Selasa, 09 Januari 2018

Kebudayaan Fiji


DINDA SRI RAHAYU/3A/SAO



Budaya Fiji merupakan perpaduan antara ritual dan tradisi kuno menarik Fiji Island. peristiwa legendaris mengatakan bahwa kepala Lutunasobasoba besar datang dan memimpin umat-Nya di tujuan baru Fiji tetapi beberapa percaya bahwa orang-orang dari Asia Tenggara mengunjungi Pasifik melalui Indonesia. Budaya Dari Fiji adalah kombinasi besar dari ras Melanesia dan Polinesia dan mereka bertanggung jawab untuk menciptakan masyarakat yang sangat maju bahkan sebelum kedatangan orang Eropa. Orang-orang Eropa pertama yang mendarat di Fiji sebagian besar kapal pelaut hancur. Tahun 1683 penjelajah Belanda Abel Tasman datang ke navigator Fiji dan Inggris melakukan eksplorasi besar dalam abad ke-18.


Masyarakat Fiji
Orang-orang Fiji yang sangat hangat hati dan yang mungkin menjadi alasan lain untuk Fiji menjadi seperti negeri yang indah. Anak-anak Fiji adalah berperilaku baik dan sosial sangat berbudaya dan mereka adalah masalah harga diri kepada orang-orang Fiji. Perempuan memainkan peran utama dalam masyarakat Fiji.
Musik dan Tari
Fiji Musik adalah perpaduan dari Melanesia tradisional dan musik Polinesia sebagai Pulau Fiji didominasi di bawah pengaruh dua budaya. Musik Folk merupakan bagian penting dari musik Fiji dan terdiri dari musik gereja vokal disertai oleh bentuk-bentuk tari tradisional. Instrumen musik yang umum digunakan dari Fiji adalah gitar, mandolin, gitar kecil bersama dengan alat musik tradisional ada pribumi. drum Lali adalah satu umum dan mereka digunakan untuk memanggil masyarakat lokal dari daerah untuk mengumpulkan dan dapat disebut sebagai media komunikasi. Beberapa jenis drum lali ada dan mereka adalah instrumen mengumumkan dari berbagai pertemuan sosial seperti perang dan kemenangan dan bahkan untuk kelahiran dan kematian tetapi semua kejadian mengikuti pola ritmik yang berbeda dan mereka terdengar dari setidaknya 8kms.
Sebagian besar musik Fiji adalah adat dan menampilkan bagian sosial dari Kebudayaan Fiji dan yang paling terberat dan bentuk kompleks adalah "Untuk menciptakan" dan dalam hal ini Musik Fiji suara dan tari digabungkan. Koordinasi merupakan faktor penting dalam Untuk menciptakan dan orang-orang melakukan pola tarian kuat sementara perempuan anggun menampilkan tari postur dan gerakan tubuh.
Fiji Makanan dan Minuman
Makanan Fiji Olahan gaya tradisional dan Anda yakin untuk mendapatkan bau budaya Fiji di dalamnya. The Fiji asli bersama dengan Indo-Fiji lebih suka menggunakan tangan mereka sewaktu makan dan kebanyakan Makanan Fiji adalah dimakan pada lantai dan para anggota duduk di tikar. Makanan Tradisional Fiji Sangat lezat dan unik dan mereka terutama terdiri dari Beras, kentang Manis, Taro, Ubi Kayu, Kelapa dan Ikan. masakan internasional tersedia di Fiji tetapi makanan Fiji populer adalah hidangan Fiji terutama lokal bersama dengan makanan lezat India. Restoran dan hotel menawarkan layanan meja tapi makanan prasmanan ala juga terlihat di sebagian besar gerai makanan.

Spesialisasi nasional makanan Fiji adalah:

Kakoda
Duruka
Lovo
Rourou
Buah sukun
Alkohol hanya disajikan di hotel dan bar berlisensi dan minuman nasional favorit Fiji adalah Carlton, Fiji Bitter, Meridan Moselle dan Suvanna Moselle. Dengan demikian makanan Fiji banyak dan mereka benar-benar menyenangkan hidangan Tradisional
Kava dicampur dalam mangkuk kayu tradisional
Minuman Fiji yang populer dan merupakan sahabat terbaik untuk makanan dan ada kombinasi sempurna membuat hidangan gastronomi. Nasional dan minuman yang paling populer Fiji dikenal sebagai "kava" atau "minuman beralkohol" oleh penduduk asli Fiji. Rasa "Kava" adalah pedas dan bersahaja dan ini minuman unik Fiji adalah dibuat dari akar tanaman lada dan setelah minum minuman ini Anda akan merasakan mati rasa lidah dan bibir bersama dengan sensasi otot santai dan yang agak memabukkan di alam.
Penyusunan kava dilakukan dengan mengeringkan akar di bawah sinar matahari dan kemudian berdebar untuk membuat tepung dan setelah itu dicampur dengan air dan disaring sebelum minum dan kelihatannya seperti air berlumpur. Di antara semua proses ini berdebar kava merupakan tugas yang sulit dan Kava dikonsumsi sebagai teh dari zaman kuno. Antara lain Fiji Minuman tersebut Kava adalah salah satu yang khusus dan memiliki cangkir minum biasa dan ini tidak lain dari setengah cangkir dari tempurung kelapa dan disebut sebagai "Bilo" oleh Fiji.
Selain suku Carib, masih banyak lagi suku yang diketahui melakukan praktik kanibalisme, seperti suku Gimi dan Korowai di Papua Nugini, suku Wari yang berasal dari Brazil, suku Aztec dan Native America, suku Maori, dan Fiji. Tak hanya suku-suku kuno atau pedalaman, kanibalisme juga dilakukan oleh kelompok-kelompok orang tertentu seperti sekte Aghori di India, atau sekelompok orang di Meksiko dan Afrika.
Pertanyaan yang kemudian sering muncul mengikuti fakta ini adalah: "Mengapa mereka melakukan praktik kanibalisme?"
Setiap budaya tentu memiliki akar kepercayaan yang tumbuh dan berkembang sejak jaman nenek moyang dan jarang sekali bisa dibantah atau dirusak oleh generasi mereka secara turun-temurun. Begitu juga dengan praktik kanibalisme ini. Pada beberapa suku, kanibalisme telah menjadi sebuah budaya yang mendarah daging pada setiap anggota masyarakatnya. Kepercayaan yang mereka miliki terkait dengan proses kanibalisme ini juga bermacam-macam.


Kanibalisme dipercayai bisa menambah kekuatan dan kesehatan
Beberapa budaya berkeyakinan bahwa dengan memakan daging manusia lain, mereka akan mendapatkan tubuh yang sehat dan mendapat kekuatan. Budaya yang menganut kepercayaan seperti ini adalah suku Gimi di Papua Nugini dan suku Wari.
Masyarakat suku Gimi seringkali menghadapi masalah infertilitas seperti impotensi dan mandul pada wanita. Mereka meyakini dengan memakan organ vital milik orang lain yang sudah mati, mereka akan mendapatkan kembali kesuburan. Kanibalisme pada suku ini juga seringkali dilakukan oleh wanita yang memakan tubuh anak, suami, atau orang tua mereka sendiri untuk menghindari kemandulan dan menambah kesuburan. Sama halnya dengan suku Wari yang menganggap bahwa mereka bisa menambah kekuatan jiwa dan raga mereka dengan memakan otak, jantung, serta hati kerabat mereka yang telah meninggal.
Kanibalisme berkaitan dengan ritual dan spiritual
Selain dihubung-hubungkan dengan faktor kesehatan, beberapa suku atau kelompok juga mengaitkan kanibalisme dengan hal spiritual, seperti yang diyakini oleh suku Aztec, Korowai, dan sekte Aghori.
Suku Aztec menganggap praktik kanibalisme sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa. Mereka mengorbankan manusia setiap tahunnya dan memakan jantung korban yang masih berdetak. Tak jauh berbeda dengan suku Aztec, sekte Aghori di India juga meyakini bahwa dengan memakan daging manusia, mereka bisa lengsung bersatu dengan Tuhan dan tak perlu mengalami proses reinkarnasi.
Meskipun sedikit berbeda, namun suku Korowai yang ada di Papua Nugini juga mengaitkan kanibalisme dengan hal-hal mistis dan spiritual. Suku Korowai akan memakan daging manusia yang dianggap sebagai dukun atau penyihir yang merupakan hal terlarang di masyarakat mereka. Mereka memakan daging orang yang diyakini dukun itu saat otak mereka masih hangat.


Kanibalisme tunjukkan penaklukkan atas musuh
Sementara itu, beberapa suku seperti suku Native America, Maori, Karankawa di Texas, serta sekelompok orang di Meksiko punya alasan lain terkait praktik kanibalisme yang mereka lakukan. Suku-suku dan sekte ini kebanyakan hanya memakan daging musuh mereka. Alasannya, mereka meyakini bahwa daging musuh mereka akan menambah kharisma dan menunjukkan kekuatan mereka yang sanggup menaklukkan musuh.
Suku karankawa di Texas yang termasuk dalam suku Native America bahkan memotong-motong dan memakan daging musuh mereka secara langsung, di depan mata musuh mereka yang masih hidup.
Kanibalisme sebagai kebiasaan masyarakat
Seperti yang diyakini oleh suku-suku di atas, ada kalanya kanibalisme memang didasari oleh keyakinan yang kuat terhadap suatu hal yang telah diajarkan oleh leluhur mereka. Namun selain itu, ada kalanya juga praktik kanibalisme hanya dilakukan atas dasar kebiasaan dan tradisi, tanpa alasan yang pasti. Seperti yang dilakukan oleh suku Fiji dan sekelompok orang di Afrika. Kepala suku Fiji sendiri bahkan dengan bangga pernah mengumumkan bahwa dia telah memakan 875 orang. Sementara itu, meskipun tersembunyi, sekelompok orang di Afrika juga menculik pendatang dan memotong-motong mayat mereka tanpa alasan yang jelas. Beberapa rumor mengatakan bahwa sebagian organ tersebut dijual, namun sebagian mengatakan bahwa sekelompok orang pedalaman memakan mayat-mayat tersebut.
Berdasarkan penjabaran di atas, jelaslah bahwa meskipun sudah hampir tak pernah terjadi, namun kanibalisme sesungguhnya bukanlah hal yang langka. Bahkan kenyataannya banyak masyarakat kuno atau sekelompok orang yang telah dan masih melakukan praktik kanibalisme hingga saat ini. Bisa jadi, praktik kanibalisme sendiri sesungguhnya tak pernah hilang. Atau mungkinkah, praktik kanibalisme yang ada saat ini merupakan warisan yang diturunkan oleh kebudayaan di masa lampau?
Mungkin inilah yang membuat backpcker dunia seperti MARCOPOLO disegani, dihormati dan diterima oleh penguasa dan masyarakat dimana beliau singgah.
Dalam budaya Fiji ada yang namanya PENGHORMATAN KEPADA TAMU dengan mempersembahkan minuman tradisional GROG. Sebelumnya tamu disambut sebuah tarian Penyambutan Tamu MEKE yang dilakukan oleh para wanita. Selanjutnya saat para tamu akan memasuki ruangan pertemuan (balai) maka sudah menunggu seorang wanita (lengkap dengan pakaian tradisional khas MASI) dengan diiringi ketukan papan spt lesung oleh Penjaga Suku yang mempersilakan duduk di tempat terhormat. Datanglah Kepala Suku (Chief atau Magali (baca: manggali)) sambil membawa tanaman khas Fiji atau Pasifik Selatan yang terbaik kualitasnya disebut KAVA (YAQONA (baca: Yanggona) untuk diperkenalkan kepada tamu dan nantinya tanaman KAVA tersebut diolah menjadi tepung dan selanjutnya dibuat minuman GROG.
Pria Penggebuk Papan sebagai tanda kedatangan/acara penyambutan dimulai
Setelah itu datanglah perwakilan kepala suku (jaman dulu Panglima Perang) lengkap dengan pakaian kebanggaan/kebesaran suku yang mengolah tepung KAVA menjadi minuman GROG. Minuman GROG ditempatkan pada satu wadah yang disebut TANOA. Selanjutnya perwakilan kepala suku mengambil wadah batok kelapa yang disebut TAKI. Minuman GROG dalam TANOA diambil dengan TAKI dan diberikan kepada tamu. Satu TAKI dipakai bersaman-sama sebagai simbol kebersamaan dan penghormatan. Setiap tamu menikmati minuman maka semua yang hadir menepuk tangannya berkali-kali dengan menyebut TAKI MADRA (baca: Mandra). Minuman GROG dalam TANOA harus dihabiskan.
Kepala Suku (Magali) mempersembahkan tanaman khas Fiji Kava atau Yaqona kualitas terbaik
Beberapa pria Fiji mengambil tanaman Kava untuk diproses menjadi tepung Kava
seorang pria fiji mempersiapkan wadah taki
Setelah menjadi tepung Kava, beberapa pria Fiji mempersiapkan proses pembuatan grog Seorang Wakil Kepala Suku mengambil Grog dengan Taki
Wakil kepala suku memberikan Grog dalam taki kepada tamu kehormatan
Wakil Kepala Suku menepuk tangannya sambil berkata-kata
Wakil Kepala Suku kembali ke tempatnya
Itulah Budaya Penyambutan Khas Fiji. Backpacker itu bukan sekedar jalan-jalan dan mencari yang murah supaya tidak dianggap murahan karena kita dapat jalan-jalan dari proses yang tidak murah tapi dengan usaha dan perjuangan dalam waktu tertentu seperti menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilan kita dan ditabung sampai memenuhi target yang diinginkan. Maka itu jangan abaikan budaya tempatan suatu negara dan pelajari sehingga dapat menjadi informasi yang bermanfaat bagi teman-teman Backpacker ketika nantinya akan berkunjung ke suatu negara. Jadilah MARCOPOLO-MARCOPOLO ala Indonesia yang selalu menghormati budaya tempatan tanpa lupa memperkenalkan BUDAYA INDONESIA yang kita cintai.


DAFTAR PUSTAKA
Sejarah Australia Dan Oceania Asril, M.Pd
                                                  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar