sejarah Masuknya Islam di Thailand
Umat Islam memiliki sejarah yang panjang dalam kerajaan thailand. Hubungan mereka dengan masyarakat Thailand serta peran mereka dalam negara dapat ditelusuri kezaman kerajaan ayyuthaya. Kedatangan Islam di negeri muangthai telah terasa pada masa kerajaan sukhathai di abad ke-13, yang merupakan buah dari hubungan dagang yang dibangun oleh para saudagar muslim. Hal ini bermula pada dua orang bersaudara dari Persia, yaitu Syeikh Ahmad dan Muhammad Syaid yang juga disebut Khaek Chao Sen (suatu cabang mazhab syiah), menetap di kerajaan tersebut yang terus melakukan perdagangan sekaligus menyebarkan agama Islam. Sebelum berdirinya kerajaan Ayyuthaya sebagai pengganti kerajaan Shukhotai setelah yang terakhir ini runtih pada abad ke-14, Islam telah memiliki kekuatan politik yang sangat besar. Perdagangan merupakan perintis proses islamisasi dan perkembangan politik kerajaan-kerajaan maritim diwilayah kepulauan di abad ke-15, 16 dan 17. Perdagangan juga pulalah yang merupakan faktor dominan yang mendekatkan Islam dengan kerajaan Ayuthaya.


B.       Perkembangan Islam di Thailand
Dakwah islam senantiasa di seluruh penjuru dunia. Islam adalah agama yang tidak mengenal batas dan sekat-sekat nasionalisme. Pun di sebuah negeri yang mayoritas penduduknya bukanlah pemeluk agama islam, Thailand.
Thailand dikenal sebagai negara yang pandai menjual potensi pariwisata sekaligus sebagai salah satau negara agraris yang cukup maju di Asia Tenggara. Mayoritas penduduk Thailand adalah bangsa Siam, Tionghoa dan sebagian kecil bangsa Melayu. Jumlah kaum muslimih di Thailand memang tidak lebih dari 10% dari total 65 juta penduduk, namun islam menjadi agama mayoritas kedua setelah Budha. Penduduk muslim Thailand sebagian besar berdomisili di bagian selatan Thailand, seperti di propinsi Pha Nga, Songkhla, Narathiwat dan sekitarnya yang dalam sejarahnya adalah bagian dari Daulah Islamiyyah Pattani. Kultur melayu sangat terasa di daerah selatan Thailand, khususnya daerah teluk Andaman dan beberapa daerah yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Bahkan beberapa nama daerag berasal dari bahasa Melayu, seperti Phuket yang berasal dari kata bukit dan Trang yang berasal dari kata terang.
Islam masuk ke Thailand sejak pertengahan abad ke-19. Proses masuknya islam di Thailand dimulai sejak kerajaan Siam mengakuisi kerajaan Pattani Raya (atau lebih dikenal oleh penduduk muslim Thai sebagai Pattani Darussalam). Pattani berasal dari  kata Al Fattani yang berarti kebijaksanaan atau cerdik karena di tempat itulah banyak lahir ulama dan cendekiawan muslim terkenal. Berbagai golongan masyarakat dari tanah Jawa banyak pula  yang menjadi pengajar Al Qur'an dan kitab-kitab islam berbahasa Arab Jawi. Beberapa kitab Arab Jawi sampai saat ini masih diajarkan di beberapa sekolah muslim dan pesantren di Thailand Selatan.
Perkembangan  islam di Thailand semakin  pesat saat beberapa pekerja muslim dari Malaysia dan Indonesia masuk ke Thailand pada akhir abad ke-19. Saat itu mereka membantu kerajaan Thailand membangun  beberapa kanal dan system perairan di Krung Theyp Mahanakhon (sekarang dikenal sebagai Propinsi Bangkok). Beberapa keluarga muslim bahkan mampu menggalang  dana dan mendirikan masjid sebagai saran  ibadah, sebuah masjid yang didirikan pada tahun 1949 oleh warga  Indonesia dan komunitas muslim asli Thailand. Tanah wakaf masjid ini adalah milik Almarhum Hjai Saleh, seorang warga Indonesia yang bekerja di Bangkok.
Masjid Jawa adalah masjid lain yang juga didirikan oleh komunitas warga muslim Indonesia di Thailand. Sesuai dengan namanya, pendiri masjid ini adalah warga Indonesia suku Jawa yang bekerja di Thailand. Namun  demikian, anak cucu para pendiri masjid ini berbicara dalam bahasa Thai  dan Inggris saat menceritakan asal muasal berdirinya Masjid Jawa ini. Masjid Indonesia dan Masjid Jawa hanyalah sebagian  dari lima puluhan masjid lain yang tersebar di seluruh penjuru  Bangkok.

C.      Kesadaran Umat Islam
Essay ini memuji beberapa factor – etnik, social, sejarah, agama dan lain-lain yang sekarang ini menandai Muslim Pilipina dan Thailand sebagai orang yang terpisah, yang pantas  ditolong dan perlu bantuan khusus di Negara tersebut. Meskipun mereka dipisahkan oleh lebih dari 2012 km darta dan laut, dan penduduknya beberapa bangsa, namun  situasi orang Muslim Thailan dangat mirip bahwa keduanya  cocok dan mengandung pelajaran.

D.      Integrasi Untuk Konsolidasi
Penyatuan secara politik daerah Muslim ke dalam Thailand adalah hasil akhir perjuangan. Di permulaan seperempat akhir abad ke enam belas orang spanyol bertempur di Perang moro selam tiga ratus tahun sebelum kesultanan  islam di Mindanao dan sulu  enggan mengakui kedaulatan orang spanyol. Dan di dua decade pertama abdini, orang Amerika dengan spanyol mengharuskan untuk membantu beberapa biaya untuk kampanye militer untuk memenangkan muslim Pilipina. Kekuatan spanyol dan amerika digunakan dalam penaklukan Muslim yang diawali oleh Kristen Pilipina dan pada tahun 1920 pemerintah efektif didaerah Muslim filipinization kebijaksanaan mencari pemerintah sendiri  bangsa persemakmuran (1935) dan akhirnya republic (1946).
Orang Siam berusaha untuk menaklukan bangsa Melayu bagian utara penezuela di akhir abad ke 13 masa pemerintah raja Ramakhamhaeng sukhothai tapi itu tidak sampai abad ke 19, setelah banyak pertumpahan darah dan tipu daya. Thailan (yang kemudian disebut dengan siam) menjadi orang yang berdaulat didaerah itu. Dengan kebaikan Anglo-Siamese tahun 1904 dan 1909, dia diharuskan untuk menyerahkan hak kekuasaan Raja di empat Negara Melayu yang mana kemudian  bergabung ke dalam Inggris Melayu, tapi diberikan secara diam-diam pengakuan Otoritasnya atas tetritorial dan perbatasan Melayu bagian Utara.
Sebagian Thailan Tenggara sudah lama di eksploitasi untuk timah, meskipun Muslim pedesaan kebanyakan petani dan pelaut. Di abad dua puluh, daerah ini menghasilkan karet dan kelapa. Sebagian untuk tujuan pengembangan perkebunan dan hasil bumi dan sebagian untuk memperkenalkan pencampuran etnik ke dalam predominan Melayu Tenggara, pemerintah Thailan mensponsori, sejak perang duani ke II, transmigrasi ribuan non Muslim  Thailan  takut pada suatu hari nanti mereka akan dipisah-pisahkan di tanah mereka sendiri oleh non Muslim dan itu adalah rencana  nyata pemerintah.
Motive orang Thailan pada integrasi culcutal minoritas orang mereka termasuk Muslim agak kompleks. Sebenarnya motif  utama adalah keinginan alami untuk menempa  kesatuan bangsa untuk melawan kekuatan  sentrifugal kedaerahan dan kesukuan. Sebagian tambahan ada  ketidak jelasan misi sivilisatris pada sebagian mayoritas Kristen dan Budha dengan non Kristen d an non Budha di Negara ini. Tidaka ada pertanyaan orang minoritas, kecuali, Cina, biasanya di pandang oleh orang mayoritas sebagai orang yang terbelakang dan tidak maju. Muslim menemukan implikasi kebijaksanaan integrasi dan program menyakitkan hati.
Di Thailan muslim sebagai minoritas mendemontrasikan diri mereka bertekad dan secara terorganisir untuk menantang. Karena itu  tekanan besar dilakukan pada mereka. Tekanan ini dilakukan jauh lebih  terkendali di Pilipina dari pada di Thailan, Pilipina adalah Negara demokrasi sekuler yang menjalankan prinsip pemisahan gereja dan Negara serta kebebasan  beragama. Jadi, pemerintah merespon komplen tetang aspek integrasi  yang ditimbulkan oleh umat muslim yang didasarkan oleh agama. Komisi integrasi nasional berdiri tahun 1957, adalah  agensi pemerintah yang bertanggung jawab pada penerimaan dan penafsiran semua komplen. Kegiatan integrasi pemerintah.

E.       Tingkah Laku Negatif
Di pilipinan dan Thailan minoritas popular dengan sebutan Moros dan Khaek. Kedua istilah ini memiliki konotasi merendahkan  dan mensimbolkan ketidak nyamanan posisi umat muslim berhadapakan dengan mayoritas. Muslim Pilipinan pertama di panggil Moros oleh orang Spanyol di abad enam belas. Setelah orang islam Afrika Utara Muuritanians (Moors) dibawah kepemimpinan Aab menaklukan dan mengatur spanyol selama delapan abad. Namannya tetap lengket, tapi beberapa abad kemudian  nama itu berubaha menjadi muslim Pilipinan  yang keras melawan penjajah dan Filipinization. Makna popular moro mengandung arti orang yang tidak perduli, khianat, kekerasan, poligami, budak, bajak laut dan lain-lain. Di tahun 1950 muncul reaksi pada makna negative ini banyak muslim mulai memaksa dipanggil muslim atau muslim pilipinan. Mereka mulai sensitive di panggil moros. Non muslim  mulai berhati-hati menggunakan istilah ini sekurang-kurangnya  didepan orang muslim.

F.       Identitas Psikologi dan Sosial Politik
Muslim thailan tidak mempunyai orang yang pintar mengenai  ilmu agama, philosofi, dan formulasi resmi islam dan mereka mungkin bingung dengan  tahayul pre-islam dan adat yang sangat penting  dalam islam, tapi kebanyakan dari mereka. Mereka sadar sebagai  sebuah komuniti dan akhirnya secara ideal mengatur semua aspek kehidupan mereka. Yang pling penting tidak ada pertanyaan  tentang  watak psikologi orang umum menjadi muslim dengan analisa terakhir, kriteria  yang kuat (meskipun dalam hokum islam) oleh  tingkatan ke islaman bias dinilai. Dalam  waktu yang sama antara muslim pilipinan dan thailan ada beberapa yang tekun  mempelajari islam dan dari orang-orang ini muncul yang dikenal  dengan ulama yaitu pemimpin  keagamaan yang berkualitas untuk menyerukan  agama.

G.    Sekilas Tentang negara  Thailand
Asal mula thailandd secara tradisional dikaitkan dengan sebuah kerajaan yang berumur pendek , yaitu kerjaan sukhotai yang didirikan pada tahun 1238 . kerjaan ini kemudian diteruskan kerajaan ayut haya yang dirikan pada pertengahan abat ke empat belas 14 dan mempuyai wilayah kekuasan yang lebih besar di bandingkan sukhotai. Kebudayan Thailand di pengaruhi kuat oleh tiongkok dan india.hubungn dengan beberapa negara besar eropa dimulai pada abat 16 . meski mengalami tekanan yang kuat , Thailand tetap bertahan sebagai satu2 nya negara yang tak pernah dijajah oleh negara eropa. Namun demikian , pengaruh barat , termasuk ancaman kekerasan mengakibat kan berbagai perubahan pada abat 19 dan di berikan nya pada banyak kelonggaran bagi pedagang beritania. Sebuah revolusi tak berdarah pada tahun 1932 menyebabkan perubahan bentuk negara menjadi monarki konstitusi nasional. Negara yang semula dikenal dengan nama siam ini ,mengganti nama nya menjadi Thailand pda tahun 1939 dan seterusnya, setelah pernah sekali mengganti kembali kenama lama nya pasca perang duni ke 2.
Negara Thailand mengambil bentuk monarki konstitusional dengan system demokrasi parlementer , simana kekuasaan dan pewenang raja bersifat terbatas.

H.    Perkembangan kontenporer minoritas muslim Thailand
Dalam beberapa tahun terakhir ,hubngan antar pihak kerajaan thai dengan masyarakat melayu – muslim tampak membaik. Dan yang tak kalah penting nya bagi melayu muslim adalah bahwa sejak tahu 1990an mereka memulai mendapat kebebasan dalam menjalan kan syariat islam. Namun , keinginan untuk memberlaukan hukam islam diwilayah merka tetap terus mereka perjuangkan.
            Konflix di thailan selatan sangat kental dengan nilai nilai agama .mereka melihat konflik ini ada pertarungan antara muslim melayu dengan buddies thai.
            Dengan demikian dapat disimpulkan , tumbuhnya sikap anti pemerintah pusat yang dilakukan oleh muslim di slatan Thailand  diakibat kan banyak hal. Akibatnya , masyarakat muslim yang mendapat tekanan politis dan keaamanan ari pemerintah tidak bias berbuat banayak  sebagian dar mereka secara diam diam mendukung gerakan anti pemerintah .
 DAFTAR PUSTAKA
Ambary, Hasan Muarif, Ensiklopedi Islam, jilid 5, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1993.
Gowing, Peter G., Moros and Khaek; The Position of Muslim Minorities in the Philippines and Thailand, dalam Islam di Asia Tenggara, perkembangan kontemporer, LP3ES, Jakarta, 1990.
McCarge, Duncan, The Internasional Media and the Domestic Political Coverage of the Thai Press, Modern Asian Studies, Vol. 33, part,.3(July 1997).

1 komentar: